Anda di halaman 1dari 15

Infeksi Tropik Leptospirosis pada Laki-laki Usia 45 Tahun

Afifah Nur Utami


102013448 / C7
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: utami.afifah@gmail.com

Pendahuluan
Infeksi tropik merupakan infeksi yang lazim terjadi di daerah tropis dan subtropis. Istilah
ini juga sering mengacu pada penyakit yang berkembang di wilayah panas berkondisi lembab.
Penting untuk dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang
menyeluruh pada pasien untuk mengetahui diagnosis, agar kemudian dapat diberikan tatalaksana
yang tepat.

Anamnesis
Merupakan suatu teknik pemeriksaan yang dilakukan melalui suatu percakapan antara
dokter dengan pasiennya langsung (autoanamnesis) atau dengan orang yang mengetahui tentang
kondisi pasien (alloanamnesis), percakapan ini dilakukan sesuai dengan kondisi yang sedang
dialami oleh pasien jika pasien sadar dan memungkinkan untuk dilakukan pemeriksaan secara
langsung maka cara yang tepat adalah autoanamnesis namun jika pasien dalam keadaan
sebaliknya maka cara yang tepat adalah dengan alloanamnesis.1
Anamnesis disini dilakukan untuk menggali keluhan utama. Di samping itu ditanyakan
juga riwayat kesehatan pada umumnya seperti keluhan penyerta, riwayat penyakit sekarang,
riwayat penyakit dahulu, riwayat pemakaian obat-obatan, serta riwayat sosial.
Dari hasil anamnesis diketahui bahwa seorang laki-laki berusia 45 tahun datang dengan
keluhan demam tinggi disertai nyeri kedua betis sejak 4 hari yang lalu. Demam dirasakan
sepanjang hari, sampai menggigil, dan ada juga nyeri pada perut kanan atas. Pasien tinggal di
lingkungan padat penduduk, kurang sanitasi, serta seminggu yang lalu terjadi banjir.

1
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik merupakan jenis pemeriksaan yang dilakukan untuk memperoleh status
kesehatan pasien secara objektif, sekaligus memperkuat data yang telah kita peroleh saat
melakukan anamnesis demi terciptanya diagnosis yang akurat. Dalam melakukan pemeriksaan
fisik seorang dokter harus menunjukan sikap lege artis terhadap pasien demi terciptanya rasa
percaya pasien kepada dokter saat melakukan pemeriksaan tersebut, sehingga hal ini dapat
mempermudah dokter untuk memperoleh data yang akurat. Berikut adalah beberapa tahapan
pemeriksaan fisik awal yang dapat kita periksa antara lain:
 Kesadaran
 Keadaan umum
 Tekanan darah
 Suhu
 Frekuensi nadi
 Frekuensi pernapasan

Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, keadaan umum sakit
sedang, tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 39° C, frekuensi nadi 110 kali/menit, serta frekuensi
pernapasan 18 kali/menit.
Kemudian dilakukan pemeriksaan head to toe. Hasilnya sklera ikterik dan ada injeksi
konjungtiva. Pada palpasi abdomen didapati nyeri tekan di regio kanan atas, serta hepar teraba
dua jari dibawah arkus kosta dengan konsistensi yang lunak. Lain-lain tidak disebutkan.

Pemeriksaan Penunjang
Hematologi Rutin
Dapat dilakukan sebagai pemeriksaan awal. Terdiri dari haemoglobin, hematokrit, jumlah
eritrosit, jumlah leukosit, jumlah trombosit, MCV, MCH, MCHC, hitung jenis leukosit, serta laju
endap darah (LED).2
Berdasarkan scenario, hasil yang didapat dari pasien yaitu kadar hemoglobin 13 g/dL,
hematokrit 40%. Leukosit 4.000 dan trombosit 220.000. Lain-lain tidak disebutkan.

2
Kultur
Pertumbuhan leptospira lambat di media kultur, sehingga dibutuhkan beberapa minggu
sebelum dinyatakan hasil kultur negatif. Hasil positif pada kultur sangat rendah, terutama pada
fasilitas laboratorium mikrobiologi yang biasa, sehingga untuk penunjang diagnostik menunggu
hasil kultur sering menjadi kendala dalam penanganan pasien.1

Mikroskop Lapangan Gelap


Disebut juga Dark-ground Microscope (DGM) adalah metode pilihan untuk menunjukkan
adanya organisme leptospira pada media biakan. Namun, pemeriksaan ini memiliki beberapa
kelemahan sebagai alat diagnostik, seperti kemungkinan hasil negatif palsu karena konsentrasi
rendah dari organisme dalam spesimen dan hasil positif palsu karena artefak dan adanya fibrin
yang mirip leptospira. Berdasarkan penelitian, pemeriksaan dengan DGM secara statistik
bermakna untuk diagnosis leptospirosis.1

Microscopic Agglutination Test (MAT)


Menggunakan panel antigen leptospira hidup, menjadi standard diagnosis serologis
leptospirosis. Kenaikan titer antibodi pada sampel berpasangan diambil sekitar 10-15 hari
terpisah dianggap bukti infeksi leptospiral. Namun tes ini memiliki beberapa kelemahan sebagai
tes rutin untuk diagnosis leptospirosis. Prosedur yang rumit dan memakan waktu, banyaknya
strain leptospira dalam media kultur untuk digunakan sebagai antigen sangat penting dan
membutuhkan pengetahuan yang akurat tentang serovars yang beredar secara lokal. Selain itu,
titer yang signifikan untuk MAT tunggal bervariasi dari satu wilayah geografis dengan yang lain
dan ada kemungkinan variasi antar-laboratorium pada pembacaan hasil.1

Diagnosis
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, maka pasien diduga
terkena penyakit Leptospirosis. Terdapat tiga kriteria yang ditetapkan dalam mendefinisikan
kasus Leptospirosis, yaitu: 1) Kasus Suspect, 2) Kasus Probable, dan 3) Kasus Conform.1

3
Kasus Suspect1
Demam akut dengan atau tanpa sakit kepala, disertai nyeri otot, lemah (malaise),
conjungtival hiperemis, ciliary suffusion, dan ada riwayat terpapar dengan lingkungan yang
terkontaminasi atau aktivitas yang merupakan factor risiko leptospirosis dalam kurun waktu 2
minggu. Faktor risiko tersebut antara lain:
a) Kontak dengan air yang terkontaminasi kuman leptospira atau urin tikus saat
terjadi banjir;
b) Kontak dengan sungai atau danau dalam aktivitas mandi, mencuci, atau bekerja di
tempat tersebut;
c) Kontak dengan persawahan ataupun perkebunan (berkaitan dengan pekerjaan)
yang tidak menggunakan alas kaki;
d) Kontak erat dengan binatang, seperti babi, sapi, kambing, anjing yang dinyatakan
terinfeksi Leptospira;
e) Terpapar atau bersentuhan dengan bangkai hewan, cairan infeksius hewan seperti
cairan kemih, plasenta, cairan amnion, dan lain-lain;
f) Memegang atau menangani spesimen hewan/manusia yang diduga terinfeksi
Leptospirosis dalam suatu laboratorium atau tempat lainnya;
g) Pekerjaan atau melakukan kegiatan yang bersisiko kontak dengan sumber infeksi,
seperti dokter, dokter hewan, perawat, tim penyelamat atau SAR, tentara,
pemburu, dan para pekerja di rumah potong hewan, toko hewan peliharaan,
perkebunan, pertanian, tambang, serta pendaki gunung, dan lain-lain.

Kasus Probable1
Dinyatakan bila pada kasus suspect ditemukan dua dari gejala dan tanda klinis berikut:
a) Nyeri betis;
b) Ikterus atau jaundice;
c) Manifestasi perdarahan;
d) Sesak napas;
e) Oliguria atau anuria;
f) Aritmia jantung;
g) Batuk dengan atau tanpa hemptisis; dan ruam kulit.

4
Selain itu, memiliki gambaran laboratorium:
a) Trombositopenia < 100.000 sel/mm
b) Leukositosis dengan neutrophilia > 80%
c) Kenaikan kadar bilirubin total > 2 gr% atau peningkatan SGPT, amilase, lipase,
dan kreatinin fosfokinase (CPK)
d) Penggunaan rapid diagnostic test (RDT) untuk mendeteksi IgM anti leptospira.

Kasus Conform1
Dinyatakan sebagai kasus konfirmasi di saat kasus probable disertai salah satu dari hasil
berikut:
a) Isolasi bakteri Leptospira dari spesimen klinik;
b) Hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) positif; dan
c) Sero konversi Microscopic Agglutination Test (MAT) dari negatif menjadi positif.

Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut pada manusia dan hewan (zoonosis) yang
disebabkan oleh mikroorganisme Leptospira spp yang terdiri dari lebih 300 serovar. Pada
manusia umumnya disebabkan oleh Leptospira interogans yang ditemukan dalam air seni dan
sel-sel hewan yang terkena.1
Penyakit ini pertama sekali dikemukakan oleh Weil pada tahun 1886 yang membedakan
penyakit yang disertai dengan icterus ini dengan penyakit dengan gejala dan tanda yang sama.
Leptospirosis berat disebut dengan Weil’s Disesase yang ditandai dengan icterus, perdarahan,
anemia, azotrmia, gangguan kesadaran, dan demam terus menerus dengan gambaran klinis
berupa gangguan renal, hepar, dan disfungsi vaskular. Nama lain dari leptospirosis adalah: mud
fever, slime fever, swamp fever, autumnal fever, infectious jaundice, field fever, canicola fever, dan
lain-lain.1,3,4
Hewan tikus adalah reservoir utama dari leptospira patogen, menyebarkan
mikroorganisme ini ke lingkungan sehingga manusia dan hewan berisiko tertular leptospirosis.
Serovars leptospira yang pathogen yang telah diidentifikasi sebanyak 13 genus.1

5
Diagnosis Banding
Hepatitis Tifosa
Merupakan pembengkakan hati ringan sampai sedang dijumpai pada 50% kasus dengan
demam tifoid dan lebih banyak dijumpai pada S.typhi daripada S.paratyphi. Untuk membedakan
apakah hepatitis ini oleh karena tifoid, virus, malaria, atau amuba maka perlu diperhatikan
kelainan fisik, parameter laboratorium, dan bila perlu histopatologik hati. Hepatitis tifosa dapat
terjadi pada pasien dengan malnutrisi dan sistem imun yang kurang. Meskipun sangat jarang,
komplikasi hepatoensefalopati dapat terjadi.1
Penyakit ini memiliki gejala klinis yang mirip dengan Leptospirosis, yaitu demam,
ikikterus, dan hepatomegali, sehingga penting untuk tau cara membedakannya. Hal yang berbeda
adalah, karena penyakit ini merupakan komplikasi dari demam tifoid, maka karakteristik demam
akan berbeda dengan Leptospirosis. Pada penyakit ini akan ditemukan demam yang terjadi
berpola, seperti anak tangga dengan suhu makin tinggi dari hari ke hari, lebih rendah pada pagi
hari dan tinggi pada sore hari.1,3,5

Malaria
Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat akut atau kronik, disebabkan oleh protozoa
genus Plasmodium, ditandai dengan demam, menggigil, anemia, dan splenomegali. Dapat pula
tejadi ikterus pada malaria berat, yaitu malaria yang disertai komplikasi. Karena gejala klinis
yang mirip dengan Leptospirosis, maka penting untuk membedakan kedua penyakit tersebut.2
Pada malaria, khas terjadi splenomegali namun tidak ada hepatomegali. Kemudian
karakteristik demam pada malaria juga berbeda dari Leptospirosis. Gejala yang klasik yaitu
terjadinya “Trias Malaria” secara berurutan: periode dingin (15-60 menit): mulai menggigil,
penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering
seeluruh badan bergetar dan gigi-geligi saling terantuk, diikuti dengan meningkatnya temperatur;
diikuti dengan periode panas: penderita muka merah, nadi cepat, dan suhu badan tetap tinggi
beberapa jam, dikuti dengan keadaan berkeringat; kemudian periode berkeringat: penderita
berkeringat banyak dan temperatur turun, dan penderita merasa sehat.1,2

6
Epidemiologi
Menurut WHO, jumlah kasus leptospirosis berat lebih dari 500.000 per tahun di seluruh
dunia atau berkisar 10 kasus per 100.000 penduduk setiap tahun di regio tropikal dan 0,1 – 1,0
per 100.000 penduduk di temperate area. Angka ini tentunya di bawah yang sebenarnya, karena
kurangnya survailans dan sulitnya menegakkan diagnosis pasti.1
Indonesia merupakan negara dengan insidens leptospirosis tinggi. Indonesia menempati
peringkat ketiga dunia untuk mortalitas akibat leptospirosis menurut International Leptospirosis
Society. Infeksi ini tersebar di berbagai wilayah dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan
Nusa Tenggara Barat dengan insidens meningkat bersamaan dengan banjir. Orang yang rentan
terkena infeksi ini adalah petani, peternak, pekerja tambang, pekerja rumah potong hewan,
penebang kayu, dan dokter hewan.1,3,4

Etiologi
Leptospirosis disebabkan oleh Leptospirosis interorgan dari genus Leptospira dan famili
treponemataceae. Kuman leptospira berbentuk spiral, tipis, dengan panjang 5-15 µm dan lebar
0,1-0,2 mm. L.interrogans dibagi menjadi beberapa serogrup dan kemudian serovarian dengan
jenis tersering yang menyerang manusia adalah L.icterohaemorrhagica dengan reservoir tikus,
L.canicola dengan reservoir anjing dan L.pomona dengan reservoir babi dan sapi.1,3,4

Patofisiologi1
Dalam perjalanan pada fase leptospiremia, leptospira melepaskan toksin yang
bertanggung jawab atas terjadinya keadaan patologi pada beberapa organ. Lesi yang muncul
terjadi karena kerusakan pada lapisan endotel kapiler. Pada leptospirosis terdapat perbedaan
antara derajat gangguan fungsi organ dengan kerusakan secara histologis. Pada leptospirosis lesi
histologis yang ringan ditemukan pada ginjal dan hati pasien dengan kelainan fungsional yang
nyata dari organ tersebut. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kerusakan bukan pada struktur
organ. Lesi inflamasi menunjukkan edema dan ilfiltrasi sel monosit, limfosit dan sel plasma.
Pada kasus yang erat terjadi kerusakan kapiler dengan perdarahan yang luas dan disfungsi
hepatiseluler dengan retensi bile. Selain di ginjal, leptospirosis juga bertahan pada otak dan mata.

7
Leptospira dapat masuk ke dalam cairan serebrospinal pada fase leptospiremia. Hal ini
akan menyebabakan meningitis yang merupakan gangguan neurologi terbanyak yang terjadi
sebagai komplikasi leptosirosis. Kelainan spesifik pada organ ialah:
1. Ginjal. Interstitial nefritis dengan infiltrasi sel mononuklear merupakan bentuk lesi pada
leptospirosis yang dapat terjadi tanpa gangguan fungsi ginjal. Gagal ginjal terjadi akibat
tubular nekrosis akut. Adanya peranan nefrotoksin, reaksi imunologis, iskemia ginjal,
hemolisis dan invasi langsung mikroorganisme juga berperan menimbulkan kerusakan
ginjal.
2. Hati. Hati menunjukkan nekrosis sentilobuler fokal dengan infiltrasi sel limfosit fokal
dan proliferasi sel Kupfer dengan kolestatis. Pada kasus-kasus yang diotopsi, sebagian
ditemukan leptospira dalam hepar. Biasanya organisme ini terdapat di antara sel-sel
parenkim.
3. Jantung. Epikardium, endokardium, dan miokardium dapat terlibat. Kelainan
miokardium dapat fokal atau difus berupa interstitial edema dengan infiltrasi sel
mononuklear dan plasma. Nekrosis berhubungan dengan infiltrasi neutrofil. Dapat terjadi
perdarahan fokal pada miokardium dan endokarditis.
4. Otot rangka. Pada otot rangka, terjadi perubahan-perubahan berupa lokal nekrosis,
vakuolisasi dan kehilangan striata. Nyeri otot yang terjadi pada leptospira disebabkan
invasi langsung leptospira. Dapat juga ditemukan antigen leptospira pada otot.
5. Mata. Leptospira dapat masuk ruang anterior dari mata selama fase leptospiremia dan
bertahan beberapa bulan walaupun antibodi yang terbentuk cukup tinggi. Hal ini akan
menyebabkan uveitis.
6. Pembuluh darah. Terjadi perubahan pada pembuluh darah akibat terjadinya vaskulitis
yang akan menimbulkan perdarahan. Sering ditemukan perdarahan/pteki pada mukosa,
permukaan serosa dan alat-alat viscera dan perdarahan bawah kulit.
7. Susunan saraf pusat. Leptospira mudah masuk ke dalam cairan serebrospinal dan
dikaitkan dengan terjadinya meningitis. Meningitis terjadi sewaktu terbentuknya respon
antibodi, tidak pada saat memasuki CCS. Diduga bahwa terjadinya meningitis
diperantarai oleh mekanisme imunologis. Terjadi penebalan meninges dengan sedikit
peningkatan sel mononuklear arakhnoid. Meningitis yang terjadi adalah meningitis
aseptik, biasanya paling sering disebabkan oleh L. Canicola.

8
Manifestasi Klinis
Infeksi leptospirosis bisa tanpa gejala klinis. Oleh karena itu, amatlah penting untuk
menggali dari pasien mengenai riwayat paparan terhadap material yang terkontaminasi oleh
leptospira. Bukti serologi menunjukkan bahwa terdapat 15-40% individu yang pernah terpapar
dengan leptospira, namun tidak menjadi sakit. Pada kasus yang simtomatik, manifestasi klinis
bervariasi dan ringan sampai berat, bahkan fatal. Lebih dari 90% individu yang simtomatik
menunjukkan bahwa leptospirosis yang ringan dan anikterik, dengan atau tanpa meningitis.
Sisanya, sekitar 5-10% dengan bentuk leptospirosis yang berat (sindrom Weil).3,6
Masa inkubasi biasanya 1-2 minggu, tetapi bekisar 2-16 hari. Perjalanan penyakitnya
khas, terdiri dari 2 fase, yakni fase leptospiremia (5-7 hari) yang kemudian diikuti oleh fase imun
(4-30 hari). Pertama antara fase pertama dan kedua tidaklah selalu jelas. Pada kasus yang ringan
tidak ada selalu fase kedua, sedangkan pada sindrom Weil, kedua fase penyakit seringkali
berkelanjutan dan sulit dibedakan. Fase leptospiremia ditandai oleh adanya leptospira di dalam
darah dan cairan serebrospinal, sedangkan fase imun ditandai oleh peningkatan kadar IgM dalam
sirkulasi dan adanya leptospira dalam urin.6

1. Leptospira Anikterik
Leptospirosis tampak sebagai penyakit yang menyerupai influenza akut dengan demam,
menggigil, sakit kepala hebat, mual, muntah, dan mialgia. Nyeri otot terutama pada betis,
punggung dan abdomen, merupakan gejala yang penting pada leptospirosis. Gejala lain yang
kurang sering adalah nyeri menelan dan timbul ruam pada kulit. Pasien biasanya mengalami
sakit kepala berat (frontal atau retroorbital) dan terkadang timbul fotofobia. Perubahan status
mental juga bisa terjadi. Bila paru juga terlibat, maka sebagian besar kasus terjadi batuk dna
nyeri dada, serta tidak jarang juga terlihat hemoptisis.3,7
Temuan yang paling sering dijumpai pada pemeriksaan fisik adalah demam dengan
injeksi silier pada konjungtiva, sedangkan yang jarang ditemukan adalah nyeri tekan otot,
limfadenopati, injeksi faringeal, ruam, hepatomegali dan splenomegali. Ruam pada kulit bisa
berbentuk makular, makulopapular, eritematosa, urtikarial atau hemoragik. Ikterus ringan juga
dapat terjadi.7

9
Sebagian besar pasien menjadi asimtomatik dalam 1 minggu. Sesudah interval bebas
demam selama 1-3 hari, akan timbul demam kembali dan masuk ke fase kedua (imun) pada
sejumlah kasus. Fase imum dimulai bersamaan dengan terbentuknya antibodi. Gejala klinisnya
lebih bervariasi dibandingkan dengan fase pertama (leptospiremia). Biasanya gejala berlangsung
hanya selama beberapa hari, namun terkadang dapat menetap selama berminggu-minggu.
Demam seringkali kurang jelas (tidak begitu tinggi) dan mialgia lebih ringan bila dibandingkan
pada saat fase leptospiremia. Hal penting yang bisa terjadi pada fase imun adalah timbulnya
meningitis aseptik. Walaupun gejala dan tanda meningitis hanya dijumpai pada tidak lebih dari
15% pasien, akan tetapi banyak pasien mengalami pleositosis pada cairan serebrospinalnya.
Gejala meningeal biasanya hilang dalam beberapa hari, namun juga bisa menetap selama
bermingggu-minggu. Hal yang salam, pleositosis umumnya menghilang selama 2 minggu tetapi
terkadang menetap sampai berbulan-bulan. Iritis, iridosiklitis dan korioretinitis merupakan
komplikasi lanjut yang bisa menetap selama bertahun-tahun. Biasanya timbul minimal sesudah 3
minggu, akan tetapi sering juga setelah beberapa bulan dari permulaan sakit.7

2. Leptospirosis Berat (sindrom Weil)


Sindrom Weil adalah bentuk yang paling berat dari leptospirosis, yang ditandai oleh
ikterus, disfungsi ginjal dan diathesis hemoragik, serta mempunyai angka mortalitas yang tinggi.
Sindrom ini seringkali terjadi pada infeksi oleh serovar icterohaemorrhagiae. Pada awal sakit,
klinisnya tidak berbeda dengan leptopsirosis yang ringan, akan tetapi sesudah 4-9 hari umumnya
timbul ikterik disertai disfungsi ginjal dan vaskuler. Walaupun telah dilaporkan terdapat
perbaikan dalam beberapa hal sesudah minggu pertama sakit, namun pola penyakit yang bifasik,
seperti yang terlihat pada leptospirosis anikterik, kurang jelas terlihat. Biasanya tidak terjadi
nekrosis hati berat. Kematian jarang disebabkan oleh kegagalan hati. Hepatomegali dan nyeri
tekan pada abdomen kuadran kanan atas sering dijumpai. Splenomegali ditemukan pada 20%
kasus.6,8

10
Tata laksana
Medikamentosa
Pengobatan suportif dengan observasi ketat untuk mendeteksi dan mengatasi keadaan
dehidrasi, hipotensi, dan gagal ginjal sangat penting pada leptospirosis. Gangguan fungsi ginjal
pada umumnya dengan spontan akan membaik dengan membaiknya kondisi pasien. Namun pada
beberapa pasien membutuhkan tindakan hemodialisis temporer.1
Pemberian antibiotik harus dimulai secepat mungkin, biasanya pemberian dalam 4 hari
setelah onset cukup efektif. Untuk kasus leptospirosis berat, pemberian penicillin G amoxicillin,
ampisillin atau eritromisin dapat diberikan. Sedangkan untuk kasus-kasus ringan dapat diberikan
antibiotika oral tetrasiklin, doksisiklin, streptomisin, klorafenikol, siprofloksasin, ampisilin atau
amoksisilin maupun sefalosporin.1
Sampai saat ini penicillin masih merupakan antibiotik pilihan utama, namun perlu diingat
bahwa antibiotik bermanfaat jika leptospira masih di darah (fase leptospiremia). Pada pemberian
penisillin G 1,5 juta unit setiap 6 jam selama 57 hari. Dalam 4-6 jam setelah pemberian intravena
dapat muncul reaksi Jarisch-Herxherimer yang menunjukkan adanya aktivitas antileptospira.
Tindakan suportif ini diberikan sesuai dengan keparahan penyakit dan komplikasi yang timbul.
Obat-obat ini efektif pada pemberian hari 1-3 namun kurang manfaat bila diberikan setelah fase
imun da tidak efektif jika terdapat ikterus, gagal ginjal, daan meningitis. Keseimbangan cairan,
elektrolit, dan asama basa diatur sebagaimana pada penanggulangan gagal ginjal secara umum.
Kalau terjadi azotemia/uremia berat sebaiknya dilakukan dialisis.1,2
Meskipun tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mengendalikan leptospirosis pada
hewan liar, penyakit ini pada hewan peliharaan dapat dikendalikan melalui vaksinasi dengan sel
bakteri yang utuh yang dilemahkan atau dengan sediaan membran luar. Bila vaksin tidak
memiliki masa imunogenik yang memadai, respons imun yang timbul akan melindungi hospes
terhadap penyakit klinis, tetapi tidak melindungi terhadap timbulnya pengerluaran bakteri
melalui ginjal (renal shedder state).9
Karena kemungkinan terdapatnya berbagai serotipe pada suatu wilayah gerografik
tertentu, sedangkan perlindungan yang diberikan oleh vaksin bakteri yang dilemahkan bersifat
spesifik untuk serotipe, maka dianjurkan untuk menggunakan vaksin polivalen. Struktur selular
pada leptospira menyebabkan bakteri ini mudah dimatikan oleh keadaan buruk, misalnya
dehidrasi, pemaparan terhadap detergen, dan suhu di atas 50oC.9

11
Pencegahan leptospirosis pada manusia sangat sulit karena tidak mungkin menghilangkan
reservoir infeksi yang besar pada hewan. Vaksinasi hewan ternak dan hewan peliharaan
dilakukans ecara luas di Amerika Serikat dan telah banyak mengurangi insidens infeksi pada
beberapa spesies. Infeksi pada ginjal masih tetap dapat terjadi pada anjing yang divaksinasi, dan
manusia dapat terinfeksi dengan anjing yang telah diimunisasi secara adekuat.9

Indikasi Regimen Dosis


Leptospirosis ringan Doksisiklin 2 x 100 mg
Ampisilin 4 x 500-750 mg
Amoksisilin 4 x 500 mg
Leptospirosis sedang/berat Penisillin G 1,5 juta unit/6 jam (IV)
Ampisillin 1 gram/6 jam (IV)
Amoksisilin 1 gram/6 jam (IV)
Kemoprofilaksis Doksisiklin 200 mg/minggu

Tabel 1. Pengobatan & Kemoprofilaksis Leptospirosis2

Non-Medikamentosa
Pencegahan leptospirosis khususnya di daerah tropis sangat sulit. Banyaknya hospes
perantara dan jenis serotipe sulit untuk dihapuskan. Begi mereka yang mempunyai risiko tinggi
untuk tertular leptospirosis harus diberikan perlindungan berupa pakaian khusus yang dapat
melindungi dari kontak dengan bahan-bahan yang telah terkontaminasi dengan kemih binatang
reservoar.1
Orang yang paling sering berkontak dengan air yang terkontaminasi dengan tikus
(misalnya pekerja pertambangan, tukang jahit, petani, dan nelayan) mempunyai risiko terkena
infeksi yang paling besar. Anak-anak lebih sering terkena infeksi dari anjing daripada orang
dewasa. Tindakan pengendalian terdiri dari pencegahan terhadap pajanan air yang terkontaminasi
dan mengurangi kontaminasi dengan pengendalian binatang pengerat. Pada daerah tertentu,
pengendalian tikus, disinfeksi daerah kerja yang tercemar, dan larangan berenang pada perairan
tercemar, telah mengurangi insidens penyakit secara efektif.10

12
Komplikasi
Pada leptospirosis, komplikasi yang terjadi ialah iridoksiklitis, gagal ginjal, miokarditis,
meningitis aseptik, dan hepatitis. Perdarahan masif jarang ditemui dan bila terjadi selalu
menyebabkan kematian.2

Pencegahan
Cukup sulit untuk menghilangkan agen penyebab, untuk itu penting untuk mencegah agar
tidak terkena Leptospirosis. Beberapa cara dapat dilakukan, contohnya memakai sepatu boots
ketika bekerja di tempat yang merupakan faktor risiko. Kemudian bisa juga dengan memakai
sarung tangan bagi pekerja yang berhubungan langsung dengan specimen Leptospira, ataupun
bagi dokter hewan dan pekerja lain yang terpapar faktpor risiko.

Prognosis
Tergantung keadaan umum pasien, umur, virulensi leptospira, dan ada tidaknya kekebalan
yang didapat. Kematian juga biasanya terjadi akibat sekunder dari faktor pemberat seperti gagal
ginjal, atau perdarahan dan terlambatnya pasien mendapat pengobatan. Jika tidak ada ikterus,
penyakit jarang fatal. Pada kasus dengan ikterus, angka kematian 5% pada umur di bawah 30
tahun, dan pada usia lanjut mencapai 30-40%.2

Kesimpulan
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, laki-laki
berusia 45 tahun yang datang dengan keluhan demam dan nyeri betis, mendapat diagnosa
Leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh mikroorganisme dengan genus Leptospira.
Selanjutnya pasien diberi tata laksana medikamentosa dan penangan non medikamentosa.
Kemudian pasien diberikan edukasi serta cara pencegahan penyakitnya.

13
Tugas PBL Skenario 10
1. Apa yang dimaksud dengan ARDS?
2. Bagaimana cara menentukan berat/ringan Leptospirosis?
3. Mekanisme terjadinya nyeri betis pada Leptospirosis?
4. Mekanisme terjadinya ikterus pada Leptospirosis?
5. Jenis Leptospira apakah yang paling sering terjadi?

Jawaban:

1. Sindrom gawat pernapasan pada dewasa (adult respiratory distress syndrome, ARDS)
merupakan bentuk edema paru yang dapat dengan cepat menimbulkan gagal napas akut.
Sindrom ini juga dikenal dengan nama shock lung, stiff lung, white lung, wet lung atau Da
Nang lung. ARDS dapat terjadi sesudah cedera langsung atau tidak langsung pada paru-
paru.11

2. Gejala ringan bisa tanpa gejala klinis yang berarti, beberapa pasien dapat berkembang menjadi
kondisi serius karena terjadinya inflamasi pada saraf mata, otak, spinal atau saraf lainnya.
Nyeri perut kanan atas dapat terjadi, pada sebagian kecil kasus dapat terjadi komplikasi pada
paru, ginjal, dan jantung. Gejala yang timbul berikutnya sesuai dengan orang yang terlibat.1

3. Gejala patologik yang selalu ditemukan ialah vaskulitis kapiler berupa edema endotel,
nekrosis, disertai invasi limfosit akibat endotoksin yang dikeluarkan oleh leptospira pada
semua organ yang terkena.12

4. Terjadinya ikterik pada leptospirosis disebabkan oleh beberapa hal, antara lain karena
kerusakan sel hati, gangguan fungsi ginjal yang akan menurunkan ekskresi bilirubin sehingga
meningkatkan kadar bilirubin darah, terjadinya perdarahan pada jaringan dan hemolisis
intravaskuler yang meningkatkan kadar bilirubin, serta proliferasi sel Kupffer sehingga
terjadi kolestatik intra-hepatik.12

5. Serovar L.interrogans termasuk yang paling tinggi jumlah serovar yang patogen.

14
Daftar Pustaka
1. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setyohadi B, Syam AF. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Edisi ke-6. Jakarta: Interna Publishing. 2014.
2. Kapita selekta kedokteran. Edisi ke-6. Jakarta: Media Aesculapius. 2014.
3. Speelman P. Harrison’s principles of internal medicine. Edisi ke-18. New York: McGraw
Hill. 2012.
4. World health organization (WHO). Human leptospirosis: guidance for diagnosis,
surveillance and control. Malta: World Health Organization/International Leptospirosis
Society: 2003.
5. World health organization (WHO). Background document: The diagnosis, treatment and
prevention of typhoid fever. Communicable Disease Surveillance and Response Vaccines
and Biologicals. WHO. Geneva: 2009.
6. Markum HMS. Renal Involvement in Leptospirosis at Dr. Cipto Mangunkusumo and
Persahabatan Hospitals. Indonesia J Intern Med. 2004.
7. Kandel N, Thakur GD, Andjaparidze A. Leptospirosis in Nepal. J Nepal Med Assoc. 2012.
8. Pohan HT. Kasus Leptospirosis di Jakarta. Dalam: Atmakusuma D dkk, penyunting.
Prosiding Simposium Current Diagnosis and Treatment in Internal Medicine 2003. Jakarta:
Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2003.
9. Muliawan SY. Seri Mikrobiologi dalam Praktikum Klinik Bakteri Spiral Patogen
(Treponema, Leptospira, dan Borrelia). Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama. 2008.
10. Brooks GF, Butel JS, Morse SAM. Mikrobiologi Kedokteran (Jawetz, Melnick, Adelberg’s
Medical Microbiology), Edisi 23. Hartanto H dkk, penerjemah. Jakarta: EGC. 2008.
11. Kowalak, Welsh, Mayer. Buku ajar patofisiologi. Jakarta: EGC. 2017.

12. Rampengan NH. Leptospirosis. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal Biomedik (JBM), Volume 8, Nomor 3,
November 2016, hlm. 143-150.

15