Anda di halaman 1dari 20

COOMBS TEST DIRECT DAN INDIRECT

Tugas Makalah Mata Kuliah Imunohematologi Lanjut

Dosen pembimbing : dr. Andreas Agung, Sp.PK.

oleh :

Kelompok 1

1. Edi Purwanto (G4C018005)


2. Ellyka Purwaningrum (G4C018008)
3. Sri Rejeki (G4C018015)
4. Arista Kurniasari Budi Fristiani (G4C018016)
5. Putri Kurniasiwi (G4C018019)

PROGRAM STUDI S2 SAINS LABORATORIUM MEDIK


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI ........................................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
A. DARAH ....................................................................................................................... 1
B. PLASMA DARAH ...................................................................................................... 2
C. ERITROSIT ................................................................................................................. 2
D. DEFEK SISTEM IMUN .............................................................................................. 2
BAB II. PEMBAHASAN ........................................................................................................ 3
A. DEFINISI COOMB’S TEST ......................................................................................... 3
B. MACAM-MACAM COOMB’S TEST........................................................................ 4
C. METODE PEMERIKSAAN COOMB’S TEST ........................................................... 6

D. INTERPRETASI HASIL COOMB’S TEST
 ........................................................... 11

E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL PEMERIKSAAN


COOMB’S TEST ....................................................................................................... 11

F. SUMBER KESALAHAN PEMERIKSAAN COOMB’S TEST
 ............................ 14

G. MODIFIKASI DAN AUTOMATISASI PEMERIKSAAN COOMB’S TEST .......... 15


BAB III. PENUTUP ............................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. DARAH
Volume darah manusia relatif bervariasi dengan rerta volume darah
manusia dewasa sekitar 70 ml per kilogram berat badan dengan total volume
darah mencappai 5 liter. Komponen darah terbentuk oleh plasma dan unsure-
unsur pembentuk darah yakni sel eritrosit, leukosit dan trombosit . Bila pada
suatu sampel darah disentrifugasi maka akan terjadi pemisahan antara unsur-
unsur pembentuk tersebut dari plasma. Rasio volume eritrosit yang mengendap
dibandingkan dengan volume total darah dikenal sebagai hematokrit, yang
normal berkisar 45 %. Suatu lapisan tipis dari leukosit dan juga trombosit dapat
disebut sebagai buffycoat. Plasma darah mengisi hamper 55 % dari volume
darah yakni sekitar 3 liter pada orang dewasa.
Unsur-unsur pembentuk darah memiliki fungsinya masing-masing.
Eritrosit memiliki peran utama untuk mendistribusikan oksigen ke seluruh
jaringan tubuh dan mengangkut karbondioksida dari jaringan di seluruh tubuh.
Leukosit memiliki fungsi yang bermacam-macam tergantung jenisnya, tetapi
fungsi utamanya adalah memelihara imunitas tubuh dan melawan antigen asing
yang masuk ke tubuh. Trombosit berperan utama dalam proses pembekuan darah
yang sangat penting untuk menghentikan perdarahan akibat kerusakan pembuluh
darah.
Selain unsure-unsur utama tersebut darah juga mengandung
berbagaimacam protein yang terkandung di dalam plasma darah dan memiliki
fungsi bermacam-macam. Semua komponen dan unsure-unsur dalam darah akan
bekerja sama mempertahankan hemostasis darah

1
B. PLASMA DARAH
Pada orang dewasa, plasma darah meliputi 55 sampai 60 % dari total
volume darah, merupkan suatu cairan kompleks yang menyerupai cairan
ekstraseluler dan mengandung berbagai macam unsur organik dan anorganik.
Konsentrasi dari setiap unsur yang ada dalam plasma bergantung pada banyak
hal sepeerti asupan makana, kebutuhan metabolik, hormon dan vitamin.

C. ERITROSIT
Prosebtase eritrosit 48 % dari volume total, darah pada laki-laki
dewasa sekitar 42% pada wanita dewasa. Proses eritropoesis , sel darah merah
akan melepaskan inti selnya dan juga organel lain seperti mitokondria dan
ribosom ketika menjadi matur kemudian membentuk suatu cakram dengan
cekungan di tengahnya yang disebut bikonkaf. Diameter sel darah merah
berkisar antara 7 hingga 8 mikrometer. Sitoplasma eritrosit mengandung
hemoprotein , sebagian besar adalah hemoglobin, protein transport glukosa dan
protein tansport elektrolit transmembran yang berperan dalam regulasi
membrane sel.

D. DEFEK SISTEM IMUN


Anemia hemolitik autoimun (autoimmune hemolityc anemia – AIHA)
adalah anemia hemolitik didapat yang disebabkan oleh produksi antibody
terhadap eritrosit sendiri (oto-antibodi). kelainan darah ini ditandai dengan test
Coombs yang positif dan dibagi menjadi dua tipe utama, yaitu tipe hangat
(warm) dan digin (cold). Pembagian tipe warm dan cold dikaitkan dengansuhu
optimal yang dibutuhkan oleh otoantibodi untuk bereaksi atau melekat dengan
eritrosit. Penyebab munculnya antibody ini dapat secara primer atau idiopatik
(tanpa jelas sebabnya) atau secara sekunder akibat penyakit lain.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI COOMB’S TEST


Antiglobulin test yang popular disebut dengan Coomb’s test, ditemukan
pertama kali oleh Coombs, Mourant dan Race pada tahun 1945 untuk
mendeteksi antibodi yang tidak beraglutinasi dalam serum (Makroo, 2009;
Green and Klostermann, 2012). Coomb’s test menjadi sangat penting karena
dapat mendeteksi antibodi IgG dan komplemen yang menghancurkan sel darah
merah baik secara in vivo maupun in vitro tanpa menunjukkan adanya
aglutinasi.
Pemeriksaan Coomb’st test adalah pemeriksaan yang digunakan
untuk mendeteksi adanya antibody pada permukaan eritrosit dan anti-antibodi
eritrosit dalam serum. Anti body ini menyelimuti permukaan sel eritrosit
yang menyebabkan umur eritrosit menjadi lebih pendek dan sering
menyebabkan reaksi inkompetibel pada transfuse darah. Jadi perdefinisi
Coomb’s test adalah suatu pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi
antibodi yang mengikat sel darah merah baik secara in vivo maupun in vitro
(Blaney and Howard, 2013).
Prinsip sederhana dari pemeriksaan antiglobulin adalah sebagai
berikut:
a. Molekul antibodi dan komplemen adalah globulin,
b. Human globulin yang diinjeksikan pada hewan (kelinci) akan
merangsang produksi antibodi, yaitu Anti Human Globulin
(AHG). Pemeriksaan serologi yang berkembang menggunakan
reagen AHG yang dapat bereaksi dengan berbagai jenis globulin
manusia meliputi anti-IgG antibody dan C3d yang merupakan
komponen komplemen pada manusia.
c. AHG akan bereaksi dengan molekul human globulin baik yang
terikat dengan sel darah merah maupun yang bebas dalam serum
(Green and Klostermann, 2012).

3
B. MACAM-MACAM COOMB’S TEST
1. Direct Coomb’s Test (DCT)
DCT bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi imun baik IgG
maupun komponen-komplemen (umumnya C3d) yang menyelimuti atau
mensensitisasi sel darah merah secara in vivo (Makroo, 2009). Direk
coombs test mendeteksi antibody yang melekat pada sel darah merah, yang
dapat menyebabkan kerusakan sel. Uji ini dapat mengidentifikasi suatu
reaksi antigen-antibodi yang lemah walaupun tidak tampak aglutinasi sel
darah merah (Kee, 2007).
Menurut Makroo (2009), pemeriksaan DCT sering digunakan untuk
membantu diagnosis kasus-kasus berikut :
a. Hemolytic disease of new born (HDN),
b. Auto immune hemolytic anemia (AIHA),
c. Pemeriksaan adanya sensitisasi sel darah merah yang diinduksi
oleh obat-obatan,
d. Pemeriksaan kasus hemolitik yang disebabkan oleh reaksi
transfuse

Prinsip Pemeriksaan Direct Coomb’s Test (DCT) :

Gambar 1. Prinsip pemeriksaan Direct Commb’s Test (Green and Klostermann,


2012).

DCT berfungsi untuk mendeteksi adanya sensitisasi sel darah


merah oleh IgG atau komponen komplemen yang terjadi secara in
vivo. Setelah dilakukan proses pencucian sel darah merah sebanyak 3

4
kali kemudian tambahkan reagen AHG, kemudian dilihat ada tidaknya
aglutinasi. Aglutinasi akan terjadi apabila ada anti-IgG antibody atau
C3d yang menyelimuti sel darah merah (Green and Klostermann,
2012).

2. Indirect Coomb’s test (ICT)


Pemeriksaan ICT bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi
inkomplit atau komplemen yang ada di dalam serum setelah diinkubasi
dengan sel darah merah secara in vitro (Makroo, 2009).
Pemeriksaan ICT digunakan untuk kasus-kasus berikut:
a. Compatibility testing,
b. Skrining dan identifikasi antibodi yang tidak diharapkan dalam
serum,
c. Mendeteksi antigen sel darah merah menggunakan antibodi
spesifik yang hanya bereaksi dengan antiglobulin seperti Fya, Fyb,
JKa, Jkb dan lain-lain (Makroo, 2009).

Prinsip Pemeriksaan Indirect Coomb’s Test (ICT) :

Gambar 2. Prinsip pemeriksaan Indirect Commb’s Test (Green and Klostermann,


2012).

5
ICT berfungsi untuk mendeteksi adanya sensitisasi sel darah
merah oleh IgG atau komponen komplemen yang terjadi secara in vitro.
Reagen sel darah merah ditambahkan serum pasien kemudian dilakukan
proses inkubasi. Inkubasi bertujuan untuk memberi kesempatan anti
IgG antibody dan C3d yang bebas dalam serum mensensitisasi sel darah
merah secara in vitro. Setelah sensitisasi terjadi lalu tambahkan reagen
AHG dan amati ada tidaknya aglutinasi (Green and Klostermann,
2012).

C. METODE PEMERIKSAAN COOMB’S TEST


1. Pemeriksaan DCT dengan Metode Tabung (Tube Test)
Alat dan bahan
Alat-alat yang dibutuhkan, antara lain: tabung gelas dengan ukuran 75 x 12
mm, sentrifus, dan pipet tetes.
Bahan untuk pemeriksaan coomb’s test dengan metode tabung, antara lain: sel
darah merah yang akan diperiksa, reagen Anti Human Globulin (AHG), dan
kontrol positif.
Ada dua tipe reagen AHG yang tersedia, yaitu:
a. Reagen AHG polispesifik 
Reagen AHG polispesifik umumnya
mengandung anti-IgG dan anti-C3d namun juga dapat mengandung anti
C3b dan anti C4b. Pembuatan AHG dilakukan dengan cara
menyuntikkan human globulin ke dalam tubuh hewan, prosedur tersebut
selanjutnya akan menghasilkan antibodi spesifik untuk immunoglobulin
manusia dan sistem faktor komplemen manusia.
b. Reagen AHG monospesifik
Reagen monospesifik masing-masing
mengandung anti-IgG, IgM, IgA atau komponen komplemen yang sudah
terpisah-pisah (Makroo, 2009).
Kontrol sel positif dibuat dari golongan
darah O Rhesus positif yang direaksikan dengan anti-D, reagen AHG dan
dibantu dengan alat dan bahan lain seperti salin dan tabung reaksi ukuran

6
75 x 12 mm. Berikut adalah teknik pembuatan kontrol sel positif:
1) sel darah merah golongan O Rhesus positif dicuci sebanyak tiga kali
menggunakan larutan salin,
2) 0,5 mL sel darah merah yang sudah dicuci dimasukkan kedalam
tabung reaksi, diambahkan 2-3 tetes anti-D.

3) Dihomogenkan dan inkubasi pada suhu 37 oC selama 30 menit. Jika


aglutinasi positif, prosedur diulangi dengan menambahkan anti-D
yang sudah diencerkan,
4) sel dicuci sebanyak 4 kali kemudian buat suspensi sel 5% dalam
medium salin,
5) ambil satu volume suspensi sel 5% dan tambahkan 2 volume reagen
AHG. Campur dengan baik dan sentrifugasi. Reaksi yang didapat
harus +2,

6) kontrol sel positif dapat disimpan selama 48 jam pada suhu 4 oC


(Makroo, 2009).

Prosedur Pemeriksaan DCT


1. 1 tetes suspensi sel 2-4% yang akan diperiksa diteteskan ke dalam tabung
yang bersih dan berikan label. Sampel darah harus segar, tidak lebih dari
24 pasca pengambilan atau ditampung dalam 
tabung EDTA untuk
mencegah terjadinya uptake komplemen,
2. cuci sel sebanyak 3 kali menggunakan larutan salin dan buang 
sebanyak
mungkin salin pasca pencucian,
3. ditambahkan 1-2 tetes reagen AHG,
4. Dihomigenkan dan sentrifugasi selama 1 menit pada kecepatan 1000

revolution per minute (rpm),
5. Tabung digoyangkan dan dibaca ada tidaknya aglutinasi,
6. jika hasil negatif, tambahkan 1 tetes control cells,
7. campur dan sentrifugasi selama 1 menit pada kecepatan 1000 
rpm dan
lihat adanya aglutinasi. Jika tidak ada aglutinasi, hasil 
dinyatakan

7
invalid dan pemeriksaan harus diulang.
Berikut adalah ilustrasi prosedur pemeriksaan DCT

Gambar 3. Prosedur pemeriksaan DCT dengan motode tube test (Powell, 2016).

2. Pemeriksaan ICT dengan Metode Tabung (Tube Test)


Alat dan bahan
Alat yang dibutuhkan adalah tabung gelas dengan ukuran 75 x 12 mm,
sentrifus, dan pipet tetes.
Bahan untuk pemeriksaan meliputi serum yang akan diperiksa, sel darah
merah golongan O, reagen Anti Human Globulin (AHG), dan kontrol sel
positif.
Prosedur Pemeriksaan ICT
1) teteskan 2 tetes serum yang akan diperiksa ke dalam tabung yang bersih
dan beri label. Sampel serum harus segar, untuk mendeteksi 
adanya
komplemen yang berikatan dengan antibodi,
2) tambahkan 1 tetes suspensi sel darah golongan O 2-5%,

3) inkubasi pada suhu 37 oC selama 45-60 menit,


4) amati ada tidaknya hemolisis atau aglutinasi. Hemolisis atau 
aglutinasi
yang terjadi pada tahap ini mencerminkan adanya salin 
yang bereaksi
dengan antibodi,
5) jika tidak terjadi hemolisis atau aglutinasi, cuci sampel sebanyak 
3-4
kali menggunakan larutan salin dan buang sebanyak mungkin 
salin
pasca pencucian,
6) tambahkan 1-2 tetes reagen AHG,

8
7) campur dan sentrifugasi selama 1 menit pada kecepatan 1000 
revolution
per minute (rpm),
8) goyangkan tabung dan baca ada tidaknya aglutinasi,
9) jika hasil negatif, tambahkan 1 tetes control cells,
10) campur dan sentrifugasi selama 1 menit pada kecepatan 1000 
rpm dan
lihat adanya aglutinasi. Jika tidak ada aglutinasi, hasil 
dinyatakan
invalid dan pemeriksaan harus diulang.
11) Selalu sertakan autokontrol pada pemeriksaan ICT (Makroo, 
2009).

Gambar 4. Prosedur pemeriksaan ICT dengan motode tube test (Powell, 2016).

Tujuan dari masing-masing tahapan pemeriksaan ICT (Green and


Klostermann, 2012).

Tahapan pemeriksaan Tujuan

Inkubasi sel darah merah dengan serum Memberikan kesempatan antibodi yang
pasien ada pada serum pasien menyelimuti
antigen sel darah merah

Pencucian sel dengan salin sebanyak 3 Menghilangkan molekul globulin bebas


kali atau yang tidak terikat
 Membentuk
aglutinasi sel darah merah melalui ikatan
antigen eritrosit + antibodi + anti-IgG

Sentrifugasi Mempercepat proses aglutinasi dengan


cara mendekatkan sel satu sama
lain
 Memberikan

9
Inaterpretasi Memberikan interpretasi hasil
pemeriksaan apakah positif atau negatif

Menentukan deraajad Aglutinasi Menentukan kuat lemahnya reaksi yang


terjadi

Penambahan Coombs’ control cells pada Untuk memastikan bahwa hasil yang
hasil yang negatif negatif bukan disebabkan oleh netralisasi
reagen AHG oleh molekul globulin bebas

3. Pemeriksaan ICT Menggunakan Medium LISS


Penggunaan LISS pada ICT dapat meningkatkan kecepatan dan derajat
pengikatan antibodi oleh sel darah merah dan menurunkan waktu inkubasi.
Berikut dijelaskan tentang pemeriksaan ICT pada medium LISS (Makroo,
2009).

Alat dan bahan


Alat-alat yang dibutuhkan meliputi tabung gelas dengan ukuran 75 x 12 mm,
sentrifus, dan pipet tetes.
Beberapa bahan yang dibutuhkan, antara lain:
a. Low ionic strength solution (LISS)
b. Serum yang akan diperiksa
c. Sel darah merah golongan O
d. Reagen anti human globulin (AHG)
e. Kontrol sel positif

Prosedur Pemeriksaan ICT menggunakan medium LISS


a. Cuci sel darah merah dengan salin sebanyak 2 kali,
b. cuci sel sekali dalam medium LISS,
c. buat suspensi sel 2-4% dalam medium LISS,

d. teteskan serum dan sel yang disuspensi dalam LISS dengan 
 volume

yang sama ke dalam tabung yang bersih dan berikan 
 label,

10
e. inkubasi selama 15 menit pada suhu 37 oC (pada kondisi 
 emergency,

inkubasi dapat dilakukan selama 5 menit),

f. amati ada tidaknya hemolisis atau aglutinasi, catat hasil yang di 
 dapat,

g. jika tidak terjadi hemolisis atau aglutinasi, cuci sampel sebanyak 
 3 kali

menggunakan larutan salin dan buang sebanyak mungkin 
 salin pasca

pencucian,
h. tambahkan 1-2 tetes reagen AHG, campur dan sentrifugasi selama 1

menit pada kecepatan 1000 
 revolution per minute (rpm)

i. Goyangkan tabung dan baca ada tidaknya aglutinasi jika hasil negatif,
tambahkan 1 tetes control cells, campur dan sentrifugasi selama 1 menit

pada kecepatan 1000 
 rpm dan lihat adanya aglutinasi.

j. Jika tidak ada aglutinasi, hasil dinyatakan invalid dan pemeriksaan harus

diulang.
 LISS, serum dan suspensi sel harus diadaptasikan dengan suhu

kamar sebelum digunakan (Makroo, 2009).

D. INTERPRETASI HASIL COOMB’S TEST



Pemeriksaan DCT tidak dibutuhkan secara rutin dalam protokol
pretransfusion testing. Hasil DCT yang positif secara tersendiri bukan
merupakan sebuah diagnosis. Interpretasi hasil yang positif membutuhkan
informasi tentang diagnosis klinis pasien, riwayat pemberian obat-obatan,
kehamilan, riwayat transfusi sebelumnya dan informasi lain terkait adanya
proses hemolitik.

E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL PEMERIKSAAN


COOMB’S TEST
DCT dapat mendeteksi kadar molekul IgG pada level 100-500 per
eritrosit dan 400-1.100 molekul C3d per eritrosit. Sedangkan ICT mampu

11
mendeteksi kadar molekul IgG atau C3d pada level 100-200 pada sel dengan
reaksi positif. Jumlah molekul IgG yang mensensitisasi eritrosit dan kecepatan
terjadinya sensitisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Rasio serum dan sel
Peningkatan rasio serum dan sel akan meningkatkan sensitivitas
pemeriksaan. Umumnya, rasio minimum adalah 40:1 yang bisa didapat
dengan menambahkan 2 tetes serum dan 1 tetes suspensi sel eritrosit 5%. Jika
menggunakan sel yang disuspensi dalam salin, maka dapat meningkatkan
rasio serum dan sel yang memiliki kemampuan mendeteksi antibodi lemah
(misal: 4 tetes serum dengan 1 tetes suspensi sel 3% akan memberikan rasio
133:1) (Green and Klostermann, 2012).

2. Medium reaksi
Beberapa medium reaksi yang bisa digunakan antara lain albumin,
LISS dan polyethylene glycol. Pada 1965, Stroup dan Macllroy melaporkan
peningkatan sensitivittas ICT jika albumin digunakan sebagai medium reaksi.
Campuran reaksi yang terdiri atas 2 tetes serum, 2 tetes bovin albumin 22%
dan 1 tetes suspensi sel 3-5% menunjukkan sensitivitas yang sama pada
inkubasi 30 menit dibandingkan inkubasi 60 menit pada medium salin.
Namun, salah satu kelemahan albumin yang dilaporkan oleh Pezt dan
Coworkers adalah tidak mampu mendeteksi beberapa jenis antibodi yang
bermakna secara klinis sehingga albumin jarang digunakan sebagai media
ICT secara rutin (Green and Klostermann, 2012).
Penggunaan Low ionic strength solutions (LISS) diperkenalkan oleh
Low dan Messeter. LISS mampu meningkatkan uptake antibodi dan
memperpendek waktu inkubasi dari 30-60 menit menjadi 10-15 menit.
Penggunaan LISS juga dilaporkan oleh Moor dan Mollison yang menemukan
bahwa reaksi optimal bisa didapatkan dari penggunaan 2 tetes serum dan 2
tetes suspensi sel 3% dalam medium LISS (Green and Klostermann, 2012).
Polyethylene glycol (PEG) bersifat larut dalam air dan digunakan
sebagai zat tambahan untuk meningkatkan uptake antibodi. Mekanisme kerja

12
PEG adalah menghilangkan molekul air yang mengelilingi eritrosit (the water
of hydration theory) sehingga efektif untuk meningkatkan konsentrasi
antibodi. Beberapa peneliti telah membandingkan penggunaan PEG dan LISS
sebagai medium reaksi dalam pemeriksaan antiglobulin. Hasil penelitian
melaporkan bahwa PEG dapat meningkatkan deteksi antibodi yang bermakna
secara klinis dan menurunkan deteksi antibodi yang tidak bermakna secara
klinik (Green and Klostermann, 2012).
3. Temperatur
Kecepatan reaksi antibodi IgG dan aktivasi komplemen optimal pada

suhu 37 oC (Green and Klostermann, 2012).


4. Waktu inkubasi
Untuk sel yang disuspensi dalam medium salin, waktu inkubasi
mencapai 30-120 menit. Mayoritas antibodi yang bermakna secara klinis akan
terdeteksi setelah menit ke-30. Jika menggunakan LISS atau PEG, waktu
inkubasi bisa diperpendek menjadi 10-15 menit. Dengan waktu yang lebih

singkat, sangat penting untuk dilakukan inkubasi pada suhu 30 oC. Bila
waktu inkubasi pada teknik LISS diperpanjang (misal 40 menit) maka
antibodi akan terelusi dari eritrosit dan sensitivitas akan menurun (Green and
Klostermann, 2012).
5. Pencucian eritrosit
Untuk pemeriksaan DCT maupun ICT, sel eritrosit harus dicuci
dengan salin minimal 3 kali sebelum dilakukan penambahan reagen AHG.
Pencucian akan menghilangkan globulin serum yang tidak berikatan.
Pencucian yang tidak adekuat dapat menyebabkan hasil negatif palsu karena
reagen AHG akan dinetralisasi oleh globulin serum yang tidak berikatan. Hal
tersebut menyebabkan fase pencucian pada pemeriksaan DCT dan ICT
menjadi tahapan yang sangat penting. Proses pencucian sebaiknya segera
dilakukan setelah proses inkubasi. Semua sisa salin setelah pencucian terakhir
harus dihilangkan karena dapat mengencerkan reagen AHG yang berefek
pada penurunan sensitivitas pemeriksaan (Green and Klostermann, 2012).

13
6. Salin untuk pencucian
Idealnya salin yang digunakan untuk pencucian harus segar dan
mempunyai pH 7,2-7,4. Salin yang disimpan terlalu lama dalam wadah
plastik menunjukkan penurunan pH sehingga meningkatkan kecepatan elusi
antibodi selama proses pencucian dan memberikan efek hasil negatif palsu.
Adanya kontaminasi bakteri pada salin juga pernah dilaporkan dan hal
tersebut berkontribusi dalam memberikan hasil positif palsu (Green and
Klostermann, 2012).
7. Penambahan AHG
Reagen AHG seharusnya ditambahkan segera setelah proses
pencucian untuk mengurangi elusi antibodi dan berdampak pada netralisasis
reagen AHG. Jumlah AHG yang ditambahkan disesuaikan dengan ketentuan
perusahaan reagen (Green and Klostermann, 2012).
8. Sentrifugasi untuk pembacaan
Sentrifugasi pada campuran sel untuk membaca hemaglutinasi
merupakan langkah yang krusial dalam pemeriksaan. Sentrifugasi yang
direkomendasikan adalah 1000 Relative Centrifugal Forces (RCFs) selama
20 detik. Kecepatan sentrifugasi yang tidak standar dapat memberikan hasil
positif palsu karena resuspensi menjadi inadekuat dan dapat memberikan
hasil negatif palsu karena resuspensi terlalu kuat (Green and Klostermann,
2012).

F. SUMBER KESALAHAN PEMERIKSAAN COOMB’S TEST



Berikut adalah tabel yang memuat ringkasan tentang penyebab
Penyebab hasil positif palsu Penyebab negatif palsu
Kualitas sampel kurang baik Sampel tidak adekuat
Sentrifugasi berlebihan Kontaminasi reagen AHG dengan protein
luar
Tehnik pembacaan tidak tepat Konsentrasi para protein yang tinggi dalam
serum

14
Kontaminasi pada salin Reagen AHG tidak bekerja dengan baik
Tabung kotor Adanya pemanasanserumdan beku ulang
serum
Terkontaminasi fibrin Lupa menambahkan AHG
Sel dengan DCT positif dapat Sentrifugasi tidak adekuat
memberikan hasil ICT positif palsu
Sel Dengan poli aglutinasi Suspensi terlalu encer / pekat
Salin terkontaminasi logam berat / silica
colloidal
Sampel ditampung dengan tabung gel
separator

G. MODIFIKASI DAN AUTOMATISASI PEMERIKSAAN COOMB’S TEST


Ada beberapa jenis modifikasi pemeriksaan coomb’s test yang bisa
digunakan dalam situasi khusus seperti Low-Ionic Polybrene technique (LIP),
Enzyme-Linked Antiglobulin Test (ELAT), solid phase technology, dan gel test
(Green and Klostermann, 2012).

1. Low-Ionic Polybrene technique (LIP)


Teknik LIP diperkenalkan pada 1980 oleh Lalezari dan Jiang. Teknik
ini dapat mensensitisasi sel dengan antibodi dalam waktu cepat. Namun
teknik ini memiliki kelemahan yaitu sensitivitasnya rendah untuk mendeteksi
anti-Jka dan anti-Jkb (Green and Klostermann, 2012).

2. Enzyme-Linked Antiglobulin Test (ELAT)


Pada teknik ELAT, suspensi eritrosit ditambahkan pada microtiter


well dan dicuci dengan salin kemudian ditambahkan reagen AHG yang sudah
dilabel dengan enzim. Reagen AHG yang sudah dilabel dengan enzim akan
berikatan dengan eritrosit yang disensitisasi dengan IgG. Kelebihan antibodi
akan dihilangkan dengan proses pencucian. Setelah penambahan substrate
akan terjadi perubahan warna yang selanjutnya dapat diukur dengan

15
spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu (umumnya pada panjang
gelombang 405 nm). Perubahan warna yang terjadi sebanding dengan jumlah
antibodi yang ada pada sampel (Green and Klostermann, 2012).
3. Solid Phase Technology
Solid-phase technology untuk pemeriksaan antiglobulin dapat
dilakukan dengan menggunakan test tubes maupun microplates. Baik
pemeriksaan DCT maupun ICT dapat dikerjakan dengan motode solid- phase
(Green and Klostermann, 2012).
4. Gel Test
Pada gel test reaksi antigen dan antibodi akan terdeteksi pada
microtube yang mengandung polyacrylamide gel. Gel akan menjaring sel
darah merah yang beraglutinasi pada bagian atas gel dan meloloskan sel darah
merah yang tidak beraglutinasi sehingga mengendap pada dasar tabung. Hasil
reaksi dinyatakan negatif, bila seluruh suspensi sel mengendap di dasar
tabung dan hasil dinyatakan positif bila suspensi naik di sepanjang atau
seluruhnya ada di permukaan tabung. Semakin tinggi derajat aglutinasi maka
sel semakin berada di atas permukaan tabung.
Ada tiga jenis gel test, yaitu netral, spesifik dan antiglobulin. Neutral
gel tidak mengandung reagen spesifik dan hanya digunakan untuk mendeteksi
ada tidaknya aglutinasi. Sebagian besar penggunaan neutral gel test adalah
untuk skrining dan identifikasi antibodi. Gel test yang spesifik menggunakan
reagen spesifik yang dimasukkan ke dalam gel dan sering digunakan untuk
menentukan jenis antigen.
Gel test yang mengandung antiglobulin atau yang disebut dengan The
gel low ionic antiglobulin test (GLIAT) dapat digunakan untuk pemeriksaan
IAT maupun DAT. Salah satu contoh prosedur pemeriksaan IAT
menggunakan metode gel, 50 μL suspensi sel darah merah 0,8% dimasukkan
ke dalam gel yang sudah mengandung AHG lalu tambahkan serum. Tabung
kemudian diinkubasi dalam periode tertentu dan selanjutnya dilakukan
sentrifugasi. Apabila ada aglutinasi maka akan terperangkap pada permukaan
tabung yang menandakan hasil reaksi positif. Interpretasi sama dengan

16
pemeriksaan golongan darah atau crossmatching menggunakan metode gel.
Jika dibandingkan dengan metode konvensional, metode GLIAT lebih aman,
handal dan hasil pemeriksaan lebih mudah dibaca (Green and Klostermann,
2012).
BAB III
PENUTUP

Coombs test adalah sebuah pengujian atau tes darah yang dilakukan untuk
menemukan antibodi tertentu yang menyerang sel-sel darah merah. Tes ini jarang
digunakan untuk mendiagnosis suatu kondisi medis, tetapi sangat penting untuk
digunakan oleh laboratorium seperti bank darah. Bank darah menggunakan tes
Coombs tidak langsung untuk menentukan apakah ada kemungkinan reaksi negatif
terhadap darah yang ditransfusikan.

17
DAFTAR PUSTAKA

Blaney, K.D., Howard, P.R. 2013. Antibody Detection and Identification. Basic &
Applied Conceppts of Blood Banking and Transfusion Practices Third Edition.
United States: Elsevier Mosby.p. 158- 187.
Friedman, M. T., West, K. A., Bizargity, P. 2016. Basic Single Antibody
Identification: How Hard Can It Be?. Immunohematology and Transfusion
Medicine A Case Study Approach. Switzerland : Springer International
Publishin
Green, R. A. B., Klostermann, D. A. 2012. The Antiglobulin Test.
Blood Groups and Serologic Testing. Modern Blood Banking
& Transfusion Practices 6th Edition. Philadelphia: F.A Davis
company. p. 101-117.
Makroo, R.N. 2009. Antiglobulin Test. Practice of Safe Blood
Transfusion Compendium of Transfusion Medicine. New Delhi:
Kongposh. p. 100-105.
Powell, V. I. 2016. Blood Group Antigen and Antibodies. NYU Langone
Medical Center.
WHO, 2009. Detection and identification of antibodies. Safe Blood and Blood
Product. Genewa: WHO. p. 38-44.

18