Anda di halaman 1dari 2

KEBAKARAN LAHAN GAMBUT: KEGAGALAN SEMUA PIHAK DALAM

MENGANTISIPASI KEBERULANGANNYA
Oleh : Nasrudin Dwi Jatmiko
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan masalah klasik yang terjadi secara
berulang-ulang, dengan banyak kasus terjadi pada kawasan dengan tipe tanah gambut. Tanah
gambut ialah tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa fosil tanaman purba, sebagian
mengalami perombakan, mengandung minimal 12 – 18% karbon organik, dengan ketebalan
minimal 50 cm. Gambut memiliki sifat mudah mengering, sehingga dengan mudah mengalami
kebakaran. (Adinugroho et al., 2004). Tebal lahan gambut dapat mencapai kedalaman lebih
dari 800 cm, sehingga menyulitkan dalam melakukan pemadaman apabila terjadi kebakaran
lahan gambut (Noor & Heyde, 2007). Kebakaran lahan dapat disebabkan oleh beberapa faktor,
yakni faktor alam dan faktor manusia, baik sengaja maupun tidak sengaja. Faktor manusia
dianggap menjadi dominan didalam menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Beberapa
tindakan manusia yang dapat menyebabkan kebakaran lahan gambut diantaranya adalah
pembuangan puntung rokok di kawasan lahan gambut serta melakukan pembukaan lahan untuk
perkebunan dengan cara membakar lahan.
Pengelolaan lahan gambut seharusnya menjadi kepedulian semua pihak, tidak hanya
menjadi urusan pemerintah. Ketika terjadi kebakaran lahan, rasanya tidak etis hanya dengan
menyalahkan pemerintah terus menerus. Masyarakat seharusnya menyadari bahwa lahan
gambut menyimpan potensi bahaya yang dapat timbul apabila kondisinya terganggu.
Masyarakat dapat berperan didalam mengelola lahan gambut dan mencegah terjadinya
kebakaran lahan dengan cara tidak membuka lahan untuk perkebunan dengan cara membakar,
meskipun cara tersebut lebih mudah dilakukan. Selain itu, perlu adanya kesadaran masyarakat
untuk mengingatkan sekelilingnya agar tetap merawat ekosistem lahan gambut tersebut.
Masyarakat juga perlu melakukan introspeksi diri dan belajar dari masa lalu.

Dilain sisi, pemerintah terutama pemerintah daerah, perlu mengawasi dengan ketat
keberadaan lahan gambut dan pemanfaatannya. Perlu dilakukan pemetaan secara mendetail
mengenai luasan lahan gambut yang ada di daerahnya, untuk mengurangi konversi lahan
gambut secara berlebihan, utamanya oleh korporasi perkebunan sawit. Selain itu, perlu adanya
sosialisasi menyeluruh kepada masyarakat mengenai krusialnya posisi lahan gambut dalam
kehidupan. Korporasi sebagai pengguna lahan juga tidak boleh sembarangan dalam melakukan
pembukaan lahan. Korporasi harus menjalankan prinsip berkelanjutan didalam melakukan
operasional perusahaan, baik dalam tahap perencanaan hingga tahap pascakonversi lahan.
Korporasi perlu memikirkan cara pembukaan lahan tanpa melakukan pembakaran lahan.

Konklusinya, semua pihak harus melakukan introspeksi dan melakukan perubahan


dalam menyikapi keberadaan lahan gambut. Perlu adanya kerja sama antar semua pihak
didalam menjaga dan merawat lahan gambut, agar kejadian kebakaran lahan gambut tidak
terulang kembali.Sudah cukup masyarakat menderita hingga saat ini, jangan sampai mereka
dan keturunan mereka menderita berkepanjangan akibat kabnt asap hasil kebakaran lahan dan
hutan.
Daftar Pustaka
Adinugroho, W. C., Suryadiputra, I N. N., Saharjo, B. H., & Siboro, L. (2004). Panduan
Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut. Bogor: Wetlands International.
Noor, Y. R. & Heyde, J. (2007). Pengelolaan Lahan Gambut Berbasis Masyarakat di Indonesia.
Bogor: Wetlands International.