Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH LAPORAN PENDAHULUAN

DAN ASUHAN KEPERAWATAN


BAYI BARU LAHIR

Oleh :
1. I Putu Yoan Sugiantara (P07120217026)
2. Kadek Mega Asrini (P07120217027)
3. I Gede Jumenek Arta Yasa (P07120217028)
4. Pia Permata Sari (P07120217029)
5. Putu Peby Dewa Yanthi (P07120217030)
6. IGA Ngurah Viola Utami D (P07120217031)

TINGKAT II A / SEMESTER III


PRODI D-IV KEPERAWATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
mana atas berkat rahmat, nikmat dan hidayahnya sehingga makalah ini dapat
diselesaikan. Penulis menyusun makalah yang berjudul “ Laporan Pendahuluan
Dan Asuhan Keperawatan Bayi Baru Lahir“ ini karena ada sangkut pautnya antara
ilmu keperawatan dalam membuat asuhan keperawatan. Penulis berharap makalah
ini akan sangat berguna dalam menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari akan segala kekurangan


dan kemampuan yang sangat terbatas dimiliki oleh penulis, sehingga dalam
penulisan, penyusunan kalimat dan dalam mencari sumber buku serta internet masih
kurang dan teramat sulit. Namun penulis sudah berusaha semaksimal mungkin
agar makalah ini dapat diselesaikan untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh
dosen pembimbing dan berusaha untuk menjadikan yang terbaik.

Dengan segala kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan kritikan dan


saran saran yang sifatnya membangun demi penyempurnaan makalah ini. Dan penulis
berharap semoga makalah ini dapat memenuhi harapan kita semua.

Denpasar, 23 Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah................................................................................................2

1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................................2

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN BAYI BARU LAHIR...................3

2.1 Pengertian Bayi Baru Lahir (BBL)......................................................................3

2.2 Adaptasi Fisiologi Bayi Baru Lahir.....................................................................5

2.3 Kelainan pada Bayi Baru Lahir..........................................................................15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BARU LAHIR........................................30

Format Asuhan Keperawatan Pada Bayi Baru Lahir...................................................37

BAB III PENUTUP.....................................................................................................47

3.1 Simpulan............................................................................................................47

3.2 Saran..................................................................................................................47

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bayi baru lahir yaitu kondisi dimana bayi baru lahir (neonatus), lahir melalui
jalan lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan, menangis kuat,
nafas secara spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000 gram.Neonatus (BBL)
adalah masa kehidupan pertama diluar rahim sampai dengan usia 28 hari,dimana
terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar
rahim.Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua system.
Neonatus (BBL) bukanlah miniature orang dewasa,bahkan bukan pula
miniature anak.Neonatus mengalami masa perubahan dari kehidupan didalam rahim
yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang serba
mandiri.Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72
pertama.Transisi ini hampir meliputi semua system organ tapi yang terpenting bagi
anastesi adalah system pernafasan sirkulasi,ginjal dan hepar.Maka dari itu sangatlah
diperlukan penataan dan persiapan yang matang untuk melakukan suatu anastesi
terhadap neonates (BBL).
Bayi merupakan golongan umur yang paling rentan atau memiliki risiko
gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk
mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan persalinan yang ditolong
oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kepada neonatus, bayi dan balita. Bayi yang
lahir akan mengalami adaptasi sehingga yang semula bersifat bergantung kemudian
menjadi mandiri secara fisiologis. Sebelum diatur oleh tubuh bayi sendiri, fungsi
tersebut dilakukan plasenta yang kemudian masuk ke periode transisi.
Penelitian menunjukkan bahwa, 50% kematian bayi terjadi dalam periode
neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan bayi
baru lahir yang sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang mengakibatkan
cacat seumur hidup, bahkan kematian. Misalnya karena hipotermi akan menyebabkan
hipoglikemia dan akhirnya dapat terjadi kerusakan otak. Jadwal kunjungan bayi baru

1
lahir perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan karena bayi memerlukan pemantauan
ketat untuk menentukan masa transisi kehidupannya ke kehidupan luar berlangsung
baik, bayi baru lahir juga membutuhkan asuhan yang dapat meningkatkan
kesempatan untuknya menjalani masa transisi dengan baik.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas penulis dapat merumuskan beberapa masalah


diantarnya adalah :
1. Bagaimana laporan pendahuluan keperawatan bayi baru lahir?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada bayi baru lahir?
3. Bagaimana format asuhan keperawatan pada bayi baru lahir?
1.3 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui bagaimana laporan pendahuluan keperawatan bayi baru lahir


2. Mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada bayi baru lahir
3. Mengetahui Bagaimana format asuhan keperawatan pada bayi baru lahir

LAPORAN PENDAHULUAN

2
KEPERAWATAN BAYI BARU LAHIR

2.1 Pengertian Bayi Baru Lahir (BBL)


Pengertian bayi baru lahir menurut beberapa ahli, yakni :
1. Menurut Depkes RI (2005)
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37
minggu sampai 42 minggu dengan berat lahir 2500-3500 gram.
2. Menurut M. Soleh Kosim (2007)
Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500-3500 gram, cukup
bulan, langsung menangis, tidak ada kelainan kongenital (cacat bawaan)
yang berat.
3. Menurut Dona L. Wong (2003)
Bayi baru lahir normal adalah bayi lahir sampai usia 4 minggu, lahirnya
biasanya dari usia gestasi antara 38-42 minggu.
Jadi, bayi baru lahir normal (BBL) adalah bayi lahir cukup bulan dan
sehat dengan berat antara 2500-3500 gram, dengan usia gestasi 38-42 minggu,
secara sponton tanpa ada penyulit yang menyertai.
Neonatus (bayi baru lahir) normal adalah bayi yang baru lahir sampai usia 4
minggu lahir biasanya dengan usia gestasi 38-42 minggu.Bayi lahir melalui
jalan lahir dengan presentasi kepala ssecara spontan tanpa gangguan,menangis
kuat,nafas secara spontan dan teratur, berat badan antara 2500-4000gram dan
panjangnya 14-20 inci (35.6-50.8 sentimeter, walaupun bayi baru lahir pramasa
adalah lebih kecil). Kepala bayi baru lahir itu amat besar di banding bagian-
bagian badan yang lain, Sedangkan tengkorak manusia dewasa adalah kurang
lebih 1/8 dari panjang badan. Ketika dilahirkan, tengkorak bayi baru lahir masih
belum sempurna menjadi tulang. Setengah bayi baru lahir mempunyai bulu
halus yang dinamakan lanugo, khususnya di belakang, bahu, dan dahi bayi
pramasa. Lanugo hilang dengan sendirinya dalam masa beberapa minggu.
Asuhan segera bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi
tersebut selama jam pertama setelah kelahiran sebagian besar bayi baru lahir
akan menunjukkan usaha napas pernapasan spontan dengan sedikit bantuan

3
atau gangguan. Jadi asuhan keperawatan pada bayi baru lahir adalah asuhan
keperawatan yang diberikan pada bayi yang baru mengalami proses kelahiran
dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uteri kekehidupan ekstra uteri
hingga mencapai usia 37-42 minggu dan dengan berat 2.500-4.000 gram.
Masa bayi baru lahir (Neonatal) dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Periode Partunate, dimana masa ini dimulai dari saat kelahiran sampai 15
dan 30 menit setelah kelahiran
b. Periode Neonate, dimana masa ini dari pemotongan dan pengikatan tali
pusar sampai sekitar akhir minggu kedua dari kehidiupan pascamatur

Klasifikasi bayi baru lahir dibedakan menjadi dua macam yaitu


klasifikasi menurut berat lahir dan klasifikasi menurut masa gestasi atau umur
kehamilan.
1) Klasifikasi menurut berat lahir yaitu :
a. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR): Bayi yang dilahirkan dengan berat
lahir < 2500 gram tanpa memandang masa gestasi
b. Bayi Berat Lahir Cukup/Normal: Bayi yang dilahirkan dengan berat
lahir > 2500 – 4000 gram
c. Bayi Berat Lahir Lebih: Bayi yang dilahirkan dengan berat lahir > 4000
gram
2) Klasifikasi menurut masa gestasi atau umur kehamilan yaitu :
a. Bayi Kurang Bulan (BKB): Bayi dilahirkan dengan masa gestasi < 37
minggu (< 259 hari)
b. Bayi Cukup Bulan (BCB): Bayi dilahirkan dengan masa gestasi antara
37–42 minggu (259–293 hari)
c. Bayi Lebih Bulan (BLB): Bayi dilahirkan dengan masa gestasi > 42
minggu (294 hari). (Kosim, 2012)
2.2 Adaptasi Fisiologi Bayi Baru Lahir

Adapun tujuan utama dari adaptasi fisiologi BBL adalah untuk


mempertahankan hidupnya secara mandiri dengan cara :

4
1. Bayi harus mendapatkan oksigen melalui sistem sirkulasi pernapasannya
sendiri.
2. Mendapatkan nutrisi per oral untuk mempertahankan kadar gula darah yang
cukup.
3. Mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit /infeksi.
Menurut Pusdiknakes (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah :
1) Perubahan sistem pernapasan / respirasi
Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui
plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru – paru.
a. Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx
yang bercabang dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur
percabangan bronkus proses ini terus berlanjut sampai sekitar usia 8 tahun,
sampai jumlah bronkus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang,
walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan napas sepanjang trimester
II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi kelangsungan
hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena
keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-
paru dan tidak tercukupinya jumlah surfaktan.
b. Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi
adalah :
 Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar
rahim yang merangsang pusat pernafasan di otak.
 Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru -
paru selama persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam
paru - paru secara mekanis. Interaksi antara system pernapasan,
kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan
yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan
untuk kehidupan.
 Penimbunan karbondioksida (CO2). Setelah bayi lahir, kadar CO2
meningkat dalam darah dan akan merangsang pernafasan.

5
Berkurangnya O2 akan mengurangi gerakan pernafasan janin, tetapi
sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat
gerakan pernapasan janin.
 Perubahan suhu. Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.
c. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapas
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk
mengeluarkan cairan dalam paru-paru dan mengembangkan jaringan
alveolus paru-paru untuk pertama kali.Agar alveolus dapat berfungsi,
harus terdapat survaktan (lemak lesitin /sfingomielin) yang cukup dan
aliran darah ke paru – paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu
kehamilan, dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru matang (sekitar
30-34 minggu kehamilan). Fungsi surfaktan adalah untuk mengurangi
tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkan dinding
alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan.
Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat
akhir pernapasan, yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan
kebutuhan ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa.
Berbagai peningkatan ini menyebabkan stres pada bayi yang sebelumnya
sudah terganggu.
d. Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat bayi
melewati jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas
keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang dilahirkan secara sectio cesaria
kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada dan dapat menderita
paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan beberapa kali
tarikan napas yang pertama udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus
BBL. Sisa cairan di paru-paru dikeluarkan dari paru-paru dan diserap oleh
pembuluh limfe dan darah.
e. Fungsi sistem pernapasan dan kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler
Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting
dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Jika terdapat

6
hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Jika
hal ini terjadi, berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna
menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan
penurunan oksigen jaringan, yang akan memperburuk
hipoksia.Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar
pertukaran gas dalam alveolus dan akan membantu menghilangkan cairan
paru-paru dan merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar
rahim. Pernapasan pada neonatus biasanya pernapasan diafragma dan
abdominal. Sedangkan respirasi beberapa saat setelah kelahiran yaitu 30-
60 x/menit.
2) Perubahan pada Sistem Peredaran Darah
Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil
oksigen dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen
ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim
harus terjadi 2 perubahan besar:
a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
b. Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh
sistem pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah
tekanan dengan cara mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga
mengubah aliran darah.
Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam system pembuluh darah
 Pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat
dan tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena
berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini
menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri.
Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen
sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi
ulang.

7
 Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-
paru dan meningkatkan tekanan pada atrium kanan oksigen pada
pernafasan ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system
pembuluh darah paru. Peningkatan sirkulasi ke paru-paru
mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium
kanan dengan peningkatan tekanan atrium kanan ini dan penurunan
pada atrium kiri, toramen kanan ini dan penusuran pada atrium kiri,
foramen ovali secara fungsional akan menutup. Vena umbilikus,
duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara
fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat
diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan.
Volume darah bayi baru lahir bervariasi dari 80-110 ml/kg selama hari
pertama dan meningkat dua kali lipat pada akhir tahun pertama. Nilai
rata-rata hemoglobin dan sel darah merah lebih tinggi dari nilai normal
orang dewasa. Hb bayi baru lahir 14,5 – 22,5 gr/dl, Ht 44 – 72%, SDM
5 – 7,5 juta/mm3 dan Leukosit sekitar 18000/mm3. Darah bayi baru
lahir mengandung sekitar 80% Hb janin. Presentasi Hb janin menurun
sampai 55% pada minggu kelima dan 5% pada minggu ke 20.
3) Pengaturan Suhu
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan
mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu
ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini menyebabkan
air ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan yang dingin , pembentukan
suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk
mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini
merupakan hasil penggunaan lemak coklat untuk produksi panas. Timbunan
lemak coklat terdapat di seluruh tubuh dan mampu meningkatkan panas tubuh
sampai 100%. Untuk membakar lemak coklat, sering bayi harus menggunakan
glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas.
Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh seorang BBL. Cadangan
lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin.

8
Semakin lama usia kehamilan semakin banyak persediaan lemak coklat bayi.
Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia,
hipoksia dan asidosis. Sehingga upaya pencegahan kehilangan panas
merupakan prioritas utama dan tenaga kesehatan (perawat dan bidan)
berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada BBL.
4) Metabolisme Glukosa
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah
tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir
seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri.
Pada setiap bayi baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1
sampai 2 jam).
Koreksi penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. melalui penggunaan ASI
b. melaui penggunaan cadangan glikogen
c. melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.
BBL yang tidak mampu mencerna makanan dengan jumlah yang cukup,
akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenisasi). Hal ini hanya terjadi
jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Bayi yang sehat
akan menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen terutama di hati, selama
bulan-bulan terakhir dalam rahim. Bayi yang mengalami hipotermia, pada
saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan menggunakan cadangan
glikogen dalam jam-jam pertama kelahiran. Keseimbangan glukosa tidak
sepenuhnya tercapai dalam 3-4 jam pertama kelahiran pada bayi cukup
bulan. Jika semua persediaan glikogen digunakan pada jam pertama, maka
otak dalam keadaan berisiko. Bayi yang lahir kurang bulan (prematur),
lewat bulan (post matur), bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan
dalam rahim dan stres janin merpakan risiko utama, karena simpanan
energi berkurang (digunakan sebelum lahir).
5) Perubahan sistem gastrointestinal

9
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan.
Reflek gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk baik pada saat
lahir. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna
makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan
lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi
baru lahir dan neonatus, kapasitas lambung masih terbatas kurang dari 30 cc
untuk bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah
secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan
makanan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on
demand.

6) Sistem kekebalan tubuh/ imun


Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga
menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem
imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang di
dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang mencegah
atau meminimalkan infeksi.Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
 perlindungan oleh kulit membran mukosa
 fungsi saringan saluran napas
 pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus
 perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah
yang membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL se-
sel darah ini masih belum matang, artinya BBL tersebut belum mampu
melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien. BBL dengan kekebalan
pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi
keseluruhan terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan sampai awal
kehidupa anak. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan balita adalah
pembentukan sistem kekebalan tubuh.

10
Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali
terjadi infeksi dan reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu,
pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan
menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini
infeksi menjadi sangat penting.
7) Hepar
Hepar janin pada kehamilan 4 bulan mempunyai peranan dalam
metabolisme hidrat arang, dan glikogen mulai disimpan di dalam hepar,
setelah bayi lahir simpanan glikogen cepat terpakai, vitamin A dan D juga
sudah disimpan dalam hepar.Fungsi hepar janin dalam kandungan segera
setelah lahir dalam keadaan imatur (belum matang). Hal ini dibuktikan dengan
ketidakseimbangan hepar untuk meniadakan bekas penghancuran darah dari
peredaran darah. Enzim hepar belum aktif benar pada neonatus, misalnya
enzim UDPGT (Uridin Disfosfat Glukoronide Transferase) dan enzim GGFD
(Glukosa 6 Fosfat Dehidrogerase) yang berfungsi dalam sintesis bilirubin
sering kurang sehingga neonatus memperlihatkan gejala ikterus fisiologis.
8) Kelenjar endokrin
Selama dalam uterus fetus mendapatkan hormon dari ibu, pada waktu
bayi baru lahir kadang-kadang hormon tersebut masih berfungsi misalkan
pengeluaran darah dari vagina yang menyerupai haid perempuan. Kelenjar
tiroid sudah terbentuk sempurna sewaktu lahir dan mulai berfungsi sejak
beberapa bulan sebelum lahir.
9) Susunan saraf
Jika janin pada kehamilan sepuluh minggu dilahirkan hidup maka
dapat dilihat bahwa janin tersebut dapat mengadakan gerakan spontan.
Gerakan menelan pada janin baru terjadi pada kehamilan empat bulan.
Sedangkan gerakan menghisap baru terjadi pada kehamilan enam bulan.

11
Pada triwulan terakhir hubungan antara saraf dan fungsi otot-otot
menjadi lebih sempurna. Sehingga janin yang dilahirkan diatas 32 minggu
dapat hidup diluar kandungan. Pada kehamilan 7 bulan maka janin amat
sensitif terhadap cahaya.
10) Sistem integumen
Stuktur kulit bayi sudah terbentuk dari sejak lahir, tetapi masih belum
matang. Epidermis dan dermis tidak terikat dengan baik dan sangat tipis.
Vernik kaseosa juga berfungsi sebagai lapisan pelindung kulit. Kulit bayi
sangat sensitif dan dapat rusak dengan mudah. Bayi baru lahir yang cukup
bulan memiliki kulit kemerahan yang akan memucat menjadi normal beberapa
jam setelah kelahiran.
Kulit sering terlihat bercak terutama sekitar ektremitas. Tangan dan
kaki sedikit sianotik (Akrosianotik). Ini disebabkan oleh ketidakstabilan
vosomotor. Stasis kapiler dan kadar hemoglobin yang tinggi. Keadaan ini
normal, bersifat sementara dan bertahan selama 7-10 hari. Terutama jika
terpajan pada udara dingin.
11) Sistem skelet
Arah pertumbuhan sefalokaudal terbukti pada pertumbuhan tubuh
secara keseluruhan. Kepala bayi cukup bulan berukuran seperempat panjang
tubuh. Lengan sedikit lebih panjang daripada tungkai. Wajah relatif kecil
terhadap ukuran tengkorak yang jika dibandingkan lebih besar dan berat.
Ukuran dan bentuk kranium dapat mengalami distorsi akibat molase.
Pada bayi baru lahir lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan dan
tumit disatukan sehingga tungkai bawah terlihat agak melengkung. Saat baru
lahir tidak terlihat lengkungan pada telapak kaki. Ekstremitas harys simetris,
terdapat kuku jari tangan dan kaki, garis-garis telapak tangan dan sudah
terlihat pada bayi cukup bulan.

12) Sistem neuromuskuler


Reflek bayi baru lahir diantaranya :

12
a. Reflek pada Mata
 Berkedip atau Refleks korneal
 Reflek Pupil
 Mata boneka
b. Reflek pada Hidung
 Bersin
 Glabela : ketukan halus pada glabela (bagian dahi antara dua
alis mata) menyebabkan mata menutup dengan rapat.
c. Reflek pada mulut dan Tenggorokkan
 Menghisap
 Muntah
 Rooting
Menyentuh atau menekan dagu sepanjang sisi mulut akan
menyebabkan bayi membalikan kepala ke arah sisi tersebut dan mulai
menghadap: harus hilang kira-kira pada usia 3-4 bulan, tetapi dapat
menetap selama 12 bulan.
 Ekstrusi
Bila lidah disentuh atau ditekan, bayi berespon dengan mendorongnya
keluar: harus menghilang pada usia 4 bulan.
 Menguap
 Batuk
d. Reflek pada Ekstremitas
 Menggenggam
 Babinski
 Klonus, Pergelangan kaki: Dorsofleksi telapak kaki yang cepat ketika
menopang lutut pada posisi fleksi parsial mengakibatkan munculnya
satu sampai dua gerakan oskilasi (denyut). Akhirnya tidak boleh ada
denyut yang teraba.
 Refleks pada Massa/Moro
 Startle : Suara keras yang tiba-tiba menyebabkan abduksi lengan
dengan fleksi siku: tangan tetap tergenggam: harus hilang pada usia 4
bulan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Adaptasi Fisiologi Bayi Baru Lahir
Kondisi yang mempengaruhi penyesuaian diri pada kehidupan
pascanatal antara lain:

13
a. Lingkungan pranatal, dimana pada waktu dilingkungan pranatal tidak di
rawat oleh ibunya sehingga dilingkungan pascanatal meempengaruhi
perkembangannya.
b. Jenis persalinan, mudah atau sulitnya persalinan mempengaruhi
penyesuaian pascanatal.
c. Pengalaman yang berhubungan dengan persalinan, ada dua pengalaman
yang berpengaruh besar pada penyesuaian pascanatal,yaitu seberapa jauh
ibu terpengaruh oleh obat-obatan dan mudah sullitnya bayi bernapas.
d. Lamanya periode kehamilan, jika bayi yang dilahirkan sebelum waktunya
di sebut premature, sedangkan yang terlambat disebut postmatur. Abortus :
bayi lahir dengan berat badan kurang dari 500 g, dan / atau usia gestasi
kurang dari 20 minggu. Angka harapan hidup amat sangat kecil, kurang
dari 1%
e. Sikap Orang tua, sikap yang menyenangkan dari orang tua
memperlakukan bayinya itu akan mendorong penyesuaian yang baik.
f. Perawatan pascanatal, yaitu ada tiga aspek : pertama kebutuhan tubuh,
kedua rangsangan yang diberikan.dan ketiga kepercayaan orang tua.

2.3 Kelainan pada Bayi Baru Lahir

Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kelainan yang terjadi pada bayi


baru lahir:
1. Faktor Infeksi
Infeksi yang dapat menimbulkan kelainan kongenital ialah infeksi
yang terjadi pada periode organogenesis yakni dalam trimester pertama
kehamilan. Adanya infeksi tertentu dalam periode organogenesis ini dapat
menimbulkan gangguan dalam penumbuhan suatu organ tubuh. Infeksi pada
trimester pertama di samping dapat menimbulkan kelainan kongenital dapat
pula meningkatkan kemungkinan terjadinya abortus. Sebagai contoh infeksi
virus pada trimester pertama ialah infeksi oleh virus Rubella. Bayi yang
dilahirkan oleh ibu yang menderita infeksi Rubella pada trimester pertama

14
dapat menderita kelainan kongenital pada mata sebagai katarak, kelainan pada
sistem pendengaran sebagai tuli dan ditemukannya kelainan jantung bawaan.
Beberapa infeksi lain pada trimester pertama yang dapat menimbulkan
kelainan kongenital antara lain ialah infeksi virus sitomegalovirus, infeksi
toksoplasmosis. Kelainan-kelainan kongenital yang mungkin dijumpai ialah
adanya gangguan pertumbuhan pada sistem saraf pusat seperti hidrosefalus,
mikrosefalus, atau mikroptalmia.
2. Faktor obat
Beberapa jenis obat tertentu yang diminum wanita hamil pada trimester
pertama kehamilan diduga sangat erat hubungannya dengan terjadinya
kelainan kongenital pada bayinya. Salah satu jenis obat yang telah diketahui
dapat menimbulkan kelainan kongenital ialah thalidomide yang dapat
mengakibatkan terjadinya fokomelia atau mikromelia.
Sebaiknya selama kehamilan, khususnya trimester pertama, dihindari
pemakaian obat-obatan yang tidak perlu sama sekali; walaupun hal ini
kadang-kadang sukar dihindari karena calon ibu memang terpaksa harus
minum obat. Hal ini misalnya pada pemakaian transkuilaiser untuk penyakit
tertentu, pemakaian sitostatik atau preparat hormon yang tidak dapat
dihindarkan; keadaan ini perlu dipertimbangkan sebaik-baiknya sebelum
kehamilan dan akibatnya terhadap bayi.
3. Faktor hormonal
Faktor hormonal diduga mempunyai hubungan pula dengan kejadian
kelainan kongenital. Bayi yang dilahirkan oleh ibu hipotiroidisme atau ibu
penderita diabetes mellitus kemungkinan untuk mengalami gangguan
pertumbuhan lebih besar bila dibandingkan dengan bayi yang normal.
4. Faktor radiasi
Radiasi pada permulaan kehamilan mungkin sekali akan dapat
menimbulkan kelainan kongenital pada janin. Adanya riwayat radiasi yang
cukup besar pada orang tua dikhawatirkan akan dapat mengakibatkan mutasi
pada gen yang mungkin sekali dapat menyebabkan kelainan kongenital pada
bayi yang dilahirkannya. Radiasi untuk keperluan diagnostik atau terapeutik
sebaiknya dihindarkan dalam masa kehamilan, khususnya pada hamil muda

15
5. .Faktor gizi
Pada binatang percobaan, kekurangan gizi berat dalam masa
kehamilan dapat menimbulkan kelainan kongenital. Pada manusia, pada
penyelidikan-penyelidikan menunjukkan bahwa frekuensi kelainan kongenital
pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang kekurangan makanan lebih
tinggi bila dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir dari ibu yang baik
gizinya. Pada binatang percobaan, adanya defisiensi protein, vitamin A
riboflavin, folic acid, thiamin dan lain-lain dapat menaikkan kejadian kelainan
kongenital.
Kelainan-kelainan yang terjadi pada bayi baru lahir, yaitu :
1. Labioskizis/Labiopalatoskizis
a. Pengertian
Labioskizis/Labiopalatoskizis yaitu kelainan kotak palatine (bagian depan
serta samping muka serta langit-langit mulut) tidak menutup dengan
sempurna.

b. Etiologi
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya bibir sumbing.
Faktor tersebut antara lain , yaitu :
 Faktor Genetik atau Keturunan
Dimana material genetik dalam kromosom yang mempengaruhi.
Hal ini dapat terjadi karena adaya adanya mutasi gen ataupun kelainan
kromosom. Pada setiap sel yang normal mempunyai 46 kromosom yang
terdiri dari 22 pasang kromosom non-sex (kromosom 1 s/d 22) dan 1
pasang kromosom sex (kromosom X dan Y ) yang menentukan jenis
kelamin. Pada penderita bibir sumbing terjadi Trisomi 13 atau Sindroma
Patau dimana ada 3 untai kromosom 13 pada setiap sel penderita,
sehingga jumlah total kromosom pada tiap selnya adalah 47. Jika terjadi
hal seperti ini selain menyebabkan bibir sumbing akan menyebabkan
gangguan berat pada perkembangan otak, jantung, dan ginjal.
 Kurang nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B 6, vitamin C pada
waktu hamil, kekurangan asam folat.

16
 Radiasi
 Terjadi trauma pada kehamilan trimester pertama.
 Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti
infeksi Rubella dan Sifilis, toxoplasmosis dan klamidia
 Pengaruh obat teratogenik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal,
akibat toksisitas selama kehamilan, misalnya kecanduan alkohol,
terapi penitonin
 Multifaktoral dan mutasi genetic
 Diplasia ektodermal
c. Klasifikasi
1. Berdasarkan organ yang terlibat
 Celah di bibir (labioskizis)
 Celah di gusi (gnatoskizis)
 Celah di langit (palatoskizis)
 Celah dapat terjadi lebih dari satu organ misalnya terjadi di bibir
dan langit-langit (labiopalatoskizis)
2. Berdasarkan lengkap/tidaknya celah terbentuk
Tingkat kelainan bibr sumbing bervariasi, mulai dari yang ringan
hingga yang berat. Beberapa jenis bibir sumbing yang diketahui
adalah:
 Unilateral Incomplete. Jika celah sumbing terjadi hanya disalah
satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung.
 Unilateral Complete. Jika celah sumbing yang terjadi hanya
disalah satu sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
 Bilateral Complete. Jika celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir
dan memanjang hingga ke hidung.
d. Tanda dan Gejala
Ada beberapa gejala dari bibir sumbing yaitu :
 Terjadi pemisahan langit – langit
 Terjadi pemisahan bibir
 Terjadi pemisahan bibir dan langit – langit.
 Infeksi telinga berulang.
 Berat badan tidak bertambah.

17
 Pada bayi terjadi regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya
air susu dari hidung.
2. Meningokel
a. Pengertian
Meningokel merupakan penyakit kongenital dari kelainan
embriologis yang disebut Neural tube defect (NTD). Meningokel
disebabkan oleh banyak faktor dan metibatkan banyak gen
(multifaktoral dan poligenik). Banyak sekali penetitian yang
mengungkap bahwa sekitar tujuhpuluh persen kasus NTD dapat
dicegah dengan suplementasi asam fclai, sehingga defisiensi asam
folat dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam teratogenesis
meningokel.
b. Etiologi
Gangguan pembentukan komponen janin saat dalam
kandungan,kadar vitamin maternal rendah, termasuk asam folat,
mengonsumsi klomifen dan asam valfroat, dan hipertermia selama
kehamilan. Diperkirakan hampir 50% defek tuba neural dapat dicegah
jika wanita bersangkutan meminum vitamin-vitamin prakonsepsi,
termasuk asam folat.
c. Tanda dan Gejala
 Gangguan persarafan
 Gangguan mental
 Gangguan tingkat kesadaran
3. Ensefalokel
a. Pengertian
Ensefalokel adalah suatu kelainan tabung saraf yang ditandai
dengan adanya penonjolan meningens (selaput otak) dan otak yang
berbentuk seperti kantung melalui suatu lubang pada tulang tengkorak.
Ensefalokel disebabkan oleh kegagalan penutupan tabung saraf selama
perkembangan janin.
b. Gejala
Gejalanya berupa :
 Hidrosefalus
 Kelumpuhan keempat anggota gerak (kuadriplegia spastik)

18
 Gangguan perkembangan
 Mikrosefalus
 Gangguan penglihatan
 Keterbeiakangan mental dan pertumbuhan
 Ataksia
 Kejang
c. Etiologi
Ada beberapa dugaan penyebab penyakit itu diantaranya,
infeksi, faktor usia ibu yang tertaiu muda atau tua ketika hamil, mutasi
genetik, serta pola makan yang tidak tepat sehingga mengakibatkan
kekurangan asam folat. Langkah selanjutnya, sebelun hamil, ibu
sangat disarankan mengonsumsi asam folat dalam jumlah cukup.
Pemeriksaan laboratorium juga diperlukan untuk mendeteksi ada-
tidaknya infeksi.

4. Hidrosefalus
a. Pengertian
Hidrosefalus (kepala air, istilah yang berasal dari bahasa
Yunani: “hydro” yang berarti air dan “cephalus” yang berarti kepala;
sehingga kondisi ini sering dikenal dengati “kepala air”) adalab
penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak
(cairan serebro spinal). Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut
bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di
sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.
b. Etiologi
 Gangguan sirkulasi LCS
 Gangguan produksi LCS
c. Tanda dan Gejala
 Terjadi pembesaran tengkorak
 Terjadi kelainan neurologis, yaitu Sun Set Sign (Mata selalu
mengarah kebawah)

19
 Gangguan perkembangan motorik
 Gangguan penglihatan karena atrofi saraf penglihatan

5. Fimosis
a. Pengertian
Fimosis merupakan pengkerutan atau penciutan kulit depan penis.
Fimosis merupakan suatu keadaan normal yang sering ditemukan pada
bayi baru lahir atau anak kecil, dan biasanya pada masa pubertas akan
menghilang dengan sendirinya.
Fimosis adalah penyempitan pada prepusium. Kelainan ini juga
menyebabkan bayi/anak sukar berkemih. Kadang-kadang begitu sukar
sehingga kulit prepusium menggelembung seperti balon. Bayi/anak
sering menangis keras sebelum urine keluar. Keadaan demikian lebih
baik segera disunat, tetapi kadang orang tua tidak tega karena bayi
masih kecil. Untuk menolongnya dapat dicoba dengan melebarkan
lubang prepusium dengar, cara mendorong ke belakang kulit
prepusium tersebut dan biasanyaa akan terjadi luka.
Untuk mencegah infeksi dan agar luka tidak merapat lagi pada
luka tersebut dioleskan salep antibiotik. Tindakan ini mula-mula
dilakukan oleh dokter. Selanjutrnya di rumah orang tua sendiri diminta
tnelakukannya seperti yang dilakukan dokter (pada orang Barat, sunat
dilakukan pada seorangbayi laki-laki ketika masih dirawat/ ketika baru
lahir. Tindakan ini dimaksudkan untuk kebersihan/mencegah infeksi
karena adanya smegma, bukan karena keagamaan).Adanya smegma
pada ujung prepusium juga menyulitkan bayi berkemih maka setiap
memandikan bayi hendaknya prepusium didorong ke belakang
kemudian ujungnya dibersihkan dengan kapas yang telah dijerang
dengan air matang.
b. Etiologi
Fimosis pada bayi laki-laki yang barn lahir terjadi karena ruang
di antara kutup dan penis tidak berkembang dengan baik. Kondisi ini
menyebabkan kulup menjadi melekat pada kepala penis, sehingga sulit

20
ditarik ke arah pangkal. Penyebabnya bisa dari bawaan dari lahir, atau
didapat, misalnya karena infeksi atau benturan.
c. Gejala
Untuk menandai apakah anak memang mengalami funosis,
orang tua sebaiknya mencermati beberapa gejala berikut : Kulit penis
anak tak bisa ditarik ke arah pangkal ketika akan dibersihkan. Anak
mengejan saat buang air kecil karena muara saluran kencing diujung
tertutup. Biasanya ia menangis dan pada ujung penisnya tampak
menggembung. Air seni yang tidak lancar, kadang-kadang menetes
dan memancar dengan arah yang tidak dapat diduga. Kalau sampai
timbul infeksi, maka si buyung akan mengangis setiap buang air kecil
dan dapat pula disertai demam.
Jika gejala-gejala di atas ditemukan pada anak, sebaiknya bawa
ia ke dokter. Jangan sekali-kali mencoba membuka kulup secara paksa
dengan menariknya ke pangkal penis. Tindakan ini berbahaya, karena
kulup yang ditarik ke pangkal dapat menjepit batang penis dan
menimbulkan rasa nyeri dan pembekakan yang hebat. Hal ini dalam
istilah kedokteran disebut para Fimosis. Jika si Buyung mengalami
kesulitan buang air kecil, dokter akan mencoba melebarkan kulit yang
melekat, namun hal ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati oleh
seorang dokter yang berpengalaman.
6. Hipospadia
a. Pengertian
Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak
yang sering ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya, hanya
pengolahannya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli
supaya mendapatkan hasil yang memuaskan.
Hipospadia merupakan kelainan kelamian bawaan sejak lahir,
cirinya, letak lubang uretra terdapat di penis bagian bawah, bukan di
ujung penis. Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang
uretra terdapat di tengah bantang penis atau pada pangkal penis dan
kadang pad skrotum (kantung zakar) atau di bawah skrotum. Kelainan

21
ini sering kali berhubungan dengan kardi, yaitu suatu jaringan fibrosa
yang kencang yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada
saat ereksi.
Pada hipospadia muara orifisium uretra eksterna (lubang
tempat air seni keluar) berada diproksimal dari normalnya yaitu pada
ujung distal glans penis, sepanjang ventral batang penis sampai
perineum. Jadi lubang saluran kencing letaknya bukan pada tempat
yang semestinya dan terletak di sebelah bawah penis bahkan ada yang
terletak di rentang kemaluan
Hipospadia sering disertai kelainan bawaan yang lain, misalnya
pada scrotum dapat berupa undescensus testis, meorchisdism,
disgenesis testis dan hidrotole pada penis berupa propenil scrotum
mikrophalasus dari torsi penile. Sedang kelainan ginjal dan ureter
berupa fused kidney, malrotasi, duplek dan refluk ureter.
b. Etiologi
Trend peningkatan jumlah penderita salah satunya disebabkan
faktor lingkungan dan pola hidup yang kurang sehat, akibatnya marak
penggunaan pestisida serta tinginya kandungan polusi di udara. Zat
polutan dari pabrik, limbah dan menumpuknya sampah bisa
menimbulkan hipospadia.
Dari beberapa pasien yang ditangani ternyata mereka tinggal
disekitar daerah pembuangan sampah. Ada pula yang berasal ari
keluarga petani. Penderita hipospadia umumnya berasal dari keluarga
kurang mampu. Akibatnya banyak diantara penderita tak bisa segera
ditangani.
Angka kejadian penderita hipospadia di Indonesia belum
diketahui secara pasti, tetapi dari hasil penelitian pakar kedokteran di
sejumlah negara, kelainan ini terjadi pada satu dari 125 bayi laki-laki
kelahiran hidup. Salah satu penyebab kelainan ini adalah karena
keturunan.
7. Gangguan Metabolik dan Endokrin
Gangguan metabolik herediter :Ada lebih dari 400 gangguan
genetik biokimia, kebanyakan terkait-X atau autosom resesif.

22
a. Etiologi
 Bisa berhubungan dengan terputusnya sintesis atau katabolisme
molekul kompleks yang mengakibatkan gejala progresif permanen.
 Bisa berhubungan dengan gangguan sekuens metabolisme yang
menyebabkan akumulasi senyawa toksik.
 Bisa berhubungan dengan detisiensi produksi atau penggunaan
energi.
8. Atresia Esofagus
a. Pengertian
Atresia esophagus adalah esofagus/kerongkongan yang tidak
terbentuk secara sempurna, kerongkongan menyempit dan buntu tidak
tersambung dengan lambung sebagaimana mestinya.Atresia esofagus
merupakan suatu kelainan bawaan pada saluran pencernaan yang
diseababkan karena penyumbatan bagian proksimal esofagus
sedangkan bagian distal berhubungan dengan trakea.
b. Etiologi
Beberapa etiologi yang diduga dapat mempengaruhi terjadinya
kelainan kongenital atresia esophagus:
 Faktor obat; Salah satu obat yang diketahui dapat menimbulkan
kelainan kongenital ialah thalidomine
 Faktor radiasi; Radiasi pada permulaan kehamilan mungkin dapat
menimbulkan kelainan kongenital pada janian yang dapat
mengakibatkan mutasi pada gen.
 Faktor gizi; Penyelidikan menunjukan bahwa frekuensi kelainan
congenital pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang
kekurangan makanan
9. Obstruksi Billiaris
a. Pengertian
Obstruksi billiaris adalah tersumbatnya saluran kandung empedu
karena terbentuknya jaringan fibrosis
b. Etiologi
 Degenerasi sekunder
 Kelainan congenital
c. Tanda dan Gejala :
 Ikterik (pada umur 2-3 minggu)
 Peningkatan billirubin direct dalam serum (kerusakan parenkim
hati, sehingga bilirubin indirek meningkat)

23
 Bilirubinuria
 Tinja berwarna seperti dempul
 Terjadi hepatomegali
10. Omfalokel
a. Pengertian
Omfalokel merupakan hernia pada pusat, sehingga isi perut keluar
dalam kantong peritoneum
b. Etiologi
Kegagalan alat dalam untuk kembali ke rongga abdomen pada
waktu janin berumur 10 minggu
c. Tanda dan Gejala
 Gangguan pencernaan, karena polisitemia dan hiperinsulin
 Berat badan lahir > 2500 gr

11. Hernia Diafragmatika


a. Pengertian
Hernia diafragmatika adalah penonjolan organ perut ke dalam
rongga dada melalui suatu lubang pada diafragma. Diafragmatika
adalah sekat yang membatasi rongga dada dan rongga perut. Secara
anatomi serat otot yang terletak lebih medial dan lateral diafragma
posterior yang berasal dari arkus lumboskral dan vertebrocostal
triagone adalah tempat yang paling lemah dan mudah terjadi rupture.
Menurut lokasinya hernia diafragma traumatika 69% pada sisi
kiri, 24% pada sisi kanan, dan 15% terjadi bilateral. Hal ini terjadi
karena adanya hepar di sisi sebelah kanan yang berperan sebagai
proteksi dan memperkuat struktur hemidiafragma sisi sebelah kanan.
Organ abdomen yang dapat mengalami herniasi antara lain gaster,
omentum, usus halus, kolon, limpa’dan hepar. Juga dapat terjadi
hernia inkarserata maupun strangulata dari saluran cerna yang
mengalami herniasi ke rongga toraks ini.
Lubang hernia dapat terjadi di peritoneal (tipr bochdalek) yang
tersering ditemukan. Pada hernia bochdalek umumnya langsung
menunjukkan gejala pada saat bayi. Pada kasus hernia bochdalek,
bayi akan tampak kebiruan dan perut kembung.Kemudian,

24
anterolateral (tipe morgagni) atau di esofageal hiatus hernia.
Umumnya baru menimbulkan gejala pada usia dewasa.
b. Penyebab
Penyebab penyakit hernia ini adalah janin tumbuh di uterus ibu
sebelum lahir, berbagai sistem organ berkembang dan matur.
Diafragma berkembang antara minggu ke-7 sampai 10 minggu
kehamilan. Esofagus (saluran yang menghubungkan tenggorokan ke
abdomen), abdomen, dan usus juga berkembang pada minggu itu.
Pada hernia tipe Bockdalek, diafragma berkembang tidak
normal atau usus mungkin terperangkap di rongga dada pada saat
diafragma berkembang. Pada hernia tipe Morgagni, otot yang
seharusnya berkembang di tengah diafragma tidak berkembang secara
wajar.
Pada kedua kasus di atas perkembangan diafragma dan saluran
pencernaan tidak terjadi secara normal. Hernia difragmatika terjadi
karena berbagai faktor, yang berarti “banyak faktor” baik faktor
genetik maupun lingkungan.
c. Tanda dan Gejala Penyakit Hernia
Gejalanya berupa:
 Gangguan pernafasan yang berat
 Sianosis (warna kulit kebiruan akibat kekurangan oksigen)
 Takipneu (laju pernafasan yang cepat)
 Bentuk dinding dada kiri dan kanan tidak sama (asimetris)
 Takikardia (denyut jantung yang cepat)
12. Atresia Duodeni
a. Pengertian
Atresia Duodeni adalah obstruksi lumen usus oleh membran
utuh, tali fibrosa yang menghubungkan dua ujung kantong duodenum
yang buntu pendek, atau suatu celah antara ujung-ujung duodenum
yang tidak bersambung.
b. Etiologi
 Kegagalan rekanalisasi lumen usus selama masa kehamilan
minggu ke-4 dan ke-5
 Banyak terjadi pada bayi yang lahir premature
c. Tanda dan Gejala

25
 Bayi muntah tanpa disertai distensi abdomen
 Ikterik

13. Atresia ani/rekti (penyumbatan/obstruksi pada rectum/anus)


a. Pengertian
Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak
ada, trepis artinya nutrisi atau makanan. Dalam istilah kedokteran
atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang
badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga
clausura.
Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang
seharusnya berlubang atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini
bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena
proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada
seluruh saluran tubuh, misalnya atresia ani.
Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani
memiliki nama lain yaitu anus imperforata.Jika atresia terjadi maka
hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran
seperti keadaan normalnya.
b. Etiologi Atresia Ani
Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
 Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur
sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur.
 Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12
minggu/3 bulan.
 Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik
didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang
terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.
14. Hirschprung
a. Pengertian

26
Penyakit Hirschsprung (Megakolon Kongenital) adalah suatu
kelainan kongenital yang ditandai dengan penyumbatan pada usus
besar yang terjadi akibat pergerakan usus yang tidakadekuat karena
sebagian dari usus besar tidak memiliki saraf yang mengendalikan
kontraksiototnya. Sehingga menyebabkan terakumulasinya feses dan
dilatasi kolon yang masif.
b. Penyebab
Dalam keadaan normal, bahan makanan yang dicerna bisa
berjalan di sepanjang usus karena adanya kontraksi ritmis dari otot-
otot yang melapisi usus (kontraksi ritmis ini disebut gerakan
peristaltik). Kontraksi otot-otot tersebut dirangsang oleh sekumpulan
saraf yang disebut ganglion, yang terletak dibawah lapisan otot. Pada
penyakit Hirschsprung, ganglion ini tidak ada, biasanya hanya
sepanjang beberapa sentimeter. Segmen usus yang tidak memiliki
gerakan peristaltik tidak dapat mendorong bahan-bahan yang dicerna
dan terjadi penyumbatan. Penyakit Hirschsprung 5 kali lebih sering
ditemukan pada bayi laki-laki. Penyakit ini kadang disertai dengan
kelainan bawaan lainnya, misalnya sindroma Down.
c. Tanda dan gejala
 Segera setelah lahir, bayi tidak dapat mengeluarkan mekonium
(tinja pertama pada bayi baru lahir)
 tidak dapat buang air besar dalam waktu 24-48 jam setelah lahir
 perut menggembung
 muntah
 diare encer (pada bayi baru lahir)
 berat badan tidak bertambah, mungkin terjadi retardasi
pertumbuhan
 malabsorbsi.

27
ASUHAN KEPERAWATAN

PADA BAYI BARU LAHIR

1. PENGKAJIAN
a. Aktivitas/Istirahat
Status sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama, bayi tampak
semi koma saat tidur ; meringis atau tersenyum adalah bukti tidur dengan
gerakan mata cepat, tidur sehari rata-rata 20 jam.
b. Pernapasan dan Peredaran Darah
Bayi normal mulai bernapas 30 detik sesudah lahir, untuk menilai
status kesehatan bayi dalam kaitannya dengan pernapasan dan peredaran
darah dapat digunakan metode APGAR Score. Namun secara praktis dapat
dilihat dari frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta wajah, ekstremitas
dan seluruh tubuh, frekwensi denyut jantung bayi normal berkisar antara 120-
140 kali/menit (12 jam pertama setelah kelahiran), dapat berfluktuasi dari 70-
100 kali/menit (tidur) sampai 180 kali/menit (menangis).
Pernapasan bayi normal berkisar antara 30-60 kali/menit warna
ekstremitas, wajah dan seluruh tubuh bayi adalah kemerahan. Tekanan darah
sistolik bayi baru lahir 78 dan tekanan diastolik rata-rata 42, tekanan darah
berbeda dari hari ke hari selama bulan pertama kelahiran. Tekanan darah
sistolik bayi sering menurun (sekitar 15 mmHg) selama satu jam pertama
setelah lahir. Menangis dan bergerak biasanya menyebabkan peningkatan
tekanan darah sistolik.
c. Suhu Tubuh
Suhu inti tubuh bayi biasanya berkisar antara 36,5 0C-370C.
Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan pada aksila atau pada rektal.
d. Kulit
Kulit neonatus yang cukup bulan biasanya halus, lembut dan padat
dengan sedikit pengelupasan, terutama pada telapak tangan, kaki dan

28
selangkangan. Kulit biasanya dilapisi dengan zat lemak berwarna putih
kekuningan terutama di daerah lipatan dan bahu yang disebut verniks kaseosa.
e. Keadaan dan Kelengkapan Ekstremitas
Dilihat apakah ada cacat bawaan berupa kelainan bentuk, kelainan
jumlah atau tidak sama sekali pada semua anggota tubuh dari ujung rambut
sampai ujung kaki juga lubang anus (rektal) dan jenis kelamin.
f. Tali Pusat
Pada tali pusat terdapat dua arteri dan satu vena umbilikalis. Keadaan
tali pusat harus kering, tidak ada perdarahan, tidak ada kemerahan di
sekitarnya.
g. Refleks
 Refleks moro (refleks terkejut). Bila diberi rangsangan yang mengagetkan
akan terjadi refleks lengan dan tangan terbuka.
 Refleks menggenggam (palmer graps). Bila telapak tangan dirangsang
akan memberi reaksi seperti menggenggam. Plantar graps, bila telapak
kaki dirangsang akan memberi reaksi.
 Refleks berjalan (stepping). Bila kakinya ditekankan pada bidang datang
atau diangkat akan bergerak seperti berjalan.
 Refleks mencari (rooting). Bila pipi bayi disentuh akan menoleh
kepalanya ke sisi yang disentuh itu mencari puting susu.
 Refleks menghisap (sucking). Bila memasukan sesuatu ke dalam mulut
bayi akan membuat gerakan menghisap.
h. Berat Badan
Pada hari kedua dan ketiga bayi mengalami berat badan fisiologis.
Namun harus waspada jangan sampai melampaui 10% dari berat badan lahir.
Berat badan lahir normal adalah 2500 sampai 4000 gram.
i. Mekonium
Mekonium adalah feces bayi yang berupa pasta kental berwarna gelap
hitam kehijauan dan lengket. Mekonium akan mulai keluar dalam 24 jam
pertama.
j. Antropometri

29
Dilakukan pengukuran lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan
atas dan panjang badan dengan menggunakan pita pengukur. Lingkar kepala
fronto-occipitalis 34cm, suboksipito-bregmantika 32cm, mento occipitalis
35cm. Lingkar dada normal 32-34 cm. Lingkar lengan atas normal 10-11 cm.
Panjang badan normal 48-50 cm.
k. Seksualitas
Genetalia wanita ; Labia vagina agak kemerahan atau edema, tanda
vagina/himen dapat terlihat, rabas mukosa putih (smegma) atau rabas
berdarah sedikit mungkin ada. Genetalia pria ; Testis turun, skrotum tertutup
dengan rugae, fimosis biasa terjadi.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan refleks hisap tidak adekuat.
b. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan adaptasi dengan
lingkungan luar rahim, keterbatasan jumlah lemak.
c. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
(pemotongan tali pusat) tali pusat masih basah.
d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya air
(IWL), keterbatasan masukan cairan.
e. Kurangnya pengetahuan orangtua berhubungan dengan kurang terpaparnya
informasi.

3. Intervensi Keperawatan
No Tanggal Diagnosa Tujuan& kriteria Intervensi Rasional
keperawatan hasil

30
1 Risiko tinggi NOC NIC Management
perubahan Setelah dilakukan Management Nutrition
nutrisi kurang asuhan Nutrition 1. Dengan
dari kebutuhan keperawatan 3x24 mengevaluasi
tubuh jam diharapkan 1. Monitor asupan intake
berhubungan pasien memenuhi intake dan perhari
dengan refleks criteria hasil output memungkinkan
2. Berikan
hisap tidak sebagai berikut : semua
minum sedikit
adekuat. 1. BB normal modifikasi
– sedikit tapi
sesuai umur yang
sering
dan tinggi diperlukan
3. Monitor
badan yakni dapat dilakukan
penurunan dan
1300 gram dengan tepat
peningkatan
2. Tidak 2. Mencegah
BB
menunjukkan terjadinya
4. Berikan
tanda mual, muntah
lingkungan
3. Mengetahui
malnutrisi
yang nyaman
3. Berat badan status gizi
dan tenang
meningkat pasien
untuk 4. Lingkungan
hingga 1800
mendukung akan
gram
pasien mempengaruhi
asupan makan
pasien

31
2 Resiko tinggi Setelah dilakukan Penanganan 1. Memantau
perubahan asuhan demam adanya
suhu tubuh keperawatan 2x24 1. Lakukan peningkatan
berhubungan jam pasien dapat monitoring atau
dengan mencapai suhu secara penurunan
adaptasi termoregulasi kontinyu suhu tubuh
2. Memantau
dengan yang baik. 2. Monitor
adanya tanda
lingkungan warna dan
dan gejala
luar rahim, NOC label : suhu kulit
hipotermi
keterbatasan · Termoregulasi 3. Monitor,
3. Memantau
· Termoregulasi
jumlah lemak. nadi dan RR
tanda – tanda
newborn
4. Monitor
vital klien.
tingkat 4. Memantau
Kriteria hasil:
kesadaran kondisi klien
1. Tanda – tanda
Pengaturan agar terapi
vital dalam
suhu yang
batas normal
diberikan
(36 – 37 )
5. Monitor, sesuai
2. Kulit tidak
5. Memantau
nadi, RR
panas
6. Monitor tanda – tanda
tanda-tanda vital klien
6. Mampu
hipertermi
memberikan
dan
penanganan
hipotermi
7. Tingkatkan yang tepat
7. Mencegah
intake cairan
terjadinya
dan nutrisi
dehidrasi

32
3 Resiko tinggi Setelah dilakukan Infection 1. Dengan
terjadi infeksi asuhan Control mencuci
berhubungan keperawatan 2x24 (Kontrol tangan
dengan trauma jam pasien dapat infeksi) sebelum dan
jaringan mengurangi resiko setelah
(pemotongan infeksi dengan 1. Instruksikn berkunjung
tali pusat) tali baik pada mampu
pusat masih pengunjung mencegah
basah. NOC Label untuk adanya
1. mencuci infeksi
Immune Status tangan saat nosokomial
2. Sabun
2. berkunjung
antimikroba
Knowledge : dan setelah
mampu
Infection control berkunjung
membunuh
Kriteria Hasil : meninggalk
kuman
1. Kli an pasien
secara
en bebas 2. Gunakan
efektif.
dari tanda sabun
3. Mencuci
dan gejala antimikrobi
tangan
infeksi a untuk cuci
sebelum dan
yakni dolor, tangan
sesudah
kalor, 3. Cuci tangan
tindakan
tumor, setiap
dapat
rubor, sebelum
mencegah
fungsio dan sesudah
adanya
laesa. tindakan
infeksi
2. Int keperawtan
nosokomial
egritas kulit 4. Tingktkan
pasien baik. intake
nutrisi
5. Berikan
33
4. Implementasi
Sesuaikan dengan Intervensi
5. Evaluasi
Menggunakan evaluasi sumatif dan formatif

34
Format Asuhan Keperawatan

Pada Bayi Baru Lahir

Unit :
Ruang/Kamar :
Tgl. Masuk RS :
Tgl. Pengkajian :
Waktu Pengkajian :
Auto Amamnese :
Allo Amamnese :
A. IDENTIFIKASI
I. BAYI
Nama Inisial : ....................................................................................
Tempat/jam lahir : ....................................................................................
Jenis kelamin : ....................................................................................
II. IBU
Nama Inisial : ....................................................................................
Tempat/Tgl.lahir (umur) : ....................................................................................
Agama/suku : ....................................................................................
Warga Negara :
Bahasa yang digunakan :
Pendidikan : ....................................................................................
Alamat rumah : ....................................................................................
III. AYAH
Nama Inisial : ....................................................................................
Tempat/Tgl. Lahir (umur) : ....................................................................................
Agama/suku : ....................................................................................
Warga Negara :
Bahasa yang digunakan :

35
Pendidikan : ....................................................................................
Pekerjaan : ....................................................................................
Alamat rumah : ....................................................................................
IV. PENANGGUNG JAWAB
Nama : ....................................................................................
Alamat : ....................................................................................
Hubungan dengan klien : ....................................................................................
B. DATA MEDIK
I. Dikirim oleh : VK . Dokter Praktek (namanya)
II. Diagnosa medik :
 Saat masuk :
 Saat Pengkajian :

C. RIWAYAT PERSALINAN
Jenis persalinan :
Pertolongan persalinan :
Usia kehamilan : Post term Aterm
Preterm Imaturus
Anak ke : …… (Hidup : ………Meninggal : …… )
Lama persalinan : Kala I : ………… jam/menit
Kala II : ………… jam/menit
Kala III : ………… jam/menit
Waktu Pecah Ketuban : ………… WITA
Warna air ketuban :
Bayi lahir 30 detik : Menangis Tidak menangis
Resusitasi : Dilakukan Tidak dilakukan
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) : Dilakukan Tidak dilakukan
Alasan : .......................................................................

36
APGAR SCORE

NO. KRITERI 1 MENIT 5 MENIT 10 MENIT


1.
Appearance
2.
Pulse
3.
Grimace
4.
Activity
5.
Respiratory
TOTAL
D. RIWAYAT KEHAMILAN
Antenatal Care : Dokter ………… kali
Bidan ………… kali
Tidak pernah Lain-lain
Imunisasi TT :
Tablet Fe :
Keluhan
Trimester I :
Trimester II :
Trimester III :
Kebiasaan waktu hamil
Makan :
Minum :
Obat-obatan :
Jamu :
Rokok :
Penyulit Kehamilan :
E. RIWAYAT KESEHATAN
I. Penyakit yang diderita oleh ibu : TBC, HIV-AIDS dll

Riwayat operasi ibu


Jenis operasi : ...........................................................................
Kapan / tahun : ...........................................................................

37
Dimana : ...........................................................................
Yang mengoperasi/operator : ...........................................................................
II. Penyakit yang diderita oleh ayah : TBC, HIV-AIDS, dll
III. Penyakit yang diderita oleh keluarga
F. RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Penerimaan ibu terhadap kehadiran bayinya : Menerima, Menolak
Penerimaan suami & keluarga terhadap kehadiran bayinya : Menerima,
Menolak
Hubungan ibu dengan suami & keluarga : Kurang Baik, Baik , Tidak baik
Keluarga yang masih tinggal serumah : Mertua, Kakak kandung, Orang tua
sendiri, Lain-lain …………………
G. RIWAYAT SOSIAL CULTURAL
Adat istiadat yang dilakukan pada masa kehamilan, persalinan dan nifas :
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
H. NUTRISI
ASI, on demand : Ya Tidak
Colostrums : Ya Tidak, Alasan …………………………………………..
PASI : Ya Tidak, Alasan :
Jenis : ................................................................................................

I. ELEMINASI
Miksi : Belum Sudah …………x/24 jam
Mekonium : Belum Sudah …………x/24 jam
Konsistensi : ...............................................................................................................
......
Warna : ...............................................................................................................
......

J. PEMERIKSAAN

38
I. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Baik Lemah
TTV : Pernafasan : ………x/mnt HR : ………x/mnt Suhu : …....̊C
Aktivitas Bayi : Aktif Merintih Tidak menangis Letargi
Kulit : Normal Cianosis Mengelupas Pucat Keriput
Lanugo : Ada Tidak ada
Vernik Caseosa : Ada Tidak ada
Tanda lahir : ...................................................................................................
KEPALA
Kepala : Bersih Kotor Lain-lain ………………………
Bentuk kepala : Normal Caput suksedanium Cephal haematoni,
Hydrocephal Anencephal Makrocephal, Mikrocephal
Sutura : Normal Molage/moulding Melebar
MATA
Sclera : Ikterik Tidak ikterik
Conjungtiva : Anemis Tidak anemis
Palpebra : Edema Tidak Edema
Bentuk : Normal Menonjol Cekung Strabismus
Nigtagmus
Perdarahan : Ada Tidak Ada
Lain-lain : ...................................................................................................
HIDUNG
Bentuk : Simetris Tidak Simetris
Nafas Cuping Hidung : Ada Tidak ada
MULUT
Bentuk : Normal Labio Skizis Labio palate skizis
kebersihan : Bersih Ada monilia
Luka pada bibir : Ada Tidak ada
Lidah : Kotor Tidak kotor
Lain-lain : ...................................................................................................

39
LEHER
Glandula thyroidea : Bengkak Tidak Bengkak
Struma : Ada Tidak ada
Torticolis : Ada Tidak ada
DADA
Bentuk : Normal Funnel chest Barrel chest
Retraksi : Ada Tidak ada
Clavikula : Normal Abnormal,…………………..
Bunyi nafas : Vesikuler Bronkovesikuler Whezing Ronkhi
Bunyi jantung : Normal Rales Mur-mur
Lain-lain : ...................................................................................................
ABDOMEN
Bentuk : Normal Skapoid Distensi Omfalokel
Auskultasi abdomen : Tympany Hypertimpany
Bising usus : Tidak terdengar Ada : …………x/mnt
Perkusi abdomen : Sonor Pekak
Tali pusat : Arteri : …………buah Vena : …………buah
Normal Layu Lain-lain……………………
PUNGGUNG
Bentuk : Normal Lordosis Kiposis Skoliosis
Spina bifida : Ada Tidak ada
Meningocele : Ada Tidak ada
Dimple : Ada Tidak ada
GENETALIA LAKI-LAKI
Penis : Normal Hipospadia Epispadi Hemaprodite
Scrotum : Ada Tidak ada Gidrokel
Lain-lain ..............................................................................
GENETALIA PEREMPUAN
Labia manora : Ada Tidak ada
Labia minora : Ada Tidak ada

40
Hymen : Menonjol Tidak menonjol
Hemaprodite : Ya Tidak
Lain-lain : ...................................................................................................
Anus : Ada Atresia ani
EKSTREMITAS ATAS DAN BAWAH
Jumlah jari tangan : Lengkap Tidak lengkap................buah
Jumlah jari kaki : Lengkap Tidak lengkap…………buah
Polidaktili : Ada Tidak ada
Paralisis : Ada Tidak ada
Fraktur : Ada Tidak ada

II. Pemeriksaan Antropometri


Berat badan :………… Gram
Panjang badan : ………… Cm
Lingkar lengan atas : ………… Cm
Lingkar dada : ………… Cm
Lingkar perut : ………… Cm
Ukuran kepala
CFO : ………… Cm
CMO : ………… Cm
DFO : ………… Cm
DMO : ………… Cm

III. Pemeriksaan Reflek


Refleks rooting : Ada Tidak ada
Refleks sucking : Ada Tidak ada
Refleks swallowing : Ada Tidak ada
Refleks graps : Ada Tidak ada
Refleks babinski : Ada Tidak ada

41
IV Pemeriksaan Profilaksis
Salf mata 1% : Diberi Tidak diberi
Vitamin K : Diberi Tidak diberi
Imunisasi hepatitis : Diberi Tidak diberi

V. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium klinik
Darah : ....................................................................................................
Urine : .....................................................................................................
Feses : .....................................................................................................
Lain-lain : ................................................................................................

IDENTITAS BAYI
Sidik Telapak Kaki Kiri Sidik Telapak Kaki Kanan

Sidik Ibu Jari Tangan Kiri Ibu Sidik Ibu Jari Tangan Kanan Ibu

ANALISA DATA
MASALAH
NO. DATA POHON MASALAH
KEPERAWATAN

42
1. Do:

2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN :

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama/umur :
Ruang/kamar :
Tanggal
No. Diagnosa Keperawatan Nama Jelas
(waktu)

RENCANA KEPERAWATAN

No. Diagnosa Hasil yang Rencana Rasionalisasi Nama

43
Keperawatan diharapkan Tindakan

PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Nama/umur :
Ruang/kamar :

Nama
Tanggal No. DP Waktu Pelaksanaan Keperawatan
Jelas

EVALUASI KEPERAWATAN
Nama/umur :
Ruang/kamar :

Tanggal
Evaluasi (SOAP) Nama
(waktu)

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

44
Dalam 12 jam pertama setelah bayi lahir pemeriksaan yang dilakukan
oleh dokter, bidan atau perawat adalah : Menimbang berat badan, rata-rata
bayi baru lahir beratnya adalah 2500-4000 gram, Mengukur panjang badan,
rata-rata panjang bayi baru lahir adalah 48-52 cm, Mengukur lingkar kepala
33-35 cm, mengukur lingkar dada 30-38 cm. Selanjutnya dokter akan menilai
kulit, kepala dan wajah, jantung dan paru-paru, system saraf, perut dan alat
kelamin bayi. Dokter, bidan serta perawat juga harus memperhatikan hal-hal
berikut : Pencegahan infeksi, Pencegahan kehilangan panas, Membebaskan
jalan nafas bayI, Merawat tali pusat, Mempertahankan suhu tubuh bayi.

3.2 Saran

Setelah pembaca mengetahui apa pengertian dan ciri-ciri bayi baru


lahir normal, diharapkan pembaca bisa mampu dalam menangani bayi baru
lahir normal dan dapat menjaga suhu tubuh bayi dan dapat mengidentifikasi
bayi baru lahir normal dengan baik.

45
DAFTAR PUSTAKA

Barbara, R, Straight. 2005. Keperawatan Ibu – Bayi Baru Lahir. Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.

Behrman,dkk.(2000).Ilmu kesehatan Anak Nelson Vol 3.Jakarta: EGC

Hapsari. 2009. Termogulasi Pada Bayi Baru Lahir(Perlindungan Termal). Jakarta:


EGC

Muslihatun, wafi nur.2010.Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya

Winknjsastro, Hanifa.(2005).Ilmu Kebidanan Ed 3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwon Prawirohardjo

Rukiyah, Yeyeh, Ayi.Yulianti, Lia.2010.Asuhan Neonatus, Bayu dan Anak Balita. CV.
Trans Info Media. Jakarta Timur