Anda di halaman 1dari 74

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Stress merupakan hal yang telah menjadi bagian dari kehidupan

manusia dan dapat dialami oleh siapapun. Biasanya stress dipersepsikan

sebagai sesuatu yang tidak baik atau negatif padahal sebenernya tidak.

Tergantung bagaimana individu menanggapi atau meresepon stresor yang di

hadapinya. Stresor merupakan penyebab yang dapat menimbulkan stress.

Robbins (2006:793) mendefinisikan stress sebagai kondisi dinamik yang di

dalamnya individu menghadapi peluang,kendala, atau tuntutan yang terkait

dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan

sebagai tidak pasti tetapi penting1.Stress sering diartikan sebagai salah satu

kondisi tegang yang tidak menyenagkan atau merupakan respon tubuh yang

sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban yang dialami seseorang.

Dalam kondisi stress, seseorang secara subyektif merasa ada masalah yang

membebani dirinya. Hal ini dapat disebabkan karena seseoarang mengalami

beban kerja yang berlebihan. Tekanan beban kerja yang berlebihan tersebut

bila tidak dapat diatasi akan mengakibatkan fungsi organ tubuh sehingga

yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaanya dengan

baik.

Gejala stress dapat terlihat dari tiga aspek yaitu psikologis, fisik, dan

perilaku. Secara psikologis yaitu seperti kecemasan, bingung, marah,

1
Stephen P. Robbins, Perilaku Organisasi ed 12, Salemba Empat, Jakarta, 2006, p793

1
2

sensitif, mengurung diri, depresi, komunikasi tidak efektif, kehilangan

semangat hidup, dan menurunnya rasa percaya diri. Secara fisik yaitu

seperti meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, meningkatnya

sekresi adrenalin, ganguan gastrointestinal seperti gangguan lambung,

mudah lelah secara fisik, lebih sering berkeringat, sering pusing, dan

ketegangan otot. Secara perilaku yaitu seperti menunda atau menghindari

pekerjaan atau tugas, penurunan prestasi dan produktivitas, mabuk,

kehilangan nafsu makan, meningkatnya agresifitas dan kriminalitas, dan

penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman.

Sumber stress baik yang bersumber dari satu sumbernya penyakit

itumaupun berbagai sumber yang bersangkutan, akan menyebabkan

berbagai dampakpenyakit dari yang kronis sampai dengan penyakit

gangguan kejiwaan, dan lainlainnya.

Faktor-faktor didalam pekerjaan yang dapat menimbulkan stress, faktor

eksternal dan internal yang dimaksud ekternal adalah kondisi fisik tempat

bekerja, manajemen kantor maupun hubungan sosial dilingkungan

pekerjaan,tuntutan beban kerja berat atau rendah, pekerjaan tidak

mempunyai hak,dukungan rendah dari manajemen dan teman sejawat.

Sedangkan faktor internal yang dimaksud adalah hal-hal yang berkaitan

dengan bagaimana orang berinteraksi dengan lingkungannya, baik

lingkungan kerja maupun dimana dia tinggal misalnya karakteristik

kepribadian, pengalaman pribadi, kondisi sosial dan ekonomi, serta

hambatan pengembangan diri,konflik karena tuntutan yang tinggi.

Betapapun faktor kedua tidak secara langsung berhubungan dengan kondisi


3

pekerjaan, namun karena dampak yang ditimbulkan pekerjaan cukup besar,

maka faktor pribadi ditempatkan sebagai sumber atau penyebab munculnya

stres. sumber stress yang berkaitan dengan pekerjaan, dapat disebabkan hal

ini tuntutan pekerjaan terlaluberat atau terlalu rendah. Selain itu dapat

disebabkan oleh tidak adanyapenghargaan dari atasan, dukungan dari teman

sesama, dan tidak di lihat daripengambilan keputusan

Beban kerja merupakan sesuatu yang muncul dari interaksi antara

tuntutan tugas dengan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Ketika

beban kerja berlebih dan individu tidak dapat mengatasinya maka akan

menimbulkan stres dalam bekerja. akibat negatif dari meningkatnya beban

kerja adalah kemungkinan timbul emosi perawat yang tidak sesuai dengan

yang diharapkan pasien. Dan beban kerja yang berlebihan ini sangat

berpengaruh produktifitas tenaga kesehatan dan tentu saja berpengaruh

terhadap produktifitas perawat. Perawat merasakan bahwa jumlah perawat

yang ada tidak sesuai atau sebanding dengan jumlah pekerjaan yang harus

diselesaikan. Kondisi seperti ini tentu akan memicu munculnya stres kerja.

Kuantitas beban kerja yang dirasakan oleh seseorang akan mempengaruhi

kondisi orang tersebut. Beban kerja yang terlalu banyak ataupun terlalu

sedikit dapat mengakibatkan seorang karyawan menderita penyakit akibat

kerja.Seorang karyawan mengalami beban yang berlebihan maka karyawan

tersebutakan mengalami stres kerja. Dalam kaitannya dengan pekerjaan,

dampak dari stres akan menjurus pada menurunnya performansi, efisiensi

dan produktivitas kerja yang bersangkutan.


4

Setiap pekerjaan yang dilakukan seseorang merupakan beban kerja

baginya, beban-beban tersebut tergantung bagaimana orang tersebut bekerja

sehingga disebut sebagai beban kerja. Dan tubuh manusia dirancang untuk

dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari. Beban kerja adalah keadaan di

mana pekerja dihadapkan pada tugas yang harus diselesaikan pada waktu

tertentu dan beban kerja merupakan kemampuan tubuh dalam menerima

pekerjaan. Dari sudut pandang ergonomi setiap beban kerja yang diterima

seseorang harus sesuai dan seimbang baik terhadap kemampuan fisik,

kemampuan kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban

tersebut (Munandar, 20012). Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan

tersendiri dalam hubungannya dengan beban kerja. Mereka mungkin ada

yang lebih cocok dengan beban kerja fisik, mental atau sosial, namun

sebagai persamaan, mereka hanya mampu memikul beban sampai suatu

berat tertentu sesuai dengan kapasitas kerjanya. Jadi dapat disimpulkan

bahwa beban kerja adalah serangkaian tugas yang diberikan kepada

seseorang yang harus diselesaikan pada waktu tertentu.

Berkaitan dengan beratnya beban tugas perawat dengan hal tersebut,

salah satu unit kerja pada rumah sakit yang perlu mendapatkan perhatian

khusus adalah perawat pada Instalasi Gawat Darurat (IGD). Unit gawat

darurat adalah unit pelayanan rumah sakit yang memberikan pelayanan

pertama pada pasien dengan ancaman kematian dan kecacatan secara

terpadu dengan melibatkan berbagai multidisiplin (DepKes RI, 2005).

Sebagai ujung tombak dalam pelayanan keperawatan rumah sakit, IGD

2
Munandar, Stress dan Keselamatan Kerja, Universitas Indonesia, 2001
5

harus melayani semua kasus yang masuk ke rumah sakit dengan jam

operasional selama 24 jam. Dengan kompleksitas kerja yang demikian,

maka perawat yang bertugas di IGD dituntut untuk memiliki kemampuan

lebih jika dibandingkan dengan perawat yang melayani pasien di unit yang

lain. Sehingga untuk bekerja di IGD membutuhkan kecekatan, keterampilan,

dan kesiagaan setiap saat (Syaer, 2011)3

Beban tugas yang diberikan kepada perawat yang bertugas di IGD

sangatlah fluktuatif, hal ini dikarenakan tergantung pada seberapa banyak

jumlah pasien yang datang dan seberapa serius perawatan medis yang harus

dilakukan. Jumlah dan kasus pasien yang datang ke unit gawat darurat tidak

dapat diprediksi karena kejadian kegawatan atau bencana dapat terjadi

kapan saja, dimana saja serta menimpa siapa saja. Karena kondisinya yang

tidak terjadwal dan bersifat mendadak serta tuntutan pelayanan yang cepat

dan tepat maka perawat dituntut untuk melaksanakan kegiatan seperti :

pelaksanaan pelayanan keperawatan gawat darurat yang terdiri dari

menyiapkan fasilitas dan lingkungan IGD, menyeleksi pasien dengan triase,

melakukan asuhan keperawatan untuk pasien gawat darurat dan non gawat

darurat, membuat diagnosa keperawatan, membuat rencana asuhan

keperawatan, melaksanakan tindakan asuhan keperawatan kepada setiap

pasien, dan mengevaluasi tindakan keperawatan setiap pasien.

Kesiapan dalam kegawatdaruratan yang terdiri dari kesiapan mental

perawat, siap pengetahuan dan keterampilan, kesiapan alat dan obat,

kesiapan transportasi pasien ke ruangan yang dituju.

3
Syafruddinsyaer.blogspot.com
6

kebutuhan dan masalah kesehatan pasien yaitu menyiapkan formulir untuk

penyelesaian administrasi dan memberikan penyuluhan kesehatan kepada

pasien dan keluarganya sesuai dengan keadaan dan kebutuhan pasien

Apabila beban kerja yang sudah cukup berat tersebut harus ditanggung

oleh perawat melebihi kapasitas kerjanya maka dikhawatirkan akan

berdampak buruk bagi produktivitas perawat tersebut. Jika hal ini dibiarkan

maka dapat mengakibatkan adanya penurunan produktivitas dan juga stress

akibat beban mental kerja yang relatif tinggi. Stres yang berkepanjangan ini

dapat mengakibatkan seorang perawat mengalami kelelahan baik secara

fisik, maupun mental.

Masalah yang ada di IGD RS.PELNI yaitu banyaknya jumlah pasien

yang masuk di IGD dengan kurangnya jumlah perawat yang ada dan

perawat menghadapi situasi yang kritis dapat menjadi beban kerja bagi

perawat,sehingga hal ini akan mempengaruhi terjadinya stress. Berdasarkan

hal tersebut, peneliti ingin meneliti apakah beban kerja menyebabkan stress.

B. Identifikasi Masalah

Semua orang pasti pernah mengalami stress. Pada saat mengalami stress

selalu ada rintangan yang dapat mengakibatkan kegiatan kita menjadi

berkurang dan merasa lelah untuk melanjutkan kegiatan tersebut sehingga

dapat mempengaruhi kualitas dan produktivitas dalam bekerja.

Stress kerja dapat dipengaruhi oleh kondisi pekerjaan yang meliputi :

kelebihan beban kerjadapat di bedakan menjadi kuantitatif yaitu bila target

kerja melebihi kemampuan pekerja yang bersangkutan akibatnya mudah


7

lelah dan berada dalam ketegangan tinggi dan beban kerja berlebih

sedangkan secara kualitatif yaitu bila pekerjaan memiliki tingkat kesuliatn

yang tinggi. Di IGD RS.PELNI, perawat mengalami beban kerja yang

bersifat kuantitatif yaitu target kerja melebihi kemampuan pekerja, karena di

IGD RS.PELNI jumlah pasien yang masuk setiap harinya 80 - 100 pasien

dengan kondisi dan keadaan pasien yang berbeda-beda sedangkan jumlah

perawat IGD hanya 32 orang.

Kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan

mudah jatuh sakit jika ruangan tidak nyaman, panas, sirkulasi udara tidak

memadai, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan kerja kurang bersih, tentu

besar pengaruhnya pada kenyamanan dan produktivitas kerja karyawan,di

IGD RS.PELNI walau ruangan penuh sesak dengan pasien yang ada para

perawat tetap melayani pasien dengan baik dan tidak mengalami penurunan

produktivitas kerja.

Kondisi pekerjaan yang tidak lagi menantang atau tidak menarik lagi

bagi karyawan biasanya keluhan yang muncul adalah kebosanan dan

ketidakpuasan, di RS.PELNI karena setiap harinya menerima pasien dengan

kondisi kesehatan yang berbeda-beda maka para perawat tidak merasakan

kebosanan dengan pekerjaannya.

Pekerjaan beresiko tinggi atau berbahaya bagi keselamatan yaitu seperti

pekerjaan di pertambangan minyak yang dapat mengakibatkan bahaya bagi

keselamatan pekerja, hal ini sudah pasti dialami oleh semua perawat

termasuk perawat di RS.PELNI yaitu akan menghadapi situasi bahaya dan


8

beresiko terhadap kesehatan atau keselamatannya karena berhubungan

langsung dengan pasien yang memiliki penyakit yang berbeda beda.

Selain itu stress kerja di pengaruhi oleh adanya faktor konflik peran

yaitu ketidak jelasan peran dalam bekerja dan tidak tahu yang diharapkan

manajemen. Akibatnya sering muncul ketidakpuasan kerja, menurunnya

prestasi hingga akhirnya ada keinginan untuk meninggalkan pekerjaan.

Perawat di RS.PELNI sudah memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas

dalam menjalankan tugasnya masing-masing disetiap unit rumah sakit.

Pengembangan karier yaitu setiap orang pasti punya harapan ketika

mulai bekerja disuatu perusahaan atau organisai, namun cita-cita dan

perkembangan karir banyak sekali yang tidak terlaksana. Di RS.PELNI

tidak semua perawat ataupun karyawan yang sudah lama bekerja di

RS.PELNI selalu terlaksana harapan dan cita-citanya dalam perkembangan

karirnya.

Struktur organisasi adalah gambaran perusahaan yang diwarnai dengans

struktur organisasi yang tidak jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan,

peran, wewenang dan tanggung jawab serta minimnya keterlibatan atasan

membuat karyawan menjadi stress. Dalam hal ini para perawat di

RS.PELNI sudah tahu masing-masing peran, tugas dan tanggung jawab

yang diberikan.

Dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengetahui hubungan

beban kerjaperawat dengan stress kerja perawat pada unit IGD RS.PELNI

petamburan.
9

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, penulis hanya

membatasi masalah pokok yaitu mengkaji kaitan stress kerja yang dialami

oleh perawat di Instalasi Gawat Darurat RS. PELNI petamburan dengan

salah satu faktor yang menimbulkan stress yaitu beban kerja perawat di IGD

yang setiap harinya melayani pasien yang masuk dengan jumlah 80 - 100

pasien dengan kondisi kesehatan yang berbeda-beda sedangkan perawat

yang ada di IGD hanya berjumlah 32 orang. Hal ini dilakukan agar

penelitian lebih fokus dan tidak meluas dari pembahasan yang dimaksud,

sehingga penulis memilih judul “Hubungan Beban kerja Perawat Dengan

Stress Kerja Perwat Pada Unit IGD RS.PELNI Petamburan”

D. Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan beban kerja perawat dengan stress kerja perawat pada

unit Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petambutan?

E. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan beban kerja perawat dengan stress kerja

perawat di unit IGD Rumah Sakit PELNI Petamburan

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi beban kerja perawat di unit IGD RS.PELNI

Petamburan
10

b. Mengidentifikasi stress kerja perawat di unit IGD RS.PELNI

Petamburan

c. Menganalisis hubungan beban kerja perawat dengan stress kerja

perawat di unit IGD RS.PELNI Petamburan

F. Manfaat Penelitian

1. Bagi Fakultas Kesehatan Masyrakat

Terbinanya kerja sama dengan Rumah Sakit PELNI Petamburan

dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan antara

substansiakademik dengan pengetahuan dan keterampilan sumber daya

manusia yangdibutuhkan dalam pembagunan kesehatan.

2. Bagi Rumah Sakit

Diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan serta dapat

meningkatkankinerja perawat sehingga dapat meningkatkan kualitas

pelayanan RumahSakit PELNI Petamburan.

3. Bagi Penulis

Menambah wawasan dan pengetahuan serta mendapat pengalaman

yang berharga dalam menemukan suatu permasalahan dan melakukan

analisa terhadap masalah tersebut serta dapat mencari solusi dari

permasalahan yang ada


11

BAB II

KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS

A. Stress Kerja

1. Definisi Stress Kerja

Stress adalah suatu respon adiptif, melalui karakteristik individu dan

atau proses psikologis secara langsung terhadap tindakan, situasi dan

kejadian eksternal yang menimbulkan tuntutan khusus baik fisik maupun

psikologis individu yang bersangkutan. Pendapat lain menyatakan

bahwa stress adalah tanggapan yang menyeluruh dari tubuh terhadap

tuntutan yang datang kepadanya. (Nasution, 2000)4

Stress kerja adalah suatu bentuk tanggapan seseorang, baik fisik

maupun mental terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang

dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam. (Panji

Anoraga 2001:108)5

Stress kerja adalah suatu tanggapan penyesuaian diperantarai oleh

perbedaan-perbedaan individu atau proses psikologis yang merupakan

suatu konsekuensi dari setiap tindakan dari luar (lingkungan), situasi,

atau peristiwa yang menetapkan permintaan psikologis dan atau fisik

berlebihan kepada seseorang. (Gibson 1996;339)6

Setiap aspek di pekerjaan dapat menjadi pembangkit stres. Tenaga

kerja yang menentukan sejauh mana situasi yang dihadapi merupakan

situasi stress atau tidak. Tenaga kerja dalam interaksinya dipekerjaan,


4
Nasution. Psikologi Industri. (Sumatera Utara:USU, 2000)
5
Panji Anoraga, Psikologi Kerja, Rineka Cipta, Jakarta 2001. P.108
6
Gibson, Prilaku,Organisasi, Proses. Erlangga, jakarta 1996. P.339
12

dipengaruhi pula oleh hasil interaksi di tempat lain, di rumah, di sekolah,

diperkumpulan, dan sebagainya (Ashar Sunyoto, 2001:380).7

Menurut Philip L (dikutip Jacinta L, 2002), menyatakan bahwa

seseorang dapat dikategorikan mengalami stress kerja jika:

a. Urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak oraganisasi atau

perusahaan tempat individu bekerja. Namun penyebabnya tidak hanya

di dalam perusahaan, karena masalah rumah tangga yang terbawa

kepekerjaan dan masalah pekerjaan yang terbawa kerumah dapat juga

penyebab stress kerja.

b. Mengakibatkan dampak negative bagi perusahaan dan juga individu.

c. Oleh karenanya diperlukan kerjasama antara kedua belah pihak untuk

menyelesaikan persoalan stress tersebut.

Sebenarnya stress kerja tidak selalu membuah kan hasil yang buruk

dalam kehidupan manusia. Selye membedakan stres menjadi 2 yaitu

distress yang destruktif dan eustress yang merupakan kekuatan positif.

Stres diperlukan untuk menghasilkan prestasi yang tinggi. Semakin tinggi

dorongan untuk berprestasi, makin tinggi juga produktivitas dan

efisiensinya. Demikian pula sebaliknya stres kerja dapat menimbulkan

efek yang negatif. Stres dapat berkembang menjadikan tenaga kerja sakit,

baik fisik maupun mental sehingga tidak dapat bekerja lagi secara optimal

(Ashar Sunyoto, 2001, h.371,374).8

7
Ashar Sunyoto M, Psikologi Industri dan Organisasi. Universitas Indonesia. Jakarta 2001. P.380
8
Ibid., P.371, 374
13

2. Gejala Stress Kerja

Menurut Terry Beehr dan John Newman (1978) yang dikutip oleh

Rice P.L. dalam bukunya stress and health (1999) gejala stress dibagi

menjadi 3 aspek yaitu :

a) Gejala Psikologis yaitu terdiri dari :

Ketegangan, adalah keadaan mencekam sebagai akibat perasaan

khawatir, terhambat, frustrasi, yang disebabkan oleh adanya tekanan

dan konflik dan akan timbul bilamana individu tidak mampu

menghadapi suatu keadaan stress.

Kecemasan adalah perasaan tidak menentu, panik, takut, tanpa

mengetahui apa yang ditakutkan dan tidak dapat menghilangkan

perasaan gelisah dan rasa cemas tersebut. Tahap kecemasan terjadi

sebagai suatu reaksi terhadap ancaman (stresor) yang dirasakan,

dimana reaksi tersebut akan ditunjukkan oleh tubuh dengan tanda-

tanda seperti muka pucat, keringat dingin, jantung berdebar, darah

terasa mengalir dengan cepat, dll. Tahap kecemasan biasanya tidak

berlangsung lama (beberapa detik hingga beberapa hari). Namun

apabila stres berlangsung terus, tahap ini segera digantikan oleh

tahap perlawanan. Pada tahap perlawanan, tubuh akan beradaptasi

terhadap stressor dan akan terus bertahan dengan situasi tersebut.

Tetapi, kesanggupan tubuh melawan memiliki batas-batas tertentu,

dan jika stres menimpa cukup keras atau berlangsung cukup lama,

tahap perlawanan akan digantikan dengan tahap keletihan yang

ditandai dengan melemahnya sumber-sumber daya pertahanan tubuh


14

sehingga akan rentan terhadap penyakit bahkan dapat menyebabkan

kematian .

Kebingungan adalah suatu keadaan dimana antara keinginan dan

pikiran terjadi perbedaaan sehingga tak tahu apa yang harus

dilakukan, diputuskan, dan dikerjakan.

Mudah marah dan sensitif adalah suatu perasaan mudah

tersinggung, mudah terbawa perasaan (terlalu dipikirkan) dengan apa

yang dikatakan dan dilakukan orang lain terhadap dirinya ketika

mendapat cobaan, dan tekanan

Memendam perasaaan adalah suatu keadaan dimana seseorang

menyimpan, menyembunyikan dan menahan apa yang sedang

dirasakan didalamnya dirinya baik perasaan marah, tersinggung,

kecewa dan bahagia.

Komunikasi tidak efektif adalah komunikasi yang tidak dapat

bertukar informasi, ide, perasaan dan sikap antar dua orang atau

kelompok sehingga tidak menghasilkan apa yang diharapkan.

Menarik diri dari lingkungan adalah keadaan dimana seseorang

menemukan kesulitan dalam membina hubungan dan menghindari

interaksi dengan orang lain secara langsung yang dapat bersifat

sementara atau menetap.

Kebosanan adalah suatu kondisi perasaan (afektif) yang tidak

menyenangkan dan bersifat sementara, yang seseorang merasakan

suatu kehilangan minat dan sulit konsentrasi terhadap aktivitas yang

sedang dilakukannya.
15

Ketidakpuasan kerja adalah suatu sikap pekerja yang tidak suka

terhadap berbagai aspek dalam pekerjaannya seperti pekerjaan itu

sendiri, situasi kerja, upah, kerjasama dengan pemimpin atau dengan

karyawan lainnya dan dapat diungkapkan dalam berbagai cara

misalnya dengan meninggalkan pekerjaan, mengeluh,

membangkang, menghindari sebagian tanggung jawab pekerjaan

mereka dan lainnya.

Lelah mental adalah kelelahan psikologis yang disebabkan oleh

faktor psikologis, pekerjaan yang monoton, atau lingkungan kerja

yang menjemukkan dan pekerjaan yang menumpuk-numpuk

Menurunya fungsi intelektual dan sulit konsentrasi adalah

ketidak mampuan seseorang untuk dapat memusatkan perhatian atau

pikirannya dengan baik terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan.

Kehilangan semangat hidup adalah suatu kondisi dimana

seseorang tidak lagi memiliki dorongan dan motivasi untuk hidup

karena memiliki banyak masalah, kegagalan atau tantangan dan tidak

dapat mengatasinya.

Menurunnya rasa percaya diri adalah perasaan seseorang pada

ketidakmampuan dan penilaian terhadap diri sendiri dalam

melakukan tugasnya.

b) Gejala Fisiologis (Fisik) yaitu terdiri dari:

Meningktanya detak jantung dan tekanan darah yaitu disebabkan

akibat adanya rasa takut, grogi, dan kecemasan


16

Meningkatnya adrenalin dan nonadrenalin adalah sutau kondisi

pelepasan hormon adrenalin kedalam aliran darah dan akan

mempersiapkan reaksi tubuh dengan mempercepat detak jantung,

menambah kekuatan otot, dan meningkatkan kecepatan diatas

kemampuan yang biasa dipunyai dalam keadaan normal yang

disebabkan oleh adanya situasi seperti kelelahan dan situasi yang

mengancam jiwanya.

Sikap yang dapat memicu gangguan gasteointestinal seperti

pada lambung, Penyakit pencernaan ini disebabkan oleh beberapa

faktor, seperti makan yang tidak teratur, psikologis yang tidak stabil

(stress) dan berbagai macam penyebab lainnya. Maag memang

banyak disebabkan oleh sebab psikomatik, seperti timbulnya rasa

mual, perih dan tidak mau makan. Penyakit ini banyak ditemui pada

orang yang sibuk. Karena kesibukan seseorang mengakibatkan

sering terlambat makan, diperparah lagi dengan psikologis yang

tidak stabil

Mudah lelah secara fisik, stress memicu tubuh seseorang

mengalami cepat lelah. Meskipun tidak bekerja sepanjang hari dan

telah memiliki istirahat yang cukup, stres sering kali menguras

tenaga dan stamina. Ketika seseorang merasa mudah lelah,

kemungkinan besar tengah dihadapkan pada kondisi stres dan

berpikir terlalu berat.

Gangguan pernafasan, meski secara medis sesak nafas bisanya

berkaitan dengan gejala asma, namun masalah ini merupakan gejala


17

umum dari stress. Salah satu akibatnya dapat dilihat dari mulut

mudah kering dalam waktu singkat.

Lebih sering berkeringat, terkadang kondisi mental seseorang

juga berpengaruh terhadap produksi keringat. Saat sedang stres atau

depresi, otak akan mengirim sinyal yang tidak normal kepada

kelenjar keringat sehingga produksi keringat ikut tidak normal dan

cenderung berlebihan.

Gangguan pada kulit, Stres dikatakan mampu meningkatkan

hormon seseorang. Dan jika hormon ini terus mengalami

peningkatan, tidak heran jika bisa menimbulkan jerawat di tubuh

ataupun wajah. Kecemasan yang timbul akibat stres memicu sistem

kekebalan tubuh menurun dan memunculkan jerawat.

Sakit kepala dan migren, stress dapat menyebabkan sakit kepala

biasa berlanjut menjadi sakit kepala kronis, yaitu sakit kepala yang

terjadi > 180 hari/tahun. Studi menunjukkan tingginya tingkat

kecemasan, stress dan tekanan mental yang berkepanjangan pada

penderita sakit kepala kronis dibandingkan dengan penderita sakit

kepala biasa.

Nyeri otot, stress dapat menyebabkan otot bergemetar dan nyeri

pada bagian-bagian tubuh tertentu. Masalah nyeri otot atau tegang

biasanya disebabkan oleh dipicunya adrenalin secara berlebihan dan

dalam waktu lama, yang merupakan apada akibat dari stress jangka

panjang.
18

Susah tidur, penderita stress juga akan mengalami perubahan

drastis pada kebiasaan dan pola tidur. Penderita mungkin akan tidur

dalam waktu lebih pendek (kurang tidur), tidak bisa tidur (insomnia).

Bagaimanapun, masalah perubahan kebiasaan tidur ini tidak

memlikiki efek yang baik pada kesehatan tidur ini tidak memiliki

efek baik pada kesehatan tubuh, baik jangka pendek maupun

panjang.

c) Gejala Perilaku yaitu terdiri dari:

Menunda atau menghindari pekerjaan, saat seseorang stres,

kuatir, cemas atau gelisah maka sangatlah susah untuk bisa bekerja

dengan produktif. Dalam situasi tersebut menunda sering kali

menjadi salah satu pilihan yang sering diambil.

Penurunan prestasi dan produktivitas, tenaga kerja yang tidak

mampu bereaksi secara baik terhadap stres yang dialami, kesehatan

jiwanya akan terganggu dan karenanya kualitas hidup dan

produktivitasnya menjadi rendah. karyawan tersebut akan

menunjukkan dalam bentuk hilangnya produktivitas seperti malas

dan sering mangkir, sering membuat kesalahan dalam pekerjaan dan

cenderung mengalami kecelakaan kerja.

Minum-minuman keras dan mabuk, beberapa orang mungkin

ada yang melampiaskan stress dengan cara mengkonsumi minuman

beralkohol.

Agresivitas dan kriminalitas adalah perilaku yang ditujukan

untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun psikis. Sebagai
19

contoh sikap agresivitas adalah tindakan kriminalitas yang

disebabkan oleh beberapa faktor seperti tuntutan ekonomi.

Meningktanya frekuensi absensi/bolos, jenis pekerjaann akan

mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, pekerjaan yang tidak

menantang lagi dan pengembangan karir dalam pekerjaan akan

menurunkan produktivitas kerja dan mempengaruhi absensi pekerja.

Kehilangan nafsu makan, nafsu makan akan berubah ketika

emosi dalam keadaan tidak sehat, bahkan bisa saja berat badan

langsung turun drastis. Stres menekan nafsu makan karena

hipotalamus melepas hormon corticotrophin yang menekan nafsu

makan, disinilah otak mengirim pesan ke kelenjar adrenal untuk

memompa hormon epinefrin yang melawan rasa lapar.

Penurunan kualitas interpersonal dengan keluarga dan teman,

Orang yang sedang stress akan lebih sensitif dibandingkan orang

yang tidak dalam kondisi stress. Oleh karena itulah, sering terjadi

salah persepsi dalam membaca dan mengartikan suatu keadaan,

pendapat atau penilaian, kritik, nasihat, bahkan perilaku orang lain.

Obyek yang sama bisa diartikan dan dinilai secara berbeda oleh

orang yang sedang stress. Selain itu, orang stress cenderung

mengkaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Pada tingkat stress yang

berat, orang bisa menjadi depresi, kehilangan rasa percaya diri dan

harga diri. Akibatnya, ia lebih banyak menarik diri dari lingkungan,

tidak lagi mengikuti kegiatan yang biasa dilakukan, jarang

berkumpul dengan sesamanya, lebih suka menyendiri, mudah


20

tersinggung, mudah marah, mudah emosi. Tidak heran kalau akibat

dari sikapnya ini mereka dijauhkan oleh rekan-rekannya. Respon

negatif dari lingkungan ini malah semakin menambah stress yang

diderita karena persepsi yang selama ini ia bayangkan ternyata

benar, yaitu bahwa ia kurang berharga di mata orang lain, kurang

berguna, kurang disukai, kurang beruntung, dan kurang-kurang yang

lainnya.

3. Faktor-Faktor Penyebab Stress Kerja

Menurut Gibson dkk (1996, h.343-350) menyatakan bahwa

penyebab stres kerja ada empat yaitu sebagai berikut:

a. Lingkungan fisik

Penyebab stress kerja dari lingkungan fisik berupa cahaya, suara,

suhu,dan udara terpolusi.

b. Individual

Tekanan individual sebagai penyebab stres kerja terdiri dari:

1) Konflik peran

Stressor atau penyebab stres yang meningkat ketika seseorang

menerima pesan- pesan yang tidak cocok berkenaan dengan

perilaku peran yang sesuai. Misalnya adanya tekanan untuk

bergaul dengan baik bersama orang- orang yang tidak cocok.

2) Peran Ganda

Untuk dapat bekerja dengan baik, para pekerja memerlukan

informasi tertentu mengenai apakah mereka diharapkan berbuat


21

atau tidak berbuat sesuatu. Peran ganda adalah tidak adanya

pengertian dari seseorang tentang hak, hak khusus dan

kewajiban- kewajiban dalam mengerjakan suatu pekerjaan.

3) Beban Kerja Berlebihan

Ada dua tipe beban berlebih yaitu kuantitatif dan kualitatif.

Memiliki terlalu banyak sesuatu untuk dikerjakan atau tidak

cukup waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan merupakan

beban berlebih yang bersifat kuantitatif. Beban berlebih kualitatif

terjadi jika individu merasa tidak memiliki kemampuan yang

dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka atau standar

penampilan yang dituntut terlalu tinggi.

4) Tidak adanya kontrol

Suatu stresor besar yang dialami banyak pekerja adalah tidak

adanya pengendalian atas suatu situasi. Sehingga langkah kerja,

urutan kerja, pengambilan keputusan, waktu yang tepat,

penetapan standar kualitas dan kendali jadwal merupakan hal

yang penting.

5) Tanggung jawab

Setiap macam tanggung jawab bisa menjadi beban bagi beberapa

orang, namun tipe yang berbeda menunjukkan fungsi yang

berbeda sebagai stresor.

6) Kondisi kerja9

9
Gibson, Prilaku,Organisasi, Proses. Erlangga, jakarta 1996. P.343-350
22

c. Kelompok

Keefektifan setiap organisasi dipengaruhi oleh sifat hubungan

diantara kelompok. Karakteristik kelompok menjadi stresor yang

kuat bagi beberapa individu. Ketidakpercayaan dari mitra pekerja

secara positif berkaitan dengan peran ganda yang tinggi, yang

membawa pada kesenjangan komunikasi diantara orang- orang dan

kepuasan kerja yang rendah. Atau dengan kata lain adanya hubungan

yang buruk dengan kawan, atasan, dan bawahan.

d. Organisasional

Adanya desain struktur organisasi yang jelek, politik yang jelek

dan tidak adanya kebijakan khusus.

Menurut Carry Cooper (dikutip dari Jacinta F, 2002) menyatakan

bahwa sumber stres kerja ada empat yaitu sebagai berikut:

a. Kondisi pekerjaan

1) Kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan

mudah jatuh sakit, jika ruangan tidak nyaman, panas, sirkulasi

udara kurang memadahi, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan

kerja kurang bersih, berisik, tentu besar pengaruhnya pada

kenyamanan kerja karyawan.

2) Overload. Overload dapat dibedakan secara kuantitatif dan

kualitatif. Dikatakan overload secara kuantitatif jika banyaknya

pekerjaan yang ditargetkan melebihi kapasitas karyawan tersebut.

Akibatnya karyawan tersebut mudah lelah dan berada dalam


23

tegangan tinggi. Overload secara kualitatif bila pekerjaan

tersebut sangat kompleks dan sulit sehingga menyita kemampuan

karyawan.

3) Deprivational stres. Kondisi pekerjaan tidak lagi menantang, atau

tidak lagi menarik bagi karyawan. Biasanya keluhan yang

muncul adalah kebosanan dan ketidakpuasan

4) Pekerjaan beresiko tinggi. Pekerjaan yang beresiko tinggi atau

berbahaya bagi keselamatan, seperti pekerjaan di pertambangan

minyak lepas pantai, tentara, dan sebagainya.

b. Konflik Peran

Stres karena ketidakjelasan peran dalam bekerja dan tidak tahu

yang diharapkan oleh manajemen. Akibatnya sering muncul

ketidakpuasan kerja, ketegangan, menurunnya prestasi hingga

ahirnya timbul keinginan untuk meninggalkan pekerjaan.

c. Pengembangan Karir

Setiap orang pasti punya harapan ketika mulai bekerja di suatu

perusahaan atau organisasi. Namun cita- cita dan perkembangan

karir banyak sekali yang tidak terlaksana.

d. Struktur Organisasi

Gambaran perusahaan yang diwarnai dengan struktur organisasi

yang tidak jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan, peran,

wewenang dan tanggung jawab, aturan main yang terlalu kaku atau

tidak jelas, iklim politik perusahaan yang tidak jelas serta minimnya

keterlibatan atasan membuat karyawan menjadi stres.


24

Menurut Abraham C. Dan Shanley F. (1997) dalam buku

Psikologi Untuk Keperawatan (2004;145) sumber stress dalam

keperawatan yaitu:

a) Beban kerja berlebihan, misalnya merawat terlalu banyak pasien,

mengalami kesulitan dalam mempertahankan standar yang tinggi,

merasa tidak mampu memberi dukungan yang dibutuhkan teman

sekerja, dan menghadapi keterbatasan tenaga

b) Kesulitan menjalin hubungan dengan staff lain, misalnya

mengalami konflik dengan teman sejawat, gagal membentuk tim

kerja dengan staf.

c) Kesulitan dalam merawat pasien kritis, misalnya kesulitan dalam

menjalankan peralatan yang belum dikenal,mengelola prosedur

atau tindakan yang baru, dan bekerja dengan dokter yang

menuntut jawaban dan tindakan cepat.

d) Berurusan dengan pengobatan/perawatan pasien, misalnya

bekerja dengan dokter yang tidak memahami kebutuhan sosial

dan emosional pasien, merasa tidak pasti sejauh mana harus

memberi informasi kepada pasien dan keluarga pasien, dan

merawat pasien sulit atau tidak kerja sama.

e) Merawat pasien yang gagal untuk membaik, misalnya pasien

lansia,pasien yang nyeri kronis, dan pasien yang meninggal

selama merawat.10

10
Sunaryo, Psikologi Untuk Keperawatan. (Jakarta: EGC, 2004) P.145
25

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa stress kerja adalah suatu

kondisi ketegangan yang dialami oleh karyawan karena adanya

ketidakseimbangan antara karakteristik lingkungan pekerjaan dengan

karakteristik kepribadian karyawan yang dapat ditandai dengan gejala

psikologis, fisiologis (fisik) dan perilaku karyawan.

B. Beban Kerja Perawat

1. Pengertian Beban Kerja

Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas

pekerjaan sehari-hari. Setiap pekerjaan merupakan beban bagi

pelakunya, beban-beban tersebut tergantung dari bagaimana orang

tersebut bekerja sehingga disebut beban kerja, jadi definisi beban kerja

adalah kemampuan tubuh pekerja dalam menerima pekerjaan. Dari

sudut pandang ergonomi setiap beban kerja yang diterima seseorang

harus sesuai dan seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan

kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut.

Beban dapat berupa beban fisik dan beban mental. Beban kerja fisik

dapat berupa beratnya pekerjaan seperti mengangkat, mengangkut,

merawat, mendorong. Sedangkan beban kerja mental dapat berupa

sejauh mana tingkat keahlian dan prestasi kerja yang dimiliki individu

dengan individu lainnya. (Manuaba, 2000)11

Beban kerja adalah keadaan di mana pekerja dihadapkan pada tugas

yang harus diselesaikan pada waktu tertentu dan beban kerja merupakan

11
Manuaba, Ergonomi, Kesehatan Keselamatan Kerja (Surabaya: PT.Guna Widya, 2000)
26

kemampuan tubuh dalam menerima pekerjaan. (Munandar, 200112).

Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam

hubungannya dengan beban kerja. Mereka mungkin ada yang lebih

cocok dengan beban kerja fisik, mental atau sosial, namun sebagai

persamaan, mereka hanya mampu memikul beban sampai suatu berat

tertentu sesuai dengan kapasitas kerjanya.

Beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan / aktifitas yang

dilakukan oleh seorang perawat selama bertugas di suatu unit pelayanan

keperawatan (Marquish dan huston, 2000 dalam Nurcahyaningtyas,

2006).

Jadi dapat disimpulkan bahwa beban kerja perawat adalah seluruh

kegiatan atau aktifitas yang dilakukan perawat dengan jenis pekerjaan

dan beratnya pekerjaan yang ditetapkan dalam satuan waktu tertentu di

suatu unit pelayanan keperawatan.

2. Kegiatan Perawat IGD

Menurut Muslim N.D yang dikutip oleh Diah Ambarwati (2014)

tugas perawat IGD antara lain :

a. Pelaksanaan pelayanan keperawatan gawat darurat yang terdiri

dari :

1) Menyiapkan fasilitas dan lingkungan IGD

Fasilitas yang diperlukan adalah tempat dan peralatan untuk

menilai kondisi pasien. Karena fungsinya sebagai penilaian awal

12
Munandar, Stress dan Keselamatan Kerja, Universitas Indonesia, 2001
27

pasien yang datang ke unit gawat darurat maka lokasi yang ideal

untuk triage adalah ruangan terdekat dengan pintu masuk pasien.

Ruangan triage memerlukan peralatan untuk melakukan

pemeriksaan awal pada pasien seperti tensimeter, thermometer,

pulse oxymeter, stetoskop dan glucometer. Peralatan ini

membantu perawat untuk melakukan penilaian triage dengan

tepat.

2) Membantu dokter dalam memberikan pelayanan atau

pertolongan pertama kepada pasien dalam keadaan gawat

darurat.

3) Menyeleksi pasien yang datang ke IGD sesuai triage

Triage adalah suatu sistem seleksi dan pemilihan pasien untuk

menentukan tingkat kegawatan dan prioritas penanganan pasien

(DepKes RI, 2005). Triage diputuskan dengan menggunakan 4

kategori yaitu :

Merah (Emergent) yaitu korban-korban yang membutuhkan

stabilisasi segera. Yaitu kondisi yang mengancam kehidupan

dan memerlukan perhatian segera. Contohnya: syok oleh

berbagai kausa, gangguan pernafasan, perdarahan eksternal

masif

Kuning (Urgent) yaitu korban yang memerlukan pengawasan

ketat tetapi perawatan dapat ditunda sementara. Kondisi yang

merupakan masalah medis yang disignifikan dan memerlukan

penata laksanaan sesegera mungkin. Tanda-tanda fital klien ini


28

masih stabil. Contohnya: korban dengan resiko syok (korban

dengan gangguan jantung, trauma, obdomen berat), luka bakar

luas, gangguan kesadaran.

Hijau (Non urgent) yaitu kelompok koran yang tidak

memerlukan pengobatan atau pemberian pengobatan dapat

ditunda. Penyakit atau cidera minor. Contohnya: luka bakar

minor, luka minor

Hitam (Expectant) yaitu korban yang meninggal dunia.

Triage merupakan salah satu ketrampilan keperawatan yang

harus dimiliki oleh perawat unit gawat darurat dan hal ini

membedakan antara perawat unit gawat darurat dengan perawat

unit khusus lainnya. Karena triage harus dilakukan dengan cepat

dan akurat maka diperlukan perawat yang berpengalaman dan

kompeten dalam melakukan triage. Sesuai standar DepKes RI

perawat yang melakukan triage adalah perawat yang telah

bersertifikat pelatihan PPGD (Penanggulangan Pasien Gawat

Darurat) atau BTCLS (Basic Trauma Cardiac life support)

(Pedoman Pelayanan Keperawatan Gawat Darurat Rumah Sakit,

2005). Selain itu perawat triage sebaiknya mempunyai

pengalaman dan pengetahuan yang memadai karena harus

trampil dalam pengkajian serta harus mampu mengatasi situasi

yang komplek dan penuh tekanan sehingga memerlukan

kematangan professional untuk mentoleransi stress yang terjadi


29

dalam mengambil keputusan terkait dengan kondisi akut pasien

dan menghadapi keluarga pasien (Elliott et al, 2007, hlm 466)

4) Melakukan asuhan keperawatan untuk pasien gawat darurat

Yaitu korban yang memerlukan pengawasan ketat, tetapi

perawatan dapat di tunda sementara. Kondisi yang merupakan

masalah medis yang disignifikan dan memerlukan penata

laksanaan sesegera mungkin. Tanda-tanda fital klien ini masih

stabil. Semua korban dengan kategori ini harus di berikan infus,

pemasangan oksigen, pengawasan ketat terhadap kemungkinan

timbulnya komplikasi dan berikan perawatan sesegera mungkin.

5) Melakukan asuhan keperawatan untuk pasien non gawat darurat

Yaitu kelompok korban yang tidak memerlukan pengobatan atau

pemberian pengobatan dapat di tunda. Penyakit atau cidera

minor

6) Membuat diagnosa keperawatan yaitu mencakup masalah,

penyebab, tanda dan gejala berdasarkan prioritas masalah.

Prioritas masalah keperawatan gawat darurat yaitu : gangguan

jalan nafas, tidak efektifnya bersihan jalan nafas, pola nafas

tidak efektif, gangguan pertukaran gas, penurunan curah

jantung, gangguan perfusi jaringan perifer, gangguan rasa

nyaman, gangguan volume cairan tubuh, gangguan perfusi

serebral, gangguan termoregulasi.


30

7) Membuat rencana asuhan keperawatan, yaitu :

Menetapkan tujuan tindakan keperawatan penyelamatan jiwa

dan kecacatan, menetapkan rencana tindakan dari tiap-tiap

diagnosa keperawatan, mendokumentasikan rencana

keperawatan.

8) Melaksanakan tindakan asuhan keperawatan kepada setiap

pasien yaitu :

Melakukan tindakan keperawatan mengacu pada standar

prosedur operasional yang telah ditentukan sesuai dengan

tingkat kegawatan pasien berdasarkan prioritas tindakan :

melakukan triase, melakukan tindakan penanganan masalah

penyelamatan jiwa dan pencegahan kecacatan, melakukan

tindakan sesuai dengan masalah keperawatan yang muncul,

melakukan monitoring respon pasien terhadap tindakan

keperawatan, mengutamakann prinsip keselamatan pasien

(patient safety) dan privacy, menerapkan prinsip standar baku,

mendokumentasikan tindakan keperawatan.

9) Mengevaluasi tindakan keperawatan setiap pasien

Melakukan evaluasi terhadap respon pasien pada setiap tindakan

yang diberikan, melakukan evaluasi dengan cara

membandingkan hasil tindakan degan tujuan dan kriteria hasil

yang ditetapkan (evaluasi hasil), melakukan re-evaluasi dan

menentukan tindak lanjut,mendokumentasikan respon klien

terhadap intervensi yang diberikan.


31

b. Kesiapan dalam kegawatdaruratan

1) Siap mental, dalam arti bahwa ”emergency can not wait”. Setiap

unsur yang terkait termasuk perawat harus menghayati bahwa

aritmia dapat membawa kematian dalam 1 – 2 menit. Apnea

atau penyumbatan jalan napas dapat mematikan dalam 3 menit.

2) Siap pengetahuan dan ketrampilan. Perawat harus mempunyai

bekal pengetahuan teoritis dan patofisiologi berbagai penyakit

organ tubuh penting. Selain itu juga keterampilan manual untuk

pertolongan pertama

3) Memelihara peralatan kesehatan dan menyiapkan alat medis

agar selalu dalam keadaan siap pakai

4) Melakukan pengecekan alat setiap pergantian shift, serta

membersihkan, merapikan dan menyiapkan alat setelah dipakai

untuk tindakan selanjutnya.

5) Melakukan pengecekan obat serta melengkapi stok obat setelah

dipakai dengan cara mengambil pergantian obat dari pasien

6) Mengatur dan melaksanakan transportasi pasien yang akan

dirawat sampai ke ruangan yang dituju

c. Kebutuhan dan Masalah Kesehatan Pasien.

1) Menyiapkan formulir untuk penyelesaian administrasi seperti:

Surat keterangan istirahat sakit (jika diperlukan), resep obat

untuk dirumah (bila diperlukan), surat rujukan atau pemeriksaan

ulang ke RS lain, perincian biaya pengobatan pasien.


32

2) Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien dan

keluarganya sesuai dengan keadaan dan kebutuhan pasien

mengenai :

Pengobatan yang perlu dilanjutkan dan cara penggunaannya,

pentingnya pemeriksaan ulang/kontrol di rumah sakit atau

instalasi pelayanan kesehatan lainnya, cara hidup sehat seperti

pengaturan istirahat dan makanan yang bergizi.13

3. Perhitungan Kebutuhan Tenaga Perawat Di IGD

Dalam menentukan jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan dalam

satuan unit tertentu di sebuah rumah sakit, dapat menggunakan rumus

perhitungan kebutuhan tenaga perawat. Adapun perhitungan tenaga

perawat yang digunakan atau yang berlaku di Rumah Sakit PELNI

Petamburan khususnya di Instalasi Gawat Darurat adalah sebagai

berikut .

Keterangan :

a. Rata-rata pasien/hari = 80 pasien

b. Rata-rata jam perawatan/hari = 4 jam

c. Jam kerja efektif = 7 jam

d. Loss day = 78 hari

e. Jumlah hari/tahun = 286 hari

13
Diah Ambarwati, Pengaruh Beban Kerja Terhadap Stress Kerja Perawat (Semarang:UNDIP,2014)
33

Jadi kebutuhan perawat di IGD Rumah Sakit PELNI Petamburan yaitu :

(80 × 4) 78
= 45,71 (46𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔) + 𝑙𝑜𝑠𝑠 𝑑𝑎𝑦 ( × 45,71) = 12,47(13𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔)
7 286

Total kebutuhan perawat IGD : 46 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 + 13 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 = 𝟓𝟗 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 14

Dari perhitungan kebutuhan tenaga perawat, dapat diketahui

kurangnya jumlah tenaga perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah

Sakit PELNI Petamburan saat ini yaitu sebanyak 59 – 32 = 27 perawat

4. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja

Menurut Rodahl (1989) dan Manuba (2000) menyatakan bahwa

beban kerja dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut :

a. Faktor eksternal

Faktor eksternal beban kerja adalah beban kerja yang berasal

dari luar tubuh pekerja. Yang termasuk dalam beban kerja ini adalah

tugas itu sendiri, organisai, lingkungan kerja. Tiga aspek ini sering

disebut stressor.

1) Tugas-tugas yang dilakukan baik yang bersifat fisik seperti,

ruang kerja, tata ruang kerja, alat dan sarana kerja, kondisi atau

medan kerja, sikap kerja, alur kerja, dll. Sedangkan tugas-tugas

yang bersifat mental seperti tingkat kesulitan pekerjaan yang

mempengaruhi tingkat emosi pekerja, tanggung jawab terhadap

pekerjaan, jauhnya jarak ketempat kerja, dll.

14
Data sekunder dari Rumah Sakit PELNI Petamburan
34

2) Organisasi kerja seperti lamanya waktu kerja, waktu stirahat,

kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, model struktur

organisasi, pelimpahan tugas dan wewenang.

3) Lingkungan kerja yang dapat memberikan beban tambahan

kepada pekerja adalah

a) Lingkungan kerja fisik seperti mikroklimat (suhu udara

ambient, kelembaban udara, kecepatan rambat udara, suhu

radiasi), intensitas penerangan, intensitas kebisingan, vibrasi

mekanis, dan tekanan udara.

b) Lingkungan kerja kimiawi seperti debu, gas-gas pencemar

udara, uap logam, fume dalam udara.

c) Lingkungan kerja biologis sepertibakteri, virus dan parasit,

jamur, serangga.

d) Lingkungan kerja psikologis seperti pemilihan dan

penempatan tenaga kerja, hubungan antara pekerja dengan

pekerja, pekerja dengan atasan, pekerja dengan keluarga.

b. Faktor Internal

Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari

dalam tubuh itu sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban

kerja eksternal. Faktor internal terdiri dari faktor somatis yang

terdiri dari 4 yaitu:


35

1) Jenis kelamin

Perbedaan proporsi ukuran anthropometri antara pria dan

wanita menyebabkan terjadinya perbedaan pembebanan pada

beban dan sistem kerja yang sama (Pheasant,1986)

2) Umur

Baik pria maupun wanita kekuatan maksimal tercapai pada

umur 20-30 tahun dimana penampang lintang ototnya paling

besar. Sesudah itu terjadi penurunan progresif dari kekuatan otot

mempengaruhi denyut nadi, dimana pada saat lahir bisa

mencapai 130 dan kemudian berangsur-angsur menurun. Pada

usia tua denyut nadi akan kembali meningkat. Sedangkan usia

produktif menurut sumber dari Badan Pusat Statistik (BPS)

adalah 25-44 tahun.

3) Berat dan Tinggi Badan

Kekuatan fisik tergantung dari berat dan tinggi badan.

Faktor ini berkaitan dengan beban momen gaya yang dialami

tenaga kerja waktu akan dan sedang melakukan pekerjaan fisik.

4) Status Gizi

Status gizi merupakan salah satu indikator kesehatan tenaga

kerja, status gizi yang baik akan mempengaruhi anthropometri.

Anthropometri atau ukuran tubuh manusia yang biasa digunakan

antara lain berat badan (BB), tinggi badan (TB) dan lingkar

lengan atas (LIA). Pada dasarnya penilaian ini ditujukan untuk

memantau perkembangan program pembangunan dibidang


36

kesejahteraan masyarakat termasuk bidang kesehatan

masyarakat.

5. Jenis Beban Kerja

Beban kerja meliputi 2 jenis, sebagaimana dikemukakan oleh

Munandar (2001) ada 2 jenis beban kerja, yaitu :

a) Beban kerja kuantitatif, meliputi :

1) Harus melaksanakan observasi pasien secara ketat selama jam

kerja.

2) Banyaknya pekerjaan dan beragamnya pekerjaan yang harus

dikerjakan.

3) Kontak langsung perawat pasien secara terus menerus selama jam

kerja.

4) Rasio perawat dan pasien

b) Beban kerja kualitatif, meliputi :

1) Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki perawat tidak

mampu mengimbangi sulitnya pekerjaan di rumah sakit.

2) Tanggung jawab yang tinggi terhadap asuhan keperawatan pasien

kritis.

3) Harapan pimpinan rumah sakit terhadap pelayanan yang

berkualitas.

4) Tuntutan keluarga pasien terhadap keselamatan pasien.

5) Setiap saat dihadapkan pada pengambilan keputusan yang tepat.

6) Tugas memberikan obat secara intensif.


37

7) Menghadapi pasien dengan karakteristik tidak berdaya, koma dan

kondisi terminal.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa beban kerja perawat adalah

seluruh kegiatan atau aktifitas yang dilakukan perawat dengan jenis

pekerjaan dan beratnya pekerjaan yang ditetapkan dalam satuan waktu

tertentu di suatu unit pelayanan keperawatan yang meliputi pelaksanaan

pelayanan keperawatan gawat darurat, kesiapan dalam kegawatdaruratan,

kebutuhan dan masalah kesehatan pasien.

C. Kerangka Berpikir

Stress kerja didefinisikan sebagai bentuk tanggapan seseorang, baik

secara fisik maupun mental terhadap suatu perubahan lingkungan dan

pekerjaan yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya

terancam.

Stress kerja adalah suatu kondisi ketegangan yang dialami oleh

karyawan karena adanya ketidakseimbangan antara karakteristik lingkungan

pekerjaan dengan karakteristik kepribadian karyawan yang ditandai dengan

gejala psikologis yaitu teridi dari ketegangan, kecemasan, kebingungan,

mudah marah dan sensitif, memendam perasaan, komunikasi tidak efektif,

menarik diri dari lingkungan, kebosanan, ketidakpuasan kerja, lelah mental,

sulit konsentrasi, kehilangan semangat hidup, menurunnya rasa percaya diri.

Gejala fisiologis (fisik) terdiri dari meningkatnya detak jantung dan tekanan

darah, meningkatnya adrenalin dan non adrenalin, sikap yang dapat memicu
38

gangguan gasteointestinal seperti pada lambung, mudah lelah secara fisik,

gangguan pernafasan, lebih sering berkeringat, gangguan pada kulit, sakit

kepala dan migren, nyeri otot, susah tidur. Gejala perilaku yang terdiri dari

menunda atau menghindari pekerjaan, penurunan prestasi dan produktivitas,

minum-minuman keras dan mabuk, agresivitas dan kriminalitas,

meningktanya frekuensi absensi/bolos, kehilangan nafsu makan, penurunan

kualitas interpersonal dengan keluarga dan teman.

Stress bisa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kondisi pekerjaan

yang meliputi : kelebihan beban kerja (Work Overload), kondisi kerja yang

buruk, kondisi pekerjaan yang tidak lagi menantang, pekerjaan yang

beresiko tinggi atau berbahaya, selain itu juga stress dipengaruhi oleh

adanya faktor konflik peran, pengembangan karir dan struktur organisasi.

Beban kerja merupakan sesuatu yang muncul dari interaksi antara

tuntutan tugas dengan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Ketika

beban kerja berlebih dan individu tidak dapat mengatasinya maka akan

menimbulkan stres dalam bekerja. akibat negatif dari meningkatnya beban

kerja adalah kemungkinan timbul emosi perawat yang tidak sesuai dengan

yang diharapkan pasien. Dan beban kerja yang berlebihan ini sangat

berpengaruh produktifitas tenaga kesehatan dan tentu saja berpengaruh

terhadap produktifitas perawat. Perawat merasakan bahwa jumlah perawat

yang ada tidak sesuai atau sebanding dengan jumlah pekerjaan yang harus

diselesaikan. Kondisi seperti ini tentu akan memicu munculnya stres kerja.

Kuantitas beban kerja yang dirasakan oleh seseorang akan mempengaruhi

kondisi orang tersebut. Beban kerja yang terlalu banyak ataupun terlalu
39

sedikit dapat mengakibatkan penyakit akibat kerja. Seorang perawat yang

mengalami beban kerja yang berlebihan maka akan mengalami stres kerja.

Dalam kaitannya dengan pekerjaan, dampak dari stres akan menjurus pada

menurunnya performansi, efisiensi dan produktivitas kerja yang

bersangkutan.

Beban kerja adalah keseluruhan waktu yang digunakan oleh pegawai

dalam melakukan aktivitas atau kegiatan selama jam kerja. Beban kerja

merupakan volume kerja dari suatu unit. Jadi bahwa beban kerja perawat

adalah seluruh kegiatan atau aktifitas yang dilakukan perawat dengan jenis

pekerjaan dan beratnya pekerjaan yang ditetapkan dalam satuan waktu

tertentu di suatu unit pelayanan keperawatan yang meliputi pelaksanaan

pelayanan keperawatan gawat darurat yang terdiri dari menyiapkan fasilitas

dan lingkungan IGD, membantu dokter dalam memberikan pelayanan atau

pertolongan pertama, menyeleksi pasien yang masuk dengan triase,

melakukan asuhan keperawatan untuk pasien gawat darurat dan non gawat

darurat, membuat diagnosa keperawatan, membuat rencana asuhan

keperawatan, melaksanakan tindakan asuhan keperawatan kepada setiap

pasien, mengevaluasi tindakan keperawatan setiap pasien.

Kesiapan dalam kegawatdaruratan yang terdiri dari kesiapan mental,

kesiapan pengetahuan dan keterampilan, memelihara dan menyiapkan

perlatan medis agar selalu dalam keadaan siap pakai, melakukan

pengecekan alat medis, melaksanakan pengecekan obat serta melengkapi

stok obat, mengatur dan melaksanakan transportsi pasien yang akan dirawat.

Kebutuhan dan masalah kesehatan pasien yang terdiri dari menyiapkan


40

formulir untuk penyelesaian administrasi, memberikan penyuluhan

kesehatan kepada pasien dan keluarganya sesuai dengan keadaan dan

kebutuhan pasien.

Dari uraian diatas dapat di simpulkan bahwa stress kerja pada perawat

dapat dipengaruhi oleh beban kerja yang diterimanya. Oleh sebab itu

diperlukan suatau pembuktian yang dapat memberikan kejelasan mengenai

hubungan beban kerja dengan stress kerja perawat di Rumah Sakit PELNI

Petamburan.

D. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Beban Kerja Perawat Stress Kerja Perawat

E. Hipotesis

Ada hubungan beban kerja perawat dengan stress kerja pada perawat
41

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Instalasi Gawat Darurat (IGD)

Rumah Sakit PELNI petamburan. Waktu penelitian akan dilakukan pada

bulan Juni 2015.

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survey analitik, yaitu menjelaskan apakah ada

hubungan antara beban kerja dengan stress kerja. Pendekatan penelitian

menggunakan cross sectional atau potong lintang adalah suatu penelitian

untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek,

dimana data yang dikumpulkan pada waktu yang bersamaan (point time

approach). Dimana dalam pengumpulan data pada jenis penelitian ini baik

untuk variabel bebas / variabel sebab (Independent Variabel) yaitu beban

kerja , maupun variabel terikat / variabel akibat (Dependent Variabel) yaitu

stress kerja dilakukan bersama-sama. (Notoatmodjo, 2005).

Data yang dikumpulkan adalah data tentang beban kerja dan stress kerja

perawat baik secara primer maupun sekunder. Data primer dilakukan dengan

cara menyebarkan kuesioner kepada responden yaitu perawat IGD

RS.PELNI. pertanyaan dalam kuesioner ini sesuai dan berkaitan dengan

karakteristik yang akan diteliti.


42

Data sekunder diperoleh untuk melengkapi data primer yang berasal

dari laporan-laporan tertulis yang dikeluarkan oleh oleh pihak perusahaan,

seperti gambaran umum perusahaan, jenis pekerjaan, tanggung jawab,

lingkungan kerja, suasana kerja dan data terkait lainnya.

C. Populasi dan Sampel

1) Populasi

Populasi adalah totalitas dari semua obyek atau individu tertentu yang

memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yang akan diteliti.

Populasi yang diteliti adalah semua perawat yang bekerja di Instalasi

Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan yang berjumlah 32 orang

perawat.

2) Sampel

Sampel adalah objek yang diambil dari jumlah keseluruhan objek

yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo,

2005). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah sampel

jenuh yaitu seluruh perawat IGD Rumah Sakit PELNI Petamburan yang

berjumlah 32 orang.
43

1. Variabel Dependent

Variabel dependennya adalah stress kerja

a. Definisi Konseptual

Stress kerja adalah suatu kondisi ketegangan yang dialami oleh

karyawan karena adanya ketidakseimbangan antara karakteristik

lingkungan pekerjaan dengan karakteristik kepribadian karyawan yang

dapat ditandai dengan gejala psikologis, fisiologis (fisik) dan perilaku

karyawan.

b. Definisi Operasional

Stress kerja adalah total skor yang diperolah dari penjumlahan skor

jawaban dari pertanyaan yang dibuat untuk mengukur tingkat stress kerja

pada perawat Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Pelni Petamburan

yang menggunakan skala interval.

c. Kisi – kisi

Penelitian menggunakan alat ukur kuesioner yang dibuat

berdasarkan kisi-kisi sebagai berikut :

Tabel 3.1
Instrumen Penelitian Stress Kerja
Variabel Dimensi Indikator Butir
Stress kerja 1) Gejala Psikologi  Ketegangan 1, 2
 Kecemasan 3, 4
 Kebingungan 5, 6, 7
 Memendam perasaan 8, 9, 10
 Mudah marah dan 11,12, 13
sensitif
 Komunikasi tidak 14, 15
efektif
 Menarik diri dari 16, 17
lingkungan
44

Variabel Dimensi Indikator Butir


 Kebosanan 18, 19
 Ketidakpuasan kerja 20,21, 22
 Lelah mental 23, 24
 Menurunnya fungsi 25, 26,
intelektual dan sulit 27
konsentrasi
 Kehilangan semangat 28, 29
hidup
 Menurunnya rasa 30, 31,
percaya diri 32
2) Gejala Fisiologis  Meningktanya detak 33, 34
(fisik) jantung dan tekanan
darah
 Meningktanya 35, 36
adrenalin dan non
adrenalin
 Gangguang 37, 38
gasteointestinal pada
lambung
 Mudah lelah secara 39, 40
fisik
 Gangguan pernafasan 41, 42
 Lebih sering 43, 44,
berkeringat 45
 Sakit kepala dan 46, 47
migren
 Nyeri dan tegang otot 48, 49
 Susah tidur 50, 51
3) Gejala Perilaku  Menunda atau 52, 53
menghindari pekerjaan
 Penurunan prestasi dan 54, 55
produktivitas
 Minum-minuman kersa 56, 57
dan mabuk
 Agresivitas dan 58, 59
kriminalitas
 Meningktanya 60, 61
frekuensi absensi/bolos
 Kehilangan nafsu 62, 63
makan
 Penurunan 64, 65
interpersonal dengan
keluarga dan teman
45

Instrumen penelitian ini menggunakan alat ukur kuesioner

sebanyak 65 butir dalam bentuk pertanyaan dengan kategorik jawaban

sebagai berikut :

Tabel 3.2
Skor Jawaban

Alternatif Jawaban Skor


Tidak Pernah 1
Kadang-kadang 2
Sering 3
Selalu 4

2. Variabel Independen

Variabel independen nya adalah beban kerja perawat

a. Definisi Konseptual

Beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan atau aktifitas yang

dilakukan perawat dengan jenis pekerjaan dan beratnya pekerjaan yang

ditetapkan dalam satuan waktu tertentu di suatu unit pelayanan

keperawatan yang meliputi pelaksanaan pelayanan keperawatan gawat

darurat, kesiapan dalam kegawatdaruratan, kebutuhan dan masalah

kesehatan pasien.

b. Definisi Operasional

Beban kerja perawat adalah skor jawaban dari butir-butir pertanyaan

yang dibuat untuk mengukur beban kerja dengan menggunakan

kuesioner sebanyak 40 pertanyaan dengan menggunakan skala interval.


46

c. Kisi – kisi

Penelitian menggunakan alat ukur kuesioner yang dibuat

berdasarkan kisi-kisi sebagai berikut :

Tabel 3.3
Instumen Penelitian Beban Kerja
Variabel Dimensi Indikator Butir
Beban Kerja 1) Pelaksanaan  Menyiapkan fasilitas dan 1, 2
pelayanan lingkungan IGD
keperawatan  Membantu dokter dalam 3, 4
gawat darurat memberikan pelayanan
 Menyeleksi pasien yang 5, 6,7
datang ke IGD sesuai triase
 Melakukan asuhan 8, 9
keperawatan untuk pasien
gawat darurat
 Melakukan asuhan 10, 11
keperawatan untuk pasien
non gawat darurat
 Membuat diagnosa 12, 13
keperawatan
 Membuat rencana asuhan 14, 15,
keperawatan 16
 Melaksanakan tindakan 17, 18,
asuhan keperawatan kepada 19
setiap pasien
 Mengevaluasi tindakan 20, 21
keperawatam setiap pasien
2) Kesiapan dalam  Siap mental 22, 23,24
kegawatdaruratan  Siap pengetahuan dan 25, 26,
keterampilan 27, 28
 Memelihara dan 29, 30
menyiapkan alat medis
 Melakukan pengecekan alat 31, 32
 Melakukan pengecekan 33, 34
obat
 Mengatur dan 35, 36
melaksanakan transportasi
pasien
3) Kebutuhan dan  Menyiapkan formulir untuk 37, 38
masalah penyelesaian administrasi
kesehatan pasien  Memberikan penyuluhan 39, 40
kesehatan kepada pasien
dan keluarga psien
47

Instrumen penelitian ini menggunakan alat ukur kuesioner

sebanyak 40 butir dalam bentuk pertanyaan dengan kategorik jawaban

sebagai berikut :

Tabel 3.4
Skor Jawaban
Beban Kerja Skor
Sangat Ringan 1
Ringan 2
Sedang 3
Berat 4

3. Validitas dan Reliabilitas

a. Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan

dan kesahihan suatu instrumen (Arikunto 1998, h.168). Suatu instrumen

yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen

yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.

Uji validitas dalam penelitian ini digunakan analisis item yaitu

mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah

dari tiap skor butir. Jika ada item yang tidak memenuhi syarat, maka item

tersebut tidak akan diteliti lebih lanjut. Untuk mengetahui apakah

kuesioner yang digunakan valid atau tidak, maka r yang diperoleh (rhitung)

dikonsultasikan dengan (rtabel) , dan apabila rhitung rtabel maka instrumen

dikatakan valid, dan apabila rhitung ≤ rtabel maka instrumen dikatakan tidak

valid. Syarat tersebut menurut Sugiyono (2009:179) yang harus dipenuhi

yaitu harus memiliki kriteria sebagai berikut :


48

 Jika r 0,30 maka item – item pertanyaan dari kuesioner adalah valid

 Jika r ≤ 0,30 maka item-item pertanyaan dari kuesioner adalah tidak

valid.

Rumus untuk menguji validitas yang digunakan dalam penelitian ini

adalah rumus koefisien korelasi Rank Spearman, yang dihitung

menggunakan program komputer.

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah instrumen cukup dipercaya untuk digunakan

sebagai alat pengumpul data karena instrumen itu sudah baik (Arikunto

1998, h.170)15. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius atau

mengarahkan responden untuk memilih jawaban – jawaban tertentu.

Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan

data yang dapat dipercaya. Reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui

seberapa tingkat konsistensi internal (intenal consistency) jawaban

responden terhadap instrumen untuk mengukur variabel lingkungan kerja,

stres kerja dan kinerja karyawan (Eko Aria 2008, h.50).

Menurut Ety rochaety (2007:50) syarat minimum koefisien korelasi

adalah 0,6 karena dianggap memiliki titik aman dalam penentuan

reliabilitas instrumen dan juga secara umum banyak digunakan dalam

15
Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:Rineka Cipta 1998
P. 170
49

penelitian.16 Maka jika rhitung 0,6 maka item-item pertanyaan dari

kuesioner reliabel dan jika rhitung ≤ 0,6 maka item-item pertanyaan dari

kuesioner tidak reliabel. Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan

dengan menggunakan bantuan program komputer.

D. Teknik Analisis Data

Sumber data berasal dari data primer berdasarkan hasil kuesioner. Data

dari variabel independen didapat dengan menghitung hasil

pengamatan/observasi dari aktivitas responden. Sedangkan data variabel

dependen didapat dengan pengisian kuesioner oleh responden yang diamati.

1. Analisis Univariat

Analisis ini dilakukan untuk menjelaskan karakteristik dari setiap

variabel yang akan diteliti. Statitik deskriptif digunakan untun mengetahui

harga mean, median, modus, minimum, maksimum dari masing-masing

variabel. Variabel independennya adalah beban kerja perawat dan variabel

dependennya adalah stress kerja perawat. Kemudian hasil perhitungan

tersebut dideskripsikan dalam tabel frekuensi untuk masing-masing

variabel.

2. Analisis Bivariat

a. Uji Persyaratan Analisis

Distribusi normal adalah bentuk distribusi yang memusat tengah,

mean, mode, dan median ada di tengah. Pengujian distribusi normal

bertujuan untuk melihat apakah sampel yang diambil mewakili

16
Ety Rochaety, Metode Penelitian Dengan Aplikasi SPSS. Jakarta:Mitra Wacana Media. 2007
P.50
50

distribusi populasi. Uji distribusi normal merupakan syarat untuk

semua uji statistik.

Jika populasi sampel adalah normal dapat dikatakan sampel yang

diambil mewakili populasi. P > 0.05 maka Ha ditolak (normal) artinya

tidak ada hubungan antara data empirik dengan data teoritik. P < 0.05

maka Ha diterima (tidak normal) artinya terdapat hubungan antara

data empirik dengan data teoritik. Jika hasil uji menunjukkan ada

hubungan antar kedua distribusi tersebut (p>0,05), maka dapat

dikatakan distribusi data yang kita adalah normal.

Jika populsi sampel adalah tidak normal dilakukan penambahan

jumlah sampel karena sampel besar lebih mendukung distribusi

normal dibanding dengan sampel kecil, memisahkan berdasar kategori

terkadang distribusi normal mengacu pada kategori tertentu, sehingga

untuk mengujinya kita perlu membagi skor berdasarkan kategori yang

ada (misal, jender, status)

b. Uji Statistik

Sebelum dilakukan uji statistik, terlebih dulu dilihat distribusi

data untuk menentukan jenis uji yang digunakan atau melakukan uji

normalitas data. Apabila hasil pengujian berdistribusi normal maka

analisis statsitsik yang digunakan adalah uji parametric. Sedangkan

apabila hasil pengujian data tersebut berdistribusi tidak normal maka

digunakan uji non parametric.


51

Uji parametrik yang digunakan dalam penelitian ini adalah

menggunakan Koefisien Korelasi Pearson Product Moment. Koefisien

dengan derajat kesalahan 5% dan pengolahan datanya menggunakan

perangkat lunak komputer. Uji statistik yang digunakan dengan

bentuk kuantitatif asosiatif.

Uji non parametric yang digunakan jika hasil pengujian normalitas

tidak berdistribusi normal maka uji non parametric yang digunakan

adalah uji rank corellation atau uji spearmen,

c. Hipotesis Statistik

Hipotesis statistik adalah pernyataan mengenai populasi yang

akan diuji berdasarkan data yang diperoleh melalui sampel penelitian

dengan derajat kesalahan α = 0,05 dan hipotesis statistiknya adalah

sebagai berikut :

H0 : r = 0 (Tidak ada hubungan antara beban kerja perawat dengan

stress kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah

Sakit PELNI Petamburan)

H1 : r 0 (Ada hubungan antara beban kerja perawat dengan stress

kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit

PELNI Petamburan)
52

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data

1. Jenis Kelamin Responden

Berikut ini adalah hasil pengumpulan kuesioner berdasarkan data

jenis kelamin perawat. Jumlah seluruh perawat yang menjadi responden

adalah 32 perawat yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Perawat
Di IGD RS. PELNI Petamburan

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)


Perempuan 23 71,9
Laki-laki 9 28,1
Total 32 100

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa sebagian besar perawat

di Instlasai Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan adalah

perempuan yaitu 23 orang atau 71,9%.

Distribusi Jenis Kelamin Perawat


Laki-laki 28,1%

Perempuan 71,9%

Grafik 4.1
Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Perawat
Di IGD RS.PELNI Petamburan
53

2. Umur Responden

Berikut ini adalah hasil pengumpulan kuesioner berdasarkan data

umur perawat Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan

yang berumur 23 tahun sampai 51 tahun.

Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Perawat
Di IGD RS. PELNI Petamburan

Umur Frekuensi Persentase (%)


< 30 tahun 13 40,6
≥ 30 tahun 19 59,4
Total 32 100

Berdasarkan table 4.2, sebagian besar umur perawat di Instalasi

Gawat Daurat Rumah Sakit PELNI Petamburan adalah kelompok umur ≥

30 tahun berjumlah 19 orang atau 59,4%.

< 30 tahun
13 orang

≥ 30 tahun
19 orang

Grafik 4.2
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Perawat
Di IGD RS. PELNI Petamburan
54

3. Pendidikan Responden

Berikut ini adalah hasil pengumpulan kuesioner berdasarkan

pendidikan perawat Intalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI

Petamburan yang berpendidikan AKPER dan S2.

Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Perawat
Di IGD RS. PELNI Petamburan
Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
AKPER 30 93,75
S2 2 6,25
Total 32 100

Berdasarkan tabel 4.3, dapat diketahui bahwa sebagian besar perawat

di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan berpendidikan

AKPER dengan jumlah 30 orang atau 93,75%.

Distribusi Pendidikan Perawat


S2
6,25%

AKPER
93,75%

Grafik 4.3
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Perawat
Di IGD RS. PELNI Petamburan
55

4. Lama Kerja Perawat

Berikut ini adalah hasil pengumpulan kuesioner berdasarkan lama

kerja perawat di Rumah Sakit PELNI Petamburan yang berkisar 1 sampai

30 tahun.

Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Lama Kerja Perawat
Di IGD RS. PELNI Petamburan
Lama Kerja Frekuensi Persentase (%)
< 15 tahun 17 53,1
≥ 15 tahun 15 46,9
Total 32 100

Berdasarkan table 4.4, dapat diketahui bahwa sebagian besar lama

kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan

adalah < 15 tahun yang berjumlah 17 orang atau 53,1%.

Distribusi Lama Kerja Perawat

≥ 15 tahun <15 tahun


15 orang 17 orang

Grafik 4.4
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Lama Kerja Perawat
Di IGD RS. PELNI Petamburan
56

5. Jumlah Pasien IGD Rumah Sakit PELNI Petamburan

Berdasarkan data sekunder yang di dapatkan, jumlah pasien yang

datang setiap bulannya ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI

Petamburan selama bulan Januari 2015 sampai Mei 2015, adalah sebagai

berikut.

Tabel 4.5
Distribusi Data Jumlah Kunjungan Pasien
Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan
Bulan Jumlah Pasien Rata-rata Jumlah
Pasien / Hari
Januari 2262 76
Februari 2171 73
Maret 2390 80
April 2518 84
Mei 2810 94
Total 12151 81

Dari tabel 4.5, dapat diketahui bahwa rata-rata jumlah pasien/hari di

Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan adalah 81 orang.

a. Deskripsi Data Stress Kerja

Variabel dependent dari penelitian ini adalah stress kerja pada

perawat Rumah Sakit PELNI Petamburan. Analisis deskriptif ini untuk

memberikan gambaran distribusi skor penilaian mengenai variabel

dependent.
57

Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Skor Penilaian Stress Kerja Perawat
Di IGD RS. PELNI Petamburan

Skor Penilaian Frekuensi Persentase (%) Persentase


Cumulative
33 1 3,1 3,1
34 3 9,4 12,5
48 1 3,1 15,6
51 5 15,6 31,3
53 1 3,1 34,4
61 3 9,4 43,8
65 4 12,5 56,3
66 2 6,3 62,5
72 1 3,1 65,6
73 2 6,3 71,9
80 4 12,5 84,4
83 3 9,4 93,8
89 2 6,3 100
Total 32 100
Mean : 63,47 Nilai Minimal : 33
Median : 65 Nilai Maksimal : 89
Modus : 51 Standar Deviasi : 16,55

Berdasarkan pada tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa nilai mean

(rata-rata) dari stress kerja pada perawat Instalasi Gawat Darurat Rumah

Sakit PELNI Petamburan adalah 63,47. Sedangkan nilai median (nilai

tengah) adalah 65, nilai modus (nilai yang paling banyak muncul) 51,

dengan nilai standar deviasi sebesar 16,55 dan nilai minimum dari skor

penilaian stress kerja sebesar 33 dan nilai maksimal sebesar 89.


58

Grafik 4.6
Histogram Stress Kerja Perawat Di IGD RS.PELNI Petamburan

b. Deskripsi Data Beban Kerja

Variabel independent dalam penelitian ini adalah beban kerja perawat

di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan. Analisis

deskriptif ini dilakukan untuk memberikan gambaran distribusi skor

penilaian mengenai variabel independent.


59

Tabel 4.7
Distribusi Frekuensi Skor Penilaian Beban Kerja Perawat
Di IGD RS. PELNI Petamburan

Skor Penilaian Frekuensi Persentase (%) Persentase


Cumulative
35 1 3,1 3,1
36 1 3,1 6,3
39 2 6.3 12,5
40 1 3,1 15,6
41 1 3,1 18,8
42 3 9,4 28,1
43 2 6,3 34,4
44 2 6,3 40,6
45 3 9,4 50,0
47 1 3,1 53,1
48 3 9,4 62,5
49 2 6,3 68,8
50 1 3,1 71,9
51 3 9,4 81,3
53 4 12,5 93,8
54 2 6,3 100
Total 32 100
Mean : 46,16 Nilai Minimal : 35
Median : 46 Nilai Maksimal : 54
Modus : 53 Standar Deviasi : 5,395

Berdasarkan pada tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa nilai mean

(rata-rata) dari beban kerja pada perawat Instalasi Gawat Darurat Rumah

Sakit PELNI Petamburan adalah 46,16. Sedangkan nilai median (nilai

tengah) adalah 46, nilai modus (nilai yang paling banyak muncul) 53,

dengan nilai standar deviasi sebesar 5,395 dan nilai minimum dari skor

penilaian stress kerja sebesar 35 dan nilai maksimal sebesar 54.


60

Grafik 4.7
Histogram Beban Kerja Perawat Di IGD RS.PELNI Petamburan

B. Uji Persyaratan Analisis

Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan uji korelasi pearson

untuk mencari hubungan antara kedua variabel. Untuk menggunakan uji

dengan menggunakan Korelasi Pearson Product Moment harus berdasarkan

asumsi bahwa data setiap variabel yang akan dianalisis berdistribusi normal,

oleh karena itu sebelum melakukan uji Korelasi Pearson Product Moment

harus terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis salah satunya adalah

uji normalitas data. Untuk membuktikan variabel peneliti berdistribusi normal

maka dilakukan uji normalitas pada tiap variabel dengan menggunakan uji

Kolmogrov Smirnov, dengan nilai α = 0,05


61

Tabel 4.8
Uji Normalitas Hubungan Beban Kerja dan Stress Kerja Perawat
Di IGD RS PELNI Petamburan
Variabel Jumlah Sampel P Value Signifikansi
Penelitian
Stress Kerja 32 0,200 Normal
Beban Kerja 32 0,200 Normal

Dari hasil uji normalitas diatas terlihat bahwa stress kerja memiliki P-

value = 0,200. Hal ini menunjukkan bahwa P-value lebih besar dari α = 0,05.

Dapat disimpulkan bahwa stress kerja berasal dari populasi yang berdistribusi

normal. Beban kerja memiliki P-value = 0,200. Hal ini menunjukkan bahwa

P-value lebih besar dari α = 0,05. Dapat disimpulkan bahwa stress kerja

berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

C. Hubungan Beban Kerja Perawat dan Stress Kerja Perawat

Hubungan beban kerja perawat dan stress kerja pada perawat dapat diuji

dengan korelasi Pearson Product Moment, karena berdistribusi normal.

Tabel 4.9
Hubungan Beban Kerja Perawat dan Stress Kerja Perawat
Di IGD RS PELNI Petamburan

Variabel P-value R Signifikansi Kekuatan


Korelasi
Independent Dependent
0,016 0,421 Signifikan Sedang
Beban Kerja Stress Kerja

Jika nilai Sig. (2tailed) < 0,05 maka terdapat hubungan yang signifikan

antara variabel. Dari hasil uji signifikansi korelasi Pearson Product Moment

antara beban kerja perawat dan stress kerja perawat di Instalasi Gawat

Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan di dapat P-value adalah 0,016. Nilai

tersebut lebih kecil dari α = 0,05 maka Ho ditolak atau ada hubungan
62

bermakna antara beban kerja perawat dan stress kerja pada perawat di

Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan.

Dari hasil uji korelasi di dapatkan nilai koefisien korelasi (r) = 0,421.

Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 dengan demikian terdapat korelasi yang

positif antara kedua variabel dan kekuatan korelasi antara variabel cukup

berarti atau sedang.


63

BAB V

PEMBAHASAN

A. Analisis Univariat

1. Stress Kerja

Dari data yang di dapat diperoleh nilai mean sebesar 63,47 dengan

nilai standar deviasi 16,55. Sehingga dapat di kategorikan menjadi stress

kerja ringan yaitu < 46,92 , stress kerja sedang yaitu 46,92 – 80,02 dan

stress kerja berat yaitu > 80,02. Jadi hasil distribusi stress kerja dapat

dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.1
Distribusi Kategori Stress Kerja
Stress Kerja Jumlah Persentase
Ringan (< 46,92) 4 12,5 %
Sedang (46,92 – 80,02) 23 71,9 %
Berat (>80,02) 5 15,6 %
Total 32 100 %

Dari tabel 5.1 di atas, maka dapat disebutkan bahwa stress kerja

perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan lebih

banyak yang berat yaitu 15,6%.

Dari hasil skor kuesioner stress kerja perawat Instalasi Gawat

Darurat, dapat dilihat bahwa terdapat 2 skor tertinggi dari kuesioner

tersebut, yang pertama pada nomor 11 menyatakan “saya merasa sulit

berkonsentrasi ketika ruangan penuh dengan pasien dan keluarga pasien”.

Hal ini disebabkan oleh banyaknya jumah pasien yang masuk ke Instalasi

Gawat Darurat dengan kondisi pasien yang berbeda-beda dan banyaknya

keluarga pasien yang ingin mendampingi pasien di dalam IGD sehingga


64

ruang IGD penuh dengan pasien dan keluarga pasien. Selain itu, jika

ruang rawat inap, ICU dan ruang perawatan lainnya penuh, maka pasien

yang harusnya di tangani lebih lanjut di ruang rawat inap, ICU atau ruang

perawatan lainnya, harus tetap di tangani di IGD sampai ruang perawatan

kosong atau tersedia. Hal ini menyebabkan ruang IGD semakin penuh

dengan pasien yang bermalam di IGD dan keluarga pasien yang ikut

menunggu.

Sumber stress kerja salah satunya adalah kondisi kerja. Kondisi kerja

yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan mudah jatuh sakit,

jika ruangan tidak nyaman, panas, sirkulasi udara kurang memadahi,

ruangan kerja terlalu padat, lingkungan kerja kurang bersih, berisik, tentu

besar pengaruhnya pada kenyamanan kerja karyawan, sehingga dapat

berpengaruh terhadap konsentrasi karyawan saat bekerja.17

Skor tertinggi lainnya, dari hasil kuesioner stress kerja yaitu pada

nomor 15 yang menyatakan “Walaupun banyak tuntutan dari pasien atau

keluarga pasien, saya akan berusaha menahan emosi”. Hal ini terjadi

karena banyaknya tuntutan dari pasien dan keluarga pasien, karena

banyaknya jumlah pasien yang datang ke IGD RS PELNI Petamburan

dengan kondisi dan keadaan pasien yang gawat , sehingga perawat banyak

mendapat tuntutan dari pasien atau keluarga pasien untuk segera

menangani pasien tersebut. Hal ini memicu terjadinya stress kerja apabila

perawat tidak mampu menghadapi tuntutan pasien dan keluarga pasien.

17
Carry Cooper
65

Berdasarkan hasil distribusi data responden, perawat di Instalsi Gawat

Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan, lebih banyak berjenis kelamin

perempuan yaitu 71,9%. Perempuan lebih rentan mengalami stress kerja

dari pada laki-laki.

Stres kerja merupakan reaksi yang merugikan terhadap tekanan yang

berlebihan atau tuntutan di tempat kerja dan stres kerja juga merupakan

respon psikologis individu terhadap tuntutan di tempat kerjanya dan

lingkungan kerjanya. Pekerjaan yang berhubungan dengan rumah sakit

atau kesehatan memiliki kecenderungan tinggi untuk terkena stres kerja

atau depresi.18 Tuntutan mental merupakan sumber stress yang signifikan.

Secara umum, standar yang diterapkan rumah sakit pasti menuntut

pekerjanya untuk selalu bersikap ramah terhadap pasien yang dihadapi.

Akan tetapi, hal ini bukanlah suatu perkara yang mudah untuk dilakukan

seorang pekerja. Di satu sisi, pekerja harus bersiap menghadapi emosi

negatif yang berasal dari pasien yang dihadapi. Tetapi di sisi lainnya

mereka harus tetap bersikap ramah meskipun keadaan emosional pekerja

tidak dalam kondisi baik. Pekerjaan yang menuntut kondisi emosional

yang baik sangat berhubungan dengan rendahnya tingkat kesejahteraan

pekerja secara mental.19

Perempuan lebih berisiko mengalami stress yang dapat berdampak

pada timbulnya penyakit akibat stress serta tingginya keinginan untuk

meninggalkan pekerjaannya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan

18
Skripsi, Selviani Aiska, Analisis Faktor- Faktor yang Berpengaruh Trehadap Stress Kerja Perawat,
Yogyakarta, 2014
19
Koradecka, D. Handbook of Occupational Safety and Health. United States of America, 2010
66

perempuan rentan mengalami stress kerja, yaitu: Perempuan memiliki

peran dominan dalam merawat keluarga total beban kerja perempuan

lebih tinggi dibandingkan laki-laki, tingkatan untuk mengontrol pekerjaan

cenderung rendah karena sebagian besar perempuan menempati jabatan di

bawah laki-laki.20

Rekomendasi penelitian ini yaitu membatasi jumlah keluarga pasien

yang ingin mendampingi pasien di ruang IGD atau melarang keluarga

pasien untuk mendampingi pasien kecuali keluarga pasien sangat

diperlukan untuk mendampingi pasien, agar ruang IGD tidak penuh dan

menghambat ruang gerak perawat dalam menangani pasien yaitu dengan

cara setiap orang yang akan masuk ke ruang IGD harus memiliki ID Card

yang sudah dilengkapi dengan system akses kontrol atau smart card untuk

akses masuk ke ruang IGD, atau yang lebih aman dengan system sidik jari

(finger print), dengan cara mengscan sidik jari para perawat dan petugas

Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan sehingga yang

dapat akses masuk ke IGD hanya perawat dan petugas yang berwenang.

Sehingga dengan cara ini, keluarga pasien dan orang yang tidak

berkepentingan tidak dapat masuk ke IGD. Selain itu, menambah ruang

perawatan agar pasien segera ditindak lanjuti dan tidak banyak yang

bermalam di IGD. Dengan hal ini, dapat mengurangi stress kerja perawat,

karna ruang kerja yang nyaman, tidak penuh, tenang dan tidak

mengganggu ruang gerak perawat, akan menimbulkan unjuk kerja yang

20
ILO, 2010
67

positif dari perawat itu sendiri karena melakukan pekerjaan dengan di

dukung oleh lingkungan yang nyaman juga.

2. Beban Kerja

Dari data yang didapat diperoleh nilai mean sebesar 46,16 dengan

nilai standar deviasi 5,395. Sehingga dapat di kategorikan menjadi beban

kerja ringan yaitu < 40,76 , beban kerja sedang yaitu 40,76 – 51,55 dan

beban kerja berat yaitu > 51,55. Jadi hasil distribusi beban kerja dapat

dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.2
Distribusi Kategori Beban Kerja
Beban Kerja Jumlah Persentase
Ringan (< 40,76) 4 12,5%
Sedang (40,76 – 51,55) 22 68,75%
Berat (> 51,55) 6 18,75%
Total 32 100%

Dari tabel 5.2 di atas, maka dapat disebutkan bahwa beban kerja

perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan lebih

banyak yang berat yaitu 18,75%.

Menurut peneliti, beban kerja yang berat tersebut muncul karena

kurangnya jumlah tenaga perawat yang ada di IGD Rumah Sakit PELNI

Petamburan yang hanya berjumlah 32 orang perawat sedangkan rata-rata

pasien yang datang setiap harinya berjumlah 70-80 bahkan hingga 100

pasien perhari. Menurut perhitungan tenaga perawat yang berlaku di

Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan jumlah

kebutuhan tenaga perawat jika dilihat dari rata-rata jumlah pasien yang

datang sebanyak 80 pasien/hari, jumlah perawat yang dibutuhkan


68

sebanyak 59 orang perawat, dari perhitungan jumlah tenaga perawat di

IGD Rumah Sakit PELNI Petamburan dapat dilihat kurangnya tenaga

perawat sebanyak 27 orang perawat. Selain itu, jika ruang rawat inap,

ICU dan ruang perawatan lainnya penuh, maka pasien yang harusnya di

tangani lebih lanjut di ruang rawat inap, ICU atau ruang perawatan

lainnya, harus tetap di tangani di IGD sampai ruang perawatan kosong

atau tersedia. Banyaknya pasien yang bermalam di IGD dengan kondisi

pasien yang gawat serta perlu penanganan dan pengawasan yang ketat

oleh perawat menyebabkan bertambahnya tuntutan pekerjaan dalam

menangani pasien. Hal ini menjadi beban kerja tambahan kepada perawat

untuk memantau pasien - pasien yang bermalam di IGD selama pasien

belum mendapat ruang perawatan.

Beban kerja adalah kemampuan tubuh dalam menerima pekerjaan.

Dari sudut pandang ergonomi setiap beban kerja yang diterima seseorang

harus sesuai dan seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan

kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut.21

Berdasarkan hasil pengumpulan data responden, dapat diketahui

bahwa perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI

Petamburan lebih banyak yang berumur ≥ 30 tahun yaitu 19 orang.

Banyaknya perawat yang berumur diatas 30 tahun, lebih rentan terkena

stress karena penurunan kekuatan otot akibat beban kerja yang berlebih

yaitu menghadapi banyaknya pasien yang datang untuk segera ditangani

dan pasien yang kondisinya gawat memerlukan pengawasan yang ketat

21
Munandar, Stress dan Keselamatan Kerja, Universitas Indonesia, 2001
69

dan terus menerus sehingga dengan banyaknya beban kerja perawat ini,

perawat akan rentan merasakan stress kerja baik berupa gejala fisik,

psikologis maupun perilaku.

Faktor yang mempengaruhi beban kerja salah satunya adalah faktor

internal, faktor internal di antaranya adalah umur. Umur baik pria maupun

wanita kekuatan maksimal tercapai pada umur 20-30 tahun dimana

penampang lintang ototnya paling besar. Sesudah itu terjadi penurunan

progresif dari kekuatan otot dan kemudian berangsur-angsur menurun.22

Rekomendasi penelitian ini adalah menambah jumlah perawat yang

ada di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan sebanyak

27 orang perawat. Syarat untuk menjadi seorang perawat IGD yaitu

lulusan D3 keperawatan, S.kep atau Nurse dan perawat telah bersertifikat

pelatihan PPGD (Penanggulangan Pasien Gawat Darurat) atau BTCLS

(Basic Trauma Cardiac life support) sehingga banyak perawat di Instalasi

Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan yang dapat melakukan

triage, untuk perawat pelaksana minimal harus mempunyai pengalaman 1

tahun di ruang rawat inap. Selain menambah jumlah tenaga perawat, yang

harus ditambah lagi adalah jumlah bangunan gedung perawatan sehingga

pasien yang perlu dirawat segera mendapatkan perawatan intensif di

ruang rawat inap dan tidak banyak pasien yang bermalam di IGD karena

setiap harinya banyak pasien yang datang dalam jumlah yang banyak

dengan kondisi pasien yang berbeda-beda dan perlu penanganan sesegera

mungkin.

22
Manuaba, Ergonomi, Kesehatan Keselamatan Kerja (Surabaya: PT.Guna Widya, 2000)
70

B. Analisa Bivariat (Hasil Uji Statistik Hubungan Beban Kerja Perawat

Dan Stress Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat RS.PELNI

Petamburan)

Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson Product Moment terhadap

beban kerja dengan stress kerja perawat diperoleh besar nilai P-value

(Sig.) yang besanya 0,016 yang dibandingkan dengan nilai α = 5% dimana

nilai P-value < 0,05 sehingga Ho ditolak atau ada hubungan yang

signifikan antara beban kerja perawat dengan stress kerja perawat di

Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan.

Untuk menentukan keeratan hubungan atau korelasi antara variabel

tersebut, dapat dilihat dari nilai koefisien korelasi (KK) yaitu 0,421 yang

berarti korelasi cukup berarti atau sedang. Nilai koefisien korelasi (r)

antara kedua variabel adalah korelasi positif antara beban kerja dengan

stress kerja.

Adanya hubungan antara beban kerja dan stress kerja perawat di

Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan dapat

disebabkan karena banyaknya tuntutan oleh pasien dan keluarga pasien

kepada perawat, dan tenaga perawat yang ada tidak sebanding dengan

banyaknya jumlah pasien yang datang. Selain itu, banyaknya pasien yang

bermalam di IGD karena ruang perawatan untuk menindak lanjuti keadaan

pasien tidak tersedia atau penuh, sehingga beban kerja perawat bertambah

dan menimbulkan stress kerja bagi perawat.

Beban kerja merupakan sesuatu yang muncul dari interaksi antara

tuntutan tugas dengan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Ketika


71

beban kerja berlebih dan individu tidak dapat mengatasinya maka akan

menimbulkan stres dalam bekerja. Hal ini sama dengan yang dikemukakan

oleh Haryanti (2013) bahwa akibat negatif dari meningkatnya beban kerja

adalah kemungkinan timbul emosi perawat yang tidak sesuai dengan yang

diharapkan pasien. Perawat merasakan bahwa jumlah perawat yang ada

tidak sesuai atau sebanding dengan jumlah pekerjaan yang harus

diselesaikan. Kondisi seperti ini tentu akan memicu munculnya stres kerja.

Rekomendasi penelitian ini untuk mengurangi stress kerja perawat

yaitu membatasi jumlah keluarga pasien yang ingin mendampingi pasien

di ruang IGD atau melarang keluarga pasien untuk mendampingi pasien

kecuali keluarga pasien sangat diperlukan untuk mendampingi pasien, agar

ruang IGD tidak penuh dan menghambat ruang gerak perawat dalam

menangani pasien yaitu dengan cara setiap orang yang akan masuk ke

ruang IGD harus memiliki ID Card yang sudah dilengkapi dengan system

akses kontrol atau smart card untuk akses masuk ke ruang IGD, atau yang

lebih aman dengan system sidik jari (finger print), dengan cara mengscan

sidik jari para perawat dan petugas Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit

PELNI Petamburan sehingga yang dapat akses masuk ke IGD hanya

perawat dan petugas yang berwenang. Sehingga dengan cara ini, keluarga

pasien dan orang yang tidak berkepentingan tidak dapat masuk ke IGD.

Selain itu, menambah ruang perawatan agar pasien segera ditindak lanjuti

dan tidak banyak yang bermalam di IGD. Dengan hal ini, dapat

mengurangi stress kerja perawat, karna ruang kerja yang nyaman, tidak

penuh, tenang dan tidak mengganggu ruang gerak perawat, akan


72

menimbulkan unjuk kerja yang positif dari perawat itu sendiri karena

melakukan pekerjaan dengan di dukung oleh lingkungan yang nyaman

juga. Sedangkan rekomendasi penelitian untuk mengurangi beban kerja

perawat yaitu dengan cara menambah jumlah perawat yang ada di Instalasi

Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan sebanyak 27 orang

perawat. Syarat untuk menjadi seorang perawat IGD yaitu lulusan D3

keperawatan, S.kep atau Nurse dan perawat telah bersertifikat pelatihan

PPGD (Penanggulangan Pasien Gawat Darurat) atau BTCLS (Basic

Trauma Cardiac life support) sehingga banyak perawat di Instalasi Gawat

Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan yang dapat melakukan triage,

untuk perawat pelaksana minimal harus mempunyai pengalaman 1 tahun

di ruang rawat inap. Selain menambah jumlah tenaga perawat, yang harus

ditambah lagi adalah jumlah bangunan gedung perawatan sehingga pasien

yang perlu dirawat segera mendapatkan perawatan intensif di ruang rawat

inap dan tidak banyak pasien yang bermalam di IGD karena setiap harinya

banyak pasien yang datang dalam jumlah yang banyak dengan kondisi

pasien yang berbeda-beda dan perlu penanganan sesegera mungkin.


73

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan

untuk mengetahui hubungan beban kerja perawat dan stress kerja

perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PELNI Petamburan,

maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1) Stress kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit

PELNI Petamburan lebih banyak yang berat yaitu 15,6%.

2) Beban kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit

PELNI Petamburan lebih banyak yang berat yaitu 18,75%

3) Ada hubungan yang signifikan antara beban kerja perawat dengan

stress kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit

PELNI Petamburan.

B. SARAN

1) Membatasi jumlah keluarga pasien yang ingin mendampingi pasien

di ruang IGD atau melarang keluarga pasien untuk mendampingi

pasien kecuali sangat diperlukan, yaitu dengan cara setiap orang

yang akan masuk ke ruang IGD harus memiliki ID Card yang

sudah dilengkapi dengan system akses kontrol atau smart card

untuk akses masuk ke ruang IGD, atau yang lebih aman dengan
74

system sidik jari (finger print), dengan cara mengscan sidik jari

para perawat dan petugas Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit

PELNI Petamburan sehingga yang dapat akses masuk ke IGD

hanya perawat dan petugas yang berwenang.

2) Menambah jumlah perawat yang ada di Instalasi Gawat Darurat

Rumah Sakit PELNI Petamburan sebanyak 27 orang perawat

sehingga pelayanan keperawatan berjalan dengan optimal.

3) Menambah ruang rawat inap agar pasien segera di tindak lanjuti

dan tidak banyak yang bermalam di IGD.