Anda di halaman 1dari 33

A.

Konsep Dasar Medik

1. Pengertian

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang


disebabkan Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan
hampir seluruh organ tubuh lainnya. Bakteri ini dapat masuk melalui saluran
pernapasan dan saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Tetapi paling
banyak melalui inhalasi droplet yang berasal dari orang yang terinfeksi
bakteri tersebut. (Sylvia A.price dalam Amin & Hardhi, 2015)

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan


oleh Mycobacterium tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis ditularkan
melalui percikan dahak (droplet) dari penderita tuberkulosis kepada individu
yang rentan. Sebagian besar kuman Mycobacterium tuberculosis menyerang
paru, namun dapat juga menyerang organ lain seperti pleura, selaput otak,
kulit, kelenjar limfe, tulang, sendi, usus, sistem urogenital, dan lain-lain.
(Kemenkes RI, 2015)

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh


kuman Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi.
(Price, 2001 dalam Nixson Manurung, 2016)

Tuberkulosis atau TB adalah penyakit infeksius yang terutama


menyerang parenkim paru. Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis yang merupakan salah satu
penyakit saluran pernapasan bagian bawah yang sebagian besar basil
tuberkulosis masuk ke dalam jaringan paru melaluiairbone infection dan
selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon.
(Hood Alsagaff, 1995 dalam Andra & Yessie, 2013)

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh


infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menular langsung
melalui droplet orang yang telah terinfeksi kuman/basil tuberkulosis. (WHO,
2014 dalam Najmah, 2016).
3. Etiologi
Penyebabnya adalah mycobacterium tuberculosis sejenis kuman
berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/Um dan tebal 0,3-0,6/Um. Sifat
kuman:
a. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang
membuat kuman lebih tahan terhadap asam basa (asam alkohol) disebut
bakteri tahan asam (BTA).
b. Kuman tahan terhadap gangguan kimia dan fisis
c. Kuman dapat hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin.
d. Kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni dalam sitoplasma
makrofag karena makrofag banyak mengandung lipid.
e. Kuman bersifat aerob, kuman lebih menyukai jaringan yang tinggi
kandungan oksigennya. (Nixson Manurung, 2016)
Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium Tuberculosa. Basil ini
tidak berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan, sinar matahari,
dan sinar ultraviolet. Ada dua macam Mycobacteria Tuberculosis yaitu tipe
Human dan tipe Bovin. Basil tipe Human bisa berada dibercak ludah (droplet)
dan di udara yang berasal dari penderita TBC, dan orang yang terkena rentan
terinfeksi bila menghirupnya. (Wim de Jong dalam Amin & Hardhi, 2015)
Setelah organisme terinhalasi, dan masuk paru-paru bakteri dapat
bertahan hidup dan menyebar kenodus limfatikus lokal. Penyebaran melalui
aliran darah ini dapat menyebabkan TB pada orang lain, dimana infeksi laten
dapat bertahan sampai bertahun-tahun. (Patrick Davey dalam Amin & Hardhi,
2015)
Agen infeksius utama, mycobacterium culosis adalah batang aerobik
tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan
sinar ultraviolet. (Andra & Yessie, 2013)
Mary DiGiulio, dkk (2014) menjelaskan tentang etiologi tuberkulosis
adalah sebagai berikut:
Penyakit infeksi yang menyebar dengan rute naik di udara. Infeksi disebabkan
oleh penghisapan air liur yang berisi bakteri tuberkulosis. Seorang yang
terkena infeksi dapat menyebarkan partikel kecil malalui batuk, bersin, atau
berbicara. Berhubungan dekat dengan mereka yang terinfeksi meningkatkan
kesempatan untuk transmisi. Begitu terhisap, organisme secara khas diam di
dalam paru-paru, tetapi dapat menginfeksi organ tubuh lainnya. Organisme
mempunyai kapsul sebelah luar.
TB primer terjadi ketika pasien pada awalanya terkena
infeksi mycobacterium. Setelah dihirup ke dalam paru-paru, organisme
penyebab suatu reaksi dilokalisir. Ketika makrofag dan T-
Lymphocytes berusaha mengisolasikan dan memusnahkan mycobacterium di
dalam paru-paru, kerusakan juga disebabkan jaringan paru-paru.
Lukagranulomatous yang berkembang berisi mycobacterium, makrofag, dan
sel lain. Perubahan necrotic terjadi di dalam luka ini. Granuloma berkembang
sepanjang getah bening sepanjang waktu yang sama. Area ini menciptakan
kompleks Ghon yang merupakan kombinasi dari area yang pada awalnya
terkena infeksi basil yang naik di udara yang disebut fokus Ghon dan luka
geta bening. Mayoritas orang dengan infeksi baru dan sistem imun yang baik
akan menderita infeksi laten. Penyakit tidak aktif pada kondisi seperti ini dan
tidak akan ditularkan. Pada pasien dengan respon inum kurang baik,
tuberkulosis akan progresif, kerusakan jaringan paru-paru terus berlangsung,
dan area lain paru-paru juga akan terkena.
Pada TB sekunder, penyakit diaktifkan pada tahap kemudian. Pasien
mungkin terinfeksi kembali dari air liur, atau dari luka utama sebelumnya.
Karena pasien telah sebelumnya terinfeksi TB, respon imun akan dengan
cepat membatasi infeksi. Area berongga ini terjadi ketika seseorang kontak
dengan seseorang yang dicurigai atau dinyatakan menderita TB. Pasien ini
tidak mempunyai tes kulit positif, gejala atau tanda penyakit, atau perubahan-
perubahan sinar x pada dada. Mereka bisa jadi atau bisa juga tidak mengidap
tuberculin positif, namun tidak ada gejala penyakit. Rontgen dada mungkin
menunjukkan granuloma atau klasifikasi.
4. Klasifikasi
Andra dan Yessie (2013) menjelaskan klasifikasi TB paru adalah
sebagai berikut:
Klasifikasi TB paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik
dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting karena merupakan
salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi. Sesuai dengan
program Gerdunas P2TB klasifikasi TB paru dibagi sebagai berikut:
a. TB paru BTA positif dengan kriteria:
1) Dengan atau tanpa gejala klinik
2) BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali
disokong biakan positif 1 kali atau disokong radiologik positif 1 kali
3) Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru
b. TB paru BTA negatif dengan kriteria:
1) Gejala klinik dan gambaran radiologik sesuai dengan TB paru aktif
2) BTA negatif, biarkan negatif tetapi radiologik positif
c. Bekas TB paru dengan kriteria
1) Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif
2) Gejala klinik tidak ada atau gejala sisa akibat kelainan paru
3) Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan
serial foto yang tidak berubah
4) Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).
Klasifikasi menurut American Thoracic Society dalam Amin dan Hardhi
(2015), adalah sebagai berikut:
a. Kategori 0: tidak pernah terpajan, dan tidak terinfeksi, riwayat kontak
negatif, tes tuberculin negatif.
b. Kategori 1: terpajan tuberkulosis, tapi tidak terbukti ada infeksi. Disini
riwayat kontak positif, tes tuberculin negatif.
c. Kategori 2: terinfeksi tuberkulosis, tetapi tidak sakit. Tes tuberculin
positif, radiologis dan sputum negatif.
d. Kategori 3: terinfeksi tuberkulosis dan sakit
Sedangkan menurut WHO 1991 TB dibagi dalam 4 kategori yaitu:
(Sudoyo Aru dalam Amin & Hardhi, 2015).
a. Kategori 1, ditujukan terhadap:
1) Kasus baru dengan sputum positif
2) Kasus baru dengan bentuk TB berat
b. Kategori 2, ditujukan terhadap:
1) Kasus kambuh
2) Kasus gagal dengan sptum BTA positif
c. Kategori 3, ditujukan terhadap:
1) Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang luas
2) Kasus TB ekstra paru selain yang disebut dalam kategori
d. Kategori 4, dutujukan terhadap: TB kronik
5. Insiden

Angka pravalensi tuberkulosis pada tahun 2014 sebesar 647/100.000


penduduk meningkat dari 272/100.000 penduduk pada tahun sebelumnya,
angka insiden tahun 2014 sebesar 399/100.000 penduduk dari sebelumnya
sebesar 183/100.000 penduduk pada tahun 2013, demikian juga dengan angka
mortalitas pada tahun 2014 sebesar 41/100.000 penduduk, dari 25/100.000
penduduk pada tahun 2013. (WHO, Global Tuberculosis Report, 2015)

Angka notifikasi kasus baru tuberkulosis paru terkonfirmasi


bakteriologis pada tahun 2015 di Indonesia sebesar 74 per 100.000 penduduk,
menurun dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 77 per 100.000 penduduk.
Sedangkan angka notifikasi seluruh kasus tuberkulosis pada tahun 2015
sebesar 130 per 100.000 penduduk meningkat dibandingkan tahun 2014
sebesar 129 per 100.000 penduduk. (Kemenkes RI, 2015)
Menurut catatan medical record RSUD Latemmamala Soppeng pada
tahun 2015 penderita TB untuk rawat inap yaitu 45 orang dimana penderita
laki-laki sebanyak 21 orang (46,7%) dan perempuan sebanyak 24 orang
(53,3%). Pada tahun 2016 penderita TB pada rawat inap yaitu 41 orang
dimana penderita laki-laki sebanyak 25 orang (60,9%) dan perempuan
sebanyak 16 orang (39%). Pada tahun 2017 bulan Januari-Juni penderita TB
untuk rawat inap yaitu 45 orang dimana penderita laki-laki sebanyak 28
orang (62,2%) dan perempuan sebanyak 17 orang (37,7).

6. Patofisiologi
Andra dan Yessie (2013) menjelaskan tentang patofisiologi dari
penyakit TB adalah sebagai berikut:
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveoli biasanya diinhilasi sebagai
suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil karena gumpalan yang lebih
besar cenderung tertahan di rongga hidung dan tidak menyebabkan penyakit.
Setelah berada dalam ruang alveolus (biasanya dibagian bawah lobus atas
atau dibagian atas lobus bawah) basil tuberkulosis ini membangkitkan reaksi
peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan
memfagosit bakteri tetapi tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-
hari pertama maka leukosit diganti olehmakrofag. Alveoli yang terserang akan
mengalami konsolidasi dan timbul gejala-gejala pneumonia akut. Pneumonia
seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya tanpa menimbulkan kerusakan
jaringan paru atau proses dapat berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau
berkembang biak didalam sel. Basil juga menyebar melalui kelenjar limfe
regional. Makrofag yang mengalami infiltrasi menjadi lebih panjang dan
sebagian bersatu sehingga membentuk seltuberkel epiteloid yang dikelilingi
oleh limfosit. Reaksi ini biasanya berlangsung selama 10-20
hari. Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat
seperti keju, lesi nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang
mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi dan sekitarnya yang
terdiri dari sel epiteloid dan fibroblasmenimbulkan respon berbeda. Jaringan
granulasi menjadi lebih fibrosa, membentuk jaringan parut yang akhirnya
membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
Lesi primer paru-paru disebut fokus Ghon dan gabungan terserangnya
kelenjar limfe regional dan lesi primer dinamakan kompleks Ghon.
Kompleks Ghon yang mengalami perkapuran ini dapat dilihat pada orang
sehat yang kebetulan menjalani pemeriksaan bahan cair lepas ke
dalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkularyang dilepaskan
dari dinding kavitas akan masuk ke percabangan trakeobronkial. Proses ini
dapat terulang kembali pada bagian lain dari paru atau basil dapat terbawa
ke laring, telinga tengah atau usus. Kavitas kecil dapat menutup sekalipun
tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan
mereda lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut
yang terdapat dekat dengan perbatasan bronkus. Bahan perkejuan dapat
mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran yang ada dan lesi
mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas. Keadaan ini dapat tidak
menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan
denganbronkus dengan menjadi tempat peradagan aktif. Penyakit dapat
menyebar melalui saluran limfe atau pembuluh darah (limfohematogen).
Organisme yang lolos dari kelenjar limfe akan mencapai aliran darah dalam
jumlah yang lebih kecil yang kadang-kadang dapat menimbulkan lesi pada
berbagai organ lain (ekstrapulmoner). Penyebaran hematogen merupakan
suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberkulosis milier. Ini
terjadi bila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak
organisme masuk ke dalam sistem vaskuler dan tersebar ke dalam sistem
vaskuler ke organ-organ tubuh.
7. Manifestasi klinis
a. Menurut Mary DiGiulio, dkk (2014) tanda dan gejala dari tuberkulosis
yaitu:
1) Berat badan turun dan anoreksia
2) Berkeringat dingin
3) Demam, mungkin golongan yang rendah karena infeksi
4) Batuk produktif dengan dahak tak berwarna, bercak darah
5) Napas pendek karena perubahan paru-paru
6) Lesu dan lelah karena aktivitas paru-paru terganggu
b. Menurut Andra dan Yessie (2013) gambaran klinik TB paru dapat dibagi
menjadi 2 golongan yaitu gejala respiratorik dan gejala sistemik.
1) Gejala respiratorik, meliputi:
a) Batuk
Gejala batuk timbul lebih dini dan merupakan gangguan
yang paling sering dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif
kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada
kerusakan jaringan.
b) Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin
tampak berupa garis atau bercak-bercak darah, gumpalan darah
atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk dahak
terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk
darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang
pecah.
c) Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim sudah luas
atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura,
pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d) Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang
ringan. Gejala ini timbul bila sistem persarafan di pleura terkena.
2) Gejala sitemik, meliputi:
a) Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul
pada sore dan malam hari mirip demam influenza, hilang timbul
dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas
serangan makin pendek.
b) Gejala sistem lain
Gejala sistemik sistem lain ialah keringat malam, anoreksia,
penurunan berat badan serta malaise.
c) Timbulnya keluhan biasanya gradual dalam beberapa minggu-
bulan, akan tetapi penampilan akut dengan batuk, panas, sesak
napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala
pneumonia.
Tuberkulosis paru termasuk insidius. Sebagian besar pasien
menunjukkan demam tingkat rendah, keletihan, anorexia, penurunan
berat badan, berkeringat malam, nyeri dada dan batuk menetap.
Batuk pada awalnya mungkin non produktif, tetapi dapat
berkembang ke arah pembentukan sputum mukopurulen dengan
hemoptisis.
Tuberkulosis dapat mempunyai manifestasi atipikal pada lansia,
seperti perilaku tiada biasa dan perubahan status mental, demam,
anorexia dan penurunan berat badan. Basil TB dapat bertahan lebih
dari 50 tahun dalam keadaan dormain.
c. Soedarto (2013) menjelaskan bahwa gejala klinis yang terjadi
tergantung pada jenis organ yang terinfeksi kuman ini. Infeksi paru-paru
(tuberkulosis paru) akan menimbulkan gejala batuk-batuk kronis yang
berdahak kadang-kadang berdarah (hemoptisis). Meskipun demikian
sering penderita tidak menunjukkan gejala klinis atau keluhan yang nyata
selama bertahun-tahun (asimtomatis).
Gejala umum TBC adalah anoreksia dan penurunan berat badan,
tubuh terasa lelah dan lesu, demam dan sering kedinginan. Pada TBC
kulit, kelainan berupa ulkus atau papul yang berkembang menjadi pustula
yang berawarna gelap.
8. Komplikasi
Nixson Manurung (2016) menjelaskan bahwa penyakit TB paru bila
tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi, yang dibagi
atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut.
a. Komplikasi dini
1) Pleuritis
2) Efusi pleura
3) Emplema
4) Laringitis
5) Menjelar ke organ lain seperti usus
b. Komplikasi lanjut
1) Obstruksi jalan napas: SOPT (Sindrom Obstruksi Pasca
Tuberculosis)
2) Kerusakan arenkim berat: SOPT, fibrosis paru, korpulmonal
3) Amiloidosis
4) Karsinoma paru dan sindrom gagal napas dewasa.
9. Pemeriksaan diagnostik
Menurut Mansjoer, dkk dalam Amin dan Hardhi (2015), pemeriksaan
diagnostik yang dilakukan pada klien dengan Tuberculosis paru, yaitu:
a. Laboratorium darah rutin
LED normal/meningkat, limfositosis
b. Pemeriksaan sputum BTA
Untuk memastikan diagnostik TB paru, namun pemeriksaan ini tidak
spesifik karena hanya 30-70% pasien yang dapat didiagnosis berdasarkan
pemeriksaan ini.
c. Tes PAP (Peroksidase Anti Peroksidase)
Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen
staining untuk menentukan adanya IgH spesifik terhadap basil TB.
d. Tes Mantoux Tuberkulin
Merupakan uji serologi Imunoperoksidase memakai alat histogen
staining untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB.
e. Tekhnik Polymerase Chain Reaction
Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam meskipun
hanya satu mikroorganisme dalam spesimen juga dapat mendeteksi
adanya resistensi.
f. Becton Dickinson diagnostik instrument Sistem (BACTEC)
Deteksi growth indeks berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari
metabolisme asam lemak oleh mykobakterium tuberculosis.
g. MYCODOT
Deteksi antibody memakai antigen liporabinomanan yang direkatkan
pada suatu alat berbentuk seperti sisir plastik, kemudian dicelupkan dalam
jumlah memadai memakai warna sisir akan berubah.
h. Pemeriksaan radiologi
Rontgen thorax PA dan lateral, gambaran foto thorax yang menunjang
diagnosis TB, yaitu:
1) Bayangan lesi terletak di lapangan paru atau segment apikal lobus
bawah.
2) Bayangan berwarna ( patchy ) atau bercak ( nodular)
3) Adanya kavitas, tunggal atau ganda
4) Kelainan bilateral terutama di lapangan atas paru
5) Adanya klasifikasi
6) Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
7) Bayangan milier
Sedangkan menurut Arif Muttaqin (2013) pemeriksaan diagnostik
pada TB paru adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Rontgen Thoraks
Pada pemeriksaan rontgen thoraks, sering didapatkan adanya
suatu lesi sebelum ditemukan adanya gejala subjektif awal dan sebelum
pemeriksaan fisik menemukan kelainan pada paru. Bila pemeriksaan
Rontgen menemukan suatu kelainan, tidak ada gambaran khusus
mengenai TB paru awal kecuali lokasi di lobus bawah dan biasanya ada
disekitar hilus. Kerakteristik kelainan ini terlihat sebagai daerah
bergaris-garis opaque yang ukurannya bervariasi dengan batas lesi yang
tidak jelas.
b. Pemeriksaan CT Scan
Dilakukan untuk menemukan hubungan kasus TB inaktif/stabil
yang ditunjukkan dengan adanya gambaran garis-garis fibrotik ireguler,
pita parenkimal, klasifikasi nodul, dan adenopati, perubahan
kelengkungan berkas bronkhovaskuler, bronkhiektasis, dan emfisema
perisikatriksial.
c. Radiologis TB Paru Milier
TB paru milier terbagi menjadi dua tipe, yaitu TB
paru milier akut dan TB paru milier subakut (kronis). Penyebaran milier
terjadi setelah infeksi primer. TB milier akut diikuti oleh invasi
pembuluh darah secara masif/menyeluruh serta mengakibatkan penyakit
akut yang berat dan sering disertai akibat yang fatal sebelum
penggunaan OAT.
Pada beberapa klien, didapatkan bentuk berupa granul-granul
halus atau nodul-nodul sangat kecil yang menyebar secara difus dikedua
lapangan paru. Pada saat lesi mulai bersih, terlihat gambaran nodul-
nodul halus yang tak terhitung banyaknya dan masing-masing berupa
garis-garis tajam.
d. Pemeriksaan Laboratorium
Bahan pemeriksaan untuk isolasi mycobacterium tuberculosis berupa:
1) Sputum
Sebaiknya sputum diambil pada pagi hari dan yang pertama keluar.
Jika sulit didapatkan maka sputum dikumpulkan dalam 24 jam.
2) Urine
Urine yang diambil adalah urine pertama di pagi hari atau urine
yang dikumpulkan selama 12-24 jam.
3) Cairan kumbah lambung
Umumnya bahan pemeriksaan ini digunakan jika anak-anak atau
klien tidak dapat mengeluarkan sputum. Diambil pada pagi hari
sebelum sarapan.
4) Bahan-bahan lain
Misalnya pus, cairan serebrospinal (sum-sum tulang belakang),
cairan pleura, jaringan tubuh, feses, dan swab tenggorok.
10. Penatalaksanaan medik
a. Pengobatan
Andra dan Yessie (2013) menjelaskan tentang cara pengobatan
penyakit tuberkulosis adalah sebagai berikut:
Tujuan pengobatan pada penderita TB paru selain untuk mengobati
juga mencegah kematian, mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap
OAT serta memutuskan mata rantai penularan.
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif
(2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan
terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Jenis obat utama yang sesuai
dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisan, INH, Pirasinamid,
Streptomisin dan Etambutol. Sedang jenis obat tambahan
adalah Kanamisin, Kuinolon, Makrolide, Amoksisilin + asam klavulanat,
derivat Rifampisin/INH, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 1
Obat Anti TB serta cara kerja potensi dan dosisnya
Rekomendasi dosis
Obat Anti (mg/kg BB)
Aksi Potensi
TB Esensial Per Perminggu
hari 3x 2x
Isoniazid Bakterisidal Tinggi 5 10 15
Rifamphisin Bakterisidal Tinggi 10 10 10
Pirasinamid Bakterisidal Rendah 25 35 50
Streptomisin Bakterisidal Rendah 15 15 15
Etambutol Bakteriostatik rendah 15 30 45
Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu
bedasarkan lokasi tuberkulosa, berat ringannya penyakit, hasil
pemeriksaan bakteriologik, hapusan dahak dan riwayat pengobatan
sebelumnya. Disamping itu perlu pemahaman tentang strategi
penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment
Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oeh WHO yang terdiri dari
lima komponen yaitu:
1) Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan
dalam penanggulangan TB.
2) Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik
langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan
radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang
memiliki sarana tersebut.
3) Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan
pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO)
khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat
setiap hari.
4) Kesinambungan ketersediaan padua OAT jangka pendek yang cukup
5) Pencatatan dan pelaporan yang baku.
b. Pencegahan
Menurut Najmah (2016) berikut ini merupakan pencegahan primer,
sekunder, dan tersier tuberkulosis.
1) Pencegahan primer
a) Tersedia sarana-saran kedokteran, pemeriksaan penderita,
kontak atau suspect gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan
pengobatan dini bagi penderita, kontak, suspect, perawatan.
b) Petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang
penyakit TB yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat
yang ditimbulkannya.
c) Pencegahan pada penderita dapat dilakukan dengan menutup
mulut sewaktu batuk dan membuang dahak tidak disembarangan
tempat.
d) Pecegahan infeksi dengan cuci tangan dan praktek menjaga
kebersihan rumah harus dipertahankan sebagai kegiatan rutin.
Dekontaminasi udara dengan cara ventilasi yang baik dengan
bisa ditambahkan dengan sinar UV.
e) Imunisasi orang-orang kontak
Tindakan pencegahan bagi orang-orang sangat dekat (keluarga,
perawat, dokter, petugas kesehatan lain) dan lainnya yang
terindikasi dengan vaksin BCG dan tindak lanjut bagi positif
yang tertular.
f) Mengurangi dan menghilangkan kondisi sosial yang
mempertinggi risiko terjadinya infeksi misalnya kepadatan
hunian.
g) Lakukan eliminasi terhadap ternak sapi yang menderita TB
bovinum dengan cara menyembelih sapi-sapi yang tes
tuberkulinnya positif, susu di pasteurasi sebelum dikonsumsi.
h) Lakukan upaya pencegahan terjadinya silikosis pada pekerja
pabrik dan tambang.
2) Pencegahan Sekunder
a) Pengobatan Preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan
terhadap penyakit inaktif dengan pemberian pengobatan INH
sebagai pencegahan.
b) Isolasi pemeriksaan kepada orang-orang yang terinfeksi,
pengobatan khusus TBC. Pengobatan mondok di rumah sakit
hanya bagi penderita yang kategori berat yang memerlukan
pengembangan program pengobatannya yang karena alasan-
alasan sosial ekonomi dan medis untuk tidak dikehendaki
pengobatan jalan.
c) Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan gejala TB
paru.
d) Pemeriksaan screening dengan tuberculin test pada kelompok
beresiko tinggi, seperti para emigrant, orang-orang kontak
dengan penderita, petugas di rumah sakit, petugas/guru di
sekolah, petugas foto rontgen.
e) Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang positif dari
hasil pemeriksaan tuberculin test.
f) Pengobatan khusus
Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat. Obat-
obat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter diminum
dengan tekun dan teratur, waktu yang lama (6 atau 12 bulan).
Diwaspadai adanya kebal terhadap obat-obat, dengan
pemeriksaan penyelidikan oleh dokter.
3) Pencegahan tersier
a) Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karena
menghirup udara yang tercemar debu para pekerja tambang,
pekerja semen, dan sebagainya
b) Rehabilitasi
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Tarwoto dan Wartonah (2015) menjelaskan proses keperawatan adalah
metode pengorganisasian yang sistematis dalam melakukan asuhan keperawatan
pada individu, kelompok, dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dan
pemecahan masalah dari respon pasien terhadap penyakitnya. Proses keperawatan
digunakan untuk membantu perawat melakukan praktek keperawatan secara
sistematis dalam memecahkan masalah keperawatan. Dengan menggunakan
metode ini perawat dapat mendemonstrasikan tanggung jawab pada klien,
sehingga kualitas praktek keperawatan dapat meningkat.
Dalam proses keperawatan ada 5 tahap. Dimana tahap-tahap tersebut tidak
dapat dipisahkan, dan saling berhubungan. Tahap-tahap ini secara bersama-sama
membentuk lingkaran pemikiran dan tindakan yang kontinu, yang mengulangi
kembali dengan kontak pasien.
Tahap-tahap dalam proses keperawatan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pengkajian
2. Diagnosa keperawatan
3. Intervensi/perencanaan
4. Implementasi/pelaksanaan
5. Evaluasi
Kelima langkah tersebut dapat dijadikan pedoman dalam mencapai tujuan
keperawatan yaitu: meningkatkan, mempertahankan kesehatan atau membuat
pasien mencapai kematian dengan tenang pada pasien terminal, serta
memungkinkan pasien atau keluarga dapat mengatur kesehatannya sendiri
menjadi lebih baik.
1. Pengkajian keperawatan
Pengkajian merupakan proses dinamis yang terorgnisasi yang meliputi
tiga aktivitas dasar yaitu: pengumpulan data secara sistematis, memilih, dan
mengatur data yang diperlukan dan mendokumentasikan data dalam format
yang dapat dibuka kembali.
Pengkajian sebagai proses yang kegiatannya bertujuan mengumpulkan
informasi mengenai pasien. Informasi tersebut akan menentukan masalah
kesehatan yang meliputi: pengkajian fisik, observasi, wawancara, riwayat
keperawatan, analisa catatan laporan serta dokumen-dokumen lain yang
terkait dengan pengkajian data dasar keperawatan yang perlu dikaji adalah:
a. Biodata
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, alamat,
suku/bangsa, status pernikahan, pekerjaan, no.RM, tanggal masuk RS,
tanggal pengkajian, dan diagnosa medic.
Identitas penanggung jawab meliputi nama, umur, jenis kelamin,
pekerjaan, dan hubungan keluarga.
b. Keluhan utama
1) Alasan kunjungan: alasan klien masuk RS
2) Faktor pencetus: bertahap atau mendadak
3) Lamanya keluhan: sudah berapa lama keluhan yang dirasakan oleh
klien.
4) Timbulnya keluhan: kapan keluhan dirasakan
5) Upaya yang dilakukan utnuk mengatasinya: sendiri atau dibantu
oleh orang lain.
c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
2) Riwayat kesehatan masalalu
3) Riwayat kesehatan keluarga
d. Riwayat psikososial
1) Pola konsep diri
2) Pola kognitif
3) Pola koping
4) Pola interaksi
e. Riwayat spiritual
1) Ketaatan klien beribadah
2) Dukungan keluarga klien
3) Ritual yang biasa dijalankan klien
f. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
a) Tanda-tanda distress
b) Penampilan dihubungkan dengan usia
c) Ekspresi wajah
2) Tanda-tanda vital seperti tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan.
3) Kepala
a) Inspeksi: kesimetrisan muka, tengkorak serta warna rambut
b) Palpasi: massa, pembengkakan dan nyeri tekan.
4) Mata
a) Inspeksi
(1) Kelopak mata: perhatikan adanya droping atau ptosis.
(2) Konjungtiva: amati adanya conjungtivitis atau anemia
(3) Sclera: menilai apakah ada ikterik atau tidak
(4) Pupil: manilai reflex pupil terhadap cahaya
(5) Gerakan bola mata: amati 6 fungsi otot mata dengan gerakan
ke 8 arah.
(6) Visus: pemeriksaan kedua mata dengan menggunakan kartu
snellen.
b) Palpasi: palpasi kedua bola mata, bila terasa keras berarti TIO
meningkat.
5) Telinga
a) Inspeksi dan palpasi
(1) Pinna: bentuk, warna, lesi, dan massa
(2) Tragus: nyeri tekan
(3) Lubang telinga: perhatikan apakah ada serumen
(4) Membran timpani: perhatikan bentuk, warna, perforasi,
cairan/darah.
6) Hidung
a) Inspeksi: kesimetrisan hidung bagian luar
b) Palpasi:
(1) Palpasi hidung bagian luar, untuk mengetahui adanya nyeri
tekan.
(2) Sinus: periksa adanya nyeri tekan pada sinus
maksilaris, frontalis, etmoidalis.
7) Mulut dan faring
a) Inspeksi:
(1) Mulut: warna bibir, adanya ulkus, lesi, kelainan kongenital.
(2) Faring: amati kesimetrisan ovula dan pembesaran tonsil.
8) Leher
a) Inspeksi:
(1) Tiroid: Amati kelenjar tiroid
(2) Leher: amati bentuk, warna kulit, pembengkakan dan massa
b) Palpasi:
(1) Kelenjar limfe: apakah ada pembesaran (adenopati limfe)
(2) Kelenjar tiroid: amati adanya pembesaran gondok.
9) Dada dan paru-paru
a) Inspeksi
(1) Bentuk dada: normal, barrel chest, pigeon chest, funnel chest.
(2) Ekspansi dada: perhatikan pengembangan dadanya.
(3) Sifat pernapasan: perut atau dada
(4) Ritme pernapasan: eupneu, kusmaul, biots, cheyne stoke
(5) Frekuensi pernapasan: normal, tachypneu, bradipnea.
b) Palpasi: adanya nyeri tekan dan kesimetrisan ekspansi dada
c) Perkusi: identifikasi bunyi perkusi paru dan lokasi paru-paru
d) Auskultasi: suara/bunyi nafas (vesikuler, bronchovesikuler,
bronchial).
10) Jantung
a) Inspeksi: bentuk dada, denyut jantung apeks (PMI)
b) Palpasi: denyut apeks
c) Perkusi: identifikasi bunyi perkusi jantung dan lokasi jantung.
d) Auskultasi:
(1) Dengarkan BJ I dengan meletakkan stetoskop pada area
mitral dan trikuspidalis
(2) Dengarkan BJ II dengan meletakkan stetoskop pada area aorta
dan pulmonalis.
11) Payudara dan aksila
a) Inspeksi: puting dan areola mammae (bentuk, kesimetrisan,
warna, kulit, vaskularisasi).
b) Palpasi: adanya nyeri tekan dan benjolan pada aksila
12) Abdomen
a) Inspeksi: kesimetrisan dan warna kulit abdomen
b) Auskultasi: rasakan apakah ginjal teraba atau tidak
c) Palpasi: kandung kemih (untuk mengetahui adanya distensi
kandung kemih).
13) Lengan dan tungkai
Otot: periksa adanya pitting edema, perhatikan apakah atropi atau
hipertropi.
14) Genetalia
a) Genetalia wanita
(1) Inspeksi: kualitas dan penyebaran pertumbuhan rambut pubis,
serta karakteristik permukaan labia mayora.
(2) Palpasi: kaji ketegangan otot pada saluran vagina dan palpasi
kelenjar perineum.
b) Genetalia pria
(1) Inspeksi: kaji kematangan seksual klien dengan
memperhatika ukuran, bentuk penis, dan tekstur dari kulit
scrotum serta karakteristik dan penyebaran rambut pubis.
15) Rectum dan anus
a) Inspeksi: kulit daerah perinial (halus, lembab, lesi, hemoroid
eksternal, ulkus).
b) Palpasi: kelenjar prostat untuk menentukan bentuk, kepadatan,
nyeri dan lesi.
16) Pengkajian neurologis
Tes Fungsi Cerebral
a) Pemeriksaan tingkat kesadaran dengan menggunakan GCS
(1) Respon membuka mata (E)
(2) Respon motorik (M)
(3) Respon verbal (V)
b) Menilai tingkat kesadaran: komposmentis, apatis, delirium,
samnolen, semikoma, koma.
c) Orientasi: orientasi terhadap orang, tempat, dan waktu.
Tes Fungsi Nervus Cranialis
a) Nervus I (olfaktorius): sebagai persepsi penciuman
b) Nervus II (optikus): untuk persepsi penglihatan
c) Nervus III (okulomotorius): saraf motorik otot bola mata
d) Nervus IV (trochlearis): saraf motorik m.obliqus superior dan
saraf sensorik spindle otot informasi indera m.oblikus superior.
e) Nervus V (trigeminus): saraf sensorik pada wajah, cavum nasi,
dan cavum oris.
f) Nervus VI (abducens): saraf motorik dan sensorik m.rectus
lateralis bola mata.
g) Nervus VII (facialis): saraf motorik otot ekspresi wajah dan
saraf sensorik reseptor pengecapan dua per tiga bagian anterior
lidah.
h) Nervus VIII (vestibulocochlearis): saraf sensorik untuk indera
pendengaran.
i) Nervus IX (glosofaringeus): saraf motorik untuk menelan dan
saraf sensorik untuk posterior lidah, pharynx dan larynx.
j) Nervus X (vagus): saraf motorik untuk hampir semua organ
thorax dan abdomen, saraf sensorik untuk pharinx, larinx, trachea,
esophagus, cor, dan viscera abdominalis.
k) Nervus XI (accesorius): saraf motorik untuk volunter
pharyx dan larynx.
l) Nervus XII (hypoglossus): saraf motorik otot lidah.
Tes Fungsi Cranial
a) Tandem walk: catat adanya ketidak seimbangan/salah jalan.
b) Tes Romberg”s: catat apakah klien dapat mempertahankan
keseimbangannya.
Tes Fungsi Sensori
a) Tes nyeri: gunakan jarum steril, minta klien untuk tutup mata,
kemudian tusukkan perlahan jarum kekulit klien, tanya apa yang
dirasakan.
b) Sentuhan: minta klien utnuk tutup mta, kemudian sentuh klien
dengan pilinan kapas, minta klien untuk merasakannya.
c) Vibrasi: gunakan garputala, kemudian setelah bergetar letakkan
pada persendian klien, normalnya klien akan merasakan getaran
garputala kesegala arah.
d) Posisi: minta klien untuk menutup mata gerakkan satu jari anda
atau gerakkan ibu jari naik turun pada sisi jari-jari klien dan minta
klien menyebutkan arah gerakan jari tersebut.
Pemeriksaan refleks
a) Refleks biseps: respon normal bila ada fleksi pada lengan bawah
dan kontraksi otot biseps.
b) Refleks triseps: respon normal bila ada ekstensi pada lengan
bawah dan kontraksi otot triseps.
c) Refleks patella: hasil positif terjadi kontraksi otot quadriceps dan
ekstensi ekstremitas bawah.
d) Refleks Achilles: respon normal adalah fleksi flantar kaki
e) Refleks abdomen: positif jika terjadi kontraksi dinding perut.
f) Refleks babinski: positif bila terdapat gerakan dorsoekstensi dari
ibu jari kaki dan gerakan abduksi dari jari-jari lainnya.
Tes Rangsang Meningeal
a) Kaku kuduk: kaji apakah ada tahanan
b) Tanda Brudzinki: positif jika terjadi fleksi pada kedua lutut
c) Kernig sign: positif jika terdapat tahanan dan terdapat rasa nyeri
d) Lasaque sign: positif jika diikuti ekstensi tungkai yang lain.

Data dasar pengkajian pasien menurut Marylinn E.Doenges, dkk (2012):


1. Keluhan yang lazim ditemukan: batuk-batuk dengan sputum, nyeri dada,
kesulitan bernafas, batuk darah, demam dan lemah.
2. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelelahan umum dan kelemahan
Napas pendek karena kerja
Kesulitan tidur pada malam atau demam malam
hari, menggigil dan/atau berkeringat.
Mimpi buruk
Tanda : Takikardi, takipnea/dispnea pada kerja.
Kelelahan otot, nyeri, dan sesak (tahap lanjut)
3. Integritas ego
Gejala : Adanya/faktor stres lama
Masalah keuangan, rumah.
Perasaan tak berdaya/tak ada harapan
Populasi budaya/etnik: Amerika Asli atau imigran
dari Amerika Tengah, Asia Tenggara, Indian, anak
benua.
Tanda : menyangkal (khususnya selama tahap dini).
Ansietas, ketakutan, mudah terangsang.
4. Makanan/cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan
Tak dapat mencerna
Penurunan berat badan
Tanda : Turgor kulit, kering/kulit besisik
Kehilangan otot/hilang lemak subkutan
5. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit.
Perilaku distraksi, gelisah
6. Pernapasan
Gejala : Batuk, produktif atau tak produktif
Napas pendek
Riwayat tuberkulosis/terpajan pada individu terinfeksi.
Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan (penyakit luas atau
fibrosis parenkim paru dan pleural). Bunyi napas: menurun/tak
ada secara bilateral atau unilateral (effusi pleural/pneumotorak).
Bunyi napas tubuler dan/atau bisikan pektoral di atas lesi luas.
Krekels tercatat di atas aspek paru selama inspirasi cepat
setelah batuk pendek (krekelels posttussie).
Karakteristik sputum: hijau/purulen, mukoid
kuning, atau bercak darah.
Deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik)
Tak perhatian, mudah terangsang yang
nyata, perubahan mental (tahap lanjut).
7. Keamanan
Gejala : Adanaya kondisi penekanan imun, contoh
AIDS, kanker.
Tes HIV positif.
Tanda : Demam rendah
8. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga TB
Ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk
Gagal untuk membaik/kambuhnya TB
Tidak berpartisipasi dalam terapi.
Pertimbangan rencana pemulangan:
Memerlukan bantuan dengan/gangguan dalam
terapi obat bantuan perawatan diri dan
pemeliharaan/ perawatan rumah.
9. Pemeriksaan diagnostik
1) Kultur sputum positif untuk mycobacterium tuberculosis pada tahap
aktif penyakit.
2) Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan
cairan darah) positif untuk basil asam-cepat.
3) Tes kulit (PPD, Mantoux, potongan vollmer) reaksi positif (area
indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi
intradermal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya
antibody tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif.
Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit bararti bahwa
TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh
mikobakterium yang berbeda.
4) ELISA/Western Blot dapat menyatakan adanya HIV.
5) Foto torak dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru
atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer, atau efusi cairan.
Perubahan menunjukkan lebih luas TB dapat termasuk rongga, area
fibrosa.
8) Histologi atau kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster, urine
dan cairan serebrospinal, biopsi kulit) positif untuk mycobacterium
tuberculosis.
9) Biopsi jarum pada jaringan paru positif untuk granuloma TB,
adanya sel raksasa menujukkan nekrosis.
10) Elektrosit dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya
infeksi, contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi
air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.
11) GDA dapat normal tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada
paru.
12) Pemeriksaan fungsi paru penurunan kapasitas vital, peningkatan
ruang mati, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total,
dan penurunan saluran oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim,
fibrosa, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis
luas).
10. Prioritas keperawatan
1) Meningkatkan/mempertahankan ventilasi/oksigenasi adekuat
2) Mencegah penyebaran infeksi
3) Mendukung perilaku/tugas untuk mempertahankan kesehatan
4) Meningkatkan strategi koping efektif
5) Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan
kebutuhan pengobatan.
11. Tujuan pemulangan
1) Fungsi pernapasan adekuat untuk memenuhi kebutuhan individu
2) Komplikasi dicegah
3) Pola hidup/perilaku berubah diadopsi untuk mencegah penyebaran
infeksi.
4) Proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dipahami.

2. Dampak terhadap kebutuhan dasar manusia


3. Diagnosa keperawatan
Menurut Marilynn E.Doenges, dkk (2012), diagnosa keperawatan yang
lazim muncul pada klien dengan tuberculosis adalah :
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekresi
mukus yang kental, hemoptisis; kelemahan, upaya batuk buruk; dan
edema trakheal/faringeal.
2. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan menurunnya
ekspansi paru sekunder tehadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.
3. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan
permukaan efektif paru, atelektasis; kerusakan membran alveolar-kapiler;
sekret kental, tebal; edema bronkial.
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan keletihan,
anoreksia, dispnea, peningkatan metabolisme tubuh.
5. Cemas berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang
dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernapas) dan prognosis penyakit
yang belum jelas.
6. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan di rumah.
7. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan pertahanan
primer tidak adekuat, penurunan kerja silis/statis sekret; kerusakan
jaringan/tambahan infeksi; penurunan pertahanan/penekanan proses
inflamasi; malnutrisi; terpajang lingkungan; kurang pengetahuan untuk
menghindari pemajanan patogen.
4. Rencana asuhan keperawatan
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2015) pada tahap perencanaan ada
empat hal yang harus diperhatikan, yaitu menentukan prioritas, menentukan
tujuan, melakukan kriteria hasil dan merumuskan intervensi.
a. Menentukan prioritas masalah
Berdasarkan Hierarki Maslow
1) Kebutuhan fisiologis, merupakan kebutuhan dasar yang sangat
prioritas karena menentukan kehidupan, misalnya kebutuhan oksigen,
kebutuhan cairan, nutrisi, eliminasi, istirahat, tidur.
Contoh: nutrisi kurang dari kebutuhan, pola nafas tidak efektif.
2) Kebutuhan keselamatan den keamanan, termasuk dalam kebutuhan
ini adalah keselamatan dan keamanan secara fisik maupun psikologis.
Contoh: resiko cedera jatuh.
3) Kebutuhan akan harga diri, termasuk kepercayaan diri, nilai-nilai,
merasa bermakna.
Contoh: gangguan body image
4) Kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan dimana individu merasa
mencapai sukses terhadap masalah atau situasi.
Contoh: keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan.
b. Menentukan tujuan
Dalam menentukan tujuan, digambarkan kondisi yang diharapkan disertai
jangka waktu.
Contoh: terjadi penurunan berat badan dalam tiga hari perawatan.
c. Menentukan kriteria hasil
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan kriteria hasil adalah:
1) Bersifat spesifik dalam hal isi dan waktu.
Contoh: pasien dapat menghabiskan satu porsi makanan selama 3 hari
setelah operasi.
2) Bersifat realistik, artinya dalam menentukan tujuan harus
dipertimbangkan faktor fisiologis/patologi penyakit yang dialami dan
sumber yang tersedia, serta waktu pencapaian.
3) Dapat diukur, artinya pasien dapat menyebutkan tujuan batuk efektif
dengan benar dan mendemonstrasikan cara batuk efektif.
4) Mempertimbangkan keadaan dan keinginan pasien
5) Berpusat pada pasien, artinya rencana tindakan untuk mengatasi
masalah pasien.
d. Merumuskan intervensi dan aktivitas perawatan
Rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang
menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan
terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa
keperawatan.
Berikut merupakan rencana asuhan keperawatan pada penyakit TB paru
(Marilynn E.Doenges dkk, 2012):
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekresi
mukus yang kental, hemoptisis; kelemahan, upaya batuk buruk; dan
edema trakheal/faringeal.
Tujuan: Kebersihan jalan napas kembali efektif
Kriteria:
1) Mempertahankan jalan napas klien
2) Pernapasan klien normal (16-24 x/i)
3) Mengeluarkan sekret tanpa bantuan

Tabel. 2
Rencana asuhan keperawatan TB Paru
Diagnosa I
Intervensi Rasional
1. Kaji fungsi pernapasan 1. Penurunan bunyi napas dapat
seperti: bunyi napas, kecepatan, menunjukkan atelektasis ronchi,
irama, kedalaman dan mengi menunjukkan akumulasi
penggunaan otot aksesori. sekret/ketidak mampuan untuk
membersihkan jalan napas.

2. Catat kemampuan untuk 2. Pengeluaran sulit bila sekret


mengeluarkan mukosa/batuk sangat kental. Sputum berdarah
efektif, catat karakter jumlah kental diakibatkan oleh
sputum, adanya hemoptisis. kerusakan paru atau luka
bronkial.
3. Berikan klien posisi semi atau
fowler tinggi, bantu klien untuk 3. Posisi dapat membantu
batuk efektif dan latihan napas memaksimalkan ekspansi paru,
dalam. ventilasi maksimal membuka
area atelektasis dan
meningkatkan
4. Pertahankan masukan cairan gerakan secret kedalam jalan
sedikitnya 2500 ml/hari kecuali napas besar untuk dikeluarkan.
kontra indikasi, atau anjurkan 4. Pemasukan cairan dapat
minum air hangat. membantu untuk mengencerkan
5. Beri obat-obat sesuai indikasi. secret sehingga mudah untuk
dikeluarkan.
a. Agen mukolitik
5. Agen mukolitik: menurunkan
b. Bronkhodilator kekentalan secret untuk
memudahkan pembersihan.
Bronkhodilator: meningkatkan
ukuran lumen percabangan
trakeobronkhial, sehingga
menurunkan tahanan terhadap
aliran udara.
b. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan menurunnya
ekspansi paru sekunder tehadap penumpukan cairan dalam rongga
pleura.
Tujuan: Pola napas kembali efektif
Kriteria:
1) Klien mampu melakukan batuk efektif
2) Irama, frekuensi, dan kedalaman pernapasan berada pada batas
normal.
Tabel. 3
Rencana asuhan keperawatan TB Paru
Diagnosa II
Intervensi Rasional
1. Identifikasi faktor penyebab 1. Menentukan jenis efusi pleura
sehingga dapat mengambil
tindakan yang tepat.
2. Kaji fungsi pernapasan, catat 2. Distres pernapasan dan
kecepatan pernapasan, dispnea, perubahan tanda vital dapat
sianosis, dan perubahan tanda terjadi sebagai akibat stres
vital. fisiologi dan nyeri atau dapat
menunjukkan terjadinya syok
akibat hipoksia
3. Berikan posisi
fowler/semifowler tinggi dan 3. Memaksimalkan ekspansi
miring pada sisi yang sakit, paru dan mnurunkan upaya
bantu klien latihan napas dalam. bernapas. Ventilasi maksimal
membuka area atelektasis.
4. Auskultasi bunyi napas.
4. Bunyi napas dapat
menurun/tak ada pada area
kolaps yang meliputi satu lobus,
segmen paru,
Intervensi Rasional
seluruh area paru.
5. Ekspansi paru menurun pada
5. Kaji pengembangan dada dan
area kolaps. Deviasi trakhea ke
posisi trakhea.
arah sisi yang sehat pada
tension pneumothoraks.

c. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan


penurunan permukaan efektif paru, atelektasis; kerusakan membran
alveolar-kapiler; sekret kental, tebal; edema bronkial.
Tujuan: Gangguan pertukaran gas tidak terjadi
Kriteria:
1) Melaporkan tidak adanya/penurunan dispnea
2) Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat
3) Bebas dari gejala distres pernapasan
Tabel. 4
Rencana asuhan keperawatan TB Paru
Diagnosa III
Intervensi Rasional
1. Kaji dispnea, takipnea, bunyi 1. TB Paru mengakibatkan efek
napas, peningkatan upaya luas pada paru dari bagian kecil
pernapasan, ekspansi thoraks, bronkhopneumonia sampai
dan kelemahan. inflamasi difus yang luas,
nekrosis, efusi pleura, dan
fibrosis yang luas.
2. Evaluasi perubahan pada 2. Akumulasi sekret/pengaruh
tingkat kesadaran. Catat jalan napas dapat mengganggu
sianosis dan/atau oksigenasi organ vital dan
Perubahan pada warna kulit, jaringan.
termasuk membran mukosa dan
kuku. 3. Menurunkan konsumsi
3. Tingkatkan tirah baring, batasi oksigen selama periode
aktivitas, bantu kebutuhan penurunan pernapasan.
perawatan diri. 4. Terapi O2 dapat mengoreksi
4. Pemberian O2 sesuai hipoksemia yang terjadi.
kebutuhan tambahan.
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan keletihan,
anoreksia, dispnea, peningkatan metabolisme tubuh.
Tujuan: Intake nutrisi klien terpenuhi
Kriteria:
1) Menunjukkan berat badan meningkat
2) Klien dapat mempertahankan status gizinya dari yang semula
kurang menjadi adekuat
Tabel. 5
Rencana asuhan keperawatan TB Paru
Diagnosa IV
Intervensi Rasional
1. Catat status nutrisi pasien 1. Berguna dalam
pada penerimaan, catat turgor mendefinisikan derajat/luasnya
kulit, berat badan dan derajat masalah dan pilihan intervensi
kekurangan berat badan, yang tepat.
integritas mukosa oral,
kemampuan menelan, riwayat
mual muntah atau diare.
2. Kaji pola diet pasien yang
disukai atau tidak disukai

3. Awasi masukan/pengeluaran
dan berat badan secara periodik. 2. Pertimbangan keinginan
individu memperbaiki masukan
diet.
4. Selidiki anoreksia mual dan
muntah dan catat kemungkinan 3. Berguna dalam mengukur
hubugan dengan obat dan awasi kefektifan nutrisi dan dukungan
frekuensi, volume, konsistensi. cairan.

5. Berikan ajarkan perawatan 4. Dapat mempengaruhi pilihan


mulut sebelum dan sesudah diet dan mengidentifikasi area
makan serta sebelum dan pemecahan masalah untuk
sesudah pemeriksaan peroral. meningkatkan pemasukan
nutrisi.

5. Menurunkan rasa tak enak


6. Dorong makan sedikit dan
karena sisa makanan, sisa
sering dengan makanan tinggi
sputum atau obat pada
protein dan karbohidrat.
pengobatan sistem pernapasan
yang dapat merangsang pusat
muntah.
6. Memaksimalkan masukan
nutrisi tanpa kelemahan yang
tak perlu/kebutuhan energi dari
makan makanan banyak dan
menurunkan iritasi gaster.

7. Kolaborasi dengan ahli gizi 7. Merencanakan diet dengan


untuk menetapkan komposisi kandungan gizi yang cukup
dan jenis diet yang tepat. untuk memenuhi peningkatan
kebutuhan energi dan kalori.

e. Cemas berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang


dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernapas) dan prognosis penyakit
yang belum jelas.
Tujuan: Klien mampu memahami dan menerima keadaannya
sehingga tidak terjadi kecemasan.
Kriteria:
1) Klien nampak lebih rileks dan santai
2) Tidak ada tanda cemas pada raut wajah klien
Tabel. 6
Rencana asuhan keperawatan TB Paru
Diagnosa V
Intervensi Rasional
1. Bantu dalam mengidentifikasi 1. Pemanfaatan sumber koping
sumber koping yang ada. yang ada secara konstruktif
sangat bermanfaat dalam
mengatasi stres.
2. Ajarkan tekhnik relaksasi.
2. Mengurangi ketegangan otot.
3. Pertahankan hubungan saling 3. Hubungan saling percaya
percaya antara perawat dan membantu memperlancar proses
klien terapeutik.

Intervensi Rasional
4. Kaji faktor yang menyebabkan 4. Membangun kepercayaan
timbulnya rasa cemas dalam mengurangi kecemasan

5. Bantu klien mengenali dan 5. Rasa cemas merupakan efek


mengakui rasa cemasnya. emosi sehingga apabila sudah
teridentifikasi dengan baik,
maka perasaan negatif dapat
diketahui.

f. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi


tentang proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan di rumah.
Tujuan: Klien mampu melaksanakan apa yang telah diinformasikan.
Kriteria:
1) Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan
pengobatan
Tabel. 7
Rencana asuhan keperawatan TB Paru
Diagnosa VI
Intervensi Rasional
1. Kaji kemampuan klien untuk 1. Keberhasilan proses belajar
mengikuti pembelajarn dipengaruhi oleh kesiapan fisik,
(pengetahuan klien). emosional, dan lingkungan yang
kondusif.
2. Berikan Health Education 2. Pendidikan kesehatan
pada klien dan keluarga klien merupakan cara efektif untuk
tentang penyakit TB paru. memberikan informasi kepada
klien
Intervensi Rasional
3. Jelaskan tentang dosis obat, 3. Meningkatkan partisipasi
frekuensi pemberian, alasan klien dalam program
mengapa pengobatan TB pengobatan dn mencegah putus
berlangsung dalam waktu lama. obat karena membaiknya
kondisi pasien sebelum jadwal
terapi selesai.
4. Ajarkan nilai kemampuan
klien untuk mengidentifikasi 4. Dapat menunjukkan
gejala/tanda reaktivasi penyakit. pengaktifan ulang proses
penyakit dan efek obat yang
memerlukan evaluasi lanjut.
5. Tekankan pentingnya
mempertahankan protein tinggi 5. Memenuhi kebutuhan
dan diet karbohidrat dan metabolik membantu
pemasukan cairan adekuat. meminimalkan kelemahan dan
meningkatkan
6. Evaluasi tentang pendidikan penyembuhan. Cairan dapat
kesehatan yang diberikan mengencerkan sekret.
kepada klien dan keluarga klien. 6. Untuk mengetahui sejauh
mana pemahaman klien dan
keluarga klien tentang penyakit
klien.

g. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan pertahanan


primer tidak adekuat, penurunan kerja silis/statis sekret; kerusakan
jaringan/tambahan infeksi; penurunan pertahanan/penekanan proses
inflamasi; malnutrisi; terpajang lingkungan; kurang pengetahuan untuk
menghindari pemajanan patogen.
Tujuan: Tidak terjadi penyebran/penularan infeksi
Kriteria:
1) Mencegah resiko penyebaran infeksi
2) Menunjukkan teknik perubahan pola hidup untuk meningkatkan
lingkungan yang aman.
Tabel. 8
Rencana asuhan keperawatan TB Paru
Diagnosa VII
Intervensi Rasional
1. Kaji patologi penyakit dan 1. Membantu pasien menyadari
potensial penyebaran infeksi. perlunya program pengobatan
untuk mencegah pengaktifa
berulang.
2. Identifikasi orang lain yang 2. Orang-orang yang terpajan ini
berisiko. perlu program terapi obat untuk
mencegah penyebaran infeksi.

3. Anjurkan pasien untuk 3. Perilaku yang diperlukan


batuk/bersin dan untuk mencegah penyebaran
mengeluarkan pada tisu dan infeksi.
menghindari meludah.
4. Awasi suhu sesuai indikasi.
4. Reaksi demam indikator
adanya reaksi lanjut.

5. Tindakan keperawatan
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2015) Implementasi merupakan
tidakan yang sudah direncanakan dalam rencana perawatan. Tindakan
keperawatan mencakup tindakan mandiri (independen) dan tindakan
kolaborasi.
Tindakan mandiri (independen) adalah aktivitas perawat yang
didasarkan pada kesimpulan atau keputusan sendiri dan bukan merupakan
petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan lain. Tindakan kolaborasi
adalah tindakan didasarkan hasil keputusan bersama, seperti dokter dan
petugas kesehatan lain.
Implementasi keperawatan dapat berbentuk:
a. Bentuk perawatan seperti melakukan pengkajian untuk
mengidentifikasi masalah baru atau mempertahankan masalah yang ada.
b. Pengajaran/pendidikan kesehatan pada pasien untuk membantu
menambah pengetahuan tentang kesehatan.
c. Konseling pasien untuk memutuskan kesehatan pasien
d. Konsultasi atau berdiskusi dengan tenaga profesional kesehatan
lainnya sebagai bentuk perawatan holistik.
e. Bentuk pelaksanaan secara spesifik atau tindakan untuk memecahkan
masalah kesehatan.
f. Membantu pasien dalam melakukan kesehatan sendiri.
g. Melakukan monitoring atau pengkajian terhadap komplikasi yang
mungkin terjadi terhadap pengobatan atau penyakit yang dialami.
6. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan untuk dapat
menentukan keberhasilan dalam asuhan keperawatan. Evaluasi pada dasarnya
adalah membandingkan status keadaan kesehatan pasien dengan tujuan atau
kriteria hasil yang telah ditetapkan.
Tujuan dari evaluasi adalah:
a. Mengevaluasi status kesehatan pasien
b. Menentukan perkembangan tujuan perawatan
c. Menentukan efektivitas dari rencana keperawatan yang telah ditetapkan.
d. Sebagai dasar menentukan diagnosis keperawatan sudah tercapai atau
tidak, atau adanya perubahan diagnosis.
Evaluasi perkembangan kesehatan pasien dapat dilihat dari hasil
tindakan keperawatan. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana
tujuan perawatan dapat dicapai dan memberikan umpan balik terhadap asuhan
keperawatan yang diberikan.
Langkah-langkah evaluasi adalah sebagai berikut:
a. Daftar tujuan-tujuan pasien
b. Lakukan pengkajian apakah pasien dapat melakukan sesuatu
c. Bandingkan antara tujuan dengan kemampuan pasien.
d. Diskusikan dengan pasien, apakah tujuan dapat tercapai atau tidak.
Jika tujuan tidak tercapai, maka perlu dikaji ulang letak kesalahannya,
dicari jalan keluarnya, kemudian catat apa yang ditemukan, serta apakah perlu
dilakukan perubahan intervensi.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, dan Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc. Jilid 3. Yogyakarta: Mediaction Publishing.

Andra, dan Yessie. 2013. Keperawatan Medikal Bedah 1. Yogyakarta: Nuha Medika.

DiGiulio, Mary dkk. 2014. Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta:


Rapha Publishing.

Doenges, Marylinn E. dkk. 2012. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3.


Jakarta:EGC.

Farandika, Reiza. 2014. Buku Pintar Anatomi Tubuh Manusia. Depok: Vicost
Publishing.

Manurung, Nixson. 2016. Aplikasi Asuhan Keperawatan Sistem Respiratory. Jakarta:


Trans Info Media.
Muttaqin, Arif. 2013. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Najmah. 2016. Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: Trans Info Media.

Soedarto. 2013. Penyakit Menular di Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.

Syaifuddin. 2014. Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi


untuk Keperawatan Dan Kebidanan. Edisi 4. Jakarta: EGC.

Tarwoto, dan Wartonah. 2015. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses


Keperawatan. Edisi 5. Jakarta: Salemba Medika.