Anda di halaman 1dari 8

Nama : Bella Nabila

Kelas : 3B – D3 Teknik Kimia

NIM : 171411037

Tugas Pre-Eleminary Double Pipe Heat Exchanger

& Shell and Tube Heat Exchanger

I. Perpindahan Panas
1.1 Pengertian & Jenis Perpindahan Panas

Perpindahan panas dapat didefinisikan sebagai berpindahnya energi dari satu daerah ke daerah
lainnya sebagai akibat dari beda temperatur antara daerah-daerah tersebut. Terdapat berbagai jenis
perpindahan panas yang dapat dibagi menjadi 3 yaitu :

1) Perpindahan Panas Secara Konduksi

Merupakan perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling berdekatan antar yang satu
dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh perpindahan molekul-molekul tersebut secara fisik.
Molekul-molekul benda yang panas bergetar lebih cepat dibandingkan molekul-molekul benda
yang berada dalam keadaan dingin. Getaran-getaran yang cepat ini, tenaganya dilimpahkan kepada
molekul di sekelilingnya sehingga menyebabkan getaran yang lebih cepat maka akan memberikan
panas.

Contoh : Knalpot motor yang menjadi panas pada saat mesin motor dihidupkan, Mentega yang
dipanaskan pada wajan yang menjadi meleleh disebabkan karena panas , Tutup panci terasa panas
saat panci digunakan untuk memasak

2) Perpindahan Panas Secara Konveksi

Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan gerakan partikel atau zat tersebut
secara fisik. Pada saat partikel itu berpindah dan juga mengakibatkan kalor merambat, terjadilah
suatu konveksi. Konveksi tersebut terjadi pada zat cair dan juga gas (udara/angin).

Contoh : Gerakan naik dan turun air ketika dipanaskan, Gerakan naik dan turun kacang hijau,
kedelai dan lainnya ketika dipanaskan, Terjadinya angin darat dan angin laut.
3) Perpindahan Panas Secara Radiasi

Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu energi dapat
dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas ke benda yang dingin) dengan
pancaran gelombang elektromagnetik dimana tenaga elektromagnetik ini akan berubah menjadi
panas jika terserap oleh benda yang lain.
Contoh : Panas matahari yang sampai ke bumi walau dengan melalui ruang hampa, Tubuh terasa
hangat pada saat berada di dekat sumber api., menetaskan telur unggas dengan menggunakan
lampu.

Gambar 1 : Perpindahan Kalor pada Heat Exchanger


(Sumber :https://www.academia.edu/30081055/PLAT_HEAT_EXCHANGER.docx)

1.2 Variable yang Mempengaruhi Laju Perpindahan Panas (Q)

Besarnya laju perpindahan panas dapat dihitung dengan rumus :

Q= U.A.ΔTm

Sehingga besarnya laju perpindahan panas (Q) dipengaruhi oleh :

1. Koefisien Perpindahan Panas Menyeluruh (U)


Semakin besar koefisien perpindahan panas menyeluruh(U), maka laji perpindahan panas yang
terjadi antara dua fluida juga semakin besar.
2. Luas Permukaan (A)
Semakin luas permukaan Heat Exchanger maka semakin besar pula laju perpindahan panas
dan juga tergantung pada diameter dalam pipa.
3. Beda suhu rata-rata (ΔTm)
Semakin besar beda suhu rata-rata antara fluida maka semakin besar pula laju perpindahan
panasnya.

II. Heat Exchanger

Alat penukar panas atau Heat Exchanger adalah alat yang digunakan untuk memindahkan
panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan dapat berfungsi sebagai pemanas
maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan
se!agai fluida panas dan air bisa sebagai air pendingin (cooling water ). Penukar panas dirancang
sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran
panas terjadi karena adanya kontak antara fluida terdapatdinding yang memisahkannya maupun
keduanya tercampur langsung (direct contact).

2.1 Tipe Aliran pada alat penukar panas

Tipe aliran di dalam alat penukar panas ini ada 4 macam aliran yaitu :

1) Counter current flow (aliran berlawanan arah)

Berlawanan dengan paralel flow, kedua aliran fluida yang mengalir dalam HE masuk dari arah
yang berlawanan. Aliran keluaran yang fluida dingin ini suhunya mendekati suhu dari masukan
fluida panas sehingga hasil suhu yang didapat lebih efekrif dari paralel flow. Mekanisme
perpindahan kalor jenis ini hampir sama dengan paralel flow, dimana aplikasi dari bentuk
diferensial dari persamaan steady-state:
dQ  U T  t a" dL (1)
dQ  WCdT  wcdt (2)
2) Paralel flow/co current flow (aliran searah)

Kedua fluida ,mengalir dalam heat exchanger dengan aliran yang searah. Kedua fluida memasuki
HE dengan perbedaan suhu yang besar. Perbedaan temperatur yang besar akan berkurang seiring
dengan semakin besarnya x, jarak pada HE. Temperatur keluaran dari fluida dingin tidak akan
melebihi temperatur fluida panas.
3) Cross flow (aliran silang)

Dimana satu fluida mengalir tegak lurus dengan fluida yang lain. Biasa dipakai untuk aplikasi yang
melibatkan dua fasa. Misalnya sistem kondensor uap (tube and shell heat exchanger), di mana uap
memasuki shell, air pendingin mengalir di dalam tube dan menyerap panas dari uap sehingga uap
menjadi cair.
4) Cross counter flow (aliran silang berlawanan)
2.2 Jenis Alat Heat Exchanger berdasarkan konstruksinya
1. Penukar panas pipa rangkap (double pipe heat exchanger )

Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis penukar panas
dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah aliran, baik dengan cairan panas atau dingin
cairan yang terkandung dalam ruang annular dan cairan lainnya dalam pipa.

Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang dikedua
ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida yang satu mengalir
di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam ruang anulus antara pipa luar dengan
pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan
tekanan operasi yang tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar digunakan penukar panas
jenis selongsong dan buluh ( shell and tube heat exchanger ).

Gambar 2 : Penukar panas jenis pipa rangkap


 Kelebihan dan Kekurangan Double Pipe :

Kelebihan :

- Mampu beroperasi pada tekanan yang tinggi


- Resiko tercampurnya fluida sangat kecil
- Mudah dibersihkan pada bagian Fitting
- Fleksibel dalam berbagai aplikasi dan pengaturan pipa
- Dapat dipasang seri atau paralel
- Pressure drop dan LMTD bisa diatur

Kekurangan :

- Kapasitas perpindan panasnya sangat kecil


- Mahal
- Area perpindahan kalornya kecil ( <50 m2)
- Jumlah fluida yang bisa dipakai kecil

2. Penukar panas Shell and Tube Heat Exchanger

Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang dihubungkan
secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (cangkang ). Fluida yang satu mengalir
di dalam bundel pipa, sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama,
berlawanan, atau bersilangan. Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang
menempel pada mantel. Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat
penukar panas cangkang dan buluh dipasang sekat (buffle). Ini bertujuan untuk membuat turbulensi
aliran fluida dan menambah waktu tinggal (residence time), namun pemasangan sekat akan
memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir fluida
yang dipertukarkan panasnya harus diatur.

Gambar 3. shell and tube heat exchanger

(Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Shell_and_tube_heat_exchanger)

 Kelebihan dan Kekurangan Shell and Tube:

Kelebihan :

- Thermal performance lebih tinggi dari tipe HE lain


- Tekanan lebih tinggi dari HE Plate and Frame
- Efisiensi tinggi
- Memerlukan tempat yang minim dan mudah diraawat
- Mudah beradaptasi hampir semua tipe liquid chilling

Kekurangan :

- Thermal performance lebih rendah dari HE Plate and Frame


- Tekanan Lebih rendah dari HE Double Pipa
2.3 Jenis Alat Heat Exchanger berdasarkan kontak antar fluida
1) Tipe kontak langsung

Tipe kontak langsung adalah tipe alat penukar kalor dimana antara dua zat yang
dipertukarkan energinya dicampur atau dikontakkan secara langsung. Dengan demikian ciri khas
dari penukar kalor seperti ini (kontak langsung) adalah bahwa kedua zat yang dipertukarkan
energinya saling berkontak secara langsung (bercampur) dan biasanya kapasitas energi yang
dipertukarkan relatif kecil. Contoh dari heat exchanger tipe ini adalah fluidized bed heat
exchanger.

Gambar 4. Fluidized-Bed Heat Exchanger.


(sumber : http://bangsakubangkit.blogspot.com/2016/02/prinsip-heat-
exchanger.html/)

2) Tipe kontak tidak langsung

Tipe tidak kontak langsung adalah tipe alat penukar kalor dimana antara kedua zat yang
dipertukarkan energinya dipisahkan oleh permukaan bidang padatan seperti dinding pipa, pelat,
dan lain sebagainya sehingga antara kedua zat tidak tercampur. Untuk meningkatkan efektivitas
pertukaran energi, biasanya bahan permukaan pemisah dipilih dari bahan-bahan yang memiliki
konduktivitas termal yang tinggi seperti tembaga dan aluminium.. Dengan bahan pemisah yang
memiliki konduktivitas termal yang tinggi diharapkan tahanan termal bahan tersebut akan rendah
sehingga seolah-olah antara kedua zat yang saling dipertukarkan energinya seperti kontak
langsung. Contoh alat tipe kontak tidak langsung adalah plate heat exchanger

Gambar 5 Plate Heat Exchanger

(Sumber : http://www.wermac.org/equipment/plateheatexchanger.html)

DAFTAR PUSTAKA

Artono Koestoer, Raldi . 2002. ”Perpindahan Kalor”. Salemba Teknika.: Jakarta

Rifandi, Ahmad. 2017. “Modul Praktikum Perpindahan Panas Double Pipe Heat Exchanger &
Shell and Tube Heat Exchanger ”. Politeknik Negeri Bandung: Bandung

Holman, JP. Alih bahasa E.Jasifi. 1995. “Perpindahan Kalor”. Penerbit Erlangga: Jakarta

Wahyuni, Bachtiar. 2016. “Laporan Praktikum Heat Exchanger”. Politeknik Negeri Ujung

Pandang : Makassar. https://www.academia.edu/30081055/PLAT_HEAT_EXCHANGER.docx


Diakses pada 5 Oktober 2019