Anda di halaman 1dari 51

KASUS KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


DENGAN MENINGITIS

Oleh :

1. Ahmad Iskandar Afifi


2. Ahmad Rizky Kurniawan
3. Evelyna Romadon
4. Khorida Mutia
5. Lulus Prasetyo
6. Nova Iryanto
7. Winda Sagita Wiradhika

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN 2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi meningococcus dapat terjadi secara endemikmaupun epidemik. Secara
klinis keduanya tidak dapat dibedakan, tetapi serogroupdari strain yang terlibat
berbeda. Kasus endemik pada negara-negara berkembangdisebabkan oleh strain
serogroup B yang biasanya menyerang usia dibawah 5 tahun, kebanyakan kasus
terjadi pada usia antara 6 bulan dan 2 tahun. Kasusepidemik disebabkan oleh strain
serogroup A dan C, yang mempunyai kecendrunganuntuk menyerang usia yang lebih
tua. Lebih dari setengah kasus meningococcus terjadi pada umurantara 1dan 10 tahun.
Penyakit inirelatif jarang didapatkan pada bayi usia ≤3 bulan. Kurang dari 10% terjadi
pada pasien usia lebih dari 45 tahun. Di AS dan Finland, hampir 55% kasus pada usia
dibawah 3 tahun selama keadaan nonepidemik, sedangkan di Zaria, Negeria insiden
tertinggi terjadi pada pasienusia 5 sampai 9 tahun.
Keadaan geografis dan populasi tertentu merupakan predisposisi untuk terjadinya
penyakit epidemik. Kelembaban yang rendah dapat merubahbarier mukosa nasofaring,
sehingga merupakan predisposisi untukterjadinya infeksi. Meningococcal epidemik di
daerah Sao Paulo dari 1971 sampai1974 dimulai pada bulan Mei dan Juni, yang
merupakan peralihan dari musim hujanke musim panas. African outbreaks terjadi
selama musim panas dari bulanDesember hingga juni. Di daerahSub-saharan
Meningitis Belt (Upper volta, Dahomey, Ghana dan Mali di barat, hinggaNiger,
Nigeria, Chad, Sudan di timur) di mulai pada musim panas/winter dry season
(November-Desember), mencapai puncaknya pada akhir April-awal Mei, saat angin
gurun Harmattan berkepanjangan dan tingginya suhu udara sepanjang hari; diakhiri
secara mendadak dengan dimulainya musim penghujan. Walaupun terpaparnya
populasi yang rentan terhadap strain baru yang virulen mungkin merupakan penyebab
epidemik, beberapa faktor lain termasuk lingkungan yang padat penduduk, adanya
kuman saluran nafas pathogen lain, hygiene yang rendah danlingkungan yang buruk
merupakan pencetus untuk terjadinya infeksi epidemik. Infeksi. meningitidis semata-
mata hanya mengenai manusia. Telah terbukti bahwa tidakdidapatkan adanya host
antara, reservoar atau transmisi dari hewan ke manusiapada infeksi M. meningitidis.
Nasofarings merupakan reservoar alami bagi meningococcus,transmisi dari kuman
tersebut terjadi lewat saluran pernafasan (airbonedroplets), serta kontak seperti dalam
keluarga atau situasi recruit training.
Pada suatu studi yang dilakukan oleh Artenstein dkk, didapatkan bahwa sebagian
besar partikel dari droplet salurannafas mengandung meningococcus. Meningococcus
bisa didapatkan pada kultur dari nasofaring dari manusia sehat, keadaan ini disebut
carrier. Hal tersebut dapatmeningeal tergantung kepada kemampuan dari kapsel
polisakarida untuk menghambataktivitas sistim komplemen bakterisidal yang klasik
dan menginhibisi phagositosis neutrophil. Aktivasi dari sistim komplemen merupakan
hal yang sangat penting dalam mekanisme pertahanan terhadap infeksi N. meningitidis.
Pasien dengan defisiensi dari komponen terminal komponen (C5, C6, C7, C8 dan
mungkin C9) merupakan resiko tinggi untuk terinfeksi Neisseria (termasuk
N.Meningitidis). (Sumber : Irfannuddin ;Fisiologi Paramedis)
Faktor resiko utama untuk meningitis adalah respons imunologi terhadap patogen
spesifik yang lemah terkait dengan umur muda. Resiko terbesar pada bayi (1 – 12
bulan); 95 % terjadi antara 1 bulan dan 5 tahun, tetapi meningitis dapat terjadi pada
setiap umur. Resiko tambahan adalah kolonisasi baru dengan bakteri patogen, kontak
erat dengan individu yang menderita penyakit invasif, perumahan padat penduduk,
kemiskinan, ras kulit hitam, jenis kelamin laki-laki dan pada bayi yang tidak diberikan
ASI pada umur 2 – 5 bulan. Cara penyebaran mungkin dari kontak orang ke orang
melalui sekret atau tetesan saluran pernafasan
Meningitis Bakterial Di Indonesia, angka kejadian tertinggi pada umur antara 2 bulan-
2 tahun. Umumnya terdapat pada anak distrofik,yang daya tahan tubuhnya rendah.
Insidens meningitis bakterialis pada neonatus adalah sekitar 0.5 kasus per 1000
kelahiran hidup. Insidens meningitis pada bayi berat lahir rendah tiga kali lebih tinggi
dibandingkan bayi dengan berat lahir normal. Streptococcus group B dan E.coli
merupakan penyebab utama meningitis bakterial pada neonatus. Penyakit ini
menyebabkan angka kematian yang cukup tinggi (5-10%). Hampir 40% diantaranya
mengalami gejala sisa berupa gangguan pendengaran dan defisit neurologis.
Meningitis Tuberkulosis, di seluruh dunia, tuberkulosis merupakan penyebab utama
dari morbiditas dan kematian pada anak. Di Amerika Serikat, insiden tuberkulosis
kurang dari 5% dari seluruh kasus meningitis bakterial pada anak, namun penyakit ini
mempunyai frekuensi yang lebih tinggi pada daerah dengan sanitasi yang buruk.
Meningitis tuberkulosis masih banyak ditemukan di Indonesia karena morbiditas
tuberkulosis anak masih tinggi. Angka kejadian tertinggi dijumpai pada anak terutama
bayi dan anak kecil dengan kekebalan alamiah yang masih rendah. Angka kejadian
jarang dibawah usia 3 bulan dan mulai meningkat dalam usia 5 tahun pertama,
tertinggi pada usia 6 bulan sampai 2 tahun. Angka kematian berkisar antara 10-20%.
Sebagian besar memberikan gejala sisa, hanya 18% pasien yang normal secara
neurologis dan intelektual. Anak dengan meningitis tuberkulosis yang tidak diobati,
akan meninggal dalam waktu 3-5 minggu. Angka kejadian meningkat dengan
meningkatnya jumlah pasien tuberkulosis dewasa.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat
memahami konsep serta mampu menerapakan Asuhan Keperawatan pada pasien
dengan kasus Meningitis di rumah sakit.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat mengerti serta memahami definisi dari Meningitis
b. Mahasiswa mengetahui etiologi terjadinya Meningitis
c. Mahasiswa dapat memahami anatomi fisiologi organ terkait
d. Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinis penyakit Meningitis
e. Mahasiswa dapat memahami patofisiologi penyakit Meningitis
f. Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi dari Meningitis
g. Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang apa sajakah yang
dapat dilakukan pada pasien Meningitis
h. Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan medis dari kasus Meningitis
i. Mahasiswa dapat memahami proses pembuatan asuhan keperawatan kasus
Meningitis secara teoritis
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Meningitis merupakan inflamasi pada selaput otak yang mengenai lapisan piameter
dan ruang subarakhnoid maupun arakhnoid, dan termasuk cairan serebrospinal (CSS).
Peradangan yang terjadi pada Meningitis yaitu membran atau selaput yang melapisi
otak dan medula spinalis, dapat disebkan berbagai organisme seperti virus, bakteri
ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah kedalam cairan
otak. Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu membran atau
selaput yang melpaisi otak dan medula spinalis, dapat disebabkan oleh berbagai
organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah
dan berpindah kedalam cairan otak (Black & Hawk.2005)
Meningitis adalah inflamasi yang terjadi pada meningen otak dan medula spinalis.
Gangguan ini biasanya merupakan komplikasi bakteri (infeksi sekunder) seperti
Sinusiotis, Otitis Media, Pneumonia, Edokarditis atau Osteomielitis. Meningitis
bakterial adalah inflamasi arakhnoid dan piameter yang mengenai CSS, Meningeotis
juga bisa disebut Leptomeningitis adalah infeksi selaput arakhnoid dan CSS di dala
ruangan subarakhnoid (Lippincott Williams & Wilkins.2012)
B. Anatomi Fisiologi Organ Terkait
Otak dan sumsum tulang belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur
syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan sekresi cairan serebrospinal.
Meningea terdiri dari tiga lapis yaitu:
1. Lapisan Luar (Durameter)
Merupakan tempat yang tidak kenyal yang membungkus otak, sumsum tulang
belakang, cairan serebrospinal dan pembuluh darah. Durameter terbagi lagi atas
durameter bagian luar yang disebut selaput tulang tengkorak (periosteum) dan
durameter bagian dalam (meningeal) meliputi permukaan tengkorak untuk
membentuk falks serebrum, tentorium serebelum dan diafragma sella.
2. Lapisan tengah (Arakhnoid)
Disebut juga selaput otak, merupakan selaput halus yang memisahkan durameter
dengan piameter, membentuk sebuah kantung atau balon berisi cairan otak yang
meliputi seluruh susunan saraf pusat. Ruangan diantara durameter dan arakhnoid
disebut ruangan subdural yang berisi sedikit cairan jernih menyerupai getah
bening. Pada ruangan ini terdapat pembuluh darah arteri dan vena yang
menghubungkan sistem otak dengan meningen serta dipenuhi oleh cairan
serebrospinal.
3. Lapisan Dalam (Piameter)
Lapisan piameter merupakan selaput halus yang kaya akan pembuluh darah kecil
yang mensuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak. Lapisan ini melekat erat
dengan jaringan otak dan mengikuti gyrus dari otak. Ruangan diantara arakhnoid
dan piameter disebut sub arakhnoid. Pada reaksi radang, ruangan ini berisi sel
radang. Disini mengalir cairan serebrospinalis dari otak ke sumsum tulang
belakang.
C. Etiologi
Meningitis dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Sementara meningitis bakteri
lebih berbahaya..
1. Meningitis Bakteri
Saat ini ada beberapa bakteri yang dapat menyebabkan meningitis. Beberapa di
antaranya:
a. Bakteri Meningokokus atau Meningococcal bakteri. Ada beberapa jenis bakteri
meningococcal disebut grup A, B, C, W135, Y dan Z. Saat ini sudah ada
vaksin yang tersedia untuk perlindungan terhadap grup C meningococcal
bakteri..
b. Streptococcus pneumoniae bakteri atau pneumokokus bakteri ini cenderung
mempengaruhi bayi dan anak-anak dan orang tua karena sistem kekebalan
tubuh mereka lebih lemah dari kelompok usia lainnya.
c. Mereka yang memiliki CSF shunt atau memiliki cacat dural mungkin bisa
terkena meningitis yang disebabkan oleh Staphylococcus
d. Pasien yang memiliki tulang belakang prosedur (misalnya tulang belakang
anaesthetia) beresiko meningitis yang disebabkan oleh Pseudomonas spp.
e. Sifilis dan tuberkulosis menuju meningitis serta jamur meningitis langka
penyebab tetapi terlihat dalam individu positif HIV dan orang-orang dengan
kekebalan yang ditekan.
Menurut kelompok usia, beberapa bakteri kemungkinan penyebab meningitis
meliputi:

A. Dalam baru-borns - pneumokokus bakteri atau group B streptokokus, Listeria


monocytogenes, Escherichia coli
B. Bayi dan anak-anak - H. influenzae tipe b, pada anak-anak kurang dari 4
tahun dan menjadi unvaccinated menimbulkan risiko meningitis karena
Meningokokus, Streptococcus radang paru-paru
C. Anak-anak dan orang dewasa : S. pneumoniae, H. influenzae tipe b, N.
meningitidis, gram negatif Basil, staphylococci, streptokokus dan L.
monocytogenes.
D. Orang tua dan orang-orang dengan kekebalan ditekan : S. pneumoniae, L.
monocytogenes, tuberculosis (TB), organisme gram-negatif
E. Setelah cedera kepala atau infeksi yang diperoleh setelah tinggal di rumah
sakit atau prosedur. Termasuk infeksi dengan Kleibsiella pneumoniae, E.coli,
Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus

2. Transmisi infeksi
Meningococcal bakteri yang menyebabkan meningitis tersebar yang biasanya
melalui kontak dekat yang berkepanjangan. Penyebaran dimungkinkan karena
pasien berada dekat dari orang yang terinfeksi melalui bersin, batuk, berbagi
barang-barang pribadi seperti, sikat gigi, sendok garpu, peralatan dll. Bakteri
pneumokokus juga tersebar oleh kontak dekat dengan orang yang terinfeksi,
batuk, bersin dll. Namun, dalam kebanyakan kasus hal ini hanya menyebabkan
infeksi ringan, seperti infeksi telinga tengah (otitis media). Orang-orang dengan
sistem kekebalan rendah yang dapat mengembangkan infeksi lebih parah seperti
meningitis.
3. Meningitis virus penyeba
Ada beberapa virus yang dapat menyebabkan meningitis. Vaksinasi terhadap
banyak virus ini telah menyebabkan penurunan kejadian beberapa kasus
meningitis. Contoh campak, gondok dan Rubela (MMR) . Vaksinisasi tersedia
bagi anak dengan kekebalan rendah terhadap gondok, yang dulunya merupakan
penyebab utama dari virus meningitis pada anak-anak.
Virus yang dapat menyebabkan meningitis meliputi:
a. Virus herpes simpleks-ini dapat menyebabkan genital herpes
b. Enteroviruses-virus flu perut - ini telah menyebabkan polio di masa lalu juga
bertanggung jawab atas
c. Gondok
d. Echovirus
e. Coxsackie
f. Virus herpes zoster
g. Campak
h. Arbovirus
i. Influenza
j. Hiv
k. Virus west nile
4. Transmisi HIV
Infeksi virus meningitis dapat menyebar oleh kontak dekat dengan orang
terinfeksi dan yang terkena ketika orang bersin dan batuk. Mencuci tangan setelah
terkontaminasi dengan virus-misalnya, setelah menyentuh permukaan atau objek
yang memiliki virus di atasnya dapat mencegah penyebaran.
5. Penyebab lain dari meningitis
Penyebab lain dari meningitis meliputi:
a. Meningitis jamur-disebabkan oleh Cryptococcus, Histoplasma dan
Coccidioides spesies dan melihat pada pasien AIDS
b. Parasit yang menyebabkan meningitis-termasuk contoh meningitis
eosinophilic yang disebabkan oleh angiostrongyliasis
c. Organisme lainnya seperti tuberkulosis atipikal, sifilis, penyakit Lyme,
leptospirosis, listeriosis dan brucellosis, penyakit Kawasaki dan Mollaret's
meningitis
d. Mungkin ada tidak ada infeksi dan peradangan hanya meninges menuju
bebas-infektif meningitis. Hal ini disebabkan oleh tumor, leukemia, limfoma,
obat dan bahan kimia yang diberikan spinally atau epidurally selama anestesi
atau prosedur, penyakit seperti Sarkoidosis, sistemik lupus eritematosus dan
penyakit dll.
D. Patofisiologi
Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran penyakit di organ atau
jaringan tubuh yang lain. Virus atau bakteri menyebar secara hematogen sampai ke
selaput otak, misalnya pada penyakit faringitis, tonsilitis, pneuminoa,
bronchopneumonia dan endokarditis. Penyebaran bakteri atau virus dapat pula secara
perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan yang ada didekat selaput otak,
misalnya abses otak, otitis media, mastoiditis, trombosis sinus kavernosus dan
sinusitis. Penyebaran bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan fraktur terbuka
atau komplikasi bedah otak. Invasi kuman-kuman kedalam ruang subaraknoid
menyebabkan reaksi radang pada pia dan arkhnoid, CSS (cairan serebrospinal) dan
sistem ventrikulus.
Mula-mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami hiperemi;
dalam waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel-sel leukosit polimorfonuklear
ke dalam ruang subarakhnoid, kemudian terbentuk eksudat. Dalam beberapa hari
terjadi pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam minggu kedua sel-sel plasma.
Eksudat yang terbentuk terdiri dari dua lapisan. Bagian luar mengandung leukosit
polimorfonuklear dan fibrin sedangkan dilapisan dalam terdapat makrofag.
Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan dapat
menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi neuron-neuron.
Trombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrono-purulen menyebabkan
kelainan kraniales. Pada meningitis yang disebabkan oleh virus, cairan serebrospinal
tampak jernih dibandingkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri.
E. Komplikasi
Penyakit-penyakit yang dapat terjadi akibat dari komplikasi meningitis antara lain
1. Trombosis vena cerbral, yang menyebabkan kejang, koma, atau kelumpuhan.
2. Efusi atau abses subdural, yaitu penumpukan cairan diruangan subdural karena
adanya infeksi karena kuman.
3. Hidrosefalus, yaitu pertumbuhan lingkaran kepala yang cepat dan abnormal yang
disebabkan oleh penyumbatan cairan serebrospinalis.
4. Ensefalitis, yaitu radang pada otak
5. Abses otak, terjadi karena radang yang berisi pus atau nanah diotak.
6. Arteritis pembuluh darah otak, yang dapat mengakibatkan infrak otak karena
adanya infeksi pada pembuluh darah yang mengakibatkan kematian pada jaringan
otak.
7. Kehilangan pendengaran, dapat terjadi karena radang langsung saluran
pendengaran.
8. Gangguan perkembangan mental dan intelegensi karena adanya retardasi mental
yang mengakibatkan perkembangan mental dan kecerdasan anak terganggu.
(Harsono. 2007)
F. Pathway
G. Manifestasi Klinis
Keluhan pertama biasanya nyeri kepala.rasa nyeri ini dapat menjalar ke tengkuk
dan punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya
otot – otot ekstensor tenkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus. Yaitu tengkuk kaku dalam
sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap hiperekstensi. Kesadaran
menurun. tanda kernig dan brudzinsky positif . Gejala meningitis di akibatkan dari
infeksi dan peningkatan TIK
1. Sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala di hubungkan
dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam
umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit.
2. Perubahan pada tinkat kesadaran dihubunkan dengan meningitis bakteri.
Disorientasi dan gangguan memori biasanya merupakan awal adanya penyakit
individu terhadap proses fisiologik. Manifestasi prilaku juga umum terjadi. Sesuai
perkembangan penyakit, dapat terjadi letargik, tidak response, dan koma.
3. Iritasi meningen negakibatkan sejumlah tanda yang mudah di kenali yang
umumnya terlihat pada semua tipe meningitis.
4. Rigiditas nukal (kaku leher) adalah tanda awal. Adanya upaya untuk fleksi kepala
mengalami kesukaran karena adanya spasme otot otot leher .fleksi paksaan
menyebabkan nyeri berat.
5. Tanda kerning positif : ketika pasien di baringkan dengan paha dalam keadaan
fleksi kea rah abdomen , kaki tidak dapat di ekstensikn sempurna.
6. Tanda brudzinski: bila leher difleksikan, maka di hasilkan fleksi lutut dan pinggul;
bila di lakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi, maka
gerakan yang sama terlihat pada sisi ekstremitas yang berlawanan.
7. Demikian pula alas an yang tidak di ketahui, pasien iini mengeluh mengalami
fotofobia atau sensitive yang berlebihan terhadap cahaya.
8. Kejang dan peningkatan TIK juga berhubungan dengan meningitis. Kejang terjadi
terjadi sekunder akibat area vocal kortikal yang peka. Tanda tanda peningkatan
TIK sekunder akibat eksudat purulen dan edema serebral terdiri dari perubahan
karakteristik tanda tanda vital(melebarnya tekanan pulse dan
bradikardia),pernafasan tidak teratur, sakit kepal muntah, dan penrunan tingkat
kesadaran.
9. Adanya ruam merupakan salah satu ciri yang menyolok pada meningitis
meningokokal (Neisseria meningitis). Sekitar dari semua pasien dengan tipe
meningitis mengembangkan lesi-lesi pada kulit diantaranya ruam petekie dengan
lesi purpura asmpai ekimosis pada daerah yang luas.
10. Infeksi fulminating terjadi pada sekitar 10% dengan meningitis meningiokokkus,
dengan tanda tanda septicemia; demam tinggi yang tiba tiba muncul, lesi purpura
ynag menyebar(sekitar wajah dan ekstremitas), syok dan tanda tanda koagulopati
intravaskuler diseminata (KID).kematian mungkin terjadi dalam beberapa jam
setelah serangan infeksi.
11. Organisme penyebab infeksi selalu dapat di identifikasi melalui biakan kuman ada
cairan serebrosinal dan darah.counter immuno electrooesis (CIE) digunakan secara
luas untuk mendeteksi antigen bakteri ada cairan tubuh, umumnya cairan
serebrosnal dan urine.

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Rangsangan Meningeal
a. Pemeriksaan kaku kuduk
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan pergerakan pasif berupa fleksi
dan rotasi kepala. Tanda kaku kuduk positif atau negatif bila didapatkan
kekakuan dan tahanan pada pergerakan fleksi kepala disertai rasa nyeri dan
spasme otot. Dagu tidak dapat disentuhkan kedada dan juga didapatkan tahanan
pada hiperekstensi dan rotasi kepala. (Harsono. 2007).
b. Pemeriksaan Tanda Kernig
Pasien berbaring terlentang, tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada
panggul kemudian ekstensi tungkai bawah pada sendi lutut sejauh mungkin
tanpa rasa nyeri. Tanda kernig positif atau negatif bila ekstensi sendi lutut
tidak mencapai sudut 135 ( kaki tidak dapat diekstensi sempurna) disertai
spasme otot pada biasanya diikuti rasa nyeri. (Harsono. 2007).
c. Pemeriksaan Tanda Brudzinski I (Brudzinski Leher)
Pasien berbaring terlentang dan pemeriksaan meleteakkan tangan kirinya
dibawah kepala dan tangan kanan diatas dada pasien kemudian dilakukan
fleksi kepada dengan cepat kearah dada sejauh mungkin. Tanda brudzinski I
positif atau negatif bila pada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada leher.
(Harsono. 2007).
d. Pemeriksaan tanda Brudzinski II (Brudzinski kontra lateral tungkai)
Pasien terbaring terlentang dan dilakukan fleksi pasif paha pada sendi
panggul (seperti pada pemeriksaan kernig). Tanda brudzinski II positif atau
negatif bila pada pemeriksaa terjadi fleksi involunter pada sendi panggul dan
lutut kontralateral. (Harsono. 2007)
2. Pemeriksaan Penunjang Meningitis
a. Pemeriksaan cairan serebrospinalis
Berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, mengitis, dibagi menjadi
dua golongan yaitu meningitis serosa dan meningitis purulenta.
1) Pada meningitis purulenta, diagnosa diperkuat dengan hasil positif
pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop dan hasil biakan. Pada
pemeriksaan diperoleh hasil cairan serebrospinal yang keruh karena
mengandung pus (nanah) yang merupakan campuran leukosit yang hidup
dan mati, serta jaringan yang mati dan bakteri.
2) Pada meningitis serosa, diperoleh hasil pemeriksaan cairan serebrospinal
yang jernih meskipun mengandung sel dan jumlah protein yang meninggi.
3. Pemeriksaan darah
Dilakukan dengan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, laju endap
darah (LED), kadar glukosa ,kadar ureum,elektrolit, dan kultur.
a. Pada meningitis purulenta didapatkan peningkatan leukosit.
b. Pada meningitis serosa didapatkan peningkatan leukosit saja. Di samping itu,
pada meningitis tuberkulosa didapatkan juga peningkatan LED.
4. Pemeriksaan radiologi
a) Pada meningitis purulenta dilakukan foto kepala (pemeriksaan mastoid,sinus
paranasal) dan foto dada.
b) Pada meningitis serosa dilakukan foto dada, foto kepala, dan bila mungki
dilakukan CT Scan. (Harsono. 2007)
I. Penatalaksanaan Medis
Terapi Konservatif/Medikal
1. Terapi Antibiotik
Pemilihan obat-obatan antibiotika, harus terlebih dahulu dilakukan kultur
darah dan lumbal punksi guna pemberian antibiotika disesuaikan dengan kuman
penyebab. Berikut ini pilihan antibiotika atas dasar umur. Pemilihan antimikrobial
pada meningitis otogenik tergantung pada pemilihan antibiotika yang dapat
menembus sawar darah otak, bakteri penyebab serta perubahan dari sumber dasar
infeksi. Bakteriologikal dan respon gejala klinis kemungkinan akan menjadi
lambat, dan pengobatan akan dilanjutkan paling sedikit 14 hari setelah hasil kultur
CSF akan menjadi negatif.
Penatalaksanaan medis lebih bersifat mengatasi etiologi dan perawat perlu
menyesuaikan dengan standar pengobatan sesuai tempat bekerja yang berguna
sebagai bahan kolaborasi dengan tim medis. Secara ringkas penatalaksanaan
pengobatan meningitis meliputi: Pemberian antibiotic yang mampu melewati
barier darah otak ke ruang subarachnoid dalam konsentrasi yang cukup untuk
menghentikan perkembangbiakan bakteri. Baisanya menggunakan sefaloposforin
generasi keempat atau sesuai dengan hasil uji resistensi antibiotic agar pemberian
antimikroba lebih efektif digunakan.
a. Obat anti-infeksi (meningitis tuberkulosa):
1) Isoniazid 10-20 mg/kgBB/24 jam, oral, 2x sehari maksimal 500 mg
selama 1 setengah tahun.
2) Rifampisin 10-15 mg/kgBB/24 jam, oral, 1 x sehari selama 1 tahun.
3) Streptomisin sulfat 20-40 mg/kgBB/24 jam, IM, 1-2 x sehari selama 3
bulan.
b. Obat anti-infeksi (meningitis bakterial):
1) Sefalosporin generasi ketiga
2) Amfisilin 150-200 mg/kgBB/24 jam IV, 4-6 x sehari
3) Klorafenikol 50 mg/kgBB/24 jam IV 4 x sehari.
c. Pengobatan simtomatis:
1) Antikonvulsi, Diazepam IV; 0,2-0,5 mgkgBB/dosis, atau rectal: 0,4-0,6
mg/kgBB, atau fenitoin 5 mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari atau Fenobarbital
5-7 mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari.
2) Antipiretik: parasetamol/asam salisilat 10 mg/kgBB/dosis.
3) Antiedema serebri: Diuretikosmotik (seperti manitol) dapat digunakan
untuk mengobati edema serebri.
4) Pemenuhan oksigenasi dengan O2.
5) Pemenuhan hidrasi atau pencegahan syok hipovolemik: pemberian
tambahan volume cairan intravena
2. Kortikosteroid
Efek anti inflamasi dari terapi steroid dapat menurunkan edema serebri,
mengurangi tekanan intrakranial, akan tetapi pemberian steroid dapat menurunkan
penetrasi antibiotika kedalam abses dan dapat memperlambat pengkapsulan abses,
oleh karena itu penggunaan secara rutin tidak dianjurkan. Oleh karena itu
kortikosteroid sebaiknya hanya digunakan untuk tujuan mengurangi efek masa atau
edema pada herniasi yang mengancam dan menimbukan defisit neurologik fokal.
Label et al (1988) melakukan penelitian pada 200 bayi dan anak yang menderita
meningitis bakterial karena H.Influenzae dan mendapat terapi deksamehtason 0,15
Mg/kgBB/x tiap enam jam selama 4hari, 20 menit sebelum pemberian antibiotika.
Ternyata pada pemeriksaan 24jam kemudian didapatkan penurunan tekanan CSF,
peningkatan kadar glukosa CSF dan penurunan kadar protein CSF. Yang
mengesankan dari penelitian ini bahwa gejala sisa berupa gangguan pendengaran
pada kelompok yang mendapatkan deksamethason adalah lebih rendah
dibandingkan kontrol. Tunkel dan Scheld (1995), menganjurkan pemberian
deksamethason hanya pda penderita dengan resiko tinggi, atau pada penderita
dengan status mental sangat terganggu, edema otak atau tekanan intrakranial tinggi.
Hal ini mengingat efek samping penggunaan deksamethason yang cukup banyak
seperti perdarahan traktus gastrointestinal, penurunan fungsi imun selular sehingga
menjadi peka terhadap patogen lain dan mengurangi penetrasi antibiotika kedalam
CSF.
3. Terapi Operatif
Penanganan vokal infeksi dengan tindakan operatif mastoidektomi. Pendekatan
mastoidektomi harus dapat menjamin eradekasi seluruh jaringan patologik
dimastoid. Maka sering diperlukan mastoidektomi radikal. Tujuan operasi ini
adalah untuk memaparkan dan mengeksplorasi seluruh jalan yang mungkin
digunakan oleh invasi bakteti.
Selain itu juga dapat dilakukan tindakan trombektomi, jugular vein
ligation,perisinual dan cerebellar abcess drainage yang diikuti antibiotika broad
spectrum dan obat-obatan yang mengurangi edema otak yang tentunya akan
memeberikan outcome yang baik pada penderita komplikasi intrakranial dari otitis
media.
J. Asuhan Keperawatan (Teoritis) Pengkajian-Evaluasi
1. Pengkajian
a. Riwayat keperawatan : riwayat kelahiran, penyakit kronis, neoplasma riwayat
pembedahan pada otak, cedera kepala
b. Pada neonatus : kaji adanya perilaku menolak untuk makan, refleks
menghisap kurang, muntah dan diare, tonus otot kurang, kurang gerak dan
menagis lemah
c. Pada anak-anak dan remaja : kaji adanya demam tinggi, sakit kepala, muntah
yang diikuti dengan perubahan sensori, kejang mudah terstimulasi dan
teragitasi, fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif atau maniak,
penurunan kesadaran, kaku kuduk, opistotonus, tanda kernig dan Brudzinsky
positif, reflex fisiologis hiperaktif, petchiae atau pruritus.
d. Bayi dan anak-anak (usia 3 bulan hingga 2 tahun) : kaji adanya demam,
malas makan, muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis dangan merintih,
ubun-ubun menonjol, kaku kuduk, dan tanda kernig dan Brudzinsky positif.
2. Pemeriksaan Penunjang
1. Lumbal Pungsi
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa hitung jenis sel dan
protein, cairan serebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya
peningkatan TIK.
2. Meningitis bacterial: tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, leukosit dan
protein meningkat, glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis
bakteri.
3. Glukosa & dan LDH : meningkat.
4. LED/ESRD: meningkat.
5. CT Scan/MRI: melihat lokasi lesi, ukuran ventrikel, hematom, hemoragik.
6. Rontgent kepala: mengindikasikan infeksi intrakranial.
7. Kultur Darah dan Kultur Swab Hidung dan Tenggorokan
c. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan tekanan
intrakranial
a. Tujuan :
1) Pasien kembali pada keadaan status neurologis sebelum sakit
2) Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris
b. Kriteria hasil
1) Tanda-tanda vital dalam batas normal
2) Rasa sakit kepala berkurang
3) Kesadaran meningkat
4) Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-
tanda tekanan intrakranial yang meningkat.

INTERVENSI RASIONALISASI
Pasien bed rest total dengan Perubahan pada tekanan intakranial akan
posisi tidur terlentang tanpa dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya
bantal herniasi otak
Monitor tanda-tanda status Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjt
neurologis dengan GCS.
Monitor tanda-tanda vital Pada keadaan normal autoregulasi
seperti TD, Nadi, Suhu, mempertahankan keadaan tekanan darah
Resoirasi dan hati-hati pada sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan
hipertensi sistolik autoreguler akan menyebabkan kerusakan
vaskuler cerebral yang dapat
dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik
dan diiukuti oleh penurunan tekanan
diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat
menggambarkan perjalanan infeksi.
Monitor intake dan output Hipertermi dapat menyebabkan peningkatan
IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi
terutama pada pasien yang tidak sadar,
nausea yang menurunkan intake per oral
Bantu pasien untuk membatasi Aktifitas ini dapat meningkatkan tekanan
muntah, batuk. Anjurkan intrakranial dan intraabdomen. Mengeluarkan
pasien untuk mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi
napas apabila bergerak atau dapat melindungi diri dari efek valsava
berbalik di tempat tidur.
Kolaborasi
Berikan cairan perinfus Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler
dengan perhatian ketat. dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan
cairan dapat menurunkan edema cerebral
Monitor AGD bila diperlukan Adanya kemungkinan asidosis disertai
pemberian oksigen dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel
dapat menyebabkan terjadinya iskhemik
serebral
Berikan terapi sesuai advis
dokter seperti: Steroid, Terapi yang diberikan dapat menurunkan
Aminofel, Antibiotika. permeabilitas kapiler.
Menurunkan edema serebri
Menurunkan metabolik sel / konsumsi dan
kejang.
2. Nyeri sehubungan dengan adanya iritasi lapisan otak
a. Tujuan:
1) Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa sakit terkontrol
b. Kriteria hasil:
1) Pasien dapat tidur dengan tenang
2) Memverbalisasikan penurunan rasa sakit.
INTERVENSI RASIONALISASI
Mandiri
Pantau berat ringan nyeri yang Mengetahui tingkat nyeri yang
dirasakan dengan menggunakan dirasakansehingga memudahkan
skala nyeri pemberian intervensi
Pantau saat muncul awitan nyeri Menghindari pencetus nyeri merupakan
salah satu metode distraksi yang efektif

Usahakan membuat lingkungan Menurukan reaksi terhadap rangsangan


yang aman dan tenang ekternal atau kesensitifan terhadap
cahaya dan menganjurkan pasien untuk
beristirahat
Kompres dingin (es) pada kepala Dapat menyebabkan vasokontriksi
dan kain dingin pada mata pembuluh darah otak
Lakukan latihan gerak aktif atau Dapat membantu relaksasi otot-otot yang
pasif sesuai kondisi dengan tegang dan dapat menurunkan rasa sakit /
lembut dan hati-hati disconfort
Kolaborasi
Berikan obat analgesic Mungkin diperlukan untuk menurunkan
rasa sakit. Catatan: Narkotika merupakan
kontraindikasi karena berdampak pada
status neurologis sehingga sukar untuk
dikaji.
3. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
a. Tujuan:
Suhu tubuh klien menurun dan kembali normal.
b. Kriteria hasil:
Suhu tubuh 36,5 - 37,5 ° C

INTERVENSI RASIONALISASI
Ukur suhu badan anak setiap 4 jam suhu 38,9 – 41,1 menunjukkan proses
penyakit infeksius
Pantau suhu lingkungan Untuk mempertahankan suhu badan
mendekati normal
Berikan kompres hangat Untuk mengurangi demam dengan
proses konduksi
Berikan selimut pendingin Untuk mengurangi demam lebih dari
39,5 0C
Kolaborasi dengan tim medis : Untuk mengurangi demam dengan
pemberian antipiretik aksi sentralnya di hipotalamus

d. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan sesuai dengan intervensi yang sudah ditetapkan (sesuai dengan
literature).
e. Evaluasi
Hal hal yang perlu dievaluasi dalam pemberian asuhan keperawatan berfokus pada
criteria hasil dari tiap-tiap masalah keperawatan dengan pedoman pembuatan SOAP,
atau SOAPIE pada masalah yang tidak terselesaikan atau teratasi sebagian.
BAB III
Asuhan Keperawatan pada Tn.D dengan Penyakit Meningitis

A. Kasus
Tn.D (30) datang ke RS. Respati diantar keluarga dengan keluhan sakit kepala (pada
bagian frontal), kaku leher dan demam tinggi sejak satu minggu yang lalu .Istri klien
mengatakan bahwa klien sering mengalami kejang-kejang kurang lebih 30 detik. Istri
klien juga mengatakan suaminya juga sering mengeluh sulit tidur ketika hendak tidur.
Hal ini membuat klien terlihat lemah dan juga lemas. Dari hasil pemeriksaan fisik
terdapat tanda krenik (+), tanda brudnizki (+). Ekstrimitas teraba dingin dan terdapat
benjolan pada leher bagian dextra TD: 150/80 S: 37,90C , N : 60x/mnt RR: 28x/mnt.
Pada hasil CT scan menunjukan terdapat edema kepala pada bagian parietal. Setelah
dilakukan pemeriksaan darah lengkap dan juga lumbal pungsi, dokter menyatakan
bahwa pasien mengalami Meningitis
Terapi yang diberikan pasien dirumah sakit antara lain:
1. Diazepam IV; 0,2-0,5 mgkgBB/dosis,
2. Amfisilin 150-200 mg/kgBB/24 jam,
3. Parasetamol 10 mg/kgBB/dosis.
4. Oksigen 5 liter (canul nasal)
5. RL 500 ml (20tpm)

1. Pengkajian
a) Pengkajian Keperawatan
Nama Perawat : Perawat C

Tanggal Pengkajian : 20 November 2015

Jam Pengkajian : 09.00 WIB

b) Biodata
1) Pasien
Nama : Tn.D
Umur : 30 tahun
Pendidikan : S1
Agama : Islam
Pekerjaan : PNS
Status Pernikahan : Menikah
Alamat : Klodokan, Yogyakarta
Tanggal Masuk RS : 20 November 2015
Jam MRS : 09.00 WIB
Diagnosa Medis : Meningitis
2) Penanggung
Nama : Ny. W
Umur : 28 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : S1
Pekerjaan : PNS
Status Pernikahan : Sudah Menikah
Alamat : Klodokan, Yogyakarta
Hubungan dengan : Istri klien
2. Keluhan Utama
Tn.D mengatakan merasa nyeri dibagian kepala
3. Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan bahwa sudah satu minggu mengalami nyeri dibagian
kepala, selain itu juga terasa kaku dibagian leher klien. Klien juga sudah
demam selama satu minggu. Sebelumnya klien sudah minum obat untuk
menurunkan demamnya tapi demamnya tidak mau turun. Suhu klien saat
diperiksa 38.90C. istri klien juga mengatakan bahwa klien sering mengeluh
sulit tidur karena nyeri yang sering ia rasakan. Istri klien mengatakan bahwa
di bagian leher kiri klien terdapat benjolan yang sudah lama (± 1 bulan)
awalnya klien merasa biasa saja dengan benjolannya, namun lama kelamaan
klien merasa risih dengan benjolannya. Dari ahri ke hari menjolan tersebut
semankin membesar. Ukuran benjolan ± 4 cm . akhirnya klien dibawa ke
rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Klien masuk di bangsal Melati
dan mendapat terapi RL 500 ml (20 tpm)
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Istri klien mengatakan bahwa sewaktu berumur 28 tahun, klien pernah
mengalami Herpes Zoster selama satu minggu , dan sempat dirawat di
rumah sakit. Namun penyakitnya sudah sembuh
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Istri klien mengatakan bahwa di anggota keluarganya tidak ada yang
mengalami hal seperti Tn.D
4. Genogram
Keterangan :

Pria wanita Pasien yang teridentifikasi Meninggal

Menikah Anak kandung Tinggal serumah

5. Basic Promoting Phisiology of Health


a. Aktivitas dan latihan : Sebelum sakit Tn.D mengatakan untuk aktivitasnya
dapat dilakukan dengan baik dan secara mandiri namun sejak ia masuk rumah
sakit aktivitasnya dibantu oleh keluarga karena tubuh klien yang lemas. Pada
saat dikaji pasien terlihat malaise
Tabel : Aktivitas klien selama di rumah sakit
No Jenis Aktivitas 0 1 2 3 4

1 Makan 

2 Minum 

4 Toileting 

5 Berpakaian 

6 Berpindah 

Keterangan :
0 : Dilakukan secara mandiri
1: Dilakukan dengan bantuan alat
2: dilakukan dengan bantuan keluarga
3: Dilakukan dengan bantu alat dan keluarga
4: Total ketergantungan
b. Tidur dan Istirahat : Sebelum sakit Tn.D mengatakan bahwa ia biasanya tidur
siang ± 30 menit – 1 jam , sementara untuk istirahat malam ± 5-6 jam. Nn.H
mengatakan tidak ada gangguan ketika hendak istirahat. Namun sejak dirawat
di rumah sakit ia mengatakan sulit tidur karena merasa nyeri, sehingga pada
siang hari pasien terlihat lemas. Keluarga klien mengatakan suaminya sulit
tidur ketika hendak tidur. Konjungtiva pucat
c. Kenyamanan dan Nyeri: Klien mengatatakan bahwa mengalami nyeri di
bagian kepala (frontalis)
P : Tn.D mengatakan nyerinya muncul ketika bangun
Q : Kualitas nyeri klien tajam seperti ditusuk tusuk
R : Nyeri dirasakan di area kepala bagian frontalis
S : Skala nyeri 8 (antara 1-10)
T : Nyeri muncul secara tiba-tiba dengan durasi ± 30 detik
d. Nutrisi : Sebelum sakit Tn.D mengatakan untuk makan, ia makan 3 kali sehari
dengan teratur. Makanan yang biasa dimakan yaitu: nasi, sayur dan juga daging.
Makanan favorit klien yaitu kerupuk dan juga gorengan. Selama sakit klien
kurang nafsu makan sehingga klien terlihat kurang bersemangat. Meskipun
begitu, klien bisa menghabiskan ½ porsi makan yang diberikan tim gizi.
Pemeriksaan status gizi berdasarkan antropometri A= BB: 70 kg, TB: 171 cm,
IMT: 23 %, B, Leukosit 15.000 103/ul , lemah otot.
e. Cairan, Elektrolit dan Asam Basa : Tn.D mengatakan bahwa sebelum sakit ia
mengkonsumsi air 3-4 gelas sedang per hari ( ± 1000-1200 ml ) dengan jenis
minuman yaitu air putih. Sejak dirumah sakit klien hanya minum 3 gelas air
sehari (± 1200 ml) Turgor kulit baik dan terpasang cairan infus jenis RL 500 ml
(20 tpm)
f. Oksigenasi : Klien mengatakan tidak ada masalah berkaitan dengan pernapasan
namun sejak sakit klien terkadang sesak napas jika melakukan aktivitas berat
seperti berlari atau menaiki tangga. RR klien meningkat pada saat dikaji
(28x/mnt). Klien terpasang oksigen 5 liter menggunakan canul nasal
g. Eliminasi Bowel : Tn.D mengatakan bahwa sebelum sakit BAB-nya lancar, ± 1
kali sehari. Tn.D juga mengatakan tidak mengalami masalah saat BAB seperti
diare maupun konstipasi. Namun sejak sakit klien mengatakan agak sulit BAB
dan kadang sampai 2 hari sekali BAB
h. Eliminasi Urin : Sebelum sakit, klien mengatakan tidak mengalami masalah
pada saat BAK. Nn.H mengatakan ia BAK ± 4-5 kali dalam sehari. Selama di
rumah sakit klien juga tidak mengeluhkan mengenai masalah BAK. Pada saat
dikaji pasien terpasang kateter
i. Sensori, Persepsi dan Kognitif : Klien mengatakan untuk masalah sensori dan
persepsi tidak terdapat gangguan. Namun pada penglihatan klien agak menurun
karena klien merasa nyeri jika membuka mata
6. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum :
Kesadaran : Apatis
GCS : E= 3 V= 5 M= 6 (Total 14 )
Vital Sign : TD : 150/80 mmHg
Nadi : Frekuensi : 60 x/mnt
Irama : Reguler
Kekuatan : lemah
Respirasi : Frekuensi : 28 x/mnt
Irama : Irreguler
Suhu : 38,90 C
b. Kepala
Kulit kepala : Bentuk kepala mesosepalus, terdapat pembengkakan di
daerah parietal
Rambut : Warna rambut hitam merata, rambut sedikit rontok

Muka : Bentuknya simetris, tidak ada kelainan bentuk wajah.

Mata : Konjungtiva anemis, sclera normal, pupil isokor, palpebra normal

Hidung : Bentuk simetris, tidak ada septum deviasi, tidak terdapat polip,
keadaan hidung bersih.

Mulut : Keadaan mulut bersih, tidak ada karies gigi ataupun gigi yang
tanggal

Telinga : Simetris, tidak ada serumen dan luka


c. Leher : bentuk tidak simetris krena terdapat pembesaran kelenjar limfe
bagian dekstra

d. Dada : bentuk simetris, tidak terdapat pembesaran liver atau splenomegali


a) Pulmo : Inspeksi : Tidak terdapat pembengkakan ataupun bekas luka.
Palpasi : fremitus taktil tidak seirama seirama
Perkusi : bunyi sonor
Auskultasi : trakelal
b) Cardio : Inspeksi : Tidak terdapat pembengkakan, bekas luka.
Palpasi : ictus cordis : ICS V midclavicle sinistra
Perkusi : suara pekak
Auskultasi : S1, S2 tunggal
e. Abdomen
Inspeksi : Warna kulit sama dengan warna kulit sekitar, tidak terdapat lesi
atau namun terdapat splenomegali pada abdomen kuadran III
Palpasi : Tidak terdapat asites, terdapat nyeri tekan.
Perkusi : Bunyi timpani dan redup pada kuadran III
Auskultasi : Peristaltic usus 12x/mnt
f. Genetalia : Keadaan bersih, tidak terdapat inflamasi.
g. Rectum :Terdapat hemoroid grade II
h. Ektremitas : 4 4
4 4

A. Tidak ada gerakan


B. Gerakan pasien terbatas dan hanya bisa melakukan gerakan kontraksi
seperti menggerakan jari
C. Gerakan pasien hanya dapat mengeser tangan ke kanan da ke kiri, namun
tidak dapat melakukan gerakan grafitasi
D. Pasien hanya dapat melakukan gerakan grafitasi
E. Pasien dapat melakukan gerakan grafitasi namun bila diberikan tekanan
kekuatan pasien terasa lemah
F. Kekuatan pasien sama dengan kekuatan pemeriksa
7. Psiko sosio budaya Dan Spiritual :
Psikologis :Perasaan klien setelah mengalami masalah ini adalah : Ia merasa cemas
karena megalami penyakit ini. Ia takut jika hidupnya tidak panjang siapa yang akan
mengurus keluarganya.

Sosial :keluarga klien mengatakan klien sering mengikuti aktivitas di lingkungan


tempat tinggalnya. Klien juga dikenal sebagai orang yang ramah di lingkungannya

Budaya :Budaya yang diikuti klien adalah budaya Jawa .Dari budaya yang
dianutnya tidak ada yang merugikan terutama bagi kesehatannya

Spiritual :Aktivitas Ibadah sehari-hari klien yaitu sholat 5 waktu.

8. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan laboratorium tanggal 21 November 2015 , Jam: 14.00
Hematologi

Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal Interpretasi Hasil

Haemoglobin P 9 g/gL g/dL 12-16 TN

Leukosit H 13,5 103/ul 4-10/ul TN

Hematokrit L 35 % 36-47% N

Eritrosit 4,5 106/ul 4,40 – 5, 90 N

Trombosit H 15 103/ul 150 – 400 TN

Eusinofil 250 % 1–4 N

Basofil 0,30 % 0–1 N

Netrofil 67,50 % 50 – 70 N

Limfosit L 36,17 % 22 – 40 N

Monosit H 10,90 % 4–8 N

Ureum 17 Mg/dl 10-50 N

Kreatinin L 0,70 Mg/dl 0,6-1,10 N


SGOT 45 u/L 0-50 N

SGPT 27 u/L 0-50 N

HbsAg Rapid Non Non reaktif


Reaktif

b) Terapi medis

Jenis terapi Nama obat Dosis Implikasi keperawatan

Cairan IV Ringer Laktat 500 ml/inj Tarapi untuk mengatasi


dehidrsi cairan tubuh
Dexametason 40 mg Membantu mengurangi
rasa gatal diakibatkan oleh
berbagai kondisi alergi
pada kulit dan mukosa
. Diazepam 0,2-0,5 Obat untuk mengurangi
mgkgBB/dosis kejang-kejang
Oksigen 5 liter (canul Untuk mengurangi
nasal) hipoksia
Parasetamol 10 Terapi untuk menurunkan
mg/kgBB/dosis demam
Amfisilin 150-200 Antibiotik
mg/kgBB/24
jam
Ibuprofen 400 mg/6 j Mengurangi rasa nyeri
atau kram akibat
menstruasi
A. ANALISA DATA

Nama klien : Tn.D No. Register : 274793

Umur :30 tahun Diagnosa Medis : Meningitis

Ruang Rawat : Cempaka Alamat : Kledokan

No/Tgl Data Fokus Etiologi Problem

20 DS : klien mengatakan terasa nyeri di bagian Agen cidera Nyeri akut


November kepalanya yang sudah ia rasakan selama dua biologis
minggu
2015
P : Nn.H mengatakan nyerinya muncul sejak
/ ia
12.00 WIB Q : Kualitas nyeri klien tajam seperti
ditusuk tusuk
R : Nyeri dirasakan di area kepala bagian
frontalis
S : Skala nyeri 8 (antara 1-10)
T : Nyeri muncul secara tiba-tiba dengan
durasi ± 30 detik

DO : Klien tampak menahan nyeri . pada saat


berbiacar klien sering menutup mata untuk
mengurangi nyeri, tanda krenik (+)

20 DS : pasien mengatakan suhu badan terasa Peningkatan Hipertermia


November panas demam 1 minggu yang lalu. laju
metabolisme
2015

/ DO : Suhu 38,9 0c, kulit terlihat kemerahan


12.00 WIB dan terasa panas naat dipalpasi

20 DS : Pasien mengatakan kaku pada bagian leher Resiko


November kedidak
DO : pemeriksaan CT scen terdapat edema di efektifan
2015 kepala (pariental), Tanda Brudzinski (+) perfusi
/ Bagian ekstrimitas klien terasa dingin jaringan

12.00 WIB
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
2. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
3. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan
C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Klien : Tn.D No RM : 274793


Umur : 30 thn Diagnosa Medis : Meningitis

Ruang : Cempaka Alamat : Kledoakn

N Diagnosa
Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasionalisasi
O Keperawatan

1 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 1. Kajian nyeri secara kompehrensif termasuk 1. Nyeri merupakan penglaman subjektif
berhubungan keperawatan selama 3x24 jam lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, yang harus dijelaskan oleh pasien.
dengan agens level nyeri klien menurun kualitas dan faktor presipitasi Identifikasi karakteristik nyeri dan
cidera biologis dengan kriteria hasil: 2. Obserfasi reaksi nonverbal dari faktor yang berhubungan merupakan
ketidaknyamanan suatu hal yang sangat penting untuk
1. Pasien dapat mengontrol
3. Kontrol lingkungan yang dapat memilih intervensi yang cocok bagi
nyerinya
mempengaruhi nyeri seperti suhu pasien.
2. Pasien mampu menerapkan
ruangan,pencahayaan dan kebisingan. 2. Merupakan indikator atau derajat nyeri
teknik relaksasi secara mandiri
4. Ajarkan tentang teknik non farmakologi yang tidak langsung dialami.
3. Non verbal klien tidak
untuk mereduksi nyeri seperti menggunakan 3. Lingkungan yang tidak kondisuf hanya
menunjukan adanya nyeri
teknik napas dalam atau guided imaginary akan memperparah rasa nyeri klien
4. Skala nyeri klien berkurang
5. Lakukan kompres dingin di bagian yang 4. Pasien dapan menggunakannya untuk
dari 8 ke 5
mengalami nyeri menurunkan rasa nyeri secara mandiri
Level: Pain Control 6. Kolaborasi dengan tim medis dalam 5. Kompres dingin dapat mereduksi nyeri
pemberian obat analgetik (ibuprofen) 6. Jenis obat analgetik dapat menurunkan
7. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri nyeri
Level: Pain Management 7. Salah satu indikator mengetahui sejauh
mana keefektifan kontrol nyeri

2 Hipertermia b.d Setelah di lakukan tindakan 1. Monitor suhu tubuh dan warna kulit klien 1. Memantau apakah ada terjadi
peningkatan laju keperawatan selama 3 x 24 jam 2. Kompres hangat pasien pada lipat paha dan peningkatan atau tidak
metabolisme di harapkan Hipertermi pada aksila 2. Dengan kompres hangat dapat
pasien dari level 1 (tidak pernah) 3. Tingkatkan sirkulasi udara menggunkan membuka pori-pori sehingga terjadi
ke level 3 (kadang kadang) kipas angin evaporasi
dengan kriteria hasil : 4. Anjurkan klien untuk minum banyak air 3. Sirkulasi yang baik membantu
5. Kolaborasi dengan tim medis dalam menurunkan demam klien
1. Suhu tubuh dalam rentang
pemberian obat antipiretik (paracetamol) 4. Mencegah dehidrasi
normal (36,50C – 37,50C)
Level: Fever Treatment 5. Paracetamol dapat menurunkan deman
2. Nadi RR dalam rentang
normal
3. Warna kulit tidak kemerahan
4. Kulit tidak terasa hangat
Level: Thermoregulation
3 Resiko ketidak Setelah di lakukan tindakan 1. Monitor TTV klien 1. Memantau keadaan klien
evektifan perfusi keperawatan selama 3 x 24 jam 2. Monitor status neurologi klien menggunakan 2. Tindakan keperawatan yang diberikan
jaringan di harapkan peredaran darah GCS disesuaikan dengan tingkat kesadaran
pasien dari level 1 (tidak pernah) 3. Hindari gerakan fleksi maupun hiperekstensi klien
ke level 4 (sering) dengan pada daerah leher 3. Perubahan kepala pada satu sisi dapat
kriteria hasil : 4. Berikan edukasi kepada keluarga dan pasien menimbulkan penekanan pada vena
untuk memantau adanya suhu yang ekstrim jugularis sehingga dapat menghambat
1. Tekanan systole dan diastole
pada daerah ekstremitas (dingin) aliran darah ke otak
dalam rentang normal
5. Berikan oksigen sesuai kondisi pasien 4. Suhu yang ekstrim mengindikasikan
2. Nadi dalam rentang normal
6. Kolaborasi dengan tim medis dalam terjadinya kurang suplai oksigen yang
3. Tidak ada
pemberian obat sedasi (Diazepam) parah
ortostatikhipertensi
7. Kolaborasi dengan tim medis dalam 5. Dapat menurunkan hipoksia otak
4. Tidak ada tanda tanda
pemberian obat osmotik diuretik 6. Obat sedasi merupakan jenis obat
peningkatan tekanan
8. Kolaborasi dengan tim medis dalam penenang
intrakranial
pemberian obat steroid (dexametasone,) 7. Menarik air dari sel-sel otak sehingga
Level: Tissue prefusion
dapat menurunkan edema otak
cerebral
Level: Menurunkan inflamasi dan juga edema
- Cereberal Perfusion Promotion di otak
Cereberal Edema Management
D. CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN

Nama Klien : Tn.D No RM : 274793


Umur : 30 thn Diagnosa Medis : Meningitis
Ruang : Cempaka Alamat : Kledokan

No Hari/
Jam Implementasi Evaluasi TTD
Dx Tanggal

Hari ke 1

1 Sabtu 07.00 1. Mengkajian nyeri secara kompehrensif termasuk Jam : 14.00 Hana
lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas dan
21 Nov S: klien mengatakan masih terasa
faktor presipitasi
nyeri di kepalanya.
2015 P : Nn.H mengatakan nyerinya mun. Nyeri
bertamcul sejak ia mengalami meningitis nyeri O: klien masih terlihat menahan
bertambah jika ia terlalu menggerakan nyeri
kepalanya
A: Masalah keperawatan klien
Q : Kualitas nyeri klien tajam seperti ditusuk
berhubungan dengan nyeri
tusuk
belum teratasi
R : Nyeri dirasakan di area kepala bagian
frontalis P: intervensi dilanjutkan
S : Skala nyeri 8 (antara 1-10)
1. Kajian nyeri secara
T : Nyeri muncul secara tiba-tiba dengan durasi
kompehrensif termasuk
± 30 detik
lokasi, karakteristik, durasi,
2. Mengobservasi reaksi nonverbal dari
07.05 frekuensi, kualitas dan faktor
ketidaknyamanan
presipitasi
DS: -
2. Obserfasi reaksi nonverbal
DO: klien terlihat menahan nyerinya
dari ketidaknyamanan
3. Mengajarkan tentang teknik non farmakologi untuk
3. Ajarkan tentang teknik non
07.20 mereduksi nyeri seperti menggunakan teknik napas
farmakologi untuk mereduksi
dalam atau guided imaginary
nyeri seperti menggunakan
DS: klien mengatakan paham dengan teknik yang
teknik napas dalam atau
diajarkan
guided imaginary
DO: klien mampu melakukannya secara mandiri
4. Kolaborasi dengan tim medis
4. Mengontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi
dalam pemberian obat
08.00 nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
analgetik
kebisingan.
5. Evaluasi keefektifan kontrol
DS: -
nyeri
DO:- lingkungannya lebih tenang
09.00 5. Melakukan kompres dingin di bagian yang
mengalami nyeri
DS: klien mengatakan nyerinya agak berkurang
DO: -
6. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam
11.00
pemberian obat analgetik
DS:-
DO: Klien minum obat
7. Mengevaluasi keefektifan kontrol nyeri
14.00 DS: klien mengatakan kontrol nyeri ini berguna
meskipun tidak langsung menurunkan secara
signifikan
DO:-
2 Sabtu 06.00 1. Memonitor suhu tubuh dan warna kulit klien Jam : 14.00 Hana
DS: -
21 Nov S: istri klien mengatakan bahwa
DO: suhu tubuh 38,50C, kulit kemerahan dan
suhu tubuh suaminya masih
2015 teraba hangat
panas
2. Melakukan kompres hangat pasien pada lipat
09.15
paha dan aksila O: kulit terasa hangat, suhu :
DS:klien mengatakan merasa sedikit nyaman 38,50C
DO: klien terlihat nyaman
09.20 3. Meningkatkan sirkulasi udara menggunkan kipas A: Masalah keperawatan klien
angin berhubungan dengan demam
DS: klien mengatakan tidak suka menggunakan belum teratasi
kipas angin
P: Intervensi dilanjutkan :
DO: kipas angin tidak digunakan
1. Monitor suhu tubuh dan
09.20 4. Menganjurkan klien untuk minum banyak air warna kulit klien
DS:- 2. Kompres hangat pasien pada
DO: klien minum air 1 gelas lipat paha dan aksila
5. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam 3. Tingkatkan sirkulasi udara
pemberian obat antipiretik (paracetamol) menggunkan kipas angin
10.00
DS: - 4. Anjurkan klien untuk minum
DO: klien minum obat banyak air
5. Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian obat
antipiretik (paracetamol)
3 Sabtu 06.00 1. Memonitor TTV klien Jam: 14.00 Hana
DS: -
21 Nov S: Klien mengatakan masih terasa
DO: TD: 150/80, N: 60x/mnt, S: 38,50C, RR:
kaku kuduk di bagian leher.
2015 28x/mnt
06.05 2. Memonitor status neurologi klien menggunakan O:
GCS
- Kesadaran klien apatis,
DS: istri klien mengatakan suaminya terlihat lemah
- Vital sign: TD: 150/80, N:
DO: E: 3 V:5 M: 6 (total 14 =apatis)
60x/mnt, S: 38,50C, RR:
3. Mengindari gerakan fleksi maupun hiperekstensi
28x/mnt,
pada daerah leher
- Tanda krenik (+)
07.00 DS:-
- Mendapat terapi 5 liter
DO: posisi kepala klien lurus
- Hasil CT Scan menunjukan
4. Memberikan edukasi kepada keluarga dan pasien
adanya edema pada kepala
09.00 untuk memantau adanya suhu yang ekstrim pada
(pariental)
daerah ekstremitas (dingin)
DS: keluarga dan pasien mengatakan mereka A:Masalah keperawatan klien
memahami yang dijelaskan perawat berhubungan dengan belum
DO: saat diberikan edukasi semuanya terlihat teratasi
12.00
memperhatikan
12.00 5. Memberikan oksigen sesuai kondisi pasien P: intervensi dilanjutkan :
DS:-
1. Monitor TTV klien
DO: diberikan oksigen 5 liter dengan kanul nasal
2. Monitor status neurologi
6. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam
klien menggunakan GCS
pemberian obat sedasi (Diazepan)
12.00 3. Hindari gerakan fleksi
DS: keluarga klien menanyakan apa fungsi obat
maupun hiperekstensi pada
DO: klien meminum obat
daerah leher
7. Melaukan kolaborasi dengan tim medis dalam
4. Berikan oksigen sesuai
pemberian obat osmotik diuretik
kondisi pasien
DS: -
5. Kolaborasi dengan tim medis
DO: klien meminun obatnya
dalam pemberian obat sedasi
8. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam
6. Kolaborasi dengan tim medis
pemberian obat steroid (dexametasone )
dalam pemberian obat
DS: klien mengatakan obatnya akan diminum
osmotik diuretik
setelah makan
7. Kolaborasi dengan tim medis
DO: obat belum dimakan karena pada saat
dalam pemberian obat steroid
diberukan klien masih makan nasi
(dexametasone )
Hari ke-2

2 Minggu 08.00 1. Mengkajian nyeri secara kompehrensif termasuk Jam : 14.00 Hana
lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas dan
22 Nov S: klien mengatakan masih terasa
faktor presipitasi
nyeri di kepalanya. Istri klien
2015 P : Nn.H mengatakan nyerinya muncul ketika ia
mengatakan suaminya sulit
terlalu banyak menggerakan kepalanya
tidur pada malam hari
Q : Kualitas nyeri klien tumpt
R : Nyeri dirasakan di area kepala bagian O: skala nyeri 6, klien masih
frontalis terlihat menahan nyeri
S : Skala nyeri 6 (antara 1-10)
A: Masalah keperawatan klien
T : Nyeri muncul secara tiba-tiba dengan durasi
berhubungan dengan nyeri
± 15 detik
teratasi sebagian
2. Mengobservasi reaksi nonverbal dari
08.05 ketidaknyamanan P: intervensi dilanjutkan
DS: -
1. Kajian nyeri secara
DO: klien terlihat memegang kepalanya saat
kompehrensif termasuk
berbicara
lokasi, karakteristik, durasi,
3. Mengajarkan tentang teknik non farmakologi untuk
08.05 frekuensi, kualitas dan faktor
mereduksi nyeri seperti menggunakan teknik napas
presipitasi
dalam atau guided imaginary
DS: klien mengatakan paham dengan teknik yang 2. Kolaborasi dengan tim medis
diajarkan dalam pemberian obat
DO: klien mampu melakukannya secara mandiri analgetik
10.00 4. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam 3. Evaluasi keefektifan kontrol
pemberian obat analgetik (ibuprofen) nyeri
DS:-
DO: Klien minum obat
5. Mengevaluasi keefektifan kontrol nyeri
14.00
DS: klien mengatakan kontrol nyeri ini berguna
jika klien mengalami nyeri lagi
DO:-
2 Minggu 06.00 1. Memonitor suhu tubuh dan warna kulit klien Jam : 14.00 Hana
DS: -
22 Nov S: istri klien mengatakan bahwa
DO: suhu tubuh 37,80C, kulit klien tidak terlihat
suhu tubuh sudah mulai
2015 merah dan teraba seperti suhu normal
menurun
2. Melakukan kompres hangat pasien pada lipat paha
09.00
dan aksila O:, suhu: 37,80C ,kulit klien tidak
DS:klien mengatakan merasa sedikit nyaman kemerahan dan tidak terasa hangat
DO: klien terlihat nyaman lagi
09.00 3. Menganjurkan klien untuk minum banyak air A: Masalah keperawatan klien
DS:- berhubungan dengan demam
DO: klien minum air 1 gelas eratasi sebagian
10.00 4. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam
P: Intervensi dilanjutkan :
pemberian obat antipiretik (paracetamol)
DS: - 1. Monitor suhu tubuh dan
DO: klien minum obat warna kulit klien
2. Anjurkan klien untuk minum
banyak air
3 Minggu 06.00 1. Memonitor TTV klien Jam 14.00 Hana
DS: -
22 Nov S: Klien mengatakan masih terasa
DO: TD: 150/80, N: 70x/mnt, S: 37,80C, RR:
kaku kuduk di bagian leher,
2015 25x/mnt
namun sudah agak berkurang
2. Memonitor status neurologi klien menggunakan
06.15 dari hari kemarin
GCS
DS: istri klien mengatakan suaminya terlihat lemah O:
DO: E: 4 V:5 M: 6 (total 15 =CM)
- Kesadaran klien apatis,
3. Mengindari gerakan fleksi maupun hiperekstensi
- Vital sign: TD: 150/80, N:
06.15 pada daerah leher
70x/mnt, S: 37,80C, RR:
DS:-
25x/mnt
DO: posisi kepala klien lurus
09.00 4. Memberikan oksigen sesuai kondisi pasien - Tanda krenik (+)
DS:- - Mendapat terapi 5 liter
DO: diberikan oksigen 5 liter dengan kanul nasal - Hasil CT Scan menunjukan
12.00 5. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam adanya edema pada kepala
pemberian obat sedasi sudah agak berkurang
DS: -
A:Masalah keperawatan klien
DO: klien meminum obat
berhubungan dengan teratasi
6. Melaukan kolaborasi dengan tim medis dalam
12.00 sebagian
pemberian obat osmotik diuretik
DS: - P: intervensi dilanjutkan :
DO: klien meminun obatnya
12.00 1. Monitor TTV klien
7. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam
2. Berikan oksigen sesuai
pemberian obat steroid (dexametasone)
kondisi pasien
DS: -
3. Kolaborasi dengan tim medis
DO: klien minum obat
dalam pemberian obat
osmotik diuretik
4. Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian obat steroid
(dexametasone)
Hari ke-3

1 Senin 06.10 1. Mengkajian nyeri secara kompehrensif termasuk Jam : 14.00


lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas dan
23 Nov S: klien mengatakan masih terasa
faktor presipitasi
nyeri di kepalanya. Namun
2015 P : Nn.H mengatakan nyerinya muncul ketika ia
pada malam hari klien bisa
terlalu banyak menggerakan kepalanya
tidur dengan baik
Q : Kualitas nyeri klien tumpt
R : Nyeri dirasakan di area kepala bagian O: skala nyeri 5,
frontalis
A: Masalah keperawatan klien
S : Skala nyeri 5 (antara 1-10)
berhubungan dengan nyeri
T : Nyeri muncul tiba-tiba dengan durasi ± 15
teratasi sebagian
detik
2. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam P: intervensi dilanjutkan
12.00 pemberian obat analgetik (ibuprofen)
1. Kajian nyeri secara
DS:-
kompehrensif
DO: Klien minum obat
2. Kolaborasi dengan tim medis
3. Mengevaluasi keefektifan kontrol nyeri
dalam pemberian obat
DS: klien mengatakan kontrol nyeri ini berguna
14.00 analgetik
jika klien mengalami nyeri lagi
3. Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri
2 Senin 06.00 1. Memonitor suhu tubuh dan warna kulit klien Sen mengatakan bahwa suhu
DS: - tubuh sudah mulai menurun
23 Nov
DO: suhu tubuh 36,50C, kulit klien tidak terlihat
O:, suhu: 36,50C
2015 merah dan teraba seperti suhu normal
2. Menganjurkan klien untuk minum banyak air A: Masalah keperawatan klien
09.00
DS:- berhubungan dengan demam
DO: klien minum air 1 gelas eratasi sebagian

P: Intervensi dihentikan

3 Senin 06.00 1. Memonitor TTV klien Jam 14.00 Hana


DS: -
23 Nov S: Klien mengatakan kaku kuduk
DO: TD: 130/80, N: 85x/mnt, S: 36,50C, RR:
di bagian leher sudah agak
2015 21x/mnt
berkurang,
2. Memonitor status neurologi klien menggunakan
06.05
GCS O:
DS: -
- Kesadaran klien CM
DO: E: 4 V:5 M: 6 (total 15 =CM)
- Vital sign: TD: 130/80, N:
3. Memberikan oksigen sesuai kondisi pasien
85x/mnt, S: 36,50C, RR:
09.00 DS:-
21x/mnt
DO: diberikan oksigen 5 liter dengan kanul nasal
- Tanda krenik (-)
12.00 4. Melaukan kolaborasi dengan tim medis dalam - Mendapat terapi 5 liter
pemberian obat osmotik diuretik - Hasil CT Scan menunjukan
DS: - masih terdapat edema pada
DO: klien meminun obatnya kepala sudah agak berkurang
5. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam
12.00 A:Masalah keperawatan klien
pemberian obat steroid (dexametasone)
berhubungan dengan teratasi
DS: -
sebagian
DO: klien minum obat
P: intervensi dilanjutkan :

1. Monitor TTV klien


2. Kolaborasi dengan tim
medis dalam pemberian
obat osmotik diuretik
3. Kolaborasi dengan tim
medis dalam pemberian
obat steroid
(dexametasone)
BAB V

Penutup

A. Kesimpulan
Meningitis merupakan inflamasi pada selaput otak yang mengenai
lapisan piameter dan ruang subarakhnoid maupun arakhnoid, dan termasuk
cairan serebrospinal (CSS) yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Pada
penderita Meningitis biasanya di jumpai Keluhan pertama yaitu nyeri
kepala.rasa nyeri ini dapat menjalar ke tengkuk dan punggung. Tengkuk
menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya otot – otot
ekstensor tenkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus yaitu tengkuk kaku dalam
sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap hiperekstensi, Kesadaran
menurun, tanda kernig dan brudzinsky positif . Untuk penanganan penderita
menginitis dapat diberikan terapi medis yaitu pemberian obat antibiotik dan
kortekosteroid. Selain itu dapat juga dilakukan terapi operatif yaitu tindakan
operatif mastoidektomi, trombektomi, jugular vein ligation, perisinual dan
cerebellar abcess drainage.

B. Saran
1. Bagi pasien
Pada pasien yang sudah merasakan adanya tanda dan gejala yang timbul
pada pasien, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan secepatnya di rumah
sakit agar secepatnya mendapatkan penanganan secara dini untuk
mencegah terjadinya kompllikasi yang lebih lanjut.
2. Bagi perawat
Pada perawat yang menangani pasien meningitis di harapkan dapat
memberikan penkes terhadap pasien, tanda dan gejala meningitis,
tujuannya agar pasien bisa secepatnya dapat melakukan tindakan
pencegahan terkait penyakit meningitis.
3. Bagi rumah sakit
Disarankan untuk rumah sakit dan tempat pelayanan kesehatan lainnya
dapat meningkatkan sarana dan fasilitas tenaga kesehatan yang memadai,
serta menampung dan memberikan pelayanan kesehatan yang kooperatif
dan profesional, tujuannya adalah untuk mengurangi penderita meningitis
di Indonesia, serta dapat bersaing dengan tenaga kesehatan yang ada
dimanca negara.
Daftar Pustaka

Dochterman,Joanne McCloskey.,dkk.2004.Nursing Interventions Classification


(NIC).United States of America:Mosby

Harsono.(2007).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta:Gajah Mada


University Press.
Herdman,T.Teather.2012.Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-
2014.Jakarta:EGC

Lippincott Williams & Wilkins.2012. Pediatric Infection Disease Journal.USA


Moorhead,Sue.dkk.2004.Nurshing Outcomes Classificatioon (NOC).United States
of America:Mosby

Majalah Kedokteran Nusantara vol.3.2006.Diagnosis dan penatalaksanaan


Meningitis Otogenik.

News Medical Life Sciences & Medicine.diakses dari :http://www.news-


medical.net/health/Meningitis-Causes-%28Indonesian%29.aspx. tanggal 25
November 2015