Anda di halaman 1dari 7

STRUKTUR KEPEMILIKAN

(CORPORATE GOVERNANCE)

Nama Kelompok:

1. Ni Kadek Ani Jumariati ( 1707532004 )


2. Ni Luh Rosa Aprilianti ( 1707532015 )
3. Ni Komang Megi Megayani ( 1707532032 )

Dosen:

Dr. Ni Made Dwi Ratnadi, S.E, M.Si., Ak. CA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA

2019
1. Lingkungan dan Organisasi

Organisasi sebagai suatu sistem yang terbuka mengacu pada pandangan yang
dikemukakan oleh teori organisasi modern yang berkembang sejak tahun 1950-an. Dalam
teori ini, organisasi cenderung dipandang sebagai berikut: (1) organisasi merupakan suatu
sistem yang terbuka, (2) di dalam organisasi terjadi transformasi masukan yang
menghasilkan keluaran tertentu, masukan diperoleh dari lingkungannya sedangkan
keluaran akan diberikan organisasi kepada lingkungannya, (3) di dalam organisasi terdapat
elemen-elemen yang penting yang saling berhubungan satu sama lain, serta (4) organisasi
memiliki tujuan dan batasan tertentu yang membedakan organisasi tersebut dari
lingkungannya. Pandangan tentang organisasi yang dikemukan oleh teori organisasi
modern tersebut, terutama memberikan wawasan kepada manajemen untuk memandang
organisasi secara keseluruhan maupun sebagai bagian dari lingkungan eksternal
(Reksohadiprodjo dan Handoko, 2004).
2. Struktur Kepemilikan Korporasi
a) Kepemilikan yang Tersebar (Dispersed Ownership)
Pada model ini perusahaan memiliki pemegang saham yang banyak dengan
jumlah saham yang sedikit. Pemegang saham minoritas ini kurang mengawasi aktivitas
perusahaan dan cenderung tidak terlibat dalam pengambilan keputusan atau kebijakan
perusahaan. Oleh karena itu, pemegang saham tersebut disebut outsider, dan
kepemilikan yang tersebar tersebut disebut sebagai outsider system dan menurut Roche
(2005), kepemilikan yang tersebar ini merupakan model dari negara-negara common
law seperti Amerika Serikat dan Inggris.
b) Kepemilikan yang Terkonsentrasi (Concentrated Ownership)
Pada tipe perusahaan yang seperti ini, terdapat dua kelompok pemegang saham,
yaitu pemegang saham mayoritas yang bertindak sebagai pengendali dan pemegang
saham minoritas. Menurut Bae et al. (2003) kepemilikan yang terkonsentrasi ini
merupakan salah satu ciri dari control based model, selain menekankan pada insider
board, pengungkapan yang terbatas, dan ketergantungan pada keuangan atau sistem
perbankan keluarga. Karakteristik perusahaan ini banyak dijumpai di negara-negara
yang sedang berkembang (seperti Indonesia, Korea) dan Continental European.
Masalah keagenan yang timbul terutama adalah antara pengendali dan pemegang
saham minoritas.
3. Struktur Kepemilikan dan Mekanisme Pengendalian
Struktur kepemilikan merupakan suatu mekanisme tata kelola yang penting untuk
mengendalikan masalah keagenan. Terutama pada lingkungan dimana tata kelola seperti
market of corporate control, external auditors, rating agencies dan kerangka kerja institusi
(sistem hukum dan lembaga keuangan) yang lemah. Indonesia merupakan Negara dengan
sistem hukum yang lemah dan terutama control of corruption-nya yang masih rendah.
Mengingat kelemahan ini struktur kepemilikan bisa menjadi cara penting untuk
mengontrol masalah keagenan melalui pemilihan agen atau dewan perusahaan untuk
melakukan pengelolahan dan pengawasan. Struktur dewan perusahaan merupakan hasil
dari menyeimbangkan kepentingan dari stakeholders yang berbeda termasuk pemilik atau
investor. Artinya, pemilik yang berbeda mungkin menunjukkan ciri-ciri yang berbeda dari
perilaku dan pilihan untuk tata kelola perusahaan yang cenderung mempengaruhi struktur
dewan perusahaan (Munisi dkk.,2014).
Struktur kepemilikan akan memiliki motivasi yang berbeda dalam memonitor
perusahaan, manajemen dan struktur dewan. Pemilik yang berbeda mungkin menunjukkan
ciri-ciri yang berbeda dari perilaku dan pilihan untuk tata kelola perusahaan yang
cenderung mempegaruhi struktur dewan perusahaan (Munisi dkk.,2014). Dalam penelitian
ini mencakup 3 kategori yaitu:
1) Kepemilikan Asing
Kepemilikan asing adalah kepemilikan saham yang dimiliki oleh pihak pihak
dari luar negeri baik individu maupun institusional (Munisi dkk.,2014). Dalam
penelitian Aggarwal (2010) kepemilikan asing dalam perusahaan merupakan pihak
yang concern terhadap peningkatan corporate governance seperti dengan memiliki
ukuran dewan direksi yang lebih kecil dan proporsi komisaris independen yang lebih
tinggi dan cenderung menerapkan praktik good corporate governance yang
diterapkan di Negara asalnya dan dipromosikan ke Negara lain seperti kebutuhan
untuk memiliki board size yang kecil dan dengan proporsi komisaris independen
yang lebih tinggi.
2) Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham oleh manajemen
perusahaan yang diukur dengan prosentase jumlah saham yang dimiliki oleh
manajemen. Menurut Munisi dkk.,(2014), besar kecilnya jumlah kepemilikan saham
manajerial dalam perusahaan dapat mengindikasikan adanya kesamaan (congruance)
kepentingan antara manajemen dengan pemegang saham.
3) Kepemilikan Pemerintah
Kepemilikan pemerintah adalah jumlah saham perusahaan yang dimiliki oleh
pemerintah (Munisi dkk.,2014). Perusahaan pemerintah diasumsikan untuk mengejar
maksimalisasi dukungan politik. Sehingga diharapkan prosentase kepemilikan
pemerintah memiliki hubungan positif dengan komisaris independen (Li, 1994).
Menurut Munisi dkk.,(2014) “perusahaan dengan pemegang saham terbesarnya
adalah pemerintah memiliki tata kelola perusahaan yang lemah karena lebih melayani
kepentingan publik di banding kepentingan para pemegang saham”.
4. Struktur Kepemilikan di Asia
Di kawasan Asia, pada umumnya pemisahan antara kepemilikan dan kepengelolaan
perusahaan tidak terlalu berkembang. Bisnis lebih bersifat kekeluargaan sehingga
kelompok-kelompok usaha besar yang berkembang selalu dikendalikan oleh anggota
keluarga dari hubungan darah atau hubungan perkawinan. Hal tersebut sangat terasa dalam
sistem Keiretsu di Jepang, Chebol di Korea, dan Konglomerasi di Indonesia. Dalam sistem
Anglo-Saxon, pemisahan antara pemilik dan pengelola perusahaan umumnya cukup tegas.
Pemilik modal menyerahkan sepenuhnya pengelolaan perusahaan kepada para
professional. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya dukungan sistem pasar modal yang
kuat sehingga kepemilikan perusahaan bisa dijualbelikan dengan baik.
Dalam hal ini, kepemilikan perusahaan bisa saja terjadi secara anonym lewat
pembelian kepemilikan perusahaan lewat mekanisme pasa modal. Umumnya, para pemilik
modal ini memiliki suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Para pemilik modal
dikelompokkan dalam pemilik modal besar (blockholder) atau pemilik modal kecil (ritel).
Pemilik modal besar memiliki hak suara cukup besar serta posisi lemah dalam
menyuarakan kepentingan. Bahkan, banyak diantara mereka yang merasa tidak memiliki
insentif untuk menyuarakan kepentingan. Namun, dalam perusahaan dikenal sistem
“komisaris independen” yang bertugas melindungi kepentingan pemegang saham
minoritas.
Di Korea, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, kontrol keluarga terhadap
perusahaan begitu tinggi. Kontrol para pemilik perusahaan dilakukan melalui struktur
piramida dan kepemilikan silang diantara beberapa perusahaan. Model ini nampaknya
sangat umum terjadi di semua negara di kawasan Asia Tenggara. Jadi pada dasarnya,
pemisahan antara pemilik dan pengelola sangat jarang terjadi di kawasan tersebut.
Ditambah lagi, pemisahan antara kontrol dan manajerial juga jarang terjadi karena para
pemilik menguasai hak suara dengan model kepemilikan silang yang dipertahankan untuk
mempertahankan posisi suara.
5. Struktur Kepemilikan di Indonesia
Peraturan perundang-undangan Indonesia adalah peraturan berdasarkan civil law.
Artinya, hukum dijalankan berdasarkan aturan-aturan yang telah dibuat. Peraturan
perundang-undangan yang terkait dengan perusahaan adalah Undang-Undang No. 40 tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), dan Peraturan Bapepam LK sebagai otoritas pengawas
pasar modal bagi perusahaan terbuka No. 8 Tahun 1995. UU PT menyebutkan bahwa organ
perusahaan terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan Direksi, dan Dewan
Komisaris. RUPS memiliki kekuasaan tertinggi dalam pengambilan keputusan di
perusahaan, misal untuk hal penambahan modal, perubahan modal, pemilihan eksekutif
perusahaan, dan lain-lain. Struktur ini juga diterapkan dalam BUMN berbentuk perseroan.
Badan Pengawas Pasar Modal di bawah koordinasi Kementrian Keuangan, Bapepam LK,
telah mengeluarkan serangkaian aturan terhadap perusahaan publik. Selain terkait dengan
aktivitas entitas di bursa, aturan yang dikeluarkan juga terkait dengan perusahaan sebagai
entitas bisnis (ketentuan RUPS, dan sebagainya).
Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas, perusahaan publik diharuskan
mengeluarkan laporan tahunan yang telah diaudit. Laporan tersebut terdiri dari laporan
keuangan, laporan manajemen, pernyataan perusahaan terkait dengan tata kelola
perusahaan, dan terkait dengan tanggung jawab sosial perusahaan. Selain itu, informasi
terkait dengan kepemilikan saham dan eksekutif perusahaan (direksi dan komisaris) juga
harus dipublikasikan, misalnya kebijakan remunerasi perusahaan.
Informasi kepemilikan saham yang wajib dipublikasikan adalah kepemilikan
saham di atas 5% dan kepemilikan oleh eksekutif perusahaan. Perusahaan tidak wajib
mengungkapkan kepemilikan di bawah nilai tersebut karena dianggap tidak material,
kecuali untuk kepemilikan Direksi dan Komisaris karena menunjukkan kontrol akan
perusahaan. Selain itu, perusahaan tidak diwajibkan untuk mengungkapkan siapa ultimate
owner perusahaan, sehingga publik tidak dapat mengetahui siapa yang berada pada puncak
piramida kepemilikan tersebut.
Daftar Pustaka

Prasetyantoko, A. 2008. Corporate Governance: Pendekatan Institusional. Jakarta: PT Gramedia


Pustaka Utama.

Siswanto Sutojo, E. John Aldridge. 2008. Good Corporate Governance Tata Kelola
Perusahaan Yang Sehat. Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka.

Kompasiana. 2013. Praktik GCG terkait struktur kepemilikan di Perusahaan.


Indonesiahttps://www.kompasiana.com/inezlius/551ff41f81331198019dfb7a/praktik-good-
corporate-governance-terkait-struktur-kepemilikan-perusahaan-di-indonesia (diakses
tanggal 1 oktober 2019)
Mia Unja. Kepemilikan Imediat. https://www.academia.edu/7563033/Kepemilikan_Imediat
(diakses pada tanggal 2 Oktober 2019)