Anda di halaman 1dari 17

PERTEMUAN VII

TANGGAL 19 OKTOBER 2017


MATERI : PERJANJIAN DALAM HUKUM KESEHATAN

Menurut Subekti suatu Perjanjian adalah suatu peristiwa bahwa seseorang berjanji
kepada orang lain atau antara dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan
sesuatu hal. Untuk sahnya suatu perjanjian harus memenuhi syarat sebagaimana diatur
dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang unsur-unsurnya sebagai berikut :
1 . Adanya kesepakatan dari mereka yang saling mengikatkan dirinya (toestetning van
degenen die zich verbinden
2. Adanya keeakapan untuk membuat suatu perikatan (de bekwaamheid om eene
verbintenis aan te gaan);
3. Mengenai sesuatu hal tertentu (een bepaald onderwerp);
4. Suatu sebab yang diperbolehkan (eene geoorloofdeoorzaak).
Unsur pertama dan kedua disebut sebagai Syarat subjektif, karena kedua unsur ini
langsung menyangkut orang atau subjek yang rnembuat perjanjian. Apabila salah satu
dari Syarat subjektif ini tidak dipenuhi, maka perjanjian tersebut atas Permohonan pihak
yang bersangkutan dapat dibatalkan oleh hakim. Maksudnya perjanjian tersebut selama
belum dibatalkan tetap berlaku, jadi harus ada putusan hakim untuk membatalkan
pejanjian tersebut. Pembatalan mulai berlaku sejak putusan hakim memperoleh
kekuatan hukum yang tetap jadi perjanjian itu batal tidak sejak semula atau sejak
perjanjian itu dibuat.
Unsur ketiga dan keempat disebut unsur objektif, dikatakan demikian karena kedua
unsur ini menyangkut Objek yang diperanjikan. Jika salah satu dari unsur ini tidak
terpenuhi, perjanjian tersebut atas permohonan pihak yang bersangkutan atau secara
ex officio dalam putusan hakim dapat dinyatakan batal demi hukum oleh hakim. Oleh
karena perjanjian itu dinyatakan batal demi hukum, maka perjanjian tersebut dianggap
tidak pemah ada. Jadi pembatalannya adalah sejak semula (ex tunc), konsekuensi
hukumnya bagi para pihak, posisi kedua belah pihak dikembalikan pada posisi semula
sebelum perjanjian itu dibuat.
KESALAHAN dan KELALAIAN DALAM PERJANJIAN TERAPETIK
Pengertian kesalahan diartikan secara umum, yaitu perbuatan yang secara objektif
tidak patut dilakukan.
kesalahan dapat terjadi akibat :
1. kurangnya pengetahuan,
2. kurangnya pengalaman,
3. kurangnya pengertian, serta
4. mengabaikan suatu perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan.
Apabila hal itu dilakukan oleh dokter, baik dengan sengaja maupun karena kelalaiannya
dalam upaya memberikan perawatan atau pelayanan kesehatan kepada pasien, maka
pasien atau keluarganya dapat minta pertanggungjawaban (responsibility) pada dokter
yang bersangkutan. Bentuk pertanggungjawaban yang dimaksud di sini meliputi
pertanggungjawaban perdata, pertanggungjawaban pidana, dan pertanggungjawaban
hukum administrasi.
Dalam hukum perdata dikenal dua dasar hukum bagi tanggung gugat hukum (liability),
yaitu:
1. Tanggung gugat berdasarkan wanprestasi atau cedera janji atau ingkar janji
sebagaimana diatur dalarn Pasal 1239 KUHPerdata.
2. Tanggung gugat berdasarkan perbuatan melanggar hukum sebagaimana diatur
dalam ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata.
Jika seorang dokter melakukan penyimpangan terhadap standar pelaksanaan profesi
ini, secara bukum sang dokter dapat digugat melalui wanprestasi atau perbuatan
melanggar hukum.
Ajaran mengenai wanprestasi atau cedera janji dalam hukum perdata dikatakan, bahwa
seseorang dianggap melakukan wanprestasi apabila (Subekti, 1985 : 45):
1) tidak melakukan apa yang disepakati untuk dilakukan;
2) melakukan apa yang dijanjikan, tetapi terlambat;
3) melakukan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan;
4) melakukan sesuatu yang menurut hakikat perjanjian tidak boleh dilakukan.
Dari keempat unsur tersebut yang paling erat kaitannya dengan kesalahan yang
dilakukan oleh dokter adalah unsur ketiga, sebab dalam perjanjian terapeutik yang
harus dipenuhi adalah upaya penyembuhan dengan kesungguhan. Dengan demikian
apabila pasien atau keluarganya mengajukan gugatan berdasarkan wanprestasi, pasien
harus membuktikan bahwa pelayanan kesehatan yang diterimanya tidak sesuai dengan
kesepakatan yang dituangkan dalam informed consent atau dokter menggunakan obat
secara keliru atau tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya.
Sedangkan untuk mengajukan gugatan terhadap rumah sakit, dokter, atau tenaga
kesehatan lainnya dengan alasan berdasarkan Perbuatan melanggar hukum harus
dipenuhi empat unsur berikut.
1. Adanya pemberian gaji atau honor tetap yang dibayar secara periodik kepada dokter
atau tenaga kesehatan yang bersangkutan.
2. Majikan atau dokter mempunyai wewenang untuk rnemberikan instruksi yang harus
ditaati oleh bawahannya.
3. Adanya wewenang untuk mengadakan pengawasan.
4. Ada kesalahan atau kelalaian yang diperbuat oleh dokter atau tenaga kesehatan
lainnya, di mana kesalahan atau kelalaian tersebut menimbulkan kerugian bagi pasien.
Aspek negatif dari bentuk tanggung gugat dalam pelayanan kesehatan, adalah karena
pasien mengalami kesulitan membuktikannya. Pada umumnya pasien tidak bisa
membuktikan bahwa apa yang dideritanya, merupakan akibat dari kesalahan dan atau
keialaian dokter dalam perawatan atau dalam pelayanan kesehatan. Kesulitan dalam
Pembuktian ini karena pasien tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai terapi
dan diagnosa yang dialaminya atau yang dilakukan dokter kepadanya. Menyadari hal
ini, dengan maksud untuk melindungi kepentingan hukum pasien yang dirugikan akibat
Pelayanan kesehatan, beberapa sarjana mengusulkan diterapkannya pembuktian
terbalik bagi kepentingan pasien.
Dengan demikian, dalam kaitannya dengan gugatan atas kesalahan atau keialaian
yang dilakukan dokter, pasien harus mengajukan bukti-bukti untuk menguatkan dalil
gugatannya. Berdasarkan alat-alat bukti inilah hakim mempertimbangkan apakah
menerima atau menolak gugatan tersebut.
Hubungan antara dokter dengan pasien yang lahir dari transaksi terapeutik, selain
menyangkut aspek hukum perdata juga menyangkut aspek hukum pidana. Aspek
pidana baru timbul apabila dari pelayanan kesehatan yang dilakukan,,berakibat
atau menyebabkan pasien mati atau menderita eacat sebagaimana diatur dalam
ketentuan Pasal 359, 360, dan 361 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Apabila hal ini terjadi maka sanksinya bukan hanya suatu ganti rugi yang berupa
materi, akan tetapi juga dapat merupakan hukuman badan sebagaimana diatur
dalam Pasal 10 KUHP.
Dasar untuk mempermasalahkan aspek pidananya, berawal dari hubungan
keperdataan yang timbul antara dokter dengan pasien, yaitu berupa transaksi terapeutik
sebagai upaya penyembuhan. Namun karena langkah yang diambil oleh dokter berupa
terapi dalam usahanya memenuhi kewajiban itu, menimbulkan suatu kesalahan atau
kelalaian yang berwujud suatu perbuatan yang diatur oleh hukum pidana, yaitu yang
dapat berupa penganiayaan atau bahkan pembunuhan, baik yang disengaja maupun
karena kelalaian, maka perbuatan itu harus dipertanggungjawabkan.
Secara teoretis mungkin mudah memberikan pengertian tentang kesalahan, di mana
kesalahan menurut hukum pidana terdiri dari kesengajaan (dolus) dan kelalaian (culpa).
Dalam praktiknya akan timbul, permasalahan tentang pengertian kesalahan ini,
terutama yang menyangkut dengan kesalahan dan atau kelalaian dalam bidang
pelayanan kesehatan. Kesulitan akan timbul untuk menentukan adanya suatu kelalaian
karena dari semula perbuatan atau akibat yang timbul dalam suatu peristiwa tidak
dikehendaki oleh pembuatnya. Pada hakikatnya kelalaian baru ada apabila dapat
dibuktikan adanya kekurang¬hati-hatian.
Kesalahan dokter dalam melaksanakan tugasnya sebagian besar terjadi karena
kelalaian, sedangkan kesengajaan jarang terjadi. Sebab apabila seorang dokter
sengaja melakukan suatu kesalahan, hukuman yang akan diberikan kepadanya akan
lebih berat. Dalam hukum pidana, untuk membuktikan adanya kelalaian dalam
pelayanan kesehatan harus ada paling tidak empat unsur (Soekanto, 1987:157).
1. Ada kewajiban yang timbul karena adanya perjanjian;
2. Ada pelanggaran terhadap kewajiban, misainya dokter telah gagal bertindak sesuai
norna yang telah ditentukan diseba atau keialaian, contohnya perbuatan dokter yang
standar perawatan bagi pasiennya.
3. Ada penyebab. Hubungan sebab akibat yang paling langsung dapat timbul dalam
hubungan dokter dengan pasien, yailu perbuatan dokter timbul akibat yang merugikan
pasien. Akan tetapi sebab yang tidak langsung pun dapat menjadikan sebab hukum,
apabila sebab itu telah menimbulkan kerugian bagi pasien. Misalnya akibat dari
pemakaian suatu obat yang diberikan dokter.
4. Timbul kerugian. Akibat dari perbuatan dalam hubungan dokter dengan pasien dapat
timbul kerugian, baik yang bersifat langsung aupun tidak langsung. Kerugian itu dapat
mengenai tubuh pasien sehingga menimbulkan rasa tidak enak.
Terhadap kesalahan dokter yang bersifat melanggar tata nilai surnpah atau kaidah etika
profesi, pemeriksaan dan tindakan, dilakukan oleh organisasi Ikatan Dokter Indonesia
(IDI), dan atau atasan langsung yang berwenang (yaitu pihak Departemen Kesehatan
Republik Indo¬nesia). Pemeriksaan dibantu oleh perangkat Majelis Kode Etik
Kedokteran (MKEK) atau Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran
(P3EK). Lembaga ini merupakan badan non-struktural Departemen Kesehatan yang
dibentuk dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5
54/Menkes/Per/Xll/ 1982. Tugas lembaga ini memberi pertimbangan etik kedokteran
kepada menteri kesehatan, menyelesaikan persoalan etik kedokteran dengan memberi
pertimbangan dan usul kepada pejabat yang berwenang di bidang kesehatan. Dasar
hukum yang digunakan adalah hukum disiplin dan atau hukum administrasi sesuai
dengan peraturan yang terdapat dalam undang-undang, peraturan pemerintah,
peraturan menteri kesehatan, surat kepuu~ menteri kesehatan yang bersangkutan.
Misalnya seorang dokter berbuat yang dapat dikualifikasikan melanggar sumpah dokter.
setelah diadakan pemeriksaan dengan teliti dapat dijatuhi sanksi menurut Pasal 54 Ayat
(1) UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Poernomo (1 984: 76); unsur melawan hukum
menjadi dasar bagi suatu tindak pidana, karena selain bertentangan dengan undang-
undang, termasuk pula perbuatan yang bertentangan dengan hak seseorang atau
kepatutan masyarakat.
Pengertian perbuatan melawan hukum seperti apa yang dikemu¬kakan oleh J.B. van
Bemmelen (1 987 : 149 – 150):
1 . Bertentangan dengan ketelitian yang pantas dalam pergaulan masyarakat mengenai
orang lain atau barang.
2. Bertentangan dengan kewajiban yang ditetapkan oleh undang-¬undang.
3. Tanpa hak atau wewenang sendiri.
4. Bertentangan dengan hak orang lain.
5. Bertentangan dengan hukum objektif
Dalam hukum pidana terdapat dua ajaran mengenai sifat melawan hukum, yakni: ajaran
melawan hukum formal dan ajaran melawan hukun materiil. Menurut ajaran melawan
hukum formal, suatu perbuatan telah dapat dipidana apabila perbuatan itu telah
memenuhi semua unsur-unsur dari rumusan suatu tindak pidana (delik) atau telah
cocok dengan rumusan pasal yang bersangkutan.
Pada ajaran melawan hukum materiil untuk dapat menjatuhkan pidana terhadap suatu
perbuatan tidak cukup hanya dengan melihat: apakah perbuatan itu telah memenuhi
rumusan pasal tertentu dalam KUHP, melainkan perbuatan itu juga harus dilihat secara
materiil. Maksudnya apakah perbuatan itu bersifat melawan hukum secara sungguh-
sungguh yaitu dilakukan dengan bertanggungjawab atau tidak.
kesalahan selalu ditujukan pada perbuatan yang tidak patut, Yaitu melakukan sesuatu
yang seharusnya tidak dilakukan dan atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya
mesti dilakukan. Mengenai apa yang dimaksud dengan kesalahan, menurut Simons:
Kesalahan adalah keadaan psikis orang yang melakukan perbuatan dan hubungannya
dengan perbuatan yang dilakukannya yang sedemikian rupa sehingga orang itu dapat
dicela karena perbuatan tersebut.
Kesalahan berarti bukan hanya perbuatan yang dilakukan itu dinilainya secara objektif
tidak patut akan tetapi juga dapat dicelakan kepada pelakunya karena perbuatan itu
“dianggap” jahat. Antara perbuatan dan pelakunya selalu membawa celaan, oleh
karenanya kesalahan itu juga dinamakan sebagai yang dapat dicelakan. Namun harus
diingat bahwa sesuatu yang dapat dicelakan bukanlah merupakan inti dari suatu
kesalahan melainkan merupakan akibat dari kesalahan itu. Bila hal ini dikembahkan
pada asas “Tiada pidana tanpa kesalahan” berarti untuk dapat dijatuhi suatu pidana,
disyaratkan bahwa orang tersebut telah berbuat yang tidak patut secara objektif dan
perbuatan itu dapat dicelakan kepada pelakunya.
Menurut ketentuan yang diatur dalam hukum pidana bentuk-¬bentuk kesalahan terdiri
dari berikut ini.
1. Kesengajaan, yang dapat dibagi menjadi:
a) kesengajaan dengan maksud, yakni di mana akibat dari perbuatan itu diharapkan
timbul, atau agar peristiwa pidana itu sendiri terjadi
b) kesengajaan dengan kesadaran sebagai suatu keharusan atau kepastian bahwa
akibat dari perbuatan itu sendiri akan terjadi, atau dengan kesadaran sebagai suatu
kemungkinan saja.
c) kesengajaan bersyarat (dolus eventualis). Kesengajaan bersyarat di sini diartikan
sebagai perbuatan yang diakukan dengan sengaja dan diketahui akibatnya, yaitu yang
mengarah pada suatu kesadaran bahwa akibat yang dilarang kemungkinan besar
terjadi.
Menurut Sudarto Kesengajaan bersyarat atau dolus eventualis ini disebutnya dengan
teori “apa boleh buat” sebab di sini keadaan batin dari si pelaku mengalarni dua hal,
yaitu:
1 ) akibat itu sebenamya tidak dikehendaki, bahkan ia benci atau takut akan
kemungkinan timbulnya akibat tersebut;
2) akan tetapi meskipun ia tidak menghendakinya, namun apabila akibat atau keadaan
itu timbul juga, apa boleh buat, keadaan itu harus diterima. Jadi berarti bahwa ia sadar
akan risiko yang harus diterimanya. Maka di sini pun terdtpat suatu pertimbangan yang
menimbulkan kesadaran yang sifatnya lebih dari sekadar suatu kemungkinan biasa
saja. Sebab sengaja dalam dolus eventualis ini, juga mengandung unsur¬unsur
mengetahui dan menghendaki, walaupun sifatnya sangat samar st;kali atau dapat
dikatakan hampir tidak terlihat sama sekali.
2. Kealpaan, sebagaimana yang disebut dalam Pasal 359 KUHP.
kealpaan itu paling tidak memuat tiga unsur.
1. Pelaku berbuat lain dari apa yang seharusnya diperbuat menurut hukum tertulis
maupun tidak tertulis, sehingga sebenarnya ia telah melakukan suatu perbuatan
(termasuk tidak berbuat) yang melawan hukum.
2. Pelaku telah berlaku kurang hati-hati, ceroboh, dan kurang berpikir panjang.
3. Perbuatan pelaku itu dapat dicela, oleh karenanya pelaku harus bertanggung jawab
atas akibat perbuatannya tersebut.
Berpedoman kepada unsur-unsur kealpaan tersebut, dapat dipahami bahwa kealpaan
dalam pelayanan kesehatan mengandung pengertian normatif yang mudah dilihat,
artinya perbuatan atau tindakan kealpaan itu selalu dapat diukur dengan syarat-syarat
yang lebih dahulu sudah dipenuhi oleh seorang dokter. Ukuran normatifnya adalah
bahwa tindakan dokter tersebut setidak-tidaknya sama dengan apa yang di¬harapkan
dapat dilakukan teman sejawatnya dalarn situasi yang sama.
Dalam kepustakaan, disebutkan bahwa untuk menentukan adanya kesalahan yang
mengakibatkan dipidananya seseorang harus dipenuhi empat unsur.
1. Terang melakukan perbuatan pidana, perbuatan itu bersifat melawan hukum.
2. Mampu bertanggungjawab.
3. Melakukan perbuatan tersebut dengan sengaja atau karena kealpaan.
4. Tidak adanya alasan pemaaf.
Jika dihubungkan dengan profesi dokter dalam pelayanan kesehatan timbul
pertanyaan, apakah unsur kesalahan tersebut dapat diterapkan terhadap perbuatan
yang dilakukaii oleh dokter? Untuk menjawab pertanyaan tersebut harus dilihat apakah
kesalahan yang dilakukan oleh dokter, tedadi karena kurangnya pengetahuan,
kurangnya pengalaman dan atau kurangnya kehati-hatian, padahal diketahui bahwa jika
dilihat dari segi profesionalisme, seorang dokter dituntut untuk terus mengembangkan
ilmunya. Di samping itu, kehati-hatian dan ketelitian seorang dokter dalam melakukan
perawatan sangat menentukan, oleh karena itu unsur-unsur sebagaimana tersebut di
atas dapat diterapkan.
Unsur (elemen) Delik Obyektif
Menurur Hall bahwa actus reus itu adalah bagian fisik dari delik, yaitu perbuatan yang
dituduhkan. Suatu perbuatan fisik . jika Ibu X menembak dan membunuh Ibu T,
perbuatannya adalah menarik picu senjata.
Elemen obyektif dari gambaran diatas adalah elemen delik yang berkaiatan dengan
perbuatan (act, daad) dari pelaku delik, yang terdiri dari :
(1). Wujud perbutan (aktif, pasif), atau akibat yang kelihatan
(2). Perbuatan itu harus bersifat melawan hukum;
(3). Dalam melakukan perbuatan itu tidak ada Dasar Pembenar.
A.1. Wujud Perbuatan
Suatu delik dapat diwujudkan dengan kelakuan aktif ataupun kelakuan pasif, sesuai
dengan uraian delik yang mensyaratkannya (Zainal Abidin, 1995 : 236). Missal delik
pencurian biasa (Pasal 362 KUHP) wujud perbuatannya adalah mengambil barang
orang lain sebagian atau seluruhnya. Misal lagi delik tidak memenuhi panggilan
pengadilan sebagai saksi, ahli, juru bahasa (Pasal 224 KUHP). Jadi wujud perbuatan
dimaksud adalah aktif atau pasif, meliputi jenis delik komisi, atau jenis delik omisi, atau
delictum commissionis per ommissionem commissa, atau delik tidak mentaati larangan
dilanjutkan dengan cara tidak berbuat.
A.2. Bersifat Melawan Hukum
Perbuatan yang disyaratkan untuk memenuhi elemen delik obyektif adalah bahwa
dalam melakukan perbuatan itu harus ada elemen melawan hukum
(wedderectelijkheids, unlawfull act, onrechtmatigedaad). Suatu perbuatan melawan
hukum adalah perbuatan yang dilarang untuk dipatuhi, atau diperintahkan untuk tidak
dilakukan seperti yang tercantum dalam aturan pidana.
Contoh : pada waktu ada bahaya banjir, A menolong seorang bayi yang hanyut terbawa
air, bayi itu berhasil diselamatkan dan dipeliharanya dengan baik, sehingga suatu hari
datanglah orangtua bayi itu kapada A untuk meminta kembali bayi tersebut. A tidak
dapat menuntut ganti kerugian atas bayi itu kepada kadua orangtua bayi, sebab pada
saat itu A melaksanakan perbuatan menurut hukum (zakwaarneming). Sebaliknya
dalam bahaya banjir tersebut sementar orang menyelamatkan barang-barangnya, B
berkesempatan untuk masuk rumah orang dan mengambil barang-barang berharga,
maka perbuatan B adalah perbuatan yang dilarang oleh hukum yakni melakukan delik
pencurian berkualifikasi (Pasal 363 KUHP).
Hukum Pidana membedakan sifat melawan hukum menjadi 2 (dua) macam arti utama,
yaitu :
(1). Melawan hukum dalam arti formil; dan
(2). Melawan hukum dalam arti meteriil.
Zainal Abidin (1995 : 242) menjelaskan bahwa dikatakan formeel (sic) karena undang-
undang pidana melarang atau memerintahkan perbuatan itu disertai ancaman sanksi
kepada barang siapa yang melanggar atau mengabaikannya.
Disebut materiel (sic) oleh karena sekalipun suatu perbuatan telah sesuai dengan
uraian di dalam undang-undang, masih harus diteliti tentang penilaian masyarakat
apakah perbuatan itu memang tercela dan patut dipidana pembuatnya atau tidak
tercela, ataupun dipandang sifatnya terlampau kurang celaannya sehingga pembuatnya
tak perlu dijatuhi sanksi pidana, tetapi cukup dikenakan sanksi dalam kaidah hukum
lain, atau kaidah sosial lain.
Arti perbuatan melawan hukum formil adalah unsur-unsur yang bersifat konstitutif, yang
ada dalam setiap rumusan delik dalam aturan pidana tertulis, walaupun dalam
kenyataanya tidak dituliskan dengan tugas bersifat melawan hukum. Dengan demikian
dalam hal tidak dicantumkan berarti unsur melawan hukum diterima sebagai unsur
kenmerk (diterima secara diam-diam, implicit). Melawan hukum formil lebih
mementingkan kepastian hukum (rechtszekerheids) yang bersumber dari asas legalitas
(principle of legality, legaliteit benginsel).
Arti perbuatan melawan hukum materiil adalah unsur yang berkaitan dengan asas
culpabilitas (penentuan kesalahan pembuat delik), atau nilai keadilan hukum yang ada
dalam masyarakat, dan tingkat kepatutan dan kewajaran.
Sudarto (1990 : 78) menjelaskan bahwa sifat melawan hukum materiil adalah suatu
perbuatan itu melawan hukum atau tidak; tidak hanya yang terdapat dalm undang-
undang (yang tertulis) saja, akan tetapi harus dilihat berlakunya asas-asas hukum yang
tidak tertulis. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan bertentangan
dengan hukum tertulis dan juga bertentangan dengan hukum yang tidak tertilis
termasuk tata susila dan sebagainya.
A.3. Tidak Ada Dasar Pembenar (Rechtsvaadigingsgrond, fait justification)
Suatu perbuatan dikualifikasi sebagai telah terjadi delik, bila dalam perbuatan itu tidak
terkandung Dasar Pembenar, sebagai bagian dari Elemen Delik Obyektif (actus reus).
Dimaksudkan dengan Dasar Pembenar adalah dasar yang menghilangkan sifat
melawan hukum dari perbuatan yang sudah dilakukan pembuat delik. Artinya jika
perbuatan itu mengandung dasar pembenar berarti salah satu unsur delik (elemen
delik) obyektif tidak terpenuhi, yang mengakibatkan pelaku (pembuat) delik tidak dapat
dikenakan pidana. Dalam KUHP terdapat beberapa jenis Dasar Pembenar, yaitu (1)
Daya Paksa Relatif (vis compulsiva), (2) Pembelaan Terpaksa, (3) Melaksanakan
Perintah Undang-Undang, dan (4) Melaksanakan Perintah Jabatan Yang Berwenang.
3.1 Daya Paksa relatif (vis compulsive)
Jenis Dasar Pembenar ini sebagaimana diatur dalam Pasal 48 KUHP, artinya
seseorang melakukan sesuatu perbuatan karena pengaruh atau tekanan daya paksa
yang sebenarnya masih dapat ditahan, atau masih berwujud alternatif tindakan tindak
dipidana.
Contoh : A mengancam B (kasir bank), dengan meletakkan pistol di dada B untuk
menyerahkan uang yang disimpan oleh B. B dapat menolak. B dapat berpikir dan
menentukan kehendaknya, jadi tidak ada paksaan absolut. Memang ada paksaan,
tetapi masih ada kesempatan bagi B untuk mempertimbangkan; apakah ia melnggar
kewajibannya untuk menyimpan uang/ surat-surat berharga itu dan menyerahkannya
kepada A; atau sebaliknya, ia tidak menyerahkan dan ditembak mati ole A. sifat dari
daya paksa ini harus datang dari luar diri pembuat delik.
Di samping daya paksa relatif atau vis compulsive, atau disebut juga paksa dalam arti
sempit; sebetulnya ada juga yang dinamakan “Keadaan Darurat, atau keadaan
Terpaksa (noodtoestand)”. Noodtoestand ini terbagi dalam 3 (tiga) tipe keadaan
darurat, yaitu :
(1). Benturan antara dua kepentingan hukum;
(2). Benturan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum;
(3). Benturan antara dua kewajiban hukum.
Contoh (1) :
Kasus Papan Carniades. Ada dua orang yang karena kapal tenggelam, dan untuk
menyelamatkan diri berpegangan pada sebuah papan, padahal papan itu tidak mungkin
dapat digunakan oleh dua orang. Bila keduanya berpegangan pada papan itu, maka
keduanya pasti tenggelam. Salah seorang mendorong temannya sehingga mati
tenggelam, dan yang satunya terhindari dari bahaya maut. Orang yang mendorong itu
tidak dapat dipidana, karena dalam keadaan darurat.
Contoh (2) :
Kasus optician. Ada seorang pemilik took kacamata menjual kacamata kepada
seoarang yang kacamatanya hilang, padahal waktu itu sudah saatnya took ditutup.
Sebab jika tidak menutup took pada waktunya dituduh melanggar peraturan penutupan
took. Sipembeli ternyata tanpa kacamata tidak dapat kembali ke rumahnya sebab tidak
dapat mengendarai kendaraan atau berjalan sama sekali. Penjual kacamata (optician)
tidak dapat dipidana dengan tuduhan melanggar aturan penutupan took, sebab
bertindak dalam keadaan memaksa.
Contoh (3) :
Kasus Kesaksian Dua Pengadilan. Seorang dipanggil menjadi saksi pada dua
pengadilan negeri yang berbeda, tetapi pada hari yang sama dan jam yang sama pula,
terpaksa membatalkan salah satu panggilan pengadilan dan pergi memenuhi panggilan
pengadilan yang satunya. Pengadilan yang tidak didatangi oleh saksi, tak dapat
menuntut dan mengenakan pidana dengan tuduhan melanggar ketentuan Pasal 224
KUHP.
3.2 Pembelaan Terpaksa
Pembelaan terpaksa ini sebagaiman dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) KUHP, yang
menegaskan bahwa “Tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang
terpaksa dilakukan untuk membela diri sendiri atau orang lain; membela kehormatan
kesusilaan atau harta benda sendiri atau orang lain terhadap serangan atau ancaman
serangan yang sangat dekat saat itu yang melawan hukum”.
3.3 Melaksanakan Perintah undang-undang, jika termasuk dalam Dasar Pembenar,
seperti dimaksud Pasal 50 KUHP yang menegaskan bahwa “Barangsiapa melakukan
perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang tidak dipidana”.
3.4 Melaksanakan perintah Jabatan Berwenang, sebagaimana dimaksud dalam Pasal
51 ayat (1) KUHP, yang menegaskan bahwa “ Barangsiapa melakukan perbuatan untuk
melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak
dipidana”.
Unsur (Elemen) Delik Subyektif
Unsur (elemen) delik subyektif dalam Hukum Pidana Common Law dinamakan mens
rea. Daniel Hall (1991 : 56) menjelaskan bahwa Mens rea adalah bagian dari sikap
batin (sikap mental), bagian dari niat (pikiran) yang menjadi bagian pula dari
pertanggungjawaban pidana.
Jadi Mensrea itu berkenaan dengan kesalahan dari pembuat delik (dader), sebab
berkaitan dengan sikap batin yang jahat (criminal intent). Mens rea berkaitan pula
dengan asas geen straf zonder schuld (Tiada pidana tanpa kesalahan). Didalam Hukum
Pidana yang beraliran Anglo-saxon terkenal asas an act does not a person guality
unless his mind is guality (satu perbuatan tidak menjadikan seseorang itu bersalah,
terkecuali pikirannya yang salah).
Elemen Delik Subyektif atau unsur mens rea dari delik atau bagian dari
pertanggungjawaban pidana yang menurut Zainal Abidin (1995 : 235) terdiri dari :
(1). Kemampuan bertanggungjawab (toerekeningsvatbaarheids);
(2). Kesalahan dalam arti luas, yang terdiri dari :
a). Dolus yang di bagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1). Sengaja sebagai niat (oogmerk)
2). Sengaja sadar akan kepastian atau keharusan (zekerheidsbewustzijn);
3). Sengaja sadar akan kemungkinan (dolus eventualis, mogelijk-bewutstzijn).
b). Culpa, yang di bagi menjadi dua jenis, yaitu :
1). Culpa lata yang disadari;
2). Culpa lata yang tak disadari (lalai).
(3). Tidak ada dasar pemaaf.
Elemen delik subyektif terdiri dari :
(1). Kemampuan bertanggungjawab;
(2). Dilakukan dengan dolus dan culpa;
B.1. Kemampuan Bertanggungjawab (toerekeningsvarbaarheids)
KUHP tidak mengatur tentang kemampuan bertanggungjawab, yang diatur justru
kebalikannya, yaitu ketidakmampuan bertanggungjawab (Pasal 44 KUHP). Ada yang
mendefinisikan bahwa mampu bertanggungjawab adalah mampu untuk menginsyafi
sifat melawan hukum dari perbuatan; dan sesuai keinsyafan itu mampu untuk
menentukan khendaknya (Roeslan Saleh, 1983 : 80). Sementara itu Van hamel
(Sudarto, 1990 : 93) menyatakan bahwa kemampuan bertanggungjawab adalah suatu
keadaan normalitas psychis dan kematangan yang berwujud 3 (tiga) kemampuan
berikut ini :
1). Mampu mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya sendiri;
2). Mampu untuk menyadari bahwa perbuatannya itu menurut pandangan masyarakat
tidak boleh dilakukan;
3). Mampu untuk menentukan kehendaknya atas perbuatannya itu.
Menurut Roeslan Saleh (1983 : 80) bahwa orang mampu bertanggungjawab apabila
memenuhi 3 (tiga) syarat berikut :
1). Dapat menginsyafi makna yang senyatanya dari perbuatannya;
2). Dapat menginsyafi bahwa perbuatannya itu tidak dapat dipandang patut dalam
pergaulan masyarakat;
3). Mampu untuk menentukan niat atau kehendaknya dalam melakukan perbuatan.
Ukuran sederhana yang dipakai adalah mengedepankan 2 (dua) factor kehendak. Akal
bisa membedakan perbuatan yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Kehendak
bisa disesuaikan dengan keinsyafan atau kesadaran terhadap perbuatan yang boleh
dan yang tidak boleh dilakukan seseorang. Contoh epilepsy, hysteria, psikhastemi.
Hakim dianjurkan untuk tidak terpengaruh dengan hasil pemeriksaan psikiatri. Opini
psikiatri adalah tetap dijadikan salah satu alat bukti (keterangan ahli), sesuai ketentuan
Pasal 184 ayat (1) KUHAP.
B.2. Dolus dan Culpa
2.a. Dolus (opzet, intent)
Dolus dimaksud kesengajaan melakukan suatu delik. Dijelaskan dalam Memorie van
Toelichting (M.v.T) bahwa sengaja adalah : “de (bewuste) richting van den will op een
bepaald misdrijv”, yaitu kehendak yang disadari yang ditujukan melakukan kejahatan
tertentu (Andi Hamzah, 1991 : 84).
Penentuan sengaja melakukan delik dikaji melalui 2 (dua) teori penentuan kesengajaan,
yaitu teori willens en weten (menghendaki dan mengetahui atau membayangkan).
Moeljatno (1983 : 17) menjelaskan teori willens en weten sebagai berikut :
Dikehendaki dengan maksud segala kegiatan baik perbuatan persiapan, perbuatan
pelaksanaan, dan hasil yang menjadi tujuan pelaku. Sedangkan teori pengetahuan;
pelaku mengetahui akibat-akibat dari perbuatannya.
Missal delik pembunuhan, bahwa pelaku delik mulai mengasah pedangnya, menjaga
korban masuk pintu rumah, mengayun pedang tepat pada leher korban, dan korban
meninggal dunia. Contoh tersebut jelas terlihat bahwa perbuatan persiapan adalah
mengasah pedang; perbuatan pelaksanaan berdiri dibalik pintu, menebas leher korban;
akhirnya korban meninggal dunia adalah akibat yang diketahui dan dikehendaki oleh
pelaku delik.
Hamzah (1991 : 99) berpendapat bahwa teori willens en weten sebagai berikut dalam
kehendak dengan sendirinya sudah diliputi pengetahuan. Orang yang menghendaki
sesuatu terlebih dahulu tentu harus tahu telah mempunyai pengetahuan tentang
sesuatu itu. Tidak demikianlah dengan pengetahuan. Sesuatu yang diketahui oleh
seseorang belum tentu juga dikehendaki olehnya. Hamzah sebetulnya lebih obyektif
dan antisipatif dalam menerapkan teori willens en weten. Sebab antara keduanya
(pengetahuan dan kehendak) tidak selalu bersesuaian atau bersamaan. Contoh dalam
delik yang dilakukan dibawah ancaman (pengaruh daya paksa).
Penentuan sengaja melakukan delik dapat juga dipergunakan teori membayangkan
(voorstelling theori) yang dipelopori oleh Frank. Hamzah (1991 : 85) menguraikan teori
membayangkan dari Frank sebagai berikut :
Manusia tidak mungkin dapat menentukan atau menghendaki sesuatu akibat. Ia hanya
dapat membayangkan, menginginkan, mengharapkan adanya suatu akibat.
Suatu gerakan otot seperti menembak dengan sengaja tidak selalu menimbulkan akibat
tembakan dapat meleset atau tepat sasaran. Adalah menjadi sengaja jikalau suatu
akibat (yang timbul karena suatu perbuatan) dibayangkan sebagai maksud (terhadap
perbuatan itu), dan karena tindakan yang bersangkutan dilakukan sesuai dengan
bayangan yang terlebih dahulu dibuat oleh pembuat delik.
Ada 3 (tiga) corak kesengajaan melakukan delik, yaitu :
1). Sengaja sebagai maksud (opzet als oogmerk);
2). Sengaja sadar akan keharusan atau kepastian (opzet bij zekerheids bewustzijn);
3). Sengaja sadar akan kemungkinan (opzet bij moogelijkbewustzijn) atau sering
dikenal dengan sebutan dolus eventualis.
a.1) Opzet als Oogmerk (sengaja sebagai maksud)
Sengaja sebagai maksud melakukan delik adalah sengaja yang bercorak paling
sederhana, yaitu perbuatan dan akibat seperti yang dikehendaki atau dibayangkan oleh
pembuat delik bertujuan menimbulkan akibat yang dilarang. Pembuat delik
menghendaki perbuatan dan akibat dari perbuatannya itu.
Contoh Badu menghendaki Amin meninggal dunia. Badu membidik pistolnya kea rah
jantung Amin, kemudian melepaskan tembakan tepat mengena dada Amin, akibatnya
Amin meninggal dunia. Kasus sederhana ini memperlihatkan bahwa kematian Amin
dikehendaki Badu, dan Badu telah membayangkan, serta mengetahui bahwa
tembakannya menyebabkan Amin meninggal dunia, sebab memang itulah tujuan yang
ingin dicapai Badu.
a.2) Opzet bij Zekerheidsbewustzijn (sengaja sadar akan kepastian)
Sengaja bercorak kepastian atau keharusan adalah sengaja melakukan delik yang
dapat diketahui dan dibayangkan meski tidak dikehendaki ada akibat lain yang
menyertai tindakan pembuat delik.
Contoh Joni menembak Jalil yang sedang duduk dibalik kaca jendela (disebelah
warung kopi dekat pasar Abepura). Joni tidak menghendaki kaca pecah, sebab
kesempatan itu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Akibat tembakan Joni kaca jendela
warung kopi itu pecah, peluru Joni mengena kepala Jalil. Kasus ini memperlihatkan
bahwa kaca jendela yang pecah merupakan suatu keharusan atau kepastian yang
memang sengaja dilakukan oleh Joni.
Dalam corak sengaja kedua ini sebetulnya ada dua hal yang perlu dijadikan pegangan,
yaitu :
(1). Ada akibat yang memang dituju oleh pembuat delik;
(2). Ada akibat yang tidak dikehendaki tapi akibat itu harus ada untuk mencapai akibat
pertama
a.3) Opzet bij Moogelijkbewustzijn (sengaja sadar akan kemungkinan)
Corak kesengajaan melakukan delik yang ketiga adalah sengaja sadar akan
kemungkinan, atau sering disebut dolus eventualis. Penjelasan terhadap corak
kesengajaan yang ketiga ini didalam Hukum Pidana terkenal dengan teori Inkauf
Nehmen.
Zainal Abidin (1995 : 293) menerjemahkan Inkauf Nehmen sebagai teori apa boleh
buat, sebab resiko yang diketahui kemungkinan adanya itu (resiko) sungguh-sungguh
timbul, di samping hal yang dimaksud, apa boleh buat pembuat delik berani memikul
resiko yang tidak dikehendaki.
Zainal Abidin (1995) mengajukan dua syarat bagi kelengkapan teori inkauf nehmen,
yaitu :
(a) Terdakwa (pembuat delik) mengetahui kemungkinan adanya akibat atau keadaan
yang merupakan delik;
(b) Sikapnya terhadap kemungkinan itu andaikata sungguh timbul akibat, ialah apa
boleh buat, dapat disetujui dan berani mengambil resiko.
Intinya bahwa keadaan tertentu yang kemungkinan dipikir atau dibayangkan terjadi dan
memang benar terjadi.
Contoh klasik Kue Tart :
Kue tart beracun dikirim oleh X dengan maksud membunuh A. X mengetahui bahwa
dan kemungkinan Istri A juga akan memakannya begitu pula anak-anak dari A. meski X
tahu tetapi tetap saj kue tart beracun itu dikirim sebagai parsel hari raya dengan
harapan hanya dimakan oleh A, jika istri A turut makan, maka tujuannya sudah
terpenuhi. Ada sengaja sebagai maksud terhadap matinya A, dan sengaja sebagai
kemungkinan terhadap matinya istri A. Sehingga tidak ada salahnya jika berpendapat
bahwa kesengajaan sadar akan kemungkinan merupakan gabungan dari corak sengaja
sebagai maksud dan sengaja sadar akan kepastian atau keharusan.
Sudarto (1990 : 106) juga mengajukan dua syarat tentang adanya Inkauf Nehmen, yaitu
:
(1). Akibat itu sebenarnya tidak dikehendaki, bahkan ia benci atau takut akan
kemungkinan timbulnya akibat itu;
(2). Akan tetapi meskipun ia tidak menhendakinya, namun apabila toh keadaan/ akibat
itu timbul, apa boleh buat hal itu diterima juga, ini berarti ia berani memikul resiko.
Bila disimpulkan teori inkauf nehmen ini lebih disederhanakan dengan teori
kemungkinan akibat tak tercegah.
Sebenarnya pembicaraan tentang kesengajaan melakukan delik ada juga yang
membedakan antara :
(1). Kesengajaan berwarna (geklurd); dan
(2). Kesengajaan tak berwarna (kleurloos).
Geklurd mengisyaratkan bahwa pembuat delik harus tahu bahwa perbuatan yang
dilakukan berkaitan dengan akibat yang melawan hukum (akibat yang dilarang).
Sengaja ini dalam arti dolus molus (criminal intent, boos opzet), si pembuat delik sadar
perbuatannya merupakan perbuatan yang tidak boleh dilakukan atau memang dilarang.
Sengaja tak berwarna (kleurloos) disyaratkan bahwa pembuat delik cukup saja
mengetahui perbuatannya itu sebagai perbuatan yang tidak boleh dilakukan (dilarang)
tetapi tidak perlu tahu apakah bersifat malawan hukum ataukah tidak. Akan tetapi
bentuk sengaja tak berwarna (kleurloos) ini dalam praktek masih sulit untuk
membuktikannya, dan inilah sekaligus keberatan dari corak kesengajaan tak berwarna
itu diterima.
Disamping bentuk sengaja melakukan delik diatas, dalam Hukum Pidana masih dikenal
pula adanya dolus premeditatus dan dolus repentinus.
Dolus premeditatus terdapat dalam Pasal 340 KUHP (delik pembunuhan berencana),
Pasal 353 KUHP (delik penganiayaan berencana), Pasal 355 KUHP (delik
penganiayaan berat yang direncanakan lebih dahulu). Dolus premeditatus tersebut
menyebabkan lahirnya pemberatan pidana. Menurut Memorie van Toelichting (M.v.T)
bahwa rencana lebih dahulu disebut juga voorbedachterade mensyaratkan jangka
waktu untukmenimbang dengan tenang. Untuk itu dipandang sudah cukup bila pembuat
delik untuk melaksanakan kejahatan mempunyai waktu untuk memperhitungkan apa
yang akan dilakukannya.
Satochid Kartanegara (tebit tanpa tahun, 332 enjelaskan bahwa dolus premeditatus
berarti dengan tenang, yaitu ditetapkan dengan pikiran dan keadaan yang tenang. Ada
pendapat yang menyatakan bahwa dolus premeditatus bukanlah bentuk atau corak
kesengajaan, tetapi cara kesengajaan.
Dolus repentinus ialah kebalikan dari dolus premeditatus, yaitu sikap batin pembuat
delik yang secara langsung timbul, missal karena naik pitam seketika, atau situasi
kejiwaan yang menyebabkan pembuat delik terguncang hebat perasaannya lalu
membunuh, mencuri, menganiaya dan sebagainya.
2.b. Culpa
Culpa adalah kebalikan dari sengaja melakukan delik. Culpa terbagi manjadi culpa lata
dan culpa lepis (kelalaian yang sedemikian ringannya sehingga tidak menyebabkan
seseorang dapat dipidana). Focus yang dibicarakan adalah berkaiatan dengan culpa
lata (kelalaian yang besar, kesalahan berat). Bila dikatakan kesalahan, maksudnya
ialah kesalahan dalam arti sempit yakni hanya merupakan terjemahan dari culpa, bukan
kesalahan dalam arti luas yang mencakup kesengajaan.
Disamping pembagian culpa lata dan culpa lepis; didalam culpa lata sendiri terbagi dua
yaitu antara culpa lata yang disadari dan culpa lata tak disadari. Pembagian culpa lata
ini sebetulnya terdapat dalam Pasal 7 ayat (3) Criminal Code of Yugoslavia, yaitu :
Culpa lata disadari; bila mana pembuat delik menyadari bahwa dari tindakannya dapat
mewujudkan suatu akibat yangdilarang oleh undang-undang, tetapi dia beranggapan
secara keliru bahwa akibat itu tidak akan terjadi atau ia mampuuntuk mencegahnya;
Culpa lata tak disadari; bilamana pembuat delik tidak menyadari kemungkinan akan
terwujudnya akibat, sedangkan didalam keadaan ia berbuat oleh karena kualitas
pribadinya ia seharusnya dan dapat menyadari kemungkinan itu.
Dalam Buku II KUHP terdapat beberapa pasal yang memuat delik-delik culpa, contoh :
(1). Pasal 188 KUHP : karena kealpaan menimbulkan letusan, kebakaran.
(2). Pasal 231 KUHP : karena kealpaan sipenyimpan menyebabkan hilangnya barang
yang disita;
(3). Pasal 359 KUHP : karena kelalaian mengakibatkan matinya orang;
(4). Pasal 360 KUHP : karena kelalaian menyebabkan orang luka berat;
(5). Pasal 409 KUHP : karena kealpaan mengakibatkan alat-alat perlengkapan jalan
kereta api hancur.
B.3. Tidak Ada Dasar Pemaaf (schulduitsluitingsgrond)
Dasar pemaaf menjadi bagian penting dari pertanggungjawaban pidana, oleh karena itu
harus dipertimbangkan dalam menentukan kesalahan pelaku (pembuat delik). Sebab
dasar pemaaf adalah dasar yang menghilangkan kesalahan pembuat delik, sehingga
pembuat delik menjadi tidak dapat dipidana. Dasar pemaaf dalam KUHP diatur dalam
Buku I Bab III dengan judul Bab (title) Hal-hal yang Menghapuskan, Mengurangi atau
Memberatkan Pidana
Dasar pemaaf yaitu unsur-unsur delik memang sudah terbukti namun unsur
kesalahantak ada pada pembuat, jadi terdakwanya dilepaskan dari segala tuntutan
hukum. Termasuk dasar pemaaf adalah :
(1). Daya Paksa Mutlak (vis absoluta); Pasal 48 KUHP
(2). Pembelaan terpaksa yang melampaui batas; Pasal 49 ayat (2) KUHP;
(3). Perintah jabatan yang tidak sah; Pasal 51 ayat (2) KUHP;
(4). Perbuatan yang dilakukan oleh orang yang cacad jiwa dalampertumbuhan, atau
terganggu karena penyakit; Pasal 44 KUHP.
3.1 Daya Paksa Mutlak (Vis Absoluta)
Daya paksa mutlak termasuk didalam Dasar Pemaaf, seperti yang dimaksud dalam
Pasal 48 KUHP yang menegaskan bahwa “Tidak dipidana seseorang yang melakukan
perbuatan yang didorong oleh daya paksa”. Bentuk daya paksa ini dpata disebabkan
oleh kekuatan manusia atau alam. Jadi dalam pengertian bahwa pembuat tidak dapat
berbuat lain, pembuat tidak dapat melawan, tak dapat mengadakan pilihan selain dari
pada berbuat demikian. Contoh seseorang yang dihipnotis lalu tak sadar lari tanpa
bisan didepan umum, orang ini tidak dapat dipidana melanggar Pasal 281 KUHP.
Contoh lain seorang ditangkap oleh orang yang kuat, lalu dilemparkan keluar jendela
kaca, sehingga kaca jendela orang lain pecah, maka orang yang dilempar iti tidak dapat
dipidana melanggar Paal 406 KUHP.
3.2 Pembelaan Terpaksa (Darurat) Melampaui Batas
Pasal 49 ayat (1) menegaskan bahwa “Tidak dapat dipidana seseorang melakukan
perbuatan yang terpaksa dilakukan untuk membela dirinya sendiri, atau orang lain,
membela peri kesopanan sendiri atau orang lain terhadap serangan yang melawan
hukum yang mengancam langsung atau seketika itu juga” .
Perlu dicatat bahwa ada dua hal yang harus diperhatikan dalam pembelaan terpaksa
(darurat) ini, yaitu : (a) ada serangan, (b) ada pembelaan yang perlu diadakan terhadap
serangan itu. Patut diperhatikan juga bahwa tidak semua serangan masuk dalam
kategori pembelaan yang dimaksud oleh pasal ini, kecuali :
a). Ada serangan itu seketika sifatnya;
b). Serangan itu langsung mengancam;
c). Serangan itu harus melawan hukum;
d). Serangan itu ditujukan pada badan, peri kesopanan, harta benda sendiri maupun
orang lain.
Perbedaan pokok antara pembelaan darurat biasa (noodweer) pembelaan darurat yang
melampaui batas (noodweerexces); Andi Zainal Abidin Farid (1995 : 200) terletak pada
3 (tiga) perbedaan berikut ini :
a). Pada noodweer, sifat melawan hukum perbuatan hilang, sedangkan pada
noodweerexces perbuatan tetap melawan hukum, tetapi dasar sehingga tidak dapat
dipidananya pembuat terletak pada keadaan khusus, dalam mana pembuat berada,
disebabkan oleh karena serangan yang mengancam seketika.
b). Pada noodweer, sipenyerang tak boleh ditangani atau dipukuli lebih daripada
maksud pembelaan yang perlu, sedangkan pada noodweerexces pembuat melampaui
batas-batas pembelaan darurat oleh karena kegoncangan jiwa hebat;
c). Noodweer adalah suatu dasar pembenar, sedangkan noodweerexces merupakan
dasar pemaaf (schuluitingsgrond).
3.3 Perintah Jabatan Tidak sah (tidak berwenang)
Pasal 51 ayat (2) KUHp menegaskan bahwa Perintah Jabatan tanpa wewenang, tidak
menyebabkan hapusnya pidan kecuali jika yang diperintah dengan itikad baik mengira
bahwa perintah diberikan dengan wewenang dan pelaksanaanya termasuk dalam
lingkungan pekerjaannya.
Jadi syarat yang dimaksud oleh Pasal 51 ayat (2) KUHP adalah :
a). Jika pelaku mengira dengan itikad baik (jujur) bahwa perintah itu sah;
b). Perintah itu terletak dalam lingkungan wewenang dari orang yang diperintah.
3.4 Perbuatan yang dilakukan oleh orang yang cacad jiwa dalam pertumbuhan, atau
terganggu karena penyakit.
Pasal 44 ayat (1) KUHP menegaskan bahwa “Barangsiapa melakukan perbuatan yang
tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacad dalam pertumbuhan,
atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana”.
Ketentuan Pasal 44 ayat (1)KUHP ini berkaitan erat dengan ketidakmampuan
bertanggungjawab. Secara kualitatif Pompe (Zainal Abidin, 1995 : 190) membuat 3
(tiga) criteria kualitatif tentang kemampuan bertanggungjawab seperti dimaksud dalam
Pasal 44 ayat (1) KUHP sebagai berikut :
a). Kemampuan berpikir (psychis) pembuat (dader) yang memungkinkan ia menguasai
pikirannya yang memungkinkan ia menentukan perbuatannya;
b). Dan oleh sebab itu, ia dapat memahami makna dan akibat perbuatannya;
c). Dan oleh sebab itu, ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan pendapatnya.
Ketidakmampuan bertanggungjawab dapat menghapus kesalahan terdakwa, dengan
demikian dikategorikan sebagai dasar pemaaf dan bukan dasar pembenar.