Anda di halaman 1dari 72

LAPORAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR
PERENCANAAN BISNIS MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN
STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) PADA SISWA
KELAS X BISNIS DARING DAN PEMASARAN 2 SMK NEGERI 2 BLITAR
TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Diajukan untuk memperoleh angka kredit


pada komponen Melaksanakan Publikasi Ilmiah

Oleh

Nama : SRI LESTARI PURWININGSIH, S. Pd.


NIP : 19670201 199103 2 015

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR


DINAS PENDIDIKAN
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 2 BLITAR
2018

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

SMK Negeri 2 Blitar merupakan salah satu sekolah kejuruan negeri

rumpun bisnis dan manajemen yang ada di Kota Blitar. Sekolah ini memiliki enam

pilihan program keahlian dan tujuh kompetensi keahlian. Program keahlian yang

ada di SMK Negeri 2 Blitar berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan

Dasar dan Menengah Nomor 06/D.D5/KK/2018 tanggal 7 Juni 2018 tentang

tentang Spektrum Keahlian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/ Madrasah Aliyah

Kejuruan (MAK) adalah Teknik Komputer dan Informatika, Bisnis dan Pemasaran,

Manajemen Perkantoran, Akuntansi dan Keuangan, Perhotelan dan Jasa Pariwisata,

dan Tata Busana. Sementara kompetensi keahlian yang ada di SMK Negeri 2 Blitar

adalah Teknik Komputer dan Jaringan, Multimedia, Bisnis Daring dan Pemasaran,

Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran, Akuntansi dan Keuangan Lembaga,

Usaha Perjalanan Wisata, dan Tata Busana. Adanya kompetensi keahlian yang

beragam menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat untnuk mendaftarkan putra

putrinya di SMK Negeri 2 Blitar, terbukti dengan jumlah pendaftar yang banyak

setiap tahunnya.

Susunan mata pelajara tiap program dan kompetensi keahlian didasarkan

atas kurikulum tahun 2013 revisi tahun 2017. Kurikulum tahun 2013 merupakan

kurikulum perubahan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan sebagai kerangka belajar yang digunakan oleh seluruh

1
2

sekolah atau satuan pendidikan se-Indondesia. Kurikulum 2013 ini merupakan

kurikulum pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebelumnya.

Berdasarkan rilis sosialisasi resmi Kemendikbud terdapat dua alasan penerapan

Kurikulum 2013 sebagai pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, alasan

edukasional dan alasan sosio-ekonomis.

Alasan edukasional berbasis kepada pencapaian pelajar nasional di

dalam The IEA’s Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS).

Mengutip rilis Kemendikbud, di dalam tes tersebut 95% murid Indonesia hanya

mampu menjawab soal hingga tingkat kesulitan menengah di dalam semua mata

pelajaran teruji (Matematika, Ilmu Alam, Membaca Inggris) yang mengindikasikan

terdapat kesenjangan bahkan ketimpangan antara praktik dan materi ajar sekolah

Indonesia dengan pendidikan internasional pada umumnya1.

Berdasarkan kepada hasil tes tersebut, kurikulum 2013 dikembangkan dan

diterapkan dengan fokus menciptakan generasi masa depan Indonesia yang mampu

berpikir dan berkomunikasi jernih dan luas, toleran dan bertanggung jawab moral

dalam setiap langkah. Selain itu, berpandangan dan berminat luas dengan perspektif

global.

Sementara itu dalam konteks sosio-ekonomis, penerapan Kurikulum 2013

ditujukan untuk menyiapkan generasi masa depan yang produktif, kreatif, inovatif,

dan afektif dalam rangka menyambut ragam implementasi masyarakat ekonomi

seperti WTO, Komunitas ASEAN, CAFTA, APEC.

1
https://www.quipper.com/id/blog/tips-trick/school-life/penerapan-kurikulum-2013-revisi/
(diunduh tanggal 17 September 2018)
3

Seiring dengan sosialisasi kurikulum 2013 sehubungan dengan temuan-

temuan, keluhan dan masukan di lapangan sejak awal diberlakukan, maka

pemerintah kembali melakukan perubahan terhadap kurikulum 2013 menjadi

Kurikulum 2013 revisi 2017. Secara singkat terdapat empat poin perubahan yang

dimiliki Kurikulum 2013 Revisi dibandingkan kurikulum asli. Empat poin tersebut

terletak dalam2:

1. Tanggung Jawab Penilaian Kompetensi Spiritual dan Sosial

Apabila di dalam Kurikulum 2013 setiap guru mata pelajaran wajib melakukan

tes dan menilai kompetensi spiritual dan sosial murid dalam konteks mata

pelajaran, maka dalam Kurtilas revisi tanggung jawab tes dan penilaian hanya

diampu oleh guru Agama (Kompetensi Spiritual) dan Budi Pekerti (Kompetensi

Sosial). Guru mata pelajaran cukup mencantumkan laporan pendekatan belajar

kompetensi tersebut di dalam mata pelajaran terkait.

2. Koherensi Kompetensi Inti

Efek berantai dari poin satu adalah Kompetensi Inti menjadi lebih koheren

dengan Kompetensi Dasar mata pelajaran. Dengan kompetensi inti yang lebih

koheren, kembali guru mata pelajaran terkait dikurangi bebannya sehingga dapat

lebih fokus kepada penguasaan materi dan kompetensi yang memang sesuai dan

berbasis mata pelajaran, sembari tetap menyisipkan karakter-karakter mulia di

dalam praktik pengajaran.

2
https://www.quipper.com/id/blog/tips-trick/school-life/penerapan-kurikulum-2013-revisi/
(diunduh tanggal 17 September 2018)
4

3. Membuka Ruang Kreatif Bagi Guru

Rantai efek selanjutnya dari poin satu dan poin dua adalah, guru menjadi lebih

fleksibel, lentur, dan leluasa merancang ragam pendekatan dan materi ajar.

Tumpang tindih antara Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran, Kompetensi Inti

(KI) Spiritual dan Sosial, berikut pendekatan 5 (lima) M (mengingat,

memahami, menerapkan, menganalisis, dan mencipta) kerap memaksa guru

kembali menghamba kepada buku paket Kurtilas. Diharapkan dengan revisi poin

1 (satu) dan poin 2 (dua) membuka keran kreativitas guru dalam merancang

pendekatan ajar.

4. Keluasan Taksonomi Kemampuan Peserta Didik

Pada Kurtilas edisi awal taksonomi, yang mengadopsi Bloom dibatasi per

jenjang, hanya sampai memahami untuk SD, menerapkan dan menelaah untuk

SMP, dan mencipta untuk SMA. Kini taksonomi tersebut secara utuh diterapkan

di seluruh jenjang. Jadi sangat dimungkinkan untuk seorang peserta SD dengan

potensi dan bimbingan yang tepat dapat saja mencapai tataran penciptaan di

dalam praktik belajar.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, dapat dilihat bahwa kurikulum 2013

revisi 2017 menerbitkan harapan akan hadirnya pendidikan dan persekolahan yang

lebih ramah tumbuh-kembang peserta didik.

Pada kurikulum 2013 revisi 2017 (selanjutnya disebut dengan kurtilas

revisi), umumnya mata pelajaran dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok utama,

yaitu Muatan Nasional (A), Muatan Kewilayahan (B), dan Muatan Peminatan
5

Kejuruan (C)3. Mata pelajaran yang terdapat dalam kelompok A. Muatan Nasional,

yaitu Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan

Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Sejarah Indonesia, dan Bahasa

Inggris dan Bahasa Asing Lainnya. Mata pelajaran yang terdapat dalam kelompok

B. Muatan Kewilayahan, yaitu Seni Budaya, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan

Kesehatan. Mata pelajaran yang terdapat dalam kelompok C. Muatan Peminatan

Kejuruan dibagi lagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu C1 (Dasar Bidang Keahlian)

dimana mata pelajaran yang terdapat dalam kelompok ini sama untuk semua

kompetensi keahlian yang berada dalam bidang keahlian yang sama, C2 (Dasar

Program Keahlian) dimana mata pelajaran yang terdapat dalam kelompok ini sama

untuk semua kompetensi keahlian yang berada dalam program keahlian yang sama,

dan C3 (Kompetensi Keahlian) dimana mata pelajaran yang terdapat dalam

kelompok ini merupakan mata pelajaran yang khusus diperuntukkan kokmpetensi

keahlian tersebut.

Berdasarkan Struktur Kurikulum kompetensi keahlian Bisnis Daring dan

Pemasaran sesuai Peraturan Direktur Jenderal Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan Tahun Nomor 07 Tahun 2018, mata pelajaran produktif masuk dalam

kelompok mata pelajaran C2 dan C3. Salah satu mata pelajaran yang diberikan

kepada siswa kelas sepuluh (X) kompetensi keahlian Bisnis Daring dan Pemasaran

pada kelompok mata pelajaran C2 adalah Perencanaan Bisnis. Materi ini berkaitan

dengan kemampuan untuk membuat suatu Rencana Bisnis dengan menuangkan ide

bisnis dalam bentuk dokumen sederhana yang tertulis. Pemberian materi ini

3
Peraturan Direktur Jenderal Kemendikbud Th. 2018 No. 07 - Struktur Kurikulum SMK/MAK
6

diberikan agar kelak dapat diterapkan didunia kerja yang berkaitan dengan

hubungan relasi kerja.

Pembelajaran pemasaran bisnis membutuhkan keaktifan, pemahaman dan

keterampilan siswa dalam memahami. “Dalam proses pembelajaran,

pengembangan potensi-potensi siswa harus dilakukan secara menyeluruh dan

terpadu”4. Pembelajaran yang digunakan dalam mata pelajaran pemasaran bisnis

haruslah menggunakan metode yang tepat. Sehingga siswa yang memperoleh

pembelajaran menjadi bersemangat dan mudah memahami materi pemasaran

bisnis.

“Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat mendorong

tumbuhnya rasa senang siswa terhadap pelajaran, menumbuhkan dan

meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas, memberikan kemudahan bagi

siswa untuk memahami pelajaran”5. Kemampuan guru menyajikan materi dan

didukung motivasi dan keaktifan siswa memungkinkan siswa untuk mencapai hasil

belajar yang lebih baik

Hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah

mengikuti belajar dan digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran ketuntasan.

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap program keahlian berbeda dan program

keahlian bisnis daring dan pemasaran menetapkan KKM 81,00. Hasil belajar yang

diperoleh pada mata pelajaran perencanaan bisnis kelas sepuluh Bisnis Daring dan

Pemasaran 2 (X BDP 2) terdapat tiga puluh siswa dari tiga puluh tujuh siswa belum

4
Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran (Alfabeta : Bandung,2010), 4
5
Ibid, 143
7

mencapai KKM. Oleh karena itu siswa yang nilainya dibawah KKM di anggap

belum menguasai materi yang telah diberikan

Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran agar siswa

terlibat secara aktif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan

menggunakan model pembelajaraan kooperatif. “Pembelajaran kooperatif adalah

strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok

kecil untuk saling berinteraksi”6. Penggunaan model pembelajaran ini, siswa tidak

hanya mendapat materi dari guru saja melainkan dapat berinteraksi dan berdiskusi

dengan teman.

Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah STAD (Student Teams

Achievement Division). STAD merupakan pembelajaran siswa dengan model

kelompok dengan karakter dan kemampuan siswa yang berbeda. Siswa dapat

berpikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial tinggi serta tanggung jawab.

Selain siswa dapat menguasai materi secara personal, siswa juga dapat berdiskusi

dan berinteraksi dengan teman sekelompoknya.

1.2. Permasalahan

Kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran perencanaan bisnis, guru

seharusnya dapat menciptakan rasa senang siswa. Sehingga siswa merasa tertarik

dan tidak bosan terhadap mata pelajaran itu. Guru harus senantiasa berperan aktif

di dalam pembelajaran agar saat pembelajaran berlangsung, siswa tidak ada yang

mengobrol sendiri. Selain itu, guru seharusnya memberikan stimulus kepada siswa

6
Rusman, Model-model Pembelajaran , Jakarta. hal. 203
8

agar siswa ikut berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Pencapaian tersebut

dapat dicapai dengan model pembelajaran yang tepat sehingga memungkinkan

siswa untuk meningkatkan dan mencapai hasil belajar yang lebih baik.

Kenyataan yang diperoleh dari hasil evaluasi mandiri guru saat penelitian

awal adalah guru mengajar perencanaan bisnis dikelas X BDP 2 SMK Negeri 2

Blitar `masih menggunakan metode ceramah. Komunikasi yang dilakukan guru

hanya satu arah yang didominasi oleh guru, siswa hanya mendengar dan menulis

apa yang diberikan guru.

Gejala yang timbul saat pembelajaran berlangsung, siswa melakukan

kegiatan lain seperti mengobrol dengan teman sebangku, bermain HP. Terlihat

empat siswa mulai mengantuk, 3 siswa sedang mengobrol, dan terlihat satu siswa

yang duduk dibelakang sedang berkaca. Selain itu, jadwal mata pelajaran

komunikasi bisnis yang ada di jam pelajaran siang hari membuat suasana kelas

menjadi tidak kondusif. Saat sesi tanya jawab hanya ada beberapa siswa yang dapat

menjawab pertanyaan guru dan tidak ada siswa yang bertanya saat guru

memberikan kesempatan bertanya. Saat itu juga ada tiga siswa yang berceloteh

yang tidak ada kaitannya dengan materi pelajaran, sehingga kelas menjadi gaduh.

Suasana pembelajaran yang seperti ini menyebabkan hasil belajar siswa

kelas X BDP 2 SMK Negeri 2 Blitar pada ulangan harian kompetensi menerapkan

strategi bisnis masih rendah. Siswa yang mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan

Minimal) hanya delapan siswa. Sehingga jumlah siswa yang belum mencapai KKM

ada dua puluh sembilan siswa.


9

Berdasarkan latar belakang dan gejala problematis yang telah dipaparkan

di atas, rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah “Apakah

penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement

Division (STAD) pada mata pelajaran perencanaan bisnis dapat meningkatkan

keaktifan dan hasil belajar siswa kelas X Bisnis Daring dan Pemasaran SMK Negeri

2 Blitar?”

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan penggunaan metode

pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) pada

mata pelajaran perencanaan bisnis dalam upaya peningkatan keaktifan dan hasil

belajar siswa kelas X Bisnis Daring dan Pemasaran SMK Negeri 2 Blitar.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:

a. Siswa

Menumbuhkan keaktifan, motivasi siswa terhadap mata pelajaran

perencanaan bisnis, membangun kerjasama dengan siswa lain dan

menghargai pendapat orang lain.

b. Guru

Sebagai bahan acuan pertimbangan bagi para guru dalam meningkatkan

mutu pendidikan dan pengajaran agar prestasi belajar siswa meningkat,

dapat termotivasi untuk menggunakan model pembelajaran yang lain.


10

c. Sekolah

Hasil yang dicapai penelitian ini dapat meningkatkan mutu dan proses

belajar siswa, serta dapat digunakan dalam rangka pengembangan metode

pembelajaran di SMK Negeri 2 Blitar.

d. Penulis

Sebagai pengalaman dan menambah pengetahuan tentang model-model

pembelajaran khususnya model pembelajaran kooperatif.


BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Teori Belajar Konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menjelaskan

bagaimana manusia dapat menemukan pengetahuan dan informasi itu sendiri.

Pengetahuan yang dimiliki seseorang terkait erat dengan pengalaman-

pengalamannya, yaitu interaksi dengan lingkungan atau objek tertentu.

“Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam

kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya

sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan dan fasilitas

lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut”1. Pembelajaran lebih

menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka.

Bukan atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru tetapi guru hanya

sebagai fasilitator.

“Proses konstruksi menuntut beberapa kemampuan dasar, yaitu:

1. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman

2. Kemampuan membandingkan, mengambil keputusan (justifikasi) mengenai

persamaan dan perbedaan,serta

3. Kemampuan lebih menyukai pengalaman yang satu dari pada pengalaman

yang lain”2

1
A. Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta : 2005), hal 59
2
Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran (Bandung : Alfabeta,2010), hal 19

11
12

Teori konstruktivisme lahir dari gagasan Vigotsky dan Piaget. Teori

konstruktivisme yang dikembangkan dari teori belajar kognitif. Piaget menyatakan

bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan sesuai dengan

skemata yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan

skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar

tersusun secara hirarkis. Piaget menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses

aktif dan pengetahuan disusun dalam pikiran siswa.

Vygotsky berpendapat bahwa “aktivitas belajar akan terjadi secara efisien dan

efektif apabila anak belajar secara kooperatif dengan anak-anak lain dalam suasana

dan lingkungan yang mendukung (supportive), dalam bimbingan seseorang yang

mampu, guru atau orang tua”3. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang belajar dari

pengalaman yang dimiliki seseorang yang diperoleh dari lingkungan dan adanya

interaksi antar individu.

Psiswangan konstruktivisme Piaget dan Vigotsky menekankan pentingnya

interaksi dengan teman sebaya melalui pembentukan kelompok belajar. Kelompok

belajar memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses

pembelajaran dan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapan kemampuan

pengetahuan yang dimiliki siswa kepada teman sebaya.

3
http://007indien.blogspot.com/2012/03/teori-konstruktivisme-vygotsky-dan.html ( diunduh pada
tanggal 20 September 2018 pukul 12:26)
13

2.2 Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan tingkat perkembangan dan perubahan siswa setelah

proses belajar berlangsung. Proses perubahan tersebut dapat mengubah tingkah laku

yang meliputi pengetahuan, sikap dan keteranpilan, kebiasaan dan kemampuan.

Keberhasilan yang diperoleh dari proses pembelajaran pada jenjang pendidikan

tertentu dapat dilihat dari penilaian. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil

belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif,

afektif dan psikomotorik.

“Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri

dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi,

analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat

rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.Ranah

afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni

penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan

internalisasi.Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar

keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah

psikomotoris, yakni (a) gerakan refleks, (b) keterampilan gerakan dasar, (c)

kemampuan perseptual, (d) keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan

keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretative.”4

Ranah kognitif, terkait dengan hasil pengetahuan intelektual yaitu kemampuan

dalam mengolah informasi dalam rangka pembelajaran. Sedangkan ranah afektif

4
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2297541-kajian-teori-untuk-hasil-belajar/
(diunduh pada tgl 20 September 2018 pukul 13:15)
14

terkait dengan sikap dan nilai yaitu kemampuan pemahaman pembelajaran. Ranah

psikomotorik menunjukkan adanya kemampuan fisik dari pembelajar yaitu

penerapan dari hasil belajar. Sehingga hasil belajar yang diinginkan seseorang

bergantung pada perubahan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

2.3 Tinjauan Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan upaya pemberdayaan teman sejawat,

meningkatkan interaksi antar siswa, serta hubungan yang saling menguntungkan

antara mereka. Siswa dalam kelompok akan belajar mendengarkan idea atau gagasan

orang lain, berdiskusi, menawarkan atau menerima kritikan yang bersifat

membangun dan siswa merasa tidak terbebani ketika pekerjaannya salah.

“Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran

dimana para siswa bekerja dalam kelompok- kelompok kecil untuk saling membantu

satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran”5

Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok- kelompok

kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa, campuran siswa berkemampuan tinggi,

sedang, rendah, jenis kelamin dan ras/suku mereka saling membantu satu sama lain

dan guru hanya sebagai fasilitator.

Pembelajaran kooperatif sebagai sarana siswa untuk dapat bekerja sama dalam

kelompok, tujuan kelompok adalah tujuan bersama. Setiap anggota kelompok harus

merasakan bahwa mereka akan mencapai tujuan bersama jika dalam kelompoknya

5
R.E Slavin, Cooperative Learning Teori,Riset dan Praktik (Bandung : Nusa Media,2010), hal 4
15

memiliki kebersamaan, dalam artian tiap anggota kelompok bersikap kooperatif

dengan sesame anggota kelompoknya.

“Ciri-ciri pembelajaran kooperatif:

a. Pembelajaran secara tim

b. Didasarkan pada manajemen kooperatif

c. Kemauan untuk bekerja sama

d. Keterampilan bekerja sama”6

Pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan

kooperatif. Berlangsungnya pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling

tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama.

“Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif :

a. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka

sehidup sepenanggungan bersama

b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya,

seperti mereka sendiri

c. Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya

memiliki tujuan yang sama

d. Siswa haruslah membegi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara

anggota kelompoknya

e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan

yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok

f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan untuk belajar

6
Rusman, Model-Model Pembelajaran, (Jakarta : Rajawali Pers, 2010), hal. 207
16

bersama selama proses belajarnya

g. Siswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang

ditangani dalam kelompok kooperatif “7

Pembelajaran kooperatif membuat siswa salaing bekerjasama dan bergantung

pada seluruh anggota kelompok mereka dan untuk mencapai tujuan yaitu prestasi

kelompok.

2.4 Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

“Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu metode

pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling

baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan

kooperatif”.8 Model pembelajaran STADmerupakan model pembelajaran yang

memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk

menguasai keterampilan yang diajarkan guru.

Pembelajaran STAD siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat

orang yang beragam latar belakang yang heterogen, mulai dari kemampuan

intelektual, jenis kelamin dan sukunya. Guru memberikan materi dan para siswa yang

telah dibagi kelompok diminta bekerja sama menyelesaikan tugas yang diberikan.

Setiap siswa harus menguasai materi yang tersebut dan dipertanggung jawabkan saat

kuis diberikan.

7
Ibid, hal 208
8
R.E Slavin, Cooperative Learning Teori,Riset dan Praktik (Bandung:Nusa Media,2010).hal 143
17

“STAD terdiri atas lima komponen utama:presentasi kelas, tim, kuis, skor

kemajuan individual, rekognisi tim”.9 Materi dalam STAD pertama-tama

diperkenalkan dalam presentasi dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung

seperti yang sering dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi

bisa juga memasukkan presentasi audio visual. Bedanya presentasi kelas dengan

pengajaran biasa hanyalah bahwa presentasi tersebut haruslah benar-benar berfokus

pada unit STAD.

Tim terdiri dari empat atau siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas

dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas. Fungsi utama dari tim

adalah memastikan bahwa semua semua anggota tim benar-benar belajar, dan lebih

khususnya lagi adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan

kuis dengan baik. Setelah guru menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk

memepelajari lembar kegiatan atau materi lainnya. Pembelajaran tersebut sering

melibatkan pembahasan permasalahan bersama, membandingkan jawaban, dan

mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang membuat

kesalahan.

atu atau dua periode setelah guru memberikan presensi dan sekitar satu atau

dua periode praktik tim, para siswa akan mengerjakan kuis individual. Para siswa

tidak diperbolehkan untuk saling membantu dalam mengerjakan kuis. Sehingga

setiap sisw bertanggung jawab secara individual untuk memahami materinya

Pemberian skor kemajuan individual adalah untuk memberikan kepada tiap

siswa tujuan kinerja yang akan dapat dicapai apabila mereka bekerja lebih giat dan

9
Ibid, 143
18

memberikan kinerja yang lebih baik dari pada sebelumnya. Tiap siswa dapat

memberikan kontribusi poin yang maksimal kepada timnya dalam system skor ini,

tetapi tak ada siswa yang dapat melakukannnya tanpa memberikan usaha mereka

yang terbaik.

Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila

skor rata-rata mereka mencapai criteria tertentu. Skor tim siswa dapat juga digunakan

untuk menentukan duapuluh persen dari peringkat mereka.

Tahapan dalam memberikan penghargaan keberhasilan tim :

a. Menghitung Skor Individu

Tabel 2.1
Skor Kemajuan Individu
Skor Kuis Poin Perkembangan

Lebih dari 10 poin dibawah skor awal 0 poin


10 poin dibawah sampai 1 poin skor awal 10 poin
Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20 poin
Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30 poin
Nilai sempurna tanpa memperhatikan skor awal 30 poin

Poin perkembangan didapat dari selisih skor awal dengan skor individu setelah

perlakuan siklus.

b. Menghitung skor kelompok

Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan yang

diperoleh anggota kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor

perkembangan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota

kelompok. Kategori skor kelompok sebagai berikut:


19

Tabel 2.2
Skor Kelompok

Kriteria rata-rata skor kelompok Penghargaan


6 sampai 15 Kelompok baik (Good team)
16 sampai 25 Kelompok hebat (Great team)
>25 Kelompok super (Super team)

c. Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok

Setelah perhitungan skor masing-masing kelompok, guru memberikan

penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai denagna kategorinya.

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki kelebihan dan

kelemahan. Kelebihan model pembelajaran kooperatif STAD:

a. Meningkatkan kecakapan individu

b. Meningkatkan kecakapan kelompok

c. Meningkatkan komitmen

d. Menghilangkan prasangka buruk terhadap teman sebaya

e. Tidak bersifat kompetitif

f. Tidak memiliki rasa dendam 10

Penggunaan metode STAD membantu siswa memperoleh pengetahuan tentang

topik pembelajaran dari teman satu tim. Siswa dapat bertukar pendapat dan

memecahkan permasalahan bersama-sama sehingga tidak ada rasa persaingan

sesama teman sebaya. Kelemahan model pembelajaran kooperatif STAD:

10
http://mihecheery.blogspot.com/2010/06/metode-pembelajaran-stad.html diunduh pada tanggal
21 September 2018 pukul 9:56
20

1. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapai

target kurikulum.

2. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk guru sehingga pada umumnya

guru tidak mau menggunakan pembelajaran kooperatif

3. Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat

melakukan pembelajaran kooperatif.

4. Menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama.”11

2.5 Perencanaan Bisnis

2.5.1 Studi Kelayakan Bisnis

2.5.1.1 Pengertian Studi Kelayakan Bisnis

Studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara

mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam rangka

menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan.

2.5.1.2 Manfaat Studi Kelayakan Bisnis

Sebuah studi kelayakan sebuah bisnis akan memiliki manfaat yang berguna

bagi beberapa pihak menurut Umar (2005,p19), yaitu:

1. Pihak Investor

Jika hasil studi kelayakan yang telah dibuat ternyata layak untuk

direalisasikan, pemenuhan kebutuhan akan pendanaan dapat mulai di cari,

11
http://yankcute.blogspot.com/2010/02/keunggulan-dan-kekurangan-pembelajaran.html diunduh
pada tanggal 21 September 2018 pukul 9:43
21

misalnya dari investor atau pemilik modal yang mau menanamkan

modalnya pada proyek yang akan dikerjakan itu.

2. Pihak Kreditor

Pendanaan proyek dapat juga dipinjam dari bank, dimana pihak bank

sebelumnya memustuskan untuk memberikan kredit atau tidak, diperlukan

kajian dari studi kelayakan bisnis yang ada.

3. Pihak Manajemen Perusahaan

Studi kelayakan ini dapat berguna sebagai gambaran tentang potensi sebuah

proyek di masa yang akan datang dengan berbagai aspeknya

4. Pihak Pemerintah dan Masyarakat

Penyusunan studi kelayakan ini perlu memperhatikan kebijakan-kebijakan

yang telah diterapkan oleh pemerintah karena bagaimanapun, pemerintah

dapat secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kebijakan

perusahaan.

5. Bagi Tujuan Pembangunan Ekonomi

Dalam menyusun studi kelayakan ini perlu juga dianalisis manfaat yang

akan di dapat dan biaya yang akan timbul oleh proyek terhadapa

perekonomian nasional.

2.5.1.3 Tujuan Studi Kelayakan Bisnis

1. Menghindari Resiko Kerugian

Untuk menghindari resiko kerugian di masa yang akan datang, karena di

masa yang akan datang terdapat ketidakpastian. Kondisi ini yang dapat
22

diramalkan akan terjadi atau memang dengan sendirinya terjadi tanpa dapat

diramalkan. Dalam hal ini fungsi studi kelayakan adalah untuk

meminimalkan resiko yang tidak kita inginkan baik resiko yang dapat kita

kendalikan maupun yang tidak dapat kita kendalikan.

2. Memudahkan Perencanaan

Jika dapat meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akandatang,

maka akan mempermudah kita dalam melakukan perencanaan. Perencanaan

meliputi beberapa jumlah dana yang diperlukan, kapan usaha akan

dijalankan, dimana lokasi akan di bangun, siapa-siapa yang

melaksanakannya, bagaimana cara menjalankannya, berapa besar

keuntungan yang akan diperoleh, serta bagaimana mengawasinya jika

terjadi penyimpangan.

3. Mempermudah Pelaksanaan Pekerjaan

Dengan adanya berbagai rencana yang sudah disusun akan sangat

memudahkan pelaksanaan bisnis. Para pelaksana yang mengerjakan bisnis

tersebut telah memiliki pedoman yang dapat dikerjakan. Sehingga pekerjaan

berjalan pada tujuan yang jelas dengan pembagian tugas-tugas yang telah

dirancang dengan baik

4. Mempermudah Pengawasan

Dengan telah dilaksanakan suatu usaha atau proyek sesuai dengan rencana

yang sudah disusun, maka akan memudahkan perusahaan untuk melakukan

pengawasan terhadap jalannya usaha. Pelaksanaan pengawasan dapat


23

dilakukan berdasarkan hasil yang ditimbulkan berdasarkan target dari

rencana bisnis tersebut.

5. Mempermudah Pengendalian

Tujuan pengendalian adalah untuk mengembalikan pelaksanaan pekerjaan

yang melenceng ke arah yang sesungguhnya, berdasarkan kebijakan-

kebijakan tertentu

2.5.1.4 Tahapan Studi Kelayakan Bisnis

Dalam melaksanakan studi kelayakan bisnis atau usaha, ada beberapa

tahapan studi yang dikerjakan, yaitu:

1. Penemuan ide proyek

2. Pengumpulan data dan informasi

3. Melakukan pengolahan data

4. Tahap evaluasi proyek

5. Mengambil keputusan

6. Tahap rencana pelaksanaan proyek bisnis

7. Tahap pelaksanaan proyek bisnis

2.5.1.5 Aspek-Aspek Studi Kelayakan Bisnis

Ada beberapa aspek yang akan diteliti dalam studi kelayakan bisnis, yaitu:

1. Aspek Pasar, yaitu meneliti tentang permintaan suatu produk atau jasa,

berapa luas pasar, pertumbuhan permintaan dan market-share dari produk

yang bersangkutan.
24

2. Aspek Pemasaran, yang meneliti segmen, target, posisi produk, kepuasan

konsumen dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan urusan marketing.

3. Aspek Teknik dan Teknologi, yang meneliti kebutuhan apa yang diperlukan

dan bagaimana secara teknis, proses produksi akan dilaksanakan.

4. Aspek Sumber Daya Manusia, yang meneliti tentang peran SDM dalam

pembangunan proyek bisnis dan juga peran SDM dalam operasional rutin

bisnis setelah proyek selesai dibangun.

5. Manajemen, meneliti tentang manajemen pada saat pembangunan proyek

bisnis dan juga manajemen saat bisnis dioperasionalkan secara rutin.

6. Aspek Keuangan, meneliti tentang perhitungan jumlah dana yang diperlukan

untuk keperluan modal kerja awal dan untuk pengadaan harta tetap proyek.

7. Aspek Sosial, meneliti tentang perhitungan jumlah dana yang diperlukan

untuk keperluan modal kerja awal dan untuk pengadaan harta tetap proyek.

8. Aspek Lingkungan Industri, yang meneliti tentang persaingan dan kondisi

lainnya yang mempengaruhi perjalan suatu bisnis.

9. Aspek Yuridis, ang meneliti tentang hal-hal yang menyangkut badan hukum

perusahaan, izin operasional dan lainnya.

10. Aspek Lingkungan Hidup, di mana analisis dilakukan untuk meneliti

pengaruh operasional bisnis terhadap lingkungan sekitarnya, seperti

kesehatan, polusi, pencemaran dan lainnya.


25

2.5.2 Proposal Usaha

2.5.2.1 Konsep Proposal Usaha

Proposal usaha merupakan media umum untuk menjelaskan profil usaha

yang akan dikembangkan oleh seorang wirausaha. Proposal usaha merupakan

dokumen tertulis yang menggambarkan semua unsur, baik internal maupun

eksternal mengenai suatu usaha baru

Beberapa hal yang perlu dicantumkan dan dijelaskan dalam sebuah proposal

usaha, yaitu:

1. Hasil study kelayakan usaha


2. Penelitian dan pengembangan
3. Masalah pabrik
4. Managemen usaha
5. Pemasaran
6. Resiko yang dihadapi
7. Masalah finansial, misalnya kebutuhan investasi atau modal, biaya operasional
dan estimasi keuntungan
8. Penjadwalan waktu usaha.
Proposal usaha harus memberikan deskripsi yang jelas mengenai usaha yang
akan dijalankan, arah proposal usaha akan dibawa, dan cara merealisasikan
proposal ke dalam usaha yang nyata Pada umumnya, proposal terdiri dari
sasaran dan strategi. Sasaran adalah hal-hal yang ingin dicapai perusahaan,
semntara strategi adalah arah dan tindakan untuk mencapai sasaran usaha.

2.5.2.2 Fungsi Proposal Usaha

Proposal usaha memiliki arti penting bagi wirausaha sebagai pernyataan

atau regitimasi calon wirausaha sebagai pemilik dan pemegang inisiatif dalam

membuka usaha. Selain itu, proposal usaha berfungsi sebagai :


26

1. Representasi pengetahuan dan penguasaan bidang wirausaha yang akan


dijalankan.
2. Wujud perkiraan prospek usaha.
3. Tolak ukur dan panduan pelaksanaan kegiatan

2.5.2.3 Faktor-faktor Penyusunan Proposal Usaha

Proposal usaha harus disusun dengan mempertimbangkan hal-hal berikut.

1. Tujuan harus realistis

Tujuan yang ingin dicapai harus spesifik, dapat dicapai dan diukur, serta ada

kesamaan waktu dan parameter pengukurannya

2. Fleksibel

Kondisi lingkungan usaha selalu berubah/dinamis, sehingga penyusunan

proposal pun harus fleksibel, dan memungkinkan adanya alternative strategi

3. Batasan waktu

Proposal usaha selalu mengandung tujuan utama, yaitu tujuan jangka panjang

dan sub tujuan, berupa tujuan jangka pendek yang hendak dicapai.

4. Komitmen

Penyusunan proposal untuk selanjutnya pendirian usaha perlu mendapat

dukungan dari berbagai pihak, seperti keluarga mitra bisnis, karyawan, dan

pihak lain yang terlibat didalamnya.


27

2.5.2.4 Menyusun Proposal

Setelah yakin pada usaha yang akan dijalankan, langkah berikutnya adalah

menyusun proposal usaha. Beberapa petunjuk yang harus dipenuhi dalam

penysunan proposal usaha adalah sebagai berikut :

1. Menetapkan jenis usaha, aspek produk, pemasaran, teknis penyaluran

organisasi, manajemen, dan aspek yuridis.

2. Melaksanakan aspek administrasi

3. Mengetahui aspek sumber keuangan

4. Memelajari kebijakan pemerintah, terutama yang berkaitan dengan AMDAL

(analisis masalah dampak lingkungan)

Proposal usaha harus disususn secara jelas, singkat, dan padat sehingga

ketika orang lain membaca proposal tersebut, mereka akan segera menemukan

gambaran yang jelas tentang usaha yang sedang dirancang.

2.5.2.5 Sistematika Penyusunan Proposal

Sistematika penyusunan proposala usaha adalah sebagi berikut:

a. Uraian usaha

1). Latar belakang perusahaan

2). Prospek Perusahaan

3). Hambatan yang dihadapi

4). Pemecahan masalah usaha


28

b. Produk

1. bentuk

2. jenis

3. kegunaan

c. Lokasi

1). Backward linkage

2). Forward linkage

d. Pasar dan Segmen Pasar

1. segmen pasar bagi pemasaran produk

2. jenis pasar yang dimasuki

3. Posisi perusahaan dalam pasar

e. Persaingan

1. Jumlah pesaing yang dihadapi

2. Strategi pemasaran dalam menghadapi pesaing

f. Laporan Keuangan

1. neraca

2. laporan laba/rugi

3. analisis BEP ( titik pulang pokok/ titik impas )

4. sumber permodalan

g. Sumber Daya Manusia

1. jumlah karyawan

2. latar belakang pendidikan karyawan


29

h. Proposal Kredit

1. alokasi kebutuhan dana

2. total kebutuhan dana

i. Lampiran

1. surat izin usaha

2. data penelitian paasar

3. surat kontrak dan dokumen perjanjian lainnya

2.6 Hipotesa Tindakan

Penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement

Division (STAD) pada mata pelajaran perencanaan bisnis untuk kompetensi dasar

menyusun studi kelayakan bisnis dan menyusun proposal usaha dapat meningkatkan

keaktifan dan hasil belajar siswa kelas X BDP 2 SMK Negeri 2 Blitar.

2.7 Kerangka Pikir

Berdasarkan permasalaha yang ada, susunan kerangka pikir yang dapat dibuat

adalah sebagai berikut:


30

Kondisi Proses pembelajaran Hasil belajar


Awal belum menggunakan siswa
model pembelajaran

Siklus I
Pembelajaran guru Metode
menggunakan model Pebelajaran
Tindakan pembelajaran Kooperatif Tipe
kooperatif tipe STAD:
STAD 1.Perencanann
2.Pelaksanaan
3.Observasi
Melalui pembelajaran 4.Refleksi
Kondisi STAD keaktifan,
Akhir motivasi dan hasil Siklus II
belajar siswa meningkat Metode
Pebelajaran
Kooperatif Tipe
STAD:
Perencanann
Pelaksanaan
Observasi
Refleksi

Skema 2.1. Proses Penelitian Tindakan dengan tipe STAD


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan

kelas atau PTK (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas

merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan,

yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan.1

Sehingga penelitian ini dilakukan saat kegiatan belajar mengajar di kelas.

Penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam 2 siklus. Tahapan dalam setiap

siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi (pengamatan)

dan refleksi. Siklus tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Skema 3.1 Langkah-Langkah Penelitian Tindakan Kelas


Sumber: Suharsimi A, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta

1
Arikunto,Suharsimi, Penelitian Tindakan Kelas, (Bumi Aksara : Jakarta,2008), hal.3

31
32

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

a. Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMK Negeri 2 Blitar yang terletak

di Jalan Tanjung nomor 111 Kelurahan Pakunden Kecamatan Sukorejo Kota

Blitar Kodepos 66122

b. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada semester gasal tahun pelajaran 2018/2019 pada

bulan September sampai dengan November tahun 2018.

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian Kelas X BDP 2 SMk Negeri 2 Blitar Semester
Gasal Tahun Pelajaran 2018/2019
Siklus I
Pertemuan
Hari Tanggal Jam ke Keterangan
ke
1 Rabu 26 September 2018 1-2 2 JP
2 Sabtu 29 September 2018 8-9 2 JP
Siklus II
Pertemuan
Hari Tanggal Jam ke Keterangan
ke
1 Rabu 03 Oktober 2018 1-2 2 JP
2 Sabtu 06 Oktober 2018 8-9 2 JP

3.3. Subyek Penelitian dan Kondisi Awal

Subyek penelitian pada Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas X

BDP 2 semester gasal tahun pelajaran 2018/2019 SMK Negeri 2 Blitar sejumlah

37 siswa yang terdiri dari 35 putri dan 2 putra dengan karakter, kemampuan dan

latar belakang yang berbeda.


33

Observasi kondisi awal yang dilakukan di kelas X BDP 2 ini, bertujuan untuk

memperoleh informasi tentang kondisi siswa dalam proses pembelajaran. Hasil

observasi awal menunjukkan bahwa guru dalam mengajar komunikasi bisnis masih

menggunakan metode ceramah. Metode ini menjadikan siswa kurang aktif, guru

hanya menyampaikan materi dan siswa hanya mencatat. Saat proses pembelajaran,

ada beberapa siswa yang kurang antusias mengikuti pembelajaran. Ada pula yang

mengobrol sendiri yang tidak ada kaitannya dengan materi. Selain itu,ada enam

siswa yang mulai meletakkan kepala di atas meja, satu anak makan dengan

sembunyi-sembunyi, dan satu anak yang duduk di belakang mulai berkaca.

Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugaspun masih terlihat kurang

misalnya, latihan soal individu yang diberikan guru dikerjakan bersama-sama

dengan temannya. Tetapi ada juga kekurangan yang disebabkan guru yaitu tidak

memberikan batasan kapan tugas itu harus diselesaikan. Sehingga waktu yang ada

tidak semua dimanfaatkan siswa untuk menyelesaikan tugas dengan baik, bahkan

ada dua anak yang malah bermain di belakang. Data nilai ulangan harian

kompetensi dasar teknik memperoleh modal usaha dalam mata pelajaran

perencanaan bisnis yang diperoleh siswa menunjukkan bahwa masih banyak yang

belum mencapai KKM yang ditentukan atau belum tuntas yaitu tiga puluh siswa

(81,08 %).
34

3.4. Prosedur Penelitian

Siklus I

A. Perencanaan

Informasi yang diperoleh dari refleksi awal, tim peneliti menentukan

kompetensi dasar yang disampaikan kepada siswa dengan menggunakan

pembelajaran kooperatif tipe STAD. Peneliti membentuk tim kolaborasi dengan

dua guru program keahlian pemasaran, yaitu Siti Fatimah, S. Pd. sebagai observer

I dan Henny Purwanti, S. Pd. sebagai observer II.

Dalam tahap perencanaan, peneliti mempersiapkan :1) menyusun rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan kompetensi yang dicapai , 2)

membuat format lembar observasi, 3) menyiapkan lembar kerja tim, lembar kerja

individu, membuat bendera untuk tim , 4) membuat soal tes dan kunci jawaban

siklus 1.

B. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan dilakukan sesuai dengan RPP siklus I yang

menggunakan model pembelajaran STAD. Siklus pertama dilaksanakan pada hari

Rabu tanggal 26 September 2018 dan tanggal 29 September 2018.Langkah-langkah

dalam pembelajaran :

Pertemuan Pertama

1. Pendahuluan

Kegiatan awal yang dilakukan guru dalam memulai pelajaran adalah

memberi salam dan memeriksa kehadiran siswa. Guru mengecek siswa yang
35

tidak hadir mengikuti pembelajaran. Selanjutnya, memeriksa kesiapan siswa

dalam menerima pelajaran dengan memeriksa kelengkapan alat tulis,buku

catatan dan buku pegangan siswa Perencanaan Bisnis.

Siswa harus siap dalam mengikuti pelajaran perencanaan bisnis, karena guru

mulai membangun persepsi siswa dengan mengingat materi sebelumnya yaitu

media komunikasi. Kemudian materi media komunikasi dikaitkan dengan materi

yang akan dipelajari pada pertemuan kali ini yaitu kompetensi dasar

melaksanakan komunikasi bisnis.

2. Kegiatan Inti

Kegiatan inti dalam pembelajaran ada tiga tahapan, yaitu eksplorasi,

elaborasi dan konfirmasi. Tahapan kegiatannya:

2.1 Eksplorasi

Kegiatan eksplorasi dilakukan guru diawal pembelajaran. Kegiatan ini

bertujuan untuk menggali pengetahuan siswa, mengungkapkan pengalaman

yang sesuai dengan materi. Siswa harus berani mengungkapkan pengalaman

dan pengetahuan serta informasi tentang materi pelajaran perencanaan

bisnis sebelum dijelaskan oleh guru.

Tahapan eksplorasi yang dilakukan oleh guru yaitu dengan cara:

1)menggali pengetahuan siswa mengenai bentuk perencanaan bisnis dengan

memberikan beberapa pertanyaan, 2)menginformasikan tujuan

pembelajaran yang harus dicapai siswa, 3)membangun motivasi siswa

bahwa mempelajari studi kelayakan bisnis sangat penting.


36

2.2 Elaborasi

Tahap elaborasi dilakukan guru untuk memperjelas pengetahuan yang

dimiliki siswa dan penugasan siswa, kegiatannya yaitu menjelaskan materi

pokok pembelajaran mengenai studi kelayakan bisnis. Selanjutnya membagi

siswa menjadi sembilan kelompok, yaitu masing-masing kelompok terdiri

dari 4-5 siswa dan siswa diminta untuk bergabung dengan kelompok

masing- masing.

Pembentukan kelompok selesai, guru menjelaskan pembelajaran model

STAD dan langkah-langkahnya. Setelah itu masing-masing kelompok

memperoleh bendera tim dan lembar kerja tim. Siswa diminta mengerjakan

dengan mendiskusikannnya dengan dengan anggota lain dalam kelompok.

Kegiatan diskusi berlangsung guru memfasilitatori dan memotivasi siswa

menyelesaikan tugas kelompok.

2.3 Konfirmasi

Kegiatan konfirmasi yang dilakukan guru adalah: 1) masing-masing

kelompok mempresentasikan hasil kerja tim, 2) memberikan tanggapan dari

hasil kelompok dan memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk

menanggapi, 3) membimbing siswa untuk menyusun kesimpulan bersama

3. Penutup

Kegiatan yang dilakukan guru menutup pembelajaran dengan:

1)membubarkan kelompok diskusi, 2) memberikan penguatan terhadap materi

yang dipelajari, 3) menyampaikan rencana pembelajaran untuk pertemuan

berikutnya
37

Pertemuan Kedua

1. Pendahuluan

Kegiatan yang dilakukan guru, yaitu dengan membuka pelajaran dengan

memberi salam. Selanjutnya memerikasa kehadiran siswa serta kesiapan siswa

dalam mengikuti pelajaran. Setelah itu guru membangun persepsi siswa dengan

mengingat materi yang dipelajari pada pertemuan yang lalu tentang studi

kelayakan bisnis.

Guru memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan materi. Memberi

kesempatan siswa untuk bertanya mengenai kesulitan materi pembelajaran

sebelum tes individu dimulai.

2. Kegiatan Inti

Kegiatan yang dilakukan guru sebelum tes berlangsung yaitu:

1)memberikan petunjuk tes, 2)memberikan tes individu, 3)mengawasi

berlangsungnya tes

3. Penutup

Guru memberikan sesi tanya jawab mengenai kesulitan yang diperoleh saat

tes berlangsung. Selain itu, menyampaikan rencana pembelajaran untuk

pertemuan berikutnya

C. Observasi

Observasi dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran dengan model

STAD. Tujuan dari observasi untuk mengetahui pembelajaran yang berlangsung


38

sesuai dengan skenario RPP atau tidak. Tujuan lain dari observasi, untuk

mengetahui hambatan yang terjadi selama pembelajaran berlangsung.

Observasi dilakukan oleh peneliti dan guru. Pengamatan proses pembelajaran

menghasilkan skor aktivitas belajar siswa. Pengamatan hasil belajar diperoleh dari

nilai ulangan harian siswa.

D. Refleksi

Kegiatan pada tahap ini adalah menganalisis data dari pengamatan aktivitas

belajar dan hasil belajar siswa berupa nilai. Hasil dari analisis ini, peneliti

melakukan refleksi.

Refleksi dilakukan untuk menentukan kekurangan pada siklus I. Hasil refleksi

siklus I dijadikan dasar perbaikan untuk rencana tindakan siklus II.

Siklus II

A. Perencanaan

Pelaksanann siklus II, guru masih menggunakan metode pembelajaran STAD.

Perencanaan pelaksanaan siklus II didasarkan hasil refleksi dari siklus I.

Kekurangan yang ada dalam siklus I akan diperbaiki di siklus II. Sehingga guru

sebagai peneliti mempersiapkan kembali rancangan yang akan dilakukan dalam

sikus II.

Hal–hal yang dipersiapkan adalah: 1) menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) sesuai dengan kompetensi yang dicapai, 2) membuat format


39

lembar observasi, 3) menyiapkan lembar kerja tim, lembar kerja individu, membuat

bendera untuk tim , 4) membuat soal tes dan kunci jawaban siklus 2.

B. Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan sama seperti siklus I, pada siklus II guru kembali

menyampaikan tujuan, garis besar materi dan langkah-langkah pembelajaran

kooperati tipe STAD, dan membagi tugas kelompok serta membimbing siswa

dalam bekerja kelompok

C. Observasi

Observasi dilakukan seperti siklus I, observer harus mengamati aktivitas

pembelajaran kooperatif tipe STAD. Aktivitas tersebut meliputi kegiatan siswa dan

guru apakah pelaksanaan telah sesuai dengan skenario RPP atau belum.

D. Refleksi

Tahap refleksi ini dilakukan terhadap pelaksanaan siklus II. Refleksi dilakukan

dengan menganalisis kembali data lembar observasi dan hasil belajar siswa. jika

pencapaian pembelajaran mengalami peningkatan yang signifikan maka penelitian

dianggap berhasil. Namun jika pencapaian pembelajaran belum mengalami

peningkatan yang signifikan maka penelitian kelas dengan menerapkan metode

pembelajaran STAD ini dianggap belum berhasil, sehingga guru dapat

menggunakan metode pembelajaran lain untuk kompetensi dasar selanjutnya guna

mencapai hasil yang diinginkan.


40

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan beberapa teknik yaitu:

1. Observasi atau pengamatan

Teknik obsevasi atau pengamatan digunakan untuk memperoleh data

keaktifan belajar siswa dalam pelajaran komunikasi bisnis kompetensi dasar

melaksanakan komunikasi bisnis. Adanya observasi untuk mengetahui apakah

pembelajaran sesuai dengan skenario atau tidak. “Observasi merupakan suatu

cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap

suatu obyek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara

sistemais tentang hal-hal tertentu yang diamati.”2

Pencatatan terhadap hasil observasi ditulis dalam lembar observasi yang

telah disusun. Lembar observasi terdiri dari dua bagian, yaitu lembar observasi

terhadap guru dengan model STAD (lampiran 4). dan lembar observasi

terhadap siswa dengan model STAD (lampiran 5).

2. Teknis Tes

Teknik tes digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa dalam

pelajaran komunikasi bisnis. “suatu instrumen atau prosedur yang sistematis

untuk mengukur tingkah laku, yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa

pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-

syarat tertentu yang jelas”.3 Tes akan dilaksanakan di tiap akhir siklus, yaitu

siklus I dan II. (lampiran 11 dan lampiran 23)

2
http://www.bloggerlombok.com/2011/11/metode-observasi.html.(diunduh pada tanggal 27
September 2018 pukul 11.57)
3
https://www.academia.edu/16155738/DEFINISI_TES_PENGUKURAN_PENILAIAN_DAN_E
VALUASI_TES, diakses pada tanggal 28 September 108 pukul 09.10
41

3. Angket

Angket digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap

penggunaan model dalam pembelajaran STAD. “Angket merupakan teknik

pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat

pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.”4

Angket ini dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis

kepada siswa untuk dijawab. (lampiran 8.)

4. Teknik Dokumentasi

Teknik ini digunakan untuk mencari data kondisi awal aktivitas belajar

siswa. Teknik dokumentasi ini juga untuk mengetahui kondisi selama proses

belajar pada kompetensi dasar studi kelayakan bisnis.(lampiran 35)

5. Catatan Lapangan

Catatan lapangan digunakan untuk mencatat data yang tidak bisa masuk

ke dalam lembar observasi. (lampiran 7)

3.6. Teknik Analisis Data

Penelitian tindakan kelas ini ,ada dua jenis data yang digunakan peneliti, yaitu

data kuantitatif dan data kualitatif.

a. Data Kuantitatif

Dalam pengumpulan data kuantitatif peneliti menggunakan analisis statistik

diskriptif dengan mencari presentase keberhasilan belajar siswa.

4
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Alfabeta: Bandumg,2011)hal. 142
42

1. Data hasil pengamatan atau observasi dapat dihitung dengan menggunakan

rumus sebagai berikut:

% Pencapaian = Σ Skor yang diperoleh X100%


Skor maksimum
2. Data hasil tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Nilai = Σ Skor yang dijawab benar X 100%


Skor maksimum
3. Nilai yang diperoleh siswa dari pengamatan atau observasi merupakan hasil

belajar psikomotorik dan afektif.

% kesiapan = ∑ jumlah peserta didik yang siap X 100%


Jumlah peserta didik
4. Menghitung keberhasilan kelas sebagai berikut:

Menghitung keberhasilan kelas yaitu persentase siswa yang tuntas sesuai

dengan indikator keberhasilan dihitung dengan rumus:

% ketuntasan belajar siswa = ∑ siswa yang tuntas belajarX 100 %


Banyaknya siswa dalam satu kelas

b. Data Kualitatif

Data kualitatif digunakan untuk menganalisis data-data non tes, yaitu data

observasi dan data angket. Data kualitatif dapat dianalisis dengan reduksi

data, penyajian teks dan penarikan kesimpulan:

a. Data Reduction (Reduksi Data)

Reduksi data merupakan penyederhanaan data yang telah diperoleh dari

observasi, angket dan wawancara. Data yang didapat dirangkum dan

dipilih sesuai dengan tema yang ada. Data reduksi akan memberikan

gambaran yang lebih jelas dan mempermudah dalam pengumpulan data.


43

b. Data Display (Penyajian Data)

Setelah dilakukan penyederhanaan (direduksi) maka langkah selanjutnya

yaitu mendisplay data. Data display dilakukan dengan cara menyajikan

hasil data dalam bentuk kalimat dan tabel.

c. Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan)

Tahap terakhir yaitu penarikan kesimpulan dari data yang telah

disederhanakan dan disajikan.

3.7. Indikator Keberhasilan

Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran STAD dikatakan

sukses apabila rata-rata aktivitas belajar siswa dan guru sudah mencapai skor lebih

dari atau sama dengan 75%.

 Keaktifan siswa ditandai dengan siswa melakukan presentasi, siswa

bertanya, menyanggah dan menjawab pertanyaan

 Hasil belajar siswa ditandai dengan adanya peningkatan hasil belajar yang

diperoleh siswa selama pembelajaran berlangsung

Indikator keberhasilan belajar dalam penelitian ini adalah apabila siswa yang

tuntas belajar sudah lebih dari atau sama dengan 75%. Siswa dikatakan mencapai

tuntas belajar kognitif apabila siswa mampu menguasai kompetensi atau tujuan

pembelajaran yang mengacu pada KKM yang telah ditetapkan kurikulum sekolah,

yaitu untuk ketuntasan individu 81,00. Sedangkan ketuntasan klasikal adalah 75%

dari jumlah siswa yang mengikuti tes.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Kondisi Awal

4.1.1 Keaktifan Belajar

Hasil observasi awal yang dilakukan di kelas X Bisnis Daring dan Pemasaran

2 SMK Negeri 2 Blitar, ditemukan permasalahan yang terjadi selama pelajaran

perencanaan bisnis, yaitu metode pembelajaran yang belum tepat. Guru dalam

menyampaikan meteri dengan metode ceramah dan penugasan. Keaktifan siswa

dalam mengikuti pembelajaran pada mata pelajaran perencanaan bisnis relatif

rendah. Hal tersebut nampak terhadap aktivitas siswa yang selalu ramai dan ada

beberapa anak yang sibuk berbicara dengan teman sebangkunya. Saat guru

menyampaikan materi ada siswa yang berceloteh yang tidak ada kaitannya dengan

materi pelajaran. Selain itu, melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannnya

dengan pembelajaran seperti bercermin dan ada yang makan dengan sembunyi-

sembunyi.

Sebelum dilakukan tindakan, peneliti melakukan pengamatan keaktifan siswa

hari Rabu tanggal 15 Agustus 2018. Keaktifan siswa yang dimaksud adalah saat

pembelajaran siswa ikut berpartisipasi untuk bertanya, menjawab pertanyaan guru

atau menanggapi pernyataan siswa lain. Keaktifan siswa dicatat dalam lembar

pengamatan dengan skor nol sampai tiga. Skor nol = tidak aktif, skor satu = kurang

aktif, skor dua = aktif dan skor tiga= sangat aktif. Keaktifan siswa dihitung dengan

rumus :

44
45

Skor maksimum = skor x jumlah siswa

111 = 3 x 37

Presentase keaktifan siswa = ( ∑ fi / jumlah siswa) x 100%

Presentasi keaktifan kelas = (fi(x) / skor maksimum) x 100%

Tabel 4.1 Keaktifan Belajar Siswa Kondisi Awal


Kelas X BDP 2 Mata Pelajaran Perencanaan Bisnis
SMK Negeri 2 Blitar Semester Gasal Tahun Pelajaran
2018/2019

Nomor Tingkat Keaktifan Skor (x) fi fi(x) Presentase (%)

1 Tidak Aktif 0 14 0 37,84


2 Kurang Aktif 1 15 15 40,54
3 Aktif 2 6 12 16,22
4 Sangat Aktif 3 2 6 5,40
Jumlah 37 33 100
Keaktifan kelas = (fi(x) / skor maksimum) x 100%
= (33/111) x 100% = 27,73%

Berdasar tabel 4.1 terdapat enam siswa (16,22%) dari tiga puluh tujuh siswa

yang aktif dan sangat aktif dua siswa (5,40%). Sedangkan siswa yang kurang aktif

ada lima belas siswa (40,54%) dan tidak aktif empat belas siswa (37,84%).

Presentase rata-rata keaktifan kelas hanya 29,73%. Presentasi tersebut

menunjukkan bahwa presentasi keaktifan siswa cukup rendah dibanding dengan

presentasi ketidakaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran.

4.1.2 Hasil Belajar

Hasil belajar kondisi awal siswa diperoleh dari nilai tes formatif kompetensi

dasar strategi bisnis. Siswa mengikuti tes untuk mengetahui seberapa jauh dan
46

konsep yang dimiliki siswa saat mengikuti pembelajaran. Hasil tes formatif ini

menunjukkan jumlah siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

hanya tujuh siswa atau 18,92% dan yang belum tuntas berjumlah tiga puluh siswa

atau 81,08%.

Tabel 4.2 Hasil Belajar Pra Siklus


Kelas X BDP 2 Mata Pelajaran Perencanaan Bisnis
SMK Negeri 2 Blitar Semester Gasal Tahun Pelajaran
2018/2019
Nomor Nilai Fi Presentase (%)
1. 40 –50 7 18,92
2. 51 - 60 7 18,92
3. 61 – 70 11 29,73
4. 71 - 80 5 13,51
5. 81 - 90 7 18,92
Jumlah 37 100

Nilai terendah yang diperoleh sebelum tindakan adalah 40 dan nilai tertinggi

90. Sedangkan rata-rata nilai kelas yang diperoleh 64,11 (lampiran 33). Melihat

kondisi ini, peneliti mencoba untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan

menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team

Achievement Division) pada kompetensi dasar studi kelayakan bisnis untuk siklus I

dan kompetensi dasar menyusun proposal untuk siklus II. Penggunaan metode ini

diharapkan mampu memberikan pengaruh positif kepada siswa berupa peningkatan

keaktifan siswa dan peningkatan hasil belajar. Penelitian tindakan kelas ini

dirancang menjadi dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu

perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing)

dan refleksi (reflecting).


47

4.2. Hasil Penelitian Siklus I

Siklus I peneliti menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student

Team Achievement Division). Kompetensi dasar pada siklus ini adalah

melaksanakan komunikasi bisnis. Tahapan yang dilakukan mulai dari perencanaan,

pelaksanaan, observasi dan refleksi.

1. Perencanaan (Planning)

Penyusunan rencana tindakan yang akan dilakukan adalah menyusun

rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan kompetensi yang

dicapai (lampiran 1). Kemudian membuat format lembar observasi untuk guru

(lampiran 4) dan siswa (lampiran 5).

Persiapan lain yang digunakan yaitu menyiapkan lembar kerja tim yang

akan digunakan pada Siklus I (lampiran 9), lembar kerja individu berupa kuis

(lampiran 11) dan membuat bendera untuk tim. Selanjutnya membuat format

lembar keaktifan siswa (lampiran 6).

2. Pelaksanaan (Acting)

Tahap pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan sesuai skenario yang telah

direncanakan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP). Siklus

I dilaksanakan 2 kali pertemuan, masing-masing pertemuan 2 jam pelajaran.

Pertemuan pertama dilaksanakan hari Rabu 26 September 2018 jam pelajaran

ke-1 sampai dengan jam pelajaran ke-2 mulai pukul 07.00 – 08.30 dan

pertemuan kedua hari Sabtu 29 September 2018 jam pelajaran ke-8 dan ke-9

pukul 11.55 – 13.15.


48

Awal pembelajaran terlebih dahulu guru memberi salam, menanyakan

kabar siswa dan memeriksa kehadiran siswa. Sebelum memulai, guru membuat

kondisi kelas menjadi nyaman dan menarik. Guru memulai dengan pertanyaan

apersepsi dengan mengingat materi sebelumnya yaitu tentang Teknik

memperoleh modal usaha. Guru mulai mengaitkan materi tersebut dengan

materi studi kelayakan bisnis dengan memberi pertanyaan. Setelah siswa

mencoba menjawab pertanyaan yang diberikan, guru menyampaikan tujuan

pembelajaran yang ingin dicapai dan mulai memberikan materi secara garis

besar.

Kegiatan selanjutnya membagi siswa menjadi sembilan kelompok,

masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 siswa. Saat guru membagi kelompok

banyak siswa yang merasa keberatan karena mereka ingin memilih anggota

kelompok sendiri. Tetapi guru bisa mengatasi permasalahan tersebut dengan

menjelaskan alasan guru dalam menentukan anggota kelompok. Pembagian

kelompok ini ada satu kelompok yang memiliki jumlah anggota 5 orang siswa

karena jumlah siswa keseluruhan sebanyak 37 siswa.

Siswa yang telah dibagi kelompok diminta duduk bersama dengan

anggota kelompoknya. Karena baru pertama kali menggunakan metode

kooperatif tipe STAD guru mulai menjelaskan langkah-langkah STAD yang

terdiri dari lima tahap yaitu presentasi materi, kerja tim, kuis (tes individu),

skor perkembangan dan penghargaan.

Guru mulai membagikan lembar kerja tim siklus I (lampiran 9) dan

bendera tim, masing-masing tim diminta untuk memberi nama tim mereka.
49

Saat diskusi kelompok berlangsung guru tidak berkeliling dan memfasilitatori

siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok, itu dikarenakan guru baru

pertama kali melakukan metode ini. Setelah selesai kerja kelompok, masing-

masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka. Saat

presentasi kelompok , tidak semua anggota kelompok menyampaikan hasil

kerja kelompok, tetapi hanya satu atau dua orang kelompok yang

menyampaikan. Guru meminta kelompok lain untuk menaggapi tetapi belum

semua siswa mau untuk menanggapi, hanya tujuh anak yang memberikan

tanggapan dari kelompok lain. Setelah selesai presentasi kelompok guru

membimbing siswa untuk menyusun kesimpulan. Diakhir pembelajaran guru

menginformasikan bahwa pertemuan yang akan datang akan diadakan tes

individu, hasil tes individu tersebut akan digunakan untuk nilai perkembangan

kelompok.

Pertemuan kedua, guru memulai dengan apersepsi untuk mengingatkan

siswa tentang materi yang telah dipelajari bersama. Pada pertemuan ini ada dua

siswa yang tidak dapat mengikuti tes individu karena sakit. Guru juga memberi

kesempatan siswa untuk bertanya sebelum tes individu dimulai dan

memberikan motivasi agar siswa mengerjakan tes dengan baik dan tidak

bekerjasama. Sebelum tes dimulai, guru meminta agar buku yang ada dimeja

untuk dimasukkan dalam tas dan yang ada di meja hanya alat tulis. Unutk

memperoleh hasil siswa atas usaha mereka sendiri, guru mengkondisikan tes

dengan posisi duduk yang agak berjauhan, untuk itu kegiatan tes dibagi

menjadi dua sesi, dimana sesi pertama untuk siswa dengan nomor absen 1
50

sampai dengan siswa dengan nomor absen 19 dan sesi kedua untuk siswa

dengan nomor absen 20 sampai dengan siswa dengan nomor absen 37. Selama

pelaksanaan tes untuk sesi pertama, siswa peserta tes sesi kedua menunggu di

luar kelas dan sebaliknya. Kemudian guru membagi soal tes dan meminta siswa

mengerjakan secara individu. Guru memberikan waktu 60 menit untuk

menyelesaikan tes dan guru mulai mengawasi jalannya tes dan menegur siswa

yang ketahuan bekerjasama dengan siswa lain. Diakhir pelajaran, setelah tes

selesai guru memberikan sesi tanya jawab mengenai kesulitan yang diperoleh

saat tes dan siswa memberikan pendapatnya.

3. Pengamatan (Observing)

Hasil pengamatan diperoleh dari pengamatan tindakan pada siklus I:

a. Keaktifan Belajar

Siklus pertama guru telah menggunakan model kooperatif tipe STAD.

Pembelajaran kurang berlangsung dengan lancar karena siswa masih kurang

dalam bekerjasama dengan kelompok. Dalam satu kelompok ada yang

mengandalkan dua orang temannya untuk menyelesaikan tugas kelompok

mereka. Berikut tabel aktivitas siswa pada siklus I:

Tabel 4.3 Keaktifan Belajar Siswa Siklus I


Kelas X BDP 2 SMK Negeri 2 Blitar Semester
Gasal tahun Pelajaran 2018/2019

Nomor Tingkat Keaktifan Skor (x) fi fi(x) Persentase (%)


1 Tidak Aktif 0 2 0 5,71
2 Kurang Aktif 1 13 13 37,14
3 Aktif 2 12 24 34,28
4 Sangat Aktif 3 6 18 17,15
Jumlah 35 48 100
Keaktifan kelas = fi(x)/skor maks. = 48/(35x3) = 45,71%
51

Hasil observasi keaktifan siswa siklus I dilihat dari tabel 4.3

menunjukkan bahwa dua siswa (5,71%) dari tiga puluh lima siswa tidak aktif,

data tersebut menunjukkan penurunan sebesar 32,13%. Siswa yang kurang

aktif dibanding dengan sebelum dilakukan tindakan menurun dari 15 menjadi

13 siswa, data tersebut menunjukkan penurunan sebesar 3,4%. Siswa yang

aktif menunjukkan peningkatan yang semula enam siswa (16,22%) menjadi

dua belas siswa (34,28%) dan siswa yang sangat aktif semula berjumlah dua

siswa (5,40%) menjadi enam siswa (17,15%). Sedangkan presentase rata-rata

keaktifan kelas meningkat dari 27,73% menjadi 45,71% (lampiran 17).

Kesiapan siswa menerima pelajaran siklus I (lampiran 14) menunjukkan

bahwa banyak siswa yang belum siap menerima pelajaran, ditunjukkan

adanya empat belas siswa (40%) tidak membawa modul dan sepuluh siswa

(28,57%) tidak membawa buku catatan. Presentase kesiapan siswa dalam

mengikuti pembelajaran adalah 63,72% dan masih termasuk rendah.

Sementara ada dua siswa yang dispensasi mengikuti kegiatan OSIS/MPK.

Pertemuan kedua siklus I siswa mulai menunjukkan kesiapan menerima

pelajaran, yaitu terdapat tiga puluh siswa (85,71%) yang telah membawa

modul dan seluruh siswa membawa buku catatan. Presentase kesiapan

mengalami peningkatan yaitu menjadi 88,2%. Guru memeriksa kesiapan

siswa ini dilakukan agar siswa memahami bahwa modul merupakan

pendukung dalam pembelajaran.

Hasil observasi aktivitas siswa selama siklus I (lampiran 16) sebesar

65,71% dan termasuk dalam kategori baik, namun persentasi yang diperoleh
52

belum mencapai indikator keberhasilan. Siswa banyak yang tidak

bekerjasama dengan kelompok malah bermain-main sendiri.

b. Belajar Siswa

Hasil belajar siswa siklus I (lampiran 19) sudah mengalami peningkatan,

yang semula tujuh siswa (18,92%) yang tuntas menjadi lima belas siswa

(42,88%). Sedangkan nilai terendah 48 dan nilai tertinggi 90 (lampiran 33).

Sedangkan rata-rata hasil belajar siklus I sebesar 65,12. Hasil belajar siswa

pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

Nomor Nilai fi Presentase (%)


1. 40 –50 2 5,71
2. 51 - 60 8 22,84
3. 61 – 70 10 28,57
4. 71 - 80 - 0
5. 81 - 90 15 42,88
Jumlah 35 100

c. Observasi Aktifitas Guru

Pertemuan siklus I guru telah menggunakan model kooperatif tipe

STAD. Awal pembelajaran guru memberikan pertanyaan apersepsi untuk

mengulang materi yang lalu, namun hanya tiga orang siswa yang dapat

menjawab pertanyaan. Selanjutnya guru langsung memberi materi pelajaran

tanpa memberikan motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang

harus dicapai siswa.


53

Penggunaan model STAD baru pertama kali dilakukan oleh guru,

sehingga penyampaian langkah-langkah kerja tim masih kurang. Siswa dibagi

menjadi sembilan kelompok, meskipun banyak siswa yang meminta untuk

mencari anggota kelompok sendiri guru dapat mengatasinya dengan baik.

Guru meminta siswa untuk duduk dalam satu tim dan membagikan lembar

kerja tim serta bendera tim. Guru memberikan alokasi waktu untuk

menyelesaikan tugas tim. Saat diskusi kelompok guru masih kurang dalam

menjadi fasilitator, belum semua kelompok di datangi agar siswa didukung

aktif dalam kerja tim. Setelah waktu habis, guru meminta masing-masing

kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan cara mengundi

urutan presentasi.

Pelaksanaan presentasi kelompok guru berperan aktif sebagai fasilitator

dan membimbing siswa untuk menanggapi atau bertanya. Tetapi siswa yang

diberi dukungan belum semua ikut berperan dalam sesi presentasi ini.

Pertemuan kedua dalam siklus I guru memulai pembelajaran dengan

apersepsi agar siswa mengingat apa yang telah dipelajari dan agar siswa siap

mengikuti tes individu. Saat tes berlangsung guru menegur siswa yang

bekerja sama dengan siswa lain ataupun yang menyontek. Setelah waktu tes

selesai guru memberikan waktu untuk siswa bertanya jawab mengenai

permasalahan yang dihadapi dalam tes.

Guru mengumumkan skor kemajuan individu dan kelompok di

pertemuan selanjutnya. Dua kelompok yang memiliki skor tertinggi diberi

penghargaan. Penghargaan yang diberikan oleh guru berupa buku dan pulpen.
54

Guru juga menyampaikan bahwa pemberian penghargaan untuk memacu

kelompok lain agar lebih termotivasi meningkatkan skor individu dan

kelompok. Hasil pengamatan terhadap aktivitas guru pada siklus I sebesar

62,35% (lampiran 15) atau dalam kategori baik. Aktivitas guru masih perlu

ditingkatkan karena belum mencapai indikator keberhasilan yang telah

ditentukan. Guru masih perlu dalam membimbing siswa bekerja secara

kelompok, dan memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.

d. Refleksi (Reflecting)

A. Refleksi Keaktifan Belajar Siswa

Hasil observasi siklus I dengan menggunakan metode kooperatif tipe

STAD, menunjukkkan bahwa pembelajaran pada kompetensi dasar studi

kelayakan bisnis dalam kategori baik. Namun, hasil keaktifan siswa belum

optimal karena persentasi masih kurang dari indikator keberhasilan yaitu

65,71%. Siswa belum berperan aktif dalam kerja tim dan presentasi. Siswa

masih banyak yang melakukan kegiatan yang tidak berkaitan dengan

pembelajaran.

Hasil persentasi rata-rata keaktifan siswa meningkat dari sebelum

tindakan yang menunjukkan 27,73% menjadi 45,71% % (lampiran 17).

Kenaikan persentase rata-rata keaktifan siswa ini belum mencapai indikator

keberhasilan, sehingga untuk siklus selanjutnya siswa dapat menigkatkan

keaktifan dalam mengikuti pembelajaran dengan bertanya, menanggapi

ataupun menjawab pertanyaan yang diutarakan siswa lain atau guru.


55

B. Refleksi Hasil Belajar Siswa

Hasil pengamatan siklus I diperoleh data yang menunjukkan peningkatan

hasil belajar siswa yaitu jumlah siswa yang tuntas yang semula hanya tujuh

siswa (18,92%) meningkat menjadi lima belas siswa atau 42,88% (lampiran

19). Sedangkan siswa yang belum tuntas, semula ada tiga puluh siswa

(81,02%) dan di siklus I menurun menjadi dua puluh siswa (57,12%). Nilai

tertinggi yang diperoleh dalam siklus I sama sebelum tindakan siklus I yaitu

90. Rata-rata kelas yang diperoleh juga belum mencapai indikator

keberhasilan yaitu 62,12. Sehingga dalam siklus II diharapkan siswa dapat

lebih meningkatkan hasil belajar

C. Refleksi Aktifitas Guru

Guru sebagai peneliti karena baru pertama kali menggunakan model

pembelajaran kooperatif tipe STAD belum melaksanakan dengan baik karena

masih merasa baru dengan model seperti ini. Hasil observasi aktivitas guru

sudah tergolong baik namun masih belum mencapai indikator keberhasilan

yaitu 62,35% (lampiran 15). Pelaksanaan siklus II diharapkan guru dapat

meningkatkan aktivitasnya, mulai menjadi fasilitator dalam kerja kelompok

dan memotivasi serta mendorong siswa dalam berperan aktif dalam kelompok

dan kegiatan pembelajaran.


56

4.3. Hasil Penelitian Siklus II

Pelaksanaan siklus II dilaksanakan dalam dua kali pertemuan dan masing-

masing 2 jam. Pada siklus II ini peneliti masih menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe STAD. Tahapan yang dilakukan seperti siklus sebelumnya yaitu

perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Berikut tahapan pembelajaran

yang dilakukan:

1. Perencanaan (Planning)

Penyusunan rencana tindakan pada siklus II tidak jauh berbeda dengan

siklus I. Pada siklus II yang dilakukan penulis yaitu menyusun rencana

pelaksanaan pembelajaran /RPP (lampiran 1) sesuai dengan kompetensi yang

dicapai, membuat format lembar observasi untuk guru dan siswa.

Persiapan lainnya menyiapkan lembar kerja tim, lembar kerja individu,

membuat bendera untuk tim dan membuat soal tes siklus II. Agar mengetahui

keaktifan siswa disusunlah format lembar keaktifan siswa.

2. Pelaksanaan (Acting)

Tahap pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan sesuai skenario yang telah

direncanakan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Siklus II

dilaksanakan 2 kali pertemuan, masing-masing pertemuan 2 jam pelajaran,

pertemuan pertama dilaksanakan hari Rabu 3 Oktober 2018 mulai pukul 07.00

– 08.30 dan pertemuan kedua hari sabtu 6 Oktober 2018 mulai pukul 11.55 –

13.15.
57

Awal pembelajaran terlebih dahulu guru memberi salam, menanyakan

kabar siswa dan memeriksa kehadiran siswa.. Sebelum memulai, guru membuat

kondisi kelas menjadi nyaman dan menarik. Guru mengecek kerapihan dan

kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran. Setelah itu, guru mulai membacakan

skor perkembangan individu dan menjelaskan bahwa skor individu digunakan

untuk skor perkembangan kelompok. Setelah itu guru membacakan skor

perkembangan kelompok dan meminta dua kelompok skor tertinggi maju di

depan kelas untuk menerima penghargaan dari guru.

Kelompok yang memperoleh penghargaan 1 adalah tim “Lodoyo” dengan

total skor perkembangan 120 dan rata-rata 24. Penghargaan 2 diberikan kepada

kelompok “Aryo Blitar” yang memperoleh total skor perkembangan 80 dengan

rata-rata 20 (lampiran 20). Penghargaan yang diperoleh kelompok skor tertinggi

diharapkan dapat memberi motivasi kelompok lain.

Guru memulai pelajaran dengan pertanyaan apersepsi materi lalu yaitu

tentang bentuk-bentuk komunikasi. Guru mulai mengingatkan siswa mengenai

materi tersebut melalui tanya jawab. Setelah siswa mencoba menjawab

pertanyaan yang diberikan, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin

dicapai dan mulai memberikan materi secara garis besar. Guru memotivasi

siswa untuk lebih memahmi kompetensi dasar ini, sehingga siswa lebih

memahami dengan baik. Kemudian guru membagi siswa menjadi sembilan

kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 siswa. Saat guru membagi

kelompok siswa tidak merasa keberatan seperti yang dilakukan saat siklus I,

siswa menerima kelompok yang dibagi guru karena kelompoknya tidak berubah.
58

Siswa yang telah dibagi kelompok diminta duduk bersama dengan anggota

kelompoknya. Guru menjelaskan metode kooperatif tipe STAD dan menjelaskan

langkah-langkah STAD yang terdiri dari lima tahap yaitu presentasi materi, kerja

tim, kuis (tes individu), skor perkembangan dan penghargaan. Siklus II guru

sebagai peneliti banyak melakukan introspeksi dari hasil observasi guru observer

pada siklus I, sehingga guru sudah mulai mengerti benar langkah-langkah yang

harus dilakukan.

Guru membagikan lembar kerja tim (lampiran 21) dan bendera tim. Saat

diskusi kelompok berlangsung guru mulai memperbaiki hasil refleksi siklus I

dengan berkeliling dan memfasilitatori siswa dalam menyelesaikan tugas

kelompok. Guru juga memberi dukungan agar masing- masing siswa berperan

aktif dalam tugas kelompok. Setelah diskusi kelompok, masing-masing

kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka. Presentasi

kelompok pada siklus II, semua anggota kelompok telah berperan aktif dalam

presentasi menyampaikan hasil kerja kelompok. Guru meminta kelompok lain

untuk bertanya dan menanggapi. Pada pertemuan ini telah ada peningkatan

keaktifan siswa, yaitu ditunjukkan dengan jumlah siswa yang bertanya,

menjawab maupun menanggapi. Saat kegiatan presentasi berlangsung, selain

menjadi fasilitator guru juga mengisi lembar keaktifan siswa. Selesai presentasi

kelompok, guru membimbing siswa untuk menyusun kesimpulan. Diakhir

pembelajaran, guru menginformasikan bahwa pertemuan yang akan datang akan

diadakan tes individu, hasil tes individu tersebut akan digunakan untuk nilai

perkembangan kelompok.
59

Pertemuan kedua guru memulai dengan apersepsi untuk mengingatkan

siswa tentang materi yang telah dipelajari bersama. Guru juga memberi

kesempatan siswa untuk bertanya sebelum tes individu dimulai dan memberikan

motivasi agar siswa mengerjakan tes dengan baik dan tidak bekerja sama.

Sebelum tes dimulai, guru meminta agar buku yang ada dimeja untuk

dimasukkan dalam tas dan yang ada di meja hanya alat tulis. Kemudian guru

membagi soal tes dan meminta siswa mengerjakan secara individu. Guru

memberikan waktu 60 menit untuk menyelesaikan tes dan mengawasi jalannya

tes dan menegur siswa yang ketahuan bekerja sama dengan siswa lain. Diakhir

pelajaran, guru memberikan sesi tanya jawab mengenai kesulitan yang diperoleh

saat berlangsung dan siswa memberikan pendapatnya.

3. Pengamatan (Observing)

Hasil pengamatan diperoleh dari pengamatan tindakan pada siklus II yaitu:

a. Keaktifan Belajar Siswa

Pada siklus II guru masih tetap menggunakan model kooperatif tipe

STAD. Pembelajaran berlangsung dengan lancar dan siswa telah memimiliki

rasa tanggung jawab untuk ikut aktif dalam kerja kelompok ataupun

pembelajaran. Kegiatan yang tidak ada kaitan dengan pembelajaran, seperti

berbicara dengan siswa lain atau bermain-main sendiri sudah berkurang.

Berikut tabel aktivitas siswa pada siklus II:


60

Tabel 4.5 Keaktifan Belajar Siswa Siklus II


Kompetensi Dasar Proposal Usaha Kelas X BDP 2 SMK
Negeri 2 Blitar Semester Gasal Tahun Pelajaran
2018/2019

Nomor Tingkat Keaktifan Skor (x) fi fi(x) Persentase(%)


1 Tidak Aktif 0 0 0 0
2 Kurang Aktif 1 3 3 8,10
3 Aktif 2 13 26 35,14
4 Sangat Aktif 3 21 63 56,76
Jumlah 37 92 100
Keaktifan kelas = fi(x) / skor maksimum = 92/111 = 82,88%

Hasil observasi keaktifan siswa siklus II dilihat dari tabel 4.5 menunjukkan

bahwa sudah tidak ada siswa yang tidak aktif (lampiran 28), data tersebut

menunjukkan penurunan sebesar 11,43%. Siswa yang kurang aktif dibanding

dengan siklus I jumlahnya menurun, yaitu dari tiga belas siswa (37,14%)

menjadi tiga siswa (8,10%). Siswa yang aktif menunjukkan peningkatan dari

34,28% menjadi 35,14% dan siswa yang sangat aktif semula berjumlah enam

siswa (17,15%) naik menjadi dua puluh satu siswa (56,76%). Peningkatan

aktivitas siswa ini secara langsung mempengaruhi peningkatan persentasi

keaktifan kelas yang semula siklus I 42,88% menjadi 82,88% saat siklus II.

Kesiapan siswa menerima pelajaran siklus II (lampiran 26) menunjukkan

bahwa pada pertemuan pertama siswa telah siap menerima pelajaran,

ditunjukkan adanya 33 siswa (89,19%) yang membawa modul dan yang tidak

membawa modul berjumlah empat siswa (10,81%). Seluruh siswa juga sudah

siap buku catatan dan kelengkapan tulis. Kesiapan siswa secara keseluruhan

menunjukkan presentase 89,2%. Saat pertemuan kedua siswa juga telah siap

mengikuti pembelajaran dan hanya dua siswa (14,7%) yang tidak membawa
61

modul. Kesiapan siswa secara keseluruhan sama seperti pertemuan pertama

ysitu 89,2%.

Hasil observasi aktivitas siswa selama siklus II mengalami peningkatan

yang semula sebesar 65,71% menjadi 88,58% (lampiran 28) dan termasuk

dalam kategori sangat baik serta telah mencapai indikator keberhasilan. Siswa

telah memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas tim secara baik dan

aktif berperan dalam presentasi.

b. Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa mengalami peningkatan cukup tinggi (lampiran 31),

saat siklus I sebanyak lima belas siswa (42,88%) yang mencapai KKM menjadi

tiga puluh satu siswa atau 83,78%. Sedangkan nilai pada siklus II terendah 73

dan nilai tertinggi 94. Sedangkan rata-rata hasil belajar siklus II adalah 82,35.

Hasil belajar siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6 Hasil Belajar Siklus II


Kompetensi Dasar Proposal Usaha Kelas X BDP 2
SMK Negeri 2 Blitar Semester Gasal Tahun
Pelajaran 2018/2019
Persentase
Nomor Nilai fi
(%)
1. 73 – 80 6 16,22
2. 81 – 87 17 45,94
3. 88 – 94 14 37,84
Jumlah 37 100
62

c. Hasil Observasi Aktifitas Guru

Pertemuan siklus II guru masih menggunakan model kooperatif tipe

STAD. Awal pembelajaran guru memberikan pertanyaan apersepsi untuk

mengulang materi yang lalu, siswa mencoba menjawab secara bergantian.

Selanjutnya guru menyampaikan tujuan yang harus dicapai siswa, guru

langsung memberi materi dengan memberikan motivasi dan semangat

terhadap siswa dalam mempelajari kompetensi dasar menyusun proposal

usaha.

Penyampaian langkah kerja tim sudah baik dibanding dengan siklus I.

Siswa dibagi menjadi sembilan kelompok dan guru meminta siswa untuk

duduk dalam satu tim. Setelah itu membagikan lembar kerja tim serta bendera

tim. Guru memberikan alokasi waktu untuk menyelesaikan tugas tim, saat

diskusi kelompok guru masih menjadi fasilitator dan berkeliling kelompok

memberi dukungan siswa agar aktif dalam kerja tim. Setelah waktu habis, guru

meminta masing-masing mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan cara

mengundi urutan presentasi.

Pelaksanaan presentasi kelompok guru berperan aktif sebagai fasilitator.

Guru membimbing siswa untuk menanggapi, bertanya dan menjawab

pertanyaan dari kelompok yang lain. Sebagian besar siswa ikut berperan dalam

sesi presentasi ini dan persentase lebih dari 50%. Pertemuan kedua dalam

siklus II guru memulai pembelajaran dengan apersepsi agar siswa mengingat

apa yang telah dipelajari supaya siswa siap mengikuti tes individu. Setelah
63

waktu tes selesai guru meberikan waktu untuk siswa bertanya jawab mengenai

permasalahan yang dihadapi dalam tes.

Guru mengumumkan skor kemajuan individu dan kelompok di pertemuan

selanjutnya. Pemberian penghargaan kepada dua kelompok terbaik diberikan

pada hari Sabtu tanggal 6 Oktober 2018. Kelompok yang mendapat

penghargaan adalah kelompok “Patria” dan “Kepatihan” dengan skor yang

sama yaitu 110 dan skor rata-rata 27,5. Hasil pengamatan terhadap aktivitas

guru pada siklus II sebesar 87,64% yang menunjukkan kenaikan 25,29% atau

dalam kategori sangat baik (lampiran 27).

d. Angket Tanggapan Siswa Mengenai Pelaksanaan Metode Pembelajaran

Kooperatif Tipe STAD

Hasil angket tanggapan siswa yang didapat dari tiga puluh tujuh siswa,

terdapat tiga puluh lima siswa yang suka dengan metode kooperatif tipe STAD.

Alasan mereka senang dengan metode ini karena mudah memahami dan

mengerti materi yang diberikan. Ada juga yang berkomentar bahwa metode ini

menyenangkan dan tidak membuat ngantuk.

Dua siswa yang menyukai pembelajaran kooperatif tipe STAD merasa

dapat mengekspresikan pendapat mereka serta pembelajarannya berbeda

seperti biasa, tidak ngantuk dan siswa bisa mengembangkan materi yang ada.

Selain itu siswa bisa saling membantu menjelaskan kepada temannya. Namun

ada dua siswa yang tidak setuju dengan metode pembelajaran ini, karena

merasa bingung dengan adanya banyak pendapat dari siswa lain (lampiran 34).
64

4. Refleksi (Reflection)

a. Refleksi Aktifitas Siswa

Hasil observasi siklus II dengan menggunakan metode kooperatif tipe

STAD, menunjukkkan bahwa pembelajaran pada kompetensi dasar

melaksanakan komunikasi bisnis sudah mencapai indikator keberhasilan.

persentase aktivitas meningkat dari 45,71% menjadi 82,88%. Siswa telah

belum berperan aktif dalam kerja tim dan presentasi.

b. Refleksi Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa pada siklus II diperoleh data yang menunjukkan

peningkatan hasil belajar siswa yaitu jumlah siswa yang tuntas pada siklus I

hanya lima belas siswa (42,88%) menjadi tiga puluh satu siswa (83,78%).

Sedangkan siswa yang belum tuntas, semula ada dua puluh dua siswa (59,46%)

turun menjadi enam siswa (16,22%). Nilai tertinggi yang diperoleh dalam

siklus II 94. Rata-rata hasil belajar 82,35 (lampiran 33).

c. Refleksi Aktifitas Guru

Karena telah mempelajari tentang model pembelajaran STAD pada

siklus I dan memperhatikan catatan dari observer selama pelaksanaan siklus I,

maka pada siklus II peneliti sebagai guru telah melaksanakan kegiatan

pembelajaran menggunakan model STAD dengan sangat baik. Langkah-

langkah pembelajaran yang semula masih belum terbiasa sudah dapat

dilakukan. Guru telah memberikan motivasi siswa agar berperan aktif dalam
65

pembelajaran. Hasil pengamatan menunjukkan peningkatam aktivitas guru

sebesar 87,64% dan telah mencapai indikator keberhasilan.

4.4. Pembahasan

Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya aktivitas belajar siswa

serta rendahnya hasil belajar siswa pada kompetensi dasar studi kelayakan bisnis

dan proposal usaha. Penyebabnya adalah guru belum melaksanakan pembelajaran

dengan tepat dan menarik. Guru belum menggunakan variasi model pembelajaran

untuk mendukung keaktifan siswa. Keadaan ini perlu adanya penggunaan model

yang tepat yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus. Masing-

masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan

dan refleksi. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini digunakan

pada kompetensi dasar melaksanakan komunikasi bisnis. Pelaksanaan siklus I

dilaksanakan dalam dua hari pertemuan yaitu hari Rabu tanggal 26 September 2018

dan hari Sabtu tanggal 29 September 2018. Sedangkan siklus II dilaksanakan pada

hari Rabu tanggal 3 Oktober 2018 dan hari Sabtu tanggal 6 Oktober 2018

Sebelum pelaksanaan siklus I, peneliti mengamati dan mengevaluasi secara

mandiri proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan untuk melihat kondisi kelas

dan keadaan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Saat pengamatan

berlangsung guru menyadari bahwa proses pembelajaran masih sangat didominasi

oleh guru dan siswa hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru. Hal ini

menimbulkan kejenuhan siswa sehingga siswa melakukan aktivitas yang tidak ada
66

kaitannya dengan pembelajaran. Siswa tidak mau bertanya mengenai materi yang

disampaikan guru, padahal guru memberi pertanyaan dan siswa sebagian besar

tidak dapat menjawab. Keadaaan ini dapat berdampak pada hasil ulangan harian

sangat rendah..

Tabel 4.7 Perbandingan Keaktifan Dan Hasil Belajar


Siswa Kelas X BDP 2 SMK Negeri 2 Blitar Mata
Pelajaran Perencanaan Bisnis Semester Gasal Tahun
Pelajaran 2018/2019

ASPEK PRA SIKLUS SIKLUS I SIKLUS II


Keaktifan
1. Bertanya 12 41 35
2. Menjawab 7 8 35
3. Memberi tanggapan 1 8 22
4. Persentase rata-rata 27,73% 45,71% 82,88%
keaktifan kelas
Hasil Belajar
a. Nilai
1. Nilai tertinggi 80 80 94
2. Nilai terendah 40 48 73
3. Nilai rata-rata 64,11 65,12 80,93
b. Jumlah ketuntasan
siswa
1. Tuntas 7 15 31
2. Tidak tuntas 30 16 6

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada kompetensi

dasar studi kelayakan bisnis berdampak pada perubahan dalam aktivitas guru dan

siswa. Peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 4.7.

Berdasarkan perbandingan data kondisi awal, siklus I dan siklus II dapat

ditunjukkan perubahan di setiap siklus. Adapun perubahan tersebut adalah:


67

a. Peningkatan Keaktifan Siswa

Keaktifan dalam pembelajaran siklus I mengalami peningkatan jika

dibandingkan dengan sebelum tindakan kelas dilaksanakan. Sebelum tindakan,

masih banyak siswa yang sibuk ngobrol dengan teman sebangku dan belum

aktif di dalam kelas. Prosentase keaktifan kelas sebesar 27,73%. Keaktifan

kelas saat siklus I menunjukkan peningkatan menjadi 45,71% siswa telah aktif.

Prosentase ini menunjukkan peningkatan dibanding sebelum dilakukan

tindakan walaupun belum optimal.

Siklus II siswa sudah mengalami perubahan tingkah laku yang

menunjukkan keaktifan di dalam kelas. Siswa sudah saling beinteraksi dengan

siswa lain, terbukti dengan siswa bertanya, menjawab ataupun menanggapi.

presentase yang ditunjukkan sudah mencapai indikator keberhasilan, yaitu

82,88%.

b. Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Peningkatan hasil belajar juga terjadi pada hasil belajar siswa. Ulangan

harian yang menjadi dasar perhitungan ketuntasan hasil belajar tiap siklus.

Materi yang diberikan tiap siklus merupakan materi pengulangan. Hasil

analisis hasil belajar menunjukkan bahwa dari siklus I dan siklus II mengalami

peningkatan. Sebelum dilakukan tindakan, rata-rata hasil belajar siswa 64,11

dan hanya ada tujuh siswa (18,92%) dari tiga puluh tujuh siswa yang mencapai

KKM.
68

Penggunaan model pembelajaran STAD pada siklus I hasil belajar siswa

meningkat. Rata-rata hasil belajar siswa 65,12 dan lima belas siswa (42,88%)

yang mencapai KKM. Peningkatan yang ditunjukkan siklus II sudah mencapai

indikator keberhasilan yaitu tiga puluh satu siswa (83,78%) yang mencapai

KKM. Rata- rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 82,35.

c. Peningkatan Aktifitas Siswa

Hasil pengamatan pada siklus I, aktivitas siswa menunjukkan 45,71% dan

belum mencapai indikator keberhasilan. Sedangkan siklus II meningkat

menjadi 82,88% dan telah mencapai indikator keberhasilan.

Peningkatan aktivitas ini menunjukkan bahwa ada perubahan yang terjadi

pada siswa. Saat siklus I berlangsung siswa masih belum dapat mengikuti

pembelajaran dengan model STAD, siswa sibuk dengan kegiatan yang tidak

ada kaitannya dengan pembelajaran. Sedangkan di siklus II siswa mulai

mengikuti pembelajaran dengan baik dan sudah tahu langkah-langkah

pembelajaran dengan model STAD.

d. Peningkatan Aktifitas Guru

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh guru observer selama

penelitian ini dilakukan, terjadi peningkatan aktivitas guru di setiap siklusnya.

Siklus I guru yang belum pernah menggunakan model pembelajaran STAD

masih belum dapat melakukan langkah-langkah pembelajaran sesuai skenario


69

pembelajaran. Persentase yang diperoleh sebesar 62,35% dan belum mencapai

indikator keberhasilan.

Aktivitas guru pada siklus II mengalami peningkatan dan diperoleh

persentase 87,64%. Siklus kedua guru telah melakukan perbaikan aktivitas

sesuai refleksi yang dilakukan pada siklus I. Guru yang semula belum menjadi

fasilitator, saat siklus II telah memberi dukungan kepada siswa untuk berperan

aktif dan menjadi fasilitator saat pembelajaran berlangsung.

Pembahasan diatas membuktikan bahwa metode pembelajaran kooperatif

tipe STAD dapat mengoptimalkan proses pembelajaran yang dapat

meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Indikator keberhasilan dalam

penelitian tindakan kelas ini merupakan tolak ukur dari keberhasilan penelitian

ini. Indikator yang belum tercapai dalam penelitian ini karena permasalahan

yang dihadapi pada siklus I. Permasalahan dapat diatasi dengan perbaikan

refleksi siklus I sehingga pada siklus II pelaksanaan penelitian tindakan kelas

dapat berjalan dengan baik. Keberhasilan siklus II diperoleh karena adanya

kerjasama antara guru dan siswa, sehingga pembelajaran dapat berjalan lancar.

Penggunaan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dijadikan salah

satu alternatif untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa terhadap

mata pelajaran. Sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara menarik dan

berjalan dengan baik. Penggunaan pembelajaran tipe STAD tepat digunakan

dalam mata pelajaran melaksanakan perencanaan bisnis. Karena terbukti dapat

meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa X Bisnis Daring dan

Pemasaran 2 SMK Negeri 2 Blitar


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan seluruh kegiatan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di

kelas X kompetensi keahlian Bisnis Daring dan Pemasaran 2 pada mata pelajaran

perencanaan bisnis SMK Negeri 2 Blitar dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan

keaktifan siswa pada kompetensi dasar melaksanakan komunikasi bisnis.

Sebelum menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa

kurang aktif mengikuti pembelajaran dan setelah menggunakan

pembelajaran kooperatif STAD keaktifan siswa meningkat.

2. Penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat

meningkatkan hasil belajar kompetensi dasar melaksanakan komunikasi

bisnis. Sebelum menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

hasil belajar siswa rendah yaitu siswa yang dapatyang mencapai Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM) hanya tujuh siswa. Setelah menggunakan

pembelajaran STAD, siswa yang mencapai KKM yang ditetapkan yaitu

81,00 meningkat dari lima belas siswa pada saat siklus I menjadi tiga puluh

satu siswa pada siklus II.

70
71

5.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan, ada beberapa saran untuk dijadikan bahan

pertimbangan dan perhatian oleh semua pihak, yaitu sebagai berikut:

a. Siswa yang telah mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran

kooperatif tipe STAD lebih meningkatkan keaktifan, lebih menghargai

pendapat orang lain dan meningkatkan hasil belajar tidak hanya pada mata

pelajaran perencanaan bisnis saja melainkan juga mata pelajaran lain.

b. Pengembangan model pembelajaran kooperatif tipe STAD perlu dilakukan

guru untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran agar

prestasi siswa meningkat.

c. Penelitian tindakan kelas perlu dukungan tidak hanya kepada guru

kelompok mata pelajaran dasar bidang keahlian khususunya mata pelajaran

perencanaanbisnis tetapi juga mata pelajaran lain sehingga dapat

meningkatkan metode pembelajaran di SMK Negeri 2 Blitar.

d. Penggunaan model pembelajan kooperatif tipe STAD dapat digunakan

sebagai masukan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian yang serupa

sebagai perbadingan metode pembelajaran yang aktif untuk meningkatkan

keaktifan siswa.