Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kegiatan pertambangan adalah kegiatan yang berorientasi untuk melakukan
pengambilan bahan galian dari dalam bumi sehingga dapat dimanfaatkan guna
kepentingan dan keberlangsungan hidup manusia. Dalam dunia pertambangan
terdapat beberapa tahapan-tahapan serta persiapan untuk melakakukan suatu
kegiatan pertambangan yang diantaranya adalah penambangan.
Dalam tahapan kegiatan penambangan terdiri dari beberapa tahapan yaitu
tahapan gali, muat, dan angkut. Dalam kegiatan penggalian terhadap material
yang akan ditambang, terdapat kegiatan yang dinamakan pemberaian atau
pemisahan yang dilakukan dengan melalui metode secara mekanis yaitu dengan
menggunakan alat berat untuk mengeruk hingga penggunaan bahan peledak
untuk pemberaian material yang masif.
Peledakan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk memisahkan suatu
bahan galian dari batuan induknya yang memiliki sifat kompak dan padat menjadi
batuan yang memiliki ukuran lebih kecil sehingga dapat dengan mudah untuk
melakukan proses selanjutnya. Dengan adanya kegiatan dalam pendahuluan
peledakan akan memungkinkan untuk memberikan dasar pengenalan terhadap
macam pendukung dalam kegiatan peledakan

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Maksud dari praktikum ini yaitu untuk mengenal macam peralatan dan
perlengkapan dalam kegiatan peledakan serta memahami Kepmen 1827
1.2.2 Tujuan
1. Mengetahui dan Mengenal macam alat dan perlengkapan dalam kegiatan
peledakan
2. Mengetahui penggolongan dan penggunaan peledak dalam dunia
pertambangan.
3. Dapat mengenal dan menerapkan Kepmen ESDM 1827

1
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Perlengkapan dan Peralatan Peledakan


Menurut “National Institute for Occupational Safety and Health Division of
Physical Sciences and Engineering Cincinnati, Ohio, 1976” atau Departemen
Kesehatan, Pendidikan, dan Institut Nasional Kesejahteraan untuk Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Nasional (NIOSH) yang bertanggung jawab untuk melakukan
penelitian dan mengembangkan materi pendidikan dan pelatihan di bidang
keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dipersyaratkan oleh Williams-
Steiger dalam “Occupatlonal Safety dan Health Act of 1970”, Peledakan abrasif
merupakan salah satu kegiatan pekerjaan yang dicakup oleh Undang-Undang,
yang telah dipelajari NIOSH.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa 100.000 blaster abrasif terpapar
debu silika hingga 60 juta jam kerja setiap tahun. Peralatan pelindung pribadi yang
digunakan oleh para pekerja ini, rata-rata, buruk hingga marjinal. Kekurangan
peralatan dan kurangnya perawatan yang tepat adalah hal biasa. Pekerja
cenderung menerima paparan kuarsa di atas TLV (Nilai Ambang Batas) dan
paparan kebisingan ekstrem. Bahaya yang terkait dengan peralatan listrik dan
mekanik sangat banyak.
Blaster abrasif sendiri bukan satu-satunya yang terpengaruh. Dalam jenis
operasi tertentu, seperti peledakan abrasif udara terbuka, siapa pun yang berada
dalam jarak dekat dapat terpapar bahaya keselamatan dan kesehatan. Tujuan dari
publikasi ini adalah untuk memberi tahu insinyur keselamatan dan kebersihan
industri tentang praktik peledakan abrasif yang paling umum; potensi bahaya
keselamatan dan kesehatan yang terlibat dalam praktik-praktik ini; dan teknik
teknik dan administrasi yang tersedia untuk meminimalkan dan mengendalikan
kondisi berbahaya yang dihasilkan
Metode penerapan bahan abrasif dapat dipisahkan menjadi dua jenis
prosedur yaitu kering dan basah. Dry-blasting dibagi lagi kedalam dua metode
yang digunakan untuk pembersihan dry-blast, yaitu peledakan mekanis dan
peledakan tekanan udara sedankan peledakan basah, merupakan peledakan

2
3

yang melibatkan kecepatan tinggi, penggerak udara terkompresi dari lumpur yang
diarahkan ke benda kerja. Bubur biasanya terdiri dari abrasif halus yang
tersuspensi dalam air yang diolah secara kimia. Biasanya disimpan dalam agitasi
terus menerus untuk mencegah pengendapan dari abrasif

Sumber : ECWP, 2001


Gambar 2.1
Abrasive Whell
Peledakan yang terkendali di sepanjang kegiatan harus dilakukan untuk
mengurangi biaya perawatan dan menghasilkan kontur aman yang stabil. Bagian
yang bertanggung jawab untuk pelaksanaan dan evaluasi peledakan terkontrol
harus menyadari prosedur yang digunakan untuk menghasilkan hasil yang dapat
diterima dan harus memahami bagaimana faktor geologis dapat mengubah
tampilan kontur akhir. Kekuatan batu berubah dalam skala kecil dan besar.
Struktur geologis seperti sambungan, bedding planes, patahan dan lapisan lumpur
menyebabkan masalah.
Perancangan dalam rencana tahapan peledakan yaitu merupakan bentuk
dari perhitungan akan pemberian bahan galian dan dibuat agar dapat diperoleh
suatu metoda peledakan yang ekonimis, efisien, dan aman. Secara umum output
dari proses peledakan adalah mengadakan dan mempersiapkan bahan peledak
maupun aksesorisnya agar diperoleh ukuran pecahan dari batuan atau ukuran
fragmentasi sesuai dengan yang diinginkan sehingga dapat memasuki tahap
selanjutnya dalam kegiatan penambangan. Dalam suatu peledakan terdiri dari
beberapa tahapan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan lubang ledak.
2. Pengisian bahan peledak kedalam lubang.
3. Perangkaian alat peledak
4. Peledakan.
5. Pemindaian batuan hasil peledakan.
6. Pengangkutan terhadap batuan untuk diproduksi dan diolah.
4

Perlengkapan peledakan yang mana nantinya akan digunakan dan disusun


menjadi suatu kombinasi dari bahan peledak yang akan dapat digunakan untuk
menunjang kegiatan peledakan beberapa kali penggunaan ataupun hanya
penggunaan satu kali kegiatan peledakan. Perlengkapan peledakan secara umum
sebagai berikut :
1. Penghantar panas atau arus listrik (sumbu bakar, kabel listrik)
2. Penggalak awal (Detonator, sumbu ledak)
3. Penggalak utama (primer/booster)
2.1.1 Penghantar panas atau listrik
1. Sumbu bakar
Pada bagian peledakan, sumbu bakar merupakan bagian yang
menghantarkan panas ke dalam Detonator. Sumbu bakar memiliki
komposisi black powder yang mana bahan ini dikemas bersama bahan
tekstil kemudian dilapisi bitumen.
2. Kabel Listrik
Pada perlengkapan peledak, kabel listrik dapat digunakan sebagai
penghubung akan arus listrik dari sumber arus menuju ujung legwier.
3. Kabel Penyambung
Kabel penyambung berada pada bagian dari kabel utama yang berfungsi
menghubungkan antara kedua leg wire pada rangkaian seri dan
menyambungkan leg wire yang terlalu pendek.
2.1.2 Penggalak awal (Detonator)
Penggalak awal atau Detonator merupakan suatu bentuk dari zat atau
bahan yang dapat mengakibatkan adanya inisiasi dalam bentuk letupan sebagai
bentuk aksi perlawanan dari efek kejut terhadap bahan peledak yang peka akan
Detonator atau primer.

Sumber : Raina, 2012


Foto 2.1
Detonator
5

Detonator terbagi menjadi beberapa jenis yaitu:


1. Detonator biasa
2. Detonator listrik
3. Detonator nonel
4. Detonator elektronik.
2.1.3 Persiapan Peledakan
1. Kegiatan perencanaan
Dalam kegiatan perencanaan peledakan dilakukan berdasarkan pada
beberapa pertimbangan yang diantaranya adalah:
a. Kepekaan dalam wilayah
b. Fragmentasi yang dibutuhkan
c. Perpindahan material hasil peledakan
d. Pengendalian dinding samping
e. Geologi daerah
f. Kondisi air permukaan
g. Jenis dari peledak yag digunakan
h. Cost
2. Kegiatan pemboran lubang ledak
Setelah dilakukannya pertimbangan akan efisiensi peledakan, maka
dilakukanlah kegiatan pemboran untuk penempatan bahan peledak
3. Persiapan peledakan
Dalam kegiatan peledakan, perlu adanya konsensi akan material yang
dituju, maka dari itu diperlukan persiapan yang diataranya adalah:
a. Pengurusan akan ijin order aksesoris peledakan
b. Perhitungan kebutuhan hendak
c. Re-Check / pengecekan kembali
d. Mobilisasi menuju gudang hendak
4. Pelaksanaan di lapangan
Pada akhirnya, kegiatan peledakan akan dilakukan dengan persiapan
sebagai berikut:
a. Pembuatan primer
b. Pengisian lubang ledak
c. Stemming
d. Tie up
6

e. Pengamanan lapangan kerja.


Dari kegiatan peledakan ini akan timbul dua bentuk energi dasar yang
dilepaskan ketika reaksi bahan peledak tinggi. Jenis energi pertama akan disebut
energi kejut. Jenis kedua akan disebut energi gas. Meskipun kedua jenis energi
dilepaskan selama proses peledakan, blaster dapat memilih bahan peledak
dengan proporsi yang berbeda dari kejutan atau energi gas yang sesuai dengan
aplikasi tertentu. Jika bahan peledak digunakan dalam cara yang tidak terbatas,
seperti batu capping lumpur (biasa disebut penembakan plaster) atau untuk
memotong anggota struktural dalam pembongkaran, pemilihan bahan peledak
dengan energi kejut tinggi akan menguntungkan. Di sisi lain, jika bahan peledak
digunakan di lubang bor dan dibatasi dengan bahan stemming, bahan peledak
dengan output energi gas tinggi akan bermanfaat
Untuk membedakan antara kedua jenis energi, maka terdapat perbedaan
dalam reaksi bahan peledak yaitu peledak rendah dan tinggi. Bahan peledak
rendah adalah bahan yang mengempis atau terbakar dengan sangat cepat. Bahan
peledak ini mungkin memiliki kecepatan reaksi dua hingga lima ribu kaki per detik
dan tidak menghasilkan energi kejut. Bahan peledak jenis ini menghasilkan
pekerjaan hanya dari ekspansi gas.
Untuk memaksimalkan penggunaan tekanan peledakan, umumnya
diinginkan area kontak maksimum antara bahan peledak dan struktur. Bahan
peledak harus dimulai pada ujung yang bersentuhan dengan struktur. Bahan
peledak harus dipilih yang memiliki kecepatan ledakan tinggi dan kepadatan tinggi.
Kombinasi densitas tinggi dan kecepatan ledakan tinggi menghasilkan tekanan
ledakan yang tinggi pula.
BAB III
TUGAS DAN PEMBAHASAN

3.1 Tugas
1. Buat resume (dalam bentuk paragraf) mengenai Kepmen ESDM Nomor
1827 K/30/MEM/2018 dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia Nomor 17 Tahun 2017 Tentang Pengawasan, Pengendalian,
dan Pengamanan Bahan Peledak Komersil serta beri tanggapan hubungan
antara kedua peraturan tersebut dengan kegiatan teknis peledakan
2. Cari spesifikasi peralatan dan perlengakapan peledakan dari perusahaan
yang bergerak di bidang peledakan minimal 2 alat bor, peralatan dan
perlengkapan dari 5 perusahaan yang bergerak di bidang peledakan

3.2 Pembahasan
Bilamana mengacu pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 1827 K/30/MEM/2018 poin B nomor 6 tentang keselamatan bahan
peledak dan peledakan menyatakan bahwa Penyimpanan atau Penimbunan
Bahan Peledak disimpan di gudang yang berupa bangunan, kontener atau tangki
yang secara teknis mampu menyimpan bahan peledak secara aman.
Penyimpanan bahan peledak yang disimpan di tambang hanya pada gudang yang
telah mempunyai izin dengan kapasitas tertentu yang ditetapkan oleh KaIT/Kepala
Dinas atas nama KaIT secara tertulis. Bilamana gudang bahan bakar atau peledak
berada di luar WIUP dan/atau wilayah proyek dan akan digunakan untuk kegiatan
pertambangan, harus mendapat persetujuan.
Gudang bahan peledak yang digunakan untuk kegiatan lain harus
mendapat persetujuan dari KaIT/Kepala Dinas atas nama KaIT. Gudang bahan
peledak dibangun berdasarkan gambar konstruksi sesuai dengan persetujuan
RKAB Tahunan. Persyaratan teknis pembangunan gudang bahan peledak akan
diatur lebih lanjut dalam petunjuk teknisnya.
KaIT/Kepala Dinas atas nama KaIT dapat membatalkan Persetujuan
gudang bahan peledak yang tidak lagi memenuhi persyaratan. Untuk tambang

7
8

yang kegiatan pertambangan berhenti atau dihentikan untuk waktu lebih dari 3
(tiga) bulan, maka KTT/PTL harus melaporkan kepada KaIT/Kepala Dinas atas
nama KaIT dan gudang bahan peledak harus tetap dijaga.
Menurut pembagiannya, gudang peledak dibagi menjadi gudang peledak
sementara, gudang utama, dan gudang transit. Gudang sementara adalah gudang
yang dipergunakan untuk kegiatan pertambangan pada tahap eksplorasi,
konstruksi, dan persiapan penambangan. Gudang peledak ini dibagi menjadi:
a. Gudang Bahan Peledak Peka Detonator berdasarkan bentuknya dibagi
menjadi:
1. Gudang berbentuk bangunan, kapasitasnya kurang dari atau sama
dengan 8.000 kg
2. Gudang berbentuk kontener, kapasitasnya kurang dari atau sama
dengan 4.000 kg
b. Gudang Peledak Peka Primer dibagi lagi menjadi:
1. Gudang berbentuk bangunan, kapasitasnya kurang dari atau sama
dengan 20.000 kg
2. Gudang berbentuk kontener, kapasitasnya kurang dari atau sama
dengan 10.000 kg
c. Gudang Bahan Ramuan
1. Gudang berbentuk bangunan, kapasitasnya sama dengan atau kurang
dari 20.000 kg
2. Gudang berbentuk tangki, kapasitasnya sama dengan atau kurang dari
20.000 kg
3. Gudang berbentuk kontener, kapasitasnya sama dengan atau kurang
dari 20.000 kg
Gudang utama merupakan gudang yang digunakan sebagai tempat
penyimpan bahan peledak yang letaknya tidak terlalu jauh dari tambang dan dari
gudang ini bahan peledak dipakai untuk keperluan peledakan. Gudang ini dibagi
menjadi tiga jenis yaitu gudang bahan peledak yang peka detonator, dimana untuk
gudang dengan bangunan dan bentuk kontainer masing-masing berkapasitas
150.000 dan 4000 kg.
Untuk bahan peledak peka primer gudang handak dibagi tiga yaitu dengan
bentuk bangunan, tangki dan kontainer yang masing masing berkapasitas kurang
dari sama dengan 500.000 kg, 100.000 kg, dan 10.000 kg sedangkan gudang
9

bahan ramuan dibagi menjadi tiga yaitu dengan bentuk bangunan berkapasitas
2000.000 kg, tangki 300.000 kg dan kontener 25.000 kg.
Gudang transit adalah gudang yang dipergunakan sebagai tempat
penyimpanan sementara sebelum dipindahkan menuju gudang bahan peledak
utama dan berada di dalam WIUP dan/atau proyek area. Bahan peledak detonator
tidak boleh disimpan dalam gudang bahan peledak transit dan langsung disimpan
dalam gudang utama. Persyaratan teknis dari masing-masing gudang tersebut
diatur dengan petunjuk teknis yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
Berdasarkan pada Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia Nomor 17 Tahun 2017 Tentang Pengawasan, Pengendalian, dan
Pengamanan Bahan Peledak Komersil bab II jenis handak komersil terdiri dari
dinamit, blasting agent yang merupakan bahan baku handak komersial yang
menggunakan bahan selain nitrogliserin.
Water based explosive merupakan Handak Komersial yang tidak
mengandung komponen Handak Komersial dengan menggunakan air dalam
campurannya, yang meliputi slurry, watergel, dan emulsion explosived.
Ammonium nitrate prill/ammonium nitrate cair/ammonium nitrate solusion. ANFO
merupakan Handak Komersial yang terdiri dari campuran ammonium nitrate dan
fuel oil.
Shaped charges merupakan Handak Komersial yang mempunyai bentuk
geometris tertentu guna melaksanakan kegiatan logging, pemotong pipa selubung
atau konduktor, perforasi, sample taker atau ditching. Bahan baku untuk produksi
Handak Komersial yang sifatnya explosive, paling sedikit meliputi blasting gelatine
(mastermix), nitroglycerine, nitroglycol, nitrocellulose, pentaeritritoltetranitrat
(PETN).
Hubungan dari kedua peraturan ini yaitu dimana secara umum, kepmen
mengatur hanya dalam jangkauan luar seperti pengaturan umum segala yang
berhubungan dengan keamanan kerja di tambang sedangkan dalam keputusan
kepala kepolisian mengatur secara khusus tentang peledakan khususnya bahan
peledak dalam jangkauan pengawasan, pengendalian dan pengamanan bahan
peledak komersil.
Jarak Aman Gudang Bahan Peledak untuk setiap lokasi dan tempat
berbeda. Untuk gudang handak permukaan harusla mempertimbangkan
bangunan yang didiami orang, rumah sakit, bangunan lain/kantor, tempat
10

penimbunan bahan bakar cair, tangki, bengkel, dan jalan umum besar rel kereta
api, dan jalan umum kecil; dan antara gudang bahan peledak yang berdasarkan
kapasitas dari gudang bahan peledak.
Untuk lokasi gudang di bawah tanah dalam garis lurus paling kurang
berjarak 100 (seratus) meter dari sumuran tambang atau gudang bahan peledak
di bawah tanah lainnya, 25 (dua puluh lima) meter dari tempat kerja, 10 (sepuluh)
meter dari lubang naik atau lubang turun untuk orang dan pengangkutan dan 50
(lima puluh) meter dari lokasi peledakan.
Jarak aman peledakan yang diperuntukan bagi alat dan fasilitas
pertambangan 300 (tiga ratus) meter serta bagi manusia 500 (lima ratus) meter
dari batas terluar peledakan diukur pada jarak horizontal dan/atau berdasarkan
kajian teknis. Pada luasan area kegiatan pengeboran dan peledakan dibuat
tanggul dengan tinggi sekurangkurangnya 1/3 (satu per tiga) roda alat angkut
terbesar pada jarak 1 (satu) kali burden dari lubang ledak terluar. Sedangkan
dalam jalan tambang, akses dilengkapi dengan tanggul pengaman dengan tinggi
paling kurang ¾ (tiga perempat) roda terbesar kendaraan yang digunakan yang
mana pada crest lereng diberikan tanggul pengaman yang berfungsi untuk
menahan batuan yang jatuh dengan tinggi paling kurang 1 (satu) meter ditambah
4% (empat persen) dari tinggi lereng
Tempat penyimpanan bahan peledak dipersyaratkan selalu dalam
pengamanan oleh petugas satuan pengamanan gudang bahan peledak selama
24 (dua puluh empat) jam terus menerus. Wilayah gudang bahan peledak adalah
terlarang bagi pekerja tambang yang tidak berwenang, kecuali Inspektur Tambang
dan Polisi yang menangani bahan peledak. Bahan peledak hanya boleh ditangani
oleh juru ledak dan petugas gudang bahan peledak.
The CDTH 30 drilling rig is ideal for Exploration drilling application in rock formation. Thanks to its simple and compact
design, excellent performance, high accessibility and reliability at afford cost in its class. The CDTH 30 rig’s flexibility
means it will be mounted on crawler and (Rig can be mounted on two wheel or four wheel tractor or truck or trolley upon
customer request) Optional: Multipurpose drill rig (Core, DTH)
Key specification:
• Under carriage make/model crawler mounted
• Pull back force 3,500 kgf
• Pull Down force 1500 kgf
• Drill head torque 210 kg-m
• Rotary head speed 0-100 rpm
• Mast overall length 5000mm
• Air Compressor make ELGI/Atlas copco
Application - Blast Hole Drill
Hole Diameter - 3” to 8” (75mm to 200 mm)
Type of Drill - Down the Hole (DTH)
Depth - 100 mtr’s
Rod Handling Capacity - 9 mtr Single Stroke
Drill Rod Diameter - 60 mm to 115 mm
Machine Dimension
Length - 8200 mm
Width - 4200 mm
Height ( At drill rest condition) - 3950 mm

11
12

Materials : Wrap materials : Plastic or Cotton yarn Core of explosive : PETN


Water resistance : The detonation transmitting ability remains reliable after immersing in 0.5 meter water for 24 hours
Temperature range : Detonating property remains reliable after conditioning at 50 +-3oC for 6 hours and at 40 +-3oC for
2 hours
Velocity of detonation : 6500 m/s (min)
Dimension : Core of explosive : 6 gr/m; 10 gr/m Outside diameter : 6,2 mm
Packaging : Inner Packing : 5 - 10 rol @ 50m in plastic bag Outer Packing : Carton Box
Detail of packing : Dimension (mm) : 612(L)x 572(W)x 282(H) Gross wight (Kg) : 40
Self Life : 2 years
Physical/Mechanical Properties : - Type : Trunk Line Delay\ - Tube Material : Alumunium or Cooper Waterproof electric
detonator
Shock tube length (m) : 6; 7; 9; 12; 15
Resistance in water : 20 m depth 8 hours
Stretch : Stretch proof : electric detonator Static Stretch : 78,4 (N) Time : 1 minute
Self life : 2 years in close conditioning
Packaging : Inside packing : 20 Pcs in PVC bag or carton box Outside packing : 5 pvc bags or Carton boxes in carton
box
Delay time (ms) : 17 ; 25 ; 42 ; 67
Detonator listrik geoDETOSEIS mempunyai kekuatan lebih besar daripada detotnator No. 10, karena besarnya kompresi
dari material dasar yang dipakai. Setiap ujung pencetus detonator ini dilindungi dengan isolasi antistatik untuk
menghindari adanya timbul muatan listrik
Lenght : 32m Leadwires & 40m leadwires
Metal : Cu Cu
Dia (mm) : 0.70 0.70
13

 the continuous cartridge allows for decoupling of the explosives from the rockface by suspension in the hole and is quicker
to load.
 The internally traced Detonating cord provides a high VOD with low volumes of gas being generated making it perfectly
suited to the design requirements of a pre-split shot.
 Precision blasting provides improved safety in ground control and reduces potential rockfall.
 Oxygen balanced explosive (no nitroglycerine)
 High weight strength allows increased borehole spacing and reduces drilling costs.
 Internal detonating cord ensures continuity of detonation
 MEGASPLIT® has exceptional water resistance, diminishing nitrate leeching into the ground and the subsequent
environmental impact.
 MEGASPLIT® is reliably initiated by No. 8 strength detonator or its own detonating cord.
 Excellent water resistance
 Range – 0 to 1999 Ohms

 Neatly compatible with JOHNEX INTERDET®


 Robust, triple layered surlyn shock tube provides superior abrasion and diesel resistance
 Can be used at elevated temperatures up to 70˚C
 Can be packaged as 1.4S - UN 0500
 Shelf life of two (2) years under ideal conditions once vacuum sealed bag is open
14

 Post-blast fumes are reduced when using MEGAGEL®


 Superior cartridge film strength prevents cartridge splitting and snagging in hole.
 MEGAGEL® has exceptional water resistance, diminishing nitrate leaching into the ground and the subsequent
environmental impact.
 MEGAGEL® is reliably initiated by No. 8 strength detonators.
 MEGAGEL® may be used at temperatures up to 55ºC (subject to statutory regulations).
 Unique lock in capwell provides a totally safe protected environment for the detonator which can be reverse or forward
primed in the borehole.
 The hypersonic VOD increases performance of ANFO and emulsions at the butt where the energy is required.
 Unique explosives formulation provides twice the detonating pressure than cartridge emulsion.
 Directional firing allows focusing of the shockwave towards the butt of the borehole.
 The specialised custom shape saves time when charging.
 The compact diameter allows for loading of constricted boreholes.
 Unlike emulsion cartridges, deadpress is totally eliminated.The fully sealed plastic shell enables the primer to be 100%
water resistant
 High energy flared end eliminates the need for a separate primer.
 High velocity of detonation (VOD) minimizes geological stress and reduces overbreak to an average of 4%
 Decoupled charge produces precision shearing which minimises the need for rebogging
 Charging time is reduced by up to 50%
 Reduces scaling times substantially (50%-70%)
 Reduces shotcrete coating by and average of 30%
 Precision blasting provides improved safety in ground control and reduces potential rockfall
 Oxygen balanced explosive (no nitroglycerine)
 Prefitted Autostem spiders® eliminate the need for stemming
 Jumbo downtime is reduced due to precision shearing and less scaling
 Waterproof
15

Authorised Name of Explosive : SUPERPOWER 90


Proper Shipping Name : EXPLOSIVE, BLASTING, TYPE E
Class / Div. : 1.1D
UN No. : 0241
The disposal of explosives material is dangerous and require special training. Methods used for safe disposal may vary
from case to case and will depend upon conditions under which the operations take place. For further information please
contact Solar representative in your area.
 Excellent water resistance
 1.65 g/cm3 assists downhole loading
 High VOD 7400m/s
 Can be used at elevated temperature up to 65ºc
 User friendly
 Totally sealed plastic outer shell
 Designed for easier loading and user safety
 Unique “self centering” primer basket

Capacity – 200 Electric Detonators


16

PRODUCT RANGE & APPLICATION


CDET ELECTRA-G / CDET ELECTRA-P (Instantaneous)
Permitted Instantaneous Electric Detonators are used for simultaneous initiation of multiple explosive charges in blast
holes in a controlled manner.
CDET VECTRA CDD / CDET VECTRA PDD (Delay)
Permitted electric delay detonators are available in numbers 0 to 6 with a nominal interval of 25ms. The delay timing
ensures hole by hole sequencing to achieve desired fragmentation with low levels of vibration and noise. The detonators
are designed for precision and accuracy with no delay overlap.
MODEL TYPE TC-60
Charge volume (m3) 0.1
Max. charge weight (kg)70
Number of blast wheels & capacity 1 x 3 Hp (2.2 Kw)
Total power requirements 5 Hp (3.7 Kw)
Machine dimensions (mm) W 1100
D 900
H 2500
Customer owned, easy to use bulk emulsion delivery system
Inherent safety pumping system with no safety interlocks required
Ability to load a range of bulk emulsion densities
Can load long up-holes from bottom up
Can load solid sensitised or gas sensitised emulsion
Emulsion tanks can we tailored to individual customers requirements
Low maintenance
Driven by compressed air
Manual control system to enable monitoring data logging
Compact design allows for rapid mobilisation
BAB IV
ANALISIS

Apabila dilakukan perbandingan terhadap Keputusan Menteri Energi dan


Sumber Daya Mineral Nomor 1827 K/30/MEM/2018 Tentang Pedoman Pelaksaan
Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik dengan Peraturan Kepala Kepolisian
Negara Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2017 Tentang Pengawasan,
Pengendalian, dan Pengamanan Bahan Peledak Komersil maka dapat terlihat
secara jelas bahwa Kepmen hanya mengatur tentang pelaksanaan pertambangan
secara umum yang mana tidak secara khusus mengatur tentang teknis peledakan
yang didalamnya juga dimuat beberapa peraturan tentang pengkajian oleh dan
pejabat pemerintahan berwenang dalam kegiatan pertambangan, namun bila
pengacuan dilakukan pada Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia Nomor 17 Tahun 2017 yang didalamnya secara khusus menjelaskan
tentang teknis peledakan utamanya Pengawasan, Pengendalian, dan
Pengamanan Bahan Peledak maka dapat terlihat bahwa kedua peraturan ini saling
mendukung satu sama lain.
Dalam Kepmen ESDM tidaklah dijelaskan secara umum tentang
pembuatan dan pelarangan secara rinci tentang pengaturan yang ada tentang
bahan peledak namun sebagai gantinya didalam Kepmen dijelaskan teknis
lapangan yang ada seperti pengaturan kepemilikan, penyimpanan didalam
ruangan (gudang, kontener, tangki), pengaturan tanggul, hingga penggunaannya
yang mana tidak secara langsung dijelaskan dalam Peraturan Kepala Kepolisian
Negara Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2017

17
BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil pemaparan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan


bahwa:
1. Dalam kegiatan peledakan dikenal berbaga macam peralatan dan
perlengkapan Peralatan merupakan pendukung yang dapat digunakan
lebih dan sekali atau dapat digunakan berulang Sebagai contoh adan
blasting machine, Bench Box, Shotgun. Ohmeter dan lain sebagainya
Sedangkan pertengkapan merupakan pendukung yang dalam ska
penggunaan tidak dapat digunakan kembal sebagai contah adaiah
detonator Sumbu ledak, sumbu bakar dan lain sebagainya
2. Bahan peledak utamanya detonator dibagi menjadi beberapa yatu
detonator listrik, detonator nonel, detonator elektrik, dan detonator biasa
Penggunaan dan pemanfaatan dan setiap detonator ini berdasarkan
keadaan yang ada di lapangan dan tujuan akhir yang ingin dicapai terutama
dari segi biaya
3. Berdasarkan pada Keputusan Menteri ESDM 1827K//30/MEM/2018
tentang keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan umum, secara
luas menyatakan dan mengatur segala macam persyaratan dan
pengaturan setiap sektor pertambangan dalam tiap pelaksanaannya
sebagai bentuk pengganti dan pembaharu dari Kepmen 555

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Abrasive Blasting Respiratory Protective Practices. U.S. Department of


Health, Education and Welfare, Center for Disease Control,
National Institute for Occupational Safety and Health, Division of
Laboratories and Criteria Development. Cincinnati, Ohio, 1974.

2. Ash, R.L., and Konya, C.J., "Flexural Rupture: A New Theory on Rock
Breakage by Blasting." international Conference on
exlosives and Blasting Technique. DD. 13-19, Linz, Austria: WIFI,
1975

3. Hansen E. - 1971. “Strain facies, Minerals, Rocks and Inorganic


Materials”. Springer-Verlag, Berlin, 208 p.

4. Spenser, L.S. Abrasive Blasting. Metal Finishing, 1975.

19