Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN

PRAKTIKUM BIOKIMIA
“LIPID”
Tolong kalau ada pantulan dari
asisten itu benar-benar dikerja.
Jangan kerja pantulan
setengah-setengah .

Jangan di kirimkan file yang


sudah di pantul tapi belum
diperbaiki.

OLEH :
STIFA D 2017
KELOMPOK II (DUA)

ASISTEN : DAFID RAPI RARI (rapikan)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Lipid merupakan nama suatu golongan senyawa organik yang
meliputi sejumlah senyawa yang terdapat di alam yang semuanya dapat
larut dalam pelarut-pelarut organik tetapi sukar larut atau tidak larut dalam
air. Pelarut organik yang dimaksud adalah pelarut organik nonpolar,
seperti benzen, pentana, dietil ether dan karbon tetraklorida. Dengan
pelarut-pelarut tersebut lipid dapat diekstraksi dari sel dan jaringan
tumbuhan ataupun hewan (Chitika, 2013).
Lipid mengacu pada golongan senyawa hidrokarbon alifatik nonpolar
dan hidrofobik. Karena nonpolar, lipid tidak larut dalam pelarut polar
seperti air tetapi larut dalam pelarut nonpolar, seperti alkohol, ether atau
kloroform. Fungsi biologis terpenting lipid diantaranya untuk menyimpan
energi, sebagai komponen struktural membran sel dan sebagai
pensinyalan molekul (Anonim, 2008).
Lipid merujuk pada sekelompok besar molekul-molekul alam yang
terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen meliputi asam
lemak, malam, sterol, vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak,
monogliserida, digliserida, fosfolipid, glikolipid, terpenoid (termasuk di
dalamnya getah dan steroid) dan lain-lain (Chitika, 2013).
Karena begitu besar peranannya sebagai senyawa organik yang
terdapat dalam tumbuhan, hewan atau manusia dan yang sangat berguna
bagi kehidupan manusia adalah lipid. Untuk memberikan defenisi yang
jelas tentang lipid sangat sukar, sebab senyawa yang termasuk lipid tidak
mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip (Anonim, 2008).
lipid dalam bidang industri digunakan sebagai bahan dasar
pembuatan margarine, sabun, kosmetik, plastik, pembuatan cat, dan
berbagai produk lainnya. Dalam bidang farmasi minyak lemak dan lemak
digunakan sebagai emolient, emulgator, basis salep, pelarut obat suntik,
Juga memiliki fungsi terafeutis seperti minyak jarak dan minyak
chalmougra berkhasiat obat pencahar dengan cara merangsang gerakan
peristaltik. Pentingnya melakukan percobaan ini iyalah untuk mengetahui
kandungan lemak yang terdapat pada margarin, lilin dan minyak goreng.
Dalam praktikum kali ini dibahas tentang kelarutan dan kandungan lipid
dengan menguji minyak, lilin dan mentega. Penujian tersebut berdasarkan
uji akrotein, tes kolorimetri, pemeriksaan kelarutan lemak dan reaksi
penyabunan.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud percobaan
Adapun masud dari percobaan ini ialah memberikan pengetahuan
tentang pengertian lipid dan memberikan pengetahuaan tentang jenis-jeni
dari lipid
I.2.2 Tujuan percobaan
Adapun tujuan dari makalah ini ialah :
1. untuk mengtahui apakah pada uji akrotein sampel larut dalam
penambahan KHSO4 larut.
2. Untuk megetahui apakah pada tes kolorimetri terjadi perubahan warna.
3. Untuk mengetahui apakah pada pemeriksaan kelarutan lemak sampel
ditambahkan pereaksi akan larut atau tdidak larut.
4. Untuk mengetahui apakah pada reaksi penyabunan dapat terbentuk
emulsi/busa.
I.3 Prinsip Percobaan
1. Prinsip uji akrolein
Menguji keberadaan gliserol atau lemak, ketika lemak dipanaskan
setelah ditambahkan agen penhidrasi kedalam bentuk aldehid tak jenuh
atau akrolein, yang memiliki bau seperti lemak terbakar dan ditandai
asap putih (Anwar, 1994).
2. Prinsip uji kalorimetri (Anwar, 1994)
Identifikasi gliserol dengan tes kalorimetri didasarkan pada warna hijau
yang terbentuk pada sampel yang telah ditambahkan dengan NaCl 2%,
HCl pekat kemudian di panaskan dengan % , HCl pekat kemudian di
panaskan dengan α-naftol selama satu menit dan terbentuk warna hijau
zamrud (Anwar, 1994).
3. Prinsip kerja uji pemeriksaan kelarutan lemak
Jika minyak dikocok kuat dengan air ka terjadi emulsi yang tidak stabil
karena butir-butir minyak kecil akan memisah dari awal, lemak larut
dalam pelarut non polar (Anwar, 1994).
4. Prinsip kerja uji reaksi penyabunan
Lemak akan terhidrolis dengan basa menghasilkan gliserol dan sabun
mentah (Anwar, 1994).
BAB II
TINJAUN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Lipid (dari bahasa Yunani lipos, lemak) merupakan penyusun tumbuhan
atau hewan yang dicirikan oleh sifat kelarutannya. Lipid tidak larut dalam
air, tetapi larut dalam pelarut nonpolar seperti kloroform, eter, dan
benzena. Penyusun utama lipid adalah trigliserida, yaitu ester gliserol
dengan tiga asam lemak yang bisa beragam jenisnya (Gordon, 1990).
Lipid adalah senyawa yang merupakan ester dari asam lemak
dengan gliserol yang kadang-kadang mengandung gugus lain. Lipid tidak
larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic se[erti eter, aseton,
kloroform, dan benzene (Salirawati, 2007).
Lipid secara umum dapat dibagi ke dalam dua kelas besar, yaitu
lipid sederhana dan lipid kompleks. Lipid yang paling sederhana dan
paling banyak mengandung asam lemak sebagai unit penyusunnya
adalah triasilgliserol, juga sering disebut lemak, lemak netral, atau
trigliserida. Jenis lipid ini merupakan contoh lipid yang paling sering
dijumpai baik pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Triasilgliserol adalah
komponen utama dari lemak penyimpan atau depot lemak pada sel
tumbuhan dan hewan, tetapi umumnya tidak dijumpai pada membran.
Triasilgliserol adalah molekul hidrofobik nonpolar, karena molekul ini tidak
mengandung muatan listrik atau gugus fungsional dengan polaritas tinggi
(Lehninger 1982).
Suatu lipid didefinisikan sebagai senyawa organik yang terdapat
dalam alam serta tak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non
polar seperti suatu hidrokarbon atau dietil eter. Lipid tidak memiliki rumus
molekul yang sama, akan tetapi terdiri dari beberapa golongan yang
berbeda. Berdasarkan kemiripan struktur kimia yang dimiliki, lipid dibagi
menjadi beberapa golongan yaitu Asam lemak, Lemak dan fosfolipid.
Lemak secara kimia diartikan sebagai ester dari asam lemak dan gliserol.
Rumus umum lemak yaitu R1, R2, dan R3 adalah rntai hidrokarbin dengan
jumlah atom karbon dari 3 sampai 23, tetapi yang paling umum dijumpai
yaitu 15 dan 17 (Salirawati, 2007).
Fungsi lipid diantaranya adalah (Marthoharsono, 2006) :
1. Sebagai komponen struktural membran
2. Sumber energi
3. Lapisan pelindung
4. Vitamin dan hormon
Lemak digolongkan berdasarkan kejenuhan ikatan pada asam
lemaknya. Adapun penggolongannya adalah asam lemak jenuh dan tak
jenuh. Lemak yang mengandung asam-asam lemak jenuh, yaitu asam
lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap. Dalam lemak hewani misalnya
lemak babi dan lemak sapi, kandungan asam lemak jenuhnya lebih
dominan. Asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang mempunyai
ikatan rangkap. Jenis asam lemak ini dapat di identifikasi dengan reaksi
adisi, dimana ikatan rangkap akan terputus sehingga terbentuk asam
lemak jenuh (Salirawati, 2007).
Panjang rantai asam lemak pada trigliserida yang terdapat secara
alami dapat bervariasi, namun panjang yang paling umum adalah 16, 18,
atau 20 atom karbon. Penyusun lipid lainnya berupa gliserida,
monogliserida, asam lemak bebas, lilin (wax), dan juga kelompok lipid
sederhana (yang tidak mengandung komponen asam lemak) seperti
derivat senyawa terpenoid/isoprenoid serta derivat steroida. Lipid sering
berupa senyawa kompleks dengan protein (Lipoprotein) atau karbohidrat
(glikolipida) (Hart, 1987).
Asam lemak penyusun lipid ada dua macam, yaitu asam lemak
jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh molekulnya
mempunyai ikatan rangkap pada rantai karbonnya. Halogen dapat
bereaksi cepat dengan atom C pada rantai yang ikatannya tidak jenuh
(peristiwa adisi). Lipid yang mengandung asam lemak tidak jenuh bersifat
cairan pada suhu kamar, disebut minyak, sedangkan lipid yang
mengandung asam lemak jenuh bersifat padat yang sering disebut lemak
(Gordon, 1990).
(garis baru)Terdapat berbagai macam uji yang berkaitan dengan lipid
yang meliputi analisis kualitatif maupun kuantitatif. Uji-uji kualitatif lipid
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Uji kelarutan lipid
Uji ini terdiri atas analisis kelarutan lipid maupun derivat lipid
terdahadap berbagai macam pelarut. Dalam uji ini, kelarutan lipid
ditentukan oleh sifat kepolaran pelarut. Apabila lipid dilarutkan ke dalam
pelarut polar maka hasilnya lipid tersebut tidak akan larut. Hal tersebut
karena lipid memiliki sifat nonpolar sehingga hanya akan larut pada
pelarut yang sama-sama nonpolar (Garjito.M,1980)
2. Uji acrolein
Uji kualitatif lipid lainnya adalah uji akrolein. Dalam uji ini terjadi
dehidrasi gliserol dalam bentuk bebas atau dalam lemak/minyak
menghasilkan aldehid akrilat atau akrolein. Menurut Scy Tech
Encyclopedia, uji akrolein digunakan untuk menguji keberadaan gliserin
atau lemak. Ketika lemak dipanaskan setelah ditambahkan agen
pendehidrasi (KHSO4) yang akan menarik air, maka bagian gliserol akan
terdehidrasi ke dalam bentuk aldehid tidak jenuh atau dikenal sebagai
akrolein (CH2=CHCHO) yang memiliki bau seperti lemak terbakar dan
ditandai dengan asap putih (Ketaren, 1986).
3. Uji kejenuhan pada lipid
Uji ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang
diuji apakah termasuk asam lemak jenuh atau tidak jenuh dengan
menggunakan pereaksi Iod Hubl. Iod Hubl ini digunakan sebagai indikator
perubahan. Asam lemak yang diuji ditambah kloroform sama banyaknya.
Tabung dikocok sampai bahan larut. Setelah itu, tetes demi tetes pereaksi
Iod Hubl dimasukkan ke dalam tabung sambil dikocokdan perubahan
warna yang terjadi terhadap campuran diamati. Asam lemak jenuh dapat
dibedakan dari asam lemak tidak jenuh dengan cara melihat strukturnya.
Asam lemak tidak jenuh memiliki ikatan ganda pada gugus
hidrokarbonnya. Reaksi positif ketidakjenuhan asam lemak ditandai
dengan timbulnya warna merah asam lemak, lalu warna kembali lagi ke
warna awal kuning bening. Warna merah yang kembali pudar
menandakan bahwa terdapat banyak ikatan rangkap pada rantai
hidrokarbon asam lemak. Trigliserida yang mengandung asam lemak yang
mempunyai ikatan rangkap dapat diadisi oleh golongan halogen. Pada uji
ketidakjenuhan, pereaksi iod huble akan mengoksidasi asam lemak yang
mempunyai ikatan rangkap pada molekulnya menjadi berikatan tunggal.
Warna merah muda yang hilang selama reaksi menunjukkan bahwa asam
lemak tak jenuh telah mereduksi pereaksi iod huble (Budha,K,1981).
4. Uji ketengikan
Uji kualitatif lipid lainnya adalah uji ketengikan. Dalam uji ini,
diidentifikasi lipid mana yang sudah tengik dengan yang belum tengik
yang disebabkan oleh oksidasi lipid. Minyak yang akan diuji dicampurkan
dengan HCl. Selanjutnya, sebuah kertas saring dicelupkan ke larutan
floroglusinol. Floroglusinol ini berfungsi sebagai penampak bercak.
Setelah itu, kertas digantungkan di dalam Erlenmeyer yang berisi minyak
yang diuji. Serbuk CaCO3 dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan segera
ditutup. HCl yang ditambahkan akan menyumbangkan ion-ion
hidrogennya yang dapat memecah unsur lemak sehingga terbentuk lemak
radikal bebas dan hidrogen radikal bebas. Kedua bentuk radikal ini
bersifat sangat reaktif dan pada tahap akhir oksidasi akan dihasilkan
peroksida (Budha,K,1981).
5. Uji salkowski untuk kolesterol
Uji Salkowski merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk
mengidentifikasi keberadaan kolesterol. Kolesterol dilarutkan dengan
kloroform anhidrat lalu dengan volume yang sama ditambahkan asam
sulfat. Asam sulfat berfungsi sebagai pemutus ikatan ester lipid. Apabila
dalam sampel tersebut terdapat kolesterol, maka lapisan kolesterol di
bagian atas menjadi berwarna merah dan asam sulfat terlihat berubah
menjadi kuning dengan warna fluoresens hijau (Budha,K,1981).
6. Uji lieberman buchard
Uji Lieberman Buchard merupakan uji kuantitatif untuk kolesterol.
Prinsip uji ini adalah mengidentifikasi adanya kolesterol dengan
penambahan asam sulfat ke dalam campuran. Sebanyak 10 tetes asam
asetat dilarutkan ke dalam larutan kolesterol dan kloroform (dari
percobaan Salkowski). Setelah itu, asam sulfat pekat ditambahkan.
Tabung dikocok perlahan dan dibiarkan beberapa menit. Mekanisme yang
terjadi dalam uji ini adalah ketika asam sulfat ditambahkan ke dalam
campuran yang berisi kolesterol, maka molekul air berpindah dari gugus
C3 kolesterol, kolesterol kemudian teroksidasi membentuk 3,5-
kolestadiena. Produk ini dikonversi menjadi polimer yang mengandung
kromofor yang menghasilkan warna hijau. Warna hijau ini menandakan
hasil yang positif. Reaksi positif uji ini ditandai dengan adanya perubahan
warna dari terbentuknya warna pink kemudian menjadi biru-ungu dan
akhirnya menjadi hijau tua (Trilaksani, 2013).
II.2 Uraian Bahan (dirapikan)
1. KHSO4 (Ditjen POM, 1979. Halaman 689)(jika di teori umum setiap
dapus pakai halaman maka di uraian bahan juga pakai halaman. Jika
tidak pakai halaman di teori umum di seragamkan saja tidak pakai
halaman)
Nama resmi : KALIUM HIDROGEN SULFAT

Nama lain : Kalium bisulfat

RM/BM : KHSO4 / 136,17


rapatkan
Pemerian : Gumpalan putih, higroskopik.

Kelarutan : Mudah larut dalam air; larutan bereaksi asam

Penyimpanan : Dalam wadah tertutuprapat


Kegunaan : Zat tambahan

2. Alkohol (Ditjen POM 1979. Halaman 65)


Nama resmi : AETHANOLUM

Nama lain : Etanol, alkohol

Rumus kimia : C2H2O

Pemerian Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap


dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas,
:
mudah terbakar dengan memberikan nyala biru
yang tidak berasap.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform p


dan dalam eter p

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terlindung dari


cahaya

Kegunaan : Sebagai pelarut

3. Aquadest (Ditjen POM 1979. Halaman 96)


Nama resmi : AQUA DESTILLATA

Nama lain : Air suling

RM/BM : H2O/18,02

Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak


mempunyai rasa

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan : Sebagai Pelarut

4. HCl (Ditjen POM 1979. Halaman 53)


Nama resmi : ACIDUM HYDROCHLORIDUM

Nama lain : Asam klorida

RM/BM : HCl/36,46

Pemerian : Cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang


jika diencerkan 2 bagian volume air, asap akan
hilang.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan : Sebagai zat tambahan.

5. NaOH (Ditjen POM 1979.)


Nama resmi : NATRIUM HYDROXYDUM

Nama lain : Natrium hidroksida

RM/BM : NaOH/40,00

Pemerian : Bentuk batang, putiran, masa hablur atau keping,


kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan
hablur, putih, mudah meleleh basah, sangat
alkalis dan korosif, segera menyerap
karbondioksida

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol


(95%) p

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan : Sebagai zat tambahan.

6. Eter (Ditjen POM 1979. Halaman 66)


Nama resmi : AETHER ANASTHETICUS

Nama lain : Eter anastesi, efoksierana

RM/BM : C4H10O/74,12

Pemerian : Cairan transparan,tidak berwarna, bau khas, rasa


Manis atau membakar,sangat mudah terbakar.

Kelarutan : Larut dalam 10 bagian air, dapat bercampur


dengan etanol (95%) P dengan kloroform P,
minyak lemak, dan minyak atsiri.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

Kegunaan : Anastesi umum.

7. α-naftol (Ditjen POM 1979, Halaman 708)


Nama resmi : ALFA NAFTOL

Nama lain : -naftol

BM : 144,17

Pemerian : Hablur tidak berwarna, putih, serbuk, hablur putih


bauk khas.

Kelarutan : Larut dalam 5 bagian etanol (95%) P membentuk


larutan tidak buih dari agak keruh tidak berwarna

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan : Sebagai Pereaksi


BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu batang
pengaduk, gelas kimia, hot plate, neraca analitik, pipet tetes, pipet skala,
tabung reaksi, dan termometer.
III.1.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu alkohol
96%, aquadest, bensin, eter, HCl (asam klorida) pekat, kertas perkamen,
KHSO4 (kalium hidroksi sulfat), lilin, mentega, minyak goreng, NaOCl
(natrium oksi klorida), NaOH (natrium hidroksida) 0,1 N dan α-naftol.
III.2 Cara Kerja
III.2.1 Tes Acrolein
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Disiapkan tiga buah tabung reaksi, lalu dimasukkan sampel (lilin,
mentega dan minyak goreng) kedalam masing-masing tabung.
3. Ditambahkan 0,5 gram KHSO4 kedalam masing-masing tabung reaksi
yang berisi sampel.
4. Dipanaskan tabung dengan api kecil.
5. Diamati bau, bau tengik menandakan adanya gliserol.
III.2.2 Tes Kolorimetri
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Disiapkan satu buah tabung reaksi, lalu dimasukkan sampel (minyak
goreng).
3. Ditambahkan 1 mL NaOCl 2 %.
4. Didiamkan selama 2-3 menit.
5. Ditambahkan 3-4 tetes HCl pekat lalu didihkan selama satu menit.
6. Ditambahkan 0,2 mL α-naftol lalu diaduk dengan hati-hati.
7. Terbentuk hijau zamrud menunjukkan adanya gliserol.

III.2.3 Pemeriksaan Kelarutan Lemak


1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Disiapkan lima buah tabung reaksi lalu dimasukkan 1 mL minyak
goreng pada setiap tabung reaksi, kemudian dicampurkan dengan
bahan sebagai berikut:
a. Tabung I Ditambah 1 mL air

b. Tabung II Ditambah 1 mL bensin

c. Tabung III Ditambah 1 mL alkohol 96%

d. Tabung IV Ditambah 1 mL eter

e. Tabung V Ditambah 1 mL NaOH 0,1 N

3. Diaduk sampai homogen, didiamkan beberapa menit, diamati dan


dicatat perubahan yang terjadi.
4. Lemak tidak larut dalam pelarut polar seperti air, tetapi larut dalam
pelarut non polar seperti kloroform, eter dan benzen.
III.2.4 Reaksi Penyabunan dan Sifat-Sifat Asam Lemak
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Dimasukkan 5 gram minyak goreng kedalam gelas kimia.
3. Ditambahkan NaOH sedikit demi sedikit.
4. Dipanaskan pada suhu 70ºC sampai terbentuk busa.
5. Ditambahkan 3-4 tetes HCl lalu ditambahkan alkohol 96%.
6. Terbentuk busa menandakan hasil positif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
V.1 Hasil Pengamatan
1. Tes Akrolein
Penambahan 0,5 g
No Sampel Hasil Ket.
KHSO4

1 Mentega Larut Bau asli -

2 Lilin Larut Bau asli -

Minyak
3 Terdapat 2 lapisan Bau tengik +
Kelapa

Minyak
4 Terdapat 2 lapisan Bau asli -
Kelapa sawit

2. Tes Kolorimetri
No Sampel Perlakuan Hasil Ket.

+ NaOCl + HCl + α
1 Lilin Terbentuk 2 Lapisan -
naftol

Minyak Terbentuk 2 lapisan


2 + H2SO4 pekat -
Kelapa berwarna cokelat

Minyak
+ NaOCl + HCl Terbentuk 2 lapisan
3 Kelapa -
pekat + α naftol berwarna cokelat
sawit

Terbentuk 2 Lapisan
4 Mentega + H2SO4 -
Hijau Zamrud
3. Pemeriksaan Kelarutan Lemak
Tabung Sampel Pereaksi Hasil Keterangan

Minyak
I 1mL air Tidak larut +
goreng 1mL

Minyak 1mL
II Larut +
goreng 1mL bensin

1mL
Minyak
III alkohol Tidak larut +
goreng 1mL
96%

Minyak
IV 1mL eter Tidak Larut -
goreng 1mL

Minyak
V 1mL NaOH Tidak larut +
goreng 1mL

4. Reaksi Penyabunan
Tabung NaOH 1 N Pemanasan HCl 1 N Hasil Ket.
0,5 g
(minyak Sedikit demi +
700 C + 3 tetes Berbusa
kelapa sedikit
sawit )

IV. 2 Pembahasan
Lipid adalah senyawa yang merupakan ester dari asam lemak
dengan gliserol yang kadang-kadang mengandung gugus lain. Lipid tidak
larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic seperti eter, aseton,
kloroform, dan benzene.
Pada praktikum ini dilakukan tes acrolein, kolorimetri, pemeriksaan
kelarutan lemak, reaksi penyabunan.
Pada pengujian akrolein, prinsip kerjanya adalah terjadi dehidrasi
gliserol dalam bentuk bebas atau dalam lemak atau minyak menghasilkan
aldehid akurat atau akrolein. Uji ini digunakan untuk menguji keberadaan
gliserol atau lemak. Ketika lemak dipanaskan, dan ditambahkan agen
penhidrasi yaitu KHSO4 yang akan menarik air maka bagian gliserol akan
terdehidrasi kedalam bentuk aldehid tak jenuh atau akrolein (CH2 =
CHCHO) yang memiliki bau seperti lemak terbakar dan ditandai dengan
asap putih. Pada praktikum dilakukan pengamatan menggunakan 4
sampel yaitu lilin, mentega, minyak kelapa, dan minyak kelapa sawit. Dan
didapatkan hasil positif pada minyak kelapa yang ditandai dengan adanya
bau tengik, dan didapatkan hasil negatif pada lilin, minyak kelapa, dan
mentega yang ditandai dengan tidak adanya perubahan bau (bau asli).
Pada Uji kolorimetri didasarkan pada warna hijau yang terbentuk
pada sampel setelah penambahan NaOCl, HCl P., yang kemudian
dipanaskan dan ditambahkan α naftol selama 1 menit, dan terbentuklah
warna hijau zamrud. Penambahan NaOCl dan HCL P., berfungsi untuk
menghidrolisis trigliserida untuk menghasilkan gliserol. Pada praktikum ini,
didapatkan hasil negatif pada semua sampel yang ditandai dengan
terbentuknya 2 lapisan berwarna cokelat. Hal ini dikarenakan proses
penambahan NaOCl, HCl P., dan α naftol yang tidak sesuai.
Pada uji pemeriksaan kelarutan lemak, prinsip kerjanya adalah jika
minyak dikocok kuat dengan air, akan terjadi emulsi yang tidak stabil
karena butir-butir minyak kecil akan berpisah. Dan didasarkan pada
senyawa polar akan larut pada pelarut polar, dan senyawa nonpolar akan
larut dalam pelarut nonpolar. Pada praktikum ini digunakan minyak goreng
yang bersifat nonpolar, dengan penambahan masing-masing pelarut yakni
air, alkohol, eter, bensin, dan NaOH. Dan didapatkan hasil, minyak goreng
larut dalam bensin dan tidak larut dalam air, alkohol, eter dan NaOH. Hal
ini tidak sesuai dengan pustaka, seharusnya minyak goreng larut dalam
bensin dan eter, dan tidak larut dalam air, alkohol, dan NaOH.
Uji penyabunan bertujuan untuk mengetahui hidrolisis minyak oleh
alkali, hasil yang diperoleh yaitu mentega ditambahkan dengan NaOH dan
kemudian dipanaskan menghasilkan busa dan ketika di tambahkan Hcl
busanya menjadi hilang dan ditambahkan bensin tetap tidak menghasilkan
busa.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:( yang dicantumkan
adalah hasil yang diperoleh dari praktikum.)
1. Uji akrolein sampel mentega dan lilin larut dengan penambahan
KHSO4. Sedangkan pada minyak kelapa dan minyak kelapa sawit
terbentuk dua lapisan.
2. Tes kolorimetri pada semua sampel terjadi perubahan warna yaitu
berwarna cokelat. Dimana seharusnya hasil positif pada uji ini
terbentuk warna hijau zamrud.
3. Uji pemerikasaan lemak didapatkan hasil yang positif larut pada
pereaksi air, bensin, alkohol 96%, dan NaOH, sedangkan pada
pereaksi eter tidak larut. Hal ini dikarenakan senyawa polar akan larut
dalam pelarut polar, dan senyawa non polar larut dalam pelarut non
polar
4. Reaksi penyabunan didapatkan hasil minyak kelapa sawit dan lilin
terbentuk busa yang ditandai dengan terbentuknya busa pada saat
penambahan NaOH.
V.2 Saran
V.2.1 Saran Untuk Laboratorium
Diharapkan untuk laboratorium agar melengkapi fasilitas yang
diperlukan dalam praktikum seperti alat dan bahan agar praktikum dapat
berjalan dengan lancar.
V.2.2 Saran Untuk Dosen
Diharapkan untuk dosen agar mendampingi kegiatan praktikum
yang berlangsung.
V.2.3 Saran Untuk Asisten
Diharapkan kepada seluruh asisten agar dapat membimbing
praktikan dengan sungguh-sungguh dan lebih maksimal untuk dapat
meminimalisir kesalahan yang tidak di inginkan.
DAFTAR PUSTAKA

Amstrong, Frank B. 1995. Buku Ajar Biokimia. Edisi ketiga. EGC : Jakarta
Anonim. 2008. Format Penulisan Karya Ilmiah. Bandar Lampung:
Penerbit Universitas Lampung.ss
Budha,K. 1981. Kelapa dan Hasil Pengolahannya. Denpasar: Fakultas
Teknologi dan Pertanian Universitas Udayana.
Anwar Chairil. 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Yogyakarta:
Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi
Chitika. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Salemba Medika.
Fessenden dan Fessenden. 1982. Kimia Organik II. Eedisi 3. Jakarta:
Erlangga.
Garjito,M. 1980. Minyak Sumber Penanganan Pengelolahan dan
Pemurnian. Yogyakarta: Fakultas Teknologi Pertanian UGM
Gordon. 1990. Minyak: Sumber, Penanganan, Pengelolahan, dan
Pemurnian. Yogyakarta: Fakultas Teknologi pertanian UGM.
Hart. 1987. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
Harti, Agnes sri. 2014. Biokimia Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika
Iskandar, Yuli. 1974. Biokimia bagian I. Yayasan Dharma Graha : Jakarta
Ketaren. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta:
Universitas Indonesia Press
Lehninger AL. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid I. Jakarta: Maggy
Thenawijaya.
Marthoharsono, Soeharsono. 2006. Biokimia 1. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
Montgomery, R. 1993. Biokimia: Suatu Pendekatan Berorientasi Kasus.
Jilid 2. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.
Okhtora, Angelia ika. 2016. Jurnal Analisis Kadar Lemak Pada Tepung
Ampas Kelapa. Gorontalo:Politeknik gorontalo
Poedjiadi, N.A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. UI-press : Jakarta
Salirawati . 2007. Belajar Kimia Menarik. Jakarta: Grasindo.
Trilaksani, W. 2003. Antioksidan Jenis, Sumber, Mekanisme Kerja, dan
peran terhadap kesehatan. Laporan penelitian. Bogor: IPB

LAMPIRAN

No. Gambar Keterangan

1.

Uji acrolein
2.

Tes kalorimetri

3.

Pemeriksaan kelarutan
lemak

4.

Reaksi penyabunan

Anda mungkin juga menyukai