Anda di halaman 1dari 6

DATA PENGAMATAN

Tabel 1. Spesifikasi Teknis


No. Referensi Parameter Satuan
1. Jenis Menara Pendingin Tidak diketahui
2. Jumlah Sel Setiap Menara Tidak diketahui
3. Luas Permukaan per Sel m3 Tidak diketahui
4. Aliran Air m3/jam 13
5. Daya Pemompaan kW 2,98
6. Head Pemompaan M Tidak diketahui
7. Daya Fan kW
o
8. Suhu Desain Air Panas C Tidak diketahui
o
9 Suhu Desain Air Dingin C Tidak diketahui
o
10. Suhu Desain Bola Kering (dry bulb) C Tidak diketahui
o
11. Suhu Desain Bola Basah (wet bulb) C Tidak diketahui

Tabel 2. Kinerja Menara Pendingin


No. Referensi Parameter Satuan
o
1. Suhu Masuk Menara Pendingin C 25
o
2. Suhu Keluar Menara Pendingin C 23
3. Aliran Air Rata-rata Kg/jam Tidak diketahui
4. Jumlah Udara Rata-rata Kg/jam Tidak diketahui
o
5. Range C Tidak diketahui
o
6. Approach C Tidak diketahui
7. Efektivitas Cooling Tower % Tidak diketahui
8. Perbandingan Cair per Gas (L/G) Kg air/kg udara Tidak diketahui
9 Kehilangan Penguapan m3/jam Tidak diketahui
10. Pembebanan panas CT Kkal/jam Tidak diketahui
o
11. Suhu Bola Kering (dry bulb) C Tidak diketahui
o
12. Suhu Bola Basah (wet bulb) C Tidak diketahui
PENGOLAHAN DATA
1. Gambar Cooling Tower dan Komponen-komponen

2. Jelaskan cara kerja cooling tower dan komponen-komponennya


 Cara kerja Cooling Tower
Cooling tower adalah suatu sistem refrigerasi yang melepaskan kalor ke
udara.cooling tower bekerja dengan cara mengontakkan air dengan udara dan
menguapkan sebagian air tersebut. Luas permukaan air yang besar dibentuk untuk
menyemprotkan air lewat nozel atau memercikan air kebawah dari suatu bagian
ke bagian lainnya.Bagian-bagian atau bahan – bahan pengisi biasanya terbuat dari
kayu tetapi bisa juga dibuat dari plastik atau keramik. Prestasi sebuah cooling
tower basah tergantung dari temperatur bola basah dari udara yang masuk.Prestasi
dari cooling tower biasanya ditunjukkan dalam hubungan Range dan
Approach.Range adalah perbedaan temperatur antara temperatur air yang masuk
dan temperatur air yang keluar dari menara pendingin. Sedangkan Approach
adalah perbedaan temperatur antara temperatur air yang keluar dari cooling tower
dan tempperatur bola basah udara yang masuk cooling tower.
 Komponen pada Cooling Tower
a. Kipas (fan)
Kipas pada menara pendingin berfungsi untuk menarik udara dingin dan
mensirkulasikan udara tersebut di dalam menara untuk mendinginkan air.
b. Kerangka Pendukung Menara (tower supporter)
Kerangka pendukung menara berfungsi untuk mendukung menara pendingin
agar dapat berdiri kokoh dan tegak.
c. Rumah Menara Pendingin (casing)
Rumah meanara pendingin harus memiliki ketahanan terhadap segala cuaca
yang baik dan umur pakai yang lama. Rumah menara pendingin pada cooling
tower biasanya terbuang dari seng.
d. Pipa Sprinkler
Pipa sprinkler merupakan pipa yang berfungsi untuk mensirkulasi air secara
merata pada cooling tower. Pipa sprinkler dilengkapi dengan lubang-lubang
kecil untuk menyalurkan air.
e. Penampung Air (Water Basin)
Penampung air berfungsi sebagai tempat berkumpulya air yang jatuh dari
filling material untuk sementara, sebelum akhirnya disirkulasikan kembali ke
kondensor. Penampung air ini biasanyaterbuat dari seng.
f. Lubang Udara (Inlet Louver)
Lubang udara berfungsi sebagai tempat masuknya udara melalui lubang-
lubang yang ada. Melalui lubang udara ini, kuantitas dan kualitas air yang
masuk untuk didistribusikan akan terlihat.
g. Bahan Pengisi (Filling Material)
Bahan pengisi brfungsi untuk mencampurkan air yang jatuh dengan udara yang
bergerak naik.
3. Bandingkan data percobaan kinerja cooling tower dengan kinerja cooling
tower dalam kondisi normal/standar.
Berikut ini adalah standar industri terhadap air pendingin yang digunakan:
Kadar
Jenis Air
No. Parameter Maksimum Metode Pengukuran
Limbah
(mg/L)
Standard Method
Residu Klorin 2
4500-Cl
1. Air Pendingin
Karbon SNI-06-6989.28-2005
5
Organik Total atau APHA 5310
Tabel 3. Standar Industri Terhadap Air Pendingin (KEP-49/MENLH/11/2010)
Secara umum, industri menerapkan parameter air pendingin ialah sebagai berikut:

Tabel 4. Parameter Air Pendingin (Setiadi, 2007)


Karena pada praktikum kami hanya dilakukan pengecekan suhu dan laju alir,
maka kelompok kami tidak dapat menyimpulkan kinerja cooling tower yang
digunakan dengan kinerja cooling tower pada kondisi normal/standar.
4. Bila ada penyimpangan, berikan solusi perawatan dan perbaikannya.
 Kerak
Faktor utama yang mempangaruhi terjadinya korosi adalah kondisi
cooling tower antara lain :
a. Oksigen atau dissolved gas yang lain.
b. Dissolved dan suspended solid.
c. Alkalinitas (pH).
d. Suhu.
e. Aktifitas mikroba.
Untuk mencegah atau meminimalisir terjadinya korosi dapat dilakukan
dengan cara diantaranya :
- Memililih material anti korosi saat mendesain proses.
- Menggunakan protective coatings seperti cat, metal plating, tar, atau
plastik.
- Melindungi dari substansi yang bersifat katiodik, menggunakan anoda dan
atau yang lain.
- Menambahkan corrosion inhibitor (anodic : molybdate, orthophosphate,
nitrate, silicate – katiodik : PSO, bicarbonate, polyphosphate, zinc –
general : soluble oils, triazoles copper).
 Lumut
Penanganan terhadap lumut yang tumbuh seperti penambahan
peroksida dimana hidrogen peroksida ini bereaksi kuat dengan zat organik
dengan kata lain dapat menghancurkan semua zat yang bersifat organik
termasuk lumut.
 Fouling
Pengendalian fouling pada cooling tower melibatkan 3 hal :
- Prevention – Pendekatan terbaik adalah mencegah foulant memasuki
cooling system. Pendekatan ini juga termasuk perlakuan mekanik ataupun
chemical untuk clarify makeup water.
- Reduction – Menghilangkan atau mengurangi jumlah foulant yang tidak
dapat dicegah memasuki sistem. Pendekatan ini melibatkan sidestream
filtering atau dapat juga melakukan pembersihan basin tower secara
perodik.
- Ongoing Control – Menambahkan chemical dispersants atau back
flushing exchangers.
 Padatan Tersuspensi
Padatan tersuspensi tersebut dapat menempel pada permukaan
perpindahan panas sehingga mengakibatkan berkurangnya efisiensi
perpindahan panas. Salah satu metoda yang digunakan untuk mengendalikan
padatan tersuspensi adalah dengan melakukan filtrasi secara kontinu terhadap
sebagian air yang disirkulasi.