Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan memerlukan suhu yang cocok, banyaknya air yang

memadai, dan persediaan oksigen yang cukup. Periode dormansi juga merupakan

persyaratan bagi perkecambahan banyak biji sebagai contoh, biji buah apel hanya

dapat berkecambah setelah masa dingin yang lama. Ada bukti bahwa

perkecambahan kimia terbentuk di dalam bijinya ketika terbentuk. Pencegahan ini

lambat laun akan dipecah pada suhu rendah sampai tidak lagi memadai untuk

menghalangi perkecambahan ketika kondisi lainnya membaik (Latunra, 2011).

Auksin yang ditemukan Went, kini diketahui sebagai Asam Indole Asetat

(IAA) dan beberapa ahli fisiologi masih menyamakannya dengan auksin. Namun

tumbuhan mengandung 3 senyawa lain yang struktrurnya mirip dengan IAA dan

menyebabkan banyak respon yang sama dengan IAA. Ketiga senyawa tersebut

dapat dianggap sebagai auksin. Senyawa-senyawa tersebut adalah asam 4-

kloroindol asetat, asam fenilasetat (PAA) dan asam Indolbutirat (IBA)

(Dwidjoseputro, 2010).

Perkecambahan adalah proses terbentuknya kecambah (plantula).

Kecambah sendiri didefinisikan sebagai tumbuhan kecil yang baru muncul dari

biji dan hidupnya masih tergantung pada persediaan makanan yang terdapat

dalam biji. Kecambah tersebut akan tumbuh dan juga berkembang menjadi semai

/ anakan atau seedling, yang pada tahap selanjutnya tumbuhan akan tumbuh

menjadi tumbuhan dewasa. (Mudiana, 2007)

Perkecambahan muncul ketika berkembangnya radikula dan plumula dari

benih/biji. Secara visual dan morfologis suatu benih yang berkecambah ditandai
2

dengan terlihatnya radikula dan plumula dari biji. Perkecambahan benih Sengon

termasuk tipe perkecambahan epigeal dimana perkecambahan yang menghasilkan

kecambah dengan kotiledon muncul dipermukaan tanah (jika ditanam pada media

tanah) (Rehatta, 2013).

Dalam pengujian benih, salah satu persyaratan tumbuh yang paling

penting adalah substrat/media tumbuh benih. Salah satu faktor yang dapat

mempengaruhi perkecambahan benih adalah media perkecambahan. Pada

beberapa benih tertentu, substrat perkecambahan dapat menyebabkan benih

menjadi dorman (enforced domancy). Dilain pihak juga bias mempersingkat

waktu after-ripening. Perbedaan substrat perkecambahan dapat mengurangi

konsentrasi KNO yang dibutuhkan untuk mematahkan dormansi. Adanya

interaksi antara perlakuan pendahuluan benih dan media perkecambahan

(Murniati, 2006)

Perbanyakan secara generatif merupakan salah satu teknik yang digunakan

dalam proses pembiakan tanaman. Melaui perbanyakan generatif, biji yang telah

memenuhi syarat ditanam hingga menghasilkan tanaman baru yang lebih banyak.

Biji yang ditanam tersebut merupakan organ tanaman yang terbentuk dalam buah

sebagai hasil dari pendewasaan bakal biji yang dibuahi. Keuntungan

perkembangbiakan generatif diantaranya adalah biaya yang relatif murah,

penyimpanan dalam waktu lama memuaskan, daya hidupnya tetap tinggi bila

disimpan dalam lingkungan yang menghindari kondisi favorable untuk untuk

respirasi dan kegiatan enzimatik, serta memungkinkan untuk memulai tanaman

yang bebas penyakit, khususnya penyakit tertular biji (Slamet, 2009).


3

Sementara itu, ada beberapa kelemahan dari perbanyakan secara generatif,

yaitu sifat biji yang dihasilkan sering menyimpang dari sifat pohon induknya.

Jika ditanam, dari ratusan atau ribuan biji yang bersal dari satu pohon induk yang

sama akan menghasilkan banyak tanaman baru dengan sifat yang beragam. Ada

yang sifatnya sama, atau bahkan lebih unggul dibandingkan dengan sifat pohon

induknya. Namun, ada juga yang sama sekali tidak membawa sifat unggul pohon

induk, bahkan lebih buruk sifatnya. Keragaman sifat ini terjadi karena adanya

pengaruh mutasi gen dari pohon induk jantan dan betina (Ashari, 1995).

Dunia tumbuhan selalu mengalami proses perubahan, perkembangan dan

penyebaran. Perubahan, perkembangan dan penyebaran tumbuhan di muka bumi

ini seirama dengan perubahan dan perkembangan faktor intern dan ekstern.

Faktor-faktor biologik sebagai faktor dalam (intern) meliputi perkawinan silang,

mutasi, dan modifikasi genetika dari tumbuhan tersebut Faktor geografik sebagai

faktor loaf (ekstern) meliputi perubahan iklim, tanah, aktivitas vulkan, dan kerak

bumi (Basri, 1998).

Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk melakukan perbanyakan

tanaman secara generatif menggunakan benih dari beberapa jenis tanaman serta

mengetahui tipe perkecambahan biji, proses perkecambahan dan mengetahui

keadaan morfologi kecambah dari berbagai jenis biji serta dapat menggambarkan

bagian-bagian dari kecambah yang tumbuh.


TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan merupakan suatu proses pertambahan ukuran baik dalam

bentuk, volume, bobot, maupun jumlah sel akibat penggandaan protoplasma. Tahap

awal pertumbuhan tumbuhan dimulai ketika biji berkecambah. Perkecambahan

diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji sehingga menyebabkan

kulit biji melunak dan ukuran biji membesar (Ardiyanto, 2014).

Pertumbuhan merupakan proses kenaikan volume yang

bersifat irreversibel (tidak kembali pada keadaan semula), terjadi karena adanya

pertambahan jumlah sel akibat adanya pembelahan sel secara mitosis dan

pembesaran sel karena adanya penambahan substansi. Pertumbuhan dapat diukur

dan dinyatakan secara kuantitatif. Contohnya proses pertumbuhan pada tumbuhan

adalah penambahan tinggi tanaman, penambahan diameter batang, penambahan

jumlah daun, dan penambahan luas akar (Slamet, 2009).

Perkecambahan adalah pengulangan kembali tentang pertumbuhan janin dan

akan dilengkapi dengan keluarnya radikula di luar biji. Perkecambahan dan

pemantapan adalah saat-saat yang pnting dalam kehidupan tumbuhan, karena dalam

tingkatan inilah selama siklus hidup setiap spesies maka jumlah terbesar

individunya mati (Tjitrosomo, 1983).

Kedalaman suatu biji dibenamkan dalam tanah, baik yang sengaja ditanam,

maupun secara kebetulan tumbuh, merupakan faktor yang penting dalam

perkecambahan. Biji yang terdapat dipermukaan tidak memiliki ketersediaan air

yang cukup untuk melengkapi perkecambahannya (Tjitrosomo, 1983).

Menurut Slamet (2009), dua macam jenis perkecambahan biji dapat

dibedakan atas perkecambahan hipogel dan epigeal:


5

1. Perkecambahan Hipogeal

Kotiledon tetap berada di bawah tanah, sedangkan plumula keluar dari

permukaan tanah disebabkan pertumbuhanepikotil yang memanjang ke arah atas.

Contohnya perkecambahan pada kacang kapri (Pisum sativum) dan jagung (Zea

mays).

2. Perkecambahan Epigeal

Kotiledon terdapat di permukaan tanah karena terdorong oleh

pertumbuhan hipokotil yang memanjang ke atas. Contohnya perkecambahan pada

kacang tanah dan kacang hijau (Vulga radiat).

Menurut Ardiyanto (2014), faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan

dan perkembangan yaitu:

1. Genetik (hereditas)

Gen adalah faktor pembawa sifat menurun yang terdapat dalam sel makhluk

hidup. Gen bekerja untuk mengkodekan aktivitas dan sifat yang khusus dalam

pertumbuhan dan perkembangan.

2. Enzim

Enzim merupakan suatu makromolekul (protein) yang mempercepat suatu

reaksi kimia dalam tubuh makhluk hidup(Biokatalisator). Suatu rangkaian reaksi

dalam tubuh makhluk hidup tidak dapat berlangsung hanya melibatkan satu jenis

enzim.

3. Hormon (fitohormon)

Hormon merupakan zat pengatur tumbuh, yaitu molekul organik yang

dihasilkan oleh satu bagian tumbuhan dan ditransportasikan ke bagian lain yang

dipengaruhinya.
6

Faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan yaitu:

1. Unsur hara atau nutrisi

Nutrisi terdiri atas unsur-unsur atau senyawa-senyawa kimia sebagai sumber

energi dan sumber materi untuk sintesis berbagai komponen sel yang diperlukan

selama pertumbuhan. Nutrisi umumnya diambil dari dalam tanah dalam

bentuk iondan kation, sebagian lagi diambil dari udara.

2. Air

Air sebagai pelarut unsur hara dalam tanah, dan memelihara temperatur tanah.

3. Cahaya

Cahaya mutlak diperlukan dalam proses fotosintesis. Cahaya secara langsung

berpengaruh terhadap pertumbuhan setiap tanaman. Pengaruh cahaya secara

langsung dapat diamati dengan membandingkan tanaman yang tumbuh dalam

keadaan gelap dan terang.

Pada keadaan gelap, pertumbuhan tanaman mengalami etiolasi yang ditandai

dengan pertumbuhan yang abnormal (lebih panjang), pucat, daun tidak berkembang,

dan batang tidak kukuh.

Pada keadaan terang tumbuhan lebih pendek, batang kukuh, daun berkembang

sempurna dan berwarna hijau.

Dalam fotosintesis, cahaya berpengaruh langsung terhadap ketersediaan

makanan. Tumbuhan yang tidak terkena cahaya tidak dapat membentuk klorofil,

sehingga daun menjadi pucat. Panjang penyinaran mempunyai pengaruh yang

spesifik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.

4. Suhu
7

Suhu berpengaruh terhadap fisiologi tumbuhan, antara lain memengaruhi

kerja enzim. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menghambat proses

pertumbuhan. Fotosintesis pada tumbuhan biasanya terjadi di daun, batang, atau

bagian lain tanaman. Suhu optimum (15°C hingga 30°C) merupakan suhu yang

paling baik untuk pertumbuhan. Suhu minimum (± 10°C) merupakan suhu terendah

di mana tumbuhan masih dapat tumbuh. Suhu maksimum (30°C hingga 38°C)

merupakan suhu tertinggi dimana tumbuhan masih dapat tumbuh.

5. Kelembapan

Kelembapan ada kaitannya dengan laju transpirasi melalui daun

karena transpirasi akan terkait dengan laju pengangkutan air dan unsur hara

terlarut. Bila kondisi lembap dapat dipertahankan maka banyak air yang diserap

tumbuhan dan lebih sedikit yang diuapkan. Kondisi ini mendukung aktivitas

pemanjangan sel sehingga sel-sel lebih cepat mencapai ukuran maksimum dan

tumbuh bertambah besar. Pada kondisi ini, faktor kehilangan air sangat kecil karena

transpirasi yang kurang. Adapun untuk mengatasi kelebihan air, tumbuhan

beradaptasi dengan memiliki permukaan helaian daun yang lebar.

Keadaan lingkungan yang perlu bagi perkecambahan biji ialah kelembaban,

oksigen, dan suhu yang sesuai. Selain itu cahaya berpengaruh baik terhadap

perkecambahan bahan biji banyak spesies, sedangkan pada yang lain peristiwa itu

dihalangi oleh cahaya. Meskipun demikian, pengaruh tidak adanya cahaya yang

dimodifikasi oleh faktor lain, terutama temperatur (Tjitrosomo, 1983).

Biji-biji sebagaian besar tumbuhan, bila masak, hanya berisi sedikit air, maka

perkecambahan itu baru akan terjadi setelah kulit biji, dan kemudian juga jaringan
8

lain, telah menyerap air. Biji membengkak dan dapat timbul tekanan amat kuat jika

biji tersimpan rapat-rapat (Tjitrosomo, 1983).

Biji-biji berbagai spesies, berbeda-beda keperluannya akan oksigen, tetapi

oksigen biasanya sangat perlu dalam perkecambahan. Konsentrasi oksigen dalam

tanah dipengaruhi oleh banyaknya air, dan biji dapat urung berkecambah dalam

tanah basah atau yang berlumpur (Tjitrosomo, 1983).

Pengaruh suhu terhadap perkecambahan berbeda-beda bagi berbagai macam

biji. Banyak biji yang berkecambah dalam kisaran suhu yang luas. Batas suhu

minimal ialah C, dan maksimal C, tetapi prosentasi perkecambahan biasanya amat

sedikit jika suhu itu amat rendah atau amat tinggi. Jagung dan kacang sebaiknya

ditanam setelah pohon-pohon mengeluarkan daunnya pada musim semi, sedangkan

labu, mentimun, semangka hanya ditanam setehah tanah hangat dan pada waktu

tanaman tahunan berbunga (Tjitrosomo, 1983).

Jika keadaan menguntungkan, penyerapan air oleh biji diikuti oleh banyaknya

kegiatan. Protoplasma mengalami rehidrasidan enzim-enzimnya mulai berfungsi.

Zat pati diurai menjadi gula, lemak dapat manjadi zat-zat yang dapat dilarutkan, dan

protein menjadi asam amino. Persediaan bahan-bahan ini memungkinkan

pembesaran energi oleh respirasi, translokasi bahan makanan ke janin, dan

mulailah embrio bertumbuh (Tjitrosomo, 1983).

Respirasi pada biji dorman lagi kering berlangsung amat perlahan. Mungkin

juga respirasi berhenti pada biji-biji yang sama sekali kering, tetapi masih hidup.

Membasahi biji-biji itu memungkinkan respirasi itu meningkat dengan cepat dan

pada saat perkecambahan berlangsung dengan baik maka laju respirasi dapat

menjadi ratusan kali (Tjitrosomo, 1983).


9

Pada semua biji struktur utama yang timbuh dari kulit biji ialah radikula,

yaitu akar lembaga. Akar lembaga tersebut keluar melalui mikropil dan

menghasilkan akar primer. Pada gilirannya akar ini membentuk rambut akar dan

sesudah akar-akarsekunder atau akar lateral. Pertumbuhan akar kira-kira sebelum

pertumbuhan bagian-bagian lain pada embrio memungkinkan pertumbuhan muda

berjangkar ke dalam tanah dan menyerap air (Tjitrosomo, 1983).

Perbanyakan tanaman buah-buahan terdiri dari dua cara, yakni perbanyakan

generatif dan vegetatif. Perbanyakan tanaman menggunakan biji (bagian tanaman

yang dibuahi) disebut pembibitan secara generatif atau seksual. Disebut demikian

karena biji berasal dari pertumbuhan embrio basil penyerbukan

(perkawinan,pembuahan) antara putik dengan serbuk sari. Perbanyakan tanaman

yang tidak menggunakan biji disebut perbanyakan vegetatif atau aseksual. Bagian

tanaman buah yang dapat digunakan untuk perbanyakan ini adalah akar dan batang

atau tunas. Perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan teknologi kultur jaringan

termasuk perbanyakan tanaman secara vegetatif, karena bibit itu ditumbuhkan dari

bagian sel tanaman yang tidak dibuahi (Harjadi, 2010).

Menurut Harjadi (2010), perbanyakan secara generatif dilakukan

untukbeberapa tujuan diantaranya :

1. Perbanyakan tanaman yang sulit diperbanyak secara vegetatif.

2. Tanamanya homozigot atau hampir serupa dengan induknya (duku,

jambubol, belimbing, sirsak, alpukat).

3. Diinginkan tanaman yang kuat dan panjang umurnya atau untuk batang

bawah.
10

4. Tanaman apogamous (bunga yang hanya terdiri atas kelopak dan bakal

buah) misalnya manggis.

Tanaman bersifat poliembrionik yaitu dalam satu biji terdapat banyak tunas,

misalnya jeruk dan mangga (yang diinginkan tumbuh adalah tunas vegetatif).

Menurut Purnomosidhi (2002), perbanyakan generatif memiliki beberapa

keuntungan maupun kekurangan. Keuntungan perbanyakan generatif antara lain :

1. Sistem perakaran lebih kuat.

2. Lebih mudah diperbanyak.

3. Jangka waktu berbuah lebih panjang.

Sedangkan kelemahan melakukan perbanyakan secara generatif, menurut

Purnomosidhi (2002) antara lain :

1. Waktu untuk mulai berbuah lebih lama.

2. Sifat turunan tidak sama dengan induk.

Tanaman padi (Oryza sativa L.) termasuk dalam kingdom plantae

(tumbuhan), subkingdom Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh), super divisi

spermatophyta (menghasilkan biji), divisi magnoliophyta (tumbuhan berbunga),

kelas liliopsida (tumbuhan berkeping satu/monokotil), sub kelas commelinidae,

ordo poales, famili poaceae (rumput-rumputan), genus oryza, spesies oryza sativa

L. (Tjitrosoepomo, 2004).

Tanaman jeruk (Citrus sp) termasuk dalam kingdom plantae, sub kingdom

tracheobionta, super divisi spermatophyta, divisi magnoliophyta, kelas

magnoliopsida, sub kelas rosidae, ordo sapindales, famili rutaseae, genus Citrus,

spesies Citrus sp (Steenis, 1975).


11

Tanaman kalangkala (Litsea angulata) termasuk dalam kingdom plantae,

divisi spermatophyta, sub divisi angiospermae, kelas dicotyledoneae, ordo laurales,

famili lauraceae, genus Litsea, spesies Litsea angulata (Tjitrosoepomo, 2004).

Tanaman jagung (Zea mays var. saccharata) termasuk dalam kingdom

plantae, divisi angiospermae, sub divisi eudicots, kelas commelinidis, ordo poales,

famili poaceae, spesies Zea mays var. saccharata (Muhadjir, 1988).


BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Biji padi (Oryza sativa) unggul dan unggul lokal.

2. Biji jagung (Zea mays var. saccharata).

3. Biji buah-buahan local (2 jenis).

4. Air.

5. Media: tanah, pupuk kendang dan sekam.

6. ZPT.

Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Buku gambar.

2. Alat tulis.

3. Gelas air mineral.

4. Lembar laporan sementara.

Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 15 Oktober 2018 jam 16.00 -

selesai. Tempat pelaksanaan di Laboratorium Biologi Pertanian dan Rumbung

Bunga Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.


13

Prosedur Kerja

Perkecambahan (dilakukan satu minggu sebelumnya)

1. Mengambil masing-masing benih yang telah direndam selama 24 jam.

2. Menyiapkan media perkecambahan berupa campuran tanah dan pupuk kendang

dengan perbandingan 1 : 1.

3. Menyiapkan wadah perkecambahan berupa gelas air mineral yang di bagian

bawahnya dilubangi dan diisi dengan media perkecambahan.

4. Mengecambahkan benih 5 jenis tanaman dalam wadah perkecambahan. Untuk

benih padi diisi 3 biji per wadah, untuk benih jagung diisi 2 biji per wadah dan

buah-buahan lokal diisi 1 biji per wadah.

5. Menjaga kelembaban dan memelihara perkecambahan selama kurang lebih satu

minggu.

6. Benih yang berkecambah kemudian salah satunya diambil dan secara berhati-hati

dibersihkan dari media yang menempel.

7. Mengamati tipe perkecambahan dari masing-masing benih.

8. Menggambarkan dan menentukan bagian-bagian kecambah (radikula,

plumula,hipokotil, epikotil) dari masing-masing benih.

9. Benih yang lain, dipelihara pada media tanam sebagai bahan perbanyakan

generatif selama satu minggu. Setiap jenis benih ditanam pada lima wadah tanam

yang sama dengan wadah perkecambahan.