Anda di halaman 1dari 17

PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS VI DENGAN MODEL JIGSAW

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Salah satu indikator keberhasilan pembelajaran adalah tingkat ketuntasan tinggi. Hal
ini terjadi bila dalam pembelajaran siswa aktif dan responsif. Namun fakta yang peneliti
alami sangat kontradiktif. Selama proses pembelajaran Matematika tentang operasi hitung
yang melibatkan berbagai bentuk pecahan pada kelas VI SDN 3 Lamokato tahun pelajaran
2017/2018 semester II motivasi belajar siswa sangat rendah. Para siswa sangat pasif tidak
bergeming, hanya beberapa siswa saja yang aktif dalam pembelajaran. Hasil belajar siswa
terpuruk, jauh di bawah kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan yaitu 60. Dari
hasil ulangan formatif sejumlah 14 siswa, hanya 6 siswa yang tuntas, sedangkan 8 siswa
belum tuntas. Pencapaian ketuntasan pembelajarannya 43 % sedangkan 57 % siswa belum
tuntas. Nilai tertinggi yang mampu dicapai 70 itu pun hanya 2 siswa, adapun nilai terendah
30 dan diduduki 3 siswa. Nilai rata-rata kelas 50, kondisi yang demikian sangat
memprihatinkan. Daya serap pembelajaran hanya 50 %, jauh dari tuntutan pembelajaran
mastery learning. Rendahnya motivasi dan hasil belajar tersebut karena peneliti selama 3
kali tatap muka belum menerapkan model pembelajaran jigsaw.
Peneliti dalam menyajikan pembelajaran Matematika tentang operasi hitung yang
melibatkan berbagai bentuk pecahan kurang dapat memotivasi siswa sehingga siswa tidak
aktif dalam pembelajaran. Metode ceramah dan penugasan sangat mendominasi. Siswa
pasif hanya duduk mendengarkan dan menunggu perintah saja. Pembelajaran berlangsung
secara konvensional yang bersifat satu arah terpusat pada guru (teacher centered) sehingga
pembelajaran terasa kering dan membosankan, serta tidak bermakna. Kreativitas siswa
seakan beku tidak terdistribusikan. Respon terhadap materi pembelajaran sangat minim.
Kerja sama diantara siswa tidak terbangun. Siswa belajar secara klasikal tanpa adanya
diskusi kelompok. Siswa hanya mementingkan dirinya sendiri tidak mau membantu siswa
lain yang belum dapat memahami materi pembelajaran. Keterampilan sosial siswa tidak
tersalurkan. Situasi belajar yang terjadi sangat individualistik tidak kompetitive dan
kooperative. Memang Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang
digemari sebagian besar siswa.sehingga hasil belajar sangat rendah.
Bertolak dari motivasi dan hasil belajar siswa yang rendah maka hal tersebut perlu
ditingkatkan. kalau tidak kriteria ketuntasan belajar siswa juga tidak dapat meningkat. Bila
KKM sama seperti tahun sebelumnya maka mutu pendidikan tidak akan meningkat dan
berkembang. KKM yang rendah tidak mencerminkan terealisasinya visi dan misi sekolah.
Apa lagi Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ikut dalam Ujian Nasional.
Untuk dapat menyelesaikan soal-soal dalam Ujian Nasional maka siswa dituntut memiliki
kemampuan yang memadai. Apalagi nilai Ujian Nasional sangat menentukan kelulusan
siswa. Jika nilai Matematika siswa rendah, maka siswa tidak akan lulus.. Jika ada salah satu
siswa yang tidak lulus maka citra sekolah akan menurun yang berdampak pada perolehan
siswa baru akan menurun, karena masyarakat tentu akan memilih menyekolahkan anaknya
pada sekolah yang mutu lulusannya tinggi. Nilai lulusan siswa yang rendah juga
mengakibatkan siswa kesulitan dalam melanjutkan sekolah yang favorit, bahkan siswa
cenderung tidak melanjutkan Namun sebaliknya jika nilai lulusan tinggi maka akan
mendongkrak nama baik sekolah, Siswa akan mudah diterima di sekolah yang negeri dan
juga sekolah favorit, Animo melanjutkan sekolah tinggi tidak seorang siswa pun yang tidak
melanjutkan.
Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar yang rendah peneliti menerapkan
model pembelajaran jigsaw, karena dengan model pembelajaran jigsaw siswa akan terlibat
aktif dalam diskusi penyelesaian tugas, sehingga tugas yang semula terasa berat menjadi
ringan. Memang model pembelajaran jigsaw termasuk student centered yakni
pembelajaran yang berpusat pada murid. Partisipasi siswa sangat besar, keaktifan dituntut
maksimal. Dengan demikian siswa akan mampu menyerap dan mengkontruksi seluruh
materi pembelajaran tanpa ada tekanan sehingga terasa menyenangkan. Model
pembelajaran jigsaw juga dapat membangkitkan keterampilan sosial dan kreatifitas,
sehingga siswa mampu membangun komunitas belajar yang menumbuhkan rasa percaya
diri. Siswa akan lebih berani mengemukakan pendapatnya dalam diskusi dan juga dapat
menghargai pendapat temannya, pembelajarannya terasa bermakna (meaningful learning).
Siswa akan dapat menyelesaikan tugas dengan baik, karena pembelajarannya secara multi
arah, sesama siswa saling memberi dan menerima serta melengkapi. Siswa bekerja keras
baik secara individu maupun kelompok sehingga mastery learning tercapai.
Rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa sangat perlu ditingkatkan. Hal ini sejalan
dengan program pemerintah yaitu menciptakan pendidikan bermutu dan berkarakter
bangsa berbudi pekerti luhur. Bila motivasi dan hasil belajar siswa tidak ditingkatkan maka
tujuan pembelajaran tidak akan terwujudkan. Program pemerintah dan tuntutan
masyarakat tentang pendidikan bermutu tidak akan terealisasikan. Sebagai dampaknya
adalah siswa pasif, pengetahuannya tidak berkembang, apalagi terbentuknya siswa kreatif
dan mandiri. Bila sajian pembelajaran masih teacher centered maka hasilnya akan nihil
seperti semula. Untuk memicu motivasi dan meningkatya hasil belajar, sajian pembelajaran
harus diubah dari teacher centered menjadi student centered seperti dalam model
pembelajaran jigsaw yang menuntut keaktifan seluruh siswa sehingga hasil belajar akan jauh
lebih baik.
Sebagai solusi tindakan yang peneliti lakukan untuk meningkatkan motivasi dan hasil
belajar adalah menerapkan model pembelajaran jigsaw. Pada siklus pertama dalam sajian
pembelajaran siswa terbagi dalam kelompok-kelompok diskusi yang beranggotakan 4-5
siswa. Dalam pembentukan kelompok terdiri atas kemajemukan tingkat kecerdasan, sosial,
ras, dan agama. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi adanya kelompok pandai dan kurang
pandai kelompok kaya dan miskin, kelompok putra dan putri atau kelompok mayoritas dan
minoritas sehingga jalannya diskusi kelompok terasa hidup dan terfokus pada penyelesaian
tugas yang diberikan, Untuk siklus kedua siswa terbagi atas kelompok berpasangan atau
dua-dua, dan dilanjutkan tugas individual dikandung maksud agar siswa memiliki rasa
tanggung yang lebih besar dan lebih mandiri. Dengan demikian pengalaman belajar siswa
semakin komplek yang memberikan dampak positif pada hasil pembelajaran yaitu
meningkatnya motivasi dan hasil belajar siswa.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka teridentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Mengapa motivasi Matematika tentang bilangan pecahan rendah?
2. Mengapa hasil belajar Matematika tentang bilangan pecahan rendah?
3. Mengapa motivasi dan hasil belajar Matematika tentang bilangan pecahan rendah?
C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini yang menjadi fokus masalah adalah motivasi, hasil belajar, dan
model pembelajaran jigsaw. Motivasi berperan penting dalam pembelajaran. Kuatnya
motivasi akan berdampak positif, sebaliknya lemahnya motivasi hasilnya tidak akan
maksimal. Hasil belajar sangat dipengaruhi motivasi belajar seseorang. Hasil belajar agar
maksimal selain diperlukan motivasi yang tinggi, sajian pembelajarannya harus menarik,
berkesan, dan menyenangakan, sehingga siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Suatu
pembelajaran dikatakan berhasil jika hasil pembelajaran sesuai harapan dan tujuan
pembelajaran yang telah digariskan. Untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal
model pembelajaran jigsaw sangat efektif untuk diterapkan, karena semua siswa akan
terlibat aktif dalam pembelajaran.
Motivasi merupakan perangsang atau dorongan dalam diri individu untuk bertindak
mencapai tujuan. Bila kita melakukan suatu aktivitas tanpa adanya motivasi maka hasilnya
tidak seperti yang diharapkan. Dalam pembelajaran guru hendaknya mampu
membangkitkan motivasi siswa, antara lain dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran,
merespon jawaban siswa meskipun jawabanya belum benar, memberikan pujian, menilai
hasil pembelajaran, memberikan hadiah, dan menyajikan pembelajaran yang menarik.
Motivasi siswa juga dapat terbangkitkan oleh siswa lain dalam komunitas belajar. Kuatnya
motivasi belajar dalam diri siswa akan mempengaruhi kesungguhan selama mengikuti
proses pembelajaran. Motivasi belajar merupakan dorongan dari dalam diri individu untuk
melakukan perubahan diri menjadi lebih baik. Kuat lemahnya motivasi belajar akan
berpengaruh pada hasil belajar. Motivasi belajar diupayakan selalu adanya peningkatan.
Hasil belajar siswa menjadi tolok ukur sebuah keberhasilan pembelajaran. Hasil belajar
adalah produk perubahan tingkah laku menuju lebih baik yang dilakukan dengan berbagai
macam latihan secara terus menerus dan berkesinambungan. Hasil belajar siswa akan
meningkat apabila intensitas latihan dilakukan dengan serius ditunjang sarana dan
prasarana yang memadai. Banyaknya latihan yang tidak dilandasi keseriusan tidak akan
membuahkan hasil lebih baik. Untuk itu saat melakukan berbagai latihan harus fokus pada
hal yang dipelajari sehingga terjadi konstruktivistik diri dalam membangun pengetahuan dan
pengalaman belajar. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar bisa berasal dari dalam diri
siswa sendiri dan juga berasal dari luar. Pembelajaran yang menarik dan menyenangkan
akan dapat mengangkat hasil belajar. Kekondusifan lingkungan belajar dan hubungan
komunitas belajar juga dapat mempengaruhi hasil belajar.
Model pembelajaran jigsaw merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperativ
(cooperative learning). Ciri khas pembelajaran kooperativ adalah adanya diskusi kelompok
dalam penyelesai tugas. Yang membedakan model pembelajaran jigsaw dengan lainnya
adalah adanya kelompok ahli (expert group) dan kelompok asal (home teams). Cara diskusi
dalam penyelesaian tugasnya pun unik. Tiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab
yang berbeda kemudian berdiskusi dalam kelompok ahli untuk menyelesaikan tugasnya.
Karena diskusinya dalam kelompok ahli maka pemahamannya akan lebih mendalam.
Dengan adanya tanggung jawab berbeda maka siswa dituntut lebih aktif, mandiri, berani,
dan dapat bekerjasama secara maksimak. Jadi model pembelajaran jigsaw sangat relevan
untuk meningkatkan hasil belajar. Dari uraian tersebut terdefinisikan pengertian model
pembelajaran jigsaw yaitu model pembelajaran yamg penyelesaian tugasnya melalui diskusi
tim ahli, kemudian hasil diskusinya disebarkan pada anggota kelompok asal dan dilanjutkan
presentasi kelas.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah di atas
maka sebagai rumusan masalahnya sebagai berikut:
1. Apakah melalui penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan motivasi
belajar Matematika tentang bilangan pecahan bagi siswa kelas VI SD 1 Honggosoco
Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus pada semester II tahun pelajaran 2011/2012?
2. Apakah melalui penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan hasil
belajar Matematika tentang bilangan pecahan bagi siswa kelas VI SD 1 Honggosoco
Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus pada semester II tahun pelajaran 2011/2012?
3. Apakah melalui penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan motivasi
dan hasil belajar Matematika tentang bilangan pecahan bagi siswa kelas VI SD 1 Honggosoco
Kecamatan jekulo Kabupaten Kudus pada semester II tahun pelajaran 2011/2012?

E. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
a. Untuk meningkatkan motivasi seluruh siswa SD 1 Honggosoco.
b. Untuk meningkatkan hasil belajar bagi siswa SD 1 Honggosoco.
c. Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar bagi seluruh siswa
SD 1 Honggosoco.
2. Tujuan Khusus
a. Melalui penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan motivasi
Matematika tentang bilangan pecahan bagi siswa kelas VI SD 1 Honggosoco pada semester
II tahun pelajaran 2011/2012
b. Melalui penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar
Matematika tentang bilangan pecahan bagi siswa kelas VI SD 1 Honggosoco pada semester
II tahun pelajaran 2011/2012
c. Melalui penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil
belajar Matematika tentang bilangan pecahan bagi siswa kelas VI SD 1 Honggosoco pada
semester II tahun pelajaran 2011/2012
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi Siswa
a. Dapat meningkatnya motivasi.
b. Dapat meningkatnya hasil belajar.
c. Dapat meningkatnya motivasi dan hasil belajar
2. Manfaat Bagi Peneliti
a. Melalui penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatnya motivasi
Matematika tentang bilangan pecahan bagi siswa kelas VI SD 1 Honggosoco pada semester
II tahun pelajaran 2011/2012
b. Melalui penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatnya hasil belajar
Matematika tentang bilangan pecahan bagi siswa kelas VI SD 1 Honggosoco pada semester
II tahun pelajaran 2011/2012
c. Melalui penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatnya motivasi dan hasil
belajar Matematika tentang bilangan pecahan bagi siswa kelas VI SD 1 Honggosoco pada
semester II tahun pelajaran 2011/2012
3. Manfaat Bagi Sekolah
a. Meningkatnya mutu lulusan
b. Meningkatnya ajang diskusi pemecahan kasus pembelajaran
c. Meningkatnya kerjasama untuk kemajuan sekolah
d. Meningkatnya iklim sekolah yang kondusif
4. Manfaat Bagi Teman Sejawat
a. Sebagai acuan melakukan penelitian
b. Sebagai referensi penelitian yang akan dilakukan
c. Meningkatkan wawasan pembelajaran
d. Memberikan alternative pemecahan kasus pembelajaran
5. Manfaat Bagi Perpustakaan Sekolah
a. Memperkaya hasanah kepustakaan sekolah
b. Sebagai dokumen PTK di sekolah
c. Sebagai bukti laporan penanganan kasus pembelajaran

BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
1. Motivasi Belajar Matematika
a. Hakikat Motivasi
Menurut Daryanto (1994:141) motivasi adalah dorongan yang timbul untuk melakukan
tindakan. Devinisi senada disampaikan oleh Wahyudin (2008:2.37) motivasi adalah
kecenderungan atau dorongan pada diri individu untuk melakukan suatu tindakan. Motivasi
yang bersumber dari dalam diri individu memiliki potensi yang kuat untuk mewujudkan
gagasan atau imajinasi diri. Apalagi bila didukung situasi dan kondisi yang memadai, maka
gagasan akan mudah direalisasikan. Namun perlu diwaspadai karena motivasi dapat
melahirkan dampak positif dan juga negatif tergantung pada diri seseorang. Motivasi yang
berdampak negatif hendaknya sedapat mungkin diubah menuju dampak yang positif untuk
peningkatan kualitas diri.
Oleh Winataputra (2008:3.15) motivasi didefinisikan sebagai suatu kondisi khusus yang
dapat mempengaruhi individu untuk belajar. Jadi untuk dapat belajar dengan maksimal
siswa memerlukan kondisi yang khusus. Hal ini dimaksudkan agar siswa dalam
mengembangkan potensi dirinya berjalan secara wajar tanpa adanya tekanan dan gangguan
dari luar, karena diri siswa masih labil mudah terimbas pengaruh lingkungan. Motivasi
belajar sangat penting dalam pembelajaran, karena motivasi dapat mendorong kemauan
belajar siswa sehingga siswa memiliki kecenderungan untuk mengulangi apa yang sudah
dipelajari. Proses pengulangan yang terus menerus akan memberikan pemahaman yang
mendalam dan kematangan diri.
Afifudin (1986:110-111) menggolongkan motivasi menjadi dua, yaitu: (1) motivasi
intrinsik yakni bentuk motivasi atau kesediaan untuk belajar karena terdorong oleh rasa
ingin tahu, (2) motivasi ekstrinsik yaitu bentuk motivasi atau kesediaan untuk belajar karena
terdorong oleh keinginan untuk mendapat sesuatu. Bekerjanya kedua motivasi tersebut
tidak selalu sejalan, terkadang berseberangan. Bruner menekankan pentingnya motivasi
intrinsik bila dibanding motivasi ekstrinsik namun bila keduanya saling bersinergi siswa akan
lebih aktif dalam belajar dan berdampak positif
Pada umumnya motivasi intrinsik lebih kuat dari pada motivasi ekstrinsik (Purwanto,
1996:82), namun sebenarnya keduanya saling melengkapi dan menguatkan. Motivasi
ekstrinsik berfungsi bila ada rangsangan dari luar. Motivasi sangat diperlukan dalam
berbagai proses pembelajaran. Dengan adanya motivasi pembelajaran akan lebih bermakna,
lebih efektif dan maksimal. Bila motivasi intrinsik kuat, siswa terlihat aktif dan tekun siswa.
Kesinergian motivasi intrinsik dan ekstrinsik membuat siswa lebih bersemangat dalam
mengekspresikan potensi diri meraih keberhasilan. Motivasi ekstrinsik agar bersinergi
dengan motivasi intrinsik diperlukan pembiasaan yang terus menerus agar tidak
berseberangan. Selama proses pembelajaran diupayakan motivasi tetap terpelihara dan
tidak surut.
Fungsi motivasi belajar adalah untuk meggerakkan siswa belajar aktif dan kreatif,
menyeleksi perbuatan yang harus dilakukan dan mendorong tingkah laku untuk belajar.
Siswa yang memiliki motovasi tinggi akan berpengaruh pada keberhasilan belajarnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa motivasi yang tinggi akan mengantarkan
keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuan yang diinginkan secara maksimal.

b. Hakikat Belajar
Belajar berarti perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan,
misalnya membaca, mengamati, mendengarkan dan meniru (Winkel, 1996:21). Perubahan
tingkah laku tidak dapat terjadi secara tiba-tiba melainkan berproses melalui serangkaian
tahapan kegiatan atau latihan yang dilakukan secara serius terpadu dan konsisten untuk
memperoleh beragam kemampuan, keterampilan, dan sikap yang lebih baik dari semula.
Hal ini sejalan dengan Bell-Gredler (1986:1) yang mendefinisikan belajar sebagai proses yang
dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skill, and attitudes.
Aktivitas belajar dilakukan mulai dari masa bayi hingga akhir hayat dan dapat dilakukan
melalui pendidikan formal, informal, dan non formal, bahkan bisa terjadi di mana pun dan
kapan pun.
Menurut Afifudin (1986:109) belajar diartikan sebagai suatu proses pembentukan atau
perubahan tingkah laku yang mengarah kepada penguasaan pengetahuan, kecakapan,
keterampilan, kebiasaan, sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan. Dari
kegiatan belajar akan terjadi perubahan menuju peningkatan kualitas dalam pengetahuan,
kecakapan, keterampilan, kebiasaan, dan sikapnya. Jadi yang dihasilkan dari kegiatan belajar
yaitu adanya perubahan tingkah laku yang maju (progresif) dan penyelarasan atau
penyesuaian (adaptif).
Bell-Gredler (1986:317) mengintisarikan konsep belajar menjadi enam teori belajar
secara kontemporer yakni: (1) Teori operant conditioning dari B.F. Skinner; (2) Teori codition
of learning dari Robert Gagne; (3) Teori information processing; (4) Teori cognetiv
development dari Jean Peaget; (5) Teori social learning dari Albert Bandura; (6) Teori
attribution dari Bernard Weiner.
Berkenaan dengan proses belajar yang terjadi pada diri siswa, Gagne dalam
(Winataputra, 2008:1.9-1.11) mengemukakan delapan jenis belajar yaitu: (1) Belajar isyarat
(signal learning); (2) Belajar stimulus-respon (stimulus-response learning); (3) Belajar
rangkaian (chaining learning); (4) Belajar asosiasi verbal (verbal association learning); (5)
Belajar membedakan (discrimination learning); (6) Belajar konsep (concept learning); (7)
Belajar hukum atau aturan (rule lerning); (8) Belajar pemecahan masalah (problem solving
learning);
Agar belajar menjadi bermakna dan memiliki struktur informasi yang kuat, siswa harus
aktif mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci yang ditemukannya sendiri, bukan hanya sekedar
menerima penjelasan dari guru saja. Dalam proses pembelajaran siswa benar-benar
dituntut keaktifan dan kreatifitasnya. Siswa harus mampu mendayagunakan potensi diri dan
mengeksplor temuan selama pembelajaran sehingga hasil belajar akan maksimal. Dengan
demikian prinsip belajar tuntas (mastery learning) akan terwujud.
Slameto (2003:2) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari belajar tidak terjadi secara tiba-tiba melainkan berproses dan
berkelanjutan yang diperolehnya melalui berbagai latihan secara tekun. Lingkungan,
keseriusan, dan frekuensi latihan sangat mempengaruhi hasil belajar yang maksimal.
Angkowo (2007:49) mengemukakan bahwa belajar akan efektif jika dilakukan dengan
suasana menyenangkan. Maka perlu diciptakan suasana dan sistem yang kondusif dalam
pembelajaran. Mensikapi hal tersebut guru sebagai pengajar, fasilitator dan motivator
harus mampu memfasilitasi dan memotivasi siswa agar siswa dapat mengembangkan
potensi dirinya secara maksimal. Sejalan dengan hal tersebut Soedjadi (1991:26)
mengemukakan bahkan mungkin memerlukan perombakan kebiasaan mengajar yang sudah
rutin dewasa ini, dari pembelajaran tradisional menuju ke pembalajaran yang kooperatif,
interaktif, dan inovatif sehingga mutu pembelajaran meningkat

c. Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam individu yang
menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar dan memberi arah demi
tercapainya tujuan belajar (Winkel, 1991:92). Aktivitas pembelajaran akan menuai hasil
maksimal bila motivasi belajar selama proses pembalajaran meningkat, terarah dan terpadu.
Guru sebagai motivator hendaknya mampu membangkitkan motivasi siswa dalam
pembelajaran. Sedapat mungkin guru harus dapat mimicu motivasi belajar siswa baik
motivasi intrinsik maupun ekstrinsiknya, sehingga siswa selalu bersemangat dan fokus
dalam mengikuti pembelajaran.
Menurut Sumanto (1984:108) faktor yang mempengaruhi motifasi belajar digolongkan
menjadi tiga, yaitu: (1) stimulasi belajar; (2) metode belajar; (3) faktor individual. Motivasi
belajar tidak bersifat statis namun dinamis hal yang demikian dapat dikondisikan,
dimantapkan, dan ditingkatkan. Menurut Dimyati (1999:102) untuk meningkatkan motivasi
belajar dapat ditempuh dengan berbagai cara dan pada prinsipnya adalah pengoptimalan
potensi diri, karena setiap siswa pada dirinya telah melekat potensi yang siap dikembangkan
dan dioptimalkan, untuk itu dalam pembelajaran diperlukan usaha guru membangkitkan
motivasi belajar melalui berbagai model pembelajaran.
Usaha yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa menurut
Hamalik (2001:167) adalah sebagai berikut: (1). penilaian yang dilakukan secara kontinu
mendorong siswa untuk belajar; (2) pujian dapat mendorong rasa puas dan senang
dapat mendorong semangat belajar; (3) pemberian hadiah baik berupa materi maupun
bintang kehormatan; (4) Kerja kelompok yang harmonis; (5) persaingan yang sehat; (6)
penggunaan media pembelajaran elektrnika dan lain-lain.
Selanjutnya Dimyati (1999:102) menjelaskan untuk meningkatkan motivasi belajar
dapat juga ditempuh dengan cara: (1) mencipkatakan suasana belajar yang menyenangkan;
(2) memberanikan siswa untuk berdiskusi tentang keberhasilan atau kegagalan mencapai
keinginan. Guru juga dapat menggunakan media pembalajaran yang sesuai yakni
menggunakan CD pembelajaran, memanfaatkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran,
penerapan motede yang sesuai, pengelolaan kelas yang kondusif, penerapan model
pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

2. Hasil Belajar Matematika Bilangan Pecahan


a. Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2001:22) hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang
dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan sebagai hasil
belajar siswa beragam tingkatnya. Ada yang berkemampuan tinggi, sedang dan juga rendah.
Hal ini berpengaruh pada hasil pengalaman belajar. Bagi siswa yang berkemampuan tinggi
maka hasil belajarnya akan maksimal, tetapi bagi siswa yang berkemampuan rendah maka
hasilnya tidak bisa maksimal. Hasil belajar tampak dalam bentuk perubahan perilaku dan
perubahan pribadi seseorang ke arah yang lebih baik. Pengalaman belajar siswa meskipun
dalam situasi belajar yang sama namun hasilnya berbeda. Bagi siswa yang telah memiliki
kesiapan dan kematangan serta kepekaan maka hasil belajarnya akan sangat membantu
menuju ketercapaian maksud dan tujuan pembelajaran.
Hal yang senada dikatakan oleh Anni (2006:5) bahwa hasil belajar merupakan
perubahan perilaku yang diperoleh setelah mengalami aktivitas belajar. Menurut Soemanto
(2006: 112-113) yang termasuk aktivitas belajar antara lain berfikir dan latihan atau praktik.
Dengan berfikir maka akan memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya menjadi tahu
hubungan antar sesuatu. Dengan berlatih tentunya telah mempunyai dorongan untuk
mencapai tujuan tertentu yang dapat mengembangkan sesuatu aspek pada diri sendiri. Saat
berlatih terjadi interaksi yang integral ke arah tujuan sehingga terkontruksi suatu
pengalaman yang dapat mengubah diri bahkan dapat mengubah lingkungan. Namun
perubahan perilaku sangat tergantung apa yang dipelajari dalam pembelajaran.

b. Hakikat Matematika
Menurut Ruseffendi (1988:23) menyatakan bahwa metematika itu terorganisasikan
dari unsur-unsur yang tidak didevinisikan, definisi-definisi aksioma-aksioma, dan dalil-dalil,
di mana dalil-dalil setelah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum, karena itulah
matematika sering disebut ilmu deduktif. Selanjutnya Johnson dalam (Karso, 2009:1.39-40)
menyatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian
yang logik; matematika adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefiniskan dengan
cermat, jelas, dan akurat representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa
simbol mengenai arti dari pada bunyi; selanjutnya dijelaskan metematika adalah
pengetahuan struktur yang terorganisasi, sifat-sifat atau teori-teori dibuat secara deduktif
berdasarkan kepada unsur yang tidak didefinisikan, aksioma, sifat, atau teori yang telah
dibuktikan kebenarannya; matematika adalah ilmu tentang pola keteraturan pola atau ide;
dan matematika itu adalah suatu seni, keindahannya terdapat pada keterarutan dan
keharmonisannya.
Matematika dikenal sebagai ilmu dedukatif karena setiap melakukan pembuktian
menggunakan pendekatan deduktif. Dalam sajian pembelajarannya tidak dilakukan secara
melompat-lompat tetapi bertahap dan berkesinambungan, yang dimulai dari pemahaman
ide dan konsep sederhana ke jenjang yang lebih kompleks. Pembelajaran matematika
berkembang dari yang mudah ke yang sukar. Seseorang tidak mungkin mempelajari konsep
lebih tinggi sebelum menguasai prasyarat atau memahami konsep yang lebih rendah.
Reys dalam Karso (2009:1.40) mengatakan bahwa matematika adalah telaahan
tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola pikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu
alat, sedangkan menurut Kline dalam Karso (2009:1.40) bahwa matematika itu bukan
pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi
keberadaannya untuk membantu manusia memahami, menguasai, permasalahan sosial,
ekonomi, dan alam.
Menurut Karso (2009:1.40) matematika disebut ilmu deduktif, karena kita ketahui
bahwa baik isi maupun metode pencarian kebenaran dalam matematika berbeda dengan
ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan umumnya. Metode pencarian kebenaran
yang dipakai oleh matematika adalah metode deduktif, sedangkan ilmu pengetahuan alam
adalah induktif atau eksperimen. Namun dalam matemaika mencari kebenaran itu bisa
dimulai dengan cara induktif, tetapi seterusnya generalisasi yang benar untuk semua
keaadaan harus dibuktikan secara deduktif.
Menurut Hudoyo (1990:4) secara singkat dapat dikatakan bahwa matematika
berkenaan dengan ide-ide, konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hierarkis dan
penalarannya deduktif, sedangkan Tambunan dalam Karso (2009:1.42) menyatakan bahwa
matematika adalah pengetahuan mengenai kuantiti dan ruang, salah satu cabang dari
sekian banyak ilmu yang sistematis, teratur dan eksak. Matematika adalah angka-angka
perhitungan yang merupakan bagian dari hidup manusia. Matematika menolong manusia
memperkirakan secara eksak berbagai ide dan kesimpulan. Matematika adalah
pengetahuan atau ilmu mengenai logika dan problem-problem menarik. Matematika
membahas faktor-faktor dan hubungan-hubungannya, serta membahas problem ruang dan
bentuk. Matematika adalah ratunya ilmu.
Pada dasarnya tujuan belajar matematika yang sesuai dengan hakikat matematika
merupakan sasaran utama, sedangkan peranan-peranan teori belajar merupakan strategi
terhadap pemahaman matematika (Karso, 2009:1.42). Ada pun tujuan akhir dari
pembelajaran matematika adalah penguasaan berbagai konsep yang relative abstrak,
dengan beragam teori belajar sebagai jembatan dalam memahami konsep-konsep
matematika.
Menurut Karso (2009:1.43-44) konsep-konsep matematika yang tersusun dalam GBPP
matematika SD dapat dikelompokan ke dalam tiga jenis konsep yaitu: konsep dasar, konsep
yang berkembang, konsep yang harus dibina keterampilannya. Konsep dasar ditanamkan
sebagai prasyarat untuk memahami konsep-konsep selanjutnya. Konsep yang berkembang
merupakan penerapan dari konsep-konsep dasar. Konsep ini akan mudah dipahami apabila
siswa telah menguasi konsep dasar atau konsep prasyaratnya. Konsep yang harus dibina
keterampilannya yakni konsep dasar dan konsep yang berkembang perlu mendapat
pembinaan guru sehingga siswa terbantu penggunaannya dalam kehidupan nyata sehari-
hari.

c. Hakikat Bilangan Pecahan


Menurut Muhsetyo (2008:4.5) bilangan pecahan adalah bilangan yang ditulis dalam
bentuk di mana p disebut pembilang (numerator), dan q disebut penyebut
(denumerator). Bilangan yang ditulis dalam bentuk pecahan disebut bilangan rasional,
jadi pecahan merupakan lambang baku dari bilangan rasional. Pecahan juga didefinisikan
suatu lambang yang memuat pasangan berurutan bilangan-bilangan bulat p dan q ( q ¹ o )
ditulis dengan , untuk menyatakan x yang memenuhi hubungan p : q = x

http://ekagurunesama.blogspot.com/2010/07/definisi-model-pembelajaran.html, diakses:
29 Desember 2012

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2254464-hakikat-model-
pembelajaran/#ixzz2GJK6IoI9, diakses: 29 Desember 2012

http://ilmugreen.blogspot.com/2012/07/hakikat-model-pembelajaran.html, diakses: 29
Desember 2012
http://ninaruspinacivic.blogspot.com/2012/04/makalah-metode-pembelajaran-jigsaw.html,
diakses: 29 Desember 2012

http://yosiabdiantindaon.blogspot.com/2012/11/hakikat-model-pembelajaran-
concept.html, diakses: 29 Desember 2012

Karso, dkk. 2009. Pendidikan Matematika 1. Jakarta: Universitas Terbuka

Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Mempraktikkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang


Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana
Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang:
Universitas Negeri Malang

Purwanto. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Ruseffendi. E.T. 1988. Pengantar Kepada Guru Untuk Mengembangkan Kompetensinya


Dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito
Sudjana, dkk. 2001. Media Pengajaran. Jakarta: PT. Gramedia

Sumanto. 1984. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan). Yogyakarta:


Yayasan Paramita.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Revisi ke- 4 Jakarta: PT
Rineka Cipta.

S, Teguh Arifin, dkk.1987. Rumus-rumus Matematika Lengkap. Surabaya: Apollo

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Cetakan ke-


1. Surabaya: Pretasi Pustaka
Tim PLPG IKIP PGRI Semarang. 2011. Bahan Ajar PLPG Rayon 39 IKIP PGRI Semarang,
Semarang:IKIP PGRI Semarang

Tri, Catharina Anni. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES

Udin, S. Winataputra, dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas
terbuka.

Wasty, Soemanto. 2006. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemmimpin Pendidikan).


Jakarta. PT Asdi Mahasatya
Winataputra, dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Winkel. 1991. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT. Gramedia

Karso, dkk. 2009. Pendidikan Matematika 1. Jakarta: Universitas Terbuka

Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Mempraktikkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang


Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana
Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang:
Universitas Negeri Malang

Purwanto. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Ruseffendi. E.T. 1988. Pengantar Kepada Guru Untuk Mengembangkan Kompetensinya


Dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito
Sudjana, dkk. 2001. Media Pengajaran. Jakarta: PT. Gramedia

Sumanto. 1984. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan). Yogyakarta:


Yayasan Paramita.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Revisi ke- 4 Jakarta: PT
Rineka Cipta.

S, Teguh Arifin, dkk.1987. Rumus-rumus Matematika Lengkap. Surabaya: Apollo

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Cetakan ke-


1. Surabaya: Pretasi Pustaka
Tim PLPG IKIP PGRI Semarang. 2011. Bahan Ajar PLPG Rayon 39 IKIP PGRI Semarang,
Semarang:IKIP PGRI Semarang
Tri, Catharina Anni. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES

Udin, S. Winataputra, dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas
terbuka.

Wasty, Soemanto. 2006. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemmimpin Pendidikan).


Jakarta. PT Asdi Mahasatya

Winataputra, dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Winkel. 1991. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT. Gramedia