Anda di halaman 1dari 8

Makalah Gerontik

Tipologi Lansia dan Mitos Lansia

Kelompok 2 :
1. Ika Dian Purnamasari
2. Illya Ika Putri
3. Lailis Safitri
4. Layla Khoridatunnisa
5. Manda Sari Dewi
6. Maulidatur Rohmah
7. M. Ainus Shofi
8. M. Habibi
9. Nining Savitri
10. Nor Indah Puspitasari

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KUDUS

JL. GANESHA 1 PURWOSARI KUDUS www .stikesmuhkudus.ac.id Phone 0291 432718

TAHUN PELAJARAN 2018/2019


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu
proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk
beradaptasi dengan stress lingkungan. Penurunan kemampuan berbagai organ, fungsi,
dan system tubuh itu bersifat alamiah/fisiologis. Penurunan tersebut disebabkan
berkurangnya jumlah dan kemampuan sel tubuh. Pada umumnya tanda proses menua
mulai tampak sejak usia 45 tahun dan akan menimbulkan masalah pada usia sekitar 60
tahun.
Menua adalah proses yang mengubah seseorang dewasa sehat menjadi
seorang yang frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan system fisiologis
dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian.
Di dunia terdapat banyak persepsi masyarakat mengenai kehidupan lansia.
Diantaranya ada yang rasional, namun ada juga yang belum terbukti kebenarannya. Hal
ini dipengaruhi oleh cerita turun-temurun yang belum jelas kebenarannya dan perlu
diteliti lebih lanjut.

1.2. RUMUSAN MASALAH


1.2.1. Apa saja Tipologi lansia ?
1.2.2. Apa saja mitos-mitos mengenai lansia yang terdapat di masyarakat?
1.2.3. Bagaimana kenyataan dari mitos-mitos mengenai lansia tersebut?
1.2.4. Bagaimana mitos-mitos tersebut dapat mempengaruhi konsep diri lansia?

1.3. TUJUAN
1.3.1. Untuk mengetahui tipologi lansia.
1.3.2. Untuk mengetahui mitos-mitos mengenai lansia yang terdapat di masyarakat.
1.3.3. Untuk mengetahui kenyataan dari mitos-mitos mengenai lansia.
1.3.4. Untuk mengetahui pengaruh mitos-mitos mengenai lansia terhadap konsep
diri lansia tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Tipologi Manusia Lanjut Usia


Terdapat bermacam-macam tipologi manusia usia lanjut, ada tipe mandiri, tipe tidak
puas , tipe pasrah, dan tipe bingung. Pertama , paa sia tipe mandiri , mereka mengganti
kegiatan-kegiatan yang hilang dengan kegiatan-kegiatan baru, selektif dalam mencari
pekerjaan, teman pergaulan, serta memenuhi undangan. Kedua , lansia tipe tidak puas
ceenderung memiliki konfil lahir batin, menentang proses penuaan yang menyebabkan
hilangnya kecantikan, daya tarik jasmaniah, kekuasaan, status, teman yang disayangi,
pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung ,menuntut, sulit dilayani , dan pengkritik.
Ketiga, lansia tipe pasrah cenderung menerima dan menunggu nasib baik, mempunyai
konsep habis gelap terbitlah terang, mengikuti kegiatan beribadah, ringan kaki,
pekerjaan apa saja dilakukan. Keempat, lansia tipe bingung cenderung kaget,
kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa minder,menyesal, pasif, acuh tak
acuh.
Pengelompokan lain sebagaimana dikemukan oleh tipe lain dari lansia adalah tipe
optimis, tipe independen (ketergantungan ), tipe defensife (bertahan), tipe militan dan
serius, tipe pemarah/frustasi (kecewa akibat kegagalan dalam melakukan sesuatu),
serta tipe putus asa (benci pada diri sendiri)
Tipe lansia berkaitan dengan karakter, pengalaman kehidupannya, lingkungan,
kondisi fisik, menta, sosial, dan ekonominya sntara lain tipe optimis, tipe kontruktif, tipe
ketergantungan (dependent), tipe defensif, tipe militan dan serius, tipe marah/frustasi
(the angry man)dan tipe putus asa (self heating man)
Beberapa tipe lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan,
kondisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (nugroho 2000 dalam maryam dkk, 2008)
Tipe tersebut dijabarkan sebagai berikut :
1) Tipe bijaksana
Kaya dalam hikmah, pengalaman, menyesuiakan diri dengan perubahan zaman.
Rendah hati. Sederhana, dermawan, memenuhi undangan dan menjadi panutan
2) Tipe mandiri
Mengganti kegiatan yang hilang dengan baru, selektif dalam mencari pekerjaan,
bergaul dengan teman, dan emmenuhi undangan
3) Tipe tidak puas
Konflik lahir batin menenteng proses penuan sehingga menjadi pemarah, tidak
sabar, mudah tersingung, sulit dilayani, pengkritik, dan banyak menuntut
4) Tipe pasrah
Menerima menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan melakukan
pekerjaan apa saja
5) Tipe bingung
Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan dirir, minder, menyesal, pasif, dan
acuh tak acuh

2.2. Mitos-mitos Mengenai Lansia yang Terdapat di Masyarakat


Menurut Sheiera Saul (1974) :
1. Mitos Kedamaian dan Ketenangan
Pada dasarnya tidak ada orang di dunia ini berencara untuk berhenti
bersenang-senang, kecuali orang tersebut berada dalam kondisi depresi atau
distress. Semua orang ingin hidup senang, bahagia dan sejahtera, termasuk
para lansia. Lansia sekarang ini justru mendambakan kenikmatan hidup di hari
tua. Itulah sebabnya sejak muda orang sudah bekerja keras, agar di hari tua
nanti mendapat pensiun ataupun tabungan yang cukup untuk menikmati masa
tuanya. Kiranya usaha keras untuk mencari ilmu pengetahuan bertujuan untuk
mendapatkan pekerjaan yang mapan, sehingga nantinya memiliki hari tua yang
sejahtera, dapat menikmati hidup hari tua dan bahagia atau menjadi lansia yang
dapat bergembira.

2. Mitos Konservatisme dan Kemunduran


Pandangan bahwa lanjut usia pada umumnya :
a. Konservatif
b. Tidak kreatif
c. Menolak inovasi
d. Berorientasi ke masa silam
e. Merindukan masa lalu
f. Kembali ke masa anak-anak
g. Susah berubah
h. Keras kepala
i. Cerewet

3. Mitos Berpenyakitan
Lanjut usia dipandang sebagai masa degenerasi biologis yang disertai oleh
berbagai penderitaan akibat bermacam penyakit yang menyertai proses menua.
(Lanjut usia merupakan masa berpenyakitan dan kemunduran).

4. Mitos Senilitas
Lanjut usia dipandang sebagai masa pikun yang disebabkan oleh kerusakan
bagian otak. Banyak cara untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan daya
ingat.

5. Mitos Tidak Jatuh Cinta


Lanjut usia tidak lagi jatuh cinta dan gairah kepada lawan jenis tidak ada.

6. Mitos Aseksualitas
Ada pandangan bahwa pada lanjut usia, hubungan seks itu menurun, minat,
dorongan, gairah, kebutuhan, dan daya seks berkurang.

7. Mitos Ketidakproduktifan
Lanjut usia dipandang sebagai usia tidak produktif.

2.3. Kenyataan dari Mitos-mitos Mengenai Lansia


1. Mitos Kedamaian dan Ketenangan
a. Sering ditemui stress karena kemiskinan dan berbagai keluhan serta
penderitaan karena penyakit.
b. Depresi
c. Kekhawatiran
d. Paranoid
e. Masalah psikotik

2. Mitos Konservatisme dan Kemunduran


Tidak semua lanjut usia bersikap dan berpikiran demikian.

3. Mitos Berpenyakitan
a. Memang proses penuaan disertai dengan menurunnya daya tahan tubuh dan
metabolisme sehingga rawan terhadap penyakit.
b. Tetapi banyak penyakit yang masa sekarang dapat dikontrol dan diobati.
Tidaklah sepenuhnya benar pendapat yang mengatakan bahwa lansia
lemah, jompo, ringkih, sakit-sakitan atau cacat, karena dalam kenyataan banyak
lansia yang masih gagah, masih mampu bekerja keras bahkan banyak yang
masih memiliki jabatan penting dalam suatu lembaga. Memang kadang-kadang
ada lansia yang ringkih (gampang jatuh, gampang sakit) atau sakit ataupun
cacat tetapi hal itu berlaku untuk semua orang, baik orang muda juga ada yang
memiliki kondisi semacam itu.

4. Mitos Senilitas
Pandangan ini keliru karena tidak semua lansia mengalami pikun (senile). Pikun
ini adalah penyakit (patologis) pada orang tua, yang ditandai dengan dengan
menurunnya daya ingat jangka pendek. Dalam kehidupan manusia daya ingat
akan berubah sesuai dengan usia, sehingga setelah orang menjadi lansia ia
tidak cepat dapat mengingat sesuatu, terutama hal yang baru. Namun anggapan
bahwa lansia sama dengan pikun merupakan suatu kekeliruan. Banyak cara
menyesuaikan diri dengan perubahan daya ingat dan banyak hal yang
mempengaruhi daya ingat manusia, pada usia berapa saja daya ingat tersebut
akan berkurang ketajamannya jika orang tersebut dalam keadaan lelah, stress,
cemas, khawatir, depresi, sakit atau jiwanya tidak tenang.

5. Mitos Tidak Jatuh Cinta


Perasaan dan emosi setiap orang berubah sepanjang masa. Perasaan cinta
tidak berhenti hanya karena menjadi lanjut usia.
6. Mitos Aseksualitas
Menunjukkan bahwa kehidupan seks pada lanjut usia normal saja.
Memang frekuensi hubungan seksual menurun, sejalan dengan meningkatnya
usia tetapi masih tetap tinggi.
Fungsi psikis setiap orang baik fungsi kognitif, afektif dan konatif
(psikomotorik) serta kombinasi-kombinasinya, selama hayat masih dikandung
badan masih tetap berfungsi. Proses pikir, perasaan dan kemauannya tetap
berfungsi dengan baik, apalagi bila sering mendapat stimulasi secara teratur
dalam kehidupannya. Bahkan relasi seksualpun tetap berjalan bila masih
memiliki pasangan. Oleh karena itu, adalah tindakan yang keliru jika lansia
dianjurkan untuk mengisolasi diri agar tidak memiliki pikiran yang menyusahkan
dirinya ataupun keinginan-keinginan yang menyusahkan orang lain. Agar gairah
hidup tetap berkobar lansia perlu berinteraksi dengan orang-orang muda untuk
berdiskusi, berkomunikasi atau bersuka ria. Sayangnya seringkali orang muda
tidak tertarik untuk melakukan hal itu.

7. Mitos Ketidakproduktifan
Umumnya lansia di negara-negara berkembang dan negara-negara yang belum
memiliki tunjangan sosial untuk hari tua, akan tetap bekerja untuk memenuhi
tuntutan hidup maupun mencukupi kebutuhan keluarga yang menjadi
tanggungannya. Jadi tidaklah sepenuhnya benar jika dikatakan lansia tidak
produktif.. Mereka memiliki banyak pengalaman dalam kehidupannya, sehingga
dalam keseharian kita sering menjumpai bahwa lansia tidak mau tinggal diam,
ada saja yang ingin dikerjakannya. Terkadang memang ada yang menjadi loyo
atau pasrah, mereka ini umumnya lansia yang pada masa mudanya sudah
terkuras oleh tugas-tugas berat dan tingkat pendidikan yang relatif rendah,
sehingga dalam masa lansia tidak berdaya.

2.3. Pengaruh Mitos-mitos Mengenai Lansia Terhadap Konsep Dirinya


Kemunduran-kemunduran yang telah disebutkan itu mempunyai dampak
terhadap tingkah laku dan terhadap perasaan orang yang memasuki lanjut usia. Jelas
jika berbicara tentang menjadi tua, kemunduranlah yang akan paling banyak
dikemukakan. Tetapi disamping berbagai macam kemunduran, ada sesuatu yang dapat
dikatakan justru meningkat dalam proses menua, yaitu : sensitifitas emosional
seseorang yang akhirnya menjadi sumber banyak masalah pada masa menua. Dilihat
sepintas mengenai beberapa dampak dari kemunduran-kemunduran tersebut terhadap
sifat dan perasaan orang yang memasuki usia lanjut, misalnya : kemunduran-
kemunduran fisik yang berpengaruh terhadap penampilan seseorang. Pada umumnya
usia dewasa, seseorang dianggap tampil paling cakap, tampan, atau paling cantik.
Kemunduran fisik yang terjadi pada dirinya membawa yang bersangkutan
pada kesimpulan bahwa kecantikan ataupun ketampanan yang mereka miliki mulai
menghilang. Ini baginya berarti kehilangan daya tarik dirinya. Wanita biasanya lebih risau
dan merasa tertekan karena keadaan tersebut, sebab biasanya wanita dipuja orang
karena kecantikan dan keindahan fisiknya. Tetapi tidak berarti bahwa pria pada masa ini
tidak mengalami atau merasakan hal-hal yang serupa. Pada pria yang sedang
mengalami proses menua, tetap menginginkan dirinya menarik bagi lawan jenisnya.
Kecemasan yang timbul pada mereka yang merasa dirinya mulai menjadi
kurang menarik atau kelihatan kurang mampu itu, memberikan peluang yang besar bagi
produsen kosmetika, alat-alat kecantikan, alat-alat gerak badan, dan obat-obat awet
muda. Berkaitan dengan perasaan kehilangan daya tarik tadi ada gejala-gejala yang
terlihat dalam bidang seks. Pria dan wanita pada akhir masa dewasa memasuki apa
yang dinamakan klimakterium. Perubahan-perubahan dalam keseimbangan hormonal
yang menyebabkan berkurangnya dorongan seks.
Pada pria, proses tersebut biasanya terjadi secara lambat laun dan tidak
disertai gejala-gejala psikologis yang luar biasa, kecuali sedikit kemurungan dan rasa
lesu serta berkurangnya kemampuan seksualitasnya. Terdapat pula penurunan kadar
hormon testosterone. Pada wanita terjadi menopause (berhenti haid). Menopause terjadi
dalam suatu proses yang kadang-kadang mengambil waktu sampai dua tahun. Hal ini
disebabkan faal dari kandung telur lambat laun mulai berkurang, sampai kemudian
berhenti berfungsi sama sekali.

BAB III
PENUTUP

3.1. SIMPULAN
Dalam masyarakat kita, sering dijumpai pengertian dan mitos yang salah
mengenai lansia, sehingga banyak merugikan para lansia. Pandangan yang salah
tersebut adalah anggapan dan pandangan yang keliru namun tetap diucapkan dan
dipraktekkan secara keliru pula, sehingga sangat merugikan. Dalam hal ini yang
dirugikan adalah para lanjut usia, karena dapat merupakan stigma (cap buruk) dari
masyarakat dan dapat mempengaruhi orang-orang yang sesungguhnya memiliki
kepedulian untuk membantu para lansia. Mitos-mitos yang keliru selama ini seperti:
1. Lansia tidak menikmati kehidupan sehingga tidak dapat bergembira
2. Lansia berbeda dengan orang lain (sangat konservatif)
3. Lansia itu lemah, jompo, ringkih, sakit-sakitan atau cacat
4. Lansia sama dengan pikun
5. Lansia tidak butuh cinta dan tidak perlu relasi seksual
6. Lansia tidak berdaya
7. Lansia tidak produktif dan menjadi beban masyarakat
Padahal sesungguhnya pandangan-pandangan tersebut keliru karena tidak sesuai
dengan kenyataan yang terjadi.

3.2. SARAN
1. Kepada masyarakat yang memiliki lansia di sekitarnya agar tidak terlalu
mempercayai mitos-mitos yang berkembang di masyarakat tanpa diadakan
penelitian terlebih dahulu. Dengan menghargai kemampuan yang lansia miliki sama
halnya dengan memberikan kesempatan lansia untuk tetap mampu berkarya dan
berekspresi seoptimal mungkin.
2. Kepada para lansia agar tidak menjadi rendah diri dengan adanya mitos-mitos yang
berkembang di masyarakat karena mitos-mitos itu tidak selalu sesuai dengan
kenyataan.

DAFTAR PUSTAKA

Potter PA, Perry AG. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC

Nugroho, Wahjudi. 2000. Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta: EGC