Anda di halaman 1dari 6

Psikologi Sosial

Emotional State

Kelompok 3

Oleh :

Aulia Puspa Indasyari C021181008

Fitriani C021181319

Gabriela Eurika C021181322

Ummul Maharani Ode C021181334

Andi Sitti Isnaniah C021181503

Nurfadhila Naifah Amar C021181506

Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran

Universitas Hasanuddin

2019
A. Emotional
Emosi adalah perasaan sadar akan kesenangan atau ketidaknyamanan yang
disertai oleh aktivitas biologis dan ekspresi. Emosi meliputi kognitif, fisiologis, dan
komponen perilaku. Semakin besar arousal maka semakin kuat juga emosi yang
dikeluarkan. (Maitland, 2010)

Averill, Lazarus, Opton, Spiro, dan Hugdahl mengemukakan beberapa


pengertian mengenai emosi yang kemudian diintegrasikan dan mencapai satu definisi
bahwa emosi dapat dipahami sebagai sindrom respon multidimensi. (Reisenzein, 1983)

Pertama, Schachter mengacu pada komponen subjektif yaitu pengalaman sadar


akan perasaan. Namun, Schachter sedikit ambigu dalam hal ini karena memperlakukan
reaksi ekspresif, kegiatan instrumental terkait emosi, dan melaporkan mengenai
perasaan subjektif serta evaluasi stimulus sebagai indikator yang kurang lebih setara
dan dapat dipertukarkan dari emosi yang mendasari. (Reisenzein, 1983)

B. Emotion’s Theory
1. Teori James-Lange
Teori ini dikemukakan oleh William James dan Karl Lange. Mereka
mengusulkan agar kesadaran fisiologi arousal mengarah pada pengalaman sadar
akan emosi. Menurut teori ini, stimulus eksternal mengaktifkan sistem saraf kita,
dan memproduksi pola psikologis yang spesifik pada setiap emosi yang berbeda
yang membangkitkan pengalaman emosi yang spesifik. Seperti misalnya ketika
kita melihat seekor anjing menggonggong kepada kita, seketika sistem saraf
simpatik muncul maka kita akan mulai untuk berlari secepatnya dan selanjutnya
kita akan sadar bahwa kita merasa takut. Teori ini menjelaskan bahwa kita dapat
mengubah perasaan kita dengan cara mengubah tingkah laku terlebih dahulu.
2. Teori Cannon-Bard
Walter Cannon dan Philip Bard tidak setuju dan membantah teori James-
Lange. Berdasarkan teori yang kemukakan oleh Cannon-Bard, pengalaman
sadar dari emosi beriringan dengan respon fisiologis. Cannon-Bard
mengungkapkan bahwa talamus secara bersamaan mengirim informasi kepada
sistem limbik dan lobus frontal. Seperti misalnya ketika kita melihat anjing yang
menggonggong kepada kita, maka reaksi tubuh kita dan rasa takut kita akan
muncul secara bersamaan. Jadi, talamus tidak secara langsung menyebabkan
repons emosional, tetapi juga menyampaikan informasi sensoris ke amigdala
dan hipotalamus, dimana amigdala dan hipotalamus memeroses informasi yang
diperoleh. (Maitland, 2010)
3. Opponent-Process Theory
Menurut teori ini, ketika kita merasakan sebuah emosi, akan timbul
emosi yang berlawanan dari emosi yang muncul lebih dahulu, sehingga
menyebabkan berkurangnya rasa dari emosi tersebut. Ketika kita merasakan
emosi yang pertama berkali-kali, maka emosi yang berlawanan akan semakin
kuat dan emosi yang pertama akan menjadi lemah. (Maitland, 2010)
4. Teori Emosi Dua Faktor
Teori-teori kognitif berdebat bahwa pengalaman emosional itu
tergantung dari bagaimana interpretasi terhadap situasi. Penelitian yang
dilakukan oleh Schachter dan Singer menyarankan kita untuk menyimpulkan
emosi dari apa yang dirasakan, kemudian menamainya berdasarkan penjelasan
kognitif kita terhadap emosi yang dirasakan. Misalnya, ketika kita merasakan
suatu gairah ketika seseorang membentak kita, maka kita pasti sedang merasa
marah. (Maitland, 2010)
5. Cognitive-Appraisal Theory
Berdasarkan Cognitive-Appraisal Theory yang dikemukakan oleh
Richard Lazarus, pengalaman emosi individu tergantung dari bagaimana
individu menginterpretasikan situasi tertentu. Pada penilaian pertama, individu
menilai konsekuensi potensial dari situasi tersebut. Pada penilaian kedua,
individu sudah memutuskan apa yang akan dilakukan. Hal ini berarti kita dapat
mengganti emosi kita ketika kita belajar untuk menginterpretasikan situasi
secara berbeda. (Maitland, 2010)

C. Emotional State

Emotional state adalah hasil dari interaksi antara dua komponen yaitu arousal
fisiologis dan kesadaran akan situasi sebagai dorongan atau kesiapan fisiologis. Kognisi
dan arousal fisiologis dianggap sebagai kondisi yang diperlukan untuk terjadinya
keadaan emosional. Individu akan mengalami emotional state jika arousal muncul,
kognisinya tepat atau hadir dalam bentuk emotional, dan ada hubungan sebab akibat
yang dirasakan antara dua elemen tersebut (arousal dan kognitif). (Reisenzein, 1983)

Schachter mengemukakan dua cara berbeda suatu emosi dapat dihasilkan yaitu
cara emosi dikeluarkan seperti biasa setiap harinya dan cara emosi dikeluarkan dengan
tidak lazim. Dalam kedua cara tersebut, proses yang terlibat termasuk penilaian
emotional state, persepsi arousal, dan atribusi arousal, namun urutan waktu dan proses-
proses ini berbeda. (Reisenzein, 1983)

Pada cara pertama yaitu emotional state sehari-hari, isyarat yang mendorong
organisme biasanya memberikan label kognitif untuk arousal. Sedangkan, pada cara
kedua yaitu emotional state yang tidak lazim, suatu keadaan emosional dapat muncul
dimulai dengan persepsi arousal yang tidak dapat dijelaskan yaitu arousal yang tidak
tersedia penjelasan sebab akibat langsung atau yang terlalu kuat untuk dapat dijelaskan
dengan cukup oleh potensi arousal dan menghasilkan arousal yang menonjol bagi
individu. (Reisenzein, 1983)

1. Output Emotional State


1. Ekspresi Wajah
Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, seorang orator asal Romawi bernama Cicero
menyatakan bahwa: “Wajah adalah gambar jiwa”. Yang ia maksud adalah wajah sering
mencerminkan perasaan serta emosi manusia serta dapat dibaca dalam ekspresi khusus.
Penelitian mdern membuktikan bahwa Cicero benar: suasana hati serta perasaan orang
lain dapat dipelajari melalui ekspresi wajah mereka (Baron & R.Branscombe, 2012).
Izard,1991; Rozin, dkk,1994 dalam (Baron & R.Branscombe, 2012) berpendapat
bahwa terdapat 5 ekspresi dasar berbeda pada manusia yang direpresentasikan secara
jelas, dan sejak usia yang sangat dini yakni: kemarahan, ketakutan, kebahagiaan,
kesedihan dan jijik.
Penting untuk kita sadari bahwa fakta mengenai lima emosi yang berbeda yang
ditunjukkan oleh wajah kita tidak menyiratkan bahwa manusia hanya menunjukkan
sejumlah kecil ekspresi wajah. Sebaliknya, emosi muncul dalam banyak kombinasi
(misalnya kegembiraan bersama dengan kesediahn, ketakutan dikombinasikan dengan
kemarahan) dan masing-masing reaksi ini dapat sangat bervariasi dalam kekuatannya.
Jadi, walau hanya ada sejumlah kecil tema dasar dalam ekspresi wajah, jumlah variasi
pada tema-tema ini sangat besar. (Baron & R.Branscombe, 2012)
Faktanya, telah ditemukan bahwa ekspresi wajah tertentu yakni senyum,
kerutan dan tanda-tanda kesedihan lainnya muncul serta diakui sebagai perwakilan atas
emosi dasar yang mendasarinya (seperti kebahagiaan, kemarahan, kesedihan) dalam
banyak budaya berbeda. Tampaknya masuk akal untuk membuat kesimpulan bahwa
ekspresi wajah tertentu memberikan sinyal yang jelas mengenai emotional states, serta
diakui di seluruh dunia. Perbedaan budaya memang mempunyai hubungan dengan
pemaknaan terhadap ekspresi wajah, namun tidak seperti bahasa lisan, pemaknaannya
tidak memerlukan banyak cara. (Baron & R.Branscombe, 2012)
Matsumo & Willingham, 2006. dalam buku (Baron & R.Branscombe, 2012)
mengatakan meskipun banyak peneliti yang coba membuktikan kesimpulan ini, namun
penelitian yang dilakukan dengan atlet yang berlaga di Olimpiade sangat menarik
dalam hal ini. wajah bintang-bintang atlet diambil pada berbagai situasi (saat menang
atau kalah, saat menerima medali mereka, saat berpose untuk fotografer), bukti jelas
dari ekspresi wajah yang dapat dikenali − yang mencerminkan emotional states yang
mendasari – ditemukan.
Sebagai contohnya, hampir semua pemenang medali emas tersenyum dengan
sumringah ketika memenangkan pertandingan mereka, serta saat mereka menerima
medali mereka. Sebagian besar pemenang medali perunggu juga tersenyum – meskipun
tidak setinggi presentase pemenang medali emas. Sebaliknya, pemenang medali perak
yang tersenyum. Ini disebabkan karena pemenang medali perunggu senang
memenangkan medali apa pun – dan ekspektasi wajah mereka menunjukkan hal ini.
sebaliknya, pemenang medali perak menyiksa diri mereka sendiri dengan pemikiran
mengenai cara agar mereka menerima medali emas. (Baron & R.Branscombe, 2012)

2. Body Language

Body language sering menungkapkan emotional states seseorang. sejumlah besar


gerakan − khususnya suatu bagian tubuh melakukan sesuatu ke bagian tubuh lainnya
(menyentuh, menggosok, menggaruk) − menimbulkan emotional arousal. Semakin
besar frekuensi perilaku tersebut, semakin tinggi tingkat arousal atau nervousness.

Informasi yang lebih spesifik mengenai perasaan dapat kita lihat dari gerakan.
Gerakan ini termasuk ke dalam beberapa kategor, namun yang paling penting adalah
emblem – gerakan tubuh yang membawa makna khusus dalam budaya tertentu. (Baron
& R.Branscombe, 2012)
Daftar Pustaka

Baron, R. A. & R.Branscombe, N., 2012. Social Psychology Thirteenth Edition. United Stated:
Pearson.
Maitland, L., 2010. Five Steps to A, AP Psychology. New York: McGraw-Hill.
Reisenzein, R., 1983. The Schachter Theory of Emotion: Two Decades Later. Psychological
Bulletin, 94(2).