Anda di halaman 1dari 8

NOTULEN FGD SOSIALISASI

PERMENKES 30/2019 TENTANG KLASIFIKASI DAN


PERIJINAN RUMAH SAKIT
Tempat : Auditorium RS YARSI
Waktu : 7 Oktober 2019, Pukul 13.00 s,d 16.00 Wib
Narasumber : 1. Dr. Bambang Wibowo, SpOG (K) MARS (Dirjen Yankes Kemkes)
2. Sundoyo, SH, MH (Ka Biro Hukum Kemkes)
Moderator : Dr. Tonang Dwi Aryanto, SpPK, PhD
Notulen : Fajaruddin S
Peserta Rapat Hadir :

1. Pengurus PERSI
2. PERSI Daerah/Wilayah
3. Asosiasi Rumah Sakit
4. IDI
5. Perhimpunan Spesialis
6. Dinas Kesehatan DKI
7. Rumah Sakit anggota PERSI
8. BPJS Kesehatan (observer)
9. 1557 peserta webinar
10. 850 streaming youtube

FGD sosialisasi Permenkes 30/2019 di buka oleh ketua PERSI jam 13.30 wib, dengan membaca
Basmalah

A. Arahan Ketua PERSI :

1. Kegiatan FGD ini merupakan peran PERSI untuk berkontribusi dalam mensosialisasikan
regulasi dan memberikan kepastian hukum

2. Semoga dengan FGD ini, semua stakeholder pelayanan kesehatan, khususnya Rumah
Sakit paham maksud dan tujuan dari Permenkes 30/2019, sehingga diskusi,
pertanyaan dan perdebatan yang ramai belakangan ini terjawab

3. Semoga dengan FGD ini, di peroleh masukan positif untuk penyempurnaan Permenkes
30/2019
B. SOSIALISASI PERMENKES 30/2019

I. PAPARAN DIRJEN PELAYANAN KESEHATAN

1. Materi paparan terlampir

2. Akses, mutu pelayanan dan sistem rujukan menjadi bagian penting dari
Permenkes30/2019

3. UU 44/2009 tentang Rumah Sakit dan Pelpres 72/2012 tentang Sistem Kesehatan
Nasional menjadi landasan hukum penyusunan Permenkes 30/2019 khususnya
terkait SDM

4. Kemenkes punya data lengkap tentang jumlah dan distribusi spesialis dan sub
spesiali. Data tersebut menggambarkan bahwa banyak dokter sub spesialis di RS
kelas C, sementara di RS kelas B dan RS kelas A belum terpenuhi. Dengan
kondisi distribusi dokter sub spesialis yang demikian menyebabkan sistem rujukan
tidak berjalan dengan baik.

5. Dengan Permenkes 30/2019, diharapkan terjadi pemerataan dokter spesialis dan


sub spesialis.

6. Diharapkan pemerataan dokter spesialis dan sub spesialis dapat memenuhi


kompetensi sesuai kelas RS, sehingga mutu layanan terpenuhi dan sistem rujukan
bisa berjalan dengan baik

7. Ada 6 Regulasi yang harus di revisi dengan terbitnya Permenkes 30/2019, yaitu :

a) Permenkes 001/2012, tentang rujukan

b) Permenkes 2052/2011, tentang ijin praktek

c) Kepmenkes 1069/2008, tentang klasifikasi dan standar RS Pendidikan

d) Permenkes 812/2010,tentang penyelenggaraan pelayanan dialisis

e) Kepmenkes 373/2019, tentang reviu kelas → pedoman penetapan dan


reviu kelas

f) KepDirjen tentang Alat kesehatan RS


II. PAPARAN KA. BIRO HUKUM KEMKES

1. Materi paparan terlampir

2. 30/2019 terdiri dari dua bagian besar yaitu, klasifikasi RS dan perijianan RS

3. Permenkes 30/2019 merupakan :

a) Amanah pasal 24 dan pasal 28 UU 44/2009 tentang Rumah Sakit

b) Upaya penataan sistem rujukan kesehatan perorangan

c) Memberikan perlindungan hukum kepada RS dan pasien

4. Bentuk RS terdiri dari : RS Statis, RS bergerak dan RS lapangan

5. Jenis RS terdiri dari RS Umum dan RS Khusus (pelayanan rawat inap di luar
kekhususannya harus 40 % dari jumlah kapasitas tempat tidur)

6. RS Umum terdiri dari RS kelas A, kelas B, kelas C dan kelas D

7. Untuk RS kelas D, minimal harus terpenuhi 2 spesialis dasar (spesialis penyakit


dalam dan spesialis anak)

8. RS Khusus terdiri dari RS khusus kelas A, RS khusus kelas B dan RS khusus


kelas C (khusus RSIA)

9. RS khusus ada 14 jenis, penetapan jenis kekhususan oleh Menteri Kesehatan.

10. SDM harus terpenuhi 75 % dan Sapras harus terpenuhi 60 %

11. Dengan ketentuan SDM 75 % dan Sapras 60 % harus terpenuhi, pada riviu kelas
yang dilaksanakan berdasarkan Kepmenkes 373/2019, masih ada 195 RS yang
harus turun kelas.

12. Permenkes 30/2019 memperjelas kemampuan dan kompetensi pelayanan RS tiap


kelasnya, termasuk komposisi tempat tidur

13. Pada Permenkes 30/2019, kompetensi spesialis dan sub spesialis dengan jelas di
uraikan. Dokter Sub spesialis hanya diperbolehkan di RS kelas A dan kelas B

14. Pada pasal 19 Permenkes 30/2019, Penambahan layanan di perbolehkan dengan


batasan tertentu berdasarkan rekomendasi Dinas Kesehatan provinsi

15. Perijinan RS mempergunakan sistem Online Single Submission (OSS)

16. Pada sistem OSS ada komitmen yang harus di penuhi


17. Perijinan RS terdiri atas :

a) Ijin Pendirian

b) Ijin Operasional

c) Ijin pelayanan kesehatan tertentu

18. Perubahan perijinan harus dilakukan bila terjadi perubahan :

a) Badan hukum

b) Nama RS

c) Kepemilikan modal

d) Jenis RS

e) Alamat RS

f) Kelas RS

19. RS PMA di batasi khusus untuk RS kelas A dan B dengan minimal jumlah tempat
tidur 200 tempat tidur

20. Modal Asing pada RS PMA maksimal 67 %

21. Ketentuan pada lampiran Permenkes 30/2019 :

a) Tanda (+) : harus ada

b) Tanda (-) : Tidak boleh ada, kecuali atas rekomendasi Dinkes sampai batas
tertentu

c) Tanda (+/-) : Boleh ada boleh tidak sesuai analisis beban kerja dan
ketersediaan SDM

22. Analisis beban kerja dan utilisasi menjadi dasar penentuan tanda +/-

23. Riviu kelas bisa dilakukan oleh Kemenkes atau BPJS Kesehatan (kredensial/re-
kredensial)

24. Kredensial atau re-kredensial BPJS Kesehatan untuk PKS 2020 memakai
Permenkes 56/2014

25. Masa transisi pada pasal 30 Permenkes 30/2019, untuk SDM selama 1 tahun dan
untuk peralatan tertentu selama 10 tahun.
C. DISKUSI :

1. Drg Susi (Ketua ARSSI)

a) Jumlah RS Swasta 64 % dari jumlah RS

b) Mayoritas RS Swasta kelas C

c) Permenkes 30/2019 akan menimbulkan pemutusan kerja sama antara RS dengan


beberapa dokter spesialis dan dokter sub spesialis, khususnya di RS kelas C.

Kemana dokter spesialis dan sub spesialis tersebut akan di distribusikan ?

Demikian juga dengan peralatan medis yang sudah di investasikan mau di apakan
peralatan tersebut ?

d) Harus ada jaminan, sampai masa transisi selesai, BPJS Kesehatan tetap bayar
pelayanan yang sudah di berikan

e) Pada RS tipe C dan D tidak boleh dokter sub spesialis, bagaimana dengan
pelayanan ICU, NICU dan PICU ?

2. Dr Slamet Budiarto (PB IDI dan ARSAMU)

a) Dampak dari Permenkes 30/2019 tidak hanya terjadi pada dokter spesialis dan sub
spesialis, namun juga pada tenaga kesehatan lainnya. Hal ini tidak mudah karena
menyangkut permasalahan kepegaiwaian dan keluarganya.

b) Pelayanan HD 82 % dilakukan di RS kelas C dan RS kelas D serta klinik utama.


Dengan Permenkes30/2019, pelayanan HD tidak di perbolehkan lagi. Bagaimana
jalan keluarnya ?

c) Di Australia, pelayanan HD pada tingkat kecamatan

d) SIP dokter hanya ada dokter umum dan dokter spesialis, tidak ada SIP dokter sub
spesialis. Pada UU praktek kedokteran juga tidak ada dokter sub spesialis.

e) Transisi RS yang ingin naik kelas berapa lama ?

3. Drg Dedi K (PDGI)

a) Pelayanan bedah mulut, kenapa di batasi hanya di RS kelas A dan RS kelas B,


sementara kasus emergency pada gigi dan mulut lebih banyak di RS kelas C

b) Semestinya pengaturan distribusi dokter spesialis dan sub spesialis berdasarkan


pelayanan bukan kelas RS
4. Asosiasi RS Gigi dan Mulut

a) Jumlah dokter sub spesialis pada gigi dan mulut masih kurang

b) Akses ke dokter spesialis dan sub spesialis harus di dekatkan

5. Pehimpunan dokter spesialis Bedah Syaraf

a) Permenkes 30/2019 merupakan kemunduruan, karena spesialis bedah syaraf tidak


boleh di RS kelas C, sementara kasus emergency syaraf banyak terjadi di RS
kelas C

6. RS Universitas Andalas (RS Pendidikan)

a) Dengan Permenkes 30/2019, RS PTN di dorong untuk menjadi RS kelas B,


sementara untuk kepentingan pendidikan dokter, kasusnya lebih banyak di RS
kelas C

b) Harus ada regulasi yang mendorong agar RS PTN menjadi RS kelas B

7. Dinas Kesehatan DKI

a) Berharap agar RS kelas C masih di perbolehkan memberikan pelayanan critical


care, karena kebutuhan critical care sangat tinggi khususnya di DKI Jakarata

b) Harus di pikirkan dampat terjadinya fraud karena Permenkes 30/2019

c) Pemda DKI sedang merencakan membuat UPT Jamkesda untuk mengakomodir


apabila ada pelayanan kesehatan yang tidak di jamin BPJS Kesehatan

8. DR. Luthfi Hakim (Komp Hukum PERSI)

a) Siapa yang berwenang menentukan/memutuskan kemungkinan terjadinya


ketidakpastian hukum akibat Permenkes 30/2019 ?

b) Kenapa BPKP bisa menyatakan tidak layak pada klaim RS dan di tindaklanjuti
oleh BPJS Kesehatan dengan meminta RS mengembalikan pembayaran

c) Komitmen pada OSS harus jelas kepastiannya

d) Klausul paling sedikit dan paling banyak harus di perjelas agar tidak multi tafsir

9. Dr. Hadi (PERSI Banten)

a) Mengejar kecukupan dokter spesialis dan sub spesialis, agar mempermudah


dokter yang mau kulliah di luar negeri dan penyesuaiannya
b) Di butuhkan kepastian hukum agar klaim RS ke BPJS Kesehatan tidak
bermasalah.

D. TANGGAPAN :

1. Dirjen Pelayanan Kesehatan

a) Permenkes 30/2019 untuk memastikan mutu layanan terpenuhi, sistem rujukan


berjalan baik termasuk pelayanan HD, critical care dan emergency

b) Kemkes akan mengikuti keputusan organisasi profesi terkait di RS mana dokter


spesialis dan sub boleh memberikan pelayanan

c) Untuk RS Pendidikan, pendidikan harus mengikuti pelayanan bukan sebaliknya,


pelayanan yang baik akan mendukung proses pendidikan yang baik

d) Status dokter harus jelas, termasuk status kepegawaian berikut hak-haknya

e) Dalam membandingan pelayanan kesehatan di Indonesia dengan negara lain,


jangan hanya parsial tapi harus holistik

f) Kementerian kesehatan telah mengembangkan RS rujukan regional sebagai


bagian dari pembangunan sistem rujukan nasional

g) RS rujukan regional di tetapkan oleh Gubernur

h) Dinas kesehatan yang di daerahnya ada RS rujukan regional kelas C, harus aktif
untuk mempersiapkan RS kelas C tersebut menjadi RS kelas B

2. Direktur Rujukan

a) UU 44/2009 tentang Rumah Sakit dan Pelpres 72/2012 tentang SKN mengatur
dokter sub spesialis harus di RS Tersier, yaitu RS kelas A dan RS kelas B

b) DPJP harus dokter spesialis

c) Revisi Permenkes 001/2012 yang dalam waktu dekat akan terbit, sudah mengatur
sistem rujukan dengan algoritma penyakit dan kompetensi RS

3. Ka Biro Hukum

a) Bila tanda (-) pada lampiran Permenkes 30/2019 bisa di gantikan dengan
rekomendasi Dinas Kesehatan Provinsi atas kajian kebutuhan dan akses
pelayanan kesehatan
b) Dengan OSS, semestinya semua lebih jelas, lebih pasti dan lebih transfaran.
Persyaratan pada PMK 30/2019 masuk dalam komitmen yang harus di penuhi
pada OSS

c) Jenis layanan spesilais dan sub spesialis di atur dalam PMK 30/2019, tapi jumlah
SDM tergantung utilisasi dan kebutuhan

E. KESIMPULAN :

1. Komunikasi dan sinergi antar stakeholder harus berjalan baik


2. Dalam waktu dekat, Kemkes akan melakukan sosialisasi Permenkes 30/2019 ke :
a) IDI
b) Dinas Kesehatan
c) BPJS Kesehatan
3. Pada sosialisasi tersbut akan melibatkan PERSI
4. Permenkes 30/2019 tidak berlaku mundur
5. Kredensial dan re-kredensial pada PKS 2020 mempergunakan Permenkes 56/2004