Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat tuntunanNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Geologi Gunung Api”
penyusunan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Vulkanologi. Penulis
berharap dapat menambah wawasan dan pengetahuan khususnya dalam bidang Vulkanologi dan
Geothermal dari sudut sifat fisika bumi.serta pembaca dapat mengetahui tentang bagaimana dan
apa sebenarnya Geologi Gunung Api itu.

Menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini.Karena itu, penulis


sangat mengharapkan kritikkan dan saran dari pembaca untuk melengkapi segala kekurangan dan
kesalahan dari makalah ini.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selama
proses penyusunan makalah ini.

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................... 1

DAFTAR ISI .................................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 3

1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 3

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 4

1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 4

1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................... 5

2.1 Waktu Geologi .......................................................................................... 5

2.2 Konsep-Konsep Tentang Waktu Geologi ................................................. 6

BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 10

3.1 Kesimpulan ............................................................................................... 10

3.2 Saran ......................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 11

SOAL JAWAB ................................................................................................................. 12


BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara Etimologis Geologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Geo yang artinya bumi dan
Logos yang artinya ilmu, Jadi Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi.Secara umum
Geologi adalah ilmu yang mempelajari planet Bumi, termasuk Komposisi, keterbentukan, dan
sejarahnya.
Gunungapi adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya
cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi.Matrial yang dierupsikan ke
permukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung. Gunungapi diklasifikasikan ke
dalam dua sumber erupsi, yaitu (1) erupsi pusat, erupsi keluar melalui kawah utama; dan (2)
erupsi samping, erupsi keluar dari lereng tubuhnya; (3) erupsi celah, erupsi yang muncul pada
retakan/sesar dapat memanjang sampai beberapa kilometer; (4) erupsi eksentrik, erupsi
samping tetapi magma yang keluar bukan dari kepundan pusat yang menyimpang ke samping
melainkan langsung dari dapur magma melalui kepundan tersendiri.
Berdasarkan tinggi rendahnya derajat fragmentasi dan luasnya, juga kuat lemahnya
letusan serta tinggi tiang asap, maka gunungapi dibagi menjadi beberapa tipe erupsi: (1) Tipe
Hawaiian, yaitu erupsi eksplosif dari magma basaltic atau mendekati basalt, umumnya berupa
semburan lava pijar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan, terjadi pada celah atau
kepundan sederhana; (2) Tipe Strombolian, erupsinya hampir sama dengan Hawaiian berupa
semburan lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada gunungapi sering aktif
di tepi benua atau di tengah benua; (3) Tipe Plinian, merupakan erupsi yang sangat eksplosif
dari magma berviskositas tinggi atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik
sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah besar; (4) Tipe
Sub Plinian, erupsi eksplosif dari magma asam/riolitik dari gunungapi strato, tahap erupsi
efusifnya menghasilkan kubah lava riolitik.Erupsi subplinian dapat menghasilkan
pembentukan ignimbrit; (5) Tipe Ultra Plinian, erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan
batuapung lebih banyak dan luas dari Plinian biasa; (6) Tipe Vulkanian, erupsi magmatis
berkomposisi andesit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau
bongkahan di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-
retak.Material yang dierupsikan tidak melulu berasal dari magma tetapi bercampur dengan
batuan samping berupa litik; (7) Tipe Surtseyan dan Tipe Freatoplinian, kedua tipe tersebut
merupakan erupsi yang terjadi pada pulau gunungapi, gunungapi bawah laut atau gunungapi
yang berdanau kawah.Surtseyan merupakan erupsi interaksi antara magma basaltic dengan air
permukaan atau bawah permukaan, letusannya disebut freatomagmatik. Freatoplinian
kejadiannya sama dengan Surtseyan, tetapi magma yang berinteraksi dengan air berkomposisi
riolitik.
Bentuk dan bentang alam gunungapi, terdiri atas : bentuk kerucut, dibentuk oleh endapan
piroklastik atau lava atau keduanya; bentuk kubah, dibentuk oleh terobosan lava di kawah,
membentuk seperti kubah; kerucut sinder, dibentuk oleh perlapisan material sinder atau
skoria; maar, biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunungapi utama akibat letusan freatik
atau freatomagmatik; plateau, dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava.
1.2 Rumusan Masalah
Pembahasan akan dibatasi pada rumusan masalah berikut:
1. Bagaimana proses geologi gunung api ?
2. Apa itu lava dan bagaimana aliran lava ?
3. Apa itu piroklastik ?
4. Bagaimana proses terbentuknya piroklastik ?
5. Bagaimana mekanisme pengendapan material piroklastik?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan tentang geologi gunungapi, dan bagaimana proses geologi gunung api.
2. Mendeskripsikan tentang lava dan aliran dari lava.
3. Mendeskripsikan tentang piroklastik.
4. Mengidentifikasi proses terbentuknya piroklastik.
5. Mengidentifikasi mekanisme pengendapan material piroklastik.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini dapat menjadi landasan untuk Lebih mengetahui dan memahami
tentang geologi gunungapi yang terjadi disekitar kita
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Proses geologi gunungapi


Gunungapi terbentuk sejak jutaan tahun lalu hingga sekarang. Pengetahuan tentang
gunungapi berawal dari perilaku manusia dan manusia purba yang mempunyai hubungan
dekat dengan gunungapi.Hal tersebut diketahui dari penemuan fosil manusia di dalam
endapan vulkanik dan sebagian besar penemuan fosil itu ditemukan di Afrika dan Indonesia
berupa tulang belulang manusia yang terkubur oleh endapan vulkanik. Sebagai contoh
banyak ditemukan kerangka manusia di kota Pompeii dan Herculanum yang terkubur oleh
endapan letusan G. Vesuvius pada 79 Masehi. Fosil yang terawetkan baik pada abu vulkanik
berupa tapak kaki manusia Australopithecus berumur 3,7 juta tahun di daerah Laetoli, Afrika
Timur. Penanggalan fosil dari kerangka manusia tertua, Homo babilis berdasarkan
potassium-argon (K-Ar) didapat umur 1,75 juta tahun di daerah Olduvai. Penemuan fosil
yang diduga sebagai manusia pemula Australopithecus afarensis berumur 3,5 juta tahun di
Hadar, Ethiopia, dan penanggalan umur benda purbakala tertua yang terbuat dari lava
berumur 2,5 juta tahun ditemukan di Danau Turkana, Afrika Timur. Perkembangan
bendabenda purba dari yang sederhana kemudian meningkat menjadi benda-benda yang
disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti pemotong, kapak tangan dan lainnya,
terbuat dari obsidian yang berumur Paleolitik Atas.
Gunungapi terbentuk pada empat busur, yaitu busur tengah benua, terbentuk akibat
pemekaran kerak benua; busur tepi benua, terbentuk akibat penunjaman kerak samudara ke
kerak benua; busur tengah samudera, terjadi akibat pemekaran kerak samudera; dan busur
dasar samudera yang terjadi akibat terobosan magma basa pada penipisan kerak samudera.
Gunung api terbentuk akibat dari Pergerakan antar lempeng ini menimbulkan empat busur
gunungapi berbeda : 1. Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga
memberikan kesempatan magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk busur
gunungapi tengah samudera. 2. Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di
bawah kerak benua. Akibat gesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan lelehan
batuan ini bergerak ke permukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunungapi
di tepi benua. 3. Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga
menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke
permukaan lelehan batuan atau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua
atau banjir lava sepanjang rekahan. 4. Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng
memberikan kesempatan bagi magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini
merupakan banjir lava yang membentuk deretan gunungapi perisai.

2.2 Lava dan aliran lava


Lava adalah cairan larutan magma pijar yang mengalir keluar dari dalam bumi melalui
kawah gunungapi atau melalui celah (patahan) yang kemudian membeku menjadi batuan
yang bentuknya bermacam-macam.erupsi gunungapi yang bersifat efusif akan menghasilkan
lava dengan bermacam-macam jenis berdasarkan ukuran, bentuk, serta kenampakan
permukaan dan di dalam lavanya sendiri. Lava terutama di control oleh viskositas, kecepatan
efusi, dan keadaan lingkungan pengendapan (darat/laut}.Aliran lava dapat di bedakan
menjadi lava encer yang memiliki viskositas dan kandungan silica yang rendah, dan lava
kental yang memiliki viskositas dan kandungan silica yang tinggi.
Suhu lava basalt di Kilauea, Hawaii sekitar 11600C-12500C. Sistem tabung lava pada
erupsi gunungapi di Hawaii tersebut, yang membawa lava panas sejauh 10 km dari pusat
erupsi ke laut, suhunya hanya mendingin sebesar 100 C. Saat mencapai laut, suhu lava masih
sekitar 1,1400C. Warna batuan bisa mencerminkan suhu batuan, sebagai contoh warna
oranye-kuning (warna saat batuan lebur atau lebih panas lagi) sekitar 9000C.Warna gelap–
merah terang mencerminkan bahan yang mendingin dengan suhu sekitar 6300C, sedangkan
warna merah muda suhunya sekitar 4800C.

Gambar 4.1.Hubungan aliran lava dengan viskositas (Walker, 1971).


Gambar 4.2.Lava subaerial yang diendapkan di lingkungan darat (Lockwood dan Lipman,
1980).

Tabel 4.1. Komposisi kimia rata-rata batuan vulkanik (Le Maitre, 1976).
Pengambilan contoh lava sangat beresiko, tetapi contoh lava yang panas memberikan
informasi mengenai dapur magma. Berdasarkan percobaan laboratorium menunjukkan bahwa
makin panas magma maka kandungan magnesium makin tinggi. Analisa kimia tidak hanya akan
memberikan sejarah kristalisasi magma, tetapi dapat juga menunjukkan suhu saat erupsi terjadi.
Lava gunungapi di Indonesia biasanya memiliki viskositas sedang sampai tinggi, berasal dari
magma andesit.Tabel 4.1.menunjukkan komposisi kimia untuk batuan vulkanik.

Lava yang diendapkan di air laut/submarine, mempunyai nama khusus yaitu lava
bantal/pillow, yang tidak lain adalah lava yang membeku secara perlahan dan bercampur dengan
air laut. Gambar 4.3. (a) memperlihatkan proses pengendapan lava bantal dan alirannya,
sedangkan gambar (b) adalah penampang melintang dengan lingkaran lava bisa berkisar antara
10 cm sampai dengan beberapa meter. Gambar 4.3. (c) dan (d) adalah contoh singkapan lava
bantal.

Gambar 4.1.Hubungan aliran lava dengan viskositas (Walker, 1971).


(C)

Gambar 4.2. Lava subaerial yang diendapkan di lingkungan darat (Lockwood dan Lipman,
1980).
Tabel 4.1. Komposisi kimia rata-rata batuan vulkanik (Le Maitre, 1976).

Bentuk aliran lava riolit dapat dibagi menjadi: kubah (dome/tholoid), lava mesa, dan coulees.
Kubah (dome/tholoid) berbentuk melingkar, menempati daerah yang tidak luas.Sedangkan
lava mesa berbentuk hampir bundar seperti biskuit.Coulees adalah lava yang pada saat
mengalirnya tidak simetris dan terkonsentrasi pada salah satu sisi pipa kawah, menghasilkan
bentuk memanjang. Ketebalan lava riolit rata-rata sekitar 100 m, tetapi umumnya sangat
bervariasi, bisa kurang dari 50 m ataupun lebih besar dari 500 m (Gambar 4.4.). Ciri khas
dari aliran lava riolit adalah ditemukannya obsidian, lapisan yang mengandung sperulit,
lapisan batuapung, dan batuan riolit.Obsidian dihasilkan oleh pendinginan cepat lava riolit
dengan ketebalan sekitar 10 m dari permukaan dan dasar aliran, seperti yang diperlihatkan
oleh Gambar 4.5. Tekstur sperulit yang merupakan agregat radial dari alkali feldspar, dengan
diameter 0,1 cm –

2.3 Piroklastik

Erupsi gunungapi yang eksplosif menghasilkan tiga macam endapan piroklastik yaitu:
piroklastik jatuhan, piroklastik aliran, dan piroklastik surge. Mekanisme erupsi eksplosif yang
terjadi disebabkan oleh erupsi magmatis, preato magmatis, dan preatik.Gambar
4.6.memperlihatkan hubungan geometri endapan piroklastik pada permukaan topografi yang
sama. Ukuran butir hasil analisa saringan untuk endapan piroklastik diperlihatkan oleh Tabel
4.2.Tabel 4.3.memperlihatkan penamaan dan kisaran ukuran endapan piroklastik, sedangkan
Tabel 4.4. memperlihatkan tata cara penamaan batuan piroklastik yang telah mengalami
transportasi. Gambar 4.7.memperlihatkan skematik pengendapan batuan piroklastik. Bagan
alir persiapan pengujian laboratorium endapan piroklastik diperlihatkan dengan Gambar 4.8.
Gambar 4.6. Hubungan geometri endapan piroklastik (Wright, Smith dan Self, 1980).

Tabel 4.2. Analisa saringan untuk bahan piroklastik (Cas dan Wright, 1988).
Gambar 4.7. Skematik pengendapan piroklastik (Walker, 1983).

Tabel 4.3. Klasifikasi granulometrik endapan piroklastik dengan pemilahan baik (Schmid,1981).

Tabel 4.4. Penamaan untuk campuran piroklastik dan epiklastik (Schmid,1981).


Gambar 4.8. Bagan alir analisa laboratorium untuk piroklastik (Wohletz dan Heiken,1992).

2.3.1 Piroklastik Jatuhan

Endapan piroklastik jatuhan terbentuk setelah material secara eksplosif dilontarkan dari
bukaan (kawah erupsi), menghasilkan kolom erupsi, dimana membentuk plume dari tefra dan gas
di atmosfer.Geometri dan ukuran dari material dapat menunjukkan tinggi kolom letusan dan
kecepatan (velocity) serta arah dapat diketahui dari kekuatan angin yang bekerja. Setelah jamur
piroklastik (plume) terdispersi maka material piroklastik akan jatuh kembali sebagai akibat
pengaruh gaya gravitasi, variasi persebaran dari sumber erupsi tergantung pula pada ukuran
material piroklastik dan juga densitasnya. Fragmen yang paling besar akan terendapkan secara
ballistik sehingga pengaruh angin tidak begitu berpengaruh, biasa disebut sebagai ballistic clast
(Cas & Wright, 1987). Geometri dan ukuran endapan jatuhan piroklastik menunjukkan tinggi
pipa kawah erupsi, kecepatan, dan arah angin.Endapan jatuhan piroklastik terjadi akibat letusan
gunungapi yang eksplosif.Pada erupsi preatik, abu gunungapi tidak sebanyak pada erupsi yang
magmatis. Ketebalan endapan piroklastik jatuhan relatif seragam, dengan pemilahan yang baik,
akibat proses fraksinasi oleh angin pada saat pengendapannya. Struktur sedimen perlapisan
kadang-kadang teramati, disebabkan oleh kelakuan kolom erupsi yang berbeda.Pada bagian
bawah lapisan jatuhan piroklastik, tidak pernah ada struktur perlapisan silang atau bidang
erosional.Sebagian endapan jatuhan piroklastik di dekat lubang kepundan mengalami
pengelaskan, sehingga kadang kala dijumpai kayu yang terbakar menjadi karbon. Longsoran dan
guguran lava pijar dapat menyebabkan hujan abu, seperti yang terjadi pada erupsi Gunung
Galunggung dan Material piroklastik berukuran halus dihasilkan pada bagian debu vulkanik yang
terlontar di udara kemudian terendapkan sebagai jatuhan piroklastik. Jatuhan piroklastik ini dapat
memiliki volume yang lebih besar tergantung pada frekuensi dan intensitas erupsi, akibatnya
akan lebih jauh lagi menyebar dari titik kolom letusannya. Deposit jatuhan memiliki ciri-ciri akan
menunjukkan perlapisan yang bersifat semu, yang secara lokal akan memiliki ketebalan yang
relatif seragam Meskipun umumnya endapan piroklastik memiliki sortasi yang buruk tetapi
deposit jatuhan memiliki sortasi yang baik akibat dari proses fraksinasi oleh angin pada proses
transportasinya. Terkadang memiliki struktur berlapis atau laminasi tetapi tidak pernah
menunjukkan struktur silangsiur atau bentuk lapisan yang menunjukkan proses erosi atau
pengikisan pada lapisan di bawahnya.

2.3.2 Piroklastik Aliran (Debris Avalanches)


Abu panas, fragmen batuan, dan gas yang bergerak ke bawah dari pusat erupsi eksplosif
sebagai longsoran berkecepatan tinggi atau terjadi ketika ada bagian kubah lereng gunungapi
yang roboh, menghasilkan aliran piroklastik dengan suhu mencapai 8150C dan kecepatan 65–100
km/jam. Sehingga aliran piroklastik ini dapat menghancurkan dan membakar jalan yang
dilewatinya.Gambar 4.9.memperlihatkan urutan endapan piroklastik yang dihasilkan oleh
mekanisme aliran piroklastik yang ditunjukan oleh Gambar 4.10. Aliran piroklastik umumnya
terdiri dari 3 jenis utama yaitu: endapan aliran bongkah dan abu, endapan aliran scoriae, dan
endapan aliran batuapung atau ignimbrit/welded tuff. Dalam aliran piroklastik dikenal juga istilah
ekor, tubuh, dan kepala.

Gambar 4.10. Mekanisme terjadinya aliran piroklastik (Cas dan Wrightt, 1988)

Endapan piroklastik aliran adalah hasil secara vulkanik yang bersifat panas, mengandung
gas, dan tingkat densitasnya tinggi (Fisher & Schmincke, 1984). Sederhananya merupakan hasil
campuran fragmen padat pijar dengan gas, yang mengalir sepanjang lereng menuju daerah
dengan topografi rendah, seperti lembah, depresi atau cekungan. Material hasil aliran ini banyak
terdistribusi berbentuk kipas pada kaki-kaki gunung api dan dapat mengubur lembah hingga
membentuk suatu dataran (plateau). Piroklastik aliran umumnya terdiri dari fragmen yang cukup
besar bom dan blok yang berukuran milimeter hingga meter dalam matriks abu, dan berstruktur
masif hingga gradasi serta memiliki sortasi yang buruk. Fragmen yang berukuran besar biasanya
memiliki bentuk butir membulat hingga membulat tanggung akibat terkikis saat
tertransport.Dalam endapan biasanya mengandung banyak arang kayu yang masih insitu
berdiamater antara 20-50 cm dan panjang lebih dari 2 meter (Mulyaningsih, 2013). Runtunan
stratigrafinya terdiri atas jatuhan dasar dari tubuh aliran utama, yang tersusun atas fragmen litik
dan pumis, yang ditumpangi oleh lapisan endapan seruakan tubuh aliran (basal layer) yang
tersusun atas lapisan lapilli dengan struktur menyeruak, endapan aliran piroklastika berukuran
halus, endapan aliran piroklastika berfragmen kasar, (sering mengandung fragmen arang atau
batang kayu) dan gelembur-gelembur lapili, aliran piroklastika masif berfragmen hingga bongkah
yang mengambang pada matrik abu dan lapili dan bagian paling atas adalah akumulasi pumis
dengan berat jenis yang paling ringan.struktur menyeruak, endapan aliran piroklastika berukuran
halus, endapan aliran piroklastika berfragmen kasar, (sering mengandung fragmen arang atau
batang kayu) dan gelembur-gelembur lapili, aliran piroklastika masif berfragmen hingga bongkah
yang mengambang pada matrik abu dan lapili dan bagian paling atas adalah akumulasi pumis
dengan berat jenis yang paling ringan. berubah yang asalnya dari dorongan antar butir fragmen
dalam endapan sebagai aliran turbulen dan debris. Bagian atas tubuh aliran didorong oleh tekanan
yang berasal dari pergolakan massa gas yang bercampur dengan temperatur gas-massa. Suhu
aliran piroklastika untuk lingkungan gunung api darat 150-140oC. Aliran ini dapat menyebabkan
terbakarnya kayu (menjadi arang hingga abu), tubuh hewan dan manusia, serta bila melalui tubuh
air maka dapat mendidihkan bahkan mengeringkan air tersebut.

2.3.3Piroklastik Surges (blast/ledakan)


Endapan piroklastik surge hanya terdiri atas tiga jenis, yaitu base surge (surge dasar), ground
surge (surge tanah) dan ash cloud surge (surge awan abu).Umumnya berasosiasi dengan erupsi
preatomagmatik dan preatik, aliran piroklastik, dan jatuhan piroklastik. Istilah surges dasar
pertama kali diperkenalkan oleh Moore et.al. pada tahun 1966 berdasarkan hasil studi kegiatan
erupsi preato-magmatik Gunung Taal di Filipina pada tanggal 28-30 September 1965. Gambar
4.11, Gambar 4.12, dan Tabel 4.5., memperlihatkan mekanisme pembentukan, penyebaran,
klasifikasi, dan struktur dalam endapan surge.

Seruakan piroklastik (surge deposits) merupakan salah satu dari piroklastika arus berdensitas
yang bersifat konsentrasi partikel rendah dengan arus turbulensi.Endapan piroklastik seruakan
dengan endapan piroklastik aliran sulit dibedakan sehingga orang sering menyebut sebagai
endapan awan panas atau pyroclastic density currents (PDC) (Mulyaningsih, 2013).Endapan ini
terkontrol dengan bentukan topografi tetapi pada topografi yang tinggi hanya membentuk lapisan
yang tipis. Deposit ini terbentuk oleh sebagian besar butiran berukuran pasir atau lebih halus, dan
umunya memiliki sortasi yang lebih baik bila dibandingkan dengan endapan piroklastik aliran.
Deposit ini terkadang menunjukkan lapisan sedimen yang unik seperti duneforms, low angle
cross stratification, dan lain sebagainya (Cas & Wright, 1987).

Terdapat tiga tipe endapan proklastik surge deposit yang telah diketahui menurut Cas&
Wright 1987 yaitu ash-cloud surge, ground surge dan base surge. Seruakan pangkal (base surge)
menghasilkan deposit perlapisan, laminasi terkadang 25 masif yang megandung fragmen magma,
yang mengandung bulir gas ataupun masif cognate lithic clast, debu, dan juga kristal. Fragmen
yang berukuran besar yang jatuh secara balistik akan membentuk bomb sags yang dekat dengan
pipa kepundan atau vent. Juvenile fragment biasanya berdiamter 10 cm, sebagai hasil proses
fragmentasi antara magma yang bereaksi dengan air. Base surge menghasilkan deposit yang tipis
(>100 m) di sekitar kawah freatomagmatik dan akan menipis menjauh dari kawah. Deposit ini
memiliki karakteristik lapisan dengan uni directional, dune forms sering ditemukan, deposit ini
juga menggambarkan keadaan yang basah dan lengket saat terdeposisi. Endapan seruakan dasar
dan seruakan abu cendawan berasosiasi dengan endapan aliran pirokalstika dan masing-masing
sebagai endapan zona batas bawah dan zona batas atas aliran (Fisher, 1979 dalam Mulyaningsih,
2013).

Endapan seruakan dasar (ground surge deposit) menghasilkan deposit dengan perlapisan
yang umumnya berukuran kurang dari 1 meter yang dikenali sebagai bagian dasar unit dari aliran
piroklastik. Deposit ini terdiri dari debu,juvenile vesiculated fragment, kristal dan litik dalam
proporsi yang bervariasi tergantung pada material dominan pada saat terjadi erupsi gunung api.
Memiliki karakteristik sama seperti base surge perlapisan dengan uni directional, dan arang kayu.
Pada batas antara endapan seruakan dengan endapan aliran piroklastika, karena energinya sangat
besar dan berlangsung perubahan konsentrasi partikel dari rendah ke tinggi, maka strukturnya
slump hingga antidune dengan sortasi sedang sampai baik, ukuran butir abu kasarlapili, pada
bagian bawah gradasi terbalik, yang berbatasan dengan aliran piroklastika berubah menjadi
gradasi normal, dan dijumpai pipa-pipa keluarnya gas. Bagian bawah lapisan menggerus lapisan
batuan di bawahnya, sehingga endapannya sering terlihat bercampur dengan paleosoil.Beberapa
seruakan piroklastik sering menunjukkan struktur accretionary lapilli.Hal itu juga dapat menjadi
petunjuk bahwa letusan tersebut berlangsung pada saat suhu udara tinggi dan beruap.Ash cloud
surge menghasilkan deposit dengan perlapisan berukuran kurang dari 1 meter tebalnya, di
temukan pada bagian atas. Endapan ash cloud surge memiliki karakteristik perlapisan
unidirectional, swell structure, dan membentuk lensa-lensa. Ukuran butir dan proporsi deposit
tergantung dari tipe utama aliran piroklastik.
Gambar 4.11. Mekanisme terbentuknya endapan surges (Cas dan Wright, 1988)

A. Penyebaran fasies surge dengan jarak relatif terhadap kepundan Ubehebe,


California,USA.
Gambar B. Memperlihatkan klasifikasi lapisan base surge (Wohletz dan Sheridan,

Tabel 4.5.Kenampakan struktur endapan piroklastik (Fischer dan Schminke, 1984)

2.3.4 Mekanisme Pengendapan Material Piroklastik

Proses-proses dan peristiwa yang terjadi dalam suatu kajian gunungapi, melibatkan hukum-
hukum alam yang mendasar, diantaranya hukum-hukum fisika dan kimia. Dengan menggunakan
pendekatan matematika, hukum-hukum tersebut dirumuskan untuk menyederhanakan analisa
proses-proses dan peristiwa-peristiwa yang erat kaitannya dengan kegiatan gunungapi.

Transfer energi melalui kerak bumi, merupakan komponen dasar dari sistem geotermal dan
gunungapi. Aliran kalor yang dihasilkan dari beberapa macam proses bisa didekati menurut
persamaan berikut,

𝑑𝑇 𝑑𝑝 1 𝜕 𝜕𝑇
𝑝𝑐 𝑑𝑡 =∝ 𝑇 𝑑𝑡 + 𝑟 2 𝜕 𝑘1𝑟 2 𝜕𝑟 + ∑ 𝐻 𝑖, exp(−𝛾𝑖𝑡) ) + ∑ 𝑗𝑖 ……persamaan 4
𝑟

 = massa jenis kerak yang dilalui


c = kalor jeniskerak
T = suhu yangmengalir
t = waktu alir

 = koefisien ekspansi panas


p = tekanan
r = jarak radial (jari-jari)
kt = konduktivitas panas
Hi = kalor yang dihasilkan oleh peluruhan isotop-isotop pada kerak
Ji = kalor yang dihasilkan reaksikimia
Sedangkan sistem gunungapi dan geotermal perlu memperhitungkan adanya proses aliran
kalor secara konveksi, sehingga berlaku persamaan :

𝑑𝑇 𝜕𝑇 𝜕𝑇
= + 𝜇𝑐𝑜𝑛𝑣 𝜕𝑟 persamaan 4-2
𝑑𝑡 𝜕𝑟

conv = laju konveksi yang dirumuskan dengan bilangan Rayleigh

conv 3 (Ra)1/3

 ( g TD3) / ( dt )

 = viskositasmagma

G = percepatan gravitasi
D = panjang karakter aliran dt = kt / ( c)

Penerapan proses transfer kalor pada kegiatan gunungapi terkait dengan pergerakan
magma dan gas-gas terbang (volatil) pada magma dari dapur magma sampai ke permukan
bumi. Proses tersebut menghasilkan dua karakter yang berbeda pada proses erupsi, yaitu
erupsi efusif dan erupsi eksplosif.
BAB III

PENUTUP

3.1Kesimpulan

Gunungapi terbentuk pada empat busur, yaitu busur tengah benua, terbentuk
akibat pemekaran kerak benua; busur tepi benua, terbentuk akibat penunjaman
kerak samudara ke kerak benua; busur tengah samudera.

Lava adalah cairan larutan magma pijar yang mengalir keluar dari dalam bumi
melalui kawah gunung berapi atau melalui celah (patahan) yang kemudian
membeku menjadi batuan yang bentuknya bermacam-macam.

Batuan Piroklastik adalah bebatuan klastik yang terbentuk dari material vulkanik.
Ketika material vulkanik dikirim dan diolah kembali melalui proses mekanik,
seperti dengan air atau angin, bebatuan tersebut disebut vulkaniklastik.
DAFTAR PUSTAKA

Khakim, Pranowo I.2016.”Tinjauan tipe endapan piroklastik pada gunung api


merapi berdasarkan data pengukuran stratigrafi”.Skripsi. Yogyakarta: Institut
Sains Dan Teknologi Akprind

Sumintadireja, Prihadi. 2005. Vulkanologi dan Geotermal. Bandung: Institut


Teknologi Bandung Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral

Noor, Djouhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor: Pakuan University Press