Anda di halaman 1dari 26

EPIDEMIOLOGI PELAYANAN KESEHATAN

TENTANG

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR DI PUSKESMASS KANDAI

OLEH :

KELOMPOK 3

ERICK APRIANSYAH FAUZI J1A117200


ROSMALADEWI. K J1A117125
FARIZA LIANA J1A117039
HEPY J1A117050
BALQIS FAHRISA O J1A117299
SITI ASRI AINUN J1A117267
WILDA SAFITRI J1A117284

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah S.W.T atas segala rahmat dan

hidayahnya, sehingga penyusunan makalah dengan judul “Penyakit Tidak

Menular” akhirnya dapat terselesaikan dengan baik.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad

SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membimbing kita keluar

dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang.

Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan

bagi kami khususnya, dan segenap pembaca umumnya. Kami menyadari bahwa

makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari

berbagai pihak sangat kami harapkan untuk menuju kesempurnaan makalah ini.

Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah

membantu hingga terselesaikannya penyusunan makalah ini.

Akhirnya penyusus mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi

kita semua, Amin.

Kendari, 7 Oktober 2019

Kelompok 3

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .......................................... Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB 1 ..................................................................................................................... 2

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 2

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 3

1.3 Tujuan ....................................................................................................... 4

1.3.1 Tujuan Umum ................................................................................... 4

1.3.2 Tujuan Khusus .................................................................................. 4

1.4 Manfaat ..................................................................................................... 4

BAB II .................................................................................................................... 5

2.1 Gambaran Umum Wilayah ....................................................................... 5

2.1.1 Administrasi ...................................................................................... 5

2.1.2 Topografi ........................................................................................... 6

2.1.3 Demografi ......................................................................................... 8

2.2 Status Kesehatan Masyarakat ................................................................... 9

2.2.1 Lingkungan ....................................................................................... 9

2.2.2 Perilaku ........................................................................................... 12

2.2.3 Fasilitas kesehatan ........................................................................... 13

2.3 Analisis Masalah Penyakit Tidak Menular di Kelurahan kampung Salo 14

2.3.1 Usia ................................................................................................. 15

iii
2.3.2 Jenis kelamin ................................................................................... 15

2.3.3 Keturunan (genetik) ........................................................................ 16

2.3.4 Kegemukan (obesitas) ..................................................................... 16

2.3.5 Psikososial dan stress ...................................................................... 17

2.3.6 Merokok .......................................................................................... 18

2.3.7 Olahraga .......................................................................................... 19

2.3.8 Komsumsi garam berlebihan........................................................... 19

2.4 Upaya Petugas Kesehatan Untuk Menanggulangi ................................. 21

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 22

iv
1
BAB 1

PEENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perhatian terhadap penyakit tidak menular makin hari makin

meningkat karena semakin meningkatnya frekuensi kejadiannya pada

masyarakat. Dari sepuluh penyebab utama kematian, dua diantaranya

penyakit jantung dan strok adalah penyakit tidak menular. Keadaan ini

terjadi di dunia, baik di negara maju maupun di negara ekonomi rendah-

menengah. Bahkan kanker (paru), sebagai penyakit khronik, menduduki

peringkat ketiga penyebab kematian di negara maju(Afa, 2016).

SelamainiEpidemiologikebanyakanberkecimpungmenanganimasal

ahpenyakitmenular,

bahkanEpidemiologiterasahanyamenanganimasalahpenyakitmenular.Kare

naituEpidemiologihampirselaludikaitkandandianggap.hanyasebagaiEpide

miologiPenyakitMenular(Afa, 2016).

Namunkemudian,

perkembangansosioekonomidankulturalbangsadanduniamenuntutEpidemi

ologiuntukmemberikanperhatiankepadapenyakittidakmenularkarenasudah

mulaimeningkatdancenderungsesuaidenganperkembanganmasyarakat.Pent

ingnyapengetahuantentangPenyakitTidakMenular (PTM)

dilatarbelakangidengankecenderungansemakinmeningkatnyaprevalensi

2
PTM dalammasyarakat, termasukkalanganmasyarakat Indonesia.Bangsa

Indonesia yang sementaramembangundirinyadarisuatunegaraagrarisyang

sedangberkembangmenujumasyarakatindustrimembawakecenderunganbar

udalampolapenyakitdalammasyarakat.

Perubahanpolastrukturmasyarakatagrariskemasyarakatindustribanyakmem

beriandilterhadap perubahanpolafertilitas, gayahidupdansosialekonomi,

yang padagilirannyadapatmemicupeningkatan PTM.

Perubahanpoladaripenyakitmenularkepenyakittidakmenularinilebihdikenal

dalamsebutantransisiepidemiologidapattidak PTM

PembahasanEpidemiologimelepaskandiridarikonsepepidemiologisendirida

lammenanganimasalahpenyakit(Afa, 2016).

1.2 Rumusan Masalah

1. Jelasskan Gambara umum wilayah di Puskesmas Kandai ?

2. Jelasskan Analisis derajat/masalah kesehatan di Puskesmas Kandai ?

3. Jelasskan Analisis lingkungan kesehatan di Puskesmas Kandai ?

4. Jelaskan Analisis perilaku kesehatan di Puskesmas Kandai ?

5. Jelasskan Analisis faktor keturunan di Puskesmas Kandai ?

6. Jelaskan Analisis program dan pelayanan kesehatan di Puskesmas

Kandai ?

3
1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi Pelayanan

Kesehatan

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui gambaran umum wilayah Puskesmas

Kandai

2. Untuk mengetahui derajat/masalah kesehatan di Puskesmas

Kandai

3. Untuk mengetahui lingkungan kesehatan di Puskesmas

Kandai

4. Untuk mengetahui perilaku kesehatan di Puskesmas Kandai

5. Untuk mengetahui faktor keturunan di Puskesmas Kandai

6. Untuk mengetahui program dan pelayanan kesehatan di

Puskesmas Kandai

1.4 Manfaat

1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi Pelayanan

Kesehatan

2. Untuk menambah ilmu pengetahuan yang lebih dalam terkait

Epidemiologi Penyakit Tidak Menular dalam tugas ini.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Umum Wilayah

2.1.1 Administrasi

Dengan telah ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2007

tentang Pedoman Penyusunan dan Tata Kerja Pemerintahan Desa, telah

ditindak lanjuti Dengan Penataan Organisasi di Tingkat Desa melalui

Penetapan Peraturan Desa Nomor 2 Tahun 2009 tentang Susunan

Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kelurahan Kampung Salo

Kecamatan Kendari Kota Kendari..

 Data Personil Perangkat :

1) Lurah : Budi Utomo, S.Pi., M.Si.

2) Sekretaris Lurah : Nurham, SH.

3) Kepala Urusan

a) Kasi Pemerintahan : Feby Fay, ST.

b) Kasi Trantib : Emilia, SH.

c) Kasi P3M : Alimuddin, S.S.T.

4) Ketua RW/RT

a) RW. 01 : Muh. Abdul Kasim

b) RT. 01: Suhardi Sahide

c) RT 02 : Muh. Harto

d) RT 03: Syonya Yacob D.

5
e) RW 02 : Badarun

f) RT 01 : Mariaty M. Tasan

g) RT 02 : Rindu Wondu

h) RT 03 : Rawiah Serah

i) RW 03 : Subali Tekad

j) RT 01 :Asni Efrajem

k) RT 02 :Suhardin

l) RT 03 : Karim

m)RW 04 : Midu

n) RT 01 : Anita Elisabeth

o) RT 02 : Efendy

p) RT 03 : Juprianto

2.1.2 Topografi

 Luas Daerah

Secara geografis luas wilayah Kelurahan Kampung Salo ± 100 Ha,

yang terdiri dari 4 RW(profil Profil Kelurahan Kampung Salo,

2018),yaitu:

1) RW 01

2) RW 02

3) RW 03

4) RW 04

6
 Batas Wilayah

Secara geografis, batas-batas wilayah Kelurahan Kampung Salo,

sebagai berikut :

1) Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Gunung Jati

2) Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Mangga Dua

3) Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Kendari Caddi

4) Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan kandai

 Keadaan Iklim

Pada dasarnya Kelurahan Kampung Salo memiliki ciri – ciri iklim

yang sama dengan daerah lain di Sulawesi Tenggara yang umumnya

beriklim tropis dengan keadaaan suhu rata – rata 25,300 C.

Kelurahan Kampung Salo berada pada dataran rendah dari permukaan

laut dengan curah hujan yang cukup tinggi.Daerah ini sebagaimana daerah

di Indonesia memiliki 2 musim dalam setahun yaitu musim penghujan dan

musim kemarau. Musim penghujan biasanyan berlangsung dari bulan

Desember sampai dengan bulan Mei yang ditandai karena adanya angin

musim barat sedangkan musim kemarau berlangsung antara bulan Juni

sampai dengan November yang ditandai dengan tiupan angin musim timur

yang dijadikan tolak ukur bagi masyarakat dalam menentukan waktu

berlayar, karena masyarakat di Desa Ulusawa dominan memiliki mata

pencaharian sebagai nelayan, karena pengaruh perubahan suhu bumi

(Global warming) tidak jarang dijumpai keadaan dimana musim penghujan

7
dan musim kemarau yang berkepanjangan atau mengalami musim

pancaroba yang tidak teratur.

2.1.3 Demografi

1. Jumlah penduduk : 2343 jiwa

2. Laki-laki : 1155 jiwa

3. Perempuan : 1188 jiwa

4. Jumlah KK : 398 KK

5. Sex ratio : L/P x 1000/1000

: 1155/1188 x 1000/1000

: 0.972

Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kelurahan Kampung

Salo, dapat dilihat pada tabel berikut :

No. Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)

1. Laki-laki 1155jiwa 49,29%

2. Perempuan 1188jiwa 50,71%

Total 2343 jiwa 100%

Sumber : Profil Kelurahan Kampug Salo 2018

Berdasarkan tabel, menunjukkan bahwa dari 2190 penduduk, jenis

kelamin yang paling banyak yaitu perempuan dengan jumlah 1133 orang

atau 52% dan yang paling sedikit yaitu laki-laki dengan jumlah 1051

orang atau 48%, dengan jumlah kepala keluarga 599 KK.

8
JumlahLaki-
NO. RW JumlahPerempuan Jumlah KRT
laki

1. RW 1 364 373 110

2. RW 2 267 338 119

3. RW 3 237 273 77

4. RW 4 278 240 92

Sumber : Kantor Lurah Kampung Salo tahun 2019

2.2 Status Kesehatan Masyarakat

2.2.1 Lingkungan

Lingkungan adalah komponen yang mempunyai implikasi sangat luas

bagi kelangsungan hidup manusia, khususnya menyangkut status

kesehatan seseorang mengingat lingkungan merupakan salah satu dari 4

faktor yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat.

Lingkungan yang dimaksud dapat berupa lingkungan internal dan

eksternal yang berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung

pada individu, kelompok, atau masyarakat seperti lingkungan yang bersifat

biologis, psikologis, sosial, kultural, spiritual, iklim, sistem perekonomian,

politik, dan lain-lain.

Masalah lingkungan adalah masalah yang sangat kompleks dan saling

berkaitan dengan masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Jika

kesimbangan lingkungan ini tidak dijaga dengan baik maka dapat

menyebabkan berbagai macam penyakit.Sebagai contoh, kebiasaan

9
membuang sampah sembarangan berdampak pada lingkungan yakni

menjadi kotor, bau, banyak lalat, dan sebagainya.

Kondisi lingkungan di Kelurahan Kampung Salo dapat di tinjau dari

tiga aspek yaitu lingkungan fisik, sosial, dan biologis :

a. Lingkungan fisik

Lingkungan fisik dapat dilihat dari kondisi perumahan, air bersih,

jamban keluarga, pembuangan sampah dan SPAL.Kondisi lingkungan

fisik di Kelurahan Kampung Salo adalah sebagai berikut :

1. Perumahan

Perumahan yang ada di Kelurahan Kampung Salo terlihat bahwa

sebagian besar rumah penduduk Dilihat dari bahan bangunannya

sebagian besar masyarakat menggunakan lantai semen, dinding

rumah berupa kayu (papan), dan Langit-langit, dinding dan lantai

rumah yang mayoritas tidak kedap air menunjukkan status rumah

penduduknya belum dapat dikatakan sebagai rumah sehat.sisanya

menggunakan Lantai Keramik.

Sebagian besar rumah penduduk di Kelurahan Kampung

Salomenggunakan atap seng,sakura rup dan asbeskemudian terlihat

bahwa sebagian besar rumah penduduk menggunakan dinding dari

bahan papan, lalu menggunakan tembok yang semi permanen dan

sebagian kecilnya tembok permanen. Disamping itu pula, banyak

perumahan penduduk memiliki ventilasi, sehingga akses udara masuk

ke dalam rumah baik.

10
2. Air Bersih

Sumber air bersih masyarakat Kelurahan Kampung Salo pada

umumnya berasal dari Mata Air di Gunug dan sumur gali yang

terdapat dirumah warga dan menggunakan sumur umum. Kualitas air

ditinjau dari segi fisiknya ada sekitar 84% sudah memenuhi syarat

dan sebagianbelum memenuhi syarat.sebagai sumber mata air yang

memenuhi standar kualitas untuk dikonsumsi dalam keperluan air

minum, memasak,dan sebagainya oleh warga masyarakat di

Kelurahan Kampung Salo, kebanyakan masyarakat Kelurahan

Kampung Salo mengunakan sumur bor untuk keperluan air bersih

dan air minum tidak semua masyarakat memiliki sumur gali sendiri.

Namun tak sedikit pula masyarakat biasanya memesan air galon

untuk keperluan air minum.

3. Jamban Keluarga

Pada umumnya masyarakat Kelurahan Kampung Salosebagian

besar menggunakan jamban leher angsa.Kemudian sebagian kecil

masyarakat membuang kotorannya di perkarangan belakang rumah.

4. Pembuangan Sampah dan SPAL

Pada umumnya masyarakat sudah menyiapkan tempat sampah di

rumah masing-masing. Namun tempat sampah yang mereka miliki

lebih banyak tempa sampah wadah tidak tertutup. Bak sampah juga

sudah tersedia,yang menjadi masalah adalah pengangutan sampah ke

tempat pembuangan akhir masih jarang di lakukan.

11
Untuk Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), sebagian besar di

alirkan langsung di kali, dan ada pula beberapa masyarakat yang tidak

memiliki Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL).

5. Lingkugan Biologi

Lingkungan biologi dapat dilihat dari keadaan lingkungan yang

tercemar oleh mikroorganisme atau bakteri. Ini disebabkan oleh

pembuangan air limbah yang tidak tertutup (kedap air) dan banyaknya

terdapat kotoran hewan yang memungkinkan menjadi sumber

reservoir serta keadaan wilayah yang dekat dengan hutan yang

menjadi tempat perkembangbiakan vektor penyakit serta pembuangan

sampah yang banyak dibuang di pekarangan maupun di biarkan

berserakan di belakang hutan yang langsung dekat dengan hutan-

hutan kecil, sehingga sebagian besar rumah masyarakat di Kelurahan

Kampung Salo yang memungkinkan banyaknya interaksi yang terjadi

di hutan (yang potensial sebagai tempat perkembangbiakan

mikroorganisme patogen).

2.2.2 Perilaku

Menurut Bekher (1979), Perilaku Kesehatan (Health Behavior)

yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang

dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk juga

tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan,

memilih makanan, sanitasi, dan sebagainya. Perilaku kesehatan pada

dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap

12
stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan

kesehatan, makanan, serta lingkungan.

Respon atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan,

persepsi, dan sikap), maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau

praktik), sedangkan stimulus atau rangsangan terdiri dari 4 (empat)

unsur pokok, yakni: sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan

dan lingkungan.

2.2.3 Fasilitas kesehatan

a) Fasilitas Kesehatan

Kelurahan Kampung Salomerupakan desa yang relatif Dekat

dengan fasilitas pelayanan kesehatan , yakni puskesmasKandaiDimana

puskesmas yang terletak di kecamatan Kendari (Kelurahan Kandai)

sedangkan posyandu berada tepat di Kelurahan Kampung Salo sendiri ,

keberadaan Puskesmas dan posyandu dinilai sangat membantu

masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.Hal ini

disebabkan karena Puskesmasmaupun posyandu tersebut tidak

memungut biaya yang tinggi, perilaku dokter dan perawat serta

petugas puskesmas yang ramah, hasil pengobatan yang memuaskan,

dan juga waktu tunggu yang relatif sebentar yang tentu mempengaruhi

intensitas penerimaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat desa serta

memberikan pelayanan dengan kualitas prima terhadap masyarakat.

Untuk fasilitas kesehatan di Posyandu masyarakat memberikan

respon positif dengan banyaknya jumlah pengunjung di Posyandu dan

13
kepemilikan BPJS yang hampir 90% dimiliki oleh masyarakat

Kampung Salo begitu pula dengan posyandu yang banyak dihadiri

oleh masyarakat dalam upaya meningkatkan kesehatan anak yang di

buktikan dengan banyaknya ibu yang memiliki KMS dan ibu yang

memeriksakan kehamilannya serta lansia yang memiliki jadwal

posyandu tersendiri memberikan gambaran bahwa pelayanan

kesehatan di Kelurahan Kampung Salo sudah cukup memadai.

Fasilitas pelayanan kesehatan di Kelurahan Kampung Saloitu

sendiri sudah memadai, sehingga masyarakatnya tidak harus pergi

rumah sakit besar terkecuali jika penyakit yang di derita parah atau

memerlukan tindak lanjut terhadapnya. Masyarakatnya juga

memberikan respon yang positif dengan frekuensi datang di

Puskesmas yang cukup baik, begitu pula dengan posyandu hampir bisa

dikatakan semua penduduk rajin untuk datang dan menghadiri

kegiatan-kegiatan yang dilakukan Posyandu setiap bulannya dalam

upaya meningkatkan kesehatan anak, ibu maupun orang tua yang

sudah lansia.

2.3 Analisis Masalah Penyakit Tidak Menular di Kelurahan

kampung Salo

Di Kelurahan Kampung Salo sendiri penyakit tidak menular yang

paling banyak adalah penyakit Hipertensi atau tekanan darah tinggi,

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan

sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada

14
populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160

mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps, 2005).

Sementara untuk faktor risiko yang menyebabkan hipertensi adalah :

2.3.1 Usia

Usia mempengaruhi terjadinya hipertensi. Dengan bertambahnya

umur, risiko terkena hipertensi menjadi lebih besar sehingga prevalensi

hipertensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40%, dengan

kematian sekitar di atas usia 65 tahun (Depkes, 2006b). Pada usia lanjut,

hipertensi terutama ditemukan hanya berupa kenaikan tekanan sistolik.

Sedangkan menurut WHO memakai tekanan diastolik sebagai bagian

tekanan yang lebih tepat dipakai dalam menentukan ada tidaknya

hipertensi. Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur yang

disebabkan oleh perubahaan struktur pada pembuluh darah besar, sehingga

lumen menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah menjadi lebih

kaku, sebagai akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah sistolik.

Penelitian yang dilakukan di 6 kota besar seperti Jakarta, Padang,

Bandung, Yogyakarta, Denpasar dan Makassar terhadap usia lanjut (55-85

tahun), didapatkan prevalensi hipertensi terbesar 52,5 % (Depkes, 2006b).

2.3.2 Jenis kelamin

Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana

pria lebih banyak yang menderita hipertensi dibandingkan wanita,

dengan rasio sekitar 2,29 untuk peningkatan tekanan darah sistolik.

Pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan

15
tekanan darah dibandingkan dengan wanita (Depkes, 2006b). Namun,

setelah memasuki manopause, prevalensi hipertensi pada wanita

meningkat. Setelah usia 65 tahun, terjadinya hipertensi pada wanita

lebih meningkat dibandingkan dengan pria yang diakibatkan faktor

hormonal. Penelitian di Indonesia prevalensi yang lebih tinggi terdapat

pada wanita (Depkes, 2006).

2.3.3 Keturunan (genetik)

Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor

keturunan) juga mempertinggi risiko terkena hipertensi, terutama pada

hipertensi primer (essensial). Tentunya faktor genetik ini juga

dipenggaruhi faktor-faktor lingkungan, yang kemudian menyebabkan

seorang menderita hipertensi. Faktor genetik juga berkaitan dengan

metabolisme pengaturan garam dan renin membran sel. Menurut

Davidson bila kedua orang tuanya menderita hipertensi, maka sekitar

45% akan turun ke anak-anaknya dan bila salah satu orang tuanya yang

menderita hipertensi maka sekitar 30% akan turun ke anak-anaknya

(Depkes, 2006).

2.3.4 Kegemukan (obesitas)

Kegemukan (obesitas) adalah presentase abnormalitas lemak

yang dinyatakan dalam Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu perbandingan

antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat dalam meter. Kaitan

erat antarakelebihan berat badan dan kenaikan tekanan darah telah

dilaporkan oleh beberapa studi. Berat badan dan IMT berkorelasi

16
langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik.

Sedangkan, pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-33%

memiliki berat badan lebih (overweight) (Depkes, 2006b).

IMT merupakan indikator yang paling sering digunakan untuk

mengukur tingkat populasi berat badan lebih dan obesitas pada orang

dewasa (Zufry, 2010). Menurut Supariasa, penggunaan IMT hanya

berlaku untuk orang dewasa berumur di atas 18 tahun (Supriasa, 2001).

Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi

hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk

menderita hipertensi pada orang gemuk 5 kali lebih tinggi

dibandingkan dengan seorang yang badannya normal.

Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki

berat badan lebih (overweight) (Depkes, 2006b). Hipertensi pada

seseorang yang kurus atau normal dapat juga disebabkan oleh sistem

simpatis dan sistem renin angiotensin (Suhardjono, 2006). Aktivitas

dari saraf simpatis adalah mengatur fungsi saraf dan hormon, sehingga

dapat meningkatkan denyut jantung, menyempitkan pembuluh darah,

dan meningkatkan retensi air dan garam (Syaifudin, 2006).

2.3.5 Psikososial dan stress

Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya

transaksi antara individu dengan lingkungannya yang mendorong

seseorang untuk mempersepsikan adanya perbedaan antara tuntutan

17
situasi dan sumber daya (biologis, psikologis dan sosial) yang ada

pada diri seseorang (Depkes, 2006b). Stress atau ketegangan jiwa (rasa

tertekan, murung, rasa marah, dendam, rasa takut dan rasa bersalah)

dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin

dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga

tekanan darah akan meningkat.

Jika stress berlangsung lama, tubuh akan berusaha

mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau

perubahaan patologis. Gejala yang muncul dapat berupa hipertensi atau

penyakit maag. Diperkirakan, prevalensi atau kejadian hipertensi pada

orang kulit hitam di Amerika Serikat lebih tinggi dibandingkan dengan

orang kulit putih disebabkan stress atau rasa tidak puas orang kulit

hitam pada nasib mereka (Depkes, 2006).

2.3.6 Merokok

Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang

dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak

lapisan endotel pembuluh darah arteri yang mengakibatkan proses

artereosklerosis dan tekanan darah tinggi. Pada studi autopsi, dibuktikan

kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan adanya artereosklerosis pada

seluruh pembuluh darah. Merokok juga meningkatkan denyut jantung dan

kebutuhan oksigen untuk disuplai ke otot-otot jantung. Merokok pada

penderita tekanan darah tinggi semakin meningkatkan risiko kerusakan

pada pembuluh darah arteri (Depkes, 2006).

18
2.3.7 Olahraga

Aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh

dan sistem penunjangnya. Selama melakukan aktivitas fisik, otot

membutuhkan energi diluar metabolisme untuk bergerak, sedangkan

jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk

mengantarkan zat-zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh dan untuk

mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh (Supariasa, 2001).

Olahraga dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner

melalui mekanisme penurunan denyut jantung, tekanan darah,

penurunan tonus simpatis, meningkatkan diameter arteri koroner,

sistem kolateralisasi pembuluh darah, meningkatkan HDL (High

Density Lipoprotein) dan menurunkan LDL (Low Density Lipoprotein)

darah. Melalui kegiatan olahraga, jantung dapat bekerja secara lebih

efisien. Frekuensi denyut nadi berkurang, namun kekuatan jantung

semakin kuat, penurunan kebutuhan oksigen jantung pada intensitas

tertentu, penurunan lemak badan dan berat badan serta menurunkan

tekanan darah (Cahyono, 2008).

2.3.8 Komsumsi garam berlebihan

Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena

menarik cairan di luar sel agar tidak dikeluarkan, sehingga akan

meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada sekitar 60% kasus

hipertensi primer (essensial) terjadi respon penurunan tekanan darah

dengan mengurangi asupan garam 3 gram atau kurang, ditemukan

19
tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan pada masyarakat asupan

garam sekitar 7-8 gram tekanan rata-rata lebih tinggi (Depkes, 2006b).

Almatsier (2001) dan (2006), natrium adalah kation utama dalam

cairan ekstraseluler. Pengaturan keseimbangan natrium dalam darah

diatur oleh ginjal.

Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl, selain

itu garam lainnya bisa dalam bentuk soda kue (NaHCO3), baking

powder, natrium benzoate dan vetsin (monosodium glutamate).

Kelebihan natrium akan menyebabkan keracunan yang dalam keadaan

akut menyebabkan edema dan hipertensi. WHO menganjurkan bahwa

komsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih 6 gram/hari setara 110

mmol natrium (Almatsier, 2001, 2006).

Sementara di kampung salo sendiri, prevalensi hipertensi yang

terjadi adalah sebagai berikut :

Jumlah
No. MenderitaHipertensi
N %

1 Ya 34 34.0

2 Tidak 65 65.0

3 Tidakmenjawab 1 1.0

Total 100 100

Sumber : Data Primer Kelurahan Kampung Salo Tahun 2019

20
Dari data tersebut bisa dilihat bahwa banyak warga

kampung salo yang terkena penyakit Hipertensi ini, dari hasil

observasi kami di lapangan kami membuat hipotesis bahwa

penyakit Hipertensi tersebut disebabkan karena kebiasaan merokok

dan konsumsi garam yang terlalu banyak yang dilakukan oleh

warga kampung salo.

2.4 Upaya Petugas Kesehatan Untuk Menanggulangi

Upaya yang dilakukan oleh petugas puskesmas Kandai adalah

melakukan penyuluhan dan konseling bahaya merokok dan tata cara

mengonsumsi garam ke seluruh warga di kelurahan Kampung Salo.

Namun menurut petugas yang melakukan upaya ini, kegiatan ini tidak

berhasil dilakukan karena walaupun sudah dilakukan penyuluhan dan

konseling warga di kelurahan Kampung Salo tidak peduli dengan semua

hal yang berhubungan dengan hipertensi. Mereka akan berhenti merokok

apabila sudah terkena hipertensi, bahkan ada beberapa warga penderita

hipertensi yang tetap merokok.

21
DAFTAR PUSTAKA

Afa, J. R. (2016). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Kendari: Buku Ajar

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo.

Tarigan, N. S. (2014). POLA PERESEPAN DAN KERASIONALAN

PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DENGAN

HIPERTENSI DI RAWAT JALAN PUSKESMAS SIMPUR PERIODE

JANUARI-JUNI 2013 BANDAR LAMPUNG. Dipetik Oktober 7, 2019,

dari MEDICAL JOURNAL OF LAMPUNG UNIVERSITY:

http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/251/249

22