Anda di halaman 1dari 10

fisiologi8

Senin, 05 Januari 2015

MAKALAH FISIOLOGI GINJAL

MAKALAH

FISIOLOGI GINJAL

AAK.png

Disusun Oleh :

Albertus Pandhu Dewanto A102.10.003

Apfia Karismatika A102.10.007

Hasanah Intan Anggara A102.10.025

Khuntari Prayetno Putri A102.10.036

AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL

SURAKARTA

TAHUN AJARAN 2014/2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “GINJAL” dengan baik serta dapat menyelesaikan
laporannya tepat waktu dan tanpa adanya halangan yang berarti.Makalah ini diajukan guna memenuhi
tugas mata kuliah Fisiologi.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca dan bermanfaat untuk pengembangan
wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Surakarta, Desember 2014

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelangsungan hidup dan berfungsinya sel secara normal bergantung pada pemeliharaan kosentrasi
garam, asam, dan elektrolit lain di lingkungan cairan internal. Kelangsungan hidup sel juga bergantung
pada pengeluaran secara terus menerus zat-zat sisa metabolism toksik dan dihasilkan oleh sel pada saat
melakukan berbagai reaksi semi kelangsungan hidupnya. Traktus urinarius merupakan system yang
terdiri dari organ-organ dan struktur-struktur yang menyalurkan urin dari ginjal ke luar tubuh. Ginjal
berperan penting mempertahankan homeostasis dengan mengatur konsentrasi banyak konstituen
plasma, terutama elektrolit dan air dan dengan mengeliminasi semua zat sisa metabolisme.

B. Tujuan

1. Sebagai tugas mata kuliah fisiologi manusia

2. Untuk mengetahui fisiologi Ginjal

3. Menjelaskan fisiologi hormon yang dihasilkan Ginjal


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ginjal

Ginjal berbentuk seperti biji kacang merah. Panjangnya sekitar 10 cm, beratnya kurang lebih 170 gram,
dan terletak di dalam rongga perut. Ginjal berjumlah 2 buah dan berwarna merah keunguan. Ginjal
bagian kiri letaknya lebih tinggi daripada ginjal bagian kanan.Ginjal merupakan alat pengeluaran sisa
metabolisme dalam bentuk air seni (urin). Urin mengandung air, urea, dan garam mineral. Ginjal
tersusun atas kulit ginjal (korteks),sumsum ginjal (medula), dan rongga ginjal (pelvis).Pada kulit ginjal
terdapat nefron yang berfungsi sebagai alat penyaring darah. Korteks mengandung lebih kurang satu juta
nefron. Setiap nefron tersusun atas badan malphighi dansaluran panjang (tubulus) yang berkelok-kelok.
Badan malpighi tersusun atas glomerulus dan kapsul Bowman. Glomerulus merupakan untaian pebuluh
darah kapiler tempat darah disaring.

Glomerulus dikelilingi oleh kapsul Bowman.Tubulus ginjal terdiri atas tubulus kontortus proksimal,
lengkung henle, tubulus kontortus distal, dan tubulus kolektivus. Lengkung henle adalah bagian tubulus
yang melengkung pada daerah medula dan berhubungan dengan tubulus proksimal dan tubulus distal.
Bagian lengkung henle ada dua, yaitu lengkung henle yang melengkung ke atas (ascenden) dan lengkung
henle yang melengkung ke bawah (descenden). Tubulus-tubulus ini mengalirkan urin ke rongga ginjal.
Kemudian urin dialirkan melalui saluran ginjal (ureter) dan ditampung dalam kantong kemih.Telah
dikemukakan di atas bahwa cara kerja ginjal sebagai alat ekskresi adalah dengan menyaring darah
sehingga zat-zat sisa yang terdapat di dalam darah dapat dikeluarkan dalam bentuk air seni (urin).
Penyaringan darah hingga terbentuk urin meliputi tahap penyaringan (filtrasi), penyerapan kembali
(reabsorpsi), dan pengumpulan (augmentasi).

B. FISIOLOGI

1. Fungsi Ginjal :

a. Ginjal mengatur pH, konsentrasi ion mineral, dan komposisi air dalam darah.

b. Ginjal mempertahankan pH plasma darah pada kisaran 7,4 melalui pertukaran ion hidronium dan
hidroksil. Akibatnya, urin yang dihasilkan dapat bersifat asam pada pH 5 atau alkalis pada pH 8.

c. Kadar ion natrium dikendalikan melalui sebuah proses homeostasis yang melibatkan aldosteron untuk
meningkatkan penyerapan ion natrium pada tubulus konvulasi.

d. Kenaikan atau penurunan tekanan osmotik darah karena kelebihan atau kekurangan air akan segera
dideteksi oleh hipotalamus yang akan memberi sinyal pada kelenjar pituitari dengan umpan balik negatif.
Kelenjar pituitari mensekresi hormon antidiuretik (vasopresin, untuk menekan sekresi air) sehingga
terjadi perubahan tingkat absorpsi air pada tubulus ginjal. Akibatnya konsentrasi cairan jaringan akan
kembali menjadi 98%.

2. Mekanisme dasar fungsi ginjal

Pada dasarnya fungsi utama ialah membersihkan plasma darah dari zat-zat yang tidak berguna
bagi tubuh dengan cara :

a. Filtrasi

1. Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus. Sel-
sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus
mempermudah proses penyaringan.

2. Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah, keping darah, dan
sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa,
asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian
dari endapan.

3. Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam
amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya

b. Reabsorbsi

Mekanisme reabsorbsi :

Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap kembali di tubulus kontortus
proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya
zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan
air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.
Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Zat amonia,
obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin.
Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan
tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun
bertambah, misalnya urea.

c. Sekresi
Sekresi tubular melibatkan transfor aktif molekul-molekul dari aliran darah melalui tubulus kedalam
filtrat. Banyak substansi yang disekresi tidak terjadi secara alamiah dalam tubuh (misalnya penisilin).
Substansi yang secara alamiah terjadi dalam tubuh termasuk asam urat dan kalium serta ion-ion
hidrogen.

d. Augmentasi

Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal.
Urine yg telah terbentuk (urine sekunder), dari tubulus kontortus distal akan turun menuju saluran
pengumpul (duktus kolektivus), selanjutnya urine dibawa ke pelvis renalis. Dari pelvis renalis, urine
mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kantong kemih) yang merupakan tempat penyimpanan
sementara bagi urine. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan
sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra. Komposisi urine yang
dikeluarkan meliputi air, garam, urea, dan sisa substansi lainnya seperti pigmen empedu yang berfungsi
memberi warna dan bau pada urine. Warna urine setiap orang berbeda dan biasanya dipengaruhi oleh
jenis makanan yang dikonsumsi, aktivitas yang dilakukan, ataupun penyakit. Warna normal urine adalah
bening hingga kuning pucat.

Hal-hal yang mempengaruhi produksi urine:

1. Jumlah air yang diminum

Jika seseorang banyak minum air maka kosentrasi protein darah akan turun. Darah menjadi terlalu encer,
sehingga sekresi ADH terhalang. Maka penyerapan air oleh dinding tubulus kurang efektif, sehingga,
terbentuk urin yang banyak.Dan Apabila kita tidak minum air seharian, maka konsentrasi (kadar) air
dalam darah menjadi rendah. Hal ini akan merangsang hipofisis mengeluarkan ADH. Hormon ini akan
meningkatkan reabsorpsi air di ginjal sehingga volume urine menurun.

2. Hormone Anti Deuretik

Hormon ini dihasilkan kelenjar hipofisis bagian posterior. Sekresi ADH dikendalikan oleh konsentrasi air
dalam darah.Hormon antidiuretik mempengaruhi proses penyerapan air oleh dinding tubulus. Bila
sekresi ADH banyak, penyerapan air oleh dinding tubulus akan meningkat, sehingga urin yang terbentuk
sedikit. Sebaliknya jika sekresi ADH kurang, maka penyerapan air oleh dinding tubulus menurun,
sehingga dihasilkan banyak urin.

3. Suhu

Jumlah dan type makanan merupakan faktor Ketika suhu panas atau banyak mengeluarkan keringat,
konsentrasi air dalam darah turun mengakibatkan sekresi ADH meningkat sehingga urin yang di hasilkan
sedikit. Sebaliknya jika suhu udara dingin konsentrasi air dalam darah naik sehingga menghalangi sekresi
ADH maka produksi urin banyak.

4. Diet dan intake

Jumlah dan type makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi output urine, seperti protein
dan sodium mempengaruhi jumlah urine yang keluar, kopi meningkatkan pembentukan urine intake
cairan dari kebutuhan, akibatnya output urine lebih banyak.

5. Saraf, rangsang saraf renalis akan menyempitkan arteriole aferent, aliran darah berkurang, filtrasi
kurang afektif, urine sedikit.

6. Stress dan emosi dapat menimbulkan produksi urine menjadi meningkat

C. Hormon pada Ginjal

1. Hormon yang bekerja pada Ginjal

a) Hormon antidiuretik ( ADH atau vasopressin )

Merupakan peptida yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis posterior, hormon ini menngkatkan reabsorbsi
air pada duktus kolektifus.

b) Aldosteron

Merupakan hormon steroid yang diproduksi oleh korteks adrenal, hormon ini meningkatkan reabsorbsi
natrium pada duktus kolektivus.

c) Peptida Natriuretik ( NP )

Diproduksi oleh sel jantung dan meningatkan ekskresi natrium pada duktus kolektivus.

d) Hormon paratiroid

Merupakan protein yang diproduksi oleh kelenjar paratiroid, hormon ini meningkatkan ekskresi fosfat,
reabsorbsi kalsium dan produksi vitamin D pada ginjal.

2. Hormon yang dihasilkan Ginjal

a) Renin

Merupakan protein yang dihasilkan oleh apparatus jukstaglomerular, hormon ini menyebabkan
pembentukan angiotensin II. Angiotensin II berfungsi langsung pada tubulus proximal dan bekerja
melalui aldosteron ada tubulus distal. Hormon ini juga merupakan vasokonstriktor kuat.
b) Vitamin D

Merupakan hormon steroid yang dimetabolisme di ginjal, berperan meningkatkan absorbsi kalsium dan
fosfat dari usus.

c) Eritropoeitein

Merupakan protein yang diproduksi di ginjal, hormon ini meningkatkan pembentukan sel darah merah di
sumsum tulang.

d) Prostaglandin

Diproduksi di ginjal, memiliki berbagai efek terutama pada tonus pembuluh darah ginjal.

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Ginjal berbentuk seperti biji kacang merah. Panjangnya sekitar 10 cm, beratnya kurang lebih 170 gram,
dan terletak di dalam rongga perut. Ginjal berjumlah 2 buah dan berwarna merah keunguan. Ginjal
merupakan alat pengeluaran sisa metabolisme dalam bentuk air seni (urin). Urin mengandung air, urea,
dan garam mineral. Ginjal tersusun atas kulit ginjal (korteks),sumsum ginjal (medula), dan rongga ginjal
(pelvis).

Fisiologi Ginjal :

a. Fungsi Ginjal :

– Mengatur keseimbangan air dalam tubuh

– Mengatur keseimbangan elektrolit

– Mengatur keseimbangan asam basa

– Turut mengatur tekanan darah

– Sebagai Eritrhopoetic System

b. Mekanisme dasar fungsi ginjal

Pada dasarnya fungsi utama ialah membersihkan plasma darah dari zat-zat yang tidak berguna bagi
tubuh dengan cara :

– Filtrasi

– Reabsorbsi

– Sekresi

– Augmentasi