Anda di halaman 1dari 36

CHAPTER 1,2,3

Tugas Individual Mata Kuliah Manajemen Keuangan Stratejik

Risk and Return,


Penilaian Saham, dan
Penilaian Obligasi

Widiananda Prabowo

Magister Manajemen
Program Pasca Sarjana
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya
2019
1|Page
RISK AND RETURN, PENILAIAN SAHAM,
DAN PENILAIAN OBLIGASI

Disusun Untuk Menyelesaikan Tugas Individual Mata Kuliah Manajemen Keuangan Stratejik
Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Brawijaya

Disusun Oleh :
Widiananda Prabowo

MAGISTER MANAJEMEN PROGRAM PASCA SARJANA


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019

2|Page
MANAJEMEN KEUANGAN STRATEGIK
CHAPTER 1 – RISK AND RETURN
1. Pendahuluan
Ada dua aspek yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan dalam
pengambilan keputusan keuangan, yaitu tingkat pengembalian (return) dan risiko (risk) keputusan
keuangan tersebut. Tingkat pengembalian adalah imbalan yang diharapkan diperoleh di masa
mendatang, sedangkan risiko diartikan sebagai ketidakpastian dari imbalan yang diharapkan.
Risiko adalah kemungkinan terjadinya penyimpangan dari rata-rata dari tingkat
pengembalian yang diharapkan yang dapat diukur dari standar deviasi dengan menggunakan
statistika. Untuk mengukur risiko relatif digunakan koefisien variasi, yang menggambarkan risiko per
unit imbalan yang diharapkan yang ditunjukkan oleh besarnya standar deviasi dibagi tingkat
pengembalian yang diharapkan.
Risiko keuangan terjadi karena adanya penggunaan hutang dalam struktur keuangan
perusahaan, yang mengakibatkan perusahaan harus menanggung beban tetap secara periodik
berupa beban bunga. Hal ini akan mengurangi kepastian besarnya imbalan bagi pemegang saham,
karena perusahaan harus membayar bunga sebelum memutuskan pembagian laba bagi pemegang
saham. Dengan demikian, risiko keuangan menyebabkan variabilitas laba bersih (net income) lebih
besar.
Jika manajemen perusahaan dapat memanfaatkan dana yang berasal dari hutang untuk memperoleh
laba operasi yang lebih besar dari beban bunga, maka penggunaan hutang dapat memberikan
keuntungan bagi perusahaan dan akan meningkatkan return bagi pemegang saham. Sebaliknya, jika
manajemen tidak dapat memanfaatkan dana secara baik, perusahaan mengalami kerugian.

2. Dasar Teori
2.1. Pengertian Risiko dan Tingkat Pengembalian (Risk and Return)
Sekarang ini dalam investasi baik invidu maupun bisnis berinvestasi menghabiskan uang
untuk mendapatkan uang yang lebih banyak. Tingkat nilai pengembalian dalam investasi dapat
dilihat dari kinerja keuangan dari uang yang diinvestasikan tersebut.
Risiko dapat dikatakan sebagai suatu peluang terjadinya kerugian atau kehancuran. Lebih
luas, risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau
berlawanan dari yang diinginkan. Dalam industri keuangan pada umumnya, terdapat suatu istilah
“high risk bring about high return”, artinya jika ingin memperoleh hasil yang lebih besar, akan
dihadapkan pada risiko yang lebih besar pula.
Risk (risiko) and return (pengembalian) adalah kondisi yang dialami oleh perusahaan,
institusi, dan individu dalam keputusan investasi yaitu, baik kerugian maupun keuntungan dalam
suatu periode akuntansi.

Hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian adalah:


1. Bersifat linear atau searah.
2. Semakin tinggi tingkat pengembalian maka semakin tinggi pula risiko.
3. Semakin besar asset yang kita tempatkan dalam keputusan investasi maka semakin besar pula
risiko yang timbul dari investasi tersebut.
4. Kondisi linear hanya mungkin terjadi pada pasar yang bersifat normal.

Jika Anda berinvestasi dalam saham spekulatif (atau saham apapun), Anda mengambil risiko
dengan harapan memperoleh suatu pengembalian yang besar. Risiko suatu aset dapat dianalisis
dengan dua cara: 1) Secara berdiri sendiri (stand- alone), di mana aset tersebut dianggap terpisah.
2) Berdasarkan jumlah portofolio, di mana aset tersebut dianggap sebagai salah satu dari sejumlah
aset dalam portofolio.

3|Page
Jadi aset stand alone-risk adalah risiko investor yang akan dihadapi jika seorang investor
hanya mengadakan satu aset. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar aset diadakan di
portofolio, tetapi perlu dipahami stand-alone risk berguna untuk memahami risiko dalam konteks
portofolio. Tidak ada investasi yang harus dilakukan kecuali tingkat pengembalian yang diharapkan
cukup tinggi untuk mengkompensasi para investor untuk risiko yang diperoleh dari investasi.
Misalnya, dapat dipastikan bahwa beberapa investor akan bersedia untuk membeli saham
perusahaan minyak jika pengembalian yang diharapkan lebih besar.
Pada umumnya, aset berisiko (risky assets) jarang menghasilkan tingkat pengembalian yang
diharapkan para investor, aset berisiko mendapatkan lebih baik atau kurang dari yang awalnya
diharapkan. Memang, jika aset selalu menghasilkan pengembalian yang diharapkan para investor,
maka tidak akan berisiko. Risiko investasi berkaitan dengan probabilitas yang berproduktif rendah
atau pengembalian yang negatif, sangat besar mempunyai peluang pengembalian yang rendah atau
negatif, yang berisiko investasi.

2.2. Pengertian Risk


Bila ingin menjadi pengusaha sukses, maka anda harus berani menghadapi risiko. Kalimat
tersebut dianggap resep untuk menjadi pengusaha dianggap sukses. Kehidupan usaha penuh dengan
risiko, baik itu risiko finansial maupun manajerial.
 Risiko finansial berkaitan dengan kegagalan usaha untuk merealisasikan rencana finansial yang
telah ditentukan.
 Risiko manajerial berkaitan dengan kegagalan pimpinan perusahaan dalam mengelola
perusahaannya yang pada akhirnya diukur dengan kegagalan finansial.
Risiko dapat dikatakan sebagai suatu peluang terjadinya kerugian atau kehancuran. Lebih
luas, risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau
berlawanan dari yang diinginkan. Dalam industri keuangan pada umumnya, terdapat suatu jargon
“high risk bring about high return”, artinya jika ingin memperoleh hasil yang lebih besar, akan
dihadapkan pada risiko yang lebih besar pula. Contohnya dalam investasi saham. Volatilitas atau
pergerakan naik-turun harga saham secara tajam akan membuka peluang untuk memperoleh
hasil yang lebih besar, namun sebaliknya, jika harga bergerak ke arah yang berlawanan, maka
kerugian yang akan ditanggung sangat besar. [1] Menurut Ricky W. Griffin dan Ronald Ebert,
risiko adalah uncertainty about future event. Adapun Joel G.Siegel dan Jae K.Sim mendefinisikan
risiko pada 3 hal :
1. Keadaan yang mengarah kepada sekumpulan hasil khusus dimana hasilnya dapat diperoleh
dengan kemungkinan yang telah diketahui oleh pengambilan keputusan.
2. Variasi dalam keuntungan penjualan atau variabel keuangan lainnya.
3. Kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang mempengaruhi kinerja operasi perusahaan
atau posisi keuangan.
David K. Eiteman, Arthur I Stonehill dan Michael H. Moffet mengatakan bahwa risiko
dasar adalah “the mismatching of interest rate bases for associated assets and liabilities”.
Sehingga secara umum risiko dapat ditangkap sebagai bentuk keadaan ketidakpastian tentang
suatu keadaan yang akan terjadi nantinya dengan keputusan yang diambil berdasarkan suatu
pertimbangan. Menurut salah satu definisi, risiko (risk) adalah sama dengan ketidakpastian
(uncertainty). Secara umum risiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi
seseorang atau perusahaan dimana terdapat kemungkinan yang merugikan.
Dalam penyusunan anggaran modal, suatu proyek investasi (perluasan usaha / penggantian
aktiva tetap) kita sering mengalami kegagalan setelah proyek tersebut dilaksanakan. Hal ini
karena kita tidak memperhitungkan unsur risiko didalamnya.
Sebagai contohnya, risiko aliaran kas (cashflow) dalam faktor diskonto (dicountrate)
sebagai biaya modal. Apabila aliran kas yang ada kita peroleh diwaktu yang akan datang tidak ada
risiko, berarti kita dapat menentukan dengan tepat, keputusan yang akan diambil. Hal ini karena

4|Page
anggaran yang kita susun baik mengenai aliran kas masuk (cash in flow) maupun aliran kas keluar
(cash out flow) dianggap pasti terjadi dimasa yang akan datang.
Namun, jika terjadi penyimpangan, yang tidak menguntungkan, maka perusahaan akan
kesulitan menyesuaikannya, karena risiko terjadinya penyimpangan tersebut belum ditentukan
oleh perusahaan, lain jika unsur risiko telah ditentukan didepan. Maka apabila terjadi
penyimpangan perusahaan akan lebih mudah menghitungnya.
Demikian pula biaya modal yang harus dikeluarkan dalam anggaran modal. Apabila kita
menganggap bahwa COC yang akan dikeluarkan tanpa risiko, maka kita akan lebih mudah
menghitungnya. Namun, dalam kenyataannya COC tersebut kemungkinan akan naik atau turun.
COC yang turun bagi perusahaan akan menguntungkan, karena perusahaan mengeluarkan biaya
yang lebih kecil, tetapi jika COC tersebut naik, maka akan mengurangi kebutuhan perusahaan.
Apabila perusahaan menganggap bahwa biaya modal tersebut konstan/risiko, maka perusahaan
dapat menggunakan tingkat bunga bebas risiko (freerate).
Di Indonesia, nampaknya belum ada tingkat bunga yang bebas risiko secara murni.
Tingkat bunga SBI yang biasanya digunakan sebagai acuan tingkat bunga bebas risiko sebenarnya
juga mengandung risiko. Walau lebih kecil risikonya dibandingtingkat bunga deposito bank-bank
di Indonesia. Apalagi dalam keadaan keadaan perekonomian yang kurang menguntungkan. Besar
tingkat risiko yang dimaksukan dalam panilainaan investasi akan mempengaruhi besarnya hasil
yang diharapkan oleh pemodal.
Apabila perusahaan membangdingkan tingkat risiko yang tinggi pada suatu investasi yang
dianggarkan, maka pemodal yang akan menanamkan dananya pada investasi tersebut
mengharapkan hasil/ mensyaratkan hasil (required rate of return) yang tinggi pula dan terjadi
sebaliknya.Memang antara hasil dan risiko (risk and return) memiliki hubungan linear yang
berkebalikan. Semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi hasil yang diperoleh.
Sebaliknya semakin rendah risiko maka semakin rendah pula hasil yang
diperoleh/disyaratkan. Risiko terhadap perusahaan tidak dapat dihindari, kita hanya dapat
mengelola bagaimana agar risiko tersebut sekecil mungkin mempengaruhi keputusan
perusahaan. Risiko yang terjadi diperusahaan ada yang dapat dikelola/diatasi perusahaan
terdapat pula risiko yang tidak dapat diatasi perusahaan.
Risiko yang tidak dapat diatasi perusahaan ini biasanya karena tidak dapat dikontrol oleh
perusahaan. Risiko yang ada diperusahaan dapat dibedakan tiga jenis risiko :
1. Risiko Individual
Risiko yang berasal dari proyek investasi secara individu tanpa dipengaruhi oleh proyek lain.
2. Risiko Perusahaan
Risiko yang dapat diukur tanpa mempertimbangkan keanekaragaman yang dihadapi/portofolio
yang dilakukan oleh investor.
3. Risiko Pasar (Market Risk)
Risiko investasi ditinjau dari investor yang menanamkan modalnya pada investasi yang juga
dilakukan oleh perusahaan dan perusahaan-perusahaan lain.
Risiko investasi dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya perbedaan antara actual
return dan expected return, sehingga setiap investor dalam mengambil keputusan investasi harus
selalu berusaha meminimalisasi berbagai risiko yang timbul, baik jangka pendek maupun jangka
panjang. Setiap perubahan kondisi ekonomi baik mikro ataupun makro akan mendorong investor
untuk melakukan strategi yang harus diterapkan untuk tetap memperoleh return.

2.3. Pengertian Return


Return atau pengembalian adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan, individu dan
institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukan. Menurut R. J. Shook, return merupakan laba
investasi, baik melalui bunga atau dividen. Beberapa pengertian return yang lain :

5|Page
 Return on equity atau imbal hasil atas ekuitas merupakan pendapatan bersih dibagi ekuitas
pemegang saham.
 Return of capital atau imbal hasil atas modal merupakan pembayaran kas yang tidak kena pajak
kepada pemegang saham yang mewakili imbal hasil modal yang diinvestasikan dan bukan
distribusi deviden. Investor mengurangi biaya investasi dengan jumlah pembayaran.
 Return on investment atau imbal hasil atas investasi merupakan membagi pendapatan sebelum
pajak terhadap investasi untuk memperoleh angka yang mencerminkan hubungan antara
investasi dan laba.
 Return on invested capital atau imbal hasil atas modal investasi merupakan pendapatan bersih
dan pengeluaran bunga perusahaan dibagi total kapitalisasi perusahaan.
 Return realisasi merupakan return yang telah terjadi.
 Return on network atau imbal hasil atas kekayaan bersih merupakan pemegang saham yang
dapat menentukan imbal hasilnya dengan membandingkan laba bersih setelah pajak dengan
kekayaan bersihnya.
 Return on sales atau imbal hasil atas penjualannya merupakan untuk menentukan efisiensi
operasi perusahaan, seseorang dapat membandingkan presentase penjualan bersihnya yang
mencerminkan laba sebelun pajak terhadap variable yang sama dari periode sebelumnya.
 Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa
mendatang.
 Total return merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu periode tertentu.
 Return realisasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return-return realisasi masing-
masing sekuritas tunggal di dalam portofolio tersebut.
 Return ekspektasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return-return ekspektasi
masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio.

2.4. Hubungan Karakteristik Risk and Return


Semakin besar probabilitas berarti pengembalian aktual akan jauh di bawah
pengembalian yang diharapkan dan semakin besar stand-alone risk yang terkait dengan aset. The
average investors adalah orang yang menolak risiko, yang berarti bahwa investor tersebut harus
dikompensasi utuk melakukan aset yang berisiko. Oleh karena itu, aset yang berisiko lebih tinggi
memiliki return yang dibutuhkan daripada aset yang kurang berisiko. Aset yang berisiko terdiri dari :

1. Diversiable risk, yang mana risiko dapat dihilangkan melalui diversifikasi, kemudian
2. Market risk, yang mana risiko tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi.

Risiko yang berhubungan dengan aset individu adalah kontribusi risiko portofolio yang
terdiversifikasi dengan baik yang merupakan aset market risk (risiko pasar). Karena market risk tidak
dapat dihilangkan melalui diversifikasi, para investor harus dikompensasi untuk menahan risiko
tersebut. Menurut Paul L. Krugman dan Maurice Obstfeld bahwa pada kenyataanya, seorang
investor yang netral terhadap risiko cenderung mengambil posisi agresif maksimum. Ia akan
membeli sebanyak mungkin aset yang menjanjikan hasil tinggi dan menjual sebanyak mungkin aset
yang hasilnya lebih rendah. Perilaku inilah yang menciptakan kondisi suku bunga.
Adapun karakteristik tersebut secara umum dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Takut pada risiko (Risk Avoider)
Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati terhadap keputusan yang
diambilnya bahkan ia cenderung begitu tinggi melakukan tindakan yang sifatnya mengindari
risiko yang akan timbul jika keputusan diaplikasikan. Karakter pebisnis yang melakukan tindakan
seperti ini disebut dengan safety player.

6|Page
2. Hati-hati pada risiko (Risk Indifference)
Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati atau begitu menghitung terhadap
segala dampak yang akan terjadi jika keputusan diaplikasikan. Bagi kalangan bisnis, mereka
menyebut orang dengan karakter seperti ini secara ekstrem disebut sebagai tipe peragu.
3. Suka pada risiko (Risk Seeker atau Risk Lover)
Karakteristik ini adalah tipe yang begitu suka pada risiko. Mereka terbiasa dengan spekulasi dan
itu pula yang membuat penganut karakteristik ini selalu saja ingin menjadi pemimpin dan
cenderung tidak ingin menjadi pekerja. Mental risk seeker adalah mental yang dimiliki oleh
pebisnis besar dan juga pemimpin besar. Karakter ini yang paling mendominasi jika dilihat dari
kedekatannya pada risiko.

2.5. Risiko Return


Tipe-tipe Risiko :
1. Pure Risk (Risiko Murni): suatu ketidakpastian terjadi, maka kejadian tersebut pasti menimbulkan
kerugian. Risiko murni dapat dikelompokkan menjadi 3 tipe risiko, yaitu:
 Risiko aset fisik: risiko yang berakibat timbulnya kerugian pada aset fisik suatu
perusahaan/organisasi. Contoh: kebakaran, banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, dll.
 Risiko Karyawan: risiko yang disebabkan karena apa yang dialami oleh karyawan yang bekerja di
suatu perusahaan atau organisasi. Contoh : kecelakaan kerja yang menyebabkan terganggunya
aktivitas perusahaan.
 Risiko Legal: risiko dalam bidang kontrak yang mengecewakan atau kontrak tidak berjalan
sesuai dengan rencana. Contoh : perselisihan dengan perusahaan lain sehingga adanya
persoalan seperti penggantian kerugian.
2. Speculative Risk (Risiko Spekulatif) : suatu ketidakpastian akan terjadinya untung atau rugi.Risiko
ini dapat dikelompokkan menjadi 4 tipe yaitu:
 Risiko Pasar: risiko yang terjadi dari pergerakan harga pasar. Contoh: harga saham mengalami
penurunan sehingga menimbulkan kerugian.
 Risiko kredit: risiko yang terjadi karena counter party gagal memenuhi kewajibannya kepada
perusahaan. Contoh : timbulnya kredit macet, persentase piutang meningkat.
 Risiko likuiditas: risiko karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kas. Contoh: kepemilikan
kas menurun, sehingga tidak mampu membayar hutang secara tepat, menyebabkan
perusahaan harus menjual aset yang dimilikinya.
 Risiko operasional: risiko yang disebabkan pada kegiatan operasional yang tidak berjalan lancar.
Contoh: terjadi kerusakan pada komputer karena berbagai hal termasuk terkena virus.
3. Static Risk (Risiko Statis) : mungkin sifatnya murni atau spekulatif asalnya dari masyarakat yang
tidak berubah yang berada dalam keseimbangan stabil. Contoh : ketidakpastian terjadinya
sambaran petir.
4. Dynamic Risk (Risiko Dinamis) : mungkin sifatnya murni atau spekulatif timbul dari perubahan
yang terjadi dalam masyarakat. Contoh : urbanisasi, perkembangan teknologi.
5. Subjective Risk (Risiko Subyektif) : berkaitan dengan kondisi mental seseorang yang mengalami
keragu-raguan dan kecemasan akan terjadinya kejadian tertentu.
6. Objective Risk (Risiko Obyektif) : probabilitas penyimpangan aktual dari yang diharapkan sesuai
dengan pengalaman.

2.6. Sumber-Sumber Risiko


Menurut Eduardus Tandelilin, sumber-sumber risiko adalah :
 Risiko suku bunga. Naik turunnya suku bunga perbankan akan mempengaruhi keputusan
publik dalam menetapkan keputusannya. Jika suku bunga naik maka publik akan menyimpan
dananya di bank seperti dalam bentuk deposito, namun jika turun maka publik akan
menggunakan dananya untuk membeli saham.

7|Page
 Risiko pasar. Kondisi risiko pasar dapat dilihat pada saat fluktuasi pasar, krisis moneter, dan
resesi ekonomi.
 Risiko Inflasi. Saat inflasi daya beli masyarakat turun, sedangkan saat normal daya beli
masyarakat naik.
 Risiko Bisnis.
 Risiko Finansial.
 Risiko Likuiditas.
 Risiko Nilai tukar mata uang
 Risiko Negara. Berkaitan dengan keadaan politik.

2.6.1. Risiko Sistematis, Tidak Sistematis dan Total


a) Systematic Risk (Resiko sistematis)
Resiko sistematis disebut juga dengan market risk atau resiko umum. Resiko sistematis adalah
resiko yang bisa didiversifikasikan atau resiko yang sifatnya mempengaruhi secara menyeluruh.
Contohnya krisis moneter pada tahun 1997 di Indonesia yang telah menyebabkan banyak sekali
perusahaan yang bangkrut dan meningkatnya angka pengangguran. Selain itu terjadi pula pada
tahun 2008 yaitu saat dunia dilanda krisis finansial yang salah satunya disebabkan oleh kredit
subrime mortgage di Amerika Serikat (tahun 2008) yang sudah terlalu tinggi, dan ternyata tidak
bisa diatasi lagi.
b) Unsystematic Risk (Risiko tidak sistematis)
Unsystematic Risk disebut juga dengan resiko spesifik atau resiko yang dapat didiversifikasikan.
Resiko yang tidak sistematis yaitu hanya membawa dampak pada perusahaan yang terkait saja.
Jika suatu perusahaan mengalami Unsystematic Risk maka kemampuan untuk mengatasinya
masih akan bisa dilakukan, karena perusahaan bisa menerapkan berbagai strategi untuk
mengatasinya. Contohnya jika harga sekuritas perusahaan jatuh, maka perusahaan menerapkan
berbagai strategi investasi.
c) Total Risk
Total Risk adalah gabungan atau penjumlahan antara Systematic Risk dan Unsystematic Risk.

2.6.2. Alternatif Menghindari Resiko


Untuk menghindari resiko yang timbul terhadap aktivitas investasi yang dilakukan, perlu
dilakukan alternatif-alternatif dalam pengambilan keputusan. Alternatif keputusan yang diambil
adalah dianggap realistis dan tidak akan menimbulkan masalah nantinya. Tindakan seperti ini
dianggap sebagai bagian strategi investasi. Bahwa berbagai keputusan-keputusan strategis akan
menghasilkan nilai yang lebih besar bagi perusahaan. Dimana tindak lanjut dari keputusan
strategis ini adalah dengan melibatkan secara maksimal sumber daya yang ada untuk
mengimplementasikan keputusan yang dimaksud dan menentukan pihak-pihak yang
bertanggung jawab atas implementasi ini. Artinya adalah resiko yang timbul merupakan bentuk
dari realita yang terjadi, yang mana resiko itu selalu saja sulit untuk dihindari namun diusahakan
resiko itu terjadi dalam jumlah yang sangat minim.

2.6.3. Mengelola Resiko


Dalam aktivitas yang namanya resiko adalah pasti terjadi dan sulit untuk dihindari sehingga bagi
sebuah lembaga bisnis seperti perbankan sangat penting untuk memikirkan bagaimana
mengelola resiko tersebut. Dalam mengelola resiko pada dasarnya ada 4 cara yaitu :
 Memperkecil resiko, dengan cara tidak memperbesar setiap keputusan yang mengandung resiko
tinggi tapi membatasinya bahkan meminimalisirnya agar resiko tersebut tidak menambah
menjadi besar dan diluar kontrol manajemen perusahaan.
 Mengalihkan resiko, dengan cara mengalihkan resiko yang kita terima tersebut ketempat lain
seperti mengasurasikan bisnis guna menghindari terjadinya resiko yang sifatnya tidak tentu
waktunya

8|Page
 Mengontrol resiko, dengan cara melakukan kebijakan mengantisipasi terhadap timbulnya resiko
sebelum terjadi, seperti memasang alarm terhadap mobil, menempatkan satpam pada siang atau
malam hari.
 Pendanaan resiko, dengan cara menyediakan dana cadangan (reserve) guna mengantispasi
timbulnya resiko dikemudian hari, seperti perubahan terhadap nilai tukar dolar dipasaran maka
kebijakan sebuah bank adalah harus memiliki dana cadangan dalam bentuk dolar.

3. Resiko dan Return : Perhitungan Dasar


3.1. Perhitungan Return
Formula yang lebih umum untuk menghitung return adalah sebagai berikut :
Return = {[(Pt – Pt-1) + Dt] / Pt–1} x 100%
Dimana
Pt = harga atau nilai pada periode t
Pt-1 = harga atau nilai pada nilai sebelumnya (t-1)
Dt = dividen yang dibayarkan pada periode t
Periode tersebut bisa harian, bulanan, atau tahunan.

3.2. Perhitungan Tingkat Keuntungan (Return) yang Diharapkan dan Risiko


Risiko bisa didefinisikan sebagai kemungkinan penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Kita
bisa menggunakan standar deviasi yang menghitung dispersi (penyimpangan) dari hasil yang
diharapkan. Semakin besar standar deviasi tingkat keuntungan suatu aset, semakin tinggi risiko aset
tersebut. Semakin tinggi risiko suatu aset, semakin tinggi tingkat keuntungan yang diharapkan dari
aset tersebut. Dalam pasar yang efisien, hal semacam itu yang akan terjadi. Tetapi jika pasar tidak
efisien, masih ada ketidaksempurnaan pasar, kita bisa mengharapkan aset yang mempunyai tingkat
keuntungan yang tinggi tetapi mempunyai risiko yang rendah.
Secara umum, formula untuk menghitung tingkat keuntungan yang diharapkan dan risiko
(standar deviasi) dari tingkat keuntungan tersebut adalah sebagai berikut,
E(R) = ∑ pi Ri
σR2 = ∑ pi (Ri – E(R))2
σR = (σR2)1/2
Dimana:
E(R) = tingkat keuntungan yang diharapkan
pi = probabilitas untuk kondisi/scenario i
Ri = return atau tingkat keuntungan pada scenario i
σR = Standar deviasi return (tingkat keuntungan)
σR 2 = Varians return (tingkat keuntungan)

Contoh:
Perhitungan TIngkat Keuntungan yang Diharapkan
Astra Niaga
Kondisi Perekonomian Probabilitas
(A) (B)
Sangat Baik 0,20 20% 2.5%
Baik 0,20 10% 4%
Normal 0,20 7.5% 6%
Jelek 0,20 5% 6.5%
Sangat Jelek 0,20 2.5% 7%
Tingkat keuntungan
9% 5.2%
yang diharapkan
Perhatikan bahwa probabilitas berjumlah 1 (0.2 + 0.2 + 0.2 + 0.2 + 0.2 = 1).
Ada dua hukum probabilitas: 1) Jumlah probabilitas harus sama dengan 1, dan 2) Nilai probabilitas
harus lebih besar atau sama dengan nol.
9|Page
Tingkat keuntungan asset A dan asset B:
E(RA) = 0.20 (20%) + 0.20 (10%) + 0.20 (7.5%) + 0.20 (5%) + 0.20 (2.5%)
= 9%
E(RB) = 0.20 (2.5%) + 0.20 (4%) + 0.20 (6%) + 0.20 (6.5%) + 0.20 (7%)
= 5.2%
Risiko asset A dan B bisa dihitung dengan menghitung standar deviasi return masing – masing
saham.
σA2 = 0.20 (20 - 9)2 + 0.20 (10 - 9)2 + 0.20 (7.5 - 9)2 + 0.20 (5 - 9)2 + 0.20 (2.5 - 9)2
= 36.5
σA = (36.5)1/2 = 6.04 %
σB = 0.20 (2.5–5.2)2 + 0.20 (4-5.2)2 + 0.20 (6-5.2)2 + 0.20 (6.5-5.2)2 + 0.20 (7-5.2)2
2

= 2.86
σB = (2.86)1/2 = 1.69 %

4. Resiko dan Return Dalam Konteks Portofolio


4.1. Tingkat Keuntungan yang Diharapkan
Portofolio adalah gabungan dari dua aset atau lebih. Tingkat keuntungan portofolio
merupakan rata-rata tertimbang dari tingkat keuntungan aset individualnya. formula tingkat
keuntungan yang diharapkan untuk suatu portofolio bisa dituliskan sebagai berikut.
E(RP) = ∑ Xi E(Ri)
Dimana:
E(RP) = tingkat keuntungan yang diharapkan untuk portofolio
Xi = proporsi (bobot) untuk asset individual i
E(Ri) = tingkat keuntungan yang diharapkan untuk asset individual i

4.2. Risiko Portofolio


a) Kovariansi Dua Aset
Risiko portofolio tidak hanya merupakan rata-rata tertimbang dari risiko individualnya.
Risiko (varians) portofolio, untuk portofolio dengan dua aset, bisa dihitung sebagai berikut ini.
σ P2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB σAB
Dimana:
XA dan XB = proporsi investasi untuk asset A dan asset B
2 2
σA dan σB = varians return asset A dan return asset B
σAB = kovarians return asset A dan return asset B

Dari term-term di atas, hanya term σAB (kovarians return aset A dengan B) yang belum kita
bicarakan. Kovarians return dua aset mengukur arah pergerakan dua aset tersebut. Kovarians antar
dua aset dihitung dengan formula sebagai berikut ini.
σAB = ∑ pi (RAi – E(RA)) (RBi – E(RB))
Dimana:
pi = Probabilitas untuk skenario i
RAi, RB = Return aset A dan B untuk skenario i
E(RA), E(RB) = Expected return untuk aset A dan aset B

Risiko portofolio yang lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata tertimbang risiko
individualnya menunjukkan adanya manfaat diversifikasi. Manfaat diversifikasi tersebut diperoleh
karena kovarians yang negatif (arah pergerakan yang berlawanan arah) antara aset A dengan B. Jika
korelasi antara dua aset lebih kecil dari satu (korelasi akan dibicarakan pada bagian berikutnya),
maka akan ada manfaat penurunan risiko melalui diversifikasi. Risiko mempunyai nilai antara +1
sampai -1 (inklusif). Semakin kecil nilai korelasi (misal -1), maka potensi penurunan risiko semakin
tinggi.

10 | P a g e
b) Koefisiensi Korelasi
Meskipun kovarians bisa memberi gambaran arah pergerakan dua aset, tetapi angka
kovarians sensitif terhadap unit pengukuran. Koefisien tersebut bisa dihitung sebagai berikut ini.
σAB = ΓAB σA σA atau ΓAB = σAB / σA σB
Dimana:
ΓAB = Korelasi antara return aset A dengan return aset B

Korelasi mempunyai angka antara –1 sampai +1 inklusif (-1 < = ΓAB < = +1). Korelasi
merupakan kovarians yang distandardisir dengan standar deviasi masing-masing aset. Korelasi yang
positif menunjukkan hubungan yang searah antara dua aset tersebut, sementara korelasi yang
negatif menunjukkan hubungan yang berlawanan arah antara dua aset tersebut. Semakin mendekati
angka satu (positif atau negatif), semakin tinggi kaitan antara dua aset tersebut, baik kaitan positif
(jika mendekati angka +1) ataupun kaitan negatif (jika mendekati angka –1). Koefisien korelasi bisa
dilihat sebagai pengukur arah pergerakan dua aset yang distandardisir (dalam hal distandardisir
melalui standar deviasi).

4.3. Efek Diversifikasi


Kunci dalam penurunan risiko portofolio adalah kovarians (atau koefisien korelasi) antar
aset. Koefisien korelasi yang semakin mendekati negatif satu mempunyai potensi yang lebih besar
untuk menurunkan risiko portofolio. Secara umum koefisien korelasi antar saham mempunyai tanda
positif dan relatif kecil. Koefisien yang semacam itu sudah cukup baik untuk menurunkan risiko
portofolio. Hanya jika koefisien korelasi antara dua aset sama dengan satu (sempurna searah), maka
diversifikasi tidak mempunyai efek penurunan risiko. Dalam situasi ini, risiko portofolio merupakan
rata-rata tertimbang dari risiko aset individualnya.
Secara umum, jika jumlah aset dalam portofolio ditambah (misal ditambah secara random),
ada kecenderungan risiko portofolio tersebut semakin mengecil. Semakin ditambah jumlah asetnya,
penurunan risiko portofoliio semakin kecil. Dengan kata lain, ririko akan semakin menurun dengan
tingkat penurunan yang semakin melambat, dengan ditambahnya jumlah asset dalam prtofolio.
Gambar berikut ini menunjukkan situasi semacam itu.
Risiko Total, Sistematis, dan Tidak Sistematis

Gambar tersebut menunjukkan bahwa risiko portofolio, yang dihitung dengan standar
deviasi, menunjukkan penurunan yang semakin melambat, dengan ditambahnya jumlah sekuritas.
Gambar tersebut menunjukkan bahwa untuk risiko total, ada sebagian risiko yang bisa dihilangkan
melalui diversifikasi. Tetapi ada sebagian lagi yang tidak bisa dihilangkan melalui diversifikasi. Risiko
yang bisa dihilangkan disebut sebagai risiko tidak sistematis (risiko pasar), sedangkan risiko yang
tidak bisa dihilangkan disebut sebagai risiko sistematis.

11 | P a g e
Berapa banyak sekuritas yang diperlukan untuk secara efektif bisa menghilangkan risiko
tidak sistematis? Beberapa studi menunjukkan bahwa jumlah sekuritas sekitar 15-20 bisa dipakai
untuk melakukan diversifikasi yang efektif.
Risiko sistematis dihitung melalui formula:
βi = σiM / σ2M
Dimana:
βi = beta atau risiko sistematis asset i
σiM = kovarians antara return asset i dengan return pasar
σ2M = varians return pasar

5. Set yang Efisien


Tingkat keuntungan portofolio yang diharapkan merupakan rata-rata terimbang dari tingkat
keuntungan aset individualnya. Tingkat keuntungan tersebut tidak tergantung dari korelasi antara
dua aset tersebut.
a) Korelasi = +1 (Positif Sempurna)
Misalkan korelasi A dengan B (TAB) adalah +1, risiko portofolio dapat dituliskan sebagai
berikut:
σp2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB σAB atau
σp2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB σAB ΓAB σA σA
karena ΓAB = +1, kita bisa meringkaskan formula di atas menjadi:
σp2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB σA σA atau
σp2 = (XA σA + XB σB)2
σp = (XA σA + XB σB)
Persamaan di atas menunjukkan jika korelasi antara aset A dengan aset B = +1, risiko
portofolio merupakan ratarata tertimbang dari risiko aset individual. Dengan kata lain, diversifikasi
dalam situasi ini tidak memberikan manfaat, karena risiko portoflio tidak bisa lebih rendah dari rata-
rata tertimbang risiko aset individualnya.
Tabel berikut ini menunjukkan hasil perhitungan untuk risiko dan tingkat keuntungan yang
diharapkan untuk portofolio dengan komposisi yang berbeda – beda tersebut.
Risiko dan Return dengan Korelasi = 1
XA XB E(Rp) σp
100 0 9 6.04
80 20 8.25 5.17
60 40 7.5 4.3
50 50 7.125 3.865
40 60 6.75 3.43
20 80 6 2.56
0 100 5.25 1.69

b) Korelasi = -1 (Negatif Sempurna)


Misalkan korelasi antara A dengan B (ΓAB) adalah -1, risiko portofolio bisa dituliskan sebagai
berikut ini.
σp2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB (-1) σA σB atau
σp2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 - 2 XA XB (-1) σA σB
σp2 = (XA σA - XB σB)2
σp = (XA σA - XB σB) atau (XA σA - XB σB)
σp = - (XA σA - XB σB) atau - (XA σA - XB σB)
Perhatikan bahwa karena risiko selalu bertanda positif (tidak ada risiko yang negatif, minimal
adalah nol), maka risiko di atas bisa disingkat menjadi:
σp = Nilai absolut (XA σA - XB σB)

12 | P a g e
Risiko dan Return dengan Korelasi = -1
XA XB E(Rp) σp
100 0 9 6.040
80 20 8.25 4.494
60 40 7.50 2.948
50 50 7.125 2.175
40 60 6.75 1.402
20 80 6 0.144
21 79 6.04 0.067
0 100 5.25 1.690

c) Korelasi = 0 atau Tidak Ada Korelasi


Misalkan korelasi antara A dengan B (ΓAB) adalah 0, risiko portofolio bisa dituliskan sebagai
berikut ini.
σP2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + 2 XA XB (0) σA σB atau
σP2 = XA2 σA2 + XB2 σB2
σP = [XA2 σA2 + XB2 σB2] 1/2
Persamaan di atas tidak bisa disederhanakan lagi.
Risiko dan Return dengan Korelasi = 0
XA XB E(Rp) σp
100 0 9 6.04
80 20 8.25 4.85
60 40 7.50 3.69
50 50 7.13 3.14
40 60 6.75 2.63
20 80 6 1.82
0 100 5.25 1.69

5.1. Gambar Risiko dan Return


Return dan risiko portofolio dengan komposisi dan korelasi yang berbeda-beda tersebut bisa
kita plot seperti terlihat dalam gambar berikut ini. Gambar tersebut menunjukkan bahwa jika
korelasi = 0, maka return dan risiko merupakan rata-rata tertimbang dari return dan risiko aset
individualnya. Jika korelasi = -1, terbentuk dua garis, yaitu dari titik A sampai titik dimana risiko = 0,
sampai titik B. Jika korelasi = 0, maka garis yang ditengah, antara garis untuk korelasi +1 dengan
korelasi –1, akan terbentuk. Jika korelasi antara dua aset diantara –1 dengan +1, maka kurva plot
tingkat keuntungan dengan standar deviasi akan berada diantara kurva plot untuk korelasi –1
dengan +1. Secara umum, jika korelasi semakin mendekati –1, maka garis yang terbentuk akan
semakin mendekati garis –1.

13 | P a g e
Plot Risiko dan Return dengan Korelasi +1, -1, dan 0

5.2.Perhitungan Lebih Lanjut


Karena risiko = 0, maka σP = 0, dan XA + XB = 1 (karena total proporsi adalah 100%), persamaan di
atas bisa ditulis sebagai berikut ini.
0 = ( XA σA − ( 1 – XA ) σB )
0 = ( XA σA − σB + XA σB )
0 = XA ( σA + σB ) - σB
XA = σB / ( σA + σB )
Berikut ini perhitungan untuk mencari komposisi yang bisa menghasilkan risiko yang minimum, jika
korelasi = 0.
σP2 = [XA2 σA2 + XB2 σB2 ]
σP2 = [XA2 σA2 + (1 – XA)2 σB2 ]
σP2 = [XA2 σA2 + (1 – 2XA + XA2) σB2 ]
σP2 = [XA2 σA2 + σB2 – 2 XA σB2 + XA2 σB2 ]
2
σP akan mencapai titik minimum jika turunan pertama dari persamaan di atas sama dengan nol.
Dengan kata lain,
ϑ σP2 / ϑ XA =0
= 2 XA σA2 – 2 σB2 + 2 XA σB2 = 0
Setelah melakukan beberapa penyederhanaan, diperoleh,
XA = σB2/ ( σA2 + σB2 )
Jika korelasi antara dua aset bukan merupakan titik ekstrim (-1, 0, atau +1), kita juga bisa
menghitung komposisi portofolio yang menghasilkan risiko paling kecil sebagai berikut.
σP2 = XA2 σA2 + (1 – XA)2 σB2 + 2 XA (1 – XA) σAB
σP2 = XA2 σA2 + σAB - 2 XA σB2 + XA2 σAB + 2 XA σAB + 2 XA2 σAB
Risiko mencapai titik minimum jika turunan pertama dari persamaan di atas sama dengan nol.
ϑ σP2 / ϑ XA = 0
= 2 XA σA2 - 2 σB2 + 2 XA σB2 + 2 σAB + 4 XA σAB
XA ( σA2 + σB2 - 2 σAB ) = σB2 - σAB
XA = ( σB2 - σAB ) / ( σA2 + σB2 - 2 σAB )
XB = 1 - XA

5.3. Set yang Efisien untuk Portofolio dengan Lebih dari Dua Aset
Secara umum, korelasi antar aset biasanya bernilai positif tetapi kecil. Karena secara umum
korelasi antar aset akan bertanda positif , maka set yang efisien yang akan kita peroleh mempunyai
bentuk lengkung seperti bentuk garis antara korelasi 0 dengan 1 pada bagan berikut ini :

14 | P a g e
6. Risiko Dan Return Portofolio Dengan Lebih Dari Dua Aset
Perhitungan risiko dan return untuk portofolio dengan aset lebih dari dua pada dasarnya
sama dengan untuk portofolio dengan dua aset.
Misal terdapat 3 aset yang terdiri dari asset A, B dan C. Diketahui bahwa:
E(RA) = 9% σA = 6.04%
E(RB) = 5.25% σB = 1.69%
E(RC) = 12% σC = 15%
Berapa tingkat keuntungan yang diharapkan dan risiko portofilio asset A, B dan C dengan komposisi
masing-masing 40%, 30% dan 30%? Misalkan matriks korelasi antara ketiga asset tersebut sebagai
berikut
A B C
A 1 -0.96 0.20
B 1 0.15
C 1

Tingkat keuntungan yang diharapkan merupakan rata-rata tertimban dari tingkat


keuntungan asset individualnya.
E(RP) = (0.4 x 9) + (0.3 x 5.25) + (0.3 x 12) = 9.975%

Formula risiko portofolio dengan tiga aset bisa dituliskan sebagai berikut ini.
σP2 = XA2 σA2 + XB2 σB2 + XC2 σC2 + 2 XA XB σAB + 2 XA XC σAC + 2 XB XC σBC

σP2 = (0.4)2 (6.04)2 + (0.3)2 (1.69)2 + (0.3)2 (15)2 + 2 (0.4) (0.3) (-0.96 x 6.04 x 1.69) + 2 (0.4)
(0.3) (0.2 x 6.04 x 15) + 2 (0.3) (0.3) (0.15 x 1.69 x 15)
2
σP = 26.3 – 2.35 + 4.35 + 0.68 = 28.98
σP = 5.38%

Jika aset dalam portofolio semakin besar, perhitungan risiko portofolio menjadi semakin kompleks.

Komponen Risiko Portofolio


X A σA X B σB X C σC
X A σA X A 2 σA 2 XA XB σAB XA XC σAC
X B σB XA XB σAB X B 2 σB 2 XB XC σBC
X C σC XA XC σAC XB XC σBC X C 2 σC 2

Risiko total portofolio merupakan gabungan dari kotakkotak di dalam bagan tersebut. Jika
aset dalam portofolio bertambah, maka jumlah kotak juga semakin bertambah, yang berarti
komponen dalam risiko total menjadi semakin bertambah.
15 | P a g e
Varians portofolio bisa dituliskan sebagai berikut ini.
σ P2 = ∑ Xi2 σi2 + ∑i ∑j Xi Xj σij i≠j
Dimana:
σ P2 = varians portofolio
Xi = proporsi untuk asset i
σi2 = varians aset
∑∑ = penjumlahan ganda
σij = kovarians asset i dengan asset j
i≠j = menunjukkan bahwa kovarians i dengan j adalah untuk dua asset yang berbeda

Jika aset dalam portofolio bertambah, maka komponen yang perlu dihitung dalam portofolio
menjadi semakin banyak. Jika ada N aset dalam portofolio, maka kita perlu menghitung:
(N (N + 1)) /2 parameter, yang terdiri dari N varians, dan (N (N - 1)) / 2 kovarians.
Sebagai ilustrasi, jika ada 300 saham dalam portofolio, dan kita akan menghitung risiko
portofolio tersebut, maka kita perlu menghitung: 300 varians dan 150 (299) = 44.850 kovarians.
Jumlah tersebut cukup besar. Jika jumlah aset dalam portofolio adalah 1.000, maka jumlah
parameter yang harus dihitung menjadi sekitar 500.000 parameter.
Ada dua masalah yang menyebabkan model perhitungan risiko tersebut tidak bisa
diaplikasikan. Pertama, Model tersebut dikembangkan pada tahun 1950-an, dimana kemampuan
komputer belum sebaik sekarang. Kedua, analis biasanya dikelompokkan berdasarkan sektor
usaha/industri. Mereka biasanya hanya memfokuskan pada industrinya. Padahal model perhitungan
risiko portofolio di atas memerlukan perhitungan kovarians (kaitan) antar saham, yang berarti juga
antar industri. Dua masalah tersebut menyebabkan model portofolio Markowitz mengalami
perkembangan yang lambat. sampai akhirnya model indeks tunggal dikembangkan dengan tujuan
memecahkan dua masalah tersebut.

7. Model Indeks Tunggal


7.1. Risiko dan Return Aset Tunggal Berdasarkan Model Indeks Tunggal
William Sharpe (1963) mengembangkan model indeks tunggal (single index model). Menurut model
tersebut, return suatu saham/aset dipengaruhi oleh faktor bersama tunggal, sebagai berikut ini.
Rit = αi + βi Ft + eit
Faktor bersama yang dimaksud, biasanya adalah return pasar. Dengan kata lain, pergerakan return
saham dipengaruhi oleh return pasar. Berdasarkan observasi, jika kondisi pasar baik maka return
saham individual pada umunya juga baik. Sebaliknya, jika kondisi pasar jelek maka return saham
individual pada umunya juga akan jelek.
Tingkat keuntungan yang diharapkan untuk aset i bisa dituliskan sebagai berikut :
E(Ri) = αi + βi E(RM)
Menurut model indeks tunggal, total risiko bisa dipecah ke dalam dua komponen yaitu:
σ i2 = ßi2 σM2 + σei2
(Risiko Total) = (Risiko yang Tidak Bisa Dihilangkan melalui Diversifikasi) + (Risiko yang Bisa
Dihilangkan melalui Diversifikasi)
Dimana:
σi2 = risiko total (varians sekuritas i)
ßi = Beta sekuritas i (risiko sistematis sekuritas i)
σM2 = Varians return pasar
σei2 = Varians error sekuritas i
Persamaan di atas menunjukkan risiko total bisa dipecah ke dalam dua bagian: (1) risiko yang tidak
bisa dihilangkan melalui diversifikasi (risiko sistematis), dan (2) risiko yang bisa dihilangkan melalui
diversifikasi (risiko tidak sistematis). Risiko sistematis pada ß (beta saham i).
Model indeks tunggal merupakan pendekatan terhadap model perhitungan risiko
Markowitz. Karena itu hasil yang diperoleh dari model indeks tunggal bisa berbeda dengan

16 | P a g e
perhitungan secara langsung (dengan Markowitz, langsung menghitung standar deviasi return aset).
Biasanya hasil yang diperoleh oleh model indeks tunggal cenderung lebih rendah dari perhitungan
langsung. Hal tersebut dikarenakan model indeks tunggal mengasumsikan kovarians antar saham
adalah 0.
Penulisan model indeks tunggal yang lebih lengkap adalah sebagai berikut.
σi2 = βi2 σM2 + σei2 + kovarians dengan saham lainnya
Jika kovarians dengan saham lainnya mempunyai nilai negatif, maka model indeks tunggal akan
memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan yang seharusnya. Jika kovarians dengan saham
lainnya mempunyai nilai positif, maka model indeks tunggal akan memberikan hasil yang lebih
rendah dibandingkan yang seharusnya. Karena secara umum korelasi antar saham adalah positif,
maka risiko yang dihitung dengan model indeks tunggal akan cenderung lebih rendah dibandingkan
dengan risiko yang dihitung langsung (dihitung langsung variansnya). Secara umum, perbedaan
antara risiko yang dihitung melalui model indeks tunggal dengan cara langsung, cukup kecil.
Sehingga bisa dikatakan model indeks tunggal cukup akurat.
Model indeks tunggal ditujukan untuk memecahkan masalah perhitungan risiko dengan model
Markowitz. Dengan menggunakan model indeks tunggal, maka parameter yang perlu dihitung untuk
menghitung risiko aset i adalah βi, σM , dan σei2. Untuk portofolio, ketiga parameter tersebut yang
harus dihitung. Karena itu, untuk portofolio, model indeks tunggal membantu menyederhanakan
perhitungan risiko model Markowitz.

7.2. Return dan Risiko Portofolio berdasarkan Model Indeks Tunggal


Untuk portofolio dengan N aset, tingkat keuntungan yang diharapkan untuk suatu portofolio bisa
dituliskan sebagai berikut ini.
E(RP) = αP + βP E(RM)
Dimana
E(RP) = Tingkat keuntungan yang diharapkan untuk portofolio
αP = Intercept untuk portofolio
βP = Beta portofolio
E(RM) = Tingkat keuntungan pasar yang diharapkan

Parameter intercept dan beta portofolio dihitung sebagai berikut ini.


αP = ∑ wi αP βP = ∑ w i βP
Risiko portofolio menggunakan model indeks tunggal bisa dihitung sebagai berikut.
σP2 = βP2 σM2 + σeP2
Varians residual portofolio dihitung sebagai berikut ini.
σeP2 = ∑ wi2 σei2
Misal kita mempunyai empat saham A, B, C dan D dengan karakteristik sebagai berikut.
αA = 2 βA = 0.9 σeA = 30%
αB = 4 βB = 0.7 σeB = 40%
αC = 3 βC = 1.2 σeC = 25%
αD = -1 βD = 1.5 σeD = 35%
Tingkat keuntungan pasar yang diharapkan 25% dan standar deviasi 20%. Berapa tingkat keuntungan
dan risiko portofolio yang terdiri dar empat saham tersebut dengan bobot yang sama?
Pertama, menghitung parameter untuk portofolio:
αP = ¼ (2) + ¼ (4) + ¼ (3) + ¼ (-1) = 2
βP = ¼ (0.9) + ¼ (0.7) + ¼ (1.2) + ¼ (1.5) = 1.075
2
σeP = (1/4)2 (0.3)2 + (1/4)2 (0.4)2 + (1/4)2 (0.25)2 + (1/4)2 (0.35)2 = 0.027
Tingkat keuntungan ynag diharapkan dan risiko portofolio bisa dihitung sebagai berikut:
E(RP) = 2 + 1.075 (25%) = 28.88%
σ P2 = (1.075)2 (0.2)2 + 0.027 = 0.073
σP = (0.073)1/2 = 0.27 atau 2.7%

17 | P a g e
Dengan menggunakan model indeks tunggal, tingkat keuntungan yang diharapkan dan ridiko
portofolio adalah 29% dan 27%.
Misalkan kita mempunyai portofolio yang terdiri dari N aset, berapa parameter yang harus dihitung?
Parameter yang harus dihitung adalah:
Jumlah Parameter = N αP + N βP + N σei2 + 1 σM2 + 1 E(RM)
Jumlah parameter dari model indeks tunggal jauh lebih sedikit dibandingkan dengan model
Markowitz. Model indeks tunggal merupakan penyederhanaan yang sangat signifikan dari model
Markowitz. Disamping itu model indeks tunggal tidak memerlukan estimasi kovarians (kaitan) antar
saham atau sektor. Yang diperlukan adalah estimasi kaitan antara satu saham (sektor) dengan sektor
secara keseluruhan (pasar).
Perhitungan varians dan kovarians bisa dihitung melalui formula berikut ini.

Dimana
Ri¯ dan Rj¯ = Return rata-rata untuk aset i dan j
N = Jumlah observasi
Perlu diperhatikan bahwa dalam formula di atas pembagi yang dipakai adalah N - 1. Hal ini
disebabkan kita menggunakan sampel, dan untuk menghindari bias dalam estimasi dengan sampel,
pembagi N - 1 (bukannya N) yang digunakan.

18 | P a g e
MANAJEMEN KEUANGAN STRATEGIK
CHAPTER 2 – SAHAM
1. Pendahuluan
1.1. Pengertian Saham
Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal yang paling diminati investor karena
memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyetaan
modal seorang atau sepihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.
Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan
perusahaan, klaim atas aset perusahaan, dan berhak hadir dalam rapat umum pemegang saham
(RUPS). Menurut Sapto (2006:31) saham adalah “Surat berharga yang merupakan instrumen bukti
kepemilikan atau penyertaan dari individu atau institusi dalam suatu perusahaan. Sedangkan
menurut istilah umumnya, saham merupakan bukti penyertaan modal dalam suatu kepemilikan
saham perusahaan”. Menurut Husnan Suad (2008:29) pengertian saham adalah sebagai berikut
“Saham adalah secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal yaitu pihak yang memiliki kertas
tersebut untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang menerbitkan
sekuritas tersebut, dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut menjalankan
haknya”. Sedangkan menurut Fahmi (2012:81) “Saham merupakan salah satu instrument pasar
modal yang paling banyak diminati oleh investor, karena mampu memberikan tingkat pengembalian
yang menarik. Saham adalah kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan,
dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang telah dijelaskan kepada setiap pemegangnya”.
Kemudian menurut Darmadji dan Fakhruddin (2012:5) “Saham (stock) merupakan tanda
penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.
Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik
perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut”. Berdasarkan pengertian para ahli diatas
maka dapat disimpulkan saham merupakan surat bukti tanda kepemilikan suartu perusahaan yang
didalamnya tercantum nilai nominal, nama perusahaan, dan di ikuti dengan hak dan kewajiban yang
dijelaskan kepada setiap pemegangnya.

1.2. Jenis-jenis Saham


Saham merupakan surat berharga yang paling populer dan dikenal luas di masyarakat.
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2012:6), ada beberapa jenis saham yaitu:
a) Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka saham terbagi atas:
 Saham biasa (common stock), yaitu merupakan saham yang menempatkan pemiliknya paling junior
terhadap pembagian dividen, dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut
dilikuidasi.
 Saham preferen (preferred stock), merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara
obligasi dan saham biasa, karena bias menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi),
tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti ini dikehendaki oleh investor.
b) Dilihat dari cara pemeliharaannya, saham dibedakan menjadi:
 Saham atas unjuk (bearer stock) artinya pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya, agar
mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lain.
 Saham atas nama (registered stock), merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa pemiliknya,
dan dimana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.
c) Ditinjau dari kinerja perdagangnannya, maka saham dapt dikategorikan menjadi:
 Saham unggulan (blue-chip stock), yaitu saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi
tinggi, sebagai leader di industry sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam
membayar dividen.
 Saham pendapatan (income stock), yaitu saham biasa dari suatu emiten yang memiliki kemampuan
membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya.

19 | P a g e
 Saham pertumbuhan (growth stock-well known), yaitu saham-saham dari emiten yang memiliki
pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai leader di industri sejenis yang mempunyai reputasi
tinggi. Selain itu terdapat juga growth stock lesser known, yaitu saham dari emiten yang tidak
sebagai leader dalam industri namun memiliki ciri growth stock.
 Saham spekulatif (spekulative stock), yaitu saham suatu perusahaan yang tidak bisa secra konsisten
memperoleh penghasilan yang tinggi di masa mendatang, meskipun belum pasti.
 Saham skilikal (counter cyclical stock), yaitu saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi
makro maupun situasi bisnis secara umum.

2. Harga Saham
2.1. Pengertian Harga Saham
Harga saham merupakan harga penutupan pasar saham selama periode pengamatan untuk
tiap-tiap jenis saham yang dijadikan sampel dan pergerakannya senantiasa diamati oleh para
investor. Salah satu konsep dasar dalam manajemen keuangan adalah bahwa tujuan yang ingin
dicapai manajemen keuangan adalah memaksimalisasi nilai perusahaan. Bagi perusahaan yang telah
go public, tujuan tersebut dapat dicapai dengan cara memaksimalisasi nilai pasar harga sahamyang
bersangkutan. Dengan demikian pengambilan keputusan selalu didasarkan pada pertimbangan
terhadap maksimalisasi kekayaan para pemegang saham. Sartono (2008:70) menyatakan bahwa
“Harga saham terbentuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran di pasar modal. Apabila
suatu saham mengalami kelebihan permintaan, maka harga saham cenderung naik. Sebaliknya,
apabila kelebihan penawaran maka harga saham cenderung turun”. Menurut Jogiyanto (2008:167)
pengertian dari harga saham adalah “Harga suatu saham yang terjadi di pasar bursa pada saat
tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham
yang bersangutan di pasar modal”. Menurut Brigham dan Houston (2010:7) harga saham adalah
“Harga saham menentukan kekayaan pemegang saham. Maksimalisasi kekayaan pemegang saham
diterjemahkan menjadi maksimalkan harga saham perusahaan. Harga saham pada satu waktu
tertentu akan bergantung pada arus kas yang diharapkan diterima di masa depan oleh investor
“rata-rata” jika investor membeli saham”. Berdasarkan pengertian para ahli diatas maka dapat
disimpulkan bahwa harga saham adalah harga yang terbentuk sesuai permitaan dan penawaran
dipasar jual beli saham dan biasanya merupakan harga penutupan.

2.2. Jenis-Jenis Harga Saham


Adapun jenis-jenis harga saham menurut Widoatmojo (2005:54) adalah sebagai berikut:
1) Harga Nominal
Harga yang tecantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oleh emiten untuk menilai setiap
lembar saham yang dikeluarkan. Besarnya harga nominal memberikan arti penting saham karena
dividen minimal biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.
2) Harga Perdana
Harga ini merupakan pada waktu harga saham tersebut dicatat dibursa efek. Harga saham pada
pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwrite) dan emiten. Dengan demikian
akan diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual kepada masyarakat biasanya untuk
menentukan harga perdana.
3) Harga Pasar
Jika harga perdana merupakan harga jual dari perjanjian emisi kepada investor, maka harga pasar
adalah harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham
tersebut dicatat dibursa. Transaksi di sini tidak lagi melibatkan emiten dari penjamin emisi harga ini
yang disebut sebagai harga di pasar sekunder dan harga inilah yang benar-benar mewakili harga
perusahaan penerbitnya, karena pada transaksi di pasar sekunder, kecil sekali terjadi negosiasi harga
investor dengan perusahaan penerbit. Harga yang setiap hari diumumkan di surat kabar atau media
lain adalah harga pasar.

20 | P a g e
4) Harga pembukaan
Harga pembukuan adalah harga yang diminta oleh penjual atau pembeli pada saat jam bursa dibuka.
Bisa saja terjadi pada saat dimulainya hari nursa itu sudah terjadi transaksi atas suatu saham, dan
harga sesuai dengan yang diminta oleh penjual dan pembeli. Dalam keadaan demikian, harga
pembukuan bisa menjadi harga pasar, begitu juga sebaliknya harga pasar mungkin juga akan
menjadi harga pembukaan. Namun tidak selalu terjadi.
5) Harga Penutupan
Harga penutupan adalah harga yang diminta oleh penjual atau pembeli pada saat akhir hari bursa.
Pada keadaan demikian, bisa saja terjadi pada saat akhir hari bursa tiba-tiba terjadi transaksi atas
suatu saham, karena ada kesepakatan antar penjual dan pembeli. Kalau ini yang terjadi maka harga
penutupan itu telah menjadi harga pasar. Namun demikian, harga ini tetap menjadi harga
penutupan pada hari bursa tersebut.
6) Harga Tertinggi
Harga tertinggi suatu saham adalah harga yang paling tinggi yang terjadi pada hari bursa. Harga ini
dapat terjadi transaksi atas suatu saham lebih dari satu kali tidak pada harga yang sama.
7) Harga Terendah
Harga terendah suatu saham adalah harga yang paling rendah yang terjadi pada hari bursa. Harga ini
dapat terjadi apabila terjadi transaksi atas suatu saham lebih dari satu kali tidak pada harga yang
sama. Dengan kata lain, harga terendah merupakan lawan dari harga tertiggi.
8) Harga Rata-Rata
Harga rata-rata merupakan perataan dari harga tertinggi dan terendah.

2.3. Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham


Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fluktuasi harga saham di pasar modal,
hal ini terjadi karena harga saham dapat mempengaruhi oleh faktor eksternal dari perusahaan
maupun faktor internal perusahaan. Menurut Brigham dan Houston (2010:33) harga saham
dipengaruhi oleh beberapa factor utama yaitu:
a) Faktor internal
 Pengumuman tentang pemasaran produksi penjualan seperti pengiklanan, rincian kontrak,
perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan, dan laporan
penjualan.
 Pengumuman pendanaan, seperti pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang.
 Pengumuman badan direksi manajemen (management board of director announcements) seperti
perubahan dan pergantian direktur, manajemen dan struktur organisasi.
 Pengumuman pengambilalihan diverifikasi seperti laporan merger investasi, investasi ekuitas,
laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi, laporan investasi dan lainnya.
 Pengumuman investasi seperti melakukan ekspansi pabrik pengembangan riset dan penutupan usah
lainnya.
 Pengumuman ketenagakerjaan (labour announcements), seperti negosiasi baru, kotrak baru,
pemogokan dan lainnya.
 Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalaba sebelum akhir tahun viscal dan
setelah akhir tahun vicscal earning per share (EPS), dividen per shere (DPS), Price Earning Ratio, Net
profit margin, return on assets (ROA) dan lain-lain.

b) Faktor eksternal
 Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito kurs valuta
asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan regulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
 Pengumuman hukum seperti tuntutan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan
tuntutan perusahaan terhadap manajernya.
 Pengumuman industri sekuritas, seperti laporan pertemuan tahunan insider trading, volume atau
harga saham perdagangan pembatasan atau penundaan trading.

21 | P a g e
Menurut Agus Sartono (2008:9), harga saham terbentuk dipasar modal dan ditentukan oleh
beberapa faktor seperti laba per lembar saham atau earning per share, rasio laba terhadap harga per
lembar saham atau price earning ratio, tingkat bunga bebas risiko yang diukur dari tingkat bunga
deposito pemerintah dan tingkat kepastian operasi perusahaan. Selain faktor-faktor di atas, harga
saham juga dapat dipengaruhi oleh kondisi perusahaan. Semakin baik kinerja suatu perusahaan akan
berdampak pada laba yang diperoleh perusahaan dan keuntungan yang didapat oleh investor,
sehingga akan mempengaruhi peningkatan harga saham.

2.4. Pendekatan Penilaian Saham


Untuk menentukan harga saham diperlukan adanya suatu model perhitungan yang bisa
dipergunakan untuk memilih saham mana yang seharusnya dimasukkan dalam portofolio. Model
perhitungan merupakan suatu mekanisme untuk mengubah serangkaian variabel perusahaan
(misalnya penjualan, laba, dan deviden) yang diamati menjadi perkiraan harga saham. Ada 2
pendekatan untuk menentukan harga saham yaitu:
1. Analisis Fundamental
Dalam analisis ini dinyatakan bahwa, saham memiliki nilai intrinsik tertentu. Analisis ini akan
membandingkan nilai intrinsik suatu saham dengan harga pasarnya yaitu dengan dua pendekatan:
a) Pendekatan Deviden
Deviden merupakan sebagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham. Pembayaran deviden
yang tinggi mencerminkan prospek tingkat keuntungan yang baik suatu perusahaan. Sedangkan
penurunan tingkat pembayaran deviden dapat menjadi informasi yang kurang menguntungkan bagi
perusahaan sebab deviden juga dianggap sebagai tanda tersedianya pendapatan yang tinggi dalam
perusahaan dan juga mengindikasikan tingkat pertumbuhan pendapatan saat ini dan masa yang
akan datang. Pada akhirnya harga saham akan mengikuti naik turun besarnya deviden yang
dibagikan.
b) Pendekatan Price Earning Ratio (PER)
Pada dasarnya PER memberikan indikasi tentang jangka waktu yang diperlukan untuk
mengembalikan dana pada tingkat harga saham dan keuntungan perusahaan pada suatu periode
tertentu. Oleh karena itu, rasio ini menggambarkan kesediaan investor untuk membayar sejumlah
uang tertentu untuk setiap rupiah perolehan laba perusahaan.

2. Analisis Teknikal
Analisis ini dimulai denga cara memperhatikan perubahan harga suatu saham dari waktu ke waktu.
Model analisis ini beranggapan bahwa harga suatu saham akan ditentukan oleh supply dan demand
terhadap saham tersebut, sehingga asumsi yang berlaku dalam model analisis ini adalah:
 Harga pasar saham ditentukan oleh interaksi supply dan demand;
 Supply dan demand dipengaruhi banyak faktor baik yang rasional maupun irasional;
 Perubahan harga saham cenderung mengikuti tren tertentu;
 Tren tersebut dapat berubah mengikuti pergeseran supply dan demand;
 Pergeseran supply dan demand dapat dideteksi dengan mempelajari diagram perilaku pasar.

3. Free Cash Flow


3.1. Pengertian
Arti sederhana dan singkat Arus Kas Bebas adalah sisa perhitungan arus kas yang dihasilkan
oleh suatu perusahaan di akhir suatu periode keuangan (kuartalan atau tahunan)—setelah melalui
proses pembayaran gaji, biaya produksi, tagihan, cicilan hutang berikut bunganya, pajak, dan juga
belanja modal (capital expenditure) untuk pengembangan usaha. Sisa uang inilah yang disebut Arus
Kas Bebas. Meski dinamankan bebas tapi manajemen tidak bisa sebebasnya menggunakan uang ini
karena uang sisa inilah yang bisa digunakan untuk mengembangkan usaha, kalau tidak mengambil
dana dari hutang dan sumber dana lainnya.

22 | P a g e
3.2. Rumus Arus Kas Bebas
Rumus singkat (dan yang paling mudah) untuk menghitung Arus Kas Bebas adalah berikut:
Arus Kas Bebas = Arus Kas dari Operasi – Belanja Modal

Data yang diperlukan untuk menghitung arus kas bebas bisa didapat dari laporan
keuangan perusahaan. Laporan yang diperlukan ada di laporan arus kas, biasanya di bagian
terakhir setelah neraca, laba/rugi, dan laporan ekuitas. Dalam laporan arus kas ada tiga jenis arus,
yaitu: dari/untuk operasi, dari/untuk investasi, dan dari/untuk pendanaan. Untuk menghitung arus
kas bebas (free cash flow), arus kas dari operasi sudah jelas sumbernya. Untuk Belanja Modal,
sumber utamanya adalah Arus Kas dari/untuk Investasi, dengan fokus pembelian/pembayaran/sewa
aset tetap yang menunjang aktivitas produksi perusahaan. Kegiatan inilah yang biasnya disebut
Belanja Modal atau capital expenditure (capex).
Ada beberapa perusahaan yang melaporkan pos capex dalam laporan keuangan di segmen
terpisah. Tak usah bingung, investor konservatif cukup konsentrasi di laporan arus kas dari/untuk
investasi khususnya hal-hal mengenai aset tetap tadi.
Berikut ini adalah contoh laporan arus kas konsolidasian PT. Astra Graphia Tbk. tahun 2011
di bawah ini:

23 | P a g e
Untuk Belanja Modal, kita harus mencari data arus kas untuk investasi yang digunakan pada
periode tersebut, pos belanja modal biasanya tercatat sebagai pembelian aset tetap/mesin,
perawatan, upgrade, dll. Pengeluaran/pemasukan investasi untuk aset tetap yang tidak berpengaruh
terhadap penambahan aset tetap tidak dianggap sebagai belanja modal.
Dari sana kita dapatkan angka-angka berikut (semua dalam jutaan):
 Keterangan B, Total Arus kas dari Operasi = Rp54.935
 Keterangan C, Total Belanja Modal, dari Pembelian Aset Tetap = Rp17.208
Untuk sederhananya, kita abaikan pos investasi pada pengendalian entitas karena pos ini
memerlukan penjelasan lebih lanjut apakah untuk investasi aset tetap atau bukan. Sementara itu
pos lain jelas bukan investasi aset tetap. Sehingga kita bisa hitung Arus Kas Bebasnya adalah:
Arus Kas Bebas = 54.935 – 17.208 = Rp37.727

3.3. Manfaat Analisa Free Cash Flow


Dengan mengetahui Arus Kas Bebas inilah kita akan bisa melihat proyeksi
pertumbuhan/kesehatan suatu perusahaan. Sebagai contohnya dalam lima tahun terakhir, disajikan
Arus Kas Bebas ASGR sebagai berikut:

2011 2010 2009 2008 2007

Arus 54.935 183.429 177.643 167.217 121.785


Kas
Operasi

Belanja (17.208) (18.289) (30.260) (123.569) (75.009)


Modal

Arus 37.727 165.140 147.383 43.648 46.776


Kas
Bebas

Dari tabel di atas kita bisa lihat dari tahun ke tahun posisi Arus Kas Bebas ASGR selalu positif.
Ini tandanya penghasilan (penjualan jasa/produk) dari perusahaan mampu menunjang usaha.
Dengan mengetahui free cash flow, kita bisa menganalisa bagaimana sebuah perusahaan
memanfaatkan kas uangnya. Kemudia dapat ditelusuri adalah apa yang dilakukan perusahaan untuk
memanfaatkan Arus Kas Bebasnya, apakah dengan membayar dividen ataukah dengan membeli
saham baru.

3.4. Arus Kas Bebas Negatif


Kemudian apabila ada arus kas bebas yang negatif, arus kas bebas negatif harus menjadi
perhatian. Ini tandanya pendapatan perusahaan tidak mampu menunjang ekspansi atau
pengembangan usaha. Karena negatif atau kekurangan dana, maka perusahaan perlu dana lain
untuk menggantikannya. Dana lain ini mau tak mau adalah dari hutang, bisa dari bank atau obligasi
(bila perusahaan mampu menerbitkannya). Segala bentuk hutang akan tercatat di laporan arus kas
bagian pendanaan (financing) dalam bentuk aliran masuk (positif, bila negatif artinya pembayaran
hutang). Bila setahun atau dua tahun ada posisi negatif, mungkin perusahaan sedang melakukan
ekspansi besar pada saat itu. Maka rincian catatan kaki di laporan keuangan harus diperiksa kembali
untuk memastikan kejelasan pengeluaran tersebut.

24 | P a g e
MANAJEMEN KEUANGAN STRATEGIK
CHAPTER 3 – OBLIGASI
1. Pendahuluan
1.1. Pengertian Obligasi
Pengertian obligasi adalah surat pengakuan atau pernyataan utang yang diterbitkan oleh
suatu perusahaan atau pemerintah sebagai pihak yang berutang, yang diserahkan kepada pemegang
obligasi dan disertai dengan janji untuk membayar pokok utang beserta kupon bunganya setiap
tanggal jatuh tempo pembayaran.
Pendapat lain mengatakan bahwa arti obligasi adalah jenis surat berharga atau sertifikat
tanda pengakuan utang yang diterbitkan oleh suatu perusahaan atau pemerintah kepada pemberi
pinjaman (investor). Dengan kata lain, penerbit obligasi adalah pihak yang berutang sedangkan
pemegang obligasi adalah pihak yang berpiutang.
Pada umumnya obligasi dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan yang membutuhkan
pinjaman modal dari pihak eksternal. Pinjaman tersebut memiliki jangka waktu tertentu, yaitu 5
tahun hingga 30 tahun.
Obligasi merupakan produk dari pasar modal dan bukan produk dari lembaga keuangan
Bank atau non-Bank. Namun dalam hal ini Bank dapat berperan sebagai agen penjual obligasi.

1.2. Pengertian Obligasi Menurut Para Ahli


Agar lebih memahami apa arti obligasi (bond), maka kita dapat merujuk pada pendapat para ahli
berikut ini:
 Jonathan B. Berk
Menurut Jonathan B. Berk (2007:212), pengertian obligasi adalah surat berharga yang diterbitkan
(dijual) oleh perusahaan atau pemerintah untuk memperoleh dana dari investor dengan pemberian
kompensasi berupa bunga yang dibayarkan berdasarkan perjanjian awal.
 Eduardus Tandelilin
Menurut Eduardus Tandelilin (2010:40), arti obligasi adalah suatu sekuritas yang berisi janji untuk
memberi pembayaran tetap sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
 Frank J. Fabozzi
Menurut Frank J. Fabozzi, pengertian obligasi adalah jenis hutang atau surat pengakuan utang
sebuah perusahaan atau pemerintah yang akan dibayar lunas ketika waktu jatuh tempo sebesar
jumlah nominalnya. Penghasilan yang bisa diperoleh dari sebuah obligasi adalah tingkat bunga yang
dibayarkan oleh penerbit obligasi.
 Yuliana dkk
Menurut Yuliana dkk (2011), pengertian obligasi adalah surat pengakuan utang yang diterbitkan
perusahaan atau pemerintah atau lembaga yang lain sebagai pihak yang berutang, yang memiliki
nilai nominal tertentu dan kesanggupan untuk membayar bunga secara berkala atas dasar
persentase tertentu yang tetap.
 Keputusan Presiden RI
Menurut Keppres RI No. 775/KMK/001/1982, pengertian obligasi adalah jenis efek berupa surat
pengakuan utang atas pinjaman uang dari masyarakat dalam bentuk tertentu, untuk jangka waktu
sekurang-kurangnya 3 tahun dengan menjanjikan imbalan bunga yang jumlah serta saat
pembayarannya telah ditentukan terlebih dahulu oleh emiten.

1.3. Karakteristik Obligasi


Obligasi memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis surat berharga lainnya. Adapun
karakteristik obligasi adalah sebagai berikut:

25 | P a g e
a) Nilai Obligasi
Pihak yang menerbitkan obligasi harus menjelaskan besar dana yang dibutuhkan, dikenal dengan
istilah “jumlah emisi obligasi”. Adapun penentuan besar jumlah obligasi yang diterbitkan ditentukan
oleh aliran arus kas, besar kebutuhan, dan kinerja bisnis.
b) Jangka Waktu Obligasi
Jatuh tempo (maturity) obligasi mulai dari 1 tahun hingga 10 tahun. Namun biasanya masa jatuh
tempo obligasi adalah 5 tahun. Pada umumnya investor lebih menyukai obligasi jangka pendek
karena dianggap risikonya kecil.
c) Principal dan Coupon Rate
Principal rate adalah besaran uang yang harus dibayarkan oleh penerbit obligasi kepada pemegang
obligasi pada masa jatuh tempo. Nilai principal rate ini berhubungan dengan redemption value,
maturity value, par value or face value. Sedangkan coupon rate adalah tingkat bunga yang harus
dibayarkan oleh penerbit obligasi kepada pemegang obligasi setiap tahunnya.
d) Jadwal Pembayaran
Kewajiban pembayaran coupon dilakukan oleh penerbit obligasi secara berkala sesuai kesepakatan.
Misalnya triwulan, per semester, atau per tahun.

1.4. Jenis-Jenis Obligasi


Terdapat banyak jenis obligasi yang dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, yaitu
berdasarkan penerbitnya, berdasarkan sistem pembayaran bunga, serta berdasarkan jenis dan
karakteristiknya :
a) Berdasarkan Penerbitnya
 Government Bond atau Treasury Bond, yaitu obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah. Misalnya,
Bank sentral atau Departemen Keuangan.
 Corporate Bond, yaitu obligasi yang diterbitkan oleh suatu perusahaan.
 Municipal Bond, yaitu obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai proyek
tertentu di daerah.
b) Berdasarkan Sistem Pembayaran Bunga
 Zero Coupon Bonds, yaitu obligasi yang pembayaran bunganya dilakukan sekaligus pada saat jatuh
tempo.
 Coupon Bonds, yaitu obligasi yang pembayaran kuponnya dilakukan secara periodik sesuai dengan
ketentuan dari penerbit obligasi.
 Fixed Coupon Bonds, yaitu obligasi yang tingkat kupon bunga nya telah ditetapkan sebelum masa
penawaran di pasar perdana, dan pembayarannya dilakukan secara periodik.
 Floating Coupon Bonds, yaitu obligasi yang tingkat kupon bunga nya ditentukan sebelum jangka
waktu tertentu, atau mengacu pada suatu ketentuan. Misalnya Average Time Deposit (ATD).
c) Berdasarkan Jenis dan Karakteristiknya
 Callable Bond, yaitu obligasi yang hanya bisa ditarik pada saat jatuh tempo.
 Convertible Bond, yaitu obligasi yang dapat diubah menjadi saham oleh pemegang obligasi.
 Non-Convertible Bond, yaitu obligasi yang tidak dapat diubah menjadi saham.
 Euro Bond, yaitu obligasi yang diterbitkan di luar negeri dalam mata uang asing.
 Yankee Bond, yaitu obligasi yang diterbitukan dalam mata uang lokal dimana obligasi tersebut
ditawarkan.
 Zero Coupon Bond, yaitu obligasi yang tidak membayar bunga dan dijual dengan diskon.
 Floating Rate Bond, yaitu obligasi yang menawarkan coupon rate berubah-ubah.

1.5. Kelebihan dan Kekurangan Obligasi


Sama seperti halnya surat berharga lainnya, obligasi memiliki kelebihan dan kekurangan
tersendiri. Berikut penjelasannya:

26 | P a g e
a) Kelebihan Obligasi
 Pemegang obligasi mendapatkan bunga (kupon obligasi) yang umumnya lebih tinggi dari bunga
deposito Bank. Jenis kupon tersebut adalah kupon tetap (fixed coupon) dan kupon mengambang
(floating coupon).
 Surat berharga berbentuk obligasi mudah untuk diperdagangkan di pasar sekunder, sesuai
mekanisme Bursa Efek Indonesia (BEI) ataupun di luar BEI.
 Pemegang obligasi mendapatkan keuntungan dari Capital Gain, yaitu selisih harga obligasi ketika
obligasi tersebut di perdagangkan.
 Obligasi dapat dijadikan agunan kredit di Bank atau untuk membeli instrumen aktiva lain.
 Investasi obligasi merupakan investasi yang aman karena pembayaran pokok utang dan kupon
dijamin oleh peraturan perundang-undangan.
b) Kekurangan Obligasi
 Pada obligasi tertentu, terdapat risiko gagal bayar dari penerbit obligasi sehingga investor tidak
mendapatkan untung atau bahkan bisa kehilangan investasinya. Risiko ini tidak terdapat pada
obligasi negara yang terlindungi undang-undang.
 Obligasi mudah terpengaruh terhadap perubahan ekonomi, suku bunga, dan situasi politik yang
tidak menentu.
 Pihak investor akan mengalami kerugian ketika menjual obligasi di pasar sekunder sebelum jatuh
tempo karena harga jualnya lebih rendah ketimbang harga beli.

1.6. Penilaian Obligasi


Obligasi merupakan surat utang jangka menengah atau panjang, yang dapat
dipindahtangankan dan berisi janji dari pihak yang menerbitkan obligasi, untuk membayar imbalan
berupa bunga atau kupon pada periode tertentu, serta melunasi pokok utang pada waktu yang telah
ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Karakteristik obligasi yaitu :
a. Bunga (Coupon), yaitu salah satu bentuk pendapatan yang diperoleh pemegang obligasi, selain
pendapatan berupa gains, yaitu selisih harga jual obligasi dengan harga belinya.
b. Nilai nominal (face value or par value), yaitu nilai yang tercantum dalam obligasi, dan merupakan
jumlah nilai yang akan dibayar kembali ketika obligasi jatuh tempo. Besarnya coupon tahunan dibagi
dengan nilai nominal disebut coupon rate.
c. Jangka waktu jatuh tempo (maturity), yaitu tanggal saat nilai nominal obligasi harus dilunasi oleh
perusahaan yang menerbitkan obligasi. Jangka waktu obligasi biasanya lebih dari 5 tahun.

1.7. Nilai Obligasi dan Yields


Untuk menentukan nilai obligasi pada suatu saat tertentu, maka perlu diketahui jangka
waktu sisa umur obligasi sampai dengan jatuh tempo, nilai nominal, kupon, dan suku bunga pasar.
Rumus nilai obligasi :
Nilai obligasi = C x {1 – 1/(1+r)t} /r+F/(1+r)t
Dimana :
F = nilai nominal obligasi
C = Kupon yang dibayarkan setiap periode
t = jangka waktu sampai dengan jatuh tempo
r = suku bunga di pasar
Misalkan perusahaan GLOBAL menerbitkan obligasi dengan jangka waktu 10 tahun, dengan
menerbitkan nominal Rp1.000.000 dan kupon yang dibayarkan setiap tahun Rp80.000. jika suku
bunga pasar sebesar sama dengan coupon rate yaitu 8%, maka nilai obligasi adalah:
Nilai sekarang dari nominal obligasi = Rp1.000.000/(1,08)10
= Rp1.000.000/2,1589

27 | P a g e
= Rp463.190
Nilai sekarang anuitas dari kupon obligasi = Rp80.000 x {1-1/(1,08) 10}/0,08
= Rp80.000 x {1-1/2,1589}/0,08
= Rp80.000 x 6,7101
= Rp536.810
Nilai obligasi = Rp463.190 + Rp536.810
= Rp1.000.000
Dengan demikian jika suku bunga di pasar sama dengan coupon rate, maka nilai obligasi
sama dengan nilai nominalnya. Jika suku bunga dipasar lebih tinggi dari pada coupon rate, maka nilai
obligasi akan lebih rendah dari nilai nominalnya. Demikian sebaliknya, jika suku bunga di pasar lebih
rendah daripada coupon rate, maka nilai obligasi akan lebih tinggi dari nilai nominalnya.
Jika suku bunga di pasar satu tahun kemudian naik menjadi 10%, maka nilai obligasi
perusahaan GLOBAL, untuk sisa umur obligasi 9 tahun adalah:
Nilai sekarang dari nominal obligasi = Rp1.000.000/(1,10)9
= Rp1.000.000/2,3579
= Rp424.100
Nilai sekarang anuitas dari kupon obligasi = Rp80.000 x {1 – 1/(1,10)9}/0,10
= Rp80.000 x {1 – 1/ 2,3579}/0,10
= Rp80.000 x 5,7590
= Rp460.720
Nilai obligasi = Rp424.100 + Rp460.720
= Rp1.136.030

1.8. Risiko Suku Bunga


Risiko suku bunga adalah risiko yang timbul bagi pemilik obligasi sebagai akibat fluktuasi
suku bunga di pasar. Berapa besar risiko suku bunga suatu obligasi tergantung pada seberapa
sensitif harga obligasi terhadap perubahan suku bunga di pasar.

Menentukan Yield To Maturity : Metode Coba-Coba


Untuk menentukan yield to maturity dapat dihitung dengan cara coba-coba. Sebagai contoh,
semisal ada tawaran obligasi dengan nominal Rp1.000.000, jangka waktu 6 tahun, coupon rate 8%,
dan broker menawarkan dengan harga Rp955.140. berapa tingkat keuntungan obligasi tersebut?
Maka, Rp955.140 = Rp80.000 x {1 – 1/(1+r)6 + Rp1.000.000/(1+r)6
Dimana r = yield to maturity
Berapa besar nilai r yang menghasilkan nilai sekarang anuitas dari kupon dan nilai sekarang
nominal obligasi sama dengan Rp955.140. Jika dicoba nilai r = 10%, maka akan diperoleh nilai
obligasi = Rp912.890, lebih rendah dari harga obligasi. Hal ini berarti harus dicoba nilai r yang lebih
rendah, sampai diperoleh nilai r yang menghasilkan nilai obligasi = Rp955.140.
Yield to maturity suatu obligasi berbeda dengan current yield obligasi yang dihitung dari
besarnya kupon tahunan dibagi dengan harga obligasi, yaitu:
Current yield = Rp80.000/Rp955.140 = 8,38%

1.9. Tingkat Suku Bunga dalam Pasar Keuangan


Pasar keuangan adalah merupakan mekanisme pasar yang memungkinkan bagi seorang atau
koporasi untuk dengan mudah dapat melakukan transaksi penjualan dan pembelian dalam bentuk
sekuritas keuangan (seperti saham dan obligasi), Dalam sekuritas komoditas dimungkinkan dapat

28 | P a g e
melakukan pembelian dan penjualan awal atas produk-produk sumber alam seperti produk
pertanian dan pertambangan dan lain sebagainya.
Dalam dunia keuangan, pasar keuangan ini meliputi:
 Penjual saham dalam memperolehkan modal melalui pasar modal;
 Pengalihan atas risiko pada transaksi pasar derivatif; dan
 Perdagangan internasional melalui pasar valuta asing.
Pasar keuangan dapat berarti :
1. Suatu sistim pasar yang memfasilitasi terjadinya perdagangan antar produk dan turunan keuangan
seperti misalnya bursa efek yang memfasilitasi perdagangan saham, obligasi dan waran .
2. Pertemuan antara pembeli dan penjual untuk memperdagangkan produk keuangan dalam berbagai
cara termasuk penggunaan bursa efek, secara langsung antara penjual dan pembeli (over-the-
counter).
Dalam dunia akademis, mahasiswa bidang studi keuangan akan menggunakan kedua makna
tersebut namun mahasiswa ekonomi hanya menggunakan makna yang kedua. Terdapat beberapa
jenis pasar keuangan. Setiap pasar akan melayani wilayah atau menangani jenis sekuritas yang
berbeda. Yaitu:
 Pasar Aktiva Fisik : yang juga disebut sebagai pasar aktiva berwujud atau nyata adalah pasar bagi
produk produk seperti gandum, mobil dan real estate.
 Pasar Aktiva Keuangan : akan berhubungan dengan saham, obligasi, wesel hipotek dan klaim –klaim
atas asset riil lainnya.
 Pasar Tunai (spot) atau pasar berjangka futures (futures) adala istilah –istilah yang menunjuk kepada
apakah aktiva tersebut dibeli atau dijual untuk pengiriman langsung (on the spot) atau untuk
pengiriman pada suatu tanggal dimasa depan.
 Pasar uang adalah pasar untuk sekuritas utang dengan waktu jatuh tempo kurang dari 1 tahun.
 Pasar modal adalah pasar untuk utang jangka panjang dan saham-saham perusahaan.
Tanpa adanya pasar keuangan ini maka peminjam uang (kreditur) akan mengalami kesulitan
dalam menemukan debitur yang bersedia untuk memberikan pinjaman kepadanya. Pengantara
seperti bank membantu dalam melakukan proses ini, dimana bank menerima deposito dari
nasabahnya yang memiliki uang untuk ditabung dan kemudian bank dapat meminjamkan uang ini
kepada orang yang berniat untuk meminjam uang. Bank biasanya memberikan pinjaman uang dalam
bentuk kredit dan kredit pemilikan rumah.
Pemberi pinjaman secara Individu tidak pernah menganggap dirinya sebagai pemberi
pinjaman namun mereka meminjamkan sejumlah uang kepada pihak lainnya dalam berbagai cara
seperti misalnya:
 Menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan atau deposito di bank ;
 Menjadi peserta program dana pensiun;
 Membayar premi asuransi ;
 Investasi dalam obligasi pemerintah; atau
 Investasi dalam saham perusahaan.
Perusahaan cenderung menjadi peminjam untuk permodalannya. Apabila perusahaan
mengalami kelebihan dana tunai yang tidak digunakan dalam jangka waktu pendek maka mereka
meminjamkan uang tersebut melalui pasar pinjaman jangka pendek yang disebut pasar uang. Amat
sedikit perusahaan yang memilki struktur arus kas yang kuat, dan perusahaan seperti inilah yang
cenderung menjadi pemberi pinjaman dibanding meminjam uang. Peminjam individu meminjam
uang melalui kredit bank untuk kebutuhan jangka pendek maupun panjang guna pembiayaan
pembelian rumah. Perusahaan meminjam uang untuk membantu kebutuhan jangka pendek maupun
panjang guna perputaran dananya maupun untuk pengembangan bisnis. Pemerintah seringkali
menghadapi suatu masalah dimana pengeluaran mereka lebih besar daripada pemasukan pajaknya
maka guna menutupi kekurangan ini dibutuhkan pinjaman. Pemerintah juga melakukan peminjaman
bagi keperluan badan usaha milik negara, pemerintah daerah, otoritas setempat dan sektor publik
lainnya. Peminjaman ini dilakukan dengan cara menerbitkan obligasi pemerintah.

29 | P a g e
Pemerintah daerah dapat meminjam atas nama daerahnya sebagaimana halnya dengan
penerimaan pinjaman dari pemerintah pusat. Badan usaha milik negara dan perusahaan
publik biasanya termasuk industri nasional dal layanan publik seperti perusahaan kereta api pos,
perusahaan listrik negara, air minum dan perusahaan penyedia layanan publik lainnya.
Pasar primer adalah pasar dimana perusahaan mendapatkan model baru sedangkan Pasar
sekunder adalah pasar dimana sekuritas yang sudah ada dan telah beredar diperdagangkan diantara
para investor.
Derivatif adalah sekuritas yang nilainya didapatkan dari harga beberapa aktiva yang mendasarinya.
Perpindahan modal diantara peminjam dan penabung terjadi :
 Melalui perpindahan langsung uang dan sekuritas, yaitu ketika sebuah bisnis menjual saham atau
obligasinya secara langsung kepada penabung tanpa melalui institusi keuangan apapun.
 Melalui perpindahan melalui badan perbankan investasi yang bertindak selaku perantara dan
memfasilitasi perpindahan sekuritas.
 Melalui perpindahan melewati perantara keuangan yang menciptakan sekuritas-sekuritas baru.
Diantara beberapa kelompok utama perantara adalah bank komersial, lembaga simpan
pinjam, bank simpanan bersama, serikat kredit, dana pensiun, perusahaan asuransi jiwa dan reksa
dana Salah satu hasil dari perubahan peraturan yang sedang berlangsung adalah pengaburan
perbedaan diantara institusi-institusi keuangan yang berbeda. Tren yang terjadi di Amerika Serikat
adalah ke arah perusahaan Jasa Keuangan yang menawarkan beragam layanan keuangan termasuk
perbankan investasi, operasi, pialang, asuransi dan perbankan komersial.
Jenis kelompok perantara keuangan:
 Bank komersial
 Lembaga simpan pinjam
 Bank simpanan bersama
 Serikat kredit
 Dana pension perusahaan asuransi jiwa
 Reksa dana
Bursa efek atau bursa saham adalah sebuah pasar yang berhubungan dengan pembelian dan
penjualan efek perusahaan yang sudah terdaftar di bursa itu. Bursa efek tersebut, bersama-sama
dengan pasar uang merupakan sumber utama permodalan eksternal bagi perusahaan dan
pemerintah. Biasanya terdapat suatu lokasi pusat, setidaknya untuk catatan, namun perdagangan
kini semakin sedikit dikaitkan dengan tempat seperti itu, karena bursa saham modern kini
adalah jaringan elektronik, yang memberikan keuntungan dari segi kecepatan dan biaya transaksi.
Karena pihak pihak yang bertransaksi tidak perlu saling tahu lawan transaksinya, perdagangan dalam
bursa hanya dapat dilakukan oleh seorang anggota, sang pialang saham. Permintaan dan penawaran
dalam pasar-pasar saham didukung faktor-faktor yang, seperti halnya dalam setiap pasar bebas,
memengaruhi harga saham (lihat penilaian saham).
Sebuah bursa saham sering kali menjadi komponen terpenting dari sebuah pasar saham.
Tidak ada keharusan untuk menerbitkan saham melalui bursa saham itu sendiri dan saham juga tidak
mesti diperdagangkan di bursa tersebut: hal semacam ini dinamakan "off exchange". Untuk saham
yang sudah terdaftar perdagangannya harus dilapor ke bursa ybs. Penawaran pertama dari saham
kepada investor dinamakan pasar perdana atau pasar primer dan perdagangan selanjutnya
disebut pasar kedua (sekunder).
Modal dialokasikan melalui system harga: Ada harga yang harus dibayarkan untuk
meminjam uang. Pemberi pinjaman mengenakan bunga atas dana yang dipinjamkan, sedangkan
investor ekuitas menerima dividen dan keuntungan modal sebagai ganti dari diperbolehkannya
perusahaan menggunakan uang pemberi pinjaman tersebut.

30 | P a g e
Ada empat faktor mendasar yang mempengaruhi biaya uang :
 Peluang produksi
 Prefensi waktu untuk konsumsi
 Risiko
 Inflasi
Tingkat suku bunga bebas risiko, kRF ditanyakan sebagai tingkat bunga bebas risiko rill k*plus premi
inflasi IP sehingga kRF = k* + IP
Dimana:
 k = tingkat suku bunga tercatat atau nominal dari sekuritas tertentu.
 k* = tingkat suku bunga bebas resiko riil. Tingkat suku bunga yang akan diberikan oleh sekuritas
pemerintah AS yang bebas gagal bayar jika tidak diharapkan terjadi inflasi.
 kRF = k* + IP, adalah tingkat suku bunga bebas resiko yang tercatat dari sekuritas. kRFdiwakili oleh
tingkat dari surat utang pemerintah atau tingkat obligasi.
 IP = premi inflasi (inflation premium) yaitu rata- rata tingkat inflasi yang diekspektasikan selama usia
sekuritas tersebut.
 DRP = premi resiko gagal bayar (default risk premium), merupakan perbedaan antara tingkat suku
bunga obligasi pemerintah AS dengan tingkat suku bunga obligasi perusahaan yang memiliki jatuh
tempo dan kemampuan untuk dipasarkan yang sama.
 LP = premi likuiditas (liquidity premium) yaitu premi yang ditambahkan kepada tingkat suku bunga
ekulibrium dengan jaminan jika jaminan tersebut tidak dapat dikonversikan menjadi uang tunai
dalam waktu yang singkat dan mendekati “nilai pasar yang wajar”.
 MRP= premi resiko jatuh tempo (maturity risk premium), premi yang mencerminkan resiko tingkat
suku bunga.
k = k* + IP + DRP + LP + MRP

Jika tingkat suku bunga bebas risiko dan berbagai jenis premi dalam keadaan constant
sepanjang waktu, tingkat suku bunga juga akan tetap stabil. Namun baik tingkat suku bunga rill
maupun premi nya terutama premi untuk ekspektasi inflasi memang berubah dari waktu ke waktu
dan menyebabkan tingkat suku bunga pasar mengalami perubahan. Intervensi bank sentral juga
menyebabkan naik atau turunnya jumlah uang beredar sekaligus arus mata uang internasional yang
mengarah pada fluktuasi pada tingkat suku bunga.
Hubungan antara imbal hasil suatu sekuritas dan waktu jatuh tempo sekuritas dikenal sebagai
struktur waktu tingkat suku bunga dan kurva imbal hasil adalah grafik dari hubungan ini. Bentuk dari
kurva imbal hasil bergantung pada dua factor utama yaitu :
1. Ekspektasi tentang inflasi di masa depan.
2. Persepsi tentang tingkat risiko secara relative dari sekuritas dengan waktu jatuh tempo yang
berbeda beda.
Kurva imbal hasil normalnya akan berbentuk menanjak menaik yang disebut sebagai kurva
imbal hasil normal. Namun, kurva tersebut dapat melandai turun (kurva imbal hasil terbaik) jika
tingkat inflasi diperkirakan akan turun. Kurva imbal hasil juga dapat berbentuk menggunung, yang
artinya tingkat suku bunga dari jatuh tempo jangka menengah adalah lebih tinggi daripada tingkat
suku bunga jatuh tempo jangka pendek maupun jangka panjang.
Karena tingkat suku bunga adalahg suatu hal yang sulit jika tidak bias dikatakan mustahil untuk
diprediksi, kebijakan keuangan yang baik meminta digunakannya campuran utang jangka pendek
dan jangka panjang dan juga untuk memposisikan perusahaan untuk bertahan hidup di dalam
lingkungan tingkat suku bunga apapun dimasa depan.

31 | P a g e
MANAJEMEN KEUANGAN STRATEGIK
PEMBAHASAN JURNAL
Risk, return and portfolio optimization for various industries in
the ASEAN region
Duc Hong Vo a,*, Thach Ngoc Pham a, Trung Thanh Vu Pham b, Loc Minh Truong c,
Thang Cong Nguyen a
a Businessand Economics Research Group, Ho Chi Minh City Open University, Viet Nam
b Curtin University, Australia
c Vietnam-the Netherlands Economics Program, Viet Nam
Received 20 May 2018; revised 27 September 2018; accepted 28 September 2018
Available online 3 October 2018

Tingkat risiko dan pengembalian pada umumnya dianggap sebagai penentu utama dalam setiap
keputusan investasi. Memperkirakan estimasi tingkat pengembalian sangat mudah, mengingat
banyaknya faktor yang dapt dipertimbangkan di dalam manajemen risiko. Mengingat kapabilitasnya
untuk menangkap risiko ekstrem, metode Conditional Value at Risk (CVaR) telah menarik perhatian
masyarakat, termasuk penerapannya dalam konteks yang dapat mengoptimalisasi fungsi Markowitz.
Makalah ini membahas risiko, pengembalian, dan bobot optimal dalam portofolio pasar di tingkat
industri / sektor di empat negara ASEAN selama periode 2007 hingga 2016. Dalam studi ini, untuk
pertama kalinya CvaR digunakan untuk memperkirakan tingkat risiko ekstrem di tingkat industri di
negara-negara anggota ASEAN,. Hasil temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa selama periode
penelitian, industri dengan performa terbaik tersebar di Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Hasil dari penelitian menunjukkan, pelayanan kesehatan mendominasi di antara 10 industri di
Vietnam dan Singapura sebagai industri dengan performa terbaik. Layanan konsumen berada di
peringkat pertama di Thailand dan Malaysia. Di Malaysia, bidang telekomunikasi juga merupakan
sektor dengan kinerja terbaik, bersama dengan pelayanan konsumen. Bahkan selama tiga periode
penelitian, layanan konsumen berada di tempat pertama sedangkan di Vietnam dan Malaysia,
Namun di negara lainnya, industri yang menduduki peringkat pertama berubah-ubah seiring
berjalannya waktu. Temuan dalam penelitian ini memberikan bukti tambahan bagi pembuat
kebijakan di masing masing industri untuk merumuskan kebijakan ekonomi yang relevan dan terkait
dengan hasil penelitian yang nantinya perusahaan dapat mengambil keuntungan dari kekuatan
utama mereka di berbagai sektor di ekonomi nasional masing masing negaranya. Dalam konteks
Comprehensive and Progressive Agreement on the Trans-Pacific Partnership di mana sebagian besar
negara anggota ASEAN yang menjadi sampel penelitian ini turut berpartisipasi, perumusan kebijakan
ekonomi yang relevan dan tepat itu sangatlah penting.

Risks and returns are generally considered the key determinants in any investment decision.
Estimating returns is straightforward, whereas various measures have been found as good proxies
for risk. Given its ability to capture extreme risk, CVaR has attracted great attention, including its
application in the context of the Markowitz optimization function. This paper examines the risk,
returns, and optimal weight in the market portfolio at the industry/sector level in four ASEAN
countries over different periods from 2007 to 2016. In this study, the first of its kind on ASEAN
member countries, CvaR is used to estimate extreme risk at the industry level. Findings from this
study suggest that the best-performing industry varies across Vietnam, Thailand, Malaysia, and
Singapore during the research period. In particular, health care plays a dominant role among all 10
industries in Vietnam and Singapore. Consumer services are in first place in Thailand and Malaysia.
In Malaysia, telecommunications are also the best-performing sector, together with consumer
services. Even across the three periods, consumer services are in first place whereas in Vietnam and
Malaysia, the first place industries change over time. Findings in this study provide additional
evidence for policy makers to formulate relevant economic policies that take advantage of the

32 | P a g e
relative strengths of various sectors in their national economies. In the context of the
Comprehensive and Progressive Agreement on the Trans-Pacific Partnership in which most of the
ASEAN member countries in this study sample participate, relevant and appropriate economic
policies are extremely important.

33 | P a g e
MANAJEMEN KEUANGAN STRATEGIK
PEMBAHASAN JURNAL
Impact of public announcements on stock prices: relation between
values of stock prices and the price changes in Lithuanian stock
market
Jurgita Stankevicienea*, Simas Akelaitisb
a, b Kaunas University of Technology, K. Donelai􀃾io g. 73, LT-44029 Kaunas, Lithuania

Tujuan utama dari makalah ini adalah untuk memperdalam pemahaman tentang hubungan antara
pengumuman kepada publik dan kegiatan pasar saham dengan menganalisis aspek yang jarang
disebutkan dalam studi sebelumnya, yaitu pengaruh nilai-nilai saham. Rincian keterkaitan antara
nilai-nilai harga saham dan perubahan harga saham dalam konteks masing-masing sangat menarik,
karena pengumuman ke publik memiliki dampak yang sangat berbeda pada harga saham dalam
rentang waktu yang berbeda. Selain itu, keterkaitan yang diamati cukup tendensius - semakin
rendah kisaran harga saham semakin tinggi abnormal return diperkirakan. Namun, kecenderungan
ini tidak memiliki kesehatan universal karena pembatasan disebutkan sebelumnya sehingga perlu
untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam pola yang sama. Hasil empiris menunjukkan bahwa
jenis dan kategori pengumuman publik tidak memainkan peran penting ketika menentukan
hubungan antara nilai-nilai harga saham dan perubahan harga saham karena rata-rata abnormal
return diperkirakan untuk semua kategori serta kedua jenis lebih tinggi di bawah kisaran harga dan
sebaliknya (dengan hanya satu pengecualian). Namun demikian, kategori dan jenis pengumuman
publik memiliki dampak yang berbeda pada harga saham; Namun, dampak ini tidak tendensius
sebagai kontras dengan efek dari nilai harga saham. Meskipun demikian, pengembalian abnormal
rata-rata yang lebih tinggi diperkirakan untuk berita konten positif bahwa untuk berita konten
negatif (perbedaannya bervariasi dari 0,02 persen menjadi 1,05 persen dalam kisaran harga yang
berbeda), yang mungkin menunjukkan bahwa reaksi yang lebih luar biasa dari investor harus
dikaitkan dengan sentimen berita yang baik. Untuk memberi kesaksian temuan ini, penelitian lebih
lanjut tentang Vilnius SE harus dilakukan dengan menggunakan metodologi yang dimodifikasi (mis.
OLS model pasar regresi), pembesaran sampel yang dipilih dan kemungkinan rentang harga saham
yang berbeda.

The main purpose of this paper was to deepen the understanding of the relation between public
announcements and activities of stock markets by analyzing an aspect which was rarely mentioned
in respective previous studies – the influence of values of stocks. Details of the linkage between
values of stock prices and stock price changes in the respective context are intriguing, as public
announcements had significantly different impact on stock prices of different ranges. In addition to
that, the observed linkage was fairly tendentious – the lower stock price ranges the higher abnormal
returns were estimated. However, this tendency lacks universal soundness due to the restrictions
mentioned earlier thus it is expedient to carry out further researches in the same pattern. The
empirical results show that types and categories of public announcements do not play essential role
when determining the relation between values of stock prices and stock price changes as the
average abnormal returns estimated for all the categories as well as both of the types were higher in
lower price ranges and vice versa (with only one exception). Nevertheless, the categories and the
types of public announcements did have different impacts on stock prices; however, these impacts
were not tendentious as in contrast to the effect of values of stock prices. In spite of that, higher
average abnormal returns were estimated for the news of positive content that for the news of
negative content (the difference varies from 0.02 percents to 1.05 percents in different price
ranges), which might suggest that a more remarkable reaction of investors should be associated with
the good sentiment of news. In order to testify these findings further researches on Vilnius SE should

34 | P a g e
be carried out with a use of modified methodology (e.g. OLS regressed market model), enlargement
of the selected sample and possibly different stock price ranges.

35 | P a g e
MANAJEMEN KEUANGAN STRATEGIK
PEMBAHASAN JURNAL
Competition Between Banks And Bond Markets: Hardly Impacted
Or Softly Complemented
Ieva Astrauskaitea , Arvydas Paškeviciusb
Finance department, Facul ty of Economics, Vilnius University
a

Sauletekio av. 9, LT-10222 Vi lnius, Li thuania


Finance department, Facul ty of Economics, Vilnius University
Sauletekio av. 9, LT-10222 Vi lnius, Lithuania

Faktor-faktor yang tampaknya mendukung peran yang lebih besar untuk penerbitan obligasi
korporasi dalam pembiayaan perusahaan-perusahaan Eropa digabungkan menjadi tiga kelompok
yang berbeda: 1) kinerja sektor perbankan yang lebih lemah; 2) sektor obligasi pemerintah yang
sedang berjuang; 3) pendidikan ekonomi. Tingkat kepentingan diberlakukan (sebagaimana
tercantum). Model pasar keuangan bank-sentris dan pasar-sentris dijelaskan secara singkat dengan
fitur-fitur utama yang disorot: terkonsentrasi tinggi; mendominasi produk bank; muncul pasar modal
primer dan sekunder untuk bank-sentris dan terdiversifikasi secara kelembagaan; uang, didominasi
produk pasar modal; pasar modal maju; pasar modal sekunder aktif. Analisis komparatif dari angka-
angka melaporkan bahwa persentase perubahan volume pinjaman tidak setara dengan yang ada di
pasar obligasi. Menurut langkah-langkah, tidak ada alasan khusus untuk menyatakan efek substitusi
langsung antara obligasi dan pasar perbankan. Selain itu, masalah obligasi baru yang digunakan
untuk membayar kembali pinjaman bank yang ada daripada untuk mendanai proyek-proyek baru
tampaknya menjadi pengecualian. Dengan mengacu pada kontraksi pasar baru-baru ini yang lebih
mencerminkan krisis perbankan daripada perpindahan oleh pertumbuhan yang kuat dalam obligasi,
pengecualian parah pada pilihan instrumen pembiayaan, kinerja perbankan aktif di pasar obligasi
sebagai sumber untuk suplementasi dan sekuritisasi, kesimpulan tentang dampak dan pelengkap
yang kuat untuk perbankan dan pasar obligasi diperkenalkan. Menggabungkan teori untuk
gelembung komoditas muncul (sebagai konsekuensi dari kecepatan volume di pasar obligasi),
informasi pasar dan harga adalah faktor penyebab utama. Karena harga obligasi tampaknya tidak
tumbuh dalam perspektif masa depan, perubahan mendadak dalam ekspektasi para pemain pasar
bisa menjadi faktor penentu bagi pasar dan korporasi.

Factors that would seem to favor a larger role for corporate bond issuance in the financing of
European companies were aggregated into three groups distinguished: 1) weaker performance of
banking sector; 2) struggling government bond sector; 3) economic education. The levels of
importance were imposed (as listed). Bank-centric and market-centric financial market models are
briefly described with the main features highlighted: high concentrated; bank product dominated;
emerging primary and secondary capital market for bank-centric and institutionally diversified;
money, capital market product dominated; developed capital market; active secondary capital
market. Comparative analysis of figures reports that percentage changes of loan volumes are not
equivalent to bond market ones. According to measures, there is no particular reason to state the
direct substitution efect between bond and banking market. Furthermore, new bond issues being
used to repay existing bank loans rather than to fund new projects appear to be the exception. With
reference to the recent contraction of markets that was more a reflection of banking crises than
displacement by strong growth in bonds, severe exceptions of choice of financing instruments,
active banking performance in bond market as a source for supplementation and securitization, the
conclusion about the strong impact and complementation to banking and bond market is
introduced. Combining theories for commodity bubbles to arise (as a consequence of volume
velocity in bond markets), market information and prices are the main causing factors. As bond
prices seem not to grow in future perspective, the sudden changes in expectations of market players
could be the determining factor for corporate bubble market.

36 | P a g e