Anda di halaman 1dari 24

LABORATORIUM PILOT PLANT

Semester Ganjil Tahun Ajaran 2019/2020


MODUL : Distilasi Batch dan Kontinyu
PEMBIMBING : Dian Ratna Suminar, S.T., M.T.

Praktikum : 9 September 2019


Penyerahan Laporan : 16 September 2019

Disusun Oleh :
Kelompok : XI dan XII
Nama : 1. Siti Nurjanah 171411092
2. Syntia Juliana 171411093
3. Tresna Kemala D 171411094
4. Vina Melinda 171411095
5. Zakiyah Wafdah 171411096
Kelas : 3C

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat
karunia-Nya, dan kemudahan sehingga kelompok kami dapat melaksanakan praktikum dan
menyelesaikan Laporan Praktikum Pilot Plant Modul Distilasi Batch dan Kontinyu pada tepat
waktu.
Dengan terselasaikannya laporan praktikum ini, kami tidak lupa untuk mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan praktikum dan penyusunan
laporan ini, khusus nya kepada Ibu Dian Ratna Suminar ST., MT. selaku dosen pembimbing
praktikum pada modul Distilasi Batch dan Kontinyu
Demikian laporan yang kami buat, mohon kritik dan sarannya atas kekurangan dalam
penyusunan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan khususnya
bagi kami selaku penulis

Jumat, 13 September 2019


Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………..

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG…………………………………………………………...


1.2 TUJUAN…………………………………………………………………………

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 REVERSE OSMOSIS…………………………………………………………..


2.2 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REVERSE OSMOSIS………………...
2.3 TAHAPAN REVERSE OSMOSIS……………………………………………..

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 ALAT DAN BAHAN…………………………………………………………..


3.1.1 ALAT YANG DIGUNAKAN………………………………………….
3.1.2 BAHAN YANG DIGUNAKAN……………………………………….
3.2 CARA KERJA…………………………………………………………………

BAB IV PENGOLAHAN DATA

4.1. DATA PENGAMATAN………………………………………………………


4.2. MENENTUKAN PERSEN REJECT………………………………………….
4.3. HUBUNGAN DHL DAN TDS TERHADAP WAKTU UNTUK
PERMEAT DAN KONSENTRAT……………………………………………
4.3.1 ALIRAN PERMEAT ………………………………………………….
4.3.2 ALIRAN KONSENTRAT……………………………………………..

BAB V PEMBAHASAN………………………………………………………………

BAB VI KESIMPULAN………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….

LAMPIRAN……………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Destilasi merupakan salah satu unit operasi pada industry yang berfungsi sebagai
pemisah suatu campuran berdasarkan perbedaan titik didih dari komponennya. Distilasi
yang biasa digunakan di industry adalah distilasi fraksinasi. Distilasi fraksinasi dapat
memisahkan komponen-komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang rendah.
Biasanya industry yang menggunakan prinsip distilasi adalah industry minyak bumi,
minuman, pemurnian bahan kimia, petrokimia, pengolahan gas alam dan masih banyak
lagi.

1.2 Tujuan
1. Memahami prinsip distilasi dan alat yang dilakukan secara kontinyu.
2. Membaca diagram alir perpipaan dan instrumentasi (P&I Diagram) dan memahami
cara kerja alat dan instrumentasinya.
3. Menjalankan alat distilasi kontinyu sesuai prosedur.
4. Mengamati dan mencatat beberapa variabel operasi pada saat distilasi kontinyu
berjalan (misal mencatat suhu masuk dan keluar steam dan cairan umpan pada
reboiler, mencatat besarnya aliran steam dan umpan pada reboiler).
5. Melakukan pengambilan dan pengetesan sampel umpan,produk bawah dan produk
atas dengan benar.
BAB II
LANDASAN TEORI
Menurut (Tinjauan Teoritis Perancangan Kolom Distilasi Untuk Pra-Rencana Pabrik
Skala Industri, 2019) destilasi diartikan sebagai suatu proses ketika campuran dua atau lebih
zat cair atau uap dipisahkan menjadi komponen fraksi murninya karena adanya perpindahan
massa dan panas. Campuran zat cair dapat dipisahkan dengan cara destilasi dipengaruhi oleh
perbedaan volatilitas antar komponennya. Volatilitas yang besar akal mengakibatkan zat
tersebut mudah terpisah dari campurannya.
Proses pemisahan secara distilasi dengan mudah dapat dilakukan terhadap campuran,
dimana antara komponen satu dengan komponen lainterdapat dalam campuran :
a. Dalam keadaan standar berupa cairan, saling melarutkan menjadi campuran homogen
b. Mempunyai sifat penguapan relative (𝛼) cukup besar
c. Tidak membentuk cairan azeotrope

Dasar Peralatan Distilasi Dan Pengoperasiannya


a. Komponen utama kolom distilasi
 Sebuah shell vertical dimana pemisahan komponen liquid terjadi, terdapat pada bagian
dalam kolom (internal coloumn) seperti tray atau plate dan packing yang digunakan
untuk meningkatkan derajat pemisahan komponen
 Sebuah reboiler untuk menyediakan penguapan yang cukup pada proses distilasi
 Kondensor untuk mendinginkan dan mengkondensasikan uap yang keluar dari atas
kolom
 Refluks drum untuk menampung uap yang terkondensasi dari tap kolom sehingga liquis
(refluks) dapat direcyle kembali ke kolom

Gambar 1. Skema Peralatan Distilasi Sederhana


b. Pengoperasian Distilasi
Campuran liquid yang akan diproses di input pada bagian tengah kolom pada sebuah
tray (Feed Tray). Feed mengalir ke bawah kolom dikumpulkan pada bagian bawah reboiler.
Panas di suplai ke reboiler untuk menghasilkan uap. Sumber panas dapat berasal dari fluida.
Tetapi kebanyakan juga digunakan steam. Pada penguapan, sumber panas didapat dari aliran
keluar dari kolom lain. Uap terbentuk pada reboiler diinput kembali pada bagian bottom.
Liquid dikeluarkan dari reboiler dikenal sebagai produk bottom.

Gambar 2. Bottom Destilasi


Uap bergerak keatas bottom, didinginkan oleh kondensor. Liquid yang dikondensasi
ditampung pada vessel yang dikenal sebagi refluks drum. Sebagian liquid di recycle kembali
ke top yang dikenal refluks. Liquid yang terkondensasi dikeluarkan dan sistem dikenal
sebagai destilat atau produk top.

Gambar 3. Top Destilasi

Type Dari Kolom Destilasi Berdasarkan Tipe Internal Coloumn


a. Tray and plate
Istilah “tray” dan “plate” adalah sama. Ada banyak tipe desain tray, tetapi yang paling
umum adalah :
 Bubble Cap Tray
Digunakan pada kondisi aliran rendah, dimana tray harus basah, kecuali kondisi
bentuk polymer, coking, atau fouling tinggi.
Gambar 4. Bubble Cap Tray
 Valve Tray

Gambar 5. Valve Tray


 Sieve Tray

Gambar 5. Sieve Tray


b. Packing
Ada kecenderungan untuk meningkatkan pemisahan dengan penambahan penggunaan
tray dengan packing. Packing adalah peralatan pasif yang didesain untuk meningkatkan
kontak area interfacial uap-liquid.

Klasifikasi Distilasi
a. Distilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu:
1) Distilasi kontinyu
2) Distilasi Batch
b. Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu :
1) Distilasi atmosferik (0,4 – 5,5 atm mutlak)
2) Distilasi vakum (≤300 mmhg pada bagian atas kolom)
3) Distilasi tekanan (≥80 psia pada bagian atas kolom)
c. Berdasarkan komponen penyusunnya :
1) Distilasi system biner
2) Distilasi system multi komponen
d. Berdasarkan system operasinya terbagi menjadi dua, yaitu :
1) Single-stage distillation
2) Multi stage distillation

Efisiensy Tray
Ada 3 macam efisiensi tray yang biasa digunakan :
1. Overall effisiensi (%),yang meliputi keseluruhan kolom .
2. Murphee effisiensi (), yang berkaitan dengan satu tray.
3. Local effisiensi (), yang menyangkut suatu lokasi tertentu.

Tekanan Uap, Menguap Dan Mendidih


Dalam suatu sistem tertutup terdapat keadaan keseimbangan yang tergantung pada suhu.
Uap berada dalam keseimbangan dengan cairan tersebut akan menimbulkan suatu tekanan.
Tekanan ini kemudian dinamakan sebagai tekanan uap cairan.
Selama tekanan uap cairan lebih kecil dari tekanan udara lingkungan, hanya molekul-
molekul dipermukaan saja yang berubah menjadi uap. Keadaan ini dinamakan menguap, tetapi
jika tekanan uap cairan sama besar dengan tekanan udara lingkungan, maka penguapan akan
terjadi diseluruh bagian cairan. Keadaan ini dinamakan mendidih.
Suhu didih (titik didih) suatu cairan adalah suhu dimana tekanan uap cairan tersebut sama
besar dengan tekanan udara lingkungan. Suhu didih suatu cairan tergantung pada tekanan udara
lingkungan. Apabila tekanan udara lingkungan naik, maka suhu didih akan naik. Sebaiknya,
apabila tekanan udara lingkungan turun (vakum), maka suhu didih menjadi turun.

Campuran dalam Distilasi


a. Campuran Biner
Berdasarkan keadaan suhu didihnya, campuran biner (2 komponen) dapat dibedakan
menjadi beberapa jenis campuran:
1) Campuran cairan yang satu sama lain tidak saling larut
Tekanan uap suatu campuran yang tidak saling larut besarnya sama dengan
tekanan uap dari kedua komponen, dan tidak bergantung pada komposisinya. Suhu
didih campurn akan terletak dibawah suhu didih komponen yang memiliki suhu didih
terendah. Contoh: campuran nitro benzen dan air
2) Campuran cairan yang satu sama lain saling larut
Tekanan uap campuran besarnya sama dengan jumlah tekanan uap dari kedua
komponen tersebut, tetapi tekanan uap masing – masing komponennya tergantung
pada komposisinya. Suhu didih campuran bergantung pada komposisi (% mol) dan
tekanan uap komponen – komponennya. Suhu didih terletak diantara suhu didih
masing – masing komponen.
b. Campuran Azeotrop
Campuran azeotrop adalah suatu campuran dimana pada komposisi tertentu, apabila
dididihkan, maka komposisi pada fasa uap sama dengan komponen pada fasa cairnya. Pada
kondisi ini campuran tersebut tidak bisa dipisahkan dengan cara distilasi biasa.
Terdapat dua jenis campuran azeotrop, yaitu:
1) Campuran azeotrop minimum, gaya tarik menarik antara molekul tidak sejenis lebih
kecil daripada terik menarik antara molekul sejenis. Suhu didih campuran azeotrop
minimum terletak dibawah suhu diidh komponen yang paling rendah suhu didihnya.
Contoh: Etanol-Air.
2) Campuran azeotrop maksimum, gaya tarik menarik anatar molekul tidak sejenis lebih
besar daripada gaya terik menarik antar molekul sejenis. Suhu didih campuran terletak
di atas suhu diidh komponen yang paling tinggi suhu didihnya. Contoh:
Cycloheksana-Phenol.
c. Campuran Ideal
Suatu larutan dikatakan sebagai larutan ideal apabila:
1) Homogen pada seluruh sistem mulai dari mol fraksi 0 – 1
2) Tidak ada entalpi pencampuran pada waktu komponen – komponen dicampur
membentuk larutan (∆𝐻𝑚𝑖𝑥 = 0)
3) Tidak ada beda volume pencampuran artinya volume larutan = jumlah volume
komponen yang dicampurkan (∆𝑉𝑚𝑖𝑥 = 0)
4) Memenuhi Hukum Raoult
Untuk campuran ideal atau mendekati ideal, maka hubungan variabel – variabel
pada kedua fasa yang dalam keadaan seimbang dapat dinyatakan dalam Hukum
Raoult dan Hukum Dalton.
Hukum Dalton
Berbunyi : “Tekanan parsial menyatakan bahawa tekanan campuran gas secara
sederhana merupakan jumlah tekanan parsial dari komponen individualnya”.
𝑃𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝑃1 + 𝑃2 + 𝑃3 + ..... + 𝑃𝑛 = ∑𝑖=𝑛
𝑖=1 𝑃𝑖

Hukum Raoult
Berbunyi “Tekanan uap larutan ideal dipengaruhi oleh tekanan uap pelarut dan fraksi
mol zat terlarut yang terkandung dalam larutan tersebut”
𝑃𝐴 = 𝑥𝐴 . 𝑃𝐴0
𝑃𝐵 = (1 - 𝑥𝐴 ) . 𝑃𝐵0
𝑃 = 𝑃𝐴 + 𝑃𝐵 = 𝑥𝐴 . 𝑃𝐴0 + (1 – 𝑥𝐴 ) . 𝑃𝐵0
Keterangan:
A = komponen yang lebih volatil
B = komponen yang tidak volatile

Keseimbangan Uap Cair


Untuk dapat menyelesaikan soal – soal distilasi harus tersedia data – data keseimbangan
uap – cair sistim yang dikenakan distilasi. Data keseimbangan uap cair dapat berupa tabel atau
diagram. Tiga macam diagram keseimbangan yang akan dibicarakan yaitu:
1) Diagram titik didih. Diagram titik didih adalah diagram yang menyatakan hubungan anatra
temperatur atau titik didih dengan komposisi uap dan cairan yang berkeseimbangan.
2) Diagram keseimbangan uap – cair. Diagram keseimbangan uap – cair adalah diagram yang
menyatakan hubungan antara komposisi uap dengan komposisi cairan.
3) Diagram diagram entalpi – komposisi. Diagram diagram entalpi – komposisi adalah
diagram yang menyatakan hubungan anatra entalpi dengan komposisi suatu sistim pada
keadaan tertentu.

Distilasi Campuran Dua Komponen


1. Distilasi Batch
Operasi dikatakan batch apabila hanya satu kali proses, yakni saat bahan
dimasukan ke dalam tangki umpan, proses berlangsung kemudian didapat distilatnya.
(Fania, 2014). Menurut (Rifandi, 2017) distilasi secara batch digunakan apabila masing-
masing komponen memiliki perbedaan titik didih yang jauh yang menyebabkan
komposisi uap mengandung banyak senyawa volatile dibandingkan cairannya.
2. Distilasi Fraksinasi
Fungsi dari destilasi fraksinasi sama saja dengan distilasi batch yaitu memisahkan
campuran zat cair-cair menjadi komponen-komponennyaberdasarkan perbedaan titik
didih. Yang membedakannya adalah pada distilasi fraksinasi dapat memisahkan
campuran yang memiliki perbedaan titik didih yang berdekatan sekurang-kurangnya
20℃ (Pengajarku, 2019).
Pada rangkaian alatnya dalam destilasi fraksinasi terdapat kolom fraksinasi.
Dimana dalam kolom tersebut pemisahan terjadi. Setiap kolom fraksinasi sama dengan
satu tahap distilasi, pada setiap tahapnya terjadi pemanasan yang bertahap dengan
temperature yang berbeda. Hal ini guna untuk mendapat distilat yang kemurniannya
optimal (Ilham, 2019).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Tabel 3.1 Alat dan Bahan
No Alat Bahan
1 Rangkaian alat destilasi fraksinasi skala pilot Etanol 96%
2 Refraktometer Aquades
3 Bekker glass plastik 2L
4 Bekker glass plastik 1L
5 Bekker glass plastik 500ml
6 Botol sampel 11 buah
7 Pipet tetes
8 Corong plastik
9 Ember plastik

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1. Persiapan Panel Pengendali

Membuka katup udara tekan

Memutar saklar utama

Memutar saklar udara tekan

3.2.2. Pengisian Feed Tank

Memasukan aquadest hingga 1/2 volume

Memasukan etanol teknis hingga 20%


3.2.3. Homogenisasi Umpan dan Pengambilan Sampel

Membuka kran V3,V4,V5, dan V6

Menyalakan pompa (P2)

Menjalankan proses sirkulasi

Mematikan pompa (P2)

3.2.4. Pengiriman Umpan ke Sump Tank melalui Pre-heater

Memastikan aliran pendingin ke kondenser


menyala

Membuka valve air pendingin

Membuka kran V3,V4,V5,V6,V7

Memastikan aliran umpan memenuhi


pre-heater dan masuk ke sump tank

Membuka aliran steam ke pre-heater

Mengisi sump tank hingga tanda batas


3.2.5. Pemanasan Cairan Umpan melalui Reboiler

Memeriksa valve jalur perpipaan dari sump


tank ke reboiler

Menyalakan pompa (P3)

Membuka valve steam ke reboiler

3.2.6. Pengaturan Valve Control Steam untuk Reboiler

Menekan tombol 8 sampai lampu hijau [SP-W]


menyala

Menekan tombol 13 sampai lampu hijau


menyala

Mengatur tombol 12.1 dan 12.2 untuk


mendapat angka 0,05 bar

Menekan tombol 8 sampai lampu merah [PV-X]


menyala

Menekan tombol 13

Menekan tombol 10 (bila menyala)


3.2.7. Pengaturan Valve Control Air Pendingin pada Kondenser

Menekan tombol 8 sampai lamu hijau [SP-


W] menyala

Menekan tombol 13 sampai lampu hijau


menyala

Mengatur tombol 12.1 dan 12.2 untuk


mendapat angka 15℃

Menekan tombol 8 sampai merah [PV-X]


menyala

Menekan tombol 13

Menekan tombol 10 (bila menyala)

3.2.8. Operasi Distilasi Kontinyu dengan Reflux

Menutup semua Menjalankan Membuka penuh


valve sekitar P1 pompa (P1) valve suction P1

Mengatur bukaan Menunggu proses


Sampling
distilat selama 10 menit
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Data Pengamatan
4.1.1. Kontinyu
Waktu Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Laju Alir Laju Alir Suhu Suhu Laju Alir
(menit) Keluaran Keluaran Uap Steam Keluaran Masuk Distilat Air Steam Kondensat Masuk Kondensat
Preheater Bawah Sump Masuk Kondenser Air Keluaran Pendingin Masuk (°C) Reboiler
Sump Tank Dingin Kondenser Reboiler
Tank
TR 13 TR 21 TR 26 TR 23 TRC 3 TR 1 TI 2.1 FI 4 FI 24 TI 22 (m3/h)
(°C) (°C) (°C) (°C) (°C) (°C) (°C) (m3/h) (kg/h) (°C)
t0 80 65 60 80 35 20 26 67 40-50 70 62 0,017
t1 75 72 70 105 35 20 26 66 40-50 67 62 0,017
t2 75 75 75 105 35 20 26 66 40-50 66 70 0,017
t3 75 80 80 105 35 20 25 66 40-50 65 74 0,017
t4 70 83 81 105 35 20 25 66 40-50 65 76 0,017
t5 70 85 83 105 34 20 25 66 40-50 65 79 0,017
t6 70 85 84 105 33 20 25 66 40-50 65 79 0,017
t7 75 85 84 105 33 20 25 66 40-50 70 79 0,017
t8 85 85 85 105 70 20 26 66 40-50 70 85 0,017
t9 85 85 85 105 75 20 30 66 40-50 70 86 0,017
t10 85 85 85 105 80 20 38 66 40-50 70 86 0,017

4.1.2. Batch
Waktu Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Laju Alir Laju Alir Suhu Suhu Laju Alir
(menit) Keluaran Keluaran Uap Steam Keluaran Masuk Distilat Air Steam Kondensat Masuk Kondensat
Preheater Bawah Sump Masuk Kondenser Air Keluaran Pendingin Masuk (°C) Reboiler
Sump Tank Dingin Kondenser Reboiler
Tank
TR 13 TR 21 TR 26 TR 23 TRC 3 TR 1 TI 2.1 FI 4 FI 24 TI 22 (m3/h)
(°C) (°C) (°C) (°C) (°C) (°C) (°C) (m3/h) (kg/h) (°C)
t0 85 86 86 106 82 20 36 66 40-50 74 87 0,019
t1 85 85 85 106 83 20 33 66 40-50 75 87 0,019
t2 85 86 85 106 83 20 32 66 40-50 75 87 0,019
t3 85 86 85 107 83 20 32 66 40-50 75 87 0,019
t4 85 86 85 107 83 20 32 66 40-50 75 87 0,019
t5 86 86 85 107 84 20 32 66 40-50 70 87 0,019
t6 86 89 86 108 15 20 32 66 40-50 75 87 0,019
t7 86 89 86 108 20 20 31 66 40-50 75 88 0,019
t8 86 89 88 109 20 20 31 66 40-50 75 89 0,019
t9 88 90 89 108 20 20 31 66 40-50 75 89 0,019
t10 88 90 90 108 20 20 31 66 40-50 75 89 0,019
t11 89 90 90 108 20 20 32 66 40-50 75 89 0,019
t12 90 90 90 107 20 20 31 66 40-50 75 89 0,019
t13 90 90 90 107 20 20 30 66 40-50 75 90 0,019
4.1.3. Refluks
Waktu Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Laju Alir Laju Alir Suhu Suhu Laju Alir
(menit) Keluaran Keluaran Uap Masukkan Keluaran Masuk Distilat Air Steam Kondensat Masuk Kondensat
Preheater Bawah Sump Steam Kondenser Air Keluaran Pendingin Masuk (°C) Reboiler
Sump Tank Dingin Kondenser Reboiler
Tank
TR 13 (°C) TR 21 (°C) TR 26 TR 23 (°C) TRC 3 (°C) TR 1 TI 2.1 (°C) FI 4 FI 24 TI 22 (m3/h)
(°C) (°C) (m3/h) (kg/h) (°C)
t0 90 90 90 107 20 20 29 66 50-60 75 90 0,02
t1 90 90 90 107 20 20 30 66 50-60 75 90 0,02
t2 90 90 90 108 20 20 30 66 50-60 75 90 0,02
t3 90 90 90 108 20 20 30 66 50-60 75 90 0,02

4.2. Pengolahan Data


4.2.1. Kontinyu
Sampel Umpan (F) Sampel Produk Atas Sampel Produk
(D) Bawah (B)
Indeks Komposisi Indeks Komposisi Indeks Komposisi
Bias (XF) Bias (XD) Bias (XB)
1,3382 0,0369 1,3447 0,0803 1,3381 0,0351
1,3383 0,0387 1,3447 0,0803 1,3368 0,0304

4.2.2. Batch
Sampel Umpan (F) Sampel Produk Atas Sampel Produk
(D) Bawah (B)
Indeks Komposisi Indeks Komposisi Indeks Komposisi
Bias (XF) Bias (XD) Bias (XB)
1,3373 0,0333 1,3432 0,0677 1,3377 0,0361

4.2.3. Refluks
Sampel Umpan (F) Sampel Produk Atas Sampel Produk
(D) Bawah
Indeks Komposisi Indeks Komposisi Indeks Komposisi
Bias (XF) Bias (XD) Bias (XB)
- - 1,3445 0,0803 1,3361 0,0269
4.3. Pembahasan
4.3.1 Batch
Nama : Siti Nurjanah
NIM : 171411092
Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan Proses Distilasi Batch pada alat
Distilasi skala Pilot Plant. Campuran yang ingin dipisahkan pada distilasi kali ini adalah
campuran etanol dan air.
Pada alat distilasi skala pilot plant pemisahan terjadi di kolom distilasi yang berisi
12 bubble cap tray sehingga disebut sebagai Distilasi Fraksionasi (Distilasi Bertingkat).
Distilasi Fraksionasi dapat memisahkan campuran yang memiliki perbedaan titik didih
berdekatan atau kurang dari 20℃. Sehingga cocok digunakan untuk memisahkan
campuran etanol dan air (∆𝑇𝑑 = 21,6 ℃). Dengan Distilasi Fraksionasi diharapkan
diperoleh produk etanol yang lebih murni.
Peralatan Distilasi skala Pilot Plant terdiri dari 7 sektor yaitu sebagai berikut:

Sektor 6

Gambar 6. Skema pembagian Sektor


Pada sektor 1 dilakukan sirkulasi pada umpan yang berfungsi sebagai pengaduk
agar umpan menjadi homogen. Lalu umpan akan mengalami pemanasan awal di
preheater sebelum masuk ke kolom distilasi. Steam dialirkan saat umpan telah memenuhi
shell preheater. Variabel yang diamati pada sektor 1 yaitu laju alir umpan masuk
preheater (FI 17).
Pada sektor 2 umpan akan masuk kedalam sump tank, lalu jika telah mencapai
batas garis ke-2 umpan dialirkan ke reboiler agar umpan mengalami pemanasan sampai
mendidih. Umpan yang telah mengalami perubahan fasa menjadi uap akan menuju
kolom distilasi sedangkan umpan yang masih berfasa cair akan kembali ke sump tank
dan tersikulasi kembali ke reboiler. Steam dialirkan setelah umpan mengalir ke reboiler.
Variabel yang diamati pada sektor 2 meliputi laju alir umpan masuk reboiler (FI 28) dan
suhu umpan masuk reboiler (TI 22).
Pada sektor 3 steam dialirkan setelah umpan disirkulasikan kedalam reboiler.
Lalu kondensat steam akan keluar melalui selang. Variabel yang diamati pada sektor 3
meliputi laju alir steam masuk reboiler (FI 24), suhu steam keluar reboiler (TI 25) dan
laju alir kondensat steam keluar reboiler (FI 27)
Pada sektor 4 campuran berfasa uap akan naik ke atas melewati bubble cap tray
menuju condenser untuk didinginkan dan campuran berfasa cair akan mengalir kebawah
menuju sump tank.
Pada sektor 5 campuran fasa uap akan didinginkan didalam condenser. Lalu
distilat akan mengalir ke tangki distilat untuk ditampung. Air pendingin harus dialirkan
terlebih dahulu di awal sebelum campuran fasa uap masuk ke condensor. Variabel yang
diamati pada sektor 5 meliputi suhu distilat keluar condensor (TI 2.1) dan laju alir masuk
air pendingin (FI 4).
Pada sektor 6 distilat yang telah ditampung pada tangki distilat akan dilakukan
refluks sehingga distilat akan dialirkan kembali menuju kolom distilasi sehingga
diharapkan dapat diperoleh produk etanol yang lebih murni. Variabel yang diamati pada
sektor 6 meliputi laju alir distilat dari tangki distilat (FI 16) dan laju alir distilat refluks
(FI 15).
Terakhir pada sektor 7, sektor ini merupakan sektor panel kendali yang bekerja
menghidupkan alat, menyalakan pompa P1, P2, dan P3 dan mengatur contol valve
reboiler dan condenser. Variabel yang diamati pada sektor 7 meliputi suhu masuk air
pendingin (TR 1), suhu keluaran condenser (TRC 3), suhu keluaran preheater (TR 13),
suhu keluaran bawah sump tank (TR 21), suhu steam masuk reboiler (TR 23) dan suhu
uap sump tank (TR 26).
Pada proses Distilasi Batch umpan yang berasal dari sektor 1 dihentikan sehingga
umpan yang diambil pada proses Distilasi Batch berasal dari sektor 2 yaitu keluaran
bawah sump tank.
Berdasarkan hasil pengolahan data, pada proses Distilasi Batch diperoleh fraksi
umpan etanol (XF) sebesar 0,0333; fraksi etanol produk bawah (XB) sebesar 0,0361; dan
fraksi etanol produk atas (XD) sebesar 0,0677. Lalu untuk menghasilkan produk etanol
yang tingkat kemurniannya lebih tinggi dari sebelumnya dilakukan proses refluks.
Sehingga data yang diperoleh setelah dilakukan proses refluks yaitu fraksi etanol produk
bawah (XB) sebesar 0,0269 dan fraksi etanol produk atas (XD) sebesar 0,0803.
Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa fraksi etanol produk atas mengalami
kenaikan oleh adanya proses refluks. Sedangkan fraksi etanol produk bawah mengalami
penurunan oleh adanya proses refluks. Sehingga proses refluks dilakukan untuk
memperoleh produk distilat yang lebih murni.
BAB V
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Fania. 2014. Kimia Analitik II. Fania. [Online] Januari 6, 2014. [Cited: September 9, 2019.]
fannialestari.blogspot.com/2014/01/kimia-analitik-ii.html?m=1. ISSN.
Ilham, Mughnifar. 2019. Pengertian Destilasi-Prinsip,Tujuan, Dan Macam-macam. Materi
Belajar . [Online] Agustus 16, 2019. [Cited: September 9, 2019.]
https://materibelajar.co.id/pengertian-destilasi/. ISBN.
Pengajarku. 2019. Destilasi:Pengertian,Macam,Prinsip Kerja, Fungsi, Bagian, Tujuan dan
Contohnya. Pengajar.co.id. [Online] Juni 23, 2019. [Cited: September 9, 2019.]
http://pengajar.co.id/destilasi-pengertian-macam-prinsip-kerja-fungsi-bagian-tujuan-
dan-contohnya/. ISBN.
Rifandi, Ahmad. 2017. Petunjuk Praktikum Distilasi Batch dan Kontinyu Laboratorium Pilot
Plant . Petunjuk Praktikum Laboratorium Pilot Plant . Bandung : Politeknik Negeri
Bandung, 2017.
Tinjauan Teoritis Perancangan Kolom Distilasi Untuk Pra-Rencana Pabrik Skala Industri.
Leily Nurul Komariah, A.F. Ramdja, Nicky Leonard. 2019. 2019, Jurnal Teknik
Kimia, No.4, Vol.16, pp. 19-26.
LAMPIRAN