Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM PENYULUHAN PERTANIAN

KELOMPOK TANI BAROKAH DI DESA ANTIROGO

KECAMATAN SUMBERSARI - JEMBER

Disusun oleh:

1. Jahrosussaniah (D31170990)

2. Lovera Ketryn Marantika (D31171024)

3. Aqmarina Fitri Hazhizhah (D31171087)

4. Okky Dwi Permana S. (D31171127)

5. Moh. Furqon Fauzi (D31171134)

6. Najmatul Amilah (D31171170)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS

JURUSAN MANAJEMEN AGRIBISNIS

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyuluhan pertanian terdiri dari dua kata yang merupakan kata majemuk yaitu
gabungan dari kata "penyuluhan " dan 'pertanian'. Penyuluhan berasal dari kata
'suluh' yang berarti obor atau pemberi terang dalam gelap. Oleh karena itu,
penyuluhan dapat diartikan sebagai usaha memberi terang atau petunjuk bagi
orang yang berjalan dalam kegelapan. Pertanian berarti penerapan karya manusia
pada alam tumbuhan dan hewan sehingga dapat memperoleh dan menaikkan
produksi yang lebih bermanfaat bagi kehidupannya sendiri beserta keluarganya
serta bagi lingkungan masyarakat.

Sebagai negara agraris Indonesia menempatkan pertanian sebagai sektor sentral


yang didukung oleh tersebarnya sebagian besar penduduk Indonesia yang hidup
sebagai petani dan tinggal di daerah pedesaan. Sektor pertanian sangat dibutuhkan
untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia dan luar negeri. Pada
saat ini sektor pertanian kurang berkembang dikarenakan tingkat pendidikan yang
dimiliki oleh petani masih rendah, teknologi yang digunakan juga sederhana
sehingga dalam mengelola lahan pertanian kurang dalam memproduksi hasil
pertanian yang berkualitas. Dengan kondisi demikian maka diperlukan suatu
upaya untuk membantu kelancaran pembangunan pertanian yaitu dengan adanya
penyuluhan pertanian.

Penyuluhan adalah proses aktif yang memerlukan interaksi antara


penyuluh dan yang disuluh agar terbangun proses perubahan “perilaku”. Seorang
petani sangat membutuhkan penyuluh yang dapat memberikan informasi melalui
kegiatan penyuluhan mengenai cara perbaikan lahan pertanian dengan berbagai
teknologi modern yang akan diperkenalkan kepada petani agar petani dapat
menggunakan teknologi baru tersebut untuk mempermudah dan memperlancar
kegiatan pertanian. Adapun arti dari penyuluhan yaitu proses penyebarluasan
informasi yang berkaitan dengan upaya perbaikan cara-cara bertani dan
berusahatani demi tercapainya peningkatan produktivitas.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Proses Pembelajaran Pertanian di desa Antirogo?

2. Apasaja Adopsi Inovasi yang digunakan penyuluh di desa Antirogo?

3. Bagaimana Proses Komunikasi Penyuluhan Pertanian kepada ketua Mitra


tani?

4. Bagaiman Perubahan Perilaku Petani setelah adanya penyuluhan?

1.3 Tujuan

Adapun diadakannya survey pada Kelompok Tani Barokah yang berada di desa
Antirogo adalah untuk mengetahui secara langsung kegiatan-kegiatan saat
diadakan penyuluhan pertanian kepada kelompok tani disana dan menambah ilmu
pengetahuan serta wawasan.
BAB II

METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat pelaksanaan

A. Waktu dilaksanakannya survey ini yaitu pada tanggal 1 maret 2019 pukul
9.30 - 10.30 WIB. Dan survey kedua dilaksanakan pada tanggal 3 maret
2019 pukul 19.00 -21.30 WIB.
B. Survey pertama berlokasi di Balai desa Antirogo,dan untuk survey yang
kedua terletak di Mushola Antirogo belakang SMP 14 Antirogo.

2.2 Penentuan Responden

Responden ditentukan dengan kerja sama kelompok yang akhirnya


memutuskan untuk survey di daerah Desa Antirogo Kecamatan Sumbersari
Kabupaten Jember yang bertempatan di Balai Desa Antirogo bersama bapak
H.saiful dan bertempat di mushola desa Antirogo saat diadakannya rapat dengan
16 ketua kelompok tani Antirogo.

2.3 Sumber Data

Data primer yang diperoleh dari narasumber yaitu dengan berdiskusi dengan
kelompok tani.

Dengan sistem mengajukan pertanyaan tanya jawab kepada perwakilan dari PPL
Antirogo yaitu bapak haji Hasyim.
BAB III

PEMBAHASAN

A. Proses Pembelajaran Pertanian


Pada Kelompok Tani Antirogo ini proses pertanian sudah lama
terjadi,namun mulai ada pembelajaran pada saat adanya penghimbauan
masyarakat dari pemerintah. Hal itu terjadi sekitar tahun 1990 yang lalu,
dimana didirikan sekolah lapang pengamatan hama (SLPH).dari situ
dimana awal mula terbentuknya kelompok tani di desa tersebut.saat
sebelum adanya himbauan dari pemerintah akan adanya pembentukan
kelompok tani masyarakat di desa Antirogo sangat semrawut dalam artian
sistem pengelolahannya belum tersistem.disamping itu juga karena ada
kemauan dari petani yang ingin mengatasi masalah pertanian,khususnya
masalah produksi yang dialami di desa Antirogo,sehingga membuat petani
didesa Antirogo ingin memiliki target pencapaian tersendiri yang
diinginkan masyarakat sekitar.
Untuk sekarang ini dalam proses pembelajaran petani melakukan
tukar pikiran dan keluh kesah dalam sebuah organisasi yaitu masuk dalam
kelompok tani,dimana setiap bulan sekali ketua mitra tani melakukan
kumpulan dan melaporkan keluh kesah para petani di setiap daerah mereka
masing-masing dengan begitu nantinya ketua mitra tani dapat
memberitahukan kepada petani dengan cara ikut serta terjun langsung
dengan petani masing-masing.sekarang ini pada desa Antirogo memiliki
16 mitra tani .

B. Adopsi Inovasi
Dalam perkembangan pertanian di desa Antirogo ini menurut
kelompok kami,dari hasil pengamatan wawancara belum ada yang spesial
dilakukan oleh kelompok tani tersebut, hanya saja mereka sudah berani
mencoba-coba dalam perihal penanaman bibit unggul atau semisal ada
bibit baru yang unggul mereka mencoba menerapkan ke daerah mereka.
Dan apabila itu berhasil dan menguntungkan mereka akan membagi ilmu
itu kepada para petani lainnya. Selain itu inovasi yang masih tradisional
tetapi jarang dilakukan oleh banyak orang yaitu merekayasa obat-obatan
dari bahan organik hewani maupun nabati,salah satunya yaitu saat mereka
mengatasi hama wereng yang membludak di desa mereka,dan saat semua
pestisida tidak mampu mengatasi permasalahan tersebut,mereka lagi-lagi
uji coba menggunakan bahan organik hewani yaitu membuat pestisida dari
kencing kambing. Dengan diterapkannya hal itu ternyata pengusiran hama
wereng berhasil. Walaupun dalam penerapan mereka masih menggunakan
alat-alat tradisional dan masih transisi.

C. Proses Komunikasi Penyuluhan Pertanian


Proses komunikasi penyuluhan pertanian di desa Antirogo ini yaitu
lebih kepada sharing dan musyawarah, para ketua mitra tani berkumpul
menjadi satu dan menyuarakan secara bergantian masalah-masalah yang
mereka alami kepada PPL/pembina,serta bagi yang memiliki solusi bisa
silih bergantian memberikan pendapatnya atau solusi untuk ketua mitra
tani lainnya tidak harus PPL setempat dalam menghadapi
permasalahannya.selain itu model penyuluhan pertanian yang terbuka ini
menjadikan ketua mitra tani lebih menambah wawasan yang nanti akan di
sampaikan juga kepada kelompok tani.dan dengan diadakannya kegiatan
tersebut juga bisa sharing mengenai bibit-bibit terbaru yang dapat di tanam
di desa Antirogo.

D. Perubahan Perilaku Petani


Perilaku petani dari hasil pengamatan kami, para ketua mitra tani
begitu sangat terbuka menerima setiap informasi-informasi baru yang
disampaikan PPL / Pembina. Mereka dalam menerima perbedaan juga
luwes,maksudnya mereka tidak membaik-baikan hasil mereka sendiri
tetapi lebih mendengarkan setiap keluhan-keluhan yang dihadapi dan cara
mengantisipasi serta cara mengatasi permasalahan tersebut. Komitmen
mereka untuk terus membangun desa mereka itu sangat kuat.
LAMPIRAN
BAB IV

PENUTUP

Dari laporan hasil survey kepada kelompok tani di desa Antirogo dapat
disimpulkan bahwa penyuluhan sangat penting bagi para petani karena dengan
adanya penyuluhan dapat meminimalisir terjadinya gagal panen, dapat menambah
pengetahuan ataupun informasi untuk para petani , serta dengan diadakannya
penyuluhan tersebut para petani dapat lebih sejahtera dikarenakan petani di desa
Antirogo saat ini sudah mengetahui permasalahan yang ada pada lahannya serta
pertaniannya lebih terarah, berbeda dengan sebelum adanya penyuluhan
pertanian, para petani disana sitem pertaniannya masih tidak teratur atau belum
terarah dan masih belum mengetahui apa solusi untuk terserangnya hama dan lain-
lain.
LAMPIRAN

Pertanyaan yang diajukan :

1. Apakah ada dari dinas pertanian yang ikut turun lapang dalam menentukan
harga jual dipasaran ?

2. Untuk harga pasar sendiri dijual kemana ?

3. Apa perbedaan petani yang sudah mendapatkan penyuluhan dengan yang


belum ?

4. Sejak kapan diadakan penyuluhan pertanian dan berapa bulan sekali


diadakan ?

5. Komiditi apa yang unggul di Antirogo ?

6. Apa keuntungan diadakannya diskusi ?

7. Bagaimana sistem HIPPA di Antirogo ?

8. Sebelum terbentuk kelompok tani bagaimana dengan petani ?

9. Adakah kesulitan dan bagaimana solusinya dalam penyuluhan pertanian ?

10. Obat – obatan itu dari pemerintah atau dari mitra lain ?

11. Ada beberapa target yang ingin dicapai dalam masalah produksi pangan,
khususnya dalam padi dengan adanya penyuluhan pertanian di Antirogo ?

12. Berapa hasil produksi pertanian di Antirogo ?

13. Untuk sistem penanaman padi di Antirogo menggunakan metode apa ?

14. Untuk teknologi di Desa Antirogo sudah menggunakan teknologi modern


atau masih tradisional ?

15. Bagaimana cara Anda mengajak atau mengkoordinir suatu kelompok tani ?

16. Apa saja varietas yang dikembangkan dan dikelola ?

17. Dalam pengembangan suatu varietas apa saja kendala yang dialami ?

18. Bagaimana respon masyarakat setempat dengan adanya kegiatan


penyuluhan pertanian ?

19. Seberapa penting diadakannya penyuluhan pertanian ?


20. Dalam penyuluhan pertanian ini apakah sudah memiliki perijinan ?

21. Apa harapan Anda diadakannya penyuluhan pertanian ?

22. Sistem pertanian apa saja yang sudah Anda lakukan ?

23. Apa saja metode yang dilakukan untuk pemupukan ?

24. Apakah pemupukan didasarkan oleh kebutuhan tanaman atau status hara ?

25. Bagaimana cara Anda meningkatkan kualitas dan mutu varietas tersebut ?

26. Apa perbedaan kelompok tani Anda dengan kelompok tani lain ?

27. Hal penting apa yang Anda lakukan untuk meningkatkan kualitas kinerja
para petani dan bagaimana cara Anda mengatur populasi tanaman

28. Bagaiaman cara Anda mengatur populasi tanaman ?

29. Bagaiamana cara Anda menangani para petani yang minim pengetahuaan
alat pertanian tepat guna ?

30. Sejauh mana partisipasi para petani ?