Anda di halaman 1dari 27

Critical Book Report

MATA KULIAH HUKUM BISNIS

(Dosen Pengampu: Dr. Hasyim, S.Ag.,SE.,MM)

Disusun Oleh:

NAMA : MARLINE SIMAMORA

NIM : 7163144020

KELAS : REG-B

PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
dan karunia-Nya sehingga tugas Critical Book Report ini dapat terselesaikan. Adapun
Laporan Critical Book Report (CBR) ini disusun guna menggenapi tugas yang telah
diembankan kepada penulis selaku mahasiswa oleh dosen pengampu mata kuliah Hukum
Bisnis. Tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen mata kuliah
Hukum Bisnis, Bapak Dr. Hasyim, S.Ag.,SE.,MM yang telah membimbing kami dalam
penyelesaian tugas ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan maupun pelaporan tugas ini masih jauh
dari kesempurnaan. Untuk itu penulis berharap dapat saran dan kritik dari pembaca yang
mendukung penulis guna menyempurnakan tugas ini dikemudian hari. Semoga tugas ini
dapat bermanfaat untuk para pembaca sekalian. Atas partisipasinya penulis ucapkan
terimakasih.

Medan, September 2019

Penulis
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Secara harfiah kata bisnis berasal dari istilah inggris “business” yang berarti kegiatan
usaha. Menurut Richard Burton Simatupang kata bisnis sering diartikan sebagai
keseluruhan kegiatan usaha uang dijalankan oleh orang atau badan secara teratur dan terus
menerus, yaitu berupa kegiatan mengadakan barang-barang atas jasa maupun fasilitas
untuk diperjualbelikan, dipertukarkan atau disewagunakan dengan tujuan mendapatkan
keuntungan.
Semua kegiatan –kegiatan dalam bisnis tentu memerlukan aturan dan peraturan yang
mengatur tata cara melakukan kegiatan dalam bisnis demi kepentingan para pihak dalam
berbisnis. Dari penjelasan diatas, muncul suatu pertanyaan, kenapa hokum itu diperlukan
dalam bisnis. Sehingga untuk mengatur segala kegiatan –kegiatan dalam bisnis maka
diciptakan suatu hokum yang mengaturnya yaitu disebut hokum bisnis. Dengan kata lain
hokum bisnis adalah suatu perangkat kaidah hokum yang mengatur tentang tata cara
pelaksanaan urusan atau kegiatan dagang, industry atau keuangan yang dihubungkan
dengan produksi atau pertukaran barang atau jasa dengan menempatkan uang dari para
pengusaha dalam resiko tertentu dengan usaha tertentu dengan motif adalah untuk
mendapatkan keuntungan.
2. Identitas Buku
Cover Buku Identitas Buku
Judul Buku : Hukum Bisnis Untuk
Perusahaan Teori dan Contoh Kasus
Pengarang : Dr. Abdul R. Saliman, S.H.,
M.M.
Penerbit : KENCANA
Tahun : 2017
ISBN : 978-602-0895-83-3
Jumlah hlm : 327 halaman
Jumlah Bab : 16 bab
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU
Bab 1 Sistem Hukum Di Indonesia
A. Pengertian Sistem, Sistem Hukum, Dan Sistem Hukum Indonesia
1. Pengertian Sistem
Sistem, system (dalam bahasa Inggris) atau systema (dalam bahasa Yunani) dapat
diartikan sebagai keseluruhan yang terdiri dari macam-macam bagian. Menurut penulis,
sistem adalah sesuatu bagian-bagian yang saling berinteraksi, bagian-bagian tersebut
memiliki fungsi masing-masing dan merupakan suatu kesatuan yang utuh serta adanya
sesuatu yang membatasi lingkungan internal dengan lingkungan eksternalnya.
2. Pengertian Sistem Hukum
Istilah sistem hukum mengandung pengertian yang spesifik dalam ilmu hukum yang
penjelasannya dapat diuraikan sebagai berikut:
 Menurut Friedman (seperti dikutip Ade Maman Suherman, 2004:11-12), sistem
hukum merupakan suatu sistem yang meliputi substansi, struktur dan budaya
hukum.
3. Sistem Hukum Indonesia
Sistem hukum mempunyai unsur sebagai berikut:
a. Materi hukum (tatanan hukum)
b. Aparatur hukum hukum
c. Sarana dan prasarana hukum
d. Budaya hukum yang dianut oleh warga masyarakat
e. Pendidikan hukum
B. Pengertian Manajemen, Ilmu Hukum, Hukum, Hukum Bisnis, Dan Hubungan
Manajemen Dengan Hukum Bisnis
1. Pengertian Manajemen
Menurut George R.Terry, manajemen adalah proses khas yang terdiri dari kegiatan
planning, organizing, actuating dan controlling, di mana pada masing-masing bidang
digunakan, baik ilmu pengetahuan maupun keahlian, dan yang ikuti secara berurutan
dalam rangka usaha mencapai sasaran.
2. Pengertian Ilmu Hukum
Ilmu hukum adalah ilmu yang mempelajari semua seluk-seluk mengenai hukum
didalam masyarakat yang tidak terbatas pada hukum positif negara tertentu dan berkala
secara universal.
3. Pengertian Hukum
Menurut penulis, hukum adalah keseluruhan peraturan yang dibuat oleh penguasa
(masyarakat dan negara) sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan yang ingin dicapai
oleh penguasa itu.
4. Hukum Bisnis
Hukum bisnis atau business law, menurut penulis adalah keseluruhan dari peraturan-
peraturan hukum, baik yang tertulis maupun tidak tertulis, yang mengatur hak dan
kewajiban yang timbul dari perjanjian-perjanjian maupun perikatan-perikatan yang terjadi
dalam praktik bisnis.
5. Hubungan Manajemen Dengan Hukum Bisnis
Salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas bisnis adalah berhubungan dengan
kemampuan institusi bisnis untuk menyesuaikan dengan faktor atau sistem hukum bisnis
yang berlaku.
C. Subjek Hukum Dan Objek Hukum
1. Subjek Hukum
Subjek hukum adalah sesuatu yang menurut hukum dapat memiliki hak dan
kewajiban yang memiliki kewenangan untuk bertindak. Adapun badan hukum sebagai
subjek hukum yang berwenang melakukan tindakan hukum.
2. Objek Hukum
Objek hukum adalah segala sesuatu yang bisa berguna bagi subjek hukum dan dapat
menjadi pokok suatu hubungan hukum, yang dilakukan oleh subjek hukum, biasanya
dinamakan benda atau hak yang dapat dimiliki dan dikuasai oleh subjek hukum.
3. Hak Kebendaan yang Berkaitan dengan Jaminan
Hak kebendaan (zakelijk recht) adalah suatu hak yang memberikan kekuasaan
langsung atas benda, yang dapat dipertahankan terhadap setiap orang.
D. Sumber-Sumber Hukum
Sumber hukum formal adalah sumber hukum dengan bentuk tertentu yang merupakan
dasar berlakunya hukum secara formal. Termasuk dalam sumber-sumber hukum formal
adalah; Undang-Undang, Kebiasaan, Yurispudensi, Traktat, Perjanjian, Doktrin
E. Sistematika Hukum
Secara sederhana hukum dapat digolongkan kedalam hukum publik dan hukum privat,
hukum privat sering pula disebut hukum sipil:
1. Hukum Publik
2. Hukum Privat
3. Sistematika Hukum Perdata
a. Hukum perorangan (personenrecht)
b. Hukum keluarga (familirecht)
c. Hukum kekayaan (vermogenrecht)
d. Hukum waris (erfrecht)
Bab 2 Hukum Jaminan
A. Pentingnya Lembaga Jaminan
Dalam rangka pembangunan ekonomi suatu negara dibutuhkan dana yang besar.
Kebutuhan dana yang besar itu hanya dapat dipenuhi dengan memberdayakan secara
maksimal sumber-sumber dana yang tersedia. Sumber-sumber dana tersebut tidak hanya
mengandalkan sumber dana dalam negeri saja, tetapi juga luar negeri dan salah satu
persyaratan terpenting untuk memperoleh itu dengan adanya jaminan dan agunan.
B. Beberapa Pengertian
1. Pengertian Jaminan
Pada dasarnya, istilah jaminan itu berasal dari kata “jamin” yang berarti “tanggung”,
sehingga jaminan dapat diartikan sebagai tanggungan. Menurut Pasal 2 ayat 1 Surat
Keputusan Direksi Bank Indonesia No.23/69/KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 tentang
Jaminan Pemberian Kredit dikemukakan bahwa jaminan adalah suatu keyakinan bank
atas kesanggupan debitur untuk melunasi kredit sesuai dengan perjanjian.
2. Fungsi Jaminan
Fungsi utama dari jaminan adalah untuk menyakinkan bank atau kreditur, bahwa
debitur mempunyai kemampuan untuk mengembalikan atau melunasi kredit yang
diberikan kepadanya sesuai dengan persyaratan dan perjanjian kredit yang telah
disepakati bersama.
3. Ruang Lingkup Hukum Jaminan
Pada dasarnya, hukum jaminan adalah hukum yang mengatur tentang hak jaminan
kebendaan yang mencakup hak jaminan benda tak bergerak dan hak jaminan benda
bergerak. Lembaga jaminan benda tak bergerak dikenal dengan hak tanggungan,
sedangkan hak jaminan benda bergerak adalah gadai dan fidusia.
C. Jenis Jaminan
 Jaminan Perorangan (Personal Guaranty)
 Jaminan Kebendaan
D. Lembaga-Lembaga Jaminan Di Indonesia
1. Hak Tanggungan
a. Asas-Asas Hak Tanggungan
 Asas Publisitas
 Asas Spesialitas
 Asas Tak Dapat Dibagi-Bagi
b. Proses Pembebanan Hak Tanggungan
 Tahap Pemberian Hak Tanggungan
 Tahap Pendaftaran
2. Gadai
Yang dimaksud dengan gadai menurut ketentuan Pasal 1150 KUH Perdata, adalah
suatu hak yang diperoleh seseorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang
diserahkan kepadanya oleh seseorang yang berhutang atau oleh seorang lain atas
namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil
pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang
lainnya, dengan kekecualiannya biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang
telah dikeluarkannya untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya
mana yang harus didahulukan.
3. Fidusia
Menurut Subekti, perkataan fidusia berarti “secara kepercayaan” ditujukan kepada
kepercayaan yang diberikan secara bertimbal balik oleh salah satu pihak kepada pihak
yang lain, bahwa apa yang keluar ditampakkan sebagai pemindahan milik, sebenarnya
kedalam hanya merupakan suatu jaminan saja untuk suatu utang.Undang-undang yang
mengatur tentang lembaga fidusia ini adalah Undang-Undang No.42 Tahun 1999 tentang
Jaminan Fudisia.
BAB 3 KONTRAK BISNIS (PERJANJIAN)
A. Pengertian, Syarat Sahnya, Asas-Asas, Dan Sumber Hukum Kontrak
1. Pengertian Kontrak
Kontrak atau contracts (dalam Bahasa inggris) dan overend comest dalam bahsa
belanda berarti dinamakan dengan istilah perjanjian, meskipun demikian penulis
menggunakan istilah kontrak untuk perjanjian yang sebenarnya memiliki arti yang hampir
sama. Menurut pasal 1320 KUH Perdata, kontrak adalah sah apabila memenuhi syarat-
syarat seperti berikut :
a. Syarat subjektif,
b. Syarat objektif,
2. Asas dalam Berkontrak
Menurut pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata menyatakan bahwa semua perjanjian yang
dibuat secara sah berlaku sebagai UU bagi mereka yang membuatnya. Dari pasal tersebut
terdapat asas-asas:
a. Konsensualisme
b. Kebebasan berkontrak
c. Pacta Sun Servanda
3. Sumber Hukum Kontrak
Mengenal sumber hukum kontrak yang bersumber dari undang-undang dijelaskan
seperti persetujuan para pihak.
A. Resiko, Wanprestasi, Dan Keadaan Memaksa
1. Risiko
Menurut Soebakti (2001;144), risiko berarti kewajiban untuk memikul kerugian jika
ada suatu kejadian diluar kesalahan salah satu pihak yang menimpa benda yang
dimaksudkan dalam kontrak.
2. Wanprestasi
Menurut pasal 1234 KUH Perdata yang dimaksud dengan prestasi adalah seorang
yang meyerahkan sesuatu, melakukan sesuatu, dan tidak melakukan sesuatu, sebaliknya
dianggap wanprestasi bila seseorang.
3. Keadaan memaksa
Menurut Soebakti (2001:144), untuk dapat dikatakan suatu “keadaan memaksa” bila
keadaan itu diluar kekuasaanya, memaksa, dan tidak dapat diketahui sebelumnya.
B. Macam-Macam Kontrak Dan Berakhirnya Kontrak
1. Macam-Macam Kontrak
Kredit berate kepercayaan berdasarkan Bahasa romawi, adapun dasar perjanjian kredit
UU Perbankan No. 10 Tahun 1998 tentang Perjanjian Kredit diatur dalam pasal 1 ayat
11 yang berbunyi ;
2. Perjanjian Kredit Uang
a. Perjanjian kredit yang dibuat dibawah tangan dinamakan akta di bawah tangan
artinya perjanjian pemberian kredit oleh bank kepada nasabahnya yang hanya
dibuat diantara mereka (kreditur dan debitur) tanpa notaris;
b. Perjanjian kredit yang dibuat oleh dan dihadapan notaris yang dinamakan akta
otentik atau akta notariil.
3. Problematika Perjanjian Kredit
Konsumen dalam praktik bisnis seperti perbankan, asuransi, property dan lain-lain,
dihadapkan kepada situasi dimana isi perjanjian sudah ditentukan secara sepihak terlebih
dahulu. Kalau kita melihat hal yang demikian itu sepintas bertentangan dengan asas
kebebasan berkontrak. Dengan alasan efisiensi debitur biasanya dihadapkan kepada
situasi take it or leave it.
BAB 4 BENTUK-BENTUK ORGANSASI BISNIS
A. Pengertian Usaha, Pengusaha, dan Perusahaan
Usaha adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan penghasilan
berupa uang atau barang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan
mencapai kemakmuran hidup. Pengusaha adalah orang(pribadi) atau persekutuan (badan
hukum) yang menjalankan sebuah jenis perusahaan.
B. Sumber Pengaturan
Sumber Hukum perusahaan di Indonesia diatur dalam kitab Undang-Undang Hukum
Dagang (KUH Dagang), Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), Perundang-
undangan RI, Kebiasaan, dan Yurisprudensi. Namun demikian, sumber utama hukum
perusahaan adalah dari lapangan perusahaan.
C. Bentuk-Bentuk Organisai Bisnis
 Perusahan Perseorangan (sole proprietorship)
 Perusahaan Patungan atau firma (partnership)
 Perseroan Terbatas (PT)
D. Pendaftaran Perusahaan
Pengertian daftar perusahaan menurut UU No.3 Tahun 1982 adalah catatan resmi
yang diadakan menurut atau berdasarkan ketentuan UU ini dana tau peraturan-peraturan
pelaksanaan, dan memuat hal-hal yang wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan serta
disahkan oleh pejabat yang berwenang dari kantor perusahaan.
BAB 5 MERGER, KONSOLIDASI, AKUISISI DAN SEPARASI
A. Tujuan Merger, Konsolidasi, Akuisisi Dan Separasi
1) Membeli product line atau lines untuk melengkapi product lines dan perusahaan yang
akan mengambil alih atau menghilangkan ketergantungan perusahaan tersebut pada
product line atau services lines ang ada pada saat ini.
2) Untuk memperoleh akses pada teknologi baru atau teknologi yang lebih baik yang
dimiliki oleh perusahaan yang menjadi objek merger, merger, konsolidasi dan akuisisi
3) Memperoleh pasar atau pelanggan-pelanggan baru yang tidak dimilikinya, namun
dimiliki oleh perusahaan yang menjadi objek merger, konsolidasi, dan akuisisi.
4) Memperoleh hak-hak pemasaran dan hak-hak produksi yang belum dimilikinya, namun
dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang menjadi objek merger, konsolidasi, dan
akuisisi.
5) Memperoleh kepastian atas pemasokan bahan-bahan baku yang kualitasnya baik yang
selama ini dipasok oleh perusahaan yang menjadi objek merger, konsolidasi, dan
akuisisi.
6) Melakukan investasi atas keuangan perusahaan yang berlebih dan tidak terpakai.
7) Mengurangi atau menghambat persaingan.
8) Mempertahankan kontinuitas bisnis
B. Pengertian Merger, Konsolidasi, Akuisisi Dan Separasi
Merger (penggabungan usaha) adalah penggabungan dari dua perusahaan atau lebih
dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu perusahaan dan melikuidasi
perusahaan-perusahaan lainnya. Akuisisi adalah pengambilalihan kepemilikan suatu
perusahaan. Baik merger dan konsolidasi, yang terjadi adalah suatu perusahaan mengambil
alih semua aktiva dan semua pasiva dari perusahaan lain. Dengan demikian, baik merger
maupun konsolidasi akan menghasilkan suatu kombinasi baik aktiva maupun pasiva dari
perusahaan yang mengambil alih dan perusahaan diambil alih.
C. Kelebihan dan Kekurangan Merger, Konsolidasi, Akuisisi Dan Separasi
1. Merger
a. Kelebihan
 Memakai nama perusahaan pengambil alih
 Biaya lebih kecil
 Tidak diperlukan surat izin usaha baru
b. Kekurangan
 Menimbulkan polemic baru
2. Konsolidasi
a. Kelebihan
 Memakai nama perusahaan baru
 Menghilangkan polemic dari masing-masing perusahaan
b. Kekurangan
 Berbiaya lebih mahal
 Diperlukan surat izin usaha baru
3. Akuisisi
a. Kelebihan
 Masih memakai nama lama
 Tidak diperlukan surat izin usaha baru
b. Kekurangan
 Kurang efisien
 Mudah terjadi duplikasi atau pemborosan
 Kepemilikan perusahaan berubah
4. Pemisahan
a. Kelebihan
 Masih memakai nama lama dan baru (pola 2)
 Tidak/diperlukan surat izin usaha baru (pola 2)
 Tidak perlu program rasionalisasi (pola 2)
b. Kekurangan
 Tidak memakai nama lama (pola 1)
 Perlu surat izin baru (pola 2)
 Melalau program rasionalisasi (pola 1)
BAB 6 KEPAILITAN
Pailit adalah suatu usaha bersama untuk mendpatkan pembayaran bagi semua kreditur
secara adil dan tertib, agar semua kreditur mendapat pembayaran menurut imbangan besar
piutang masing-masing denga tidak berebutan.adapaun tujuan pernyataan pailit sebenarnya
adalah untuk mendapatkan suatu penyiataan umum atas kekayaan debitur (segala harta benda
disita/dibekukan) untuk kepentingan semua orang yang mengutangkannya (kreditur).
BAB 7 PATEN
A. Ruang Lingkup Paten
Istilah paten berasal adari patent (dalam bahasa inggris), atau patent (dalam bahasa
Belanda), paten menurut UU No. 14 Tahun 2001 adalah hak ekslusif yang diberikan negara
kepada penemu dibidang teknologi (proses, hasil produksi, penyempurnaan, dan
pengembangan proses atau hasil produksi) selama waktu tertentu, melaksanakan sendiri
invensinya atau memberikan persetujuan kepada orang lain untuk melaksanakannya, dalam
hal ini pemegang paten adalah penemu sebagai pemilik paten.
B. Pengalihan Dan Lisensi Paten
Pemegang paten memiliki hak khusus (ekslusif) untuk melaksanakan paten yang
dimilikinya dan melarang orang lain yang tanpa persetujuannya menggunakan hak tersebut,
baik untuk paten produk maupun paten proses.
C. Pembatalan Paten
Pembatalan paten dalam pasal 88 sampai pasal 98 UU No. 14 Tahun 2001 :
1. Batal demi hukum, apabila pemegang paten tidak membayar biaya tahunan (pasal 98)
2. Batal atas permohonan pemegang paten (98)
3. Batal karena gugatan (98)
4. Akibat pembatalan paten menghapuskan segala akibat hukum yang berkaitan dengan
paten
BAB 8 MEREK
A. Ruang Lingkup Merek
Merek, mark (dalam bahasa belanda), atau brand (dalam bahasa inggris), di atur
dalam UU No. 15 Tahun 2001, yang merupakan perbaikan penyempurnaan dari UU No. 14
Tahun 1997 dan UU No. 19 Tahun 1992. Penyempurnaan dari UU sebelumnya yang
menonjol antara lain, menyangkut proses penyelesaian permohonan, berkenaan dengan hak
prioritas, perlindungan terhadap merek dagang dan jasa, dan perlindungan terhadap indikasi-
geografis selain perlindungan terhadap indikasi asal.
B. Permohonan Pendataran Merek
1. Penolakkan permohonan pendaftaran merek
2. Syarat dan tata cara permohonan
3. Permohonan pendaftaran merek dengan ha prioritas
C. Pendaftaran Merek
1. Pemeriksaan Substansif
2. Pengumuman permohonan
3. Keberatan dan pemeriksaan kembali
4. Sertifak merek
5. Permohonan Banding
D. Pengalihan Atas Merek Pendaftar
1. Pengalihan hak, dimohonkan pencatatannya ke dirjen Haki untuk dicatat di Daftar
Umum Merek, apabila tidak dicatatkan tidak berakibat hukum pada pihak ketiga
2. Lisensi, perjanjian lisensi dilarag memuat ketentuan yang dapat merugikan
perekonomian indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung memuat
pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa indonesia dalam menguasai dan
mengembangkan teknologi pada umumnya.
E. Sengketa Merek
1. Gugatan pelanggaran merek
2. Kasasi
3. Ketentuan pidana
BAB 9 HAK CIPTA
A. Ruang Lingkup Hak Cipta
UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang hak cipta ini merupakan perbaikan terhadap UU No.
19 Tahun 2002 tentang hak cipta (UU No. 19 Tahun 2002).
1. Beberapa Pengertian
Menurut pengertian Pasal 1 UU No. 28 Tahun 2014 yang dimaksud dengan hak cipta
adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif
setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Pemegang Hak Cipta
Pemegang hak cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta, atau pihak yang
menerima hak tersebut dari pencipta atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari
pihak yang menerima hak tersebut.
3. Karya Kolektif
Karya kompilasi (campuran) adalah karya dengan multi-pengarang yaitu karya
orisinal digabung dengan materi yang sebelumnya sudah ada.
4. Pelaku Pertunjukan
Seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau Bersama-sama
menampilkan dan mempertunjukkan suatu ciptaan.
5. Penggandaan
Proses, perbuatan, atau cara menggandakan satu Salinan ciptaan atau fonogram atau
lebih dengan cara dan dalam bentuk apa pun secara permanen atau sementara.
6. Fiksasi
Perekaman suara yang dapat didengar, perekaman gambar atau keduanya yang dapat
dilihat, didengar, digandakan, atau dikomunikasikan melalui perangkat apa pun.
7. Fonogram
Fiksasi suara pertunjukan atau suara lainnya, atau representasi suara, yang tidak
termasuk bentuk fiksasi yang tergabung dalam sinematografi atau ciptaan audiovisual
lainnya.
8. Royalty
Imbalan atas pemanfaatan hak ekonomi suatu ciptaan atau produk hak terkait yang
diterima oleh pencipta atau pemilik hak terkait.
9. Lembaga Manajemen Kolektif
10. Pembajakan
Penggandaan ciptaan dan/atau produk hak terkait secara tidak sah dan pendistribusian
barang hasil penggandaan dimaksud secara luas untuk memperoleh keuntungan ekonomi.
11. Penggunaan Secara Komersial
Pemanfaatan ciptaan dan/atau produk hak terkait dengan tujuan untuk memperoleh
keuntungan ekonomi dari berbagai sumber atau berbayar.
B. Fungsi Dan Sifat Hak Cipta
1. Ciptaan dalam Hubungan Dinas
2. Badan Hukum sebagai Pemilik Hak Cipta
3. Hak Cipta Atas Potret
C. Hak Ekonomi Dan Hak Moral
Hak cipta terdiri atas hak ekonomi dan hak moral. Hak ekonomi adalah hak untuk
mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan serta produk hak terkait. Hak moral adalah hak
yang melekat pada diri pencipta atau pelaku yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus tanpa
alasan apapun, walaupun hak cipta atau hak terkait telah dialihkan.
D. Hak Terkait
Menurut ketentuan Pasal 20 UU No. 28 Tahun 2014, hak terkait sebagaimana
dimaksud dalam pasal 3 huruf b merupakan hak eksklusif yang meliputi: a) hak moral pelaku
pertunjukan; b) hak ekonomi pelaku pertunjukan; c) hak ekonomi produser fonogram; d) hak
ekonomi Lembaga penyiaran.
E. Ciptaan Derivatif
Ciptaan derivative adalah karya turunan yang didasarkan atas salah satu atau beberapa
karya terdahulu yang menggambarkan pengarang orisinal seperti terjemahan, arransemen
music, dramatisasi, fiksionalisasi, film, recording, dll.
F. Pendaftaran Hak Cipta
Menurut Pasal 64 UU No. 28 Tahun 2014 menyatakan Menteri menyelenggarakan
pencatatan dan penghapusan ciptaan dan produk hak terkait, ketentuan tentang pendaftaran
hak cipta tidak merupakan kewajiban untuk mendapatkan hak cipta.
G. lisensi dan lisensi wajib
H. Pelanggaran Hak Cipta
Menurut ketentuan Pasal 44 UU N0. 28 tahun 2014, penggunaan, pengambilan,
penggandaan, dan/atau pengubahan suatu ciptaan dan/atau produk hak terkait secara seluruh
atau sebagian yang substansial tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta.
I. Ketentuan Pidana
Menurut pasal 112-120 UU No. 28 Tahun 2014 ada perubahan yang cukup berarti
bagi para pihak yang dengan sengaja melanggar pasal dari UU No. 28 Tahun 2014 ini
disamping ancaman pidana yang semakin lama juga ancaman dendanya semakin besar pula.
BAB 10 RAHASIA DAGANG
A. Pentingnya Perlindungan Rahasia Dagang
Kebutuhan akan perlindungan hokum terhadap rahasia dagang sesuai pula dengan salah
satu ketentuan dalam Agreement On Trade Related Aspects Of Intellectual Property Rights
yang merupakan lampiran dari WTO, sebagaimana telah diratifikasi oleh Indonesia dengan
UU No. 7 Tahun 1994.
B. Ruang Lingkup Rahasia Dagang
1. Beberapa Pengertian
Menurut pasal 1 UU No. 30 tahun 2000 yang dimaksud dengan rahasia dagang adalah
informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi atau bisnis, memiliki nilai
ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik
rahasia dagang.
2. Hak Rahasia Dagang
Hak rahasia dagang adalah ha katas rahasia dagang yang timbul berdasarkan Undang-
Undang ini.
3. Hak Pemilik Rahasia Dagang
Menurut pasal 2 UU No. 30 tahun 2000 lingkup perlindungan rahasia dagang meliputi
metode produksi, metode pengolahan, metode penjualan atau informasi lain di bidang
teknologi atau bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan tidak diketahui oleh masyarakat
umum.
C. Pengalihan Hak Dan Lisensi
1. Pengalihan Hak
Setiap pengalihan hak rahasia dagang ini wajib dicatatkan di Direktorat Jenderal HaKi
Departemen Hukum dan HAM, apabila tidak dicatat maka tidak berakibat hokum pada
pihak ketiga.
2. Lisensi
Dalam pasal 4 UU No. 30 tahun 2000 lisensi adalah izin yang diberikan oleh
pemegang rahasia dagang kepada pihak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan pada
pemberian hak untuk menikmati manfaat ekonomi dari suatu rahasia dagang yang diberi
perlindungan dalam jangka waktu tertentu dan syarat tertentu.
D. Sengketa Dagang
Menurut pasal 11 UU No. 30 tahun 2000 pemegang rahasia dagang atau penerima lisensi
dapat menggugat siapa pun yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan.
E. Pelanggaran Rahasia Dagang
Pelanggaran rahasia dagang juga terjadi apabila seseorang dengan sengaja
mengungkapkan rahasia dagang, mengingkari kesepakatan atau mengingkari kewajiban
tertulis atau tidak tertulis untuk menjaga rahasia dagang.
F. Ketentuan Pidana
Menurut ketentuan pasal 17 UU No. 30 tahun 2000 terhadap pelanggaran hak rahasia
dagang seperti dimaksud pasal 4 UU No. 30 tahun 2000 ini dapat diancam dengan ancaman
pidana meskipun tindak pidana sebagaimana dimaksud merupakan delik aduan.
BAB 11 ASURANSI
A. Pengaturan
Asuransi atau pertanggungan diatur dalam KUHP Dagang dan Undang – Undang No. 2
Tahun 1992 tentang usaha Pearasuransian yang berlaku efektif tanggal 11 februari 1992.
Kemuduan pemerintah mengeluarkan kembali UU No. 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian
dalam upaya membangun industri perasuransian yang sehat, dapat diandalkan, amanah, dan
kompetitif, dalam rangka meningkatkan perlindungan bagi pemenang polis, tertanggung, atau
peserta
B. Beberapa Pengertian
Menurut ketentuan Pasal 1 angka (1) UU No. 40 Tahun 2014 tentang Perasuransi yang
dimaksud dengan Asuransi adalah perjanjian dua antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi
dengan pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syarih
guna saling menolong dan melindungi.
C. Prinsip – Prinsip Dalam Asuransi Atau Pertanggungan
Menurut KUH Dagang yang merupakan Prinsip dasar asuransi atau pertanggungan adalah
sebagaiberikut :
1. Prinsip Kepentingan yang Dapat Diasuransikan atau Dipertanggugjawabkan
(insurable interst)
2. Prinsip keterbukaan (Utmost Good Faith)
3. Prinsip Indemnity
4. Prinsip Subrogasi untuk Kepentingan Penanggung
D. Bentuk Dan Isi Perjanjian Asuransi Atau Pertanggungan
Menurut ketentuan Pasal 255 KUH Dagang ditentukan bahwa semua asuransi atau
pertanggungan harus dibentuk secara tertulis dengan suatu akta yang dinamaka polis. Polis
asuransi atau pertanggungan merupakan isi dari perjanjian asuransi.
E. RESIKO DALAM ASURANSI DALAM PERTANGGUNNGAN
1) Risiko Murni
2) Resiko Spekulasi
3) Resiko khusus
BAB 12 PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN ANTI MONOPOLI
A. Perlindungan Konsumen
1. Beberapa Pengertian
Menurut undang – undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang
dimaksud dengan perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya
kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.
2. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen
Perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5 asas
yang arelevan dalam pembangunan nasional, yaitu :
a. Asas manfaat
b. Asas keadilan
c. Asas keseimbangan
d. Asas keamanan dan keselamatan konsumen
e. Asas kepastian hukum
3. Hak dan Kewajiban Konsumen
Dalam UUPK telah diatur secara terperinci mengenai hak dan kewajiban konsume
sebagimana diuraikan berikut ini :
a. Hak Konsumen
b. Kewajiban konsumen
4. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha
a. Hak pelaku usaha
b. Kewajiban pelaku usaha
B. Anti Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
1. Beberapa Pengertian
Dalam ketentuan Pasal 1 butir (1) UU Larangan Praktik Monopoli Persaingan Usaha
Tidak Sehat dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan monopoli adalah penguasaan atas
produksi dan pemasaran barang atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelak usaha atau sau
kelompok pelaku usaha
2. Asas dan tujuan
a. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah
satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraaan rakyat
b. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat
sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha
kecil, menebgah, dan atas.
c. Mencegah praktik monopoli atau persaingan usaha tidak sehat
3. Ruang Lingkup Undang – Undang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat.
a. Perjanjian yang dilarang
1. Penguasaan produksi atau pemasaran barang atau jasa
2. Penetapan harga atau mutu suatu barang dan jasa yang harus dibayar oleh konsumen
atau pelanggan pada pasar bersangkutan
3. Pembagian wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap baang dan jasa
4. Penghalangan untuk melakukan usaha yang sama baik unuk tujuan pasar dalam
negeri atau luar negeri.
5. Pengaturan produksi dan pemasaran suatu barang dan jasa untuk memengaruhi
harga
b. Kegiatan yang Dilarang
1. Penguasaan atas produksi dan penguasaan barang atau jasa
2. Penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan jsa dalam pasar
yang bersangkutan
3. Penolakan atau penghalangan pengusaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha
yang sama pada pasar bersangkutan
4. Persekongkolan dengan pihak lain untuk memngatur dan menentukan pemenang
tender atau untuk mendapatkan informasi kegiatan usaha yang pesaingnya yang
diklasifikasikan sebagai rahasia perusahaan..
c. Posisi Dominan
Dalam ketentuan pasal 25 ayat (2) Undang – Undang larangan Praktik Monopili dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat juga dilarang ditentukan bahwa pelaku usaha memiliki
potensial dominan.
BAB 13 PASAR MODAL
A. Beberapa Pengertian
Menurut UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal bahwa yang dimaksud dengan pasar
modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek,
perusahaan public yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya serta lembaga dan profesi
yang berkaitan dengan efek
B. Pengaturan
Peraturan Pelaksanaan dari UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal tersebut antara
lain Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang
Pasar Modal, Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan di
Bidang Pasar Modal dalam peraturan pelaksanaan lainnya, baik dalam ebntuk Keputusan
Menteri Keuangan maupun peraturan yang dikeluarkan Ketua Bapepam sejak tanggal 17
Januari 1996
C. Jenis-Jenis Pasar Modal
1. Pasar Perdana
2. Pasar sekunder
3. Pasar Paralel
D. Sekilas Tentang Pasar Modal Di Indonesia
Pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia dari waktu ke waktu dapat diketahui
melalui indeks harga saham. Bursa Efek Indonesia memiliki empat macam indeks harga
saham yaitu :
1. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
2. Indeks Sektoral (IASICA)
3. Indeks LQ45
4. Indeks Individual
E. Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Bursa Efek, Perusahaan Efek, Dan
Lembaga-Lembaga Terkait Dalam Kegiatan Pasar Modal
1. Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)
2. Perusahaan Efek
3. Bursa Efek
4. Lembaga-Lembaga Lain yang Terkait dengan Kegiatan Pasar Modal
a. Lembaga Kliring dan Penjaminan
b. Lembaga Penyimpan dan Penyelesaian
c. Lembaga Penunjang Pasar Modal
d. Profesi Penunjang Pasar Modal
F. Reksa Dana ( Investment Fund)
Menurut UU Penanaman Modal, reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk
menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk diinvestasikan ke dalam potofolio efek
oleh manajer investasi.
G. Proses Go Public Perusahaan Dalam Kaitannya Dengan Kegiatan Pasar Modal
a. Tahap Persiapan Go Public
b. Tahap Pendahuluan Go Public
c. Tahap pelaksanaan go public
Bab 14 Hukum Pembangunan Dan Infrastruktur
A. Beberapa Pengertian
Infrastruktur fisik dan social adalah dapat didefinisikan sebagai kebutuhan dasar fisik
pengorganisasian sistem struktur yang diperlukan unutk jaminan ekonomi sector public dan
sector privat sebagai layanan dan fasilitas yang diperlukan agar perkeonomian dapat
berfungsi dengan baik.
B. Penataan Ruang
1. Pengertian Penataan Ruang
Menurut UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Runag, undang undang ini
member pengertian Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
2. Asas, Tujuan dan Manfaat
Penataan ruang mempunyai asa yaitu keterpaduan keserasian, keselarasan dan
keseimbangan, keberlanjutan, keberdayagunaan dan keberhasilgunaan, keterbukaan,
kebersamaan dan kemitraan, perlindungan kepentingan umum, kepastian hokum dan
keadilan serta akuntabilitas.
3. Klasifikasi dan Perencanaan Penataan Ruang
Klasifikasi dalam penataan ruang terdiri dari penataan ruang berdasarkan sistem
terdiri dari sistem wilayah dan sistem internal perkotaan.
C. PEMBEBASAN TANAH
1. Beberapa Pengertian
Menurut UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan
untuk Kepentingan Umum, memberikan pengertian tentang Pengadaan Tanah adalah
kegiatan menyediakan tanah dengan cara member ganti kerugian yang layak dan adil
kepada pihak yang berhak. Adapun yang dimaksud dengan pihak yang berhak adalah
pihak yang menguasai atau memiliki objek pengadaan tanah tersebut.
2. Asas, dan Tujuan Pembebasan Tanah
Adapun pengadaan tanah unutk kepentingan umum dilaksanakan berdasarkan asas:
kemanusiaan, keadilan, kemanfaatan, kepastian, keterbukaan, kesepakatan, keikutsertaan,
dll. Tujuan menyediakan tanah bagi pelaksanaan pembangunan guna meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, Negara, dan masyarakat dengan tetap menjamin
kepentingan hokum pihak yang berhak.
3. Pokok-pokok Pengadaan Tanah
Pasal 4 UU No. 2 Tahun 2012 ini menyatakan bahwa pemerintah daerah menjamin
tersedianya tanah untuk kepentingan umum dan menjamin tersedianya pendanaan unutk
kepentingan umum. Adapun menurut pasal 8 yang menyatakan, pihak yang berhak dan
pihak yang menguasai objek pengadaan yanah untuk kepentingan umum wajib mematuhi
ketentuan dalam UU ini.
4. Penilaian Ganti Kerugian
Pasal 31 UU juga mengatur tentang ganti rugi dimana lembaga pertanahan
menetapkan penilai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan lembaga
pertanahan mengumumkan penilai yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada
ayat 1 yaitu untuk melaksanakan penilaian objek pengadaan tanah.
5. Pelepasan Tanah Instansi
Pasal 45 UU tentang Pengadaan Tanah ini juga mengatur tentang pelepasan objek
pengadaan tanah untuk kepentingan umum yang dimiliki pemerintah dilakukan sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan barang milik
Negara/daerah.
6. Hak, Kewajiban, dan Peran Serta Masyarakat
Pasal 55 UU tentang Pengadaan Tanah ini juga mengatur tentang hak, kewajiban dan
peran serta masyarakat dimana dalam penyelenggaraan pengadaan tanah, pihak yang
berhak mempunyai hak untuk mengetahui rencana penyelenggaraan pengadaan tanah dan
memperoleh informasi mengenai pengadaan tanah.
D. Pembangunan Kawasan Terpadu
1. Beberapa Pengertian
Dalam UU No. 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yaitu
kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hokum NKRI yang ditetapkan untuk
menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu.
2. Criteria Lokasi dan Pembentukan KEK
Menurut pasal 4 UU No. 39 Tahun 2009 menyatakan criteria lokasi yang dapat
diusulkan untuk menjadi KEK harus memenuhi criteria antara lain lokasi tersebut sesuai
dengan rencana tata ruang wilayah dan tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung,
pemerintah provinsi yang bersangkutan mendukung KEK, dll.
3. Dewan Nasional KEK dan Dewan Kawasan
Dalam menyelenggarakan pengembangan KEK dibentuk Dewan Nasional dan Dewan
Kawasan. Dewan Nasional terdiri atas menteri dan kepala lembaga pemerintah non-
kementerian. Dewan Kawasan terdiri dari wakil pemerintah dan wakil pemerintah daerah.
4. Badan Usaha Pengelola KEK
Menurut pasal 26 UU tentang KEK ini juga mengatur badan usaha pengelola.
Penyelenggara kegiatan usaha di KEK dilaksanakan oleh badan usaha yang ditetapkan
sebagai pengelola KEK.
E. PERIZINAN SATU PINTU
1. Beberapa Pengertian
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) adalah kegiatan penyelenggaraan suatu
perizinan dan non-perizinan yang mendapat pendelegesasian atau pelimpahan wewenang
dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan perizinan dan non-perizinan yang
proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya
dokumenyang dilakukan dalam satu tempat.
2. Asas dan Tujuan
Penyelenggara PTSP di bidang penanaman modal berdasarkan asas : kepastian
hokum, keterbukaan, akuntabilitas, perlakuan yang sama dan tidak membedakan asal
Negara dan efisiensi berkeadilan.
3. Penyelenggara PTSP di Bidang Penanaman Modal
Pelaksanaan PTSP di bidang penanaman modal diselenggarakan oleh pemerintah,
dalam hal ini oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan oleh pemerintah
daerah atau Perangkat Daerah Provinsi bidang Penanaman Modal .
4. Pembiayaan
biaya yang diperlukan BKPM untuk penyelenggaraan PTSP di bidang penanaman
modal dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
5. Pelaporan dan Koordinasi
Kepala BKPM menyampaikan laporan penyelenggaraan PTSP di bidang penanaman
modal secara nasional kepada presiden dengan tembusan menteri teknis/ kepala LPND
yang membina urusan pemerintah di sector usaha penanaman modal setiap tahun paling
lambat bulan April tahun berikutnya.
F. Undang-Undang Perindustrian
1. Beberapa Pengertian
UU tentang Perindustrian ini member pengertian perindustrian adalah tatanan dan
segala kegiatan yang bertalian dengan kegiatan industry. Industry adalah seluruh bentuk
kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan memanfaatkan sumber daya industry
sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi,
termasuk jasa industry.
2. Asas dan Tujuan
Asas perindustrian adalah kepentingan nasional, demokrasi ekonomi, kepastian
berusaha, pemerataan persesbaran, persaingan usaha yang sehat, dan keterkaitan industry.
Tujuan perindustrian adalah mewujudkan industry nasioanl sebagai pilar dan penggerak
perekonomian nasional, mewujudkan kedalaman dan kekuatan struktur industry, dll.
3. Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional
Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional disusun untuk jangka waktu 20 tahun
dan dapat ditinjau kembali setiap lima tahun. Rencana Induk Pembangunan Industri
Nasional disusun dengan memperhatikan potensi sumber daya industry, budaya industry
dan kearifan local yang tumbuh di masyarakat, dll.
4. Perwilayahan Industri
Perwilayahan industry sebagaimana dimaksud pada Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2.
5. Standar Kompetensi Kerja Nasioanl Indonesia
Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia di bidang industry
dilakukan paling lama satu bulan sejak diterima usulan menteri dan apabila dalam jangka
waktu satu bulan tidak ditetapkan,
6. Kreativitas dan Inovasi Masyarakat
Dalam hal ini pemerintah melakukan penyediaan ruang dan wilayah untuk masyarakat
dalam berkreativitas dan berinovasi, pengembangan sentra industry kreatif, dll.
7. Pembiayaan dan Kemudahan Pembiayaan
Pengalokasian pembiayaan atau pemberian kemudahan dilakuakn dalam bentuk
penyertaan modal, pemberian pinjaman, keringanan bunga pinjaman, potongan harga
pembelian mesin dan peralatan, dan bantuan mesin dan peralatan.
8. Infrastruktur Industri
Penyediaan infrasturktur industry dilakukan melaui pengadaan oleh pemerintah yang
pembiayaannya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja Negara dan anggaran
pendapatan dan belanja daerah, pola kerja sama antara pemerintah atau pemerintah daerah
dengan swasta.
9. Industry Kecil dan Industri Menengah
Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembangunan dan pemberdayaan
industry kecil dan industry menengah yang berdaya saing, berperan signifikan dalam
penguatan struktur industry nasional, berperan dalam pengentasan kemiskinan melalui
perluasan kesempatan kerja dn menghasilkan barang dan jasa industry untuk dieksplor.
10. Industry Strategis
Industry strategis terdiri atas industi yang memenuhi kebutuhan yang penting bagi
kesehteraan rakyat atau menguasai hajat hidup orang banyak, meningkatkan atau
menghasilkan nilai tambah sumber daya alam strategis, dan mempunyai kaitan dengan
kepentingan pertahanan serta keamanan Negara.
11. Peran serta Masyarakat
G. Lembaga Pembiayaan Infrastruktur
Lembaga Pembiayaan Infrastruktur bertugas untuk membantu pembangunan infrastruktur
sebagai lembaga pembiayaan investasi dan dirancang agar dapat memfasilitasi pembiayaan
yang kompetitif bagi pelaku usaha
BAB 15 KETENAGAKERJAAN
Di Indonesia, untuk memahami bentuk perlindungan hukum yang diberikan negara
dapat dipelajari dari tiga sumber utama peraturan ketenagakerjaan, antara lain Undang-
Undang Ketenagakerjaan, Undang-Undang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
dan Undang-Undang Serikat Pekerja. Dalam UU PPHI jenis-jenis perselisihan dibagi menjadi
perselisihan hak, kepentingan, pemutusan hubungan kerja, dan antar serikat pekerja. Pihak-
pihak yang menjadi subjek perselisihan adalah pekerja/buruh yang bersangkutan atau serikat
pekerja/buruh dengan perusahaan. UU PPHI, menganut penyelesaian di luar pengadilan dan
melalui Pengadilan Hubungan Industrial. Dalam UU PPHI ini juga mengatur hal-hal yang
berkaitan dengan sanksi administrasi terhadap mediator, panitera muda, konisliator, dan
arbitrer yang telah lalai, terbukti melakukan tindak pidana kejahatan, menyalahgunakan
jabatan dan lain-lain.
Di dalam UU Nomor 21 Tahun 2000 dinyatakan bahwa pekerja/buruh sebagai warga
negara mempunyai persamaan kedudukan dalam hukum, hak untuk mendapatkan pekerjaan
dan penhidupan yang layak, mengeluarkan pendapat, berkumpul dalam satu organisasi, serta
mendirikan dan menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh.
Dalam pembentukan serikat buruh/pekerja dapat menggunakan nama yang berada
seperti perkumpulan pekerja/buruh, organisasi pekerja/buruh, sebagaimana diatur dalam
ketentuan undang-undang ini.Dalam Pasal 42 UU Nomor 42 Tahun 2001 mengatur sanksi
terhadap serikat pekerja/buruh.
BAB 16 : PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS
Sengketa merupakan perilaku pertentangan antara dua orang atau lebih yang dapat
menimbulkan suatu akibat hukum dan karenanya dapat diberi sanksi hukum bagi salah satu
pihak. Sengketa dapat diperinci menjadi sengketa peniagaan, perbankan, keuangan,
investasi, perindustrian, HaKi, konsumen, kontrak, ketenagakerjaan, perdagangan publik,
properti, dan sengketa lain yang berkaitan dengan bisnis.
Penyelesaian sengketa bisnis yaitu tatacara bagaimana pelaku bisnis dapat
menyelesaikan perselisihan atau sengketa yang terjadi di antara pelaku bisnis. Dengan
demikian penyelesaian sengketa bisnis dan bisnis syariah pada umumnya dapat melalui
musyawarah mufakat di antara para pihak dan metode penyelesaian melali lembaga
pengadilan/legitasi dan melalui penyelesaian sengketa alternatif.
Penyelesaian sengketa alternatif telah diundangkan dalam Undang-Undang Nomor 30
Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Penjelasan Pasal 66 UU
Nomor 30 Tahun 1999 menyatakan tentang ruang lingkup hukum perdagangan yang dapat
diselesaikan melalui forum penyelesaian alternatif ini yang meliputi kegiatan perniagaan,
perbankan, keuangan, penanaman modal, industri, dan hak atas kekayaan intelektual (HaKi).
Penyelesaian sengketa atau perbedaan pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak
yakni penyelesaian diluar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi,
atau penilaian ahli.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hukum bisnis yaitu suatu perangkat atau kaidah hokum yang mengatur tentang tata
cara pelaksanaan urusan atau kegiatan dagang, industry atau keuangan yang dihubungkan
dengan produksi atau pertukaran barang atau jasa dengan menempatkan uang dari para
pengusaha dalam resiko tertentu untuk mendapatkan keuntungan tertentu.
Dalam kegiatan- kegiatan bisnis, hokum jelas diperlukan demi kepentingna para pihak
agar terwujud watak dan prilaku aktivitas dibidang bisnis yang berkeadilan, wajar, sehat,
dan dinamis. Dan hokum bisnis tersebut harus diketahui atau dipelajari oleh pelaku bisnis
sehingga bisnisnya berjalan sesuai dengan koridor hokum dan tidak mempraktikan bisnis
yang bisa merugikan masyarakat luas (monopoli dan persaingan usaha tidak sehat).
B. SARAN
Dalam mempelajari cara berbisnis dengan baik sebaiknya pelaku-pelaku bisnis harus
menguasai aturan-aturan yang mengatur dalamkegiatan bisnis tersebut atau yang
dinamakan hokum bisnis. Dengan menggunakan buku yang telah dibedah tersebut dapat
lebih mengetahui mengenai hokum bisnis karena buku tersebut sangat baik dalam
menjelaskan menganai hokum bisnis.
DAFTAR PUSTAKA
Saliman, Abdul R. (2017). Hukum Bisnis Untuk Perusahaan Teori dan Contoh Kasus.
Jakarta: Kencana
http://semuamakalahpembelajaran.blogspot.com/2017/06/makalah-hukum-bisnis.html?m=1