Anda di halaman 1dari 6

Ilma Nurul Lutfia 1800023208

Rizki Halallia 1800023210


Ajeng Prihandini 1800023243

Asam urat (Gout)


1. Patofisiologi

Patofisiologi arthritis gout dibagi menjadi empat tahap yaitu:

Fase I Tahap ini terjadi akibat peningkatan asam urat yang berasal dari metabolisme purin yang
berasal dari diet dan pemecahan sel tubuh. Pada keadaan normal asam urat yang terbentuk
selanjutnya akan dipecah oleh enzim urikase menjadi substans yang larut pada urin sehingga mudah
diekskresikan. Tidak adanya enzim urikase ini dapat menimbulkan peningkatan kadar asam urat.
Sekitar 90% peningkatan kadar asam urat ditimbulkan akibat ketidakmampuan untuk
mengekskresikan asam urat pada urin akibat defek genetik pada transporter anion ginjal yang
mengakibatkan reabsorbsi asam urat yang berlebihan. Hal ini juga bisa disebabkan oleh penggunaan
beberapa obat seperti aspirin, diuretik dan alkohol, serta fungsi ginjal yang menurun. Sekitar 10%
peningkatan asam urat dapat terjadi akibat produksi asam urat yang berlebihan akibat defek genetik
enzim yang memecahkan purin, peningkatan penghancuran DNA sel yang mengandung purin pada
tindakan kemoterapi, serta asupan diet yang tinggi purin

Fase II Fase ini adalah serangan akut yang ditandai dengan tanda radang, biasanya pada sendi
metatarsofalang digiti I, dorsum kaki, mata kaki, lutut, pergelangan tangan, dan sendi siku. Fase ini
terjadi akibat perpindahan monosodium urat ke cairan sendi dan menimbulkan reaksi perlawanan
dari sel neutrofil, sehingga mencetuskan reaksi radang oleh beberapa sitokin inflamasi dan ditandai
dengan sendi yang merah, nyeri, panas, dan bengkak.

Fase III Fase ini sering dikenal dengan fase interkritikal asimptomatik yaitu fase tanpa adanya gejala
namun kristal monosodium urat tetap terdeposit pada cairan sendi. Keadaan ini dapat berlangsung
sampai 10 tahun. Tanpa penanganan asam urat yang baik dapat menimbulkan serangan akut yang
berulang akibat beberapa pencetus seperti trauma lokal, diet tinggi purin, stress, dan pemakaian
diuretik.

Fase IV Fase ini adalah fase arthritis gout kronik yang ditandai dengan munculnya tofus (deposit
monosodium urat pada beberapa sendi namun tanpa tanda radang). Tofus ini dapat pecah sendiri
dan sering menimbulkan infeksi sekunder. Pada fase ini sering terjadi kerusakan sendi, gangguan
fungsi ginjal dan gangguan kardiovaskuler

2. Mekanisme

Monosodium urat akan membentuk kristal ketika konsentrasinya dalam plasma berlebih, sekitar 7,0
mg/dl. Kadar monosodium urat pada plasma bukanlah satu-satunya faktor yang mendorong
terjadinya pembentukan kristal. Kristal monosodium urat yang menumpuk akan berinteraksi dengan
fagosit melalui dua mekanisme. Mekanisme pertama adalah dengan cara mengaktifkan sel-sel
melalui rute konvensional yakni opsonisasi dan fagositosis serta mengeluarkan mediator inflamasi.
Mekanisme kedua adalah kristal monosodium urat berinteraksi langsung dengan membran lipid dan
protein melalui membran sel dan glikoprotein pada fagosit. Interaksi ini mengaktivasi beberapa jalur
transduksi seperti protein G, fosfolipase C dan D, Srctyrosine-kinase, ERK1/ERK2, c-Jun N-terminal
kinase, dan p38 mitogen-activated protein kinase. Proses tersebut akan menginduksi pengeluaran
interleukin (IL) pada sel monosit yang merupakan faktor penentu terjadinya akumulasi neutrofil
(Choi et al, 2005). Pengenalan kristal monosodium urat diperantarai oleh Toll-like receptor (TLR) 2
dan TLR 4, kedua reseptor tersebut beserta TLR protein penyadur MyD88 mendorong terjadinya
fagositosis. Selanjutnya proses pengenalan TLR 2 dan 4 akan mengaktifkan faktor transkripsi nuclear
factor-kB dan menghasilkan berbagai macam faktor inflamasi (Cronstein dan Terkeltaub, 2006).
Proses fagositosis kristal monosodium urat menghasilkan reactive oxygen species (ROS) melalui
NADPH oksidase. Keadaan ini mengaktifkan NLRP3, kristal monosodium urat juga menginduksi
pelepasan ATP yang nantinya akan mengaktifkan P2X7R. Ketika P2X7R diaktifkan akan terjadi proses
pengeluaran cepat kalium dari dalam sel yang merangsang NLRP3. Kompleks makro melekular yang
disebut dengan inflamasom terdiri dari NLRP3, ASC dan pro-caspase-1 dan CARDINAL. Semua proses
diatas nantinya akan menghasilkan IL-1α (Busso dan So, 2010). Sel-sel yang sering diteliti pada
artritis gout adalah lekosit, neutrofil, dan makrofag (Busso dan So, 2010). Salah satu komponen
utama pada inflamasi akut adalah pengaktifan vascular endhotelial yang menyebabkan vasodilatasi
dengan peningkatan aliran darah, peningkatan permeabilitas terhadap protein plasma dan
pengumpulan lekosit ke dalam jaringan. Aktivasi endotel akan menghasilkan molekul adhesi seperti
E-selectin, intercellular adhesion molecule-1 (ICAM-1) dan vascular cell adhesion molecule-1 (VCAM-
1) yang kemungkinan disebabkan karena adanya faktor TNF-α yang dikeluarkan oleh sel mast
(Dalbeth dan Haskard, 2005). Neutrofil berkontribusi pada proses inflamasi melalui faktor
kemotaktik yakni sitokin dan kemokin yang berperan pada adhesi endotel dan proses transmigrasi.
Sejumlah faktor yang diketahui berperan dalam proses artritis gout adalah IL-1α, IL-8, CXCL1, dan
granulocyte stimulating-colony

3. Obat Sintesis dan Mekanisme nya

`Allopurinol

Allopurinol 300 mg adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit asam urat dan
komplikasinya, termasuk penyakit gout kronis. Obat ini termasuk golongan inhibitor xanthine
oxidase (xanthine oxidase inhibitor).

Allopurinol 300 mg bekerja dengan cara menghambat enzim xanthine oksidase sehingga mengurangi
pembentukan asam urat dan juga dapat menghambat sintesis purin. Enzim xanthine oksidase adalah
enzim yang bertanggung jawab untuk oksidasi hypoxanthine dan xanthine. Hal ini adalah suatu
rangkaian proses metabolisme purin dalam tubuh manusia yang menghasilkan asam urat.

4. Obat Herbal dan Mekanismenya

Ekstrak etanol Daun Seledri

Senyawa golongan flavonoid pada tanaman seledri bekerja dengan cara menghambat xanthine
oksidase sehingga dapat mengurangi poduksi asam urat yang berlebihan, alkaloid juga mampu
menekan dan mengurangi frekuensi serangan akut dan menghilangkan rasa nyeri dengan cara
menghambat sintesis dan pelepasan leukotrien. Sedangkan senyawa tannin diketahui dapat
mengikat radikal bebas selama perubahan purin menjadi asam urat dan tanin juga besifat astrigensi
sehingga dapat menciutkan selaput lendir. Saponin bekerja dengan cara mengurangi aktivitas enzim
xantin oksidase dalam serum.9 Pengobatan penyakit gout dapat dilakukan dengan cara menurunkan
konsentrasi asam urat dalam darah ataupun dengan mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan.

Dosis ekstrak etanol daun seledri yang paling efektif dalam menurunkan kadar asam urat yaitu dosis
50 mg/kg BB yang merupakan variasi dosis ekstrak etanol daun seledri yang terkecil. Hal ini
disebabkan karena belum dilakukan uji toksisitas pada dosis 100 dan 200 mg/kg, sehingga
penggunaan dosis terkecil dapat meminimalisir efek samping toksik dari ekstrak yang diberikan,
artinya dosis 50 mg/kg BB merupakan konsentrasi terbaik untuk menurunkan kadar asam urat.

Kolestrol

Patofisiologi

Seseorang dikatakan mengalami kolesterol tinggi (hiperkolesterolemia) apabila jumlah total


kolesterolnya lebih dari 200 mg/dL. Jumlah trigliserida juga dikatakan tinggi apabila kadarnya di
dalam darah melebihi 200 mg/dL. Hiperkolesterolemia umumnya disebabkan oleh kombinasi dari
faktor genetik dan gaya hidup yang tidak sehat. Di antaranya adalah:

• Riwayat keluarga

Meskipun tergolong jarang, seseorang dapat mengalami hiperkolesterolemia karena faktor genetik
yang diturunkan dari orang tua dengan penyakit yang sama. Kondisi yang disebut familial
hypercholesterolemia ini dipicu oleh mutasi sejumlah gen, seperti APOB, LDLR, LDLRAP1, dan PCSK9.

• Pola makan yang buruk

Konsumsi makanan tinggi kolesterol, seperti daging merah dan produk susu hewani, dapat
meningkatkan kolesterol total. Produk makanan hewani dengan kandungan lemak jenuh dan
makanan ringan kaya lemak trans, seperti kue atau biskuit, juga bisa meningkatkan kadar kolesterol.

• Obesitas

Berat badan berlebih dengan indeks massa tubuh (IMT) 30 atau lebih, memperbesar risiko
hiperkolesterolemia.

• Diabetes

Gula darah tinggi bisa meningkatkan LDL dan menurunkan HDL, serta merusak dinding pembuluh
darah.

• Lingkar pinggang besar


Hiperkolesterolemia lebih berisiko terjadi pada pria dengan lingkar pinggang di atas 102 cm, dan
wanita dengan lingkar perut di atas 89 cm.

• Merokok

Selain dapat menurunkan kadar HDL, rokok juga merusak dinding pembuluh darah, sehingga
menjadi tempat penumpukan lemak.

• Kurang olahraga

Olahraga membantu tubuh meningkatkan jumlah HDL.

Mekanisme Obat Sintetis

Beberapa contoh obat untuk mengatasi hiperkolesterolemia adalah:

• Statin

Obat ini bekerja dengan cara menghambat zat yang dibutuhkan hati untuk memproduksi kolesterol.
Hal tersebut memicu hati mengambil kolesterol dari darah. Statin juga membantu tubuh menyerap
kolesterol dari timbunan kolesterol di dinding pembuluh darah. Contoh obat golongan statin antara
lain adalah atorvastatin, rosuvastatin, dan simvastatin.

• Resin pengikat asam empedu

Obat ini menurunkan kadar kolesterol secara tidak langsung dengan mengikat asam empedu. Hal
tersebut menyebabkan hati menggunakan kolesterol yang berlebih untuk membuat lebih banyak lagi
asam empedu, sehingga kadar kolesterol dalam darah menurun.

Mekanisme Obat Herbal

• Kacang kedelai

Kacang kedelai mengandung senyawa isoflavon. Terdapat empat bentuk isoflavon pada kedelai,
yaitu dalam bentuk aglikon (Genistein, faktor-2 [6,7,4' tri- hidroksi isoflavon], daidzein, dan glisitein);
dalam bentuk glikosida (glisitin, genistin, dan daidzin); dalam bentuk malonilglikosida dan
asetilglikosida (Wang and Murphy, 1994).

Isoflavon merupakan salah satu metabolit sekunder dan senyawa yang tergolong dalam flavonoid.
Penurunan kadar kolesterol oleh flavonoid melalui penghambatan kerja enzim 3-hidroksi 3-metil
glutaril koenzim A reduktase (HMG CO-A reduktase) (Sekhon and Loodu, 2012).

• Nanas

Pada beberapa penelitian, ditemukan nanas dapat menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Selain
kandungannya bebas lemak, nanas kaya akan serat yang menyebabkan ekskresi empedu meningkat
dan berdampak pada berkurangnya siklus enterohepatik dari empedu. Efeknya kolesterol yang larut
dalam empedu banyak dibuang dan jumlah yang beredar dalam tubuh jauh berkurang.
Jantung Lemah
Jantung lemah adalah istilah yang digunakan ketika otot jantung melemah atau kardiomiopati.
Kardiomiopati adalah penyakit di mana otot jantung melemah, merenggang, atau memiliki masalah
pada strukturnya. Pada kasus yang jarang terjadi, jantung lemah akan tergantikan jaringannya
dengan jaringan luka.

Kondisi ini sering kali terjadi saat jantung tidak dapat memompa atau berfungsi dengan baik. Hal
tersebut berpotensi menyebabkan detak jantung tidak beraturan, darah menumpuk di paru-paru,
masalah katup jantung, atau gagal jantung.
Kardiomiopati dapat diturunkan, yang artinya penyakit ini dapat diwariskan dari orang tua atau
anggota keluarga. Penyakit ini juga bisa muncul akibat berbagai faktor penyebab lainnya atau
sebagai dampak dari suatu masalah kesehatan lain.

Tergantung pada jenis kardiomiopati, penyebab dapat memiliki deteksi yang berbeda-beda.
Berikut adalah penyebab-penyebab jantung lemah atau kardiomiopati berdasarkan jenisnya:

1. Dilated cardiomyopathy
Dilated cardiomyopathy umumnya merupakan penyakit yang diturunkan oleh anggota keluarga.

Namun, terdapat beberapa penyebab lainnya, seperti:

Penyakit arteri koroner yang parah


Minum alkohol berlebihan
Penyakit kelenjar tiroid
Diabetes
Infeksi virus pada jantung
Kelainan katup jantung
Obat-obatan yang merusak jantung
Kondisi ini juga dapat terjadi pada wanita sehabis melahirkan, yang biasanya disebut dengan
postpartum cardiomyopathy.

2. Hypertrophic cardiomyopathy
Kondisi ini terjadi ketika otot jantung menebal dan melemah. Hal ini membuat darah sulit dipompa
keluar jantung. Jenis kardiomiopati ini sering kali diturunkan pada keluarga.

Penyebab lain dari kardiomiopati hipertropik bisa jadi merupakan tanda-tanda penuaan atau
tekanan darah tinggi. Untuk penyebab lainnya, hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti.

3. Restrictive cardiomyopathy
Pada kondisi ini, rongga jantung tidak dapat terisi dengan darah karena ventrikel kaku dan tidak
dapat rileks. Penyebab utama dari jenis ini adalah amyloidosis dan luka pada jantung akibat
penyebab yang tidak diketahui.

Penyebab lainnya adalah:

Penumpukan jaringan luka pada jantung


Kemoterapi atau paparan radiasi pada jantung
Terlalu banyak zat besi di dalam hati (yang disebut dengan hemokromatosis)
Penyakit lainnya
4. Arrhythmogenic right ventricular dysplasia
Pada jenis ini, otot pada bagian kanan bawah rongga jantung terganti dengan jaringan ikat. Kondisi
ini dapat menyebabkan gangguan pada ritme jantung dan sering kali disebabkan oleh mutasi gen.
Mekanisme obat herbal :
Di dalam kulit manggis, terkandung antioksidan yang penting. Antioksidan bernama xanthone ini
keampuhannya melebihi vitamin C dan E dalam mencegah radikal bebas.

Manfaat xanthone di dalam tubuh ada banyak, yaitu di antaranya menjaga kesehatan
kardiovaskular, mengatasi penyakit jantung aterosklerosis yang dapat memperlebar pembuluh
darah, membersihkan plak-plak yang mengeras dari lemak darah jahat, dan memperbaiki kerusakan
sel-sel dalam arteri sekat jantung.
Selain dari manfaat di atas, kulit manggis memiliki khasiat dalam menjaga dan mencegah penyakit
jantung lainnya muncul. Selain memiliki sifat antioksidan, kandungan xanthones dalam kulit manggis
juga mempunyai sifat antitrombotik dan mampu menghambat agregasi platelet. Xanthones dalam
kulit manggis ini juga efektif menurunkan tekanan darah pada dinding pembuluh, sehingga dapat
mencegah hipertensi. Xanthones juga bisa menghambat oksidasi LDL alias asam lemak jenuh,
kolesterol jahat, cyclooxygenases1 dan 2, prostaglandin E2, yang merupakan faktor utama penyebab
peradangan.

Selain adanya xanthones, di dalam kulit manggis terdapat 62,05% air, 0,71% protein, 0,63% lemak,
serta 35,61% karbohidrat. Nilai nutrisi yang bagus ini tentu dapat berkontribusi besar saat
menghadapi segala jenis penyakit yang dapat menyerang tubuh kita.

Delima, apel, dan tomat.


Buah-buah tersebut mengandung zat antioksidan, terutama kandungan flavonoid. Mekanisme kerja
zat bioaktif yang terkandung dalam buah-buahan dapat mencegah penyakit jantung. Beberapa
mekanisme kerja zat bioaktif yang ada antara lain penurunan kadar kolesterol darah, mencegah
penggumpalan darah, dan mencegah timbunan plak pada pembuluh darah.

Obat sintetis dan mekanismenya

1. Digoxin
Mekanisme kerja dari digoksin adalah menghambat Na/K ATase, menghasilkan peningkatan sodium
intrasel yang menyebabkan lemahnya pertukaran sodim/kalium dan meningkatkan kalsium intrasel.
Hal tersebut dapat meningkatkan penyimpanan kalsium intrasellular di sarcoplasmic reticulum pada
otot jantung, dan dapat meningkatkan cadangan kalsium untuk memperkuat atau meningkatkan
kontraksi otot.
2. Beta Bloker
Mekanisme kerja beta blocker dijantung dengan cara menghambat reseptor beta sehingga
menurunkan denyut jantung, menurunkan kecepatan konduksi, dan menurunkan kontraktilitas.
3. Diuretik
Obat-obat ini menghambat transport ion yang menurunkan reabsorpsi Na+ pada bagian bagian
nefron yang berbeda. Akibatnya Na+ dan ion lain seperti Cl- memasuki urin dalam jumlah lebih
banyak dibandingkan bila keadaan normal bersama-sama air yang mengangkut secara pasif untuk
mempertahankan keseimbangan osmotik (Pamela dkk., 1995).

4. Antiaritmia
Dapat mencegah atau meniadakan gangguan tersebut dengan jalan menormalisasi frekuensi dan
ritme pukulan jantung. Obat antiaritmia memepertahankan irama sinus pada gagal jantung
memberikan keuntungan simtomatik, dan amiodaron merupakan obat yang paling efektif dalam
mencegah AF dan memperbaiki kesempatan keberhasilan kardioversi bila AF tetap ada.
Obat herbal dan mekanismenya