Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER TESTIS

Disusun Oleh :

Lulus Prasetyo

113119039

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP

TAHUN 2019
KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi Ca Testis
Ca Testis adalah pertumbuhan sel-sel ganas di dalam testis (buah zakar), yang bisa
menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam
skrotum(kantung zakar).Kanker testikuler, yang menempati peringkat pertama dalam
kematian akibat kanker diantara pria dalam kelompok umur 20 sampai 35 tahun, adalah
kanker yang paling umum pada pria yang berusia 15 tahun hingga 35 tahun dan
merupakan malignansi yang paling umum kedua pada kelompok usia 35 tahun hingga
39 tahun.

2. Patofisiologi Ca Testis
Penyebabnya yang pasti tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang menunjang
terjadinya kanker testis. Testis undesensus (testis yang tidak turun ke dalam skrotum)
walaupun telah dikoreksi dengan operasi. Sindroma Klinefelter (suatu kelainan
kromosom seksual yang ditandai dengan rendahnya kadar hormon pria, kemandulan,
pembesaran payudara (ginekomastia) dan testis yang kecil). Perkembangan testis yang
abnormal. Testis desensus dan sindroma klinefelter ini dapat menyebabkan diferensiasi
dan proliferasi dari testis yang terganggu sehingga sel leydig yang ada didalam testis
tersebut tidak mampu untuk menghasilkan hormone testosterone dalam jumlah yang
cukup, dimana hormone testosterone ini berfungsi dalam proses diferensiasi dari vas
deferen dan vesika seminalis. FSH dan ICSH akan dilepaskan oleh kelenjar hipofisis
berfungsi dalam spermatogenesis. Karena ketidakseimbangan hormon ini kelenjar
hipofisis mengalami suatu mekanisme kompensasi untuk dapat memenuhi
ketidakseimbangan hormone FSH dan ICSH tersebut. Mekanisme kompensasi tersebut
menyebabkan ICSH tersebut meningkat dalam jumlah yang banyak untuk merangsang
sel leydig untuk terus mengahasilkan hormone testosterone. Akibat sel leydig tersebut
terus dipacu, sel leydig tersebut bertambah banyak dan tidak terkontrol yang dapat
menjadi kaganasan sehingga testis terus membesar.
Tumor testis pada mulanya berupa lesi intratestikuler yang akhinya mengenai seluruh
parenkim testis. Sel-sel tumor kemudian menyebar ke rete testis, epididimis, funikulus
spermatikus, atau bahkan ke kulit scrotum. Tunika albugenia merupakan barrier yang
sangat kuat bagi penjalaran tumor testis ke organ sekitarnya, sehingga kerusakan tunika
albugenia oleh invasi tumor membuka peluang sel-sel tumor untuk menyebar keluar
testis.
Kecuali kariokarsinoma, tumor testis menyebar melalui pembuluh limfe menuju ke
kelenjar limfe retroperitoneal (para aorta) sebagai stasiun pertama, kemudian menuju ke
kelenjar mediastinal dan supraclavikula, sedangkan kariokarsinoma menyebar secara
hematogen ke paru-paru (anonim, 2010).
Kanker testis ini menyebabkan kerusakan jaringan saraf, infiltrasi sistem suplay syaraf,
ini terjadi karena adanya penekanan pada saraf di daerah testis sehingga menyebabkan
nyeri. Dalam proses pertumbuhan sel kanker memerlukan energi yang lebih banyak
sehingga tubuh berkompensasi dengan Hipermetabolik. Faktor lainnya yang
kemungkinan menjadi penyebab dari kanker testis tetapi masih dalam taraf penelitian
adalah pemaparan bahan kimia tertentu dan infeksi oleh HIV, infeksi genetik dan
endokrin. Jika di dalam keluarga ada riwayat kanker testis, maka resikonya akan
meningkat. Kanker testis jarang dijumpai pada pria berkulit berwarna dan angka
kematian tidak lebih dari 1%. Kanker ini akan menyebar ke limfonodus dan
kemungkinan ke paru-paru, hati, visera, dan tulang. Sebanyak 1% dari semua kanker
pada pria merupakan kanker testis. Kanker testis merupakan kanker yang paling sering
ditemukan pada pria berusia 15 sampai 40 tahun.

3. Epidemiologi Ca testis
Ca testis adalah salah satu dari sedikit neoplasma yang dapat didiagnosis
secara akurat melalui pemeriksaan penanda tumor ( tumor marker ) pada
serum penderita yaitu pemeriksaan human chorionic gonadotropin (bhCG) dan α-
fetoprotein (AFP).Insiden kanker testis memperlihatkan angka yang berbeda-
beda di tiap negara, begitu pula pada setiap ras dan tingkat sosio ekonomi.
Kemungkinan seorang laki-laki kulit putih untuk terkena kanker
t e s t i . Puncak insiden kasus Ca testis terjadi pada usia-usia akhir remaja
sampai usia awal dewasa ( 20-40 tahun ), pada a k h i r u s i a d e w as a ( L e b i h
dari 60 tahun ) dan pada anak ( 0-10 tahun ). Secara
k e s e l u r u h a n insiden tertinggi kasus tumor testis terjadi pada pria dewasa
muda, hal ini membuat Ca ini menjadi noeplasma tersering mengenai pria usia 20-
34 tahun dan tumor tersring kedua pada priausia 35-40 tahun di Amerika Serikat dan
Inggris Raya.Kanker testis sedikt lebih sering terjadi pada testis kanan dibanding testis
kiri, ini berhubungan dengan lebih tingginya insidensi kriptoidosme pada testis kanan
dibanding testis kiri. Pada tumor primer testis 2-3 % adalah tumor testis bilateral dan
kira-kira 50% terjadi pada pria de-ngan riwayat kriptokidsme unilateral ataupun
bilateral. Jika tumor testis sekunder dising-kirkanmaka insiden tumor testis primer
bilateral 1 – 2,8 % dari seluruh kasus tumor sel germinal testis.
4. Pathways

Hormon

Keidakseimbangan
Kelainan Herediter FSH dan ICSH

Paparan Bahan Kompensasi


Kelainan Kromoson Hipofisis
Kimia
/Mutasi Gen
Peningkatan ICSH
Kelainan
Pertumbuhan Sel
Merangsang Sel Leydig
Trauma
Infeksi
Testis Sel Leydig Bertambah
banyak/Tidak
Lesi Intraseluler Terkontrol

Mengenai Parenkin Testis Membesar Terjadi Penekanan


Testis Pada Saraf

Mediator Kimia
Sel tumor menyebar ke rete testis,
Tumor Testis (Prostaglanin, Bradikinin
epididimis, funikulus spermatikus,
atau bahkan ke kulit scrotum
Testis tidak dapat Implus Ke Saraf
berkembang Pusat
Rasa takut dan normal
ketidaktauan Respon Nyeri
Testis
Defisiensi Undesensus Nyeri Respon Nyeri
Pengetahuan
Penurunan
Fungsi Tubuh

Gangguan
Seksual

Disfungsi
Seksual
5. Etiologi Ca Testis
Kebanyakan Ca Testis terjadi pada usia di bawah 40 tahun. Penyebabnya yang pasti
tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang menunjang terjadinya kanker testis:
1. Testis undesensus (testis yang tidak turun ke dalam skrotum)
2. Perkembangan testis yang abnormal.
3. Sindroma Klinefelter (suatu kelainan kromosom seksual yang ditandai dengan
rendahnya kadar hormon pria, kemandulan, pembesaran payudara (ginekomastia)
dan testis yang kecil).
4. Faktor lainnya yang kemungkinan menjadi penyebab dari kanker testis tetapi masih
dalam taraf penelitian adalah pemaparan bahan kimia tertentu dan infeksi oleh HIV.
Jika di dalam keluarga ada riwayat kanker testis, maka resikonya akan meningkat.
1% dari semua kanker pada pria merupakan kanker testis. Kanker testis merupakan
kanker yang paling sering ditemukan pada pria berusia 15-40 tahun. Kanker testis
dikelompokkan menjadi:
1. Seminoma : 30-40% dari semua jenis tumor testis. Biasanya ditemukan pada pria
berusia 30-40 tahun dan terbatas pada testis.
2. Non-seminoma: merupakan 60% dari semua jenis tumor testis. Dibagi menjadi
subkategori:
a. Karsinoma embrional: sekitar 20% dari kanker testis, terjadi pada usia 20-30
tahun dan sangat ganas. Pertumbuhannya sangat cepat dan menyebar ke
paru-paru dan hati.Tumor yolk sac: sekitar 60% dari semua jenis kanker
testis pada anak laki-laki.
b. Teratoma: sekitar 7% dari kanker testis pada pria dewasa dan 40% pada anak
laki-laki. - Koriokarsinoma.
Tumor sel stroma: tumor yang terdiri dari sel-sel Leydig, sel sertoli dan sel
granu-losa. Tumor ini merupakan 3-4% dari seluruh jenis tumor testis. Tumor
bisa me-nghasilkan hormon estradiol, yang bisa menyebabkan salah satu gejala
kanker tes-tis, yaitu ginekomastia.
6. Klasifikasi Ca Testis
Terdapat dua kelompok besar tumor testicular yaitu: tumor sel germinal (GCT) yang berasal
dari sel-sel yang memproduksi sperma dan dibatasi oleh tubulus seminifurus dengan jumlah
95% dan dua sex cord tumors yang berasal dari sel-sel penunjang testis spesialis maupun yang
nonspesialis dengan jumlah kurang dari 5%. GCT secara luas dibagi dalam subtipe seminoma
dan nonseinoma untuk rencana pengobatan karena seminoma lebih sensitif terhadap terpi
radiasi. Seminoma adalah tipe GCT yang paling sering 50%, cenderung untuk tumbuh lebih
lambat dan timbul pada decade keempat kehidupan. Secara umum nonseminoma lebih agresif
dari pada seminoma dan timbul lebih sering ketika pria berusia tiga puluhan. Kira-kira 75%
terbatas pada testis ketika pertama kali didiagnosis, sedangkan sekitar 75% nonseminoma
telah menyebar kekelenjar limfe ketika terdiagnosa. Terdapat empat subtipe nonseminoma:
tertatoma yolk sac, kariokarinoma, dan variasicampuran tipe-tipe ini. Teratoma memiliki risiko
metastasis yang paling rendah sedangkan koriokarsinoma mempunyai resiko yang paling tinggi,
tipe sel lain memiliki resiko diantaranya. Sel-sel ini menghasilkan alfa fetoprotein (AFP) dan
hCG yang ber fungsi sebagai penanda tumor.

Stadium Perluasan Pengobatan dan prognosis / laju remisi(%)


penyakit Seminoma nonseminoma

I Terbatas pada Iradiasi (98%) RPLND atau observasi


testis (>95%)

II Mengenai testis Iradiasi (90%) RPLND (>95%)


dan kelenjar
limfe
retroperitoneal

IIa Kelenjar getah Iradiasi RPLND atau kemoterapi


bening >2cm sering kali oleh RPLND

IIb Kelenjar getah Iradiasi RPLND ± kemoterapi atau


bening 2-5 cm kemoterapi dilanjutkan
dengan RPLND

IIc Kelenjar > 5cm Kemoterapi Kemoterapi


III Metastasis jauh Kemoterapi Kemoterapi (70%)
(80%)

7. Manifestasi klinis Ca Testis


Gejala yang timbul dengan sangat bertahap dengan masa atau benjolan pada testis yang
secara umum pembesaran testis yang tidak nyeri. Pasien dapat mengeluh rasa sesak
pada bagian sekrotum ini mungkin di sebabkan karena ruang skrotum yang terdesak
karenan pertumbuhan masa tumor ini, selain itu juga dapat di temukan sakit pinggang
akibat peluasan nodus retroperineal, nyeri abdomen, penurunan berat badan akibat
nutrisi bagi sel di ambil oleh sel tumor yang berkembang, dan kelemahan, apa bila
terjadi metastasis gejalanya yang timbul akan menyesuaikan dengan organ yang terkena
tumor, misalnya bermetastasis ke paru mingkin akan menyebabkan penurunan fungsi
paru.
8. Pemeriksaan fisik dan diagnostic
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan testis mandiri (PTM) harus dilakukan 1 kali setiap bulan. Pemeriksaan ini
tidak sulit juga tidak memerlukan waktu yang lama. Paling sesuai dilakukan adalah
setelah mandi hangat atau mandi pancur ketika skrotum dalam keadaan lebih rileks.
Langkah – langkah pemeriksaan :
a. Gunakan kedua tangan untuk meraba testis. Testis yang normal adalah
berkonsistensi lembut dan kerasnya merata.
b. Dengan jari telunjuk dan jari tengah di bawah testis dan ibu jari di atas, putar testis
dengan perlahan dalam bidang horizontal antara ibu jari dan jari – jari.
c. Rasakan terhadap adanya setiap bentuk benjolan kecil atau abnormalitas.
d. Ikuti prosedur yang sama dan palpasi ke arah atas sepanjang testis.
e. Temukan epididymis, struktur seperti tali pada bagian atas dan belakang testis yang
menyimpan dan mentranspor sperma.
f. Ulangi pemeriksaan untuk testis lainnya adalah normal untuk menemukan bahwa
testis yang satu lebih besar dari testis lainnya.
g. Jika anda menemukan adanya benjolan kecil, sebesar kacang, konsulkan dokter
anda. Kemungkinan hal tersebut adalah suatu infeksi atau pertumbuhan tumor.
(smeltzer ; 2001)
Pemeriksaan diagnostik
- USG Skrotum
- Pemeriksaan darah untuk petanda tumor AFP (Alfa Fetoprotein), HCG (Human
Choioric Gonadotropin) yang mungkin meningkat pada pasien dengan kanker testis.
- Teknik imunositokimia yang terbaru dapat membantu mengidentifikasi sel – sel
yang tampaknya mneghasilkan penanda kanker.
- Urografi intravena untuk mendeteksi segala bentuk penyimpangan uretral yang
disebabkan oleh massa tumor.
- Limfangiographi untuk mengkaji keluasan penyebaran tumor ke system limfatik
- Pemindai CT dada dan abdomen untuk menentukan keluasan penyakit dalam paru –
paru dan retroperineum.
- Biopsy jaringan.
9. Penatalaksanaan Ca Testis
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk menyingkirkan penyakit dan mencapai
penyembuhan. Testis diangkat dengan orkhioektomi melalui suatu insisi inguinal
dengan ligasi tinggi korda spermatikus. Prostesis yang terisi dengan gel dapat
ditanamkan untuk mengisi testis yang hilang. Setelah orkhioektomi unilateral untuk
kanker testis sebagian besar pasien tidak mengalami kerusakan fungsi endokrin.
Diseksi nodus limfe retroperineal (RPLND) untuk mencegah penyebaran kanker
melalui jalur limfatik mungkin dilakukan setelah orkhioektomi.
Iradiasi nodus limfe pascaoperatif dari diafragma sampai region iliaka digunakan untuk
mengatasi seminoma dan hanya diberikan pada tempat tumor saja. Radiasi juga
digunakan untuk pasien yang tidak menunjukkan respon terhadap kemoterapi atau bagi
mereka yang tidak direkomendasikan untuk dilakukan pembedahan nodus limfe
Karsinoma testis sangat responsive terhadap terapi medikasi. Kemoterapi multiple
dengan sisplantin dan preparat lainnya seperti vinblastin, bleomisin, daktinomisin dan
siklofosfamid memberikan persentase remisi yang tinggi.
Penatalaksanaan lain :
a. Untuk kanker testis dilakukan pembedahan untuk mengangkat testis yang terkena.
Diberikan radiasi dan kemoterapi.
b. Pada pria dengan kanker testis dilakukan pemeriksaan sinar-X toraks dan biopsy
kelenjar limfe untuk menyingkirkan metastasis.
10. Komplikasi Ca testis
a. Infertilitas
b. Nyeri pinggang terus menerus
c. Sesak nafas
d. Nafas cepat
e. Nyeri tulang
f. Penurunan libido
g. Impotensi
h. Penurunan berat badan
11. Prognosis Ca Testis
Prognosis bergantung pada luasnya penyakit pada waktu diagnosis serta bergantung
pada lokasi (gonad dan ekstragonad). Dengan terapi modern 70%-80% dari semua
penderita yang ganas akan hidup tanpa penyakit, 5 tahun setelah diagnosis. Untuk
penderita dengan penyakit yang terlokalisasi dan prognosis amat baik, percobaan
mutakhir difokuskan untuk meminimalkan toksisitas. Hasil terapi kurang baik (angka
ketahanan hidup 5 tahun adalah 40%-70%) untuk penderita dengan penyakit lanjut, dan
penelitian difokuskan pada pengintensifan terapi. Beberapa penderita dengan penyakit
berulang dapat mencapai remisi atau sembuh dengan terapi penyelamatan /salvae
therapy. (Nelson, E. Waldo. 2000).
Penyakit kemungkinan dapat disembuhkan karena kemajuan dalam diagnosis dan
pengobatan ( Suzanne, 2001).

A. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Adapun yang harus dikaji pada pasien CA TESTIS adalah

Aktivitas/istirahat Gejala: Kelemahan dan/atau keletihan. Perubahan pada pola


istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari; adanya faktor-
faktor yang mempengaruhi tidur, misalnya nyeri, ansietas,
berkeringat malam.
Keterbatasan partisipasi dalam hobby, latihan.
Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan,
tingkat stress tinggi.
Sirkulasi Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada pengerahan kerja.
Kebiasaan: Perubahan pada tekanan darah.
Integritas ego Gejala: Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan
cara mengatasi stress (misalnya merokok, minum alkohol,
menunda mencari pengobatan, keyakinan religious/spiritual).
Masalah tentang perubahan dalam penampilan, misalnya alopesia,
lesi cacat, pembedahan. Menyangkal diagnosis, perasaan tidak
berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah,
kehilangan control, depresi. Tanda: Menyangkal, menarik diri,
marah.
Eliminasi Gejala: Perubahan pada pola defekasi, misalnya darah pada feses,
nyeri pada defekasi. Perubahan eliminasi urinarius, misalnya nyeri
atau rasa terbakar pada saat berkemih, hematuri, sering berkemih.
Tanda: Perubahan pada bising usus, distensi abdomen.
Makanan/cairan Gejala: Kebiasaan diet buruk (misalnya rendah serat, tinggi lemak,
adiktif, bahan pengawet). Anoreksia, mual/muntah. Intoleransi
makanan. Perubahan pada berat badan; penurunan berat badan,
kakeksia, berkurangnya massa otot. Tanda: Perubahan pada
kelembaban/turgor kulit; edema.
Neurosensori Gejala: Pusing; sinkope.
Nyeri/kenyamanan Gejala: Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi, misalnya
ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan dengan
proses penyakit).
Pernapasan Gejala: Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang
yang merokok) Pemajanan asbes
Keamanan Gajala: Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen.
Pemajanan matahari lama/berlebihan. Tanda: Demam. Ruam kulit,
ulserasi.
Seksualitas Gejala: Masalah seksualitas, misalnya dampak pada hubungan,
perubahan pada tingkat kepuasan. Nuligravida lebih besar dari
usia 30 tahun. Multigravida, pasangan seks multiple, aktivitas
seksual dini. Herpes genital.
Interaksi sosial Gejala: Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung.
Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah,
dukungan, atau bantuan). Masalah rentang fungsi/tanggung jawab
peran.
Penyuluhan/pembelajaran Gejala: Riwayat kanker pada keluarga, misalnya ibu atau bibi
dengan kanker payudara. Sisi primer: penyakit primer dalam
rumah tangga ditemukan/didiagnosis.
Penyakit metastatik: sisi tambahan yang terlibat; bila tidak ada,
riwayat alamiah dari primer akan memberikan informasi penting
untuk mencari metastatik.

2. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri kronis berhubungan dengan ketidakmampuan fisik-psikososial kronis
(kanker) ditandai dengan px mengeluh nyeri tumpul pada area testis, depresi,
kelelalahan, gangguan aktifitas, perubahan pola tidur
2. Disfungsi seksual b.d perubahan struktur tubuh t.d perubahan dalam mencapai
kepuasan sosial, Keletihan b.d malnutrisi t.d klien mengeluh kekurangan energi,
letargi, kelelahan
3. Kurang pengetahuan b.d kurangnya pajanan informasi tentang penyakitnya t.d klien
bertanya-tanya tentang penyakitnya, klien tampak bingung

3. Intervensi
1. Nyeri kronis berhubungan dengan ketidakmampuan fisik-psikososial kronis (kanker) ditandai
dengan px mengeluh nyeri tumpul pada area testis, depresi, kelelalahan, gangguan aktifitas,
perubahan pola tidur

.TUJUAN INTERVENSI
Tujuan : Setelah diberikan asuhan 1. NIC Label >> Pain Management
keperawatan selama …. Diharapkan 1. Observasi respon verbal dan nonverbal
nyeri terkontrol dengan kriteria hasil: pasien terhadap nyeri
2. Monitor kepuasan pasien terhadap
NOC Label >> Depression Level
manajemen nyeri
1. Tidak ada mood depresi
3. Tingkatkan istirahat dan tidur yang adekuat
2. Ketertarikan terhadap aktivitas
4. Kelola analgetik
meningkat 5. Jelaskan pada pasien penyebab nyeri
3. Tidak ada gangguan konsentrasi 6. Ajarkan teknik nonfarmakologis (relaksasi,
4. Tidak ada keletihan masase punggung)
5. Tidak ada gangguan tidur
NOC Label >> Pain Control
2. NIC Label >> Analgetic Administration
1. Pasien melaporkan nyeri
 Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan
terkontrol
derajat nyeri sebelum pemberian obat
2. Pasien menyadari onset nyeri
3. Pasien mampu menentukan  Cek instruksi dokter tentang jenis obat,
factor penyebab nyeri dosis dan frekuensi
NOC Label >> Pain Level  Cek riwayat alergi
1. Tidak ada ekspresi menahan  Pilih analgetik yang diperlukan atau
nyeri dan ungkapan secara kombinasi dari analgetik ketika pemberian
verbal lebih dari satu
2. Tidak ada tegangan otot
3. Pasien tidak mengerang dan  Tentukan pilihan analgetik tergantung tipe
menangis dan beratnya nyeri
 Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian
dan dosis optimal
 Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri secara teratur
 Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian anlgetik pertama kali
 Berikan analgetik tepat waktu terutama saat
nyeri hebat
 Mengvaluasi efektifitas analgetik, tanda dan
gejala (efek samping)

3. NIC Label >> Vital Sign Monitoring


 Monitor tekanan darah, denyut nadi, suhu
tubuh, dan status pernapasan yang sesuai
 Monitor tekanan darah pasien setelah
minum obat
 Pantau dan laporkan tanda dan gejala dari
hipothermia dan hiperthermia
 Monitor kualitas denyut nadi
 Monitor irama dan denyut jantung
 Monitor irama pernapasan
 Monitor warna kulit, suhu tubuh, dan
kelembaban
Mengidentifikasi kemungkinan penyebab dari
perubahan tanda-tanda vital

2. Disfungsi seksual b.d perubahan struktur tubuh t.d perubahan dalam mencapai
kepuasan sosial, Keletihan b.d malnutrisi t.d klien mengeluh kekurangan energi,
letargi, kelelahan

TUJUAN INTERVENSI
Setelah dilakukan asuhan keperawatan <<NIC LABEL: Sexual Counseling>>
selama … x 24 jam, diharapkan 1. Menentukan jumlah rasa bersalah seksual
disfungsi seksual klien dapat diatasi, yang berhubungan dengan persepsi pasien
dengan criteria hasil :
tentang faktor-faktor penyebab penyakit
<<NOC LABEL : Sexual
2. Merujuk pasien ke ahli terapi seks
Functioning>> 3. Membahas obat berpengaruh pada
 Klien mampu mencapai gairah
seksualitas
seksual (Skala 5). 4. Membahas pengetahuan pasien tentang
 Klien mampu ereksi (Skala 5).
 Klien mampu mencapai gairah untuk seksualitas secara umum
5. Membahas modifikasi yang
orgasme(Skala 5).
 Klien mampu mengekspresikan diperlukan dalam kegiatan seksual
6. Menggunakan humor dan
minat seksual (skala 5)
 Klien mampu mengungkapkan mendorong pasien untuk menggunakan

kenyamanan seksual. (skala 5). humor untuk meredakan kecemasan


<<NOC LABEL : Body atau rasa malu
Image>> 7. Menyertakan pasangan / partner seksual
 Klien merasakan kepuasan pada dalam konseling sebisa mungkin.
dirinya (Skala 5) <<NIC LABEL: Teaching Sexuality>>
 Klien mampu menyesuaikan diri 1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi manusia
terhadap perubahan fungsi tubuh. dari wanita dan pria.
2. Menjelaskan anatomi fisiologi dan anatomi
(skala 5)
 Klien mampu menyesuaikan diri reproduksi manusia.
3. Orang tua mendukung peran sebagai
terhadap perubahan status kesehatan
pendidik sexulity utama anak-anak mereka.
(Skala 5) <<NIC LABEL: Reproductive
Technology Management>>
1. Membantu pasien untuk fokus pada bidang
kehidupan keberhasilan berhubungan
dengan status kesuburan
2. Membantu dengan prosedur fertilisasi
3. Menjadwalkan tindak lanjut tes

3. Kurang pengetahuan b.d kurangnya pajanan informasi tentang penyakitnya t.d klien
bertanya-tanya tentang penyakitnya, klien tampak bingung.

Rencana keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC: NIC :
 Kowlwdge : disease process  Kaji tingkat pengetahuan pasien dan
 Kowledge : health Behavior keluarga
Setelah dilakukan tindakan keperawatan  Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
selama …. pasien menunjukkan bagaimana hal ini berhubungan dengan
pengetahuan tentang proses penyakit anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
dengan kriteria hasil: tepat.
 Pasien dan keluarga menyatakan  Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
pemahaman tentang penyakit, muncul pada penyakit, dengan cara yang
kondisi, prognosis dan program tepat
pengobatan  Gambarkan proses penyakit, dengan cara
 Pasien dan keluarga mampu yang tepat
melaksanakan prosedur yang  Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan
dijelaskan secara benar cara yang tepat
 Pasien dan keluarga mampu  Sediakan informasi pada pasien tentang
menjelaskan kembali apa yang kondisi, dengan cara yang tepat
dijelaskan perawat/tim kesehatan  Sediakan bagi keluarga informasi tentang
lainnya kemajuan pasien dengan cara yang tepat
 Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
 Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion dengan cara
yang tepat atau diindikasikan
 Eksplorasi kemungkinan sumber atau
dukungan, dengan cara yang tepat
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Dochterman, Joanne McCloskey. 2004. Nursing Interventions Classification (NIC) Fourth


Edition. St. Louis, Missouri: Mosby Elsevier

Moorhead, Sue. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth Edition. St. Louis,
Missouri: Mosby Elsevier

NANDA Internasional 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011.


Jakarta: EGC

Price, Sylvia Anderson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit vol 2;
edisi 6. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah Brunner &
Suddarth. Jakarta : EGC