Anda di halaman 1dari 11

Makalah

Sistem Proteksi
“Relay Gangguan Tanah”

Disusun Oleh:

Kelompok 8 :
Nensy Is Suendri (151042051)

Materi :

Hari / Tanggal : Senin / 28 September 2015

PROGRAM SARJANA TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI AKPRIND
2015
Pada dasarnya relai ini tak lain merupakan relai arus lebih. Jadi relai ini bertugas untuk
mengamankan gangguan hubung singkat fasa ke tanah.
FYI, arus gangguan fasa ke tanah dipengaruhi oleh pentanahan sistem, artinya dipengaruhi
oleh besarnya impedansi pentanahan titik netral transformator daya yang mensuplay.
Sistem pentanahan di Indonesia terbagi atas beberapa sistem, yaitu:
a. Ungrounded, atau sistem pentanahan mengambang untuk tegangan 6-12 kV
b. Pentanahan dengan nilai tahanan rendah untuk sistem tegangan 20 kV (3 fasa, 3 kawat)
c. Pentanahan dengan nilai tahanan berkisar 500 ohm
d. Pentanahan langsung untuk tegangan 20 kV (3 fasa, 4 kawat)

Hubung tanah dalam sirkuit rotor, yaitu hubung singkat antara konduktor rotor dengan badan rotor
dimana dapat menimbulkan distorsi medan magnet yang dihasilkan rotor dan selanjutnya dapat
menimbulakn getaran (vibrasi) berlebihan dalam generator. Oleh karena itu, hal ini harus dihentikan
oleh rele rotor hubung tanah. Karena sirkuit rotor adalah sirkuit arus searah, maka rele rotor hubung
tanah pada prinsipnya merupakan rele arus lebih untuk arus searah. Adapun single line diagram rele
gangguan rotor hubung tanah adalah sebagai berikut:

Pada gambar di atas, ketika tidak ada gangguan maka arus simetri, {Ir = Ia+Ib+Ic =0}, namun ketika
terjadi gangguan hubung singkat ke tanah, maka arus menjadi tak simetri {Ir = Ia+Ib+Ic = 3Iao},
sehingga terdapat arus yang mengalir pada rele dan membuat rele mendeteksi gangguan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Proteksi transmisi tenaga listrik sangat penting dalam proses penyaluran daya dari

satu tempat ke tempat yang lain. Ini dikarenakan prinsip dalam transmisi tenaga listrik yang

baik salah satunya adalah aman selain andal dan ekonomis. Proteksi tenaga listrik merupakan

bagian yang menjamin bahwa dalam transmisi tenaga lisrik dapat dikatakan aman. Dapat

dikatakan aman karena dalam transmisi tenaga listrik akan diberikan suatu alat yang

berfungsi untuk mengamankan transmisi dari gangguan bahkan mengamankan manusia dari

bahaya yang ditimbulkan oleh pemindahan daya listrik dari suatu tempat ke tempat yang lain.

Proteksi transmisi tenaga listrik sangat diperlukan dalam transmisi tenaga listrik.

Dengan proteksi yang bagus, maka transmisi tidak akan rusak ketika ada sebuah gangguan

yang bersifat sementara. Jika proteksi transmisi tenaga listrik baik, maka nilai ekonomis

dapat diperoleh karena jika dalam suatu transmisi terjadi gangguan, maka kerusakan

peralatan tidak dapat menyebar keperalatan yang lain dikarenakan ada sebuah proteksi

transmisi. Nilai ekonomis dan aman dapat dipadukan menjadi nilai andal. Andal yang

dimaksud disini adalah tidak membahayakan manusia yang berada disekitar transmisi tenaga

listrik sehingga manusia yang berada disekitar transmisi ini tidak mengalami gangguan

kesehatan maupun gangguan material.

Pembuatan makalah ini berdasarkan tugas mata kuliah konsentrasi yaitu sistem

proteksi. Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah tersebut, para penyusun juga berharap

mendapatkan ilmu yang lebih berdasarkan topic yang diusung oleh penyusun. Dengan

demikian, penyusun tidak hanya memiliki nilai sebagai buah hasil pembuatan makalah ini

tetai juga mendapatkan kompetensi yang lebih.

1.2. Rumusan masalah


Dalam makalah ini kami akan membahas beberapa permasalasahan. Diantaranya adalah :

1.2.1. Bagaimana proteksi transmisi tenaga listrik itu bekerja?

1.2.2. Dimanakah proteksi transmisi tenaga listrik diterapkan?

1.3. Batasan Masalah

Mengingat permasalahan dalam gangguan pada sistem tenaga listrik sangat luas maka

penulisan makalah ini akan dibatasi pada pengertian proteksi transmisi tenaga listrik,

bagaimana proteksi tersebut bekerja, dimana letak porteksi tersebut, dan apa saja alatnya.

1.4. Tujuan

Tujuan dari proteksi transmisi tenaga listrik ini adalah agar proses penyaluran tenaga

listrik dari tempat pembangkit tenaga lustrik(Power Plant) hingga saluran distribusi

listrik(sucstation distribution) dapat disalurkan sampai pada consumer pengguna listrik yang

aman. Proteksi transmisi ini di terapkan agar jika terjadi gangguan peralatan yang

berhubungan dengan transmisi tenaga listrik tidak mengalami kerusakan.

1.5. Manfaat

Manfaat yang diperoleh setelah membaca makalah ini adalah pembaca mengetauhi

proteksi transmis tenaga listrik yang digunakan pada umumnya, bagaimana proteksi tersebut

bisa bekerja, penerapannya dibagian sebelah mana, dan macam alat pengaman transmisi

tenaga listrik.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. . Pengertian Proteksi Transmisi Tenaga Listrik

Pengertian proteksi transmisi tenaga listrik adalah adalah proteksi yang dipasang pada

peralatan-peralatan listrik pada suatu transmisi tenaga listrik sehingga proses penyaluaran

tenaga listrik dari tempat pembangkit tenaga listrik(Power Plant) hingga Saluran distribusi

listrik (substation distribution) dapat disalurkan sampai pada konsumer pengguna listrik

dengan aman. Proteksi transmisi tenaga listrik diterapkan pada transmisi tenaga listrik agar

jika terjadi gangguan peralatan yang berhubungan dengan transmisi tenaga listrik tidak

mengalami kerusakan. Ini juga termasuk saat terjadi perawatan dalam kondisi menyala. Jika

proteksi bekerja dengan baik, maka pekerja dapat melakukan pemeliharaan transmisi tenaga

listrik dalam kondisi bertegangan. Jika saat melakukan pemeliharaan tersebut terjadi

gangguan, maka pengaman-pengaman yang terpasang haurus bekerja demi mengamankan

sistem dan manusia yang sedang melaukukan perawatan.

Transmisi tenaga listrik terbagi dalam beberapa kategori. Kategori yang pertama

adalah transmisi dengan tegangan sebesar 500Kv. Ini merupakan transmisi yang sangat

tinggi. Karena di Indonesia masih menggunakan sistem 500 kv. Kategori yang kedua adalah

transmisi dengan tegangan sebesar 150 kv. Dan yang ketiga adalah transmisi 75 kv. Untuk

dibawah 75 kv selanjutnya dinamakan dengan distribusi tenaga listrik.

Proteksi ini berbeda dengan pengaman. Jika pengaman suatu sistem berarti system

tersebut tidak merasakan gangguan sekalipun. Sedangkan proteksi atau pengaman sistem,

sistem merasakan gangguan tersebut namun dalam waktu yang sangant singkat dapat

diamankan. Sehingga sistem tidak mengalami kerusakan akibat gangguan yang terlalu lama.

Gangguan pada transmisi tenaga listrik dapat berupa :

a. Gangguan transmisi akibat hubung singkat.


b. Gangguan transmisi akibat sambaran petir.

c. Gangguan transmisi akibat hilangnya salah satu kabel fasa disebabkan dicuri oleh manusia.

2.2. Peralatan Proteksi Transmisi Tenaga Listrik

Peralatan transmisi tenaga listrik diantaranya adalah :

a. Rele arus lebih

Merupakan rele Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus dan terpasang

pada Jaringan Tegangan tinggi, Tegangan menengah juga pada pengaman Transformator

tenaga. Rele ini berfungsi untuk mengamankan peralatan listrik akibat adanya gangguan

phasa-phasa.

b. Rele hubung tanah

Merupakan rele Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus dan terpasang

pada jaringan Tegangan tinggi,Tegangan menengah juga pada pengaman Transformator

tenaga.

c. Rele Diferensial

Rele diferensial ini berfungsi untukbmengamankan transformator tenaga terhadap

gangguan hubung singkat yang terjadi didalam daerah pengaman transformator, yang

disambung ke instalasi trafo arus ( CT ) dikedua sisi..

d. Rele jarak
i. Dapat menentukan arah letak gangguan Gangguan didepan relai harus bekerja.

ii. Gangguan dibelakang relai tidak boleh bekerja Dapat menentukan letak gangguan.

iii. Gangguan di dalam daerahnya relai harus bekerja.

iv. Gangguan diluar daerahnya relai tidak boleh bekerja.

v. Dapat membedakan gangguan dan ayunan daya.

e. Kawat tanah
Kawat tanah atau overhead grounding adalah media pelindung kawat fasa dari

sambaran petir. Kawat ini dipasang diatas kawat fasa dengan sudut perlindungan sekecil

mungkin karena dianggap petir menyambar diatas kawat. Pada umumnya ground wire terbuat

dari kawat baja (steel wire) dengan kekuatan St 35 atauSt 50, tergantung dari spesifikasiyang

ditentukan oleh PLN. Dalam melindungi kawat phasa tersebut.

Misalkan groundwire diletakkan setinggi h meter dari tanah. Dengan menggunakan nilai-nilai

yang terdapat pada gambar tersebut, titik b dapat ditentukan sebesar 2/3 h. Sedangkan zona

proteksi groundwire terletak di dalam daerah yang diarsir. Di dalam zona tersebut,

diharapkan tidak terjadi sambaran petir langsung sehingga di daerah tersebut pula kawat

phasa dibentangkan.

f. Pemutus Tenaga ( PMT )

Adalah untuk memisahkan / menghubungkan satu bagian instalasi dengan bagian

instalasi lain, baik instalasi dalam keadaan normal maupun dalam keadaan terganggu. Batas

dari bagian-bagian instalasi tersebut dapat terdiri dari satu PMT atau lebih.

2.3. Cara Kerja Proteksi Transmisi Tenaga Listrik

a. Rele arus lebih


Jika dalam suatu transmisi terdapat gangguan yang berupa atus lebih, maka dalam

waktu yagn singkat rele arus lebih akan bekerja sehingga jaringan transmisi akan tidak

terhubung sementara. Jika gangguan telah hilang, maka jaringan transmisi akan terhubung

kembali.

b. Rele hubung tanah

Jika dalam transmisi tenaga listrik terjadi hubung singkat antara kabel fasa dengan

tanah, maka rele hubung tanah akan langsung bekerja dalam waktu yang sangat singkat,

sehingga sistem menjadi aman karena tidak terjadi kerusakan yang sangat banyak.
c. Rele Diferensial

Relay differensial adalah suatu alat proteksi yang sangat cepat bekerjanya dan sangat

selektif berdasarkan keseimbangan (balance) yaitu perbandingan arus yang mengalir pada

kedua sisi trafo daya melalui suatu perantara yaitu trafo arus (CT). Dalam kondisi normal,

arus mengalir melalui peralatan listrik yang diamankan (generator, transformator dan lain-

lainnya). Arus-arus sekunder transformator arus, yaitu I1 dan I2 bersikulasi melalui jalur IA.

Jika relay pengaman dipasang antara terminal 1 dan 2, maka dalam kondisi normal tidak akan

ada arus yang mengalir melaluinya.

Jika terjadi gangguan diluar peralatan listrik peralatan listrik yang diamankan

(external fault), maka arus yang mengalir akan bertambah besar, akan tetapi sirkulasinya akan

tetap sama dengan pada kondisi normal, sehingga relay pengaman tidak akan bekerja untuk

gangguan luar tersebut. Jika gangguan terjadi didalam (internal fault), maka arah sirkulasi

arus disalah satu sisi akan terbalik, menyebabkan keseimbangan pada kondisi normal

terganggu, akibatnya arus ID akan mengalir melalui relay pengaman dari terminal 1 menuju

ke terminal 2. Selama arus-arus sekunder transformator arus sama besar, maka tidak akan ada

arus yang mengalir melalui kumparan kerja (operating coil) relay pengaman, tetapi setiap

gangguan (antar fasa atau ke tanah) yang mengakibatkan sistem keseimbangan terganggu,

akan menyebabkan arus mengalir melalui Operating Coil relay pengaman, maka relai

pengaman akan bekerja dan memberikan perintah putus (tripping) kepada circuit breaker

(CB) sehingga peralatan atau instalasi listrik yang terganggu dapat diisolir dari sistem tenaga

listrik.

d. Rele jarak
Rele jarak merupakan proteksi yang paling utama pada saluran transmisi. Rele jarak

menggunakan pengukuran teganan dan arus untuk mendapatkan impedansi saluran yang

harus diamankan. Jika impdansi yang terukur didalam batas settingnya, maka rele akan

bekerja. Di sebut rele karena jarak, karena impedansi pada saluran bersarnya akan sebanding

dengan panjang saluran. Oleh karena itu, rele jarak tidak tergantung oleh besarnya arus

gangguan yang terjadi, tetapi tergangung pada jarak gangguan yang terjadi terhadap rele

proteksi. Impedansi yang diukur dapat berupa Z, R saja ataupun X saja. Tergantung rele yang

dipakai.

e. Kawat Tanah

Kawat tanah atau overhead grounding adalah media pelindung kawat fasa dari

sambaran petir. Kawat ini dipasang diatas kawat fasa dengan sudut perlindungan sekecil

mungkin karena dianggap petir menyambar diatas kawat. Kawat ini merupakan proteksi

transmisi tenaga listrik yang bersifat pasif. Jika terjadi sambaran petir, maka kawan ini akan

mebyalurkan arus petir langsung ketanah. Sehingga sistem transmisi aman dari gangguan.

Kawat yang bagus adalah yang memiliki tahanan kurang dari 4 ohm. Jika lebih dari 4 ohm,

maka arus yang mengalir tidak bisa cepat, dapat menyebabkan putusnya kawat atau

terjadinya flashover antara kawat dasa dengan kawat tanah.

f. Pemutus Tenaga ( PMT )

PMT termasuk proteksi terhadap transmisi tenaga listrik. PMT dapat membuka dan

menutup baik secara otomatis maupun secara manual. Sehingga, jika transmisi sedang dalam

pemeliharaan, maka jaringan transmisi dapat diputus sementara.

2.4. Penerapan Proteksi Transmisi Tenaga Listrik

Proteksi transmisi tenaga listrik diberlakukan di semua transmisi tenaga listrik.

Namun, untuk pemasangannya hanya berada di gardu induk. Pemasangannya pada saluran
masuk ke gardu induk dan di saluran keluar garu induk. Sehingga jika jaringan transmisis

terjadi gangguan, maka gardu induk tidak mengalami kerusakan. Jika terjadi kerusakan, maka

kerusakannya minimal. Kecuali kawat tanah. Kawat tanah dipasang diatas kawat fasa yang

berfungsi untuk melindungi kawat fasa dari sambaran petir. Sehingga pemasanggannya

berada diseluruh jaringan transmisi tenaga listrik.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Keandalan dan kemampuan suatu sistem tenaga listrik dalam transmisi sangat

tergantung sekali dengan proteksi transmisi tenaga listrik. Oleh sebab itu dalam perencangan

jalur transmisi tenaga listrik, perlu dipertimbangkan kondisi-kondisi gangguan yang mungkin

terjadi pada sistem melalui analisa gangguan seperti gangguan petir, gangguan hubung

singkatakibatalam.

Pada dasarnya gangguan dapat terjadi karena kegagalan operasi peralatan dalam sistem,

kesalahan manusia dan karena alam. Gangguan yang disebabkan oleh alam, manusia tidak

bias mengelak lagi. Tetapi manusia bisa memperkecil kerusakan transmisis yang diesbabkan

oleh gangguan alam yakni dengan memasang kawat tanah.

DAFTAR PUSTAKA