Anda di halaman 1dari 2

Kasus 1

Kasus : Salah satu KPM di wilayah dampingan saya memang tergolong ke dalam masayarakat kurang
mampu. KPM tersebut memiliki 3 orang anak, dimana 2 orang anak sudah bersekolah di SD kelas 3
dan kelas 1 sementara anak bungsunya bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Kasus yang saya
temukan yaitu ketika melakukan verifikasi fasdik sekaligus koordinasi dengan guru-gurunya, saya
mendapatkan laporan bahwa kedua anak KPM tersebut ketika bersekolah pakaiannya sangat tidak
rapi karena terlihat hampir tidak layak lagi dipakai, mulai dari baju, celana, kaos kaki, dan sepatu.
Padahal orang tuanya merupakan penerima bantuan PKH maupun KIP untuk anaknya. Oleh karena
itu, pihak sekolah meminta kepada kami untuk memberitahukan kepada orang tuanya agar
memperhatikan kebutuhan sekolah anak-anaknya. Hal ini terjadi akibat kurang pemahaman KPM
terhadap tujuan pemerintah dalam memberikan bantuan sosial serta kurangnya perhatian orang tua
terhadap kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

Kapan : Kasus ini saya dapatkan di tahun 2018

Di mana : Di Kelurahan Bulagi Satu, Kecamatan Bulagi, Kab. Banggai Kepulauan

Pihak -pihak yang terkait : orang tua, pihak Sekolah, dan masyarakat

Mengapa kasus ini bisa terjadi ? Menurut saya ini terjadi karena selain kondisi ekonomi yang kurang
mendukung pertama yaitu kurangnya perhatian orang tua akan kebutuhan pendidikan anak-anaknya
dan kedua yaitu kurangnya pengetahuan maupun kesadaran orang tua tentang tujuan pemanfaatan
bansos yang diberikan oleh pemerintah.

Untuk memecahkan masalah saya melakukan pendekatan untuk memberikan pemahaman kembali
secara jelas tentang manfaat bantuan yang sudah diberikan oleh pemerintah serta dalam
peruntukannya dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anak sekolahnya.

Kasus 2

Kasus : Ketika saya melakukan verifikasi Faskes dengan melakukan koordinasi dengan petugas
posyandu, saya mendapatkan ada anak balita dari salah satu KPM yang sudah 2 tahun terakhir tidak
pernah dibawa lagi pemeriksaan ke posyandu. Sedangkan usia balita tersebut pada saat verifikasi
sudah berumur 4 tahun. KPM tersebut juga memiliki 1 anak balita yang berumur 3 tahun. Kedua
anak tersebut sama, sudah kurang lebih 2 tahun tidak dibawa ke posyandu. Informasi dari petugas
kesehatan Puskesmas setempat juga mengatakan bahwa orang tua tersebut sudah lama tidak hadir
ketika mereka melakukan posyandu.

Kapan dan di mana :

Kasus ini saya temukan di kelurahan Bulagi Satu dan beberapa desa dampingan saya lainnya pada
saat verifikasi Faskes di Bulan Februari tahun 2018
Pihak-pihak yang terlibat :

Orang Tua, Kader Posyandu, dan petugas Kesehatan di Puskesmas

Mengapa Kasus ini bisa terjadi ? Menurut saya ini terjadi karena kurangnya kesadaran dari orang tua
akan pentingnya pemeriksaan kesehatan terhadap anak-anaknya dan juga tingkat pendidikan orang
tua yang rendah sehingga pengetahuan mereka tentang pentingnya menjaga kesehatan anak-
anaknya masih kurang. Selain itu, menurut KPM tersebut mereka agak malas datang ke posyandu
dikarenakan rumah mereka yang lumayan jauh dari tempat posyandu dan jika naik kendaraan
mereka harus mengeluarkan biaya untuk ke tempat pelayanan kesehatan.

Bagaimana memecahkan masalah ini yaitu pertama saya melakukan kunjungan ke rumah KPM dan
menanyakan apa kendala yang dihadapi sehingga dalam 2 tahun terakhir ini dia sudah tidak lagi aktif
memeriksakan balitanya ke posyandu. Setelah itu saya memberikan pemahaman akn pentingnya
membawa anak balitanya ke posyandu dan ,menjelaskan sedikit tentang kesehatan anak sehingga
orang tua ini mengalami perubahan pemahaman tentang pentingnya membawa balitanya ke faskes.
Selain itu, saya menghimbau kepada kader posyandu agar jika memungkinkan mereka sempatkan
untuk mengunjungi orang tua balita yang tidak aktif membawa balitanya di Posyandu

Kasus 3

Kasus : Kasus : saat saya melakukan koordinasi dengan aparat desa di kantor desa salah satu wilayah
dampingan saya, saya mendapat tantangan dimana sekretaris desa mengatakan bahwa mereka akan
menggantikan beberapa KPM yang menurut mereka masih ada yang lebih pantas menerima bantuan
tersebut. Merekapun selalu mencari-cari kesalahan dari peserta PKH di desa tersebut dengan
mengatakan kepada kami bahwa KPM PKH di desa tersebut tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan di
desa. Mereka juga mengatakan akan membagikan bantuan rastra yg diperuntukkan bagi peserta
PKH kepada masyarakat lain di luar PKH yang menurut mereka lebih pantas menerima bantuan

Kapan dan dimana :

Kasus ini saya temukan pada bulan Juni tahun 2018 di

Masalah dengan aparat desa

Kpm bermain judi