Anda di halaman 1dari 28

TUGAS MATA KULIAH EPIDEMIOLOGI PELAYANAN KESEHATAN

MAKALAH KESEHATAN KELUARGA

KELAS EPIDEMIOLOGI 2017

KELOMPOK 5 :

 INA NIRWANA (J1A117221)


 ANDI MUH. FADHILLAH ARFYANSAH (J1A117012)
 NOOR FITRIA ADITIA YUSVIKA ISNANU (J1A117245)
 ANDI ULFRYZA DWI RIWANSYAH (J1A117015)
 ELIZABET MAGDALENA MARIANG 9J1A117307)
 NURDIAN 9J1A117232)

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat

rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul kesehatan keluarga. Makalah

ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah epidemiologi pelayanan kesehatan. Kami

mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini

dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi

kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan

bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Kendari 6 Okober 2019

Kelompok 5

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ............................................................ Error! Bookmark not defined.


KATA PENGANTAR ...............................................................................................................ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ....................................................................................................... 3
1.3. Tujuan.......................................................................................................................... 3
1.4. Manfaat........................................................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 4
2.1. Gambaran Umum Wilayah Kelurahan Talia Kota Kendari Provinsi Sulawesi
Tenggara ................................................................................................................................. 4
2.2. Pengertian dan Indikator Kesehatan Keluarga ........................................................... 8
2.3. Pengertian PIS-PK..................................................................................................... 12
2.4. Data dan Analisi Masalah kesehatan Keluarga di Kelurahan Talia Kota Kendari
Provinsi Sulawesi Tenggara ................................................................................................. 15
BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 23
3.1. Kesimpulan................................................................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 25

iii
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kesehatan merupakan keadaan normal dan sejahtera anggota tubuh, sosial dan jiwa

pada seseorang untuk dapat melakukan aktifitas tanpa gangguan yang berarti dimana ada

kesinambungan antara kesehatan fisik, mental dan sosial seseorang termasuk dalam

melakukan interaksi dengan lingkungan (UU No. 23 tahun 1992). Kesehatan merupakan hak

asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-

cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Definisi sehat menurut kesehatan dunia (WHO) adalah suatu keadaan sejahtera yang

meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang

memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Undang-

Undang No. 36 Tahun 2009).

Keluarga merupakan unit dasar dalam masyarakat yang dapat menimbulkan,

mencegah, mengabaikan, memperbaiki, dan mempengaruhi anggota keluarga untuk

meningkatkan kualitas kesehatan anggota keluarga (Zaidin Ali, 2004). Jumlah keluarga di

Indonesia berdasarkan hasil pendataan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional pada

tahun 2010 mencapai 64.531.336 keluarga, dengan jumlah keluarga di Propinsi Jawa Timur

sebanyak 11.070.038 keluarga, dan di Kabupaten Jember sebanyak 722.548 keluarga.

Kondisi tersebut menempatkan Kabupaten Jember sebagai kabupaten yang memiliki jumlah

keluarga terbanyak ketiga di Jawa Timur (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana

Nasional, 2011). Kondisi ini juga menunjukkan bahwa setiap keluarga dituntut untuk

1
melakukan fungsinya guna meningkatkan kualitas status kesehatan keluarga (Suprajitno,

2004).

Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah

dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta

mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. Upaya kesehatan

masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan,

pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan

lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kesehatan jiwa,

pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat aditif dalam

makanan dan minuman, pengamanan narkotika, psikotropika, zat aditif dan bahan berbahaya,

serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.

Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah

dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta

mencegah penyebaran penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. Upaya kesehatan

perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan

rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecatatan yang ditujukan

terhadap perorangan.

Kelurahan Talia merupakan salah satu dari 13 kelurahan yang berada di Kecamatan

Abeli Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah 1,6 km 2 atau 3,41%

yang menempati peringkat ke-13 sekecamatan Abeli (Profil Kelurahan Talia, 2018).

Berdasarkan latar belakang diatas maka kami tertarik untuk mengkaji lebih dalam

tentang masalah kesehatan keluarga yang ada di Kelurahan Talia Kecamatan Abeli Kota

Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara.

2
1.2. Rumusan Masalah

A. Bagaimana Gambaran Umum Wilayah Kelurahan Talia Kota Kendari Provinsi

Sulawesi Tenggara?

B. Bagaimana Pengertian dan Indikator Kesehatan Keluarga?

C. Bagaimana Pengertian PIS-PK?

D. Bagaimana Data dan Analisi Masalah kesehatan Keluarga di Kelurahan Talia Kota

Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara?

1.3. Tujuan

A. Untuk Mengetahui Gambaran Umum Wilayah Kelurahan Talia Kota Kendari Provinsi

Sulawesi Tenggara

B. Untuk Mengetahui Pengertian dan Indikator Kesehatan Keluarga

C. Untuk Mengetahui Pengertian PIS-PK

D. Untuk Mengetahui Data dan Analisi Masalah kesehatan Keluarga di Kelurahan Talia

Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara

1.4. Manfaat

A. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis maupun pembaca tentang

kesehatan keluarga.

B. Menjadi referensi untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi

tenaga kesehatan yang sudah seharusnya memahami hal-hal yang berkaitan dengan

makalah ini.

C. Menjadi referensi bagi penulis makalah selanjutnya.

D. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi Pelayanan Kesehatan.

3
BAB II PEMBAHASAN

2.1. Gambaran Umum Wilayah Kelurahan Talia Kota Kendari Provinsi Sulawesi

Tenggara

A. Luas Wilayah

Kelurahan Talia adalah salah satu dari 13 kelurahan yang berada di Kecamatan

Abeli, dengan komdisi topografi yang relative datar hingga berbukit. Secara geografis

Kelurahan Talia terletak antara 3”58”49”-3”59”22 Lintang selatan dan 122”35”58

Bujur Timur dengan luas total wilayah menurut Kecamatan Abeli dalam angka Tahun

2017 seluas 1.6 Km2 atau 3,41% yang menempati peringkat ketiga belas atau kelurahan

yang memiliki wilayah paling sempit dari 13 kelurahan yang ada di kecamatan Abeli.

Letak Wilayah Kelurahan Talia Kecamatan Abeli secara administrasi memiliki

batasan yang digambarkan sebagai berikut :

1) Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Poasia

2) Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Petoaha

3) Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kendari

4) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Anggalomelai

Sedangkan berdasarkan Data Baseline 100-0100 Tahun 2017, tertangkap

bahwa luas keseluruhan Kelurahan Talia adalah hanya 0.48 Km2 arau 48 Ha dengan

rincian luas per RT sebagai berikut :

4
Tabel 1.Luas Wilayah RT (Ha)

Luas Wilayah RT (Ha)


RT/RW Luas (Ha)
RT 001/001 2
RT 002/001 3
RT 003/002 18
RT 004/002 6
RT 005/003 3,5
RT 006/003 3,9
RT 007/004 4,4
RT 008/004 8,2
Luas Total 49
Sumber :Profil Kelurahan Talia Tahun 2018

Grafik 1. Luas Wilayah RT (Ha)

Luas Wilayah RT (Ha)


18
20

8.2
10 6 4.4
3 3.5 3.9
2
0

Sumber :Profil Kelurahan Talia Tahun 2018

B. Jumlah Penduduk

Berdasarkan Profil Kelurahan Talia Tahun 2018 tercatat bahwa jumlah

penduduk kelurahan Talia sebanyak 1.368 jiwa yang terdiri dari 698 jiwa penduduk

laki laki atau sebesar 51% dan 672 jiwa penduduk perempuanatau sebesar 49% yang

tersebar di 8 RT dan 4 RW .

5
Tabel 2.Jumlah Penduduk (Jiwa)

Alamat Jumlah Penduduk Jumlah penduduk Jumlah penduduk


RT/RW laki-laki Perempuan (jiwa)
RT 001/001 62 56 118
RT 002/001 84 82 166
RT 003/002 80 85 165
RT 004/002 141 121 262
RT 005/003 92 89 181
RT 006/003 77 71 148
RT 007/004 92 97 189
RT 008/004 68 71 139
Jumlah 696 672 1368
Sumber :Profil Kelurahan Talia Tahun 2018

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah penduduk terbanyak berada di RT 04,

sedangkan jumlah RT dengan jumlah penduduk paling sedikit berada di RT 01

dengan sebaran penduduk sebagaiman terlihat dalam grafik.

Grafik 3. Jumlah Penduduk

Jumlah Penduduk (jiwa)


18
18
16
14
12
10 8.2
8 6
6 3.9 4.4
3 3.5
4 2
2
0
RT RT RT RT RT RT RT RT
001/001 002/001 003/002 004/002 005/003 006/003 007/004 008/004

Sumber :Profil Kelurahan Talia Tahun 2018

C. Lingkungan Fisik

Lingkungan fisik dapat dilihat dari kondisi perumahan, air bersih, jamban

keluarga, pembuangan sampah dan SPAL.

6
1) Perumahan

Perumahan yang ada di kelurahan talia terlihat bahwa sebagian besar

rumah penduduk menggunakan lantai Keramik,sisanya menggunakan lantai

semen dan lantai tanah.Lantai keramik yang dapat menjadi salah satu indikator

kemakmuran penduduk mendominasi terpasang pada rumah masyarakat di

kelurahan talia.

Sebagian besar rumah penduduk di kelurahan talia menggunakan atap

seng.Terlihat bahwa sebagian besar rumah penduduk menggunakan dinding

permanen, kemudian menggunakan tembok semi permanen dan sebagian kecil

menggunakan papan.

2) Air bersih

Sumber air bersih masyarakat kelurahan talia berasal dari air ledeng,

walaupun terdapat beberapa masyarakat yang memilih menggunakan air

PDAM. Adapun kualitas airnya bila ditinjau dari segi fisik, airnya jernih

namun terdapat partikel seperti debu dan serangga kecil. Untuk keperluan air

minum, masyarakat biasanya menggunakan air yang berasal dari air ledeng

lalu mengolahnya dengan cara memasak air tersebut dan ada juga yang

menggunakan depot air minum isi ulang dan tanpa dimasak lagi karena

menurut masyarakat kelurahan talia airnya sudah bersih.

3) Jamban Keluarga

Pada umumnya masyarakat dikelurahan talia sebagian besar sudah

memiliki jamban yang sesuai dengan syarat jamban sehat. Kebanyakan warga

menggunakan jamban jongkok dan sebagian kecil ada juga yang

menggunakan wc cemplung.Pada umumnya masyarakat sudah

memilikijamban dengan septic tank sendiri.

7
4) Pembuangan Sampah dan SPAL

Pada umumnya masyarakat kelurahan talia mengumpulkan sampah

didalam kantong plastic lalumembuang sampah pada bak sampah yang telah

disediakan dibeberapa titik di kelurahan talia dan kemudian diangkut oleh

petugas pengangkut sampah dan sebagian kecil terdapat masyarakat

dikelurahan talia yang membuang sampah di belakang rumah atau mengumpul

sampah-sampahtersebut lalu kemudian dibakar.Masyarakat yang

menggunakan TPS masih sangat jarang bahkan hampir tidak ada, karena pada

umumnya sampah-sampahnya berupa dedaunan dan sampah dari hasil sisa

industri rumah tangga.

Untuk Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), sebagian besar

dialirkan langsung di belakang rumah penduduk, ada yang memiliki SPAL

tertutup yaitu berupa pipa.

2.2. Pengertian dan Indikator Kesehatan Keluarga

A. Pengertian Kesehatan Keluarga

Pengertian kesehatan keluarga itu adalah pengetahuan tentang keadaan sehat

fisik, jasmani dan sosial dari induvidu-induvidu yang terdapat dalam satu keluarga.

Antara induvidu yang satu dengan lainnya saling mempengaruhi dalam lingkaran

siklus keluarga untuk mencapai derajat kesehatan keluarga yang optimal.

B. Indikator Kesehatan Keluarga

Terdapat 12 indikator utama kesehatan keluarga adalah sebagai berikut:

1. Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB)

Keluarga mengikuti program KB adalah jika keluarga merupakan pasangan usia

subur, suami atau isteri atau keduanya, terdaftar secara resmi sebagai peserta/akseptor

KB dan atau menggunakan alat kontrasepsi. Penelitian di Pakistan didapatkan program

8
KB berdampak pada tingkat pendapatan keluarga. Keluarga dengan anak yang sedikit

mampu memberikan kebutuhan yang layak bagi anak-anak mereka, dibandingkan

dengan keluarga yang mempunyai anak lebih banyak dan belum mengikuti program

KB.

2. Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan


Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan adalah jika di keluarga terdapat

ibu pasca bersalin (usia bayi 0-11 bulan) dan persalinan ibu tersebut, dilakukan di

fasilitas pelayanan kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, bidan praktek swasta).

3. Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap

Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap adalah jika di keluarga terdapat bayi

(usia 12-23 bulan), bayi tersebut telah mendapatkan imunisasi HB0, BCG, DPT-HB1,

DPT-HB2, DPT-HB3, Polio1, Polio2, Polio3, Polio4, Campak. Penelitian didapatkan

bayi yang tidak mendapat imunisasi lengkap disebabkan kerena kurangnya pemahaman

dari orang tua dan juga masih banyak orang tuan yang percaya terhadap mitos-mitos

sehingga takut untuk membawa bayi untuk memberikan imunisasi.

4. Bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif

Bayi mendapat ASI eksklusif adalah jika di keluarga terdapat bayi usia 7–23

bulan dan bayi tersebut selama 6 bulan (usia 0-6 bulan) hanya diberi ASI saja (ASI

eksklusif). Penelitian mendapatkan bayi yang tidak mendapatkan ASI secara eksklusif

didapatkan banyak ibu pasca melahirkan secara caesarean sehingga setelah melahirkan

bayi langsung dipisahkan dari ibu, disisi lain ibu takut karena efek samping seperti

obat antibiotik yang akan berpengaruh terhadap bayinya. Adanya perubahan struktur

masyarakat dan keluarga, kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi

pembuatan makanan bayi, gencarnya iklan tentang susu formula, kesibukan ibu di luar

rumah karena bekerja maupun karena tugas-tugas sosial. Adanya anggapan bahwa

produksi ASI yang tidak mencukupi juga menyebabkan kegagalan pemberian ASI

9
eksklusif. Faktor kurangnya rasa percaya diri pada sebagian ibu untuk dapat menyusui

bayinya akan mendorong ibu untuk lebih mudah memberikan pengganti ASI seperti

susu formula atau bahkan pengenalan makanan prelakteal.

5. Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan

Balita mendapatkan pematauan pertumbuhan adalah jika di keluarga

terdapatbalita (usia 2–59 bulan 29 hari) dan bulan yang lalu ditimbang berat badannya

di Posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya dan dicatat pada KMS/buku KIA.8

Pemantauan tumbu kembang balita jarang dilakukan salah satu faktornya adalah tingkat

pendidikan ibu yang rendah berhubungan secara tidak langsung. Pengetahuan yang

dimiliki ibu mempengaruhi dalam pemberian stimulasi perkembangan motorik pada

anak. Hal ini didukung dengan sikap orang tua dalam menerima informasi dari luar

tentang pemantauan perkembangan motorik anak 3-4 Tahun.18

6. Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar

Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar adalah jika

di keluarga terdapat anggota keluarga berusia ≥ 15 tahun yang menderita batuk dan

sudah 2 minggu berturut-turut belum sembuh atau didiagnogsis sebagai penderita

tuberkulosis (TB) paru dan penderita tersebut berobat sesuai dengan petunjuk

dokter/petugas kesehatan. Peran keluarga dalam upaya pencegahan, proses pengobatan

dan upaya pemenuhan nutrisi terhadap penderita TBC masih dalam kategori sedang.

Faktor pendidikan yang rendah menyebabkan pengetahuan dan wawasan keluarga

kurang tentang penyakit TBC, faktor ekonomi keluarga yang rendah sehingga

mempengaruhi daya beli keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi penderita.

10
7. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur

Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur adalah jika di dalam

keluarga terdapat anggota keluarga berusia ≥15 tahun yang didiagnogsis sebagai

penderita tekanan darah tinggi (hipertensi) dan berobat teratur sesuai dengan petunjuk

dokter atau petugas kesehatan. Penelitian di Minahasa Utara didapatkan hubungan

antara peran keluarga dalam kepatuhan berobat pasien hipertensi di keluarga.

8. Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan

Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan

adalah jika di keluarga terdapat anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa berat

dan penderita tersebut tidak ditelantarkan dan/atau dipasung serta diupayakan

kesembuhannya.

9. Anggota keluarga tidak ada yang merokok

Anggota keluarga tidak ada yang merokok adalah jika tidak ada seorang pun

dari anggota keluarga tersebut yang sering atau kadangkadang menghisap rokok atau

produk lain dari tembakau. Termasuk di sini adalah jika anggota keluarga tidak pernah

atau sudah berhenti dari kebiasaan menghisap rokok atau produk lain dari tembakau.

Penelitian kohort mendapatkan anak yang terpapar dengan asap rokok dari lahir sampai

usia prasekolah didapatkan berhubungan dengan kejadian stunting.

10. Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Keluarga sudah menjadi anggota JKN adalah jika seluruh anggota keluarga

tersebut memiliki kartu keanggotaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

Kesehatan dan/atau kartu kepesertaan asuransi kesehatan lainnya. 8 Terdapat hubungan

pengetahuan keluarga yang rendah tentang JKN terhadap kepersertaan BPJS.

11. Keluarga mempunyai akses sarana air bersih

Keluarga mempunyai akses sarana air bersih adalah jika keluarga tersebut

memiliki akses dan menggunakan air leding , PDAM atau sumur pompa, atau sumur

11
gali, atau mata air terlindung untuk keperluan sehari-hari. Studi literatur tentang kdirisis

ketersediaan air bersih merupakan masalah di perkotaan dengan kepadatan penduduk

yang tinggi dan sumber air yang tidak memadai. Rendahnya ketersediaan air bersih

memberikan dampak buruk terutama bagi kesehatan.

12. Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat

Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat adalah jika

keluarga tersebut memiliki akses dan menggunakan sarana untuk buang air besar

berupa kloset leher angsa atau kloset plengsengan. Faktor pengetahuan, sikap, jarak

rumah ke jamban, dukungan keluarga dan dukungan masyarakat berhubungan dengan

perilaku keluarga dalam mengakses jamban sehat.

2.3. Pengertian PIS-PK

PIS-PK adalah Program Indonesia Sehat merupakan salah satu program dari

agenda ke-5 Nawa Cita, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Dalam

rangka pelaksanaaan Program Indonesia Sehat telah disepakati adanya 12 indikator

utama untuk penanda status kesehatan sebuah keluarga (Sumarjono dan Nuryati, 2018).

Program Indonesia Sehat merupakan salah satu program dari agenda ke-5 Nawa

Cita, yaitu Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia. Program ini didukung

oleh program sektoral lainnya yaitu Program Indonesia Pintar, Program Indonesia

Kerja, dan Program Indonesia Sejahtera. Program Indonesia Sehat selanjutnya menjadi

program utama Pembangunan Kesehatan yang kemudian direncanakan pencapaiannya

melalui Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, yang

ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Nomor

HK.02.02/Menkes/52/2015.

Sasaran dari Program Indonesia Sehat adalah meningkatnya derajat kesehatan

dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat

12
yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan.

Sasaran ini sesuai dengan sasaran pokok Rencana Pembangunan Jangka Panjang

Nasional (RPJMN) 2015-2019, yaitu: (1) meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu

dan anak, (2) meningkatnya pengendalian penyakit, (3) meningkatnya akses dan mutu

pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama di daerah terpencil, tertinggal dan

perbatasan, (4) meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu

Indonesia Sehat dan kualitas pengelolaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Kesehatan, (5) terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan vaksin, serta (6)

meningkatnya responsivitas sistem kesehatan.

Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan menegakkan tiga pilar utama,

yaitu: (1) penerapan paradigma sehat, (2) penguatan pelayanan kesehatan, dan (3)

pelaksanaan jaminan kesehatan nasional (JKN). Penerapan paradigma sehat dilakukan

dengan strategi pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan upaya

promotif dan preventif, serta pemberdayaan masyarakat. Penguatan pelayanan

kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimasi

sistem rujukan, dan peningkatan mutu menggunakan pendekatan continuum of care dan

intervensi berbasis risiko kesehatan. Pelaksanaan JKN dilakukan dengan strategi

perluasan sasaran dan manfaat (benefit), serta kendali mutu dan biaya. Kesemuanya itu

ditujukan kepada tercapainya keluarga-keluarga sehat.

Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-

PK) bertujuan untuk meningkatkan akses keluarga berserta anggotanya terhadap

pelayanan kesehatan yang komprehensif, meliputi pelayanan promotif dan preventif

serta pelayanan kuratif dan rehabilitatif dasar, mendukung pencapaian standar

pelayanan minimal kabupaten/kota; melalui peningkatan akses dan skrining kesehatan,

mendukung pelaksanaan jaminan kesehatan nasional dengan meningkatkan kesadaran

13
masyarakat untuk menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional; dan mendukung

tercapainya tujuan Program Indonesia Sehat dalam rencana strategis Kementerian

Kesehatan Tahun 2015-2019.

Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga terdiri atas 4 (empat)

area prioritas yang meliputi penurunan angka kematian ibu dan bayi, penurunan

prevalensi balita pendek (stunting), penanggulangan penyakit menular dan

penanggulangan penyakit tidak menular. Prioritas PIS-PK ini dilaksanakan dengan

pendekatan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan

rehabilitatif oleh tenaga kesehatan sesuai kompetensi dan kewenangannya.

Dalam rangka penyelenggaraan Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan

Keluarga, ditetapkan 12 (dua belas) indikator utama sebagai penanda status kesehatan

sebuah keluarga sebagai berikut keluarga mengikuti program Keluarga Berencana

(KB), Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, bayi mendapat imunisasi dasar

lengkap, bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, balita mendapatkan pemantauan

pertumbuhan, penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar,

penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur, penderita gangguan jiwa

mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan, anggota keluarga tidak ada yang

merokok, keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),

keluarga mempunyai akses sarana air bersih; dan keluarga mempunyai akses atau

menggunakan jamban sehat.

Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga

dilaksanakan oleh Puskesmas dengan tujuan untuk memperkuat fungsi Puskesmas

dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan

Perorangan (UKP) di tingkat pertama di wilayah kerjanya. Pelaksanaan Program

Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga di tingkat Puskesmas dilakukan melalui

14
kegiatan (1) melakukan pendataan kesehatan seluruh anggota keluarga, (2) membuat

dan mengelola pangkalan data Puskesmas, (3) menganalisis, merumuskan intervensi

masalah kesehatan, dan menyusun rencana Puskesmas, (4) melaksanakan kunjungan

rumah dalam upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, (5) melaksanakan

pelayanan kesehatan (dalam dan luar gedung) melalui pendekatan siklus hidup, dan (6)

melaksanakan Sistem Informasi dan Pelaporan Puskesmas.

Pembiayaan penyelenggaraan program Indonesia sehat dengan pendekatan

keluarga dibebankan pada Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (APBD),

Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN), dan dana lain yang sah sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2.4. Data dan Analisi Masalah kesehatan Keluarga di Kelurahan Talia Kota Kendari

Provinsi Sulawesi Tenggara

A. Program Keluarga Berencana (KB)

Tabel 1. Distribusi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-PK)


Yang Mengikuti Program Keluarga Berencana (KB) di
Kelurahan Talia Kecamatan Abeli Tahun 2019

Berdasarkan tabel 1, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat 59

responden atau 59 % yang mengikuti program keluarga berencana (KB),

sedangkan 41 responden atau 41 % yang tidak mengikuti program keluarga

berencana. Dalam hal ini banyak responden yang mengikuti program keluarga

15
berencana (KB) karena kader kesehatan di Kelurahan Talia sudah termasuk aktif

mensosialisasikan tentang keluarga berencana.

B. Persalinan di Fasilitas Kesehatan

Tabel 2. Distribusi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-PK)


yang Melakukan Persalinan di Fasilitas Kesehatan di Kelurahan
Talia Kecamatan Abeli Tahun 2019

Berdasarkan tabel 2, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat 74

responden atau 74 % yang melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, sedangkan

26 responden atau 26 % yang tidak melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.

Dalam hal ini banyak responden yang melahirkan difasilitas kesehatan karena

jarak rumah dari fasilitas kesehatan tidak terlalu jauh, meskipun ada yang

melahirkan di dukun namun sebagian tetap dibantu oleh tenaga kesehatan.

C. Mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap

Tabel 3. Distribusi Bayi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-


PK) yang Mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap di Kelurahan
Talia Kecamatan Abeli Tahun 2019

Berdasarkan tabel 3, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat 81

bayi responden atau 81 % yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap, sedangkan

16
19 bayi responden atau 19 % yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

Dalam hal ini banyak bayi responden yang mendapat imunisasi lengkap karena di

Kelurahan Talia posyandu sudah aktif dimana diadakan 2 kali dalam sebulan.

D. Mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

Tabel 4. Distribusi Bayi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-


PK) yang Mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif di
Kelurahan Talia Kecamatan Abeli Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat 84

bayi responden atau 84 % yang mendapatkan air susu ibu (ASI) eksklusif,

sedangkan 16 bayi responden atau 16 % yang tidak mendapatkan air susu ibu

(ASI) eksklusif. Dalam hal ini banyak responden yang memberikan ASI eksklusif

karena mereka tau pentingnya pemberian ASI eksklusif, selain itu dikarenakan

bayi tidak suka meminum susu formula.

E. Mendapatkan Pemantauan Pertumbuhan (POSYANDU)

Tabel 5. Distribusi Balita Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-


PK) yang Mendapatkan Pemantauan Pertumbuhan
(POSYANDU) di Kelurahan Talia Kecamatan Abeli Tahun 2019

17
Berdasarkan tabel 5, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat 83

balita responden atau 83 % yang mendapatkan pemantauan pertumbuhan

(posyandu), sedangkan 17 balita responden atau 17 % yang tidak mendapatkan

pemantauan pertumbuhan (posyandu). Dalam hal ini banyak bayi responden yang

mendapatkan pemantauan pertubuhan karena di Kelurahan Talia posyandu sudah

aktif dimana diadakan 2 kali dalam sebulan.

F. Tuberkulosis Paru

Tabel 6. Distribusi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-PK)


yang Menderita Tuberkulosis Paru di Kelurahan Talia
Kecamatan Abeli Tahun 2019

Berdasarkan tabel 6, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat 3

anggota keluarga responden atau 3 % yang di diagnosis menderita tuberculosis

paru, sedangkan 97 anggota keluarga responden atau 97 % yang tidak menderita

tuberculosis paru. Responden yang terdiaknosis menderita Tuberkulosis paru di

Kelurahan Talia meminum obat secara teratur dalam jangka waktu 6 bulan.

G. Hipertensi

Tabel 7. Distribusi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-PK)


yang Menderita Hipertensi di Kelurahan Talia Kecamatan Abeli
Tahun 2019

18
Berdasarkan tabel 7, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat 10

anggota keluarga responden atau 10 % yang menderita hipertensi, sedangkan 90

anggota keluarga responden atau 90 % yang tidak menderita hipertensi.

Responden yang menderita hipertensi salah satu penyebabnya adalah pola hidup

masyatarakat Kelurahan Talia yang merupakan masyarakat pesisir dimana sering

mengomsumsi garam, ikan asin, dll.

H. Gangguan Jiwa

Tabel 8. Distribusi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-PK)


yang Mengalami Gangguan Jiwa di Kelurahan Talia Kecamatan
Abeli Tahun 2019

Berdasarkan tabel 8, menunjukkan bahwa dari 100 respomden terdapat

100 anggota keluarga responden atau 100 % yang tidak mederita gangguan jiwa.

I. Merokok

Tabel 9. Distribusi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-PK)


yang Merokok di Kelurahan Talia Kecamatan Abeli Tahun 2019

Berdasarkan tabel 9, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat 48

anggota keluarga responden atau 48 % yang merokok, sedangkan 52 anggota

keluarga responden atau 52 % yang tidak merokok. Banyak masyarakat

19
Kelurahan Talia yang merokok hal ini dikarenakan kebiasaan mereka dari kecil

dan faktor pekerjaan dimana saat melakukanpekerjaan yang berat mereka harus

merokok agar merasa kuat.

J. Anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Tabel 10. Distribusi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-PK)


yang Menjadi Anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di
Kelurahan Talia Kecamatan Abeli Tahun 2019

Berdasarkan tabel 10, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat 83

responden atau 83 % yang menjadi anggota jaminan kesehatan nasional (JKN),

sedangkan 17 responden atau 17 % yang tidak menjadi anggota jaminan

kesehatan nasional (JKN). Masyarakat Kelurahan Talia sudah banyak yang

memiliki jaminan kesehatan nasional dimana jenis JKN yang banyak dimiliki

yaitu Kartu Indonesia Sehat (KIS).

K. Akses Sarana Air Bersih

Tabel 11. Distribusi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-PK)


yang Mempunyai Akses Sarana Air Bersih di Kelurahan Talia
Kecamatan Abeli Tahun 2019

20
Berdasarkan tabel 11, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat

100 responden atau 100 % yang mempunyai akses sarana air bersih dan 0

responden atau 0 % yang tidak mempunyai akses sarana air bersih. Di Kelurahan

Talia sumber air bersih utamanya adalah PDAM, dan sebagian adalah sumur bor.

L. Buang Air Besar (BAB) Menggunakan Jamban

Tabel 12. Distribusi Responden Menurut Pendekatan Keluarga (PIS-PK)


yang Buang Air Besar (BAB) Menggunakan Jamban di
Kelurahan Talia Kecamatan Abeli Tahun 2019

Berdasarkan tabel 12, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat

100 reponden atau 100 % yang buang air besar (BAB) menggunakan jamban dan

0 responden atau 0 % yang tidak buang air besar (BAB) menggunakan jamban.

Masyarakat elurahan Talia sebagian besar telah memiliki jamban yang

memenuhi syarat.

M.Status PIS-PK

Tabel 13. Distribusi Responden Menurut Status Pendekatan Keluarga


(PIS-PK) di Kelurahan Talia Kecamatan Abeli Tahun 2019

Berdasarkan tabel 13, menunjukkan bahwa dari 100 responden terdapat 84

responden atau 84 % yang status PIS-PK keluarga sehat (biru), dan 15 responden

21
atau 15 % yang status PIS-PK keluarga pra sehat (kuning), sedangkan 1

responden atau 1 % yang status PIS-PK keluarga tidak sehat (merah).

Dari beberapa tabel diatas dapat disimpulkan bahwa status PIS-PK

masyarakat Kelurahan Talia sudah termasuk Keluarga Sehat, karena sudah

memenuhi beberapa indikator PIS-PK.

22
BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

A. Kelurahan Talia adalah salah satu dari 13 kelurahan yang berada di Kecamatan Abeli,

dengan komdisi topografi yang relative datar hingga berbukit. Secara geografis

Kelurahan Talia terletak antara 3”58”49”-3”59”22 Lintang selatan dan 122”35”58

Bujur Timur dengan luas total wilayah menurut Kecamatan Abeli dalam angka Tahun

2017 seluas 1.6 Km2 atau 3,41% yang menempati peringkat ketiga belas atau

kelurahan yang memiliki wilayah paling sempit dari 13 kelurahan yang ada di

kecamatan Abeli.

B. Pengertian kesehatan keluarga itu adalah pengetahuan tentang keadaan sehat fisik,

jasmani dan sosial dari induvidu-induvidu yang terdapat dalam satu keluarga. Antara

induvidu yang satu dengan lainnya saling mempengaruhi dalam lingkaran siklus

keluarga untuk mencapai derajat kesehatan keluarga yang optimal. Sedangkan

indikator kesehatankeluarga yaitu Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana

(KB), Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, Bayi mendapat imunisasi

dasar lengkap, Bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, Balita mendapatkan

pemantauan pertumbuhan, Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan

sesuai standar, Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur, Penderita

gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan, Anggota keluarga

tidak ada yang merokok, Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan

Nasional (JKN), Keluarga mempunyai akses sarana air bersih, dan Keluarga

mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat

C. PIS-PK adalah Program Indonesia Sehat merupakan salah satu program dari agenda

ke-5 Nawa Cita, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Dalam rangka

23
pelaksanaaan Program Indonesia Sehat telah disepakati adanya 12 indikator utama

untuk penanda status kesehatan sebuah keluarga (Sumarjono dan Nuryati, 2018).

D. Dari beberapa data yang didapatkan melalui survei dapat disimpulkan bahwa status

PIS-PK masyarakat Kelurahan Talia sudah termasuk Keluarga Sehat, karena sudah

memenuhi beberapa indikator PIS-PK.

24
DAFTAR PUSTAKA

Nuryati, Rina. 2018. “Program Indonesia Sehat Pendekatan Implementasi Di Puskesmas


Temon I Keluarga :” (2016): 2018.

Kemenkes RI. 2016. Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga.

Roesli, Ernawati, and Adang Bachtiar. 2018. “Analisis Persiapan Implementasi Program
Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga (Indikator 8: Kesehatan Jiwa) Di Kota
Depok Tahun 2018.” JURNAL KEBIJAKAN KESEHATAN INDONESIA : JKKI 07(02):
64–73.

Rindu Oema and Astrid Novita, ‘POLA ASUH DALAM KESEHATAN ANAK PADA IBU
BURUH PABRIK’, Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11.50 (2015), 112–24.

Ayuningtiyas, Laksmi Wardan, ‘HUBUNGAN PELAKSANAAN FUNGSI PERAWATAN


KESEHATAN KELUARGA DENGAN PENCAPAIAN TUGAS PERKEMBANGAN
BALITA DI BINA KELUARGA BALITA (BKB) GLAGAHWERO KECAMATAN
KALISAT JEMBER’, 2013

Oema, Rindu, and Astrid Novita, ‘POLA ASUH DALAM KESEHATAN ANAK PADA
IBU BURUH PABRIK’, Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11 (2015), 112–24

25