Anda di halaman 1dari 15

BAB 4

PERSEDIAAN

Setelah Mengerjakan soal ini, Anda diharapkan untuk:


1. Mencatat transaksi keuangan yang berkaitan dengan pembelian dan penjualan menggunakan metode
pencatatan perpetual (metode penilaian FIFO dan rata rata)
2. Menghitung nilai persediaan akhir menggunakan analisis laba kotor dan metode eceran
3. Menyusun jurnal penyesuaian yang berkaitan dengan persediaan
4. Menyusun pengungkapan yang berkaitan dengan persediaan
5. Menyajikan nilai Persediaan pada Laporan Posisi Keuangan
PERSEDIAAN
Persediaan adalah pos aset yang ditahan untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa, atau barang
yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam produksi barang yang akan dijual. Persediaan juga dapat
diartikan sebagai aset yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali atau barang yang masih dalam
proses produksi/jasa.
Menurut PSAK 14 (IAI, 2015) Persediaan adalah aset:
1. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa;
2. Dalam proses produksi untuk penjualan tersebut;
3. Dalam bentuk bahan dan perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi
atau pemberian jasa
Persediaan diukur pada nilai mana yang lebih rendah antara nilai perolehan dan nilai realisasi neto.
Biaya persediaan meliputi:
1. Biaya Pembelian
2. Biaya Konversi
3. Biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk
dijual atau dipakai

Klasifikasi Persediaan
Persediaan diklarifikasikan berdasarkan jenis Perusahaan tersebut:
1. Entitas Dagang
Kegiatan perusahaan dagang adalah membeli barang yang kemudian dijual kembali, hanya
satu akun persediaan yang tampak dalam Laporan Keuangan entitas dagang yaitu akun
Persediaan Barang Dagang
2. Entitas Manufaktur
Entitas Manufaktur memproduksi barang untuk kemudian dijual. Terdapat 3 macam akun
yang berkaitan dengan persediaan di perusahaan manufaktur, yaitu: persediaan bahan baku,
persediaan barang dalam proses, dan Persediaan barang jadi.

Pencatatan Persediaan
Dalam metode periodik, transaksi pembelian tidak didebit pada akun Persediaan tetapi didebit pada
akun pembelian. Hal tersebut juga berlaku untuk transaksi penjualan yang tidak dikredit pada akun
Persediaan tetapi pada akun penjualan.
Informasi mengenai persediaan yang ada pada suatu saat tertentu tidak diperoleh dari akun
Persediaan tapi melalui perhitungan fisik atas persediaan yang ada di gudang. Perhitungan fisik biasa
dilakukan pada saat perusahaan akan menyusun Laporan Keuangan. Dalam metode ini perhitungan
fisik mempunyai peranan penting, karena tanpa perhitungan fisik laporan keuangan tidak dapat
disusun. Metode periodik juga dikenal dengan istilah metode fisik. Metode ini mencatat pembelian
barang pada akun pembelian, sehingga mutasi persediaan tidak tercatat dan tidak diketahui secara
pasti, oleh karena itu untuk menentukan beban pokok penjualan perusahaan harus menghitung
persediaan akhir terlebih dahulu pada tanggal penyusunan laporan keuangan.
Penghitungan beban pokok penjualan pada metode periodik ditunjukkan pada contoh berikut:
Persediaan barang awal Rp XXX
Pembelian neto XXX (+)
Persediaan untuk dijual Rp XXX
Persediaan akhir barang Rp XXX (-)
Beban pokok penjualan Rp XXX

Metode Persediaan Perpetual


Dalam metode Perpetual, baik jumlah penjualan maupun beban pokok penjualan akan dicatat setiap
barang dijual. Dengan cara ini catatan akuntansi akan terus menerus mengungkapkan besarnya
persediaan yang ada.
Metode Perpetual mencatat pembelian barang dalam akun Persediaannya, sehingga setiap mutasi
persediaan dicatat dan diketahui secara pasti. Oleh karena itu proses penghitungan beban pokok
penjualan tidak memerlukan perhitungan fisik. Namun demikian, minimal satu kali dalam setahun
perlu dilakukan pemeriksaan untuk membandingkan apakah jumlah barang yang ada di gudang telah
sama seperti jumlah barang dalam pembukuan atau belum. Hal ini dilakukan untuk menjalankan
sistem pengendalian internal perusahaan terhadap persediaan. Dengan adanya pengecekan tersebut
dapat diketahui penyebab terjadinya selisih jumlah persediaan, yang kemudian ditindaklanjuti dengan
tindakan perbaikan.

Perbedaan antara Sistem Pencatatan Persediaan secara Periodik dan Perpetual


Perbedaan antara sistem pencatatan persediaan menggunakan metode periodik dan perpetual akan
ditunjukkan dalam contoh transaksi berikut.
Berikut ini adalah informasi terkait transaksi yang dilakukan PT.Nusantara selama tahun 2016

Persediaan awal 100 unit seharga Rp6.000 = Rp 600.000


Pembelian 900 unit seharga Rp6.000 = Rp5.400.000
Penjualan 600 unit seharga Rp12.000 = Rp7.200.000
Persediaan akhir 400 unit seharga Rp6.000 = Rp2.400.000

Berikut ayat jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi tersebut selama tahun berjalan (dalam rupiah) :

Sistem Persediaan Perpetual Sistem Persediaan Periodik


Pembelian barang untuk dijual kembali
Persediaan (900unit, @Rp6.000) Rp5.400.000 Persediaan 900unit, @Rp6.000 Rp5.400.000
Utang Dagang/Kas Rp5.400.000 Utang Dagang/Kas Rp5.400.000
Mencatat Penjualan
Piutang Dagang/Kas Rp7.200.000 Piutang Dagang/Kas Rp7.200.000
Penjualan Penjualan
(600unit, @Rp12.000) Rp7.200.000 (600unit, @Rp12.000) Rp7.200.000
Beban pokok penjualan
(600unit, @Rp6.000) Rp3.600.000 Tidak ada ayat jurnal yang dicatat
Persediaan
Rp3.600.000
Ayat Jurnal penutup Persediaan Rp2.400.000
Beban pokok penjualan Rp3.600.000
Tidak ada ayat jurnal yang dicatat Pembelian
Rp5.400.000
Persediaan (awal) Rp600.000

METODE PENGHITUNGAN BEBAN POKOK PENJUALAN


Setiap kali dilakukan pembelian persediaan, harganya tidak selalu sama. Oleh karenanya arus fisik
barang seringkali tidak menggambarkan arus biaya. Akuntan perlu menentukan metode penentuan
harga pokok yang paling tepat dalam mencerminkan laba periodik. Metode metode yang dapat
digunakan untuk menghitung beban pokok penjualan yaitu:
1. Identifikasi Spesifik
Metode ini memerlukan identifikasi untuk masing-masing barang dalam persediaan.
Identifikasi khusus dapat ditetapkan apabila jumlah barang relatif kecil, harganya mahal dan
mudah dibedakan, merupakan produk yang bernilai tinggi, spesifik atau jenis persediaan yang
memiliki variasi signifikan. Dalam metode identifikasi khusus harga pokok yang dibebankan
sebagai beban pokok penjualan dan harga pokok persediaan akhir merupakan harga pokok
yang sebenarnya terjadi. Contoh penggunaan metode identifikasi khusus adalah aliran barang
persediaan barang barang berharga seperti; intan, permata, kendaraan mewah, barang antik
dan barang barang spesifik lain.

Perhatikan contoh perhitungan menggunakan identifikasi khusus berikut. PT.Nusantara yang


berlokasi di Surabaya merupakan perusahaan yang bergerak dalam bisnis jual beli perhiasan.
Berikut ini adalah transaksi yang dilakukan oleh PT.Nusantara selama Januari 2016

Informasi persediaan awal barang dagang PT.Nusantara selama Januari 2016


Persediaan 5000unit @Rp1.500 Rp 7.500.000
2 Maret 4000unit @Rp1.000 Rp 4.000.000
15 Maret 12.000unit @1.600 Rp19.200.000
30 Maret 4.000unit @1.200 Rp 4.800.000
Total 25.000unit 5.300 Rp35.000.000

Tanggal 19 Januari 2016 persediaan milik PT.Nusantara terjual sebanyak 8000unit dengan
rincian sebagai berikut:
Persediaan Harga Jual Nilai Penjualan
2000 unit Rp2.000 Rp4.000.000
3000 unit Rp1.500 Rp4.500.000
3000 unit Rp2.000 Rp6.000.000
8000 unit Rp14.500.000

Pada akhir bulan Januari 2016 PT Nusantara memiliki persediaan akhir sebanyak 17.000 unit
dengan rincian sebagai berikut:
Saldo awal 3.000 unit
Pembelian tanggal 05 Januari 2016 1.000 unit
Pembelian tanggal 10 Januari 2016 9.000 unit
Pembelian tanggal 30 Januari 2016 4.000 unit
Total 17.000 unit

Perhitungan beban pokok penjualan menggunakan metode identifikasi khusus

Tanggal Persediaan yang Dijual Harga per Unit Saldo


Persediaan 2.000 unit Rp 1.500 Rp 3.000.000
2 Januari 2016 3.000 unit Rp 1.000 Rp 3.000.000
5 Januari 2016 3.000 unit Rp 1.600 Rp 4.800.000
Total 8.000 unit Rp 10.800.000

Perhitungan persediaan akhir dengan metode identifikasi khusus

Tanggal Persediaan akhir Harga per unit Saldo


Persediaan awal 3.000 unit Rp 1.500 Rp 4.500.000
5 Januari 2016 1.000 unit Rp 1.000 Rp 1.500.000
10 Januari 2016 9.000 unit Rp 1.600 Rp 14.400.000
30 Januari 2016 4.000 unit Rp 1.200 Rp 4.800.000
Total 8.000 unit Rp 24.700.000

2. Biaya Rata-Rata
Menetapkan harga barang-barang didalam persediaan berdasarkan biaya rata-rata dari semua
barang serupa yang tersedia selama periode bersangkutan.
Berikut ini adalah contoh perhitungan dan pencatatan nilai persediaan akhir serta beban
pokok penjualan menggunakan metode rata-rata:

Tanggal transaksi Keterangan Unit Harga per unit


1 Januari 2016 Saldo awal 30 Rp 7.000.000
2 Januari 2016 Pembelian 40 Rp 8.000.000
4 Januari 2016 Penjualan 50 Rp 15.000.000
7 Januari 2016 Pembelian 65 Rp 9.000.000
15 Januari 2016 Pembelian 100 Rp 7.000.000
20 Januari 2016 Penjualan 50 Rp 17.000.000
25 Januari 2016 Penjualan 50 Rp 20.000.000
30 Januari 2016 pembelian 100 Rp 8.000.000

Berdasarkan informasi persediaan tersebut, apabila perusahaan menggunakan metode


pencatatan secara perpetual, dapat dibuat Kartu Persediaan seperti contoh berikut :
KARTU PERSEDIAAN
METODE PERPETUAL (PERHITUNGAN RATA-RATA)
Bulan : Januari (dalan ribuan rupiah)
Masuk/pembelian Keluar/penjualan Saldo
Tanggal
unit harga/unit total unit harga/unit total unit harga/unit total
1 30 7.000 210.000

2 40 8.000 320.000 70 7.570 529.900

4 50 7.570 378.600 20 7.570 151.400

7 65 9.000 585.000 85 8.660 736.100

15 100 7.000 700.000 185 7.760 1.435.600

20 50 7.760 388.000 135 7.760 1.047.600

25 50 7.760 388.000 85 7.760 659.000

30 100 8.000 800.000 185 7.890 1.459.650

Pencatatan persediaan berdasarkan metode perhitungan perpetual dalam jurnal umum akan menjadi:

Tanggal Akun Debit Kredit


Januari 2016
2 Persediaan Barang Dagang 320.000.000
Utang Usaha 320.000.000
4 Beban Pokok Penjualan 378.600.000
Persediaan Barang Dagang 378.600.000
Piutang Usaha 750.000.000
Penjualan 750.000.000
7 Persediaan Barang Dagang 585.000.000
Utang Usaha 585.000.000
15 Persediaan Barang Dagang 700.000.000
Utang Usaha 700.000.000
20 Beban Pokok Penjualan 388.000.000
Persediaan Barang Dagang 388.000.000
Piutang Usaha 850.000.000
Penjualan 850.000.000
25 Beban Pokok Penjualan 388.000.000
Persediaan Barang Dagang 388.000.000
Piutang Usaha 1.000.000.000
Penjualan 1.000.000.000
30 Persediaan Barang Dagang 800.000
Utang Usaha 800.000.000
Jika diketahui beban umum dan penjualan sebesar Rp750.000.000 serta besarnya pajak 15% maka
secara sederhana Laporan Laba Rugi yang dapat dibuat perusahaan ditunjukkan dalam contoh berikut.

LAPORAN LABA RUGI


Penjualan Rp 2.600.000.000
Beban pokok penjualan ( 1.155.020.000)
Laba bruto Rp 1.444.980.000
Beban umum dan penjualan ( 750.000.000)
Laba neto sebelum pajak Rp 694.980.000
Pajak (15%) ( 104.250.000)
Laba neto setelah pajak Rp 590.730.000

3. First in, first out (FIFO).


Metode FIFO mengasumsikan bahwa harga barang digunakan sesuai dengan urutan
pembeliannya. Dengan kata lain, harga barang yang dibeli terlebih dahulu (yang pertama0 menjadi
harga yang digunakan. Dengan demikian, persediaan yang berakhir mencerminkan pembelian yang
baru.
Berikut ini adalah perhitungan persediaan akhir dan beban pokok penjualan UD Wijaya dengan
metode FIFO:

Tanggal transaksi Keterangan Unit Harga per unit


1 Januari 2016 Saldo awal 30 Rp 7.000.000
2 Januari 2016 Pembelian 40 Rp 8.000.000
4 Januari 2016 Penjualan 50 Rp 15.000.000
7 Januari 2016 Pembelian 65 Rp 9.000.000
15 Januari 2016 Pembelian 100 Rp 7.000.000
20 Januari 2016 Penjualan 50 Rp 17.000.000
25 Januari 2016 Penjualan 50 Rp 20.000.000
30 Januari 2016 Pembelian 100 Rp 8.000.000

Berdasarkan informasi persediaan tersebut, apabila perusahaan menggunakan metode pencatatan


secara perpetual, dapat dibuat Kartu Persediaan seperti contoh dibawah berikut:

UD WIJAYA
KARTU PERSEDIAAN
METODE PERPETUAL (FIFO)
Bulan: Januari (dalam ribuan rupiah)
Masuk/pembelian Keluar/penjualan saldo
Tanggal
unit harga/unit total unit harga/unit total unit harga/unit total
1 30 7.000 210.000

2 40 8.000 320.000 30 7.000 210.000


40 8.000 320.000

4 30 7.000 210.000
20 8.000 160.000 20 8.000 160.000

7 65 9.000 585.000 20 8.000 160.000


65 9.000 585.000

15 100 7.000 700.000 20 8.000 160.000


65 9.000 585.000
100 7.000 700.000

20 20 8.000 160.000 35 9.000 315.000


30 9.000 270.000 100 7.000 700.000

25 35 9.000 315.000 85 7.000 595.000


15 7.000 105.000

30 100 8.000 800.000 85 7.000 595.000


100 8.000 800.000

Pencatatan persediaan UD WIJAYA berdasarkan metode perhitungan perpetual (FIFO) dalam jurnal
umum akan menjadi:

Tanggal Akun Debit Kredit


Januari 2016
2 Persediaan barang dagang 320.000.000
Utang usaha 320.000.000
4 Beban pokok penjualan 370.000.000
Persediaan barang dagang 370.000.000
Piutang usaha 750.000.000
Penjualan 750.000.000
7 Persediaan barang dagang 585.000.000
Utang usaha 585.000.000
15 Persediaan barang dagang 700.000.000
Utang usaha 700.000.000
20 Beban pokok penjualan 430.000.000
Persediaan barang dagang 430.000.000
Piutang usaha 850.000.000
Penjualan 850.000.000

25 Beban pokok penjualan 420.000.000


Persediaan barang dagang 420.000.000

Piutang usaha 1.000.000.000


Penjualan 1.000.000.000
30 Persediaan barang dagang 800.000.000
Utang usaha 800.000.000
Jika diketahui beban umum dan penjualan sebesar Rp750.000.000 serta besarnya pajak 15%, maka
secara sederhana Laporan Laba Rugi UD WIJAYA ditunjukkan dalam contoh berikut:

UD WIJAYA
LAPORAN LABA RUGI
Per 31 Januari 2016
Penjualan Rp 2.600.000.000
Beban pokok penjualan ( 1.220.020.000)
Laba bruto Rp 1.380.000.000
Beban umum dan penjualan ( 750.000.000)
Laba neto sebelum pajak Rp 630.000.000
Pajak (15%) ( 95.000.000)
Laba neto setelah pajak Rp 535.000.000

4. menerapkan Aturan yang terendah dari Harga Pokok atau Harga Pasar (lower of Cost or Market-
LOCOM)
a) penilaian ini digunakan ketika prinsip biaya historis tidak dapat dipakai karena manfaat masa depan
dari persediaan tidak lagi sebesar harga pokok awalnya.
b) metode ini merupakan pendekatan konservatif atas penilaian persediaan, yang menyatakan bahwa jika
terjadi kerugian atas nilai suatu harta, pencatatan dilakukan berdasarkan nilai yang lebih rendah.
c) metode ini dapat diterapkan pada masing-masing barang, masing-masing golongan, atau pada total
persediaan.
sebagai contoh, asumsikan PT Nusantara, surabaya, membagi produknya menjadi dua kategori yaitu
kelompok I dan kelompok II. Masing-masing kelompok mempunyai berbagai jenis barang yang
menyertakan informasi harga pokok dan harga pasar.

berikut ini adalah penghitungan persediaan akhir dan beban pokok penjualan dengan metode LIFO

persediaan Harga pokok Harga pasar LOCOM


(Rp) (Rp) per jenis per kelompok Keseluruhan
Kelompok I
Barang A Rp.150.000 Rp.145.000 Rp.145.000
Barang B Rp.145.000 Rp.152.000 Rp.145.000
Rp.295.000 Rp.297.000 Rp.295.000

Kelompok II
Barang C Rp.205.000 Rp.210.000 Rp.205.000
Barang D Rp. 70.000 Rp. 60.000 Rp. 60.000
Rp.275.000 Rp.270.000

Rp.470.000 Rp.467.000 Rp.467.000


Rp.555.000 Rp.465.000 Rp.467.000
5. menentukan Persediaan Akhir dengan menerapkan Metode Analisis Laba Kotor
a) Metode ini digunakan untuk memperkirakan persediaan yang dimiliki
b) para auditor menggunakannya dalam situasi-situasi ( seperti laporan interim ) dimana hanya dibutuhkan
estimasi untuk persediaan perusahaan. Metode ini juga digunakan ketika persediaan atau catatan per-
sediaan musnah dalam kebakaran atau musibah lain.
c) Metode laba kotor didasarkan pada asumsi-asumsi bahwa
- persediaan awal ditambah pembelian adalah total barang yang dihitung.
- Barang-barang yang belum terjual harus benar-benar tersedia.
- jika penjualan dikurangi harga pokok, kemudian dikurangi dengan jumlah persediaan awal
ditambah pembelian, akan menghasilkan nilai persediaan akhir.
sebagai contoh, PT Nusantara pada tahun 2016 memiliki catatan persediaan awal sebesar Rp.60.000.000
dan pembelian selama tahun 2016 sebesar Rp.100.000.000. Untuk menghitung persediaan akhir, perusahaan
menggunakan metode analisis laba kotor. Data yang diberikan menunjukkan nilai penjualan selama 2016
sebesar Rp.200.000.000 (nilai harga jual), dengan rata-rata laba kotor sebesar 40% dari harga jualnya.
berdasarkan informasi tersebut, perkiraan nilai persediaannya adalah :

Persediaan awal Rp.60.000.000


Pembelian 100.000.000
Persediaan yang tersedia untuk dijual Rp.160.000.000
Margin penjualan (40% dari harga jual) Rp.200.000.000
Beban pokok penjualan(harga perolehan historis) (80.000.000) (120.000.000)
Perkiraan persediaan akhir Rp.40.000.000
metode laba kotor tidak digunakan untuk tujuan pelaporan keuangan karena hanya berupa perkiraan.
perhitungan fisik persediaan diperlukan sebagai pemeriksaan tambahan bahwa persediaan yang di-
nyatakan dalam catatan benar-benar tersedia.

6. Menentukan Persediaan Akhir dengan Menerapkan Metode Ecaran Konvensional.


Metode ini digunakan untuk menentukan saldo persediaan tanpa melakukan perhitungan fisik
persediaan dalam jumlah tinggi. Metode ini berguna untuk segala jenis laporan sementara, laporan
dapat diterapkan secara cepat dan andal. Beberapa perusahaan biasanya menggunakan pendekatan ini
untuk memperkirakan kerugian karena kebakaran, banjir, atau musibah lainnya.
Metode eceran konvensional juga berperan sebagai alat kendali karena penyimpangan
terhadap perhitungan fisik pada akhir tahun perlu dijelaskan. Metode ini juga mempercepat
perhitungan persediaan fisik pada akhir tahun. Para petugas penghitungan fisik hanya perlu mencatat
harga eceran masing-masing barang dan tidak perlu melihat harga pokok tiap barang, sehingga dpat
menghemat waktu dan biaya.
Harga jual sering kali naik turun. Mark-up merupakan tambahan laba kotor terhadap harga
jual semula. Pembatalan mark-up (markup cancellations) adalah penurunan harga barang dagang
yang sebelumnya sudah dinaikkan diatas harga eceran semula. Sementara itu, mark-down terjadi
karena adanya penurunan tingkat harga umum , penjualan khusus, kerusakkan barang, kelebihan
persediaan dan persaingan. Pembatalan mark-down (markdown calcellations) dapat terjadi ketika
mark-down dapat ditutupi dengan kenaikkan harga barang yang sebelumnya diturunkan.
Metode eceran konvensional biasanya digunakan pada perusahaan ritel dan department store,
yang memperjualbelikan berbagai jenis barang dengan frekuensi perputaran barang yang relatif tinggi.
Alasan digunakannya metode harga jual eceran antara lain:
1) banyaknya jenis barang dengan tingkat perputaran tinggi menyebabkan tidak
dimungkinkannya penggunaan sistem permanen (perpetual) maupun sistem fisik
(biasanya stok opname dilakukan sebanyak satu kali, yaitu pada setiap akhir tahun),
2) penggunan harga jual sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan
manajemen. Pada metode harga jual eceran, pembukuan yang berhubungan dengan
barang dagangan diselenggarakan dan dinyatakan dalam dua macam harga, yaitu
harga pokok dan harga jual eceran. Tahap-tahap perhitungan persediaan dengan
metode harga jual eceran yaitu:
 Menghitung besarnya barang tersedia untuk dijual dengan harga pokok dan
harg jual eceran.
 Menghitung rasio biaya (cost ratio)
 Menghitung nilai penjualan bersih
 Menghitung nilai persediaan akhir berdasarkan harga jual eceran
 Menghitung perkiraan harga pokok persediaan akhir

Contoh:
harga pokok (Rp) harga jual eceran (Rp)
Persediaan awal 1.000.000 1.250.000
Pembelian 22.500.000 28.125.000
Penjualan - 27.500.000

Sesuai dengan prosedur penentuan persediaan menggunakan metode harga jual eceran, maka besarnya
persediaan akhir ditentukan sebagai berikut:

Langkah keterangan Harga jual eceran Harga pokok


(Rp) (Rp)
Persediaan awal 1.250.000 1.000.000
Pembelian 28.125.000 22.500.000
(1) Barang yang tersedia untuk dijual. 29.375.000 23.500.000
(2) Rasio biaya (Rp23.500.000/29.375.000) x
100% = 80%
(3) Penjualan 27.500.000 -
(4) Persediaan akhir berdasarkan harga jual eceran 1.875.000 -
(5) Persediaan akhir berdasarkan harga pokok 1.500.000
80% x Rp 1.875.000
Beban pokok penjualan (perkiraan) 22.000.000

Penilaian persediaan dengan metode harga jual eceran biasanya menggunakan sistem fisik. Informasi
yang harus tersedia antara lain:
a. Persediaan awal (jika ada), baik yang dihitung berdasarkan harga pokok maupun harga jual
eceran .
b. Pembelian untuk periode yang bersangkutan, masing-masing berdasarkan harga pokok dan
harga jual eceran.
c. Penyesuaian atau perubahan harga jual yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.
1) Harga jual mula-mula (original sales price), yaitu harga jual persatuan barang
yang ditentukan untuk pertama kalinya.
2) Mark-up, yaitu selisih antara harga jual semula denga harga pokok.
3) Additional mark-up, yaitu kenaikkan harga jual di atas harga jual mula-mula.
4) Pembatalan mark-up, yaitu penurunan harga jual dari harga jual yang telah naik
sampai dengan harga jual semula.
5) Mark-down, yaitu penurunan harga jual dari harga jual semula.
6) Pembatalan mark-down, yaitu kenaikkan harga jual dari harga yang telah turun
sampai dengan harga jual semula.

PRAKTIKUM 4
PERSEDIAAN

PT Tiga Saudara adalah perusahaan dagang yang terletak di Surabaya dan bergerak di bidang
penjualan kain secara grosir. Perusahaan ini merupakan perusahaan pribadi milik ibu Anita yang
berdiri sejak tahun 2011. Perusahaan menjual dua jenis kain polos dan kain kaos dengan tipe yang
sama, yaitu tipe Dewasa laki-laki, Dewasa Wanita, dan Remaja. Kain tersebut dijual ke pedagang-
pedagang ritel di kota Surabaya dan sekitarnya secara tunai maupun kredit dengan jangka waktu
(termin) n/30 hari. Sistem pembayaran secara kredit biasanya diberikan kepada pelanggan yang
membeli dalam partai besar.
Berikut ini pencatatan persediaan yang dilakukan perusahaan:
1. Persediaan kain polos dicatat menggunakan metode perpetual, yaitu pencatatan atas
pembelian dan penjualan persediaan dilakaukan pada masing-masing kartu persediaan.
Persediaan di nilai dengan metode FIFO. Tetapi, bila dalam hari yang sama terjadi pembelian
maupaun penjualan, maka transaksi pembelian yang didahulukan untuk dicatat dalam kartu
stok. Selama ini, pencatatan kartu stok ditangani oleh kepala gudang.
2. Persediaan benang dicatat menggunakan metode laba kotor.
3. Persediaan barang penolong assesoris dicatat menggunakan metode harga eceran.

Mulai tanggal 30 November 2016, Wijaya resmi diangkat menjadi staf paruh waktu untuk bagian
akuntansi perusahaan yang bertanggungjawab secara khusus atas persediaan barang dagangan.
Tindakkan pertama Wijaya adalah melakukan pemeriksaaan fisik atas seluruh persediaan per tanggal
30 November 2016 dan mencocokkannya dengan kartu stok masing-masing jenis persediaan. Selama
pemeriksaan fisik dilakukan, Wijaya tidak mengizinkan mutasi barang masuk maupun keluar dari
gudang. Wijaya dan Ibu Anita sepakat untuk berkosentrasi pada catatan mulai bulan November 2016
dan seterusnya. Tindakkan ini terpaksa diambil karena ketidaklengkapan data bulan-bulan
sebelumnya. Ibu Anita juga meminta Wijaya untuk mencari data-data yang dapat menginformasi atau
membuktikan kecurigaan anatara adanya penyimpangan. Selain itu, Ibu Anita juga meminta Wijaya
untuk memulai sistem konsinyasi khusus untuk pelanggan-pelanggan lama dan terpercaya per tanggal
1 Desember 2016. Dalam sistem konsinyasi tersebut, wakil perusahaan akan melakukan pengecekkan
stok setiap akhir setiap akhir bulan dan menyusun laporan penjualan yang harus disetujui oleh
pelanggan. Setelah itu, pelanggan harus menyetorkan hasil penjualan stok yang sudah laku ke
Perusahaan paling lambat 14 hari stelah tanggal pelaporan.

Berikut ini adalah saldo persediaan per tanggal 30 November 2016 berdasarkan kartu persediaan:

No Jenis persediaan Unit Harga/unit (Rp) Saldo (Rp)


1 Kain polos 500 65.000 Rp 32.500.000
2 Kain kaos 300 50.000 Rp 15.000.000
Total Rp 47.500.000
Transaksi bulan Desember 2016.
1. Transaksi Pembelian.
Tanggal Jenis barang Unit Harga beli/unit (Rp)
Desember 2 Kain polos 400 67.500
Kain kaos 200 50.000
5 Kain polos 850 70.000
12 Kain kaos 250 52.000
15 Kain polos 600 65.000
18 Kain polos 450 76.500
21 Kain kaos 400 51.500
23 Kain polos 700 67.000
26 Kain kaos 150 53.500
28 Kain polos 550 68.500
Kain kaos 200 53.500

2. Transaksi Penjualan Tunai.


Tanggal Jenis barang Unit Harga beli/unit (Rp)
Desember 2 Kain kaos 164 100.000
4 Kain kaos 154 100.000
13 Kain kaos 266 105.000
27 Kain kaos 330 146.000
29 Kain kaos 316 148.000

3. Transaksi Penjualan Kredit.


Tanggal Jenis barang Unit Harga beli/unit (Rp)
Desember 3 Kain polos 506 72.000
5 Kain polos 434 72.000
10 Kain polos 500 74.000
16 Kain polos 600 76.000
20 Kain polos 500 77.000
27 Kain polos 638 77.000

4. Retur Pembelian.
Tanggal Jenis barang Unit Keterangan
Desember 7 Kain polos 250 Pembelian tanggal 5 Desember 2014

5. Retur Penjualan.
Tanggal Jenis barang Unit Keterangan
Desember 7 Kain kaos 116 Penjualan tanggal 2 Desember 2014
24 Kain polos 30 Penjualan tanggal 20 Desember 2014

Selain persediaan kain kaos dan kain polos , PT Tiga Saudara juga mempunyai persediaan benang
untuk bahan baku pembuatan kain dengan kualitas ekspor yang diperjualbelikan. Pada tanggal 5
Desember 2016 sebagian ruangan gudang terkena banjir sehingga 75% dari persediaan barang
mengalami kerusakan.

Data-data terkait persediaan benang yang sempat diselamatkan adalah sebagai berikut:

Pada tanggal 30 Juni 2016 nilai persediaan adalah Rp 75.600.000


Transaksi dari 1 Juli sampai dengan 10 September 2016 yaitu:
Pembelian ....................................... Rp 46.360.000
Potongan penjualan ........................ Rp 2.400.000
Beban angkut pembelian ................ Rp 7.680.000
Retur pembelian ............................. Rp 7.000.000
Retur penjualan .............................. Rp 4.400.000
Potongan pembelian ....................... Rp 2.800.000
Pendapatan penjualan benang ........ Rp 111.200.000

Laporan Laba Rugi untuk periode yang berakhir 30 30 Juni 2016 sebagai berikut:

PT TIGA SAUDARA
LAPORAN LABA RUGI DAN PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
PERIODE JUNI 2016

(dalam rupiah)
Pendapatan penjualan 564.000.000
Beban pokok penjualan 327.120.000
Laba bruto 236.880.000
Biaya operasi:
-biaya pemasaran 115.200.000
-biaya administrasi dan umum 55.260.000
Total biaya operasi (170.460.000)
Laba sebelum pajak 66.420.000

Pada saat terjadi kebanjiran, bahan penolong berupa sejumlah assesoris impor dari Kanada yang
terbuat dari kain juga mengalami kerusakan. Satuan mata uang yang digunakan atas barang-barang
impor tersebut adalah dolar AS. Berikut ini disajikan ringkasan informasi yang diperoleh terkait
assesoris tersebut:

Transaksi Tahun 2016 Tahun 2015


Penjualan asesoris impor $ 173.250 $ 169.500
Potongan penjualan $ 2.300 $ 1.500
Retur penjualan $ 2.250 $ 2.000
Pembelian (at cost) $ 97.500 $ 85.700
Biaya angkut pembelian $ 5.000 $ 4.550
Potongan dan retur pembelian $ 1.472 $ 1.250
Pembelian (at retail) $ 125.700 $ 115.600
Persediaan awal (at cost) - $ 82.000
Persediaan awal (at retail) - $ 109.400

TUGAS.

Berdasarkan data yang telah diberikan. Anda diminta untuk:


1. Mencatat transaksi penjualan dan pembelian atas kain kaos dan kain polos (ingat
pencatatan di lakukan menggunakan metode perpetual dan penilaian dengan menggunakan
metode FIFO).
2. Menghitung dan mencata nilai persdiaan bahan baku kain kaos dan kain polos dalam kartu
persediaan.
3. Menghitung nilai persediaan benang yang dapat diselamatkan (gunaka metode analisis laba
kotor).
4. Buatlah perhitungan untuk klaim asuransi dan jurnal yang diperlukan untuk mencatat
transaksi tersebut.
5. Menghitung nilai persediaan asesori. (konversika ke mata uang Rupiah dengan kurs $ 1=Rp
13.450 dan gunakan metode persediaan eceran untuk menghitung nilai persediaan).
6. Sajikan nilai yang tepat atas persediaan kain polos, kain kaos, benang, dan asesoris dalam
Laporan Posisi Keuangan.