Anda di halaman 1dari 10

1. Jelaskan perbedaan gambaran rontgen thorax posisi AP dan PA.

- Pada posisi AP jantung terlihat lebih besar karena jantung relatif jauh dari detector dan
juga sinar x lebih divergen akibat jaraknya yang lebih dekat ke pasien. Sedangkan pada
posisi PA jantung terlihat normal karena jantung relatif dekat dari detector dan jarak sinar
x lebih jauh ke pasien
- Pada posisi AP tepi skapula tidak megalami retraksi ke lateral sehingga lebih terlihat
menutupi paru sedangkan pada posisi PA tepi skapula mengalami retraksi ke lateral
sehingga hanya sedikit atau bahkan tidak ada skapula yang menutupi paru dan paru jadi
lebih terlihat
- Klavikula terlihat membentuk huruf V pada posisi AP sedangkan pada posisi PA
klavikula mendatar
- Difragma terlihat lebih tinggi pada posisi AP sedangkan posisi PA diafragma terlihat pada
posisi yang normal yaitu vertebare torakal 8-10
- Pada posisi AP tidak terlihat air fluid level pada fundus atau corpus gaster sedangkan
pada posisi PA terlihat adanya air fluid level
- Pada posisi AP costae depan yang lebih terlihat sedangkan pada posisi PA costae
belakang yang lebih terlihat

2. Jelaskan gambaran radiologi akibat yang bisa terjadi pada pasien trauma thorax.
a. Kerusakan parenkim
1) Edem paru
 Adanya perluasan corakan vaskular bertambah
 Dengan atau tanpa pelebaran interlobular septal
2) Aspirasi
Ada gambaran tree-in-bud pada CT scan, yaitu gambaran nodul multipel atau
cetrilobular dengan pola garis bercabang
3) Atelektasis
 Ada gambaran homogen dan deviasi fissura
 Ditemukan pergeseran mediastinum dan struktur hilus, corakan bronkovaskular
meningkat, dan mungkin didapatkan elevasi diafragma
4) Kontusio
 Ada gambaran konsolidasi atau ground glass opacity secara fokal atau multifokal
 Tidak terpacu pada segmen paru, biasanya kontusio terdapat tepi paru yang
berhubungan dengan sisi trauma langsung
 Dapat disertai dengan fraktur costae atau fraktur vertebrae
 Tidak terlihat adanya air bronchograms darah yang memenuhi saluran napas kecil
b. Kerusakan ekstraparenkim (Dr Gurney ABC’s)
1) Aortic injury
 Ada pelebaran mediastinum (>8 cm)
 Paratrakeal berdensitas sama atau lebih opak dari arcus aorta
 Deviasi trakea atau NGT ke kanan
 Pergeseran bronkus kiri ke bawah
 Arkus aorta tak terlihat
 Aorta descendent lebih lebar dan opak
2) Bronchial fracture
 Adanya double wall sign, menandakan adanya ruptur trakea atau bronkus
prinsipalis disertai gas intramural pada saluran napas proksimal
 Adanya fallen lung sign, paru inferior kolaps
3) Cord injury
4) Diafraghmatic rupture
 Adanya elevasi asimetris dan herniasi isi abdomen ke kavum toraks dengan atau
tanpa pergeseran mediastinum
 Ditemukan gambaran collar sign atau diafragma yang diskontinu pada CT scan
5) Esophageal rupture: Boerhaave’s syndrome
 Ada gambaran V sign Naclerio atau kumpulan udara berbentuk V pada
mediastinum dan diafragma.
6) Fractures
a) Fraktur costae
o Costae 1-3 biasanya struktur paling kuat, namun bisa terjadi fraktur apabila
kekuatan yang ekstrim
o Costae 4-9 paling sering dan biasanya berhubungan dengan flail chest, yaitu
fraktur segmental lebih dari 3 costae yang sama atau fraktur single pada lebih
dari 4 costae
o Costae 10-12 biasanya disertai dengan kerusarakan viseral terhadap hepar,
lien, dan renal
b) Fraktur klavikula
o Group I fractures pada midklavikula body
o Group II fractures pada 1/3 distal klavikula lateral
o Gropu III fracture pada 1/3 medial klavikula
c) Fraktur sternum
o Biasanya berhubungan dengan fraktur vertebrae
d) Fraktur skapula
e) Fraktur vertebrae
7) Gas: pneumothoraks and pneumomediastinum
a) Pneumothoraks
o Adanya deep sulcus sign, udara yang melalui ruang pleura di lateral
mediastinum dengan peningkatan lusensi pada sudut costophrenicus
o Pada tension pneumothorax ditemui tambahan gambaran berupa diameter
lateral thorax melebar, pergeseran mediastinum, dan penurunan diafragma
b) Pneumomediastinum
o Terlihat garis putih tips pleura pada paracardial dan latearal mediastinum
o Adanya double brochial wall sign, udara yang terakumulasi pada dinding
bronkus dan menjadikan kedua sisi dinding jadi terlihat
o Adanya continous diaphragm sign, udara yang terjebak pada posterior
pericardium dengan seluruh diafragma terlihat dari medial ke lateral
o Adanya tubular artery sign, udara yang membatasi sisi medial aorta
(normalnya di lateral aorta)
o Adanya ring around the artery sign, udara yang mengelilingi arteri pulmonal
8) Heart
9) Iatrogenic

3. Koch Pulmonal: Sebutkan pembagian berdasarkan Anti Tuberculosis Association.


a. Minimal TB
- Lesi dengan densitas ringan atau sedang
- Meliputi bagian kecil satu atau kedua lapang paru, tapi perluasannya tidak melebihi
volume satu sisi paru yang menempati ruang di atas second condrosternal jucntion
dan vertebrae torakal 4 atau corpus vertebrae torakal 5.
- Tidak ada kavitas
b. Moderate-advanced TB
- Lesi multiple dengan densitas ringan atau sedang yang dapat menyebar ke seluruh
lapang satu sisi paru atau telihat sama pada kedua sisi
- Lesi terbatas pada 1/3 volum satu sisi paru
- Total diameter kavitas bila ada, kurang dari 4 cm
c. Far-advanced TB
- Lesi lebih luas dari tipe moderate-advanced
- Total diameter kavitas lebih dari 4 cm

4. Ileus: Definisi, macam-macam, causa, serta gambaran radiologisnya.


a. Definisi
Gangguan pasase usus atau suatu keadaan stasis pada isi usus
b. Macam-macam
1) Adynamic ileus/paralytic ileus
2) Obtructive ileus
c. Causa
1) Adynamic ileus/paralytic ileus
 Trauma abdominal
 Pembedahan pada abdominal, contohnya laparatomi
 Abnormalitas serum elektrolit
o Hipokalemia
o Hiponatremia
o Hipomagnesemia
o hipermagnesemia
 Infeksi, inflamasi, atau iritasi
o Intratorakal
 Pneumonia
 Fraktur costa lobus inferior
 Infark miokardium
o Intrapelvik contoh Pelvic inflammatory disease
o Intraabdominal
 Apendisitis
 Divertikulitis
 Nefrolitiasis
 Kolesistitis
 Pankreatitis
 Ulkus duodenum perforasi
 Perdarahan intestinal contohnya embolisme mesenterika, iskemia, trombosis
 Fraktur
o Fraktur costae
o Fraktur vertebrae
 Obat-obatan
o Narkotika, phenothiazines, diltiazem
2) Obtructive ileus
 Adesi postoperatif
 Hernia
 Neoplasma
o Ca colon
o Ca ovarium
o Ca pankreas
o Ca gaster
d. Gambaran radiologis
- Adanya dilatasi, pada ileus obstruktif dilatasi pada proksimal sedangkan ileus
paralitik dapat terjadi di distal ataupun proksimal (menyeluruh dari gaster ke rektum)
- Adanya coil spring appearance akibat dilatasi dari usus kecil
- Adanya gambaran Herring bone appearance oleh gambaran dua coil spring yang
berdekatan
- Adanya air fluid level, pada small bowel obstruction terlihat pendek sedangkan pada
large bowel obstruction terlihat lebih lebar
- Adanya gambaran step ladder
- Adanya gambaran string of pearls, gambaran udara berkantung-kantung

5. Pleural effusion: Definisi, causa, gambaran foto rontgennya.


a. Definisi
Adanya cairan pada cavum pleura akibat adanya gangguan reabsorbi cairan pada pleura
b. Causa
1) Transudat. Akibat adanya peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan tekanan
onkotik kapiler. Contohnya disebabkan oleh gagal jantung, sindrom nefrotik, sirosis,
trauma, asbestosis, dsb
2) Eksudat. Akibat adanya peningkatan permeabilitas pada mikrosirkulasi atau
perubahan pada drainase cavum pleura ke nodus limfatikus. Contohnya disebabkan
oleh Ca bronkus, embolisme paru dan infark, pneumonia, TB, mesothelioma,
rheumatoid arthritis, SLE, lymphoma
c. Gambaran radiologis
1) Foto toraks
 Lateral decubitus
o Air fluid level ke arah bawah
 Erect (PA dan AP)
o Sudut costofrenicus tumpul
o Sudut cardiofrenicus tumpul
o Adanya cairan pada fissura horizontalis ataupun oblique
o Meniskus terlihat
 Supine
o Meniskus tak terlihat
o Adanya banyangan yang lebih opak pada suatu sisi
2) USG
Adanya echo-free space antara pluera viseral dan parietal

6. Pneumothorax: Definisi, causa, gambaran foto rontgennya.


a. Definisi
Adanya udara pada cavum pleura.
b. Causa
1) Primary spontaneous. Bukan disebabkan oleh penyakit paru melainkan berhubungan
dengan Marfan syndrome, Ehlers-Danlos syndrome, alpha-1 antitrypsin deficiency,
homocystinuria
2) Secondary spontaneous. Berhubungan dengan penyakit paru sebagai predisposisinya
yaitu penyakit paru kistik (bullae, blebs, emfisema, asma, PJP (pneumocystis jiroveci
pneumonia)), nekrosis parenkim (abses paru, nekrotik pneumonia, TB, osteosarcoma
metastase) dan lain-lain seperti (catamenia pneumotoraks, pleuroparenchymal
fibroelastosis)
3) Iatrogenic/traumatic. Iatrogenis berupa biopsi perkutan, barotrama, ventilator,
radiofrequency ablasi massa paru. Sedangkan trauma berupa laserasi pulmonal, ruptur
trakeobronkial, dan akupuntur.
c. Gambaran radiologis
 Tepi pleura viseral terlihat sangat tipis, garis putih tipis
 Ruang perifer terlihat radiolusen dibandingkan dengan paru sekitarnya
 Paru mungkin kolaps

7. Emfisema: Definisi, causa, gambaran foto rontgennya.


a. Definisi
Kelainan anatomik paru ditandai dengan pelebaran secara abnormal saluran napas bagian
distal bronkus terminalis, disertai kerusakan alveolus yang ireversibel
b. Causa
Kebiasaan merokok, polusi udara, infeksi (pneumonia, bronkiolitis akut, asma bronkial),
faktor genetik, onstruksi jalan napas
c. Gambaran radiologis
 Diafragma letak rendah dan datar
 Ruang retrosternal melebar
 Gambaran vaskuler berkurang
 Jantung tampak sempit memanjang
 Pembuluh darah perifer mengecil

8. Dibawah ini sebutkan definisi serta gambaran radiologisnya:


a. Spondylosis
1) Definisi: Perubahan pada vertebrae dengan bertambahnya degenerasi sendi
intervertebralis antara discus dan corpus vertebrae
2) Radiologi: Adanya osteofit
b. Spondylolisthesis
1) Definisi: Atherolisthesis atau pergeseran anterior korpus verterbae pada vertebrae ke
segmen bawah, biasanya berhubungan dengan spondylolysis (defek pars
interarticularis)
2) Radiologi:
c. Spondylitis
1) Definisi: Peradangan pada granulomatosa yang bersifat kronis destruktif
2) Radiologi: Adanya abses berupa banyangan yang membentuk spindle pada foto
toraks, pada foto polos vertebrae adanya osteoporosis, osteolitik, destruksi korpus
vertebrae, penyempitan discus intervertebralis, dan mungkin ditemukan adanya abses
paravertebral
d. Tumor primer ganas tulang (Osteosarcoma)
1) Definisi: Tumor ganas dari sel-sel primer di daerah metafisis tulang panjang
2) Radiologi: Adanya osteolitik dengan gambaran destruksi korteks, medula, atau
campuran, adanya proses kalsifikasi, dan pembentukkan tulang dari periosteum
berupa Codman’s triangle dan Sunray apperance
e. Osteoarthrosis
1) Definisi: Kondisi dimana sendi terasa sakit dan kaku
2) Radilogi: Adanya pemendekan ruang antar sendi baik simetris ataupun asimetris,
sklerotik, osteofit, erosi sendi, kista subkondral (geode)

9. Dibawah ini sebutkan definisi, pemeriksaan radiologisnya, dan gambaran


radiologisnya:
a. Atresia ani
1) Definisi: Abnormalitas pada anorektal mulai dari pemisahan membranosa sampai
tidak adanya anus
2) Pemeriksaan radiologis
 Foto polos abdomen: Gambaran bervariasi tergantung lokasi atresia (tinggi atau
rendah) dan desakan dari mekonium. Adanya dilatasi multiple pada usus dengan
tidak adanya gambaran gas pada rektum
 Invertogram: Adanya jarak gelembung gas pada rektum dari lempeng metal, <2
cm tipe rendah sedangkan >2 cm tipe tinggi
 USG: Tidak terlihat titik echoic pada perineum, adanya dilatasi usus
b. Invaginasi
1) Definisi: Keadaan dimana satu segmen usus tertarik ke dalam dirinya sendiri atau
bagian usus sekitarnya oleh peristaltik
2) Pemeriksaan radiologis
 Foto polos abdomen: Ada pemanjangan massa jaringan lunak disertai obstruksi
usus (dan fluid level juga dilatasi usus) bagian proksimal, gas pada distal usus
yang kolaps tidak terlihat
 USG: Adanya gambaran target sign (seperti gambaran donat), pseudokidney sign,
gigitan atau berbentuk sabit pada doughnut sign
 Fluoroscopy: Adanya massa prolaps lumen, gambaran coil spring
 CT Scan: Gambaran cincin hiperdens, jaringan berbentuk sabit disekitar lumen
yang tertekan dikelilingi oleh 2 lapisan terluar usus
c. Hirscphrung disease
1) Definisi: Penyebab obstruksi pada colon akibat kondisi anganglionik kolon segmen
pendek
2) Pemeriksaan radiologis
 Foto polos abdomen: Gambaran dilatasi colon
 Fluroscopy: Segmen yang terkena memiliki lumen yang kecil dengan proksimal
yang dilatasi dan ditemukan fasciculation atau gambaran ireguler seperti gerigi
gergaji pada segmen aganglionik
 Antenal USG: Telah terlihat adanya dilatasi pada kolon pada masa fetus

10. IVP: Jelaskan indikasi, kontra indikasi, dan prosedur pemeriksaan.


a. Indikasi: Kolik ginjal, hematom, tumor abdomenm hematuria, ruptur ginjal, ruptur uteri
b. Kontra indikasi: Absolut (hipersensitivitas, tirotoksikosis, sindrom hepatorenal) dan
Relatif (gangguan sirkulasi koroner dan sirkulasi umum, allergic diatesis)
c. Prosedur
1) Lakukan pemeriksaan BNO posisi AP, untuk melihat persiapan pasien
2) Jika persiapan pasien baik/bersih, suntikkan media kontras melalui intravena 1 cc
saja, diamkan sesaat untuk melihat reaksi alergis.
3) Jika tidak ada reaksi alergis penyuntikan dapat dilanjutkan dengan memasang alat
compressive ureter terlebih dahulu di sekitar SIAS kanan dan kiri
4) Setelah itu lakukan foto nephogram dengan posisi AP supine 1 menit setelah injeksi
media kontras untuk melihat masuknya media kontras ke collecting sistem, terutama
pada pasien hypertensi dan anak-anak.
5) Lakukan foto 5 menit post injeksi dengan posisi AP supine menggunakan ukuran film
24 x 30 untuk melihat pelviocaliseal dan ureter proximal terisi media kontras.
6) Foto 15 menit post injeksi dengan posisi AP supine menggunakan film 24 x 30
mencakup gambaran pelviocalyseal, ureter dan bladder mulai terisi media kontras
7) Foto 30 menit post injeksi dengan posisi AP supine melihat gambaran bladder terisi
penuh media kontras. Film yang digunakan ukuran 30 x 40.
8) Setelah semua foto sudah dikonsulkan kepada dokter spesialis radiologi, biasanya
dibuat foto blast oblique untuk melihat prostate (umumnya pada pasien yang lanjut
usia).
9) Yang terakhir lakukan foto post void dengan posisi AP supine atau erect untuk melihat
kelainan kecil yang mungkin terjadi di daerah bladder. Dengan posisi erect dapat
menunjukan adanya ren mobile (pergerakan ginjal yang tidak normal) pada kasus pos
hematuri.

11. CIL: Jelaskan indikasi, kontra indikasi, dan prosedur pemeriksaan.


a. Indikasi: Colitis, Diverticulum, Neoplasma, Polip, Volvulus, Invaginasi, Atresia, Stenosis
b. Kontra indikasi: Perforasi, Obstruksi, Refleks fagal
c. Prosedur
1) Metode Kontras Tunggal
 Pemeriksaan hanya menggunakan BaSO4 sebagai media kontras.
 Kontras dimasukkan ke kolon sigmoid, desenden, transversum, ascenden sampai
daerah seikum.
 Dilakukan pemotretan full fillng
 Evakuasi, dibuat foto post evakuasi
2) Metode Kontras Ganda
 Kontras Ganda Satu Tingkat
 Kolon diisi BaSO4 sebagian selanjutnya ditiupkan udara untuk mendorong
barium melapisi kolon
 Selanjutnya dibuat foto full filling
12. Sebutkan pembagian trauma kepala berdasarkan CT Scan.
a. Trauma primer
1) Ekstra aksial
 Epidural hematoma (EDH): Terlihat hiperden, berbatas tegas, berbentuk biconvex
melekat pada tabula interna dan mendesak ventrikel ke sisi kontralateral
 Subdural hematoma (SDH): Terlihat hiperdens, homogen, berbentuk bulan sabit,
terletak diantara tabula dan parenkim otak
 Traumatic subarachnoid hemorrhage (SAH): terlihat sebagai area linear atau
berkelok-kelok tipis hipodens mengikuti bentuk sulcus dan sisterna
 Traumatic intraventricular hemorrhage (IVH): Terlihat sebagai cairan
serebrospinal hiperdens melapisi sistem ventrikular
2) Intra aksial
 Diffuse axonal injury (DAI): Gambaran perdarahan ptekie pada gray-white
junction hemisfer serebral dan korpus kalosum.
 Cortical contusion: Lesi fokal primer otak pada gray matter
 Intracerebral hematoma: Gambaran shear-induced hemorrhage dari ruptur
pembuluh darah parenkim kecil, biasanya pada frontotemporal white matter
3) Vesical injury (both ekstra dan intra aksial) meliputi diseksi arteri, pseudoaneurisme,
fistula arteriovenosus
b. Trauma sekunder
1) Akut
 Diffuse cerebral swelling: Akibat peningkatan volum darah serebral (hiperemia),
edem vasogenik, atau peningkatan cairan jaringan. Sulcus dan girus terlihat kabur
dan terdapat penekanan ventrikel.
 Brain herniation: Akibat adanya massa.
o Subfalcine hernia: Girus cingulate mengalami displasia melewati garis
tengah di bawah falx cerebri
o Uncal hernia: lobus media temporal mengalami displasia melewati batas
tentorium
o Transtentorial hernia: hernia mengarah ke atas atau pun ke bawah
 Infark atau iskemik: Akibat adanya peningkatan tekanan atau massa pada
vaskular cerebral oleh hernia atau hematoma
2) Kronik
 Hidrosefalus: terjadi akibat adanya kerusakan reabsorbsi CSF pada vili arachnoid
atau adanya obstruksi pada cerebral aqueduct dan aliran ventrikel ke-4 oleh SAH.
 Encefalomalacia: Terlihat adanya area tipis disertai kehilangan volum
 Leptomeningeal kistik: Lesi pediatrik oleh robekan pada duramater yang
berhubungan dengan defek calvarian. Terlihat sebagai defek litik tengkorak
hipodens yang dapat melebar.