Anda di halaman 1dari 14

SOP Huknah

Pengertian
Memasukkan cairan melalui anus sampai ke dalam kolon sigmoid (untuk huknah
rendah) atau sampai ke dalam kolon desenden (untuk huknah tinggi)
Tujuan
1. Mengosongkan usus sebagai persiapan tindakan operasi, colonoscopy
2. Merangsang peristaltic usus agar pasien bisa untuk melakukan buang air besar
Kebijakan
1. Pasien obstipasi
2. Pemeriksaan diaknostik
3. Akan dilakukan operasi
»» Lihat SOP Perawatan Kolostomi
Peralatan
1. Irigator lengkap dengan kanul & slang
2. Air hangat
√ Untuk bayi : 150 – 250 cc
√ Untuk anak : 250 – 350 cc
√ Untuk usia sekolah : 300 – 500 cc
√ Untuk remaja : 500 – 700 cc
√ Untuk dewasa : 750 – 1000 cc
3. Standart
4. Bengkok
5. Perlak & pengalas
6. Pispot & botol cebok
7. Selimut mandi
8. Tissue toilet
9. Hand Schoen
10. Jelly
11. Prosedur Pelaksanaan
12. Tahap Pra Interaksi
1. Melakukan pengecekan program terapi
2. Mencuci tangan
3. Menempatkan alat-alat yang dibutuhkan di dekat pasien
Tahap Orientasi
Mengucapkan salam & menyapa nama pasien
1. Menjelaskan tujuan & prosedur tindakan yang akan dilakukan
2. Menanyakan persetujuan & kesiapan pasien dilakukan tindakan
Tahap Kerja
1. Menjaga privacy
2. Mengatur posisi (miring kiri untuk melakukan huknah rendah, miring kanan untuk
melakukan huknah tinggi)
3. Meletakkan perlak & pengalas di bawah bokong klien
4. Mengganti selimut pasien dengan selimut mandi yang telah disediakan
5. Meletakkan pispot dekat tempat tidur
6. Menggantungkan irrigator yg sudah diisi air hangat pada standart dengan ketinggian
mencapai 50 cm (huknah rendah) atau 30 cm (huknah tinggi)
7. Mengeluarkan udara dalam selang, selanjutnya menutup klem kembali
8. Memakai hand schoen
9. Membuka bokong sampai anus terlihat
10. Mengoleskan jelly pada kanule rectal setelah itu memasukkannya secara perlahan ,
mengarah ke Umbilicus, panjang insersi (D : 7,5 – 10 cm, A : 5 – 7,5 cm, B : 2,5 –
3,5 cm)
11. Menginstruksikan pasien untuk dapat menahan masuknya kanul ke anus dengan
cara relaksasi atau menarik nafas dan menghembuskan nafas perlahan melalui
mulut
12. Membuka kran & biarkan larutan masuk dengan perlahan
13. Menutup kran apabila air dalam irrigator habis atau seandainya pasien tidak dapat
menahan untuk BAB
14. Memegang pangkal kanule dengan menggunakan tissue, tarik kanule dari anus
15. Memasang pispot di bawah bokong pasien untuk BAB
16. Membersihkan anus
17. Merapikan pasien
Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi dari hasil tindakan
2. Berpamitan dengan [pasien/keluarga
3. Membereskan/merapihkan alat-alat & kembalikan alat ketempat semula
4. Mencuci tangan
5. Mencatat tindakan yang telah dilaksanakan dalam lembar catatan perawatan

SOP Mengukur Tekanan Darah

Kali ini admin ingin memberikan informasi mengenai SOP Mengukur Tekanan Darah ,
Sebelumnya sudah ada yang tau bagaimana SOP Mengukur Tekanan Darah ? Baiklah
jika belum, admin akan berbagi sedikit informasi tersebut. Sebelum kita berbicara lebih
jauh mengenai SOP Mengukur Tekanan Darah , mari kita mulai dengan membahas dari
pengertiannya.

Pengertian

Pemeriksaan tekanan darah diperoleh dari hasil pengkuran pada sirkulasi arteri. Aliran
darah akibat dari pemompaan jantung memunculkan gelombang yakni gelombang
tinggi yg dinamakan tekanan systole & gelombang pada titik terendah yg dinamakan
tekanan diastole. Satuan Tekanan darah dinyatakan dalam millimeter air raksa (mm
hg).

Persiapan Alat:

Stetoskop

Sphygmomanometer aneroid / air raksa

APD

Alat tulis

Buku catatan

»» Lihat SOP Perawatan Kolostomi

Tujuan

Mengukur tekanan darah pada pasien dengan menggunakan alat


tensimeter air raksa

Persiapan Pasien, Perawat & Lingkungan :

Perkenalkan diri kamu kepada klien, termasuk juga nama, jabatan atau peran, &
jelaskan apa yg akan kamu lakukan.

Pastikan identitas klien

Jelaskan tujuan dan prosedur dilakukannya tindakan tersebut, jelaskan dengan bahasa
yg dapat dimengerti oleh klien.

Siapkan peralatan yang dibutuhkan

Lakukan cuci tangan sebelum kontak dengan klien . Kenakan APD

Yakinkan bahwa klien nyaman & bahwa kamu mempunyai ruangan yg lumayan bagus
& mempunyai pencahayaan yg lumayan utk lakukan tugas tersebut.

Memberi privasi untuk klien, atau posisikan & tutup klien sesuai kebutuhan.

Istirahatkan pasien setidanya sekitar 5 menit sebelum dilakukan pengukuran. &


pastikan pasien merasa kalem & nyaman.

Prosedur :

Mintalah pasien buat membuka bagian lengan atas yg akan diperiksa, maka tidak ada
penekanan pada arteri brachialis.
Posisi pasien dapat berbaring, setengah duduk atau duduk yg nyaman dengan lengan
bagian volar di atas.

Gunakan manset yg tepat dengan ukuran yang sesuai dengan lengan pasien

Pasanglah manset melingkar pada bagian lengan tempat pemeriksaan setinggi jantung,
dengan bagian bawah manset 2 – 3 cm tepat di atas fossa kubiti & bagian balon karet
yang menekan tepat di atas arteri brachialis.

Pastikan bahwa pipa karet tidak terlipat atau terjepit manset.

Hubungkan antara manset dengan sphymomanometer air raksa , posisi tegak & level
air raksa setinggi jantung

Raba denyut arteri Brachialis pada fossa kubiti & arteri Radialis dengan jari telunjuk &
jari tengah ( untuk menentukan tidak ada penekanan )

Pastikan posisi mata pemeriksa harus sejajar dengan permukaan air raksa ( agar
pembacaan hasil pengukuran tepat )

Tutup katup pengontrol pada pompa manset

Pastikan bahwa stetoskop masuk tepat kedalam telinga pemeriksa, lakukan palpasi
pada denyut arteri radialis

Pompa manset hingga denyut arteri radialis tidak teraba lagi

Selanjutnya pompa lagi hingga 20 – 30 mm hg ( janganlah lebih tinggi, dikarenakan


dapat menimbulkan rasa sakit pada pasien, rasa sakit dapat meningkatkan tensi )

Letakkan kepala stetoskop di atas arteri brachialis

Lepaskan katup pengontrol dengan cara pelan-pelan sehingga air raksa turun dengan
kecepatan 2 – 3 mili meter hg per detik atau 1 skala perdetik

Pastikan tinggi air raksa disaat terdengar detakan pertama arteri brachialis yaitu
tekanan sistolik

Pastikan tinggi air raksa pada saat terjadi perubahan nada yg tiba-tiba melemah
Denyutan terakhir dinamakan tekanan diastolik

Lepaskan stetoskop dari telinga pemeriksa & manset dari lengan pasien.

Bersihkan earpiece & diafragma stestokop dengan disinfektan.

Seandainya mau diulang tunggu minimal 30 detik.


Setelah Prosedur :

Ucapkan terima kasih kepada klien

Segera laporkan adanya temuan abnormal

Bersihkan & kembalikan peralatan yg digunakan pada tempatnya

Buka APD & cuci tangan

Dokumentasikan hasil prosedur.

SOP / Cara Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu, Puasa & 2 Jam Post
Puasa
Pengertian:
Pemeriksaan GDS adalah Suatu tindakan untuk mengetahui hasil atau nilai gula darah pada pasien yang dilakukan
sewaktu dan tanpa persiapan apapun. Pemeriksaan gula darah puasa (GDP) adalah tindakan untuk mengetahui hasil
gula darah pasien setelah pasien melakukan puasa minimal 8 - 10 jam. Pemeriksaan gula darah 2 jam post puasa
(GD 2jam PP) adalah tindakan untuk mengetahui hasil gula darah pasien 2 jam setelah pasien makan setelah
sebelumnya pasien puasa minimal 8-10 jam.

Tujuan Pemeriksaan GDS:


 Pemeriksaan laboratorium harian
 Acuan tidakan medis
 Pengobatan yang tepat
 Pemilihan diit yang tepat
 Pencegahan resiko hiperglikemi
Kebijakan :
Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) dilakukan oleh petugas laboratorium. Pemeriksaan GDS juga boleh
dilakukan oleh dokter dan perawat.

Alat dan bahan:


1. Mesin gluco test
2. Strip stick GDS
3. Jarum / lancet GDS
4. Alkohol swab
5. Perlak dan pengalas
Prosedure Tindakan Pemeriksaan GDS / GDP / GD 2 jam PP:
1. Cek order dokter.
2. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan bersih.
3. Lakukan kontrak / persetujuan dengan pasien.
4. Bawa alat ke dekat pasien.
5. Pasang sampiran atau privasi.
6. Papan perlak dan pengalas pada bawah jari yang akan ditusuk.
7. Nyalakan mesin Gluco Test dan pastikan sudah menyala dengan baik, kemudian pasang strip stick
GDS nya secara benar dan pastikan sudah bergambar darah pada layar.
8. Lakukan pemilihan jari untuk pemeriksaan GDS yaitu: jari telunjuk, jari tengah dan jari manis.
9. Berikan / oleskan swab alkohol pada jari yang akan ditusuk.
10. Tusuk ujung jari pasien secara hati-hati.
11. Tekan daerah sekitar tusukan dengan jari kita agar darah keluar, pastikan darah keluar
secukupnya.
12. Tempelkan ujung stick GDS pada mesin Gluco test ke darah pasien.
13. Setelah cukup tunggulah beberapa detik untuk melihat hasilnya pada layar.
14. Setelah hasil keluar catatlah pada lembar cetatan perawat / petugas laboratorium,
Tahap Terminasi:
1. Cuci tangan dengan prinsip bersih.
2. Berpamitan dengan pasien.
3. Laporkan hasil pemeriksaan pada dokter yang meminta.

Unit Terkait:
1. Laboratorium
2. Instalasi Gawat Darurat
3. Ruang rawat biasa dan intensive

SOP ( Standar Operasional Prosedur ) PEMERIKSAAN


FISIK UROGENATALIA
Posted on June 27, 2016June 27, 2016 by dhevialvionitasite

BAB I

PENDAHULUAN

TUJUAN PEMERIKSAAN FISIK

Secara umum, pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan :

1. Untuk mengumpulkan dan memperoleh data dasar tentang kesehatan klien.


2. Untuk menambah, mengkonfirmasi, atau menyangkal data yang diperoleh dalam riwayat
keperawatan.
3. Untuk mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan.
4. Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan
penatalaksanaan.
5. Untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan keperawatan.

Secara khusus, pemeriksaan fisik :

 Menentukan kelainan fisik yang berhubungan dengan penyakit pasien


 Mengklarifikasi dan memastikan kelainan sesuai dengan keluhan dan riwayat kesehatan pasien
 Mendapatkan data untuk menegakkan diagnosa keperawatan
 Mendapatkan data fisik untuk menetukan status kesehatan pasien.

MANFAAT PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik memiliki banyak manfaat, baik bagi perawat sendiri, maupun bagi profesi
kesehatan lain, diantaranya:

1. Sebagai data untuk membantu perawat dalam menegakkan diagnose keperawatan.


2. Mengetahui masalah kesehatan yang di alami klien.
3. Sebagai dasar untuk memilih intervensi keperawatan yang tepat
4. Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan

HAL – HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMERIKSAAN FISIK :

1. Selalu meminta kesediaan/ ijin pada pasien untuk setiap pemeriksaan


2. Jagalah privasi pasien
3. Pemeriksaan harus seksama dan sistimatis
4. Jelaskan apa yang akan dilakukan sebelum pemeriksaan (tujuan, kegunaan, cara dan bagian
yang akan diperiksa)
5. Beri instruksi spesifik yang jelas
6. Berbicaralah yang komunikatif
7. Ajaklah pasien untuk bekerja sama dalam pemeriksaan
8. Perhatikanlah ekpresi/bahasa non verbal dari pasien.

Persiapan dalam pemeriksaan fisik :

Alat

Meteran, Timbangan BB, Penlight, Steteskop, Tensimeter/spighnomanometer, Thermometer,


Arloji/stopwatch, Refleks Hammer, Otoskop, Handschoon bersih ( jika perlu), tissue, buku
catatan perawat. Alat diletakkan di dekat tempat tidur klien yang akan di periksa.

Lingkungan

Pastikan ruangan dalam keadaan nyaman, hangat, dan cukup penerangan. Misalnya menutup
pintu/jendala atau skerem untuk menjaga privacy klien
Klien (fisik dan fisiologis)

Bantu klien mengenakan baju periksa jika ada dan anjurkan klien untuk rileks.

BAB II

PEMBAHASAN

DEFINISI PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan dari suatu system atau suatu organ bagian
tubuh dengan cara :

 melihat (inspeksi )
 meraba ( palpasi )
 Mengetuk ( perkusi )
 mendengar ( auskultasi )

Pemeriksan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan-kelainan dari
suatu sistim atau suatu organ tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk
(perkusi) dan mendengarkan (auskultasi). (Raylene M Rospond,2009; Terj D. Lyrawati,2009).

Pemeriksaan fisik adalah metode pengumpulan data yang sistematik dengan memakai indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rasa untuk mendeteksi masalah kesehatan
klien.Untuk pemeriksaan fisik perawat menggunakan teknik inspeksi, auskultasi, palpasi, dan
perkusi (Craven & Hirnle, 2000; Potter & Perry, 1997; Kozier et al., 1995).

Pemeriksaan fisik dalam keperawatan digunakan untuk mendapatkan data objektif dari riwayat
keperawatan klien.Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan bersamaan dengan wawancara.Fokus
pengkajian fisik keperawatan adalah pada kemampuan fungsional klien.Misalnya , klien
mengalami gangguan sistem muskuloskeletal, maka perawat mengkaji apakah gangguan tersebut
mempengaruhi klien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari atau tidak.

Defenisi Urogenitalia

System urogenitalia terdiri dari system urinaria dan system genitalia.

1. Urinaria

suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah terbebas dari zat-zat
yang tidak diperlukan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh.
Zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urine (air
kemih).
Anatomi fisiologi system urinaria:

1. Ginjal
2. Ureter
3. Vesika urinaria (kantung kemih)
4. Uretra

2. Genitalia

Genitalia merupakan alat reproduksi pria dan wanita yang memungkinkan penciptaan atau
reproduksi kehidupan baru bagi kelanjutan spesies. Reproduksi manusia adalah seksual, yang
berarti bahwa baik laki-laki maupun perempuan memberikan kontribusi materi genetic dalam
pembentukan individu baru.

1. Pemeriksaan Fisik Pada System Urinaria


2. Pemeriksaan fisik ginjal
3. Inspeksi

Kaji daerah abdomen pada garis midklaikula kiri dan kanan atau daerah costovetebral,
Perhatikan simetris atau tidak tampak ada masa dan pulsasi. Normal keadaan abdomen simetris
tidak tampak masa dan tidak ada pulsasi, bila tampak masa dan pulsasi kemungkinan ada
polikistik,hidroneprosis ataupun nefroma.

1. Palpasi

 Dalam melakukan palpasi ginjal kanan, letakkan tangan kiri anda dibawah panggul dan
elevasikan ginjal ke arah anterior.
 letakkan tangan kanan anda pada dinding perut anterior pada garis midklavikularis dari pada
tepi bawah batas kosta.
 tekankan tangan kanan anda secara langsung keatas sementara pasien menarik nafas panjang.
pada orang dewasa yang normal ginjal tidak teraba tetapi pada orang yang snagat kurus bagian
bawah ginjal kanan dapat dirasakan.
 bila ginjal teraba rasakan mengenai kontur (bentuk), ukuran, dan adanya nyeri tekan. Normal
tidak menghasilakn nyeri tekan bila ada nyeri tekan diduga ada inflamasi akut, Pada keadadn
normal ginjal tidak teraba, apabila ginjal teraba dan mendasar dengan kenyal, kemungkinan
adanya polikistik maupaun hidroneposis.
 untuk melakukan palpasi ginjal kiri, lakukan disisi seberang tubuh pasien, dan letakkan tangan
kiri anda dibawah panggul kemudian lakukan tindakan seperti pada palpasi ginjal kanan.

1. Auskultasi

 Dengan menggunakan stetoskop kita dapat mendengar apakah ada bunyi desiran pada aorta
dan arteri renalis.
 Gunakan sisi bel stetoskop, pemeriksan mendengarkan bunyi desiran di daerah epigastrik di
area ini kita bisa mendengarkan bunyi aorta.
 Dengar pula pada daerah kuadran kiri dan kanan atas karena pada area ini terdapat arteri
renalis kiri dan kanan. Normal tidak terdengar bunyi naskuler aorta maupaun arteri renalis bila
ada bunyi desiran kemungkinan, adanya RAS ( renalis arteri senisis) nephrosclerotik.

1. Perkusi

 Pasien dalam posisi terlungkup atau posisi duduk perkusi dilakukan dari arah belakang karena
posisi ginjal berada didaerah belakang. Letakan tangan kiri diatas CVA dan lakukan perkusi diatas
tangan kiri dengan menggunakan kepalan tangan untuk mengevaluasi nyeri tekan ginjal. Bila
tedengar bunyi desiran .jangan melakukan palpasi cidera pada suatu aneurisma dibawah kulit
dapat terjadi sebagai akibatnya.

2. Pemeriksaan fisik ureter

Ureter tidak bisa dilakukan pemeriksaan di luar, harus digunakan diagnostik lain seperti
BNO,IVP, USG, CT Renal. cyloscopy tetapi keluhan pasien dapat dijadikan petunjuk adannya
masalah pada ureternya, seperti pasien mengeluh sakit di daerah abdomen yang menjalar
kebawah, hal ini yang disebut dengan kolik dan biasanya behubungan dengan adanya distensi
ureter dan spasme ureter dan adanya obsrtuksi karena batu.

3. Pemeroksaan fisik kantung kemih


4. Inspeksi

 Perhatikan bagian abdomen bagian bawah, kandungan kemih adalah organ berongga yang
mampuh memebesar untuk mengumpulkan dan mengeluarkan urin yang dibuat ginjal.
 Didaerah supra pubis apakah adanya distensi. Normalnya kandungan kemih terletak dibwah
simpisis pubis. tetapi setelah membesar organ ini dapat dilihat distensi pada area supra pubis.

1. Perkusi

 Pasien dalam posisi terlentang, perkusi dilakukan mengetukkan pada daerah kandung kemih
daerah supra pubis. Bila kandungan kemih penuh maka akan terdengar bunyi dullness/redup.

1. Palpasi

 palpasi kandungan kemih pada daerah supra pubis. Pada kondisi normal urin dapat dikeluarkan
secara lengkap dan kandungan kemih tidak teraba. Bila ada obstruksi dibawah ada produksi urin
normal maka urin tidak dapat dikeluarkan pada kandung kemih sehingga akan terkumpul pada
kandung kemih. Hal ini mengakibatkan distensi kandungan kemih yang bisa dipalapasi didaerah
supra pubis.

4. Pemeriksaan fisik urethra

Urethra tidak bisa diperiksa dari luar perlu pemeriksan penunjang sperti BNO, CYSTOCOPY,

1. B. Pemeriksaan fisik pada system genitalia


2. Pemeriksaan fisik pada genitalia pria
3. Inspeksi

 Pertama – tama inspeksi rambut pubis, perhatikan penyebaran dan pola pertumbuhan rambut
pubis. Catat bila rambut pubis tumbuh sangat sedikit atau sama sekali tidak ada.
 Inspeksi kulit, ukuran, dan adanya kelainan lain yang tampak pada penis.
 Pada pria yang tidak dikhitan, pegang penis dan buka kulup penis, amati lubang uretra dan
kepala penis untuk mengetahui adanya ulkus, jaringan parut, benjolan, peradangan, dan rabas
(bila pasien malu, penis dapat dibuka oleh pasien sendiri). Lubang uretra normalnya terletak di
tengah kepala penis. Pada beberapa kelainan, lubang uretra ada yang terletak di bawah batang
penis (hipospadia) dan ada yang terletak di atas batang penis (epispadia).
 Inspeksi skrotum dan perhatikan bila ada tanda kemerahan, bengkak, ulkus, ekskoriasi, atau
nodular. Angkat skrotum dan amati area di belakang skrotum.

1. Palpasi

 Lakukan palpasi penis untuk mengetahui adanya nyeri tekan, benjolan, dan kemungkinan
adanya cairan kental yang keluar.
 Palpasi skrotum dan testis dengan menggunakan jempol dan tiga jari pertama. Palpasi tiap testis
dan perhatikan ukuran, konsistensi, bentuk, dan kelicinannya. Testis normalnya teraba elastic,
licin, tidak ada benjolan atau massa, dan berukuran sekitar 2 – 4 cm.
 Palpasi epididimis yang memanjang dari puncak testis ke belakang.
 Normalnya epidiimis teraba lunak.
 Palpasi saluran sperma dengan jempol dan jari telunjuk.
 Saluran sperma biasanya ditemukan pada puncak bagian lateral skrotum dan teraba lebih keras
daripada epididimis.

2. Pemeriksaan fisik pada genitalia wanita

 Pemeriksaan genitalia eksternal dengan inspeksi


 Mulai dengan mengamati rambut pubis, perhatikan distribusi dan jumlahnya, dan bandingkan
sesuai usia perkembangan pasien.
 Amati kulit dan area pubis, perhatikan adanya lesi, eritema, fisura, leukoplakia, dan ekskoriasi.
 Buka labia mayora dan amati bagian dalam labia mayora, labia minora, klitoris, dan meatus
uretra. Perhatikan setiap ada pembengkakan, ulkus, rabas, atau nodular.
 Pemeriksaan genitalia internal dengan palpasi.
 Lumasi jari telunjuk Anda dengan air steril, masukkan ke dalam vagina, dan identifikasi
kelunakan serta permukaan serviks. Tindakan ini bermanfaat untuk mempergunakan dan
memilih speculum yang tepat. Keluarkan jari bila sudah selesai.
 Letakkan dua jari pada pintu vagina dan tekankan ke bawah ke arah perianal.
 Masukkan speculum dengan sudut 45o
 Buka bilah speculum, letakkan pada serviks, dan kunci bilah sehingga tetap membuka.
 Bila serviks sudah terlihat, atur lampu untuk memperjelas penglihatan dan amati ukuran,
laserisasi, erosi, nodular, massa, rabas, dan warna serviks. Normalnya bentuk serviks melingkar
atau oval pada nulipara, sedangkan pada para berbentuk celah.
 Lakukan palpasi secara bimanual. Pakai sarung tangan lalu lumasi jari telunjuk dan jari tengah,
kemudian masukkan jari tersebut ke lubang vagina dengan penekanan ke arah posterior, dan
meraba dinding vagina untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan nodular.
 Palpasi serviks dengan dua jari Anda dan perhatikan posisi, ukuran, konsistensi, regularitas,
mobilitas, dan nyeri tekan. Normalnya serviks dapat digerakkan tanpa terasa nyeri.
 Palpasi uterus dengan cara jari – jari tangan yang ada dalam vagina mengahadap ke atas. Tangan
yang ada di luar letakkan di abdomen dan tekankan ke bawah. Palpasi uterus untuk mengetahui
ukuran, bentuk, konsistensi, dan mobilitasnya.
 Palpasi ovarium dengan cara menggeser dua jari yang ada dalam vagina ke formiks lateral
kanan. Tangan yang ada di abdomen tekankan ke bawah ke arah kuadran kanan bawah. Palpasi
ovarium kanan untuk mengetahui ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi, dan nyeri tekan
(normalnya tidak teraba). Ulangi untuk ovarium sebelahnya.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

System urogenitalia terdiri dari system urinaria dan system genitalia.

1. Urinaria adalah suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah
terbebas dari zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih
dipergunakan oleh tubuh.
2. Genitalia merupakan alat reproduksi pria dan wanita yang memungkinkan penciptaan atau
reproduksi kehidupan baru bagi kelanjutan spesies. Reproduksi manusia adalah seksual, yang
berarti bahwa baik laki-laki maupun perempuan memberikan kontribusi materi genetic dalam
pembentukan individu baru.

Pemeriksan fisik urogenitalia merupakan pemeriksaan organ urogenital untuk menentukan


adanya kelainan-kelainan dari suatu sistem atau suatu organ dengan cara melihat (inspeksi),
meraba (palpasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan (auskultasi).

1. Saran

Dari SOP (Standar Operasional Prosedur) yang telah dibuat, penulis menyarankan kepada kita
agar lebih lagi memperhatikan kesehatan tubuh kita, terutama pada organ urinaraia dan genitalia,
tindakan pencegahan sangatlah penting agar terhindar dari timbulnya gangguan, salah satu
tindakan pencegahan adalah dengan melakukan perawatan diri.

DAFTAR PUSTAKA

Evelyn C. Pears. 2011. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis – Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama.

Syafuddin. 1997. Anatomi fisiologi untuk siswa perawat edisi 2 – Jakarta : EGC.

Syafuddin. 2006. Anatomi fisiologi untuk mahasiswa perawat edisi 3 – Jakarta : EGC.
Gibson, John MD. 1995. Anatomi dan fisiologi modern untuk perawat edisin 2 – Jakarta : EGC.

http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/anatomi-ginjal-dan-saluran-kemih/,
diakses tanggal 02/01/2012.

http://pisaudokter.blogspot.com/2011/02/anatomi-sistem-urinaria.html, diakses tanggal


02/01/2012.

http://franlyonibala04.blogspot.com/2013/04/pemeriksaan-fisik-2.html.

Alimul, Aziz H. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Buku 1. Jakarta :


Salemba Medika.

Cristensen, P.J., & Kenney, J.W. 1990. Nursing Process Application by Conceptual Models. St.
Louis : Mosby.

http://nursingbegin.com/tag/pemeriksaan-fisik/

STANDART OPERATING PROSEDUR (SOP)


“ PEMERIKSAAN GULA DARAH ”

Anda mungkin juga menyukai