Anda di halaman 1dari 6

BIODIVERSITAS BELALANG PADA AGROEKOSISTEM DAN

EKOSISTEM HUTAN TANAMAN DI KEBUN RAYA


BATURADEN, BANYUMAS

Disusun oleh:

Pradina Damayanti B1A016001


Hanindya Sahida Ridhati B1A016014
Bagus Saputra B1A016122

KELOMPOK 8

TUGAS TERSTRUKTUR BIOKONSERVASI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

Serangga termasuk filum Arthropoda yaitu kelompok hewan yang mempunyai


kaki beruas-ruas, tubuh bilateral simetris dan dilapisi oleh kutikula yang keras
(exosceleton). Serangga digolongkan dalam kelas insecta (hexapoda), karena memiliki
6 buah (3 pasang) kaki yang terdapat di dadaerah dada (thorax). Jumlah kaki menjadi
ciri khas serangga yang membedakannya dengan hewan lain dalam phylum
Arthropoda seperti laba-laba (arachnida), kepiting (decapoda), udang (crustacea),
lipan dan luwing (myriapoda) (Ahmad, 1995). Banyak arthropoda kecil adalah mangsa
penting dalam ekosistem. Serangga yang termasuk arthropoda kecil yaitu belalang,
jangkrik , dan katydids. Orthoptera termasuk yang paling banyak dan beragam berada
di daerah terestrial, dengan lebih dari 27.000 spesies di seluruh dunia dan sekitar 2,
000 yang berada di Asia Tenggara (Fung et al., 2018).
Belalang adalah serangga herbivor yang termasuk dalam Ordo Orthoptera
dengan jumlah spesies 20.000 (Borror, 2005). Menurut Rowell (1987), belalang dapat
ditemukan hampir di semua ekosistem terestrial. Sebagian besar spesies belalang
berada di ekosistem hutan (Rowell, 1987). Mereka makan hampir setiap tanaman yang
liar ataupun yang dibudidayakan (Probe dan Scalpel, 1980).
Di alam belalang berperan dalam sebagai pemangsa, pemakan bangkai, pengurai
material organik nabati dan hewani, dan musuh alami dari beberapa jenis serangga
lainnya (Borror, 2005). Belalang dan kerabatnya sangat penting peranannya dalam
menjaga keseimbangan ekosistem. Belalang di Indonesia menjadi salah satu hama
yang memberikan kontribusi dalam kehilangan hasil tanaman (Erniwati, 2003).
Dengan peran yang begitu penting terhadap ekosistem, dibutuhkan pengawasan
terhadap keanekaragaman dan pengendalian populasi agar tidak terjadi ledakan
populasi yang dapat merugikan manusia.
II. PEMBAHASAN

Belalang atau yang dikenal dengan kelompok Orthoptera memiliki berbagai


jenis yang tersebar diseluruh dunia. Menurut tatanama terbaru, Orthoptera dibagi
menjadi dua subordo yaitu Caelifera dan subordo Ensifera (Erawati, 2010).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prakoso (2017) di Kebun Raya Baturaden,
ditemumakan sebanyak 3.097 individu Orthoptera yang terdiri dari 7 spesies dengan
lokasi penemuan yang berbeda, yaitu Agroekosistem dan ekosistem tanaman hutan.

Perbedaan jumlah spesies yang ditemukan pada kedua ekosistem ini


dikarenakan, pada ekosistem hutan tanaman memiliki keanekaragaam flora yang lebih
tinggi dari agroekosistem. Perbedaan Struktur vegetasi juga mempengaruhi
keanekaragaman serangga lainnya, hal ini dikarenakan vegetasi sangat penting sebagai
sumber pakan dan sarang (Prakoso, 2017). Faktor lingkungan lainnya seperti suhu juga
dapat mempengaruhi keanekaragaam Belalang. Suhu rata-rata pada ekosistem hutan
tanaman yaitu 23 oC, sedangkan suhu rata-rata agroekosistem berkisar 32,16 oC.
Keanekaragaman belalang juga dapat dipengaruhi oleh faktor biologi, seperti
predator dan entomopatogen. Kedua faktor tersebut akan berpengaruh terhadap
peningkatan populasi apabila terjadi peningkatan pada kedua faktor tersebut. Menurut
Fajrawati (2009), persebaran belalang sangat dipengaruhi oleh cara hidup, sumber
makanan, perbedaan suhu dan kondisi geografis.
Belalang merupakan salah satu makanan alternatif yang dapat dikonsumsi
karena ketersediaannya banyak dan sebagian besar belalang dapat dikonsumsi delapan
puluh jenis belalang dapat dikonsumsi secara aman. Belalang biasa ditangkap pada
pagi hari ketika suhu udara sejuk. Beberapa negara di bagian afrika barat sering
menjualnya di pasar tradisional sebagai makanan ringan. Belalang dapat dijadikan
salah satu sumber makanan alternatif karena ketersediaannya yang banyak, bisa
dijadikan pangan primer dilihat dari pandangan ekologi (Ashtami et al., 2016).
Belalang dapat dijual dan disimpan setelah dikeringkan terlebih dahulu.
Belalang diketahui memiliki kandungan nutrisi yang tinggi belalang mengandung
protein sebanyak 654.2 g/kg, lemak 83.0 g/kg, dan kitin 87.3 g/kg pada berat kering.
Kandungan asam amino belalang terutama jenis asam amino lisin, metionin dan
sistein. Apabila dibandingkan dengan jenis serangga lainnya belalang memiliki
kandungan asam amino yang lengkap karena dibeberapa jenis serangga memiliki
defisiensi asam amino metionin, sistein, dan lisin (Ashtami et al., 2016).
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil yaitu, belalang yang ditemumakan sebanyak


3.097 individu Orthoptera yang terdiri dari 7 spesies dengan lokasi penemuan yang
berbeda, yaitu Agroekosistem dan ekosistem tanaman hutan dan belalang merupakan
makanan alternatif yang memiliki kandungan nutrisi yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, I. 1995. Entomologi dan Teknologi Pengendalian Serangga Hama yang


Berwawasan Lingkungan. Bandung: ITB.

Asthami, N., Estiasih, T., & Maligan, J. M., 2016. Mie Instan Belalang Kayu
(Melanoplus cinereus): Kajian Pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri,
4(1), pp. 238-244.

Borror, D. J., Triplehor, N., and Johnson, N. F. 2005. Study of Insect. Ed7. Amerika:
Thomson Brook Cole.

Erawati, N. V., & Kahono, S., 2010. Keanekaragaman dan Kelimpahan Belalang dan
Kerabatnya (Orthoptera) pada Dua Ekosistem Pegunungan di Taman
Nasional Gunung Halimun-Salak. Jurnal Entomologi Indonesia, 7(2), pp.
100-105.

Erniwati, 2003. Pola Aktivitas dan Keanekaragaman Belalang (Insecta: Orthoptera) di


Taman Naasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Jurnal Biologi
Indonesia, 5(3), pp. 63-67.

Fajarwati, M.R., Atmowidi, T. Dan Dorly. 2009. Keanekaragaman serangga pada


bunga tomat (Mycopersicon esculentum Mill) di lahan pertanian organik.
Jurnal Entomologi Indonesia. Vol 6 (2). Pp 77-85.

Fung, T. K., Tan, M. K., & Sivasothi, N. 2018. Orthoptera in the scat contents of the
common palm civet (Paradoxurus musangus) on Pulau Ubin, Singapore.
Journal Nature of Singapore, 11, pp. 37-44.

Prakoso, B., 2017. Biodiversitas Belalang (Acrididae: ordo Orthoptera) pada


Agroekosistem (zea mays l.) dan Ekosistem Hutan Tanaman di Kebun Raya
Baturaden, Banyumas. Biosfera, 34(2), pp. 80-88.

Probe & Scalpel, 1980. How To Dissect, William Berman, Arco Publishing Company.

Rowell, C. H. F. 1987. The biogeography of Costa Rican acridid grassoppers in


relation to their putative phylogenetic origins and ecology. Pp. 470-482 in
Baccetti, B. (eds). Evolutionary biology of Orthopteroid insects, Chichester.