Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tonsilitis kronis secara umum diartikan sebagai infeksi atau inflamasi pada tonsila
palatina yang menetap. Tonsilitis kronis disebabkan oleh serangan ulangan dari tonsilitis
akut yang mengakibatkan kerusakan yang permanen pada tonsil. Organisme patogen dapat
menetap untuk sementara waktu ataupun untuk waktu yang lama dan mengakibatkan
gejala-gejala akut kembali ketika daya tahan tubuh penderita mengalami penurunan
(Ramadhan F dkk, 2016).
Dari data epidemiologi Wortd Health Organization (WHO) tidak ditemukan data
untuk kasus tonsillitis kronis, tapi diperkirakan 287.000 anak di bawah 15 tahun mengalami
tonsilektomi (operasi tonsil), dengan atau tanpa adenoidektomi. Sekitar 248.000 anak atau
dengan prevalensi 86,4% mengalami tonsilioadenoidektomi dan 39.000 lainnya atau
dengan prevalensi 13,6%menjalani tonsilektomi saja.
Dari data epidemiologi mengenai prevalensi tonsilitis kronis di berbagai Negara,
yang salah satunya di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penyakit tonsilitis kronis di
Amerika merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak usia 5 – 10 tahun dan dewasa
muda usia 15 – 25 tahun dengan prevalensi tonsilitis kronis sebesar 1,59%. Kemudian di
Islamabad, Pakistan pada tahun 1998-2007 terdapat 15.067 kasus atau dengan prevalensi
22% (Nizar, M. dkk, 2016). Penelitian yang dilakukan di Rusia mengenai prevalensi dan
pencegahan keluarga dengan tonsilitis kronis yang dilakukan pada 321 keluarga, 335 anak-
anak (umur 1-15 tahun), di dapatkan data sebanyak 84 atau dengan prevalensi 26,3%
(Ramadhan F dkk, 2016).
Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI, angka kejadian penyakit tonsilitis
di Indonesia sekitar 23%. Berdasarkan survei epidemiologi penyakit telinga, hidung, dan
tenggorokan (THT) di 7 provinsi di Indonesia, prevalensi tonsilitis kronis sebesar 3,8%,
tertinggi kedua setelah nasofaring akut (4,6%) (Riskesdes, 2013; Theno, 2016).
Berdasarkan data rekam medis laporan indeks penyakit rawat jalan di RSUD Provinsi
Mataram dari bulan Januari sampai Desember pada tahun 2017, kasus penyakit tonsilitis
kronis berjumlah 195 orang atau dengan pravelesi (65%).
Tonsillitis kronis lebih sering disebabkan oleh bakteri Streptococcus. Selain bakteri,
beberapa virus, dan mononukleosis menular, dapat menjadi penyebab tonsillitis kronis.
Diagnosisnya biasanya bersifat klinis atau laboratorium, walaupun terkadang sulit
dilakukan untuk membedakan virus dari infeksi bakteri (Alotaibi, 2017). Gejala klinis
tonsilitis kronik berupa nyeri tenggorok atau nyeri menelan, malaise, demam, hiperemis,
dan pembesaran limfadenopati servikal. hal ini menyebabkan keadaan yang tidak
menyenangkan dan mengganggu kualitas hidup penderita (Arlya, 2015).
Menurut World Health Organization (WHO) kualitas hidup adalah persepsi individu
terhadap posisinya dalam kehidupan, dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana
individu tersebut hidup, dan hubungan terhadap tujuan, harapan, standar, dan keinginan.
Hal ini merupakan suatu konsep yang dipadukan dengan berbagai cara seseorang untuk
mendapat kesehatan fisik, keadaan psikologi, tingkat independen, hubungan sosial, dan
hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu pengukuran kesehatan dan efek
dari perawatan kesehatan harusnya tidak hanya mencangkup tingkat keparahan penyakit
tetapi juga perkiraan kesejahteraan, yang dapat dinilai dengan mengukur peningkatan
kualitas hidup terkait untuk perawatan kesehatan.
Pada penelitian Arlya Susan (2015) yang terdiri dari penderita dengan tonsilitis
kronik derajat berat 6 responden, sedang 22 responden, ringan 2 responden dan kelompok
yang beresiko adalah 6 responden dan normal 24 responden didapatkan adanya hubungan
antara tonsilitis kronik dengan kualitas hidup penderita di poli klinik THT dr. zainoel
abidin, Banda Aceh.
Namun pada penelitian oleh Stephany et al (2017) menyatakan bahwa tidak ada
bukti yang ditemukan bahwa tonsilitis kronik berhubungan dengan kualitas hidup pada
penelitiannya terdadap 107 anak di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu, Kota Jakarta
Selatan yang berusia 8-12 tahun.
Berdasarkan perbedaan penelitian tersebut dan melihat tingginya prevalensi
tonsilitis kronis dan belum banyak penelitian di Kota Mataram sehingga peneliti tertarik
melakukan penelitian mengenai hubungan tonsillitis kronis dengan kualitas hidup di RSUD
Provinsi Mataram.
1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut: apakah ada hubungan tonsillitis kronis dengan kualitas hidup
penderita di RSUD Provinsi NTB

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan tonsillitis kronis terhadap kualitas hidup penderita.

1.3.2 Tujuan khusus

1.3.2.1 Untuk mengetahui karakteristik responden

1.3.2.2 Untuk mengetahui derajat tonsilitis kronis

1.3.2.3 Untuk mengetahui kualitas hidup penderita tonsillitis kronis

1.3.2.4 Untuk mengetahui hubungan tonsillitis kronis terhadap kualitas hidup penderita.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kepustakaan serta pembelajaran


guna perkembangan ilmu kesehatan dan dapat pula digunakan sebagai bahan referensi
untuk penelitian di bidang kedokteran berikutnya.

1.4.2 Manfaat Praktis


1.4.2.1 Sebagai bahan masukan, informasi, dan evaluasi bagi pemerintah dan instansi
terkait dengan pengaruh tonsillitis kronis terhadap kualitas hidup sehingga dapat
dilakukan tindakan pencegahan maupupun penanganan yang sesuai.
1.4.2.2 Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa salah satu faktor penyebab
terjadinya penurunan kualitas hidup yaitu tonsilitis kronis, sehingga diharapkan
masyarakat lebih peduli terhadap berbagai faktor dan yang dapat menyebabkan
tonsilitis kronis.