Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memiliki dua potensi, yaitu potensi
subjektif dan potensi objektif. Melalui potensi subjektifnya, manusia dapat berlaku
sebagai subjek yang mengatur dan mempengaruhi lingkungan, dan dengan potensi
objektifnya, manusia dapat dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya. Artinya
dalam proses pendidikan dan pelatihan, anda disatu pihak perlu melakukannya dan
dipihak lain perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya.
Proses pengisian ini akan menjadi lebih mudah dalam situasi yang memberikan
kebebasan bagi individu untuk mengembangkan potensi dirinya.
Secara antropologis, dapat diyakini bahwa, sebagai makhluk hidup
manusia akan selalu mengalami perubahan, pertumbuhan dan perkembangan.
Proses ini akan berjalan secara alamiah. Pelatihan hanya merupakan upaya
percepatan dan pemberian arah yang lebih tajam dari proses alamiah tersebut, yaitu
mempercepat terjadinya perubahan, pertumbuhan dan perkembangan dalam
pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Sebagai insan yang hidup dalam suatu lingkungan, manusia tidak pernah
terlepas dari kebutuhan akan orang lain, karena adanya keterbatasan dalam dirinya
yang harus ditutupi dengan kehadiran orang lain. Namun, terkadang kebutuhan
akan orang lain lebih sebabkan karena adanya persamaan tujuan maupun motif
yang ingin dicapai. Hal tersebut menyebabkan seseorang berupaya membangun
suatu ikatan untuk menyelesaikan setiap perseolannya dengan cara membangun
perkumpulan yang disebut kelompok. Setiap individu di dalam kelompok akan
mengembangkan kemampuan yang dimiliki untuk pencapaian tujuan. Sehingga
kelompok berperan besar dalam memenuhi pencapaian tujuan para anggotanya.
Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak
bisa hidup sendiri, manusia mesti hidup berkempok dengan sesamanya. Untuk

1
memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang konseling kelompok, lebih
dahulu perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan kelompok.
Untuk itu proses peningkatan kemampuan berkelompok secara dinamis, di
samping dapat menggali dan memperkuat potensi yang ada di dalam diri manusia,
harus jug mampu memberikan pengalaman belajar secara langsung, yang
sekaligus dapat mempengaruhi otak, sebagai sumber intelegensia, jiwa, sebagai
sumber perasaan dan raga, sebagai sumber karya (keterampilan).
Penerapan Dinamika Kelompok selama ini sering dipakai sebagai
pengantar dalam pelaksanaan suatu pelatihan. Fasilitator dalam suatu pelatihan
seringkali menggunakan prinsip atau berbagai permainan dinamika kelompok
dalam berbagai pelatihan. Dinamika kelompok di sini tidak dipandang hanya
sebagai acara perkenalan dalam arti yang sempit, hura-hura dan membuang waktu
saja, tetapi digunakan untuk menunjang keberhasilan dari suatu pelatihan itu
sendiri. Pada prakteknya ada beberapa fasilitator yang belum memahami secara
utuh mengenai dinamika kelompok, baik sebagai sarana penunjang proses
pembelajaran selama pelatihan berlangsung maupun kaitannya dengan upaya
untuk mencapai tujuan pelatihan yang diharapkan.
Dinamika kelompok sebagai suatu metoda dan proses, merupakan salah
satu alat manajemen untuk menghasilkan kerjasama kelompok yang optimal, agar
pengelolaan organisasi menjadi lebih efektif, efisien dan produktif. Sebagai
metoda, dinamika kelompok, membuat setiap anggota kelompok semakin
menyadari siapa dirinya dan siapa orang lain yang hadir bersamanya dalam
kelompok dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Sebagai suatu proses, dinamika kelompok berupaya menciptakan situasi
sedemikian rupa, sehingga membuat seluruh anggota kelompok merasa terlibat
secara aktif dalam setiap tahap perkembangan atau pertumbuhan kelompok, agar
setiap orang merasakan dirinya sebagai bagian dari kelompok dan bukan orang
asing. Dengan demikian diharapkan bahwa setiap individu dalam organisasi

2
merasa turut bertanggung jawab secara penuh terhadap pencapaian tujuan
organisasi yang lebih luas.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan kelompok ?
2. Apa saja komponen sistemik dalam kelompok?
3. Apa saja jenis-jenis dan perbedaan kelompok?
4. Apa pengertian dinamika kelompok?
5. Bagaimana ciri dan prinsip dinamika kelompok?
6. Bagaimana bentuk komunikasi, kepemimpinan dan sinergi dalam kelompok?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kelompok.
2. Untuk mengetahui apa saja komponen sistemik dalam kelompok.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis dan perbedaan kelompok.
4. Untuk memahami pengertian dinamika kelompok
5. Untuk mengetahui ciri dan prinsip dinamika kelompok
6. Untuk memahami bentuk komunikasi, kepemimpinan dan sinergi dalam
kelompok.
D. MANFAAT PENULISAN
1. Manfaat Teoritis
Penulisan ini memberikan informasi tentang konsep dasar kelompok dan
dinamika kelompok kepada mahasiswa, guru BK, dan dosen.
2. Manfaat Praktis
Penulisan ini memberikan informasi kepada mahasiswa dan guru Bk pada saat
studi dilapangan dalam memberikan layanan bimbingan konseling kelompok

3
BAB II

PEMABAHASAN

A. Konsep Dasar Kelompok


1. Pengertian Kelompok
Kelompok adalah sesuatu yang alami, karena manusia sebagai makhluk
sosial akan berinteraksi satu dengan yang lain sehingga membentuk kelompok-
kelompok tertentu. Terdapat banyak definisi dari kelompok, banyak ahli dari
disiplin ilmu yang membahas tentang kelompok. Menurut Shaw (dalam
Zulkarnain, 2013: 1), menyatakan bahwa tidak ada satupun definisi yang tepat
untuk mendeskripsikan pengertian tentang kelompok. Namun, bila ditilik dari
sudut kebenaran, semua definisi tersebut benar karena melihat dari sudut
pandang dan penekanan yang berbeda. Menurut Webster (dalam Kurnanto,
2013: 119), mengatakan bahwa kelompok adalah sejumlah orang atau benda
yang bergabung secara erat dan menganggap dirinya sebagai suatu kesatuan.
Gibson dan Mitchell (dalam Kurnanto, 2013: 120), menjelaskan bahwa
terdapat tiga karakteristik utama dari sebuah kelompok, yaitu:
a. Interaksi, ialah kontak yang terjalin antara anggota kelompok secara face
to face sehingga setiap perilaku individu dalam kelompok dipengaruhi oleh
perilaku anggota kelompok lainnya.
b. Persepsi, menjelaskan bahwa interaksi tidak hanya mengacu kepada siapa
kita berinteraksi, tetapi juga menyangkut persepsi yang dikembangkan oleh
setiap anggota kelompok tentang norma kelompok serta persepsi tentang
kepribadian anggota kelompok lain yang akan saling berbagi di antara
sesama mereka.
c. Saling ketergantungan, yaitu suatu kondisi saling membutuhkan antar
anggota kelompok dalam menyelasikan tugas-tugas kelompok dan dalam
mencapai tujuan-tujuan bersama. Hubungan saling ketergantungan
merupakan dasar dari sebuah kelompok karena suatu tujuan tertentu

4
mungkin sangat sulit dicapai atau bahkan mustahil untuk bisa diselesaikan
oleh individu kecuali diupayakan melalui sarana kelompok.

Berdasarkan pengertian yang telah ada, “kelompok” dapat dikatakan


sebagai suatu unit sosial yang terdiri dari himpunan individu yang memiliki
kesamaan kebutuhan, minat, aspirasi dan memiliki hubungan, interaksi serta
ketergantungan antara satu dengan yang lainnya yang diatur oleh norma-norma
tertentu.

2. Komponen sistemik kelompok


Menurut Folastri, S dan Rangka, I.B. (2016), Komponen dalam
Konseling Kelompok meliputi :
a. Pemimpin Kelompok
Pemimpin kelompok adalah konselor yang berwenang
menyelenggarakan praktik konseling secara profesional. Menurut Ibid
(dalam Yasmin, 2016: 32), pemimpin kelompok adalah konselor yang
terlatih yang berwenang menyelenggarakan praktik konseling profesional.
Yang memiliki keterampilan khusus melaksanakan layanan bimbingan
kelompok dan bidang bimbingan lainnya.
a. karakteristik Pemimpin Kelompok
1) Mampu membentuk kelompok dan mengarahkannya sehingga
terjadi dinamika kelompok dalam suasana interaksi antara
anggota kelompok yang bebas, terbuka, dan demokratik,
konstruktif, saling mendukung dan meringankan beban,
menjelaskan memberikan pencerahan, memberikan rasa nyaman,
menggembirakan, dan membahagiakan, serta mencapai tujuan
kelompok.
2) Berwawasan luas dan tajam sehingga mampu mengisi,
menjembatani, meningkatkan, memperluas dan mensinergikan
konten bahasa yang tumbuh dalam aktifitas kelompok

5
3) Memiliki kemampuan hubungan antar-personal yang hangat dan
nyaman, sabar dan memberi kesempatan demokratik dan
kompromistik ( tidak antagonistik ) dalam mengambil kesimpulan
dan keputusan, tanpa memaksakan dalam ketegasan dan
kelembutan, jujur dan tidak nerpura-pura, disiplin, dan kerja keras
b. Peran Pemimpin kelompok
Sebagaimana yang dikemukakan Prayitno bahwa peranan
pemimpin kelompok dalam bimbingan kelompok ialah:
1) Pemimpin kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan
ataupun campur tangan langsung terhadap kegiatan kelompok.
Campur tang ini meliputi, baik hal-hal yang bersifat isi dari yang
dibicarakan maupun yang mengenai proses kegiatan itu sendiri
2) Pemimpin kelompok memusatkan perhatian pada suasana yang
berkembang dalam kelompok itu, baik perasaan anggota-anggota
tertentu maupun keseluruhan kelompok. Pemimpin kelompok dapat
menanyakan suasanan perasaan yang dialami itu.
3) Jika kelompok itu tampaknya kurang menjurus kearah yang
dimaksudkan maka pemimpin kelompok perlu memberikan arah
yang dimaksudkan itu.
4) Pemimpin kelompok juga perlu memberikan tanggapan (umpan
balik) tentang berbagai hal yang terjadidalam kelompok, baik yang
bersifat isi maupun proses kegiatan kelompok.
5) Lebih jauh lagi, pemimpin kelompok juga diharapkan mampu
mengatur “lalu lintas” kegiatan kelompok, pemegang aturan
permainan (menjadi wasit), pendamai dan pendorong kerja sama
serta suasana kebersamaan. Disamping itu pemimpin kelompok,
diharapkan bertindak sebagai penjaga agar apapun yang terjadi di
dalam kelompok itu tidak merusak ataupun menyakiti satu orang
atau lebih anggota kelompok Sifat kerahasiaan dari kegiatan

6
kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-kejadian yang timbul
di dalamnya, juga menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok.
b. Anggota Konseling
Para anggota konseling dapat beraktivitas langsung dan mandiri
dalam bentuk mendengarkan, memahami, dan merespon kegiatan
konseling. Setiap anggota dapat menumbuhkan kebersamaan yang
diwujudkan dalam sikap antara lain pembinaan keakraban dan keterlibatan
emosi, kepatuhan terhadap aturan kelompok, saling memahami,
memberikan kesempatan dan bertatakrama untuk mensukseskan kegiatan
kelompok.
Tidak semua kumpulan orang atau individu dapat dijadikan
anggota bimbingan kelompok. Untuk terselenggaranya bimbingan
kelompok seorang konselor perlu membnetuk kumpulan individu
menjadi sebuah kelompok yang memiliki persyaratan sebagaimana
tersebut di atas.
Menurut Ibid (dalam Yasmin, 2016: 34), Ada pun peranan
anggota kelompok yaitu,Peranan kelompok tidak akan terwujud tanpa
keikutsertaan secara aktif para anggota kelompok tersebut. Karena dapat
dikatakan bahwa anggota kelompok merupakan badan dan jiwa
kelompok tersebut. Agar dinamika kelompok selalu berkembang.
1) Aktifitas Mandiri
Peran anggota kelompok (AK) dalam layanan BKp dari, oleh
dan untuk para AK itu sendiri. Dari strategi BMB3 masing-masing
AK beraktifitas langsung dan mandiri dalam bentuk:
a. Mendengar, memahami, dan merespon dengan tepat dan positif
(3-M)
b. Berfikir dan berpendapat
c. Menganalisis, mengkritisi dan beragumentasi
d. Merasa, berempati dan bersikap

7
e. Berpartisipasi dalam kegiatan bersama
f. Bertanggung jawab dalam penerapan peran sebagai anggota
kelompok dan pribadi yang mandiri.
2) Aktifitas mandiri masing-masing anggota kelompok itu
diorientasikan pada kehidupan bersama dalam kelompok.
Kebersamaan ini diwujudkan melalui:
a. Pembinaan keakraban dan keterlibatan secara emosional antar Ak
b. Kepatuhan terhadap aturan kegiatan dalam kelompok
c. Komunikasi jelas dan lugas dengan lembut dan bertatakrama
d. Saling memahami, memberi kesempatan dan membantu
e. Kesadaran bersama untuk menyukseskan kegiatan kelompok
c. Jumlah kelompok
Banyak sedikitnya jumlah anggota kelompok sangat menentukan
efektifitas konseling kelompok. Jumlah terlalu sedikit 2-3 orang akan
mengurangi efektifitas konseling kelompok, demikian juga terlalu banyak
akan membuat peserta kurang intensif dan berpartisipasi dalam dinamika
kelompok. Karena ideal jumlahnya tidak lebih dari 10 orang.
d. Homogenitas Kelompok
Perubahan yang intensif dan mendalam memerlukan sumber-
sumber yang variatif. Dengan demikian, layanan konseling
kelompok memerlukan anggota kelompok yang bervariasi. Anggota yang
homogen kurang efektif, sedangkan anggota yang heterogen akan menjadi
sumber yang kaya untuk pencapaian tujuan layanan. Sekali lagi hal ini
tidak ada ketentuan khusus, bisa disesuaikan dengan kemampuan
pemimpin konseling dalam mengelola konseling kelompok
e. Sifat Kelompok
Sifat kelompok dapat tertutup dan terbuka. Terbuka jika pada suatu
saat dapat menerima anggota baru, dan dikatakan tertutup jika
keanggotaannnya tidak memungkinkan adanya anggota baru.

8
Pertimbangan penggunaan terbuka dan tertutup bergantung pada
keperluan. Kelompok tertutup maupun terbuka memiliki keuntungan dan
kerugian masing-masing. Kelompok tertutup akan lebih mampu menjaga
kohesivitasnya (kebersamaan) daripada kelompok terbuka.
f. Waktu Pelaksanaan
Lama waktu penyelenggaraan konseling kelompok bergantung
pada kompleksitas masalah yang dihadapi kelompok. Menurut Latipun
konseling kelompok jangka pendek membutuhkan 8-20 kali pertemuan
dengan frekuensi pertemuan antara antara satu sampai tiga kali dalam
seminggu dengan durasinya 60-90 menit

Dari paparan diatas dapat disimpulkan peneliti bahwa komponen


konseling kelompok adalah pemimpin kelompok, anggota konseling, jumlah
kelompok, homogenitas kelompok, sifat kelompok, dan waktu pelaksanaan.

3. Jenis-jenis dan Perbedaan Kelompok


Sebagian besar orang memiliki pandangan berbeda terhadap jenis-jenis
suatu kelompok. Jenis-jenis kelompok dapat dibedakan atas beberapa
klasifikasi. Menurut Prayitno (dalam Folastri, S dan Rangka, I.B. 2016: 5),
mengklasifikasikan kelompok dalam 4 (empat) jenis, yaitu antara lain:
1. Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder
Kelompok primer yaitu suatu kelompok yang mana hubungan yang
terjalin di dalam kelompok tersebut diwarnai oleh hubungan pribadi yang
akrab dan kerjasama terus menerus di antara para anggotanya. Contoh
kelompok primer yang paling mantap dan telah manjadi bagian terpenting
dalam sejarah peradaban manusia adalah keluarga. Menurut Forsyth (dalam
Folastri, S dan Rangka, I.B. 2016: 6), menyatakan bahwa keluarga sebagai
kelompok karena anggotanya terhubung karena adanya kesamaan genetik
dan ikatan sosio-emosional yang sangat bermakna bagi setiap anggotanya.

9
Sementara itu, kelompok sekunder yaitu suatu kelompok yang mana
hubungan yang terjalin di dalam kelompok tersebut diwarnai oleh arah
kegiatan dan gerak gerik kelompok itu. Contoh dari kelompok sekunder
dapat dijumpai pada kelompok partai politik, kelompok keagamaan, dan
kelompok para ahli (profesi) pada bidang tertentu.
2. Kelompok Sosial dan Kelompok Psikologikal
Kelompok social ini memiliki tujuan yang hendak dicapai biasanya
tidak bersifat pribadi (impersonal), melainkan merupakan tujuan bersama
dan untuk kepentingan bersama para anggota kelompok. Contoh dari
kelompok sosial dapat kita jumpai pada organisasi atau serikat
pekerja/buruh.
Sementara itu, kelompok psikologikal yaitu kelompok yang dibentuk
atas dasar mempribadi (personal), dimana para anggota kelompok biasanya
didorong oleh kepentingan antarpribadi. Contoh kelompok psikologikal
dapat djumpai pada himpunan para korban kebakaran pada suatu wilayah,
atau sekelompok anak perempuan yang duduk dan bekumpul di bawah
pohon rindang di sudut pekarangan sekolah setiap waktu istirahat.
Kelompok sosial dan kelompok psikologikal pada praktiknya kadang
“tumpang tindih”, yaitu sulit dibatasi arah perbedaannya manakala sudah
terkontaminasi dengan beberapa kepentingan tertentu. Contohnya, para
anggota buruh pada unit kerja tertentu (sebagai kelompok sosial) “mungkin”
tidak memikirkan lagi tujuan ataupun permasalahan yang menyangkut
organisasi/unitnya, namun bisa jadi telah berubah menjadi kelompok
psikologikal karena mereka senang berkumpul bersama (ngobrol, jalan,
nongkrong, dll) dan saling mengadakan hubungan antarpribadi demi
mencapai kesenangan secara pribadi.
3. Kelompok Terorganisasikan dan Kelompok Tidak Terorganisasikan
Kelompok yang terorganisasikan yaitu suatu kelompok yang
terbentuk berdasarkan tata aturan yang disepakati secara bersama dan

10
bersifat tegas. Masing-masing anggota pada kelompok terorganisasikan
memainkan peranan tertentu. Ciri utama pada kelompok terorganisasikan
ialah adanya pemimpin (leader) yang secara jelas mengatur dan memberi
kemudahan serta mengawasi jalannya peranan masing-masing anggota
kelompok.
Sementara itu, pada kelompok tidak terorganisasikan yaitu kelompok
yang terbentuk secara bebas atas keterikatan yang ditumbuhkan oleh para
anggota kelompok. Ciri kelompok tidak terorganisasikan adalah adanya
fleksibilitas yang besar di dalam kelompok.
4. Kelompok Formal dan Kelompok Informal
Menurut Prayitno (dalam Folastri, S dan Rangka, I.B. 2016: 8)
kelompok formal yaitu suatu kelompok yang terbentuk berdasarkan aturan
tertentu yang bersifat resmi (tertulis). Gerak dan arah kegiatan kelompok
formal lebih cenderung diatur dan tidak boleh menyimpang dari ketentuan
yang telah dibuat untuk itu.
Sedangkan kelompok informal, yaitu suatu kelompok yang dibentuk
dengan tidak didasarkan pada hal-hal resmi (tertulis) sebagaimana pada
kelompok formal. Pada kelompok informal, gerak dan arah kegiatan
kelompok lebih didasarkan oleh kemauan, kebebasan dan/atau selera orang-
orang yang terlibat di dalamnya.
5. Kelompok Sukarela dan Kelompok Tidak Sukarela
Jenis kelompok dapat juga diklasifikasikan berdasarkan sifat
keanggotaanya, yaitu dibagi ke dalam kelompok sukarela dan kelompok
tidak sukarela. Kelompok sukarela, yaitu suatu kelompok yang dibentuk
berdasarkan keinginan pribadi masing-masing anggota. Keanggotaan yang
bersifat sukarela biasanya lebih bebas dan peranan anggotanya lebih besar
dalam menentukan gerak dan arah kegiatan kelompoknya. Contoh kelompok
yang keanggotaannya secara sukarela dapat dijumpai pada kelompok
relawan bencana alam gempa bumi/banjir. Sebaliknya, kelompok tidak

11
sukarela terbentuk bukan didasarkan pada keinginan pribadi masing-masing
anggota. Kelompok tidak sukarela cenderung memiliki hubungan yang
sangat kuat. Contoh kelompok tidak sukarela dapat dijumpai pada anggota
dalam suatu keluarga.
Menurut Gibson dan Mitchell (dalam Kurnanto, 2013: 121),
menjelaskan bahwa kelompok bisa diklasifikasikan/dibedakan dalam tiga
level kegiatan, yakni:
a. kelompok bimbingan
kelompok yang aktivitasnya terfokus pada penyediaan informasi
atau pengalaman melalui aktivitas yang terorganisasi dan terencana.
Kegiatan kelompok ini juga diorganisasikan untuk mencegah
berkembangnya masalah. Contoh dari kegiatan kelompok level ini bisa
berupa kelompok orientasi, kelompok eksplorasi karir, kelompok
kegiatan kunjungan keperguruan tinggi,dan kelompok kegiatan
bimbingan kelas.
b. Kelompok konseling
Kelompok konseling menyediakan pengalaman dalam
melakukan penyesuaian dalam tatanan kelompok. Kelompok konseling
memfokuskan aktivitasnya kepada pemberian bantuan untuk mengatasi
masalah penyesuaian diri dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kegiatan
kelompok konseling; modifikasi perilaku, mengembangkan
keterampilan hubungan interpersonal, mengatasi masalah seksualitas,
dan pengambilan keputusan akhir.
c. Kelompok terapi
Kelompok terapi memberikan pengalaman yang intense kepada
individu yang memiliki kebutuhan dan masalah emosional serta masalah
perkembangan. Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok
konseling dalam hal lama waktu dan kedalaman pengalaman dari
individu yang terlibat didalamnya.

12
B. Konsep Dasar Dinamika Kelompok
1. Pengertian dinamika kelompok
Berdasarkan kutipan dalam (Rusmana, 2013), terdapat beberapa
definisi dinamika kelompok menurut beberapa ahli:
a. Slamet Santosa (2004), mengartikan Dinamika Kelompok sebagai suatu
kelompok yang teratur dari dua individu atau lebih yang mempunyai
hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang satu dengan yang
lain; antar anggota kelompok mempunyai hubungan psikologis yang
berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama-sama.
b. Jacobs, Harvill dan Manson (1997), dinamika kelompok adalah kekuatan
yang saling mempengaruhi hubungan timbal balik kelompok dengan
interaksi yang terjadi antara anggota kelompok dengan pemimpin yang
diberi pengaruh kuat pada perkembangan kelompok.
c. J.P. Chaplin (Dictionary of Psychology),Dinamika Kelompok adalah
suatu penyelidikan tentang hubungan sebab akibat di dalam kelompok;
suatu penyelidikan tentang saling hubungan antar anggota di dalam
kelompok; bagaimana kelompok terbentuk, dan bagaimana suatu
kelompok berreaksi terhadap kelompok lain. Dinamika Kelompok juga
mencakup studi tentang Cohesiveness, Leadership, Proses pengambilan
keputusan dan pembentukkan subkelompok
d. Slamet Santosa (2004: 5), mengartikan Dinamika Kelompok sebagai
suatu kelompok yang teratur dari dua individu atau lebih yang
mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang satu
dengan yang lain; antar anggota kelompok mempunyai hubungan
psikologis yang berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama-
sama.
e. Suardi(1998), Dinamika Kelompok adalah suatu Istilah yang digunakan
untuk menghubungkan kekuatan-kekuatan aspek pekerjaan kelompok.
Pada dasarnya, Dinamika Kelompok mengacu pada kekuatan

13
Interaksional dalam kelompok yang ditata dan dilaksanakan untuk
mencapai tujuan para anggota
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa hakikat “Dinamika Kelompok” adalah Studi tentang
interaksi dan Interdependensi antara anggota kelompok yang satu dengan
yang lain dengan adanya feed back dinamis atau keteraturan yang jelas dalam
hubungan secara psikologis antar individu sebagai anggota kelompok dengan
memiliki tujuan tertentu.
2. Ciri-ciri
Ada beberapa karakteristik dinamika kelompok menurut
Folastri dan Itsar, (2016:10), yakni:
1. Mempunyai motif yang sama antara individu satu dengan lainnya.
(menyebabkan intraksi/kerjasama sebagai pencapaian tujuan yang sama)
2. Ada akibat-akibat iteraksi yang berlainan antara individu satu dengan yang
lain (akibat yang ditimbulkan tergantung rasa serta kecakapan individu yang
terlambat)
3. Adanya pembentukan struktur atau organisasi kelompok dan penugasan
yang jelas dsan teradiri dari peran serta kedudukan pada masing-masing.
4. Adanya peneguhan norma pedoman tingkag laku anggota kelompok yang
mengatur interaksi pada suatu kegiatan anggota kelompok untuk mencapai
tujuan bersama.
Sedangkan menurut Rusmana (dalam Tartilan, 2014: 6), ciri-ciri
dinamika kelompok yaitu:
a. Memmiliki motif yang sama anatar individu satu dengan yang lainya.
b. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan

yang lainnya.
c. Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang
jelas dan terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing.

14
d. Adanya penuguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang
mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan
bersama.
3. Prinsip dalam Dinamika Kelompok
Untuk dapat menjalankan tujuan kelompok, dan agar terjadinya sebuah
kelompok yang sehat dalam artian memiliki hubungan yang baik antar anggota
kelompok perlu adanya sebuah prinsip-prinsip dasar dalam dinamika
kelompok. Adapun prinsip-prinsip dalam dinamika kelompok menurut Hartina
(2009: 49-54), yaitu:
a. Partisipasi
Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental
atau pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok
yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok
dalam usaha mencapai tujuan. Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi,
bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah semata. Partisipasi dapat
diartikan sebagai keterlibatan mental, pikiran, dan emosi atau perasaan
seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan
sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut
bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.
b. Saling menghormati
Adanya rasa saling menghargai atas pendapat, masukan, dan saran
dari anggota kelompok yang lain. Sehingga adanya perasaan diterima
dalam kelompok. Didalam sebuah organisasi tidak sedikit pemimpin
yang merasa sangat berkuasa di dalam organisasi tersebut, sehingga
terkadang kurangnya rasa saling menghormati di dalam suatu organisasi
sering terjadi. Perlakuan terhadap bawahan menjadi semena-mena dan
tidak terkontrol, bawahan atau pengikutpun merasa kurang dihargai atau
diperhatikan. Hal tersebut yang menyebabkan timbulnya masalah antara
atasan dan bawahan di sebuah organisasi.

15
c. Rasa Percaya
Adanya rasa percaya setiap anggota kelompok terhadap anggota
lain merupakan salah satu ciri kelompok yang efektif. Di dalam kelompok
terdapat bentuk rasa percaya yaitu:
1) Rasa para anggota kelompok kepada pemimpinnya
2) Rasa percaya terhadap anggota kelompok
3) Rasa percaya antar-sesama anggota kelompok secara individual
4) Rasa percaya setiap anggota kelompok terhadap kelompok sebagai satu
kesatuan ( McConnel dalam Hartinah,2009: 51).
d. Keterbukaan
Keterbukaan adalah suatu sikap dalam diri seseorang yang
merasakan bahwa apa yang diketahui orang lain tentang dirinya bukanlah
suatu ancaman yang akan membahayakan keselamatannya. Individu tidak
perlu menyembunyikan sesuatu daalm dirinya, baik yang berhubungan
dengan kepentingan orang lain maupun yang tidak berhubungan dengan
kepentingan orang lain tersebut.
e. Realisasi diri/Perwujudan diri
Perwujudan diri merupakan salah bentuk kebutuhan manusia.
faktor perwujudan diri setiap anggota perlu mendapatkan porsi yang cukup.
Tinggi atau rendahanya perwujudan diri seseorang dalam sebuah kelompok
dapat dilihat dari gejala yang nampak dalam interaksi anggota seperti
berikut:
1) Seorang yang memilliki perwujudan diri tinggi yaitu:
a) Sebagai anggota kelompok, individu merasa bebas mengambil
resiko, mengatakan saya, melakukan apa yang individu ingin
lakukan, dan mengikuti motivasi intrinsik dalam kelompok.
b) Terhadap kelompok, individu melihat bahwa kelompok
merupakan sarana kebebasan untuk memiliki dan menciptakan

16
lingkungan yang baik, serta untuk mengarahkan energi ke arah
tujuan intrinsiknya
2) Seseorang yang memiliki perwujudan diri rendah, yaitu:
a) Sebagai anggota kelompok, individu merasa ada tekanan dari
faktor diluar dirinya (ekstrinsik). Individu merasa bahwa harus
mencoba melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan harus
menemukan harapannya dengan harapan anggota lain.
b) Terhadap kelompok individu melihat adanya tekanan kelompok
anggota untuk mengonfirmasikan dan melakukan sesuatu yang
kemungkinan tidak diinginkan oleh anggota tersebut dan
mengerjakan sesuatu yang relevan dengan tujuan kelompok.
4. Komunikasi dalam Kelompok
Komunikasi dalam kelompok sangatah berperan pada dinamika yang
terjadi dalam kelompok. Dalam komunikasi, akan terjadi perpindahan ide atau
gagasan yang diubah menjadi simbol oleh komunikator kepada komunikan
melalui media. Untuk menyampaikan suatu ide dan gagasan terlihat sederhana
karena setiap hari dilakukan didalam komunikasi. Komunikasi kelompok
adalah dimana dalam kelompok itu terjadi interaksi satu sama lain dengan cara
tertentu. Dimana masing-masing mempengaruhi masing-masing pihak yang
terlibat dalam suatu kelompok (Hartinah, 2009: 65).
Pola komunikasi yang digunakan dalam suatu kelompok dapat pula
mempengaruhi keberhasilan penyampaian ide atau gagasan. Untuk mencapai
keberhasilan komunikasi dalam kelompok diperlukan cara penyampaian
informasi yang harus jelas dan sederhana sehingga tidak memungkinkan untuk
mengintrepretasikan dengan berbagai macan pesan.
Adapun beberapa tipe komunikasi dalam kelompok (Hartinah, 2009: 65),
yakni:
a. Tipe Rantai

17
A B C D E

Pada Pola komunikasi ini, seseorang (A) berkomunikasi dengan orang lain
(B) seterusnya ke (C), (D) dan (E).
b. Tipe Roda
B

E A C

Pola komunikasi roda menjelaskan pola komunikasi satu orang kepada


orang banyak, yaitu (A) berkomunikasi kepada (B), (C), (D), dan (E).
Seseorang, biasanya pemimpin menjadi fokus perhatian. Ia dapat
berhubungan dengan semua anggota kelompok, tetapi setiap anggota
kelompok hanya bisa berhubungan dengan pemimpinnya.
c. Tipe Y
Dimana E berkomunikasi dengan D, Kemudian dari D ke C dan
disampaikan kepada A dan B. Garis koordinasi yang terpusat pada satu titik
C, Kemudian dari C langsung sampai ke A dan B.

A B

E 18
5. Kepimpinan dalam Kelompok
Kepemimpinan dalam kelompok terjadi apabila seorang anggota
kelompok mempengaruhi anggota-anggota lainnya untuk membantu kelompok
mencapai tujuannya. Karena semua anggota kelompok saling mempengaruhi
satu dengan lainnya dalam waktu yang berbeda-beda. Menurut Napier dan
Gershenfeld (dalam Romlah, 2006: 42), kepemimpinan pada dasarnya
merupakan pelaksanaan peranan tertentu dalam suatu , dan kelompok yang
terorganisasi, dan peranan ini.
Karakter kepribadian terkait dengan kepemimpinan dalam kelompok
yang efektif (Corey G, 1994: 54) sebagai berilut:
a. Kehadiran
Hadir secara emosional berarti digerakkan oleh kegembiraan dan
kesulitan yang dialami oleh orang lain. Jika para pemimpin mengenali dan
mengungkapkan emosi mereka sendiri, pemimpin dapat menjadi lebih
terlibat secara emosional dengan orang lain. Kehadiran pemimpin
membuatnya lebih mudah untuk berempati dan peduli kepada anggota
kelompok.
b. Kekuatan pribadi
Kekuatan pribadi melibatkan rasa percaya diri dan kesadaran kerika
pemimpin kelompok tidak memiliki rasa percaya diri dan kesadaran dalam
dirinya, sulit bagi mereka untuk memfasilitasianggota kelompoknya
menuju pemberdayaan. Kekuatan pribadi sejalan dengan pengakuanbahwa
seseorang tidak perlu membuat orang lain dalam posisi yang lebih rendah
untuk mempertahankan kekuatannya sendiri.
c. Keberanian
Pemimpin kelompok yang efektif sadar bahwa mereka perlu
menunjukkan keberanian dalam interaksi mereka dengan anggota
kelompok. Mereka menunjukan keberanian dengan mengambil resiko
dalam kelompok dan mengakui kesalahan serta mampu mengungkapkan

19
reaksinya kepada orang-orang yang mereka hadapi dalam bertindak
berdasarkan intuisi dan keyakinan dengan berdiskusi bersama anggota
kelompok.
d. Keinginan terhadap konfrontasi sendiri.
Konfrontasi adalah proses yang berkelanjutan dan tidak ada
jawaban sederhana untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Salah satu tugas
utama pemimpin adalah mengenalkan investigasi diri pada anggota
kelompok atau konseli. Karena pemimpin atau konselor kelompok tidak
dapat mengharapkan konseli untuk melakukan sesuatu yang konseli sendiri
tidak sanggup melakukannya, konselor harus menunjukkan bahwa mereka
bersedia mempertanyakan diri sendiri. konfrontasi diri dapat berupa
mengajukan dan menjawab pertanyaan seperti berikut:
1) Mengapa saya memimpin kelompok?apa yang saya dapatkan dari
kegiatan ini?
2) Apa dampak sikap, nilai, perasaan, dan perilaku saya terhadap orang-
orang dalam kelompok?
3) Apa kebutuhan saya dilayanani jika saya menjadi pemimpin
kelompok? Apakah saya pernah memanfaatkan kelompok yang saya
pimpim untuk memunuhi kebutuhan pribadi dengan mengorbankan
kebutuhan anggota?
6. Sinergitas dalam Kelompok
Untuk mencapai efektivitas dan produktivitas sebuah kelompok,
diperlukan suasana yang solid dan kondusif untuk memungkinkan terjadinya
proses kerjasama di antara sesamaanggotanya dalam mencapai tujuan
kelompok.
Soliditas, efektivitas, dan produktivitas kelompok di pengaruhi oleh
adanya rasa percaya, keterbukaan, perwujudan diri, dan saling ketergantungan
di antara individu –individu anggota kelompok. Akan tetapi, keempat faktor
tersebut merupakan sesuatu yang abstrak dan sukar observasi. Pada urain

20
berikut, efektivitas kelompok akan dilihat secara nyata dalam bentuk prilaku
anggota selama proses interaksi terjadi dalam kelompok (hartina, 2009: 50).
Ada pun manfaat Sinergi dalam kelompok yaitu, antara lain:
a. membantu tersusunya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan
baik.
b. Benar-benar berusaha untuk secara aktif ikut serta dalam seluruh kegiatan
kelompok.

21
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kelompok dapat diartikan sebagai suatu unit sosial yang terdiri dari
himpunan individu yang memiliki kesamaan kebutuhan, minat, aspirasi dan
memiliki hubungan, interaksi serta ketergantungan antara satu dengan yang
lainnya yang diatur oleh norma-norma tertentu. Untuk menjadi suatu kelompok,
tebebntuk dari komponen sistemik terdiri dari; pemimpin kelompok, anggota
kelompok, jumlah kelompok, waktu pelaksanaan, homogenitas kelompok. Ada
beberapa jenis- jenis kelompok, antara lain; kelompok primer dan skunder, sosial
dan psikologikal, formal dan informal, serta berdasarkan level kegiatan kelompok
dibedakan atas tiga; kelompok bimbingan, kelompok konseling dan kelompok
terapi.
Dalam suatu kelompok, terdapat dinamika kelompok agar terjalin
interaksi dan Interdependensi antara anggota kelompok yang satu dengan yang lain
dengan adanya feed back dinamis atau keteraturan yang jelas dalam hubungan
secara psikologis antar individu sebagai anggota kelompok dengan memiliki
tujuan tertentu. Adapun ciri-ciri dinamika kelompok; (1). Adanya interkasi antar
anggota kelompok yang satu dengan lainnya, (2). Adanya pembentukan struktur
dan oraganisasi yang jelas. (3). Serta adanya peneguhan aturan dan norma untuk
semua anggota kelompok.
A. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh
dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan
berpedoman pada banyak sumber yang dapt dipertanggungjawabkan. Maka dari
itu penulis mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam
kesimpulan tersebut.

22
DAFTAR PUSTAKA

Corey,Gerald. (1994). Theory And Practice Of Group Counseling 4 Thedition.


California: Brooks/ Cole Publishing Company.
Folastri, S & Itsar, B.R. (2016). Prosedur Layanan dan Bimbingan Konseling
Kelompok. Bandung: Mujahid Press.

Hartinah, S. (2009). Konsep Dasar Bimbingan Kelompok. Bandung: PT Refika


Aditama

Kurnanto, Edi. (2013). Konseling Kelompok. Bandung: Alfabeta

Rusmana, Nandang. (2009). Bimbingan Konseling Kelompok Disekolah (Metode,


Teknik dan Aplikasi). Bandung: Rizqi Press.

Romlah, Tatiek. (2006). Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Malang: Universitas
Negeri Malang

Tartilan, Ayu. (2014). Konsep dasar dinamika kelompok. Makalah. Universitas


Haluleo: Kendari

Yasmin, Z. (2016). Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok Untuk Meningkatkan


Komunikasi Teman Sebaya Di Madrasah Aliyah Negeri 3 Medan Tahun Jaran
2015/2016. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara : Medan.

Zulkarnain, Wildan. (2013). Dinamika Kelompok. Jakarta: PT Bumi Aksara.

23
24

Anda mungkin juga menyukai