Anda di halaman 1dari 6

Dosen Pengampu

1. Dra Dyah Kusmarini, Psych

2. Dr. Ichlas Nanang Affandi, MA

3. Yassir Arafat, S.Psi., M.Psi., Psikolog

4. Triani Arafah, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Psikologi Sosial 1: Teori Motivasi Mc Chlelland

Kelompok 2:

Elma Widyanti (C021181006)

Felicia Leonardi (C021181010)

Anugrah Putri Amaliah (C021181022)

Rahmi (C021181031)

RamijayaSangaji (C021181034)

A. Nadya Nurul F. Mulyadi (C0211810349)

Prodi Psikologi

Fakultas Kedokteran

Universitas Hasanuuddin
A. Pengertian Motivasi

Motivasi adalah dorongan yang menggerakkan individu untuk mencapai tujuan

tertentu, baik disadari maupun tidak disadari. Nancy Stevenson (2001)

mendefinisikan motivasi sebagai seluruh hal verbal, fisik, maupun psikologis

yang membuat seseorang melakukan suatu respon (Sunaryo, 2004).

Motivasi merupakan faktorutama yang mendorong individu untuk melakukan

segala aktivitas dalam suatu lingkungan, sehinnga motivasi sering dianggap

sebagai factor pendorong perilaku individu (Iskandar, 2016).Motivasi dapat

timbul secara intrinsic maupun ekstrinsik. Motivasi intrinsic merupakan keinginan

diri sendiri untuk bertindak tanpa rangsangan dari luar, sedangkan motivasi

ekstrinsik merupakan motivasi dari luar dan tidak dapat dikendalikan oleh

individu tersebut (Efendi, 2009).

B. Teori Motivasi Mc Challend

Mc. Clleland berpendapat bahwa tingkah laku timbul akibat dipengaruhi

oleh kebutuhan dalam diri manusia. Konsep motivasi oleh Mc. Clelland dikenal

sebagai “Social Motives Theory” karena lebih menitikberatkan pada pemuasan

kebutuhan yang bersifat sosial (Amiruddin, 2019). Mc Clleland menyatakan

bahwa yang ada di dalam diri manusia dipelajari dari lingkungan sosial. Mc

Clleland berpendapat bahwa motivasi manusia berpusat pada pemuasan

kebutuhan sekundernya yang bersifat sosial, sehingga disebut sebagai “Teori

Motivasi Sosial”.

Teori Mc Clelland (MCLelland 1951) dalam (Twenge & Campbell, 2017), ini

membahas tiga motivasi implisit yakni : Power Motive, Acchivement Motive, dan
Afilitation Motive. Namun, setiap orang memiliki kekuatan dan intensitas motif

yang berbeda satu sama lain (Asnawi, 2002).

Berikut tiga motive yang dikemukakan oleh Mc Clleland:

a. Power Motive

Power motiver merupakan keinginan seseorang untuk memiliki dampak

terhadap orang lain (Twenge & Campbell, 2017). Ketika orang-orang yang

memiliki power motive merasa tidak mampu berdampak kepada orang lain, maka

ia akan menunjukkan tanda stress pada dirinya (Foodor, 1985; Mclelland, 1979)

(Twenge & Campbell, 2017).

Motivasi berkuasa adalah dorongan yang timbul dalam diri individu sehingga

menjadi alat untuk mempengaruhi, menguasai, mengendalikan serta

memanipulasi perilaku orang lain. Apabila individu selalu berfikir dan

memikirkan bagaimana mempengaruhi dan mengendalikan orang lain sehingga ia

senantiasa mematuhi keinginannya maka dapat dikategorikan individu tersebut

mempunyai motif berkuasa yang tinggi (Asnawi, 2002).

Ciri-ciri perilaku sebagai manifestasi dari motivasi kekuasaan yaitu:

a. Dalam organisasi, individu sangat aktif dalam mengatur kegiatan

b. Selalu menjadi anggota organisasi yang bias mencerminkan prestise

c. Sangat peka terhadap struktur pengaruh antar pribadi dari kelompok

d. Membantu orang lain walaupun pertolongannya tidak diminta (Asnawi,

2002)

b. Acchivement Motive,
Acchivement motive adalah individu yang ingin menyelesaikan sesuatu sendiri

tanpa bantuan orang lain. (Twenge & Campbell, 2017). Kebutuhan berprestasi

sebagai dorongan yang timbul dalam diri individu sehubungan dengan adanya

pengharapan bahwa tindakan yang dilakukan merupakan alat untuk mencapai

hasil yang lebih baik dari sebelumnya, bersaing dan mengungguli orang lain,

mengatasi rintangan, serta memelihara semangat kerja yang tinggi (Asnawi,

2002).

Manifestasi dari motivasi berprestasi akan terlihat pada beberapa ciri perilaku,

seperti:

a. Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatan-perbuatannya.

b. Mencari umpan balik tentang perbuatannya.

c. Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara positif (Asnawi, 2002)

c. Affiliation Motive

Affiliattion motiver merupakan keinginan seseorang untuk memiliki suatu

hubungan dengan orang lain atau bergabung dalam suatu kelompok (Twenge &

Campbell, 2017). Seseorang yang memiiliki motivasi afiliasi yang tinggi, dia akan

sangat menghargai hubungan yang terjalin dengan orang lain (Atkinson et al.,

1958 dalam (Twenge & Campbell, 2017)). Dia ingin berada disekitar orang-

orang utamanya orang-orang yang menerima kehadirannya dan membuatnya

senang. (Schultheiss, et al., 2005a, b dalam (Twenge & Campbell, 2017)). Apabila

dalam mengalami konflik dengan orang lain, dia merasa lebih baik untuk

mengalah dan mengakhiri konflik (Langner & Winter, 2001 dalam (Twenge &

Campbell, 2017)).
Adapun ciri-ciri kebutuhan afiliasi adalah :

a. Lebih senang bersama orang lain dari pada sendiri

b. Sering berhubungan dengan orang lain, termasuk bercakap-cakap dengan

telepon atau berkunjung

c. Lebih memperhatikan segi hubungan pribadi yang ada dalam pekerjaannya

dari pada tugas yang ada dalam pekerjaan itu sendiri

d. Melakukan pekerjaan lebih efektif bila mana bekerja sama dengan orang

lain dalam suasana yang kooperatif (Asnawi, 2002).

e. Dalam kolaborasi tim, Individu lebih memperhatikan hubungan yang terjadi

daripada tugas-tugas yang dilakukan

f. Dalam suasana yang kooperatif individu dapat berkolaborasi dengan efektif.

g. Mencari persetujuan dari orang lain dan menyukai orang lain (Basro, 2018).
Daftar Pustaka

Amiruddin. (2019). Pengaruh Etos Kerja, Disiplin dan Motivasi terhadap Kinerja
Pegawai pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Biak Numfor.
Qiara Media: Jakarta.
Asnawi, S. (2002). Teori Motivasi dalam Pendekatan Psikologi Industri dan
Organisasi. Jakarta: Studio Press.
Basro, D. (2018). Teori-teori Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Prenadamedia Group.
Efendi, N. F. (2009). Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Iskandar. (2016). Implementasi Teori Hirarki Kebutuhan Abram Maslow terhadap
Peningkatan Kinerja Pustakawan. Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan
Kearsipan Khizanah Al-Hikmah , 25-27.
Sunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2017). Personality Psychology . USA :
Pearson.