Anda di halaman 1dari 6

Salmonella Osteomyelitis pada laki-laki dewasa – Kesuksesan Tatalaksana

dengan terapi konservativ.

Ringkasan
Seorang laki-laki usia 21 tahun datang dengan keluhan nyeri pada paha kanan dengan onset
yang makin lama makin nyeri dengan durasi sejak 3 bulan lalu. Dia memiliki riwayat sakit
demam selama 15 hari, saat 2 bulan sebelum mengeluhkan nyeri. Pada pemeriksaan
didapatkan pembengkakan di bawah sisi lateral dari paha kanan dan terasa nyeri. Pada
pemeriksaan X-ray femur kanan dan dengan scan menggunakan Tomographi tercomputasi
pada waktu 10 minggu setelah timbul penyakitnya didapatkan hasilnya normal. Magnetick
Resonance Imaging (MRI) menunjukan adanya perubahan dengan destruksi yang minimal
dari cortex anterior regional mid-diaphysis femur kanan. Pengulangan X-ray yang dilakukan
saat 15 minggu setelah timbulnya penyakit menunjukan perubahan erosive, bersama dengan
reaksi periosteal pada area diaphysis. Tes Widal menunjukan hasil positive. Pada Open
Biopsi pada lesi ditemukan jaringan inflamasi non Casein. Pada pemeriksaan Kultur
didapatkan Salmonella typhi. Pasien telah diberikan terapi antibiotic. Keduanya X-ray dan
titer Widal kembali normal saat dilakukan follow-up setelah 3 bulan.

Pengantar
Salmonella Osteomyelitis adalah sesuatu yang langka, kejadiannya 0.8% dari semua infeksi
Salmonella dan hanya 0.45% dari semua tipe Osteomyelitis. 3 strains salmonella yang sering
menyebabkan osteomyelitis Salmonella typhimurium, Salmonella typhi, dan Salmonella
enteridis, hanya Salmonella typhi yang menular dari manusia ke manusia. Osteomyelitis yang
disebabkan oleh Salmonella panama juga dilaporkan dalam literature. Infeksi Salmonella
dapat muncul dalam 5 bentuk klinis yang berbeda yaitu, gastroenteritis, demam enterik,
bactaeremia (tanpa infeksi lokal), penyakit fokal (termasuk infeksi jaringan lunak), dan dalam
keadaan kronis. Ada hubungan yang mencolok antara salmonella osteomyelitis dan anemia
sel sabit. Tifoid osteomielitis memiliki predileksi untuk pasien dengan diabetes, lupus
eritematosus sistemik, limfoma, penyakit hati, operasi atau trauma sebelumnya, mereka yang
berada pada usia ekstrem, dan pasien yang menggunakan steroid. Insiden osteomielitis
typhoid pada individu yang sehat adalah jauh lebih rendah. Ada sangat sedikit kasus yang
dilaporkan dalam literatur di mana salmonella osteomyelitis terlihat pada individu yang sehat.
Gambar 1. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Scan femur menunjukan destruksi minimal dari
cortex pada region mid-diaphisis, dan letaknya mendekati tulang.

Gambar 2. Potongan Transversus MRI pada mid-diaphysis, menunjukan perbedaan jaringan lunak
pada cortex anterior femur.
Laporan kasus
Seorang laki-laki usia 21 tahun datang dengan nyeri yang signifikan pada paha kanan dengan
onset yang makin nyeri dan dengan durasi selama 3 bulan. Tidak ada riwayat trauma. Pasien
tidak ada keluhan demam yang menyertai gejala nyerinya, tetapi memiliki riwayat demam
selama 15 hari, 2 bulan sebelum gejala nyeri pada pahanya dan dia telah mendapatkan
pengobatan antibiotic oral selama 3 minggu. Pada pemeriksaan didapatkan pebengkakan
dibawah aspek lateral dari paha kanan dengan indurasi serta sensitive terhadap nyeri. Kondisi
kulit diatasnya normal. Suhu sekeliling yang nyeri tidak teraba lebih hangat dan tidak
ditemukannya fluktuasi. Kelenjar lympha sekitar tidak teraba membesar. Pergerakan pinggul
bebas, dan gerakan fleksi lutut terbatas. X-ray pada femur kanan dan Tomographi computasi
dilakukan pada 10 minggu setelah timbul onset penyakit tersebut. Pasien diberikan advice
untuk melakukan pemeriksaan scan MRI, yang memperlihatkan adanya perubahan dengan
destruksi yang minimal pada cortex anterior di region mid-diaphysis pada femur kanan di T2
dan tampak fluid-attenuated inversion pada gambar saat penyembuhan (gambar 1 dan 2).
Tampak jelas adanya penumpukan pada region anterior dari tulang femur. Vastus
intermedialis dan laterelais menunjukan tanda hiperintens pada gambar T2. Pengulangan X-
ray di minggu ke 15 setelah onset dari penyakit timbul menunjukan perubahan erosive,
bersamaan dengan reaksi periosteal di area diaphysis femur kanan. Tes widal positif.
Pemeriksaan darah rutin dan pemeriksaan ultrasound abdomen dalam batas normal.
Perbedaan diagnosis dai typhoid osteomyeltisi, tubercular osteomyelitis, atau Erwing’s
sarcoma telah dipertimbangkan. Open biopsy yang dilakukan menunjukan inflamasi non
kasein. Pemeriksaan kultur menunjukan adanya Salmonella typhi. Pasien telah mendapatkan
ceftazidime 1gr dua kali sehari selama 3 minggu, dan dilanjutkan 9 minggu ofloxacilin oral
400mg dua kali sehari. X-ray dan titer widal telah normal pada follow-up berikutnya setelah
3 bulan (gambar 4). Urin dan kultur feses juga negative pada follow-up setelah 3 bulan.
Diskusi

Salmonella osteomyelitis biasanya menginfeksi diafisis tulang panjang. Tulang yang paling
sering terkena adalah tulang femur dan humerus. Tulang lainnya umumnya terkena adalah
tibia, radius, lumbar vertebrae, dan ulna. Sebagian besar pasien terserang hanya satu tulang,
meskipun banyak keterlibatan tulang juga telah dilaporkan. Durasi gejala bisa berkisar dari
beberapa bulan hingga beberapa tahun, dan dikatakan bebas gejala adalah mulai dari awal
timbulnya penyakit dan saat terjadi osteomielitis bisa selama 25 tahun. Lang et Al. telah
melaporkan kasus di mana osteomielitis terjadi pada 2 lokasi anatomi yang berbeda (tibia
distal kiri dan tibia proksimal kanan), selain 17 tahun, keduanya disebabkan oleh Salmonella
paratyphi C.
Salmonella osteomyelitis secara klinis dan radiografi tidak bisa dibedakan dari osteomielitis
yang disebabkan oleh organisme lain, dengan sebagian besar pasien mengeluhkan rasa sakit
dan pembengkakan pada anggota tubuh. Peningkatan suhu tubuh jarang ditemukan. Dan
gambaran klinis yang tidak khas. Tingkat sedimentasi eritrosit biasanya meningkat dan kultur
darah dilaporkan positif pada 71% pasien. X-ray biasanya menunjukkan erosi diaphysis
dengan destruksi tulang, dengan atau tanpa adanya sequestrum. Dapat / tidak dapat terjadi
reaksi pada periosteal. Lesi dapat mengalami kalsifikasi. Gambaran klinis-radiologis dapat
menyerupai limfoma, Giant cell tumor dan displasia fibrosa. Meskipun tes Widal positif
dalam kasus kami, ini bukan tes diagnostik definitif untuk kasus ini, karena titernya dapat
meningkat karena paparan sebelumnya. Tes ini juga bisa negatif dalam beberapa kasus
Salmonella osteomyelitis. Satu-satunya konfirmasi evidencenya adalah kultur Salmonella.
Salmonella osteomyelitis kronis telah diterapi konvensional dengan operasi debridemen
dikombinasi dengan antibiotik. Carlson dan Dobozi berpendapat debridemen tidak adekuat,
dan menganjurkan debridemen radikal pada lesi. Dalam kasus ini,karena tidak ada bukti
pembentukan sequestrum pasien diberikan terapi dengan antibiotik saja. Biopsi diambil untuk
mengkonfirmasi diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan tumor. Mengingat ini
kemungkinan terakhir, debridemen tidak selesai pada saat biopsi. Pasien memiliki resolusi
yang baik pada lesi dengan terapi antibiotik saja, dalam 3 bulan.
Meskipun kondisi ini cukup langka di negara barat, akan tetapi menjadi suatu yang penting
karena meningkatnya turis internasional, dan kejadiannya pada pasien dengan
imunodefisiensi. Tifoid osteomyelitis harus selalu dipertimbangkan dalam diagnosis banding
pasien dengan diaphysis osteomyelitis yang memiliki riwayat prolong fever selama beberapa
minggu, atau diare.