Anda di halaman 1dari 17

ASMA

1. Defenisi
Asma merupakan gangguan inflamasi kronis pada jalan nafas tempat berbagai mediator
kimia (sel mast, eusinofil dan limfosit T memegang peranan) (Hockenberry & Wilson, 2009).
Asma menjadi penyebab utama penyakit akut atau kronis pada anak dan paling sering
didiagnosis pada anak yang dirawat dirumah sakit (James & Ashwill, 2007).

2. Etiologi
Penyebab asma masih belum diketahui secara pasti, namun hereditas memegang peranan
penting terhadap kejadian asma pada anak. Beberapa factor risiko seperti jenis kelamin, ras,
kondisi lingkungan, status social, prematuritas dan lingkungan dengan paparan asap
(Federico & Liu, 2003 dalam James & Ashwill, 2007). Episode asma dapat dicetuskan oleh
beberapa stimulus seperti cuaca dingin, asap, debu, infeksi virus, stress, olahraga, bau, dan
obat-obatan (Navaie-Waliser et al, 2004 dalam James & Ashwill, 2007). Makanan bisa
menjadi factor pencetus pada bayi tapi jarang terjadi pada anak yang lebih besar (James &
Ashwill, 2007).

3. Patofisiologi
Asma adalah penyakit obstruksi jalan nafas yang reversible yang dikarakteristikkan dengan
(James & Ashwill, 2007):
a. Peningkatan responsivitas jalan nafas terhadap berbagai stimulus,
b. bronkospasme yang disebabkan oleh kontraksi otot bronkus dan
c. inflamasi dan edema membrane mukosa yang menyebabkan peningkatan secret pada
jalan nafas.

1) Reaksi Langsung (fase awal)


Allergen atau factor pencetus lainnya mengaktifkan reseptor ig E untuk
menghasilkan sel mast. Sel mast kemudian melepaskan berbagai mediator kimia
seperi histamine, leukotrin dan prostaglandin). Mediator ini dapat menyebabkan
bronkokontriksi selama 1 sampai 2 jam.
2) Reaksi lambat (Fasse akhir)
Mediator kimia juga dapat menyebabkan reaksi sel system imun (eosinofil, netrofil,
dan basofil) terhadap saluran nafas. Pelepasan substansi inflamasi dapat
menyebabkan kerusakan epitel dan sel otot halus sehingga terjadi edema jalan
nafas, penumpukan mucus dan reaksi peradangan. Bronkokontriksi terjadi kembali
selama beberapa jam. Hipersensitivitas jalan nafas ini dapat berlangsung selama
beberapa minggu atau bulan.

2. Manifestasi Klinis
a. Batuk : batuk kering, iritatif, dan nonproduktif. Kemudian menghasilkan sputum yang
berbusa, jernih dan kental.
b. Tanda-tanda pernafasan: sesak nafas (dyspnea), fase ekspirasi memanjang, dapat
terdengar mengi (whezzing), nafas terengah-engah dan kesulitan untuk berbicara.
c. Dada: Hiperresonansi pada perkusi, bunyi nafas kasar dan keras, mengi di seluruh bidang
paru, ekspirasi memanjang, ronkhi kasar.

3. Pemeriksaan diagnostik
a. Uji Faal paru
Peak Expiratory Flow Rate (PEFR)/ laju aliran ekspirasi pernafasan puncak yang
mengukur aliran udara maksimal yang dapat diekhalasi sekuatnya dalam 1 detik. Diukur
dalam satuan liter/menit. Interpretasi laju aliran espirasi puncak:
1) Hijau (80% sampai 100% nilai terbaik individu): menandakan asma terkendali dengan
baik n tidak ada gejala.
2) Kuning (50% sampai 79% nilai terbaik individu): menandakan peringatan asma tidak
terkendali dengan baik, dapat terjadi eksaserbasi akut.
3) Merah (di bawah 50% nilai terbaik individu): perlu kewaspadaan medis, karena
dapat terjadi penyempitan jalan nafas berat .

b. Uji kulit
berguna untuk mengidentifikasi alergen spesifik dan hasil yang diperoleh dengan teknik
pungsi akan lebih baik dari pada yang diambil dengan uji intrakutan.
4. Tingkat keparahan asma
a. Asma persisten berat:
 Gejala kontinu
 Eksaserbase sering
 Gejala lebih sering dimalam hari
 Aktivitas fisik terbatas
 PEF < 60%
b. Asma persisten sedang
 Gejala setiap hari
 Eksaserbasi memenuhi aktivitas
 Eksaserbasi dapat berlangsung berhari-hari
 Gejala di malam hari > dari 1 kali seminggu
 PEF < 80%
c. Asma persisten ringan
 Gejala > seminggu namun < 1 kali sehari
 Eksaserbase dapat mempengaruhi aktivitas
 Gejala dimalam hari > 2 kali 1 bulan
 PEF ≥ 80%
4. Asma intermitten ringan
 Gejala < 2 kali seminggu
 Eksaserbasi singkat
 Gejala dimalam hari ≤ 2 kali sebulan
 PEF asimptomatik dan normal

5. Penatalaksanaan Terapeutik
a. PenatalaksanaanTerapeutik
Tujuan terapi farmakologis adalah mencegah dan mengendalikan gejala asma,
mengurangi frekuensi dan eksaserbasi asma dan menghilangkan obstruksi aliran
udara. Pengobatan digolongkan menjadi 2:
- Pengobatan pengendalian jangka panjang (obat pencegah)
- Pengobatan asma segera (penyelamatan asma)
b. Banyak pengobatan asma diberikan melalui inhalasi dengan nebulizer atau disebut
inhaler dosis terukur (metered dose inhaler, MDI).
c. Bayi dan anak yang masih kecil yang mengalami kesulitan menggunakan MDI atau
inhaler lain dapat menggunakan nebulisasi.
d. Obat dicampur dengan salin, kemudian dinebulisasi dengan udara. Anak-anak di
instruksikan untuk bernafas normal dengan mulut terbuka agar rute langsung ke
trakea terbuka.
e. Obat pencegah/ pengontrol/ controler
i) Kartikkosteroid. Merupakan obat anti inflamasi yang digunakan untuk
mengatasi obstruksi jalan nafas yang reversibel dan mengendalikan gejala
serta mengurangi hiperreakttivitas bronkus pada asma kronik.
ii) Natrium kromolin, adalah jenis obat non steroid untuk asma. Obat ini
menstabilkan membran sel mast, menghambat aktivasi dan pelepasan
mediator dari eosinofil dan sel-sel epitelial dan menghambat penyempitan
jalan nafas akut setelah pajanan akibat latihan fisik, udara dingin dll
iii) Agonis Adrenergik B (terutama albuterol, metaproterenol dan terbutalin)
digunakan untuk pengobatan eksaserbase akut dan untuk pencegahan
bronkospasme
iv) Modifier leukotrin, leukotrien adalah mediator inflamasi yang menyebabkan
peningkatan hiperresponsivitas jalan nafas. Modifier leukotrien (seperti
zalfirlukast, zileuton, dan natrium montelukast).

f. Obat pelega/ reliever


1) Metilsantin terutama teofilin digunakan untuk mengurangi gejaladan mencegah
serangan asma, teofilin memberikan efek bronkodilator, menstimulasi
pernafasan sentral dan meningkatkan kontraktilitas otot pernafasan.
g. Status asmatikus
Anak yang menunjukkan gawat nafas, meskipun berbagai tindakan terapeutik telah
dilakukan, berada pada status asmatikus. Terapi untuk status asmatikus adalah pada
perbaikan ventilasi, koreksi dehidrasi dan asidosis dan pengobatan infeksi yang
terjadi bersamaan. Bronkospasme dapat diredakan dengan inhalasi agonis B kerja
singkat aerosol bersamaan dengan kartikosteroid baik oral atau intravena. Jika tidak
berespon diberikan epinefrin.

8. Prognosis
Jika gejala parah dan banyak, gejala sudah ada sejak lama dan terdapat riwayat alergi
dalam keluarga, kecendrungan memiliki prognosis yang buruk lebih besar. PENTING:
HEALTH EDUCATION ANAK DAN ORANG TUA TENTANG ASMA DAN
PENGONTROLANNYA.

2.2 Asuhan keperawatan Pada Penyakti Asma


A. Pengkajian
1. Identitas Klien
2. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama
Keluhan utama yang timbul pada klien dengan asma bronkial adalah dyspnea
(bisa sampai berhari-hari atau berbulan-bulan), batuk, dan mengi (beberapa
kasusl ebih banyak paroksismal).
b) Riwayat kesehatan dahulu
Terdapat data yang menyatakan adanya faktor predisposisi timbulnya penyakit
ini, diantaranya adalah riwayat alergi dan riwayat penyakit saluran napas bagian
bawah (rhinitis, urtikaria dan eksim).
c) Riwayat kesehatan keluarga
Klien dengan asma bronkial sering kali didapatkan adanya riwayat penyakit
keturunan, tetapi pada beberapa kliennya tidak ditemukan adanya penyakit yang
sama pada anggota keluarganya.

3. Pemeriksaan Fisik
a) Objektif
1) Batuk produktif/nonproduktif.
2) Respirasi terdengar kasar dan suara mengi (wheezing) pada kedua fase
respirasi semakin menonjol.
3) Dapat disertai batuk dengan sputum kental yang sulit dikeluarkan.
4) Bernapas dengan menggunakan otot-otot napas tambahan.
5) Sianosis, takikardi, gelisah dan pulsus paradoksus.
6) Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apeks dan hilus).
7) Penurunan berat badan secara bermakna.
b) Subjektif
Klien merasa sukar bernapas, sesak dan anoreksia.
c) Psikososial
1) Cemas, takutdanmudahtersinggung.
2) Kurangnyapengetahuanklienterhadapsituasipenyakitnya.
3) Data tambahan (medical terapi).

4. Pemeriksaan Penunjang
No Uraian Rujukan
1 Guladarahpuasa <110 mg%
2 Darah:
Leukosit 5000-10000
Hb 12-16
Ht 37-47%
3 Fungsiginjal:
Ureum 20-40mg%
Natrium 135-145mEq/lt
Kalium 3,5-4,5mEq/lt
Klorida 94-111mg/dl

4 Analisa gas darah:


pH 7,35-7,45
PCO2 35-45mmHg
PO2 80-100mmHg
BE
HCO3 21-28mEq/l

B. Diagnosa
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkospasme, peningkatan
produksi secret atau menurunnya energy/fatigue.
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkspasme atau ekspansi paru.
3. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen atau
destruksi alveoli.
4. Ketidakseimbangan nurtrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dyspnea,
fatigue, efek samping pengobatan, produksi sputum atau anoreksia,
nausea/vomiting.
5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama
(penurunan kerja silia menetapnya secret), tidak adekuatnya imunitas (kerusakan
jaringan, peningkatan pemajanan pada lingkungan).
6. Ansietas berhubungan dengan adanya ancaman kematian (kesulitan bernapas).

C. Intervensi

No NANDA (diagnosa NOC (tujuan) NIC ((intervensi)


keperawatan)
1. Bersihan jalan Status respirasi: Manajemenjalannapas
napas tidak efektif Kepatenanjalannap Aktivitas :
b.d spasme jalan as  Buka jalan nafas, guanakan
napas  Tidak ada demam teknik chin lift atau jaw
DO:  Tidak ada cemas thrust bila perlu
 Penggunaan otot  RR dalam batas  Posisikan pasien untuk
bantu napas normal memaksimalkan ventilasi
 Suara napas  Irama napas dalam yang potensial
abnormal yaitu batas normal  Identifikasi masukan jalan
wheezing  Pergerakan sputum nafas baik yang aktual
 Perkusi : bunyi keluar dari jalan ataupun potensial
pekak napas  Masukkan jalan nafas/
 Batuk  Bebas dari suara nasofaringeal sesuai
 Sesak napas napas tambahan kebutuhan
DS:  Lakukan fisioterapi dada, bila
 Mengeluhkan perlu
sesak napas  Keluarkan sekret dengan
 Nyeri dada batuk atau
suction/pengisapan
 Dorong nafas dalam, pelan
dan batuk
 Ajarkan bagaimana cara
batuk efektif
 Kaji keinsetifan spirometer
 Auskultasi bunyi nafas, catat
adanya ventilasi yang turun
atau yang hilang dan catat
adanya bunyi tambahan
 Lakukan pengisapan
endotrakeal atau nasotrakeal
 Beri bronkodilator jika
diperlukan
 Ajarkan pasien tentang cara
penggunaan inhaler
 Beri aerosol,
pelembab/oksigen, ultrasonic
humidifier jika diperlukan
 Atur intake cairan untuk
mengoptimalkan
keseimbangan cairan
 Posisikan pasien untuk
mengurangi dispnue
 Monitor pernafasan dan
status oksigen.

Monitoring respirasi
Aktivitas :
 Monitor rata – rata,
kedalaman, irama dan usaha
respirasi
 Catat pergerakan dada,amati
kesimetrisan, penggunaan
otot tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan
intercostal
 Monitor suara nafas, seperti
dengkur
 Monitor polanafas :
bradipena, takipenia,
kussmaul, hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
 Palpasiuntukperluasanparu
 Perkusi dada anterior dan
posterior dariApekske basis
bilateral
 Catatlokasitrakea
 Monitor kelelahan otot
diagfragma (gerakan
paradoksis)
 Auskultasi suara nafas, catat
area penurunan / tidak
adanya ventilasi dan suara
tambahan
 Tentukan kebutuhan suction
dengan mengauskultasi
crakles dan ronkhi pada jalan
napas utama
 Auskultasi suara paru setelah
tindakan untuk mengetahui
hasilnya
 Pantau pembacaan ventilator
mekanik, catat peningkatan
tekanan inspirasi dan
penurunan volume tidal bila
perlu
 Pantau peningkatan
kegelisahan, kecemasan dan
kekurangan udara
 Pantau kemampuan batuk
efektif pasien
 Catat permulaan, cirri-ciri
dan durasi dari batuk
 Pantau secret pernapasan
pasien
 Pantau dyspnea dan peristiwa
yang meningkatkan dan
memperburuk
pantau krepitasi
2. Kerusakan Status Respirasi: Manajemenasamdanbasa
pertukaran gas b.d Pertukaran gas Aktivitas :
kurangnya suplai  Status mental  Jaga kepatenan akses IV
oksigen kesemua dalam batas  Jaga kepatenan jalan napas
jaringan tubuh normal  Pantau ABG dan level
DO:  Bernapas dengan elektrolit
 Dispnea mudah  Monitor status hemodinamik
 Lemah  Tidak ada sianosis termasuk CVP (tekanan vena
 Pco2:3,42  Po2 dan pco2 sentral), MAP (tekanan arteri
DS: dalam batas rata-rata), PAP (tekanan
 Klien normal arteri paru)
mengeluhkan  Saturasi o2 dalam  Pantau kehilangan asam
sesak napas dan rentang normal (muntah, diare, diuresis,
merasa letih melalui nasogastrik) dan
bikarbonat (drainase fistula
dan diare)
 Posisikan untuk
memfasilitasi ventilasi yang
adekuat seperti membuka
jalan napas dan menaikkan
kepala tempat tidur
 Pantau gejala gagal
pernapasan seperti PaO2 yang
rendah, peningkatan PaCO2,
dan kelemahan otot napas
 Pantaupolanapas
 Pantau factor penentu
pengangkutan oksigen
jaringan seperti PaO2, SaO2,
kadar Hb dan cardiac output
 Sediakan terapi oksigen
 Berikan dukungan ventilasi
mekanik
 Pantau factor penentu
konsumsi oksigen seperti
SvO2, avDO2 (perbedaan
oksigen arterivena)
 Dapatkan hasil labor untuk
menganalisa keseimbangna
asam basa seperti ABG, urin
dan level serum
 Pantau ketidakseimbangan
elektrolit yang semakin
buruk dengan mengoreksi
ketidakseimbangan asam
basa
 Kurangi konsumsi oksigen
seperti tingkatkan
kenyamanan, control demam
dan kurangi kecemasan
 Pantau status neurology
 Berikan obat alkali seperti
sodium bicarbonat,
berdasarkan hasil ABG
 Berikan oral hygiene
dengansering
 Dorong pasien dan keluarga
untuk aktif dalam
pengobatan
ketidakseimbangan asam
basa

Terapioksigen
Aktivitas :
 Bersihkan secret mulut,
hidung dan trakea bila perlu
 Batasi merokok
 Pertahankan potensi jalan
napas
 Siapkan peralatan oksigen
dan atur kelembaban dan
pemanasan system
 Kelola oksigen tambahan
seperti yang diperintahkan
 Pantau aliran oksigen
 Pantau posisi alat penyaluran
oksigen
 Pantau efektivitas oksigen,
bila perlu
 Pantau kemampuan pasien
untuk menghembuskan
oksigen ketika makan
 Amati tanda oksigen yang
disebabkan hipoventilasi
 Pantau kecemasan pasien
terkait dengan kebutuhan
untuk terapi oksigen
 Pantau kerusakan kulit dari
gesekan perangkat oksigen
 Ajarkan pasien dan keluarg
atentang penggunaan oksigen
dalam rumah
Monitor tanda-tanda vital
Aktivitas:
 Mengukur tekanan darah,
denyut nadi, temperature, dan
status pernafasan, jika
diperlukan
 Mencatat gejala dan turun
naiknya tekanan darah
 Mebgukur tekanan darah
ketika pasien berbaring,
duduk, dan berdiri, jika
diperlukan
 Pantau tekanan darah setelah
pasien diberi obat, jika perlu
 Auskultasi tekanan darah
pada kedua lengan dan
bandingkan, jika diperlukan
 Mengukur tekanan darah,
nadi, dan pernafasan
sebelum, selama, dan setelah
beraktivitas, jika diperlukan
 Mempertahankan suhu alat
pengukur, jika diperlukan
 Memantau dan mencatat
tnda-tanda dan syimptom
hypothermia dan
hyperthermia
 Memantau timbulnya dan
mutu nadi
 Dapatkan nadi apical dan
radial scara stimultan dan
catat perbedaannya, jika
diperlukan
 Mengukur pulsus paradoxus
 Mengukur pulsus alternans
 Memantau naik turunnya
tekanan nadi
 Memnatau tingkatan irama
cardiac
 Memantau suara jantung
 Memantau tingkat dan irama
pernafasan (e.g. kedalaman
dan kesimetrisan)
 Memantau suara paru
 Mengukur oximetry nadi
 Memantau pola pernafasan
yang abnormal (e.g. Cheyne-
Stokes, Kussmaul, Biot,
apnea, ataxic, dan bernafas
panjang)
 Mengukur warna kulit,
temperature, dan kelembaban
 Memantau sianosis pusat dan
perifer
 Memantau sisi kuku
 Memantau timbulnya
Cushing triad (e.g. naik
turunnya tekanan darah,
bradicadya, dan peningkatan
tekanan darah systole)
 Meneliti kemungkinan
penyebab perubahan tanda-
tanda vital
 Memeriksa keakuratan alat
yang digunakan untuk
mendapatkan data pasien
secara periodic

3. Ketidakseimbanga Status nutrisi: Manajemencairan


n nutrisi : kurang intake cairan dan Aktivitas :
dari kebutuhan makanan  Timbang BB tiaphari
tubuh b.d produksi  Asupan makan  Hitung penurunan berat
sputum anadekuat  Pertahankan intake yang
 intake cairan akurat
peroral dekuat  Pasangkateterurin
 Intake cairan  Monitor status hidrasi
adekuat (seperti :kelebapan mukosa
membrane, nadi)
 Monitor status hemodinamik
termasuk CVP,MAP, PAP
 Monitor hasil lab. terkait
retensi cairan (peningkatan
BUN, Ht ↓)
 Monitor TTV
 Monitor
adanyaindikasiretensi/overloa
d cairan (seperti :edem,
asites, distensi vena leher)
 Monitor perubahan BB klien
sebelum dan sesudah dialisis
 Monitor makanan/minuman
yang masuk dan hitung
asupan kalori harian
 Berikan terapi IV, bila perlu
 Monitor status nutrisi
 Monitor respon pasien untuk
meresepkan terapi elektrolit
 Kaji lokasi dan luas edem
 Anjurkan klien untuk intake
oral
 Distribusikan cairan > 24 jam
 Tawarkan snack (seperti : jus
buah)
 Konsultasi dengan dokter,
jika gejala dan tanda
kehilangan cairan makin
buruk
 Kaji ketersediaan produk
darah untuk trsanfusi
 Persiapkan untuk
administrasi produk darah
 Berikan terapi IV
 Berikan cairan
 Berikan diuretic
 Berikan cairan IV
 Nasogastrik untuk mengganti
kehilangan cairan
 Produk darah

Manajemennutrisi
Aktivitas :
 Tanyakan apakah pasien
alergi makanan
 Anjurkan asupan kalori yang
tepat untuk tipe tubuh dan
gaya hidup
 Anjurkan asupan makanan
yang mengandung za tbesi
 Anjurkan asupan protein,
zatbesi, vitamin C jikaperlu
 Tawarkan snaks
 Sediakan pengganti gula jika
perlu
 Sediakan makanan pilihan
 Berikan makanan ringan, dan
bubur hambar
 Berikan informasi yang tepat
tentang kebutuhan nutrisi dan
bagaimana untuk
mendapatkannya
 Pantau dan cata tkandungan
gizi dan kalori asupan