Anda di halaman 1dari 25

SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

IAS 2

INVENTORY

DISUSUN OLEH:

ANDRY NUGRAHA PRIATMIKA

(1711070264)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

PERBANAS INSTITUTE
BEKASI
2019
1. PENDAHULUAN

Persediaan merupakan salah satu aktiva yang paling aktif dalam operasi kegiatan
perusahaaan dagang. Sebagaian besar sumber daya perusahaan yang
diinvestasikan dalam bentuk barang-barang yang dibeli atau diproduksi. Biaya
barang – barang ini harus dicatat, dikelompokan, dan diikhtisarkan selama periode
akuntansi. Pada akhir periode, biaya dialokasikan diantara aktivitas periode
berjalan dan aktivitas periode mendatang yaitu diantara barang – barang yang
berada dalam persediaan untuk dijual periode mendatang.

Persediaan juga merupakan aktiva lancar terbesar dari perusahaan manufaktur


maupun dagang. Pengaruh persediaan terhadap laba lebih mudah terlihat ketika
kegiatan bisnis berfluktuasi. Selama iklim usaha baik, penjualan menjadi tinggi dan
persediaan bergerak lebih cepat dari pembelian ke penjualan. Namun ketika
kondisi ekonomi menurun, tingkat penjualan juga menjadi menurun, persediaan
bertumpuk dan perlu dilakukan penjualan meskipun mengalami kerugian.

Pengertian persediaan menurut Skousen, Stice dan Stice (2004:653) adalah


sebagai berikut : “ Kata persediaan ditujukan untuk barang- barang yang tersedia
untuk dijual dalam kegiatan bisnis normal, dan dalam kasus perusahaan
manufaktur, maka kata ini ditujukan untuk proses produksi atau yang ditempatkan
dalam kegiatan produksi“.

IAS 2 merupakan standard akuntansi keuangan international yang mengatur


mengenai persediaan. Tujuan dari IAS 2 adalah untuk menentukan perlakuan
akuntansi untuk persediaan. IAS 2 memberikan panduan untuk menentukan biaya
persediaan dan untuk selanjutnya mengakui beban, termasuk setiap penurunan-
down menjadi nilai realisasi bersih. Hal ini juga memberikan panduan rumus biaya
yang digunakan untuk menentukan biaya persediaan. IAS 2 menyatakan dasar
penentuan dan akuntansi untuk persediaan sebagai suatu aset, hingga
pendapatan yang terkait diakui. Standar juga memberikan pedoman mengenai
penilaian persediaan dan konsekuensi penghapusannya sebagai suatu beban
(expense), dan perlakuan yang harus di adopsi atas pendapatan terkait yang di
akui.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai persediaan berdasarkan IAS 2, yaitu
ruang lingkup, dasar penilaian, pengukuran biaya perolehan, dan pengungkapan.

2. RUANG LINGKUP IAS 2

Sebelum tahun 2005 IAS 2 membolehkan penggunaan tiga alternatif pengukuran


kas persediaan, yaitu metode FIFO dan rata-rata tertimbang yang oleh IAS 2
disebut sebagai benchmark treatments, serta satu lagi metode yang oleh IAS 2
disebut sebagai allowed alternative treatments yaitu metode LIFO. Namun efektif
mulai 1 Januari 2005 IFRS tidak membolehkan penggunaan metode LIFO, sehingga
metode pengukuran kas yang berlaku tinggal metode FIFO dan metode Rata-rata
Tertimbang. Pembatasan penggunakan metode akuntansi semacam ini
merupakan indikasi bahwa IFRS pada dasarnya tidak sepenuhnya menggunakan
principles-based, bahkan dalam kasus akuntansi persediaan menjadi lebih rules-
based dibanding US GAAP.

Tujuan Pernyataan ini adalah mengatur perlakuan akuntansi untuk persediaan.


Permasalahan pokok dalam akuntansi persediaan adalah penentuan jumlah biaya
yang diakui sebagai aset dan perlakuan akuntansi selanjutnya atas aset tersebut
sampai pendapatan terkait diakui. Pernyataan ini menyediakan panduan dalam
menentuan biaya dan pengakuan selanjutnya sebagai beban, termasuk setiap
penurunan menjadi nilai realisasi neto. Pernyataan ini juga memberikan panduan
rumus biaya yang digunakan untuk menentukan biaya persediaan.
Persediaan adalah salah satu aset lancar signifikan bagi perusahaan pada
umumnya, terutama perusahaan dagang, manufaktur, pertanian, kehutanan,
pertambangan, kontraktor bangunan, dan penjual jasa tertentu. Hal ini
menyebabkan akuntansi untuk persediaan menjadi suatu masalah penting bagi
perusahaan-perusahaan tersebut.
Menurut IAS No.2 inventory atau persediaan adalah :

• Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal


• Dalam proses produksi untuk penjualan tersebut, atau
• Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam
proses produksi atau pemberian jasa

Terdapat beberapa poin penting terkait dengan definisi tersebut diatas :

a. Persediaan merupakan aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha
normal. Ini berarti aset yang dikelompokkan sebagai persediaan adalah aset
yang memang selalu dimaksudkan untuk dijual atau digunakan dalam proses
produksi atau pemberian jasa.
b. Perlengkapan yang dimaksudkan sebagai persediaan adalah perlengkapan
yang digunakan dalam proses produksi, sehingga perlengkpan kantor (seperti
alat tulis kantor) dengan tujuan untuk digunakan administrasi kantor dan
bukan untuk dijual, bukanlah bagian dari persediaan.
c. Perlengkapan tersebut juga harus merupakan perlengkapan yang digunakan
secara regular dalam proses produksi dan bukan perlengkapan yang hanya
bisa digunakan bersamaan dengan aset tetap.

IAS 2 diterapkan untuk semua persediaan, kecuali :

a) Barang dalam proses yang timbul menurut kontrak konstruksi (IAS 11


mengenai kontrak konstruksi)
b) Instrumen keuangan (misal saham, surat hutang, obligasi) yang dimiliki
sebagai persediaan (IAS 32 mengenai instrumen keuangan)
c) Aset biologis dan memproduksi yang terkait dengan aktivitas pertanian
(IAS 41 mengenaipertanian).

IAS 2 ini tidak berlaku untuk pengukuran persediaan bagi pialang-pedagang


komoditi yang mengukur persediaannya pada nilai wajar setelah dikurangi biaya
untuk menjual, sesuai dengan praktik yang berlaku pada industri. Ketika
persediaan tersebut diukur pada nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual,
maka perubahan nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual diakui dalam
laporan laba rugi pada periode terjadinya .
3. TUJUAN

Tujuan IAS 2 adalah untuk meresepkan perlakuan akuntansi untuk persediaan. Ini
memberikan panduan untuk menentukan biaya persediaan dan untuk kemudian
mengakui biaya, termasuk setiap write-down ke nilai realisasi bersih. Ini juga
memberikan panduan tentang rumus biaya yang digunakan untuk menetapkan
biaya untuk persediaan.

4. DASAR PENILAIAN

Berikut hal-hal yang perlu dipertimbangkan bilamana menentukan biaya


perolehan dan nilai realisasi neto:

1. Biaya perolehan (cost) meliputi biaya perolehan atas pembelian persediaan


dan semua biaya perolehan lainnya yang langsung diatribusikan kepada
akuisisi persediaan dan mewujudkan persediaan tersebut kepada lokasi dan
kondisi sekarang seperti bea pajak, beban transpor dan penangan.
2. Biaya konversi meliputi biaya perolehan yang langsung terkait dengan
produksi seperti tenaga kerja langsung, dan lokasi sistematis overhead pabrik
tetap dan variabel yang terjadi untuk mengkonversikan bahan baku dan
barang jadi.
3. Biaya perolehan (cost) tidak termasuk biaya umum dan administrasi, biaya
penjualan dan distribusi, pemborosan abnormal dan biaya penyimpananan
atau gudang (jika tidak terkait dengan proses produksi).
4. Biaya perolehan (cost) tidak termasuk biaya bunga dan biaya pinjaman
lainnya, kecuali bila persediaan merupakan sebuah aset kualifikasi.
5. Fluktuasi kurs mata uang asing aatas persediaan yang dibeli dalam mata uang
asing tidak termasuk dalam biaya perolehan atas pembelian persediaan.
6. Selisih antara biaya perolehan atas pembelian persediaan menurut ketentuan
kredit normal dan jumlah terutang menurut ketentuan penyelesaian yang
ditangguhkan tidak termasuk sebagai biaya perolehan (cost).

5. PENGUKURAN BIAYA PEROLEHAN


1. Metode Identifikasi khusus, digunakan bilamana barang yang dibeli tidak
biasanya dipertukarkan dan secara khusus seluruhnya atas suatu proyek
tertentu.
2. Metode masuk pertama, keluar pertama (FIFO) , mengasumsikan bahwa
persediaan yang dibeli atau atau diproduksi pertama, dijual pertama . dengan
demikianh barang yang tersisa pada akhir periode adalah persediaan barang
yang paling baru dibeli atau diproduksi.
3. Metode biaya rata-rata tertimbang , merupakan biaya perolehan setiap barang
ditentukan dengan rata-rata tertimbang dari biaya perolehan dari barang yang
sejenis pada awal suatu periode dan biaya perolehan barang tersebut dibeli
atau diproduksi selama periode yang bersangkutan.

6. METODE PERHITUNGAN PERSEDIAAN


1. Pengertian FIFO (First in First Out)
Metode ini menerapkan bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal /
pertama masu akan digunakan / dijual terlebih dahulu, jadi yang tersisa di
persediaan akhir dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang terakhir dibeli
(masuk). Metode FIFO dianggap berdampak pada nilai aktiva yang dibeli
perusahaan dan cenderung menghasilkan persediaan yag nilainya tinggi.
2. Pengertian LIFO (Last In First Out)
Metode ini menerapkan bahwa persediaan dengan nilai perolehan terakhir
(masuk) akan dijual/digunakan lebih dulu, sehingga perolehan persediaan
akhir dinilai berdasarkan nilai perolehan yang pertama (awal) masuk (dibeli).
Metode LIFO dianggap berdampak pada nilai aktiva yang rendah pada
perusahaan dan cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah.
3. Pengertian Metode Rata-rata (average method)
Metode rata-rata atau juga disebut metode average, metode ini menyatakan
bahwa nilai persediaan akhir akan menghailak amtara nilai persediaan dengan
metode FIFO. Dengan menggunakan metode ini maka akan berdampak pada
laba kotor dan harga pokok penjualan.

7. Contoh perhitungan persediaan


Contoh Soal I
PT. Semar Mesem melakukan perlakuan (pembelian, penjualan) persediaan
pada tahun 2018 adalah sebagai berikut.
Diminta :
1. Hitunglah nilai persediaan akhir
Sistem perpetual dengan metode FIFO,
LIFO dan Average.
2. Hitung Laba Kotor, Harga Pokok
Penjualan dan Jurnal yang diperlukan.
Jawab :
1. FIFO (masuk pertama keluar pertama)

2. LIFO (masuk terakhir keluar pertama)


3. Rata-rata (average)

8. METODE SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN PERIODIK DAN


PERPETUAL BESERTA CONTOH TRANSAKSINYA

Pencatatan Persediaan

1. Perpetual (perpetual inventory system)


Sistem pencatatan perpetual ini akan membuat catatan setiap kali terjadi
mutasi persediaan seperti pembelian, penjualan atau retur pembelian.
2. Periodik (periodic inventory system)
Sistem pencatatan periodik ini akan mencatat transaski mutasi pembelian ke
dalam akun pembelian yang merupakan akun sementara dan harus dilakukan
pengecekan fisik terhadap persediaan di akhir periode atau biasa disebut
stock opname.
Perbedaan Sistem periodik dan Sistem perpetual
Perusahaan yang menggunakan sistem persediaan priodik akan mencatat
pembelian barang dagang dengan mendebet rekening pembelian yang
merupakan rekening sementara untuk mengumpulkan seluruh harga pokok
barang yang dibeli pada periode tertentu dan pada akhir periode rekening ini
harus ditutup.
Berikut ini adalah table perbedaan sistem periodik dengan perpetual.

(Lanjutan jawaban dari Soal di Poin 7)

Harga Pokok Penjualan

1. Sistem Periodik
2. Sistem Perpetual

LABA KOTOR

1. Sistem Periodik

2. Sistem Perpetual
JURNAL

1. Periodik (FIFO)
Saat Mencatat Pembelian:
Pembelian Rp. 8.600.000
Utang usaha/Kas Rp. 8.600.000
Saat Mencatat Penjualan:
Piutang Usaha/Kas Rp. 11.500.000
Penjualan Rp. 11.500.000
Saat Penyesuaian untuk Persediaan:
Ikhtisar Rugi Laba Rp. 1.800.000
Persediaan Rp. 1.800.000
Persediaan Rp. 3.400.000
Ikhtisar Rugi Laba Rp. 3.400.000

2. Perpetual (FIFO)
Saat Mencatat Pembelian:
Persediaan Rp. 8.600.000
Utang Usaha/Kas Rp. 8.600.000
Saat Mencatat Penjualan:
Piutang Usaha Rp. 11.500.000
Penjualan Rp. 11.500.000
Harga Pokok Penjualan Rp. 7.000.000
Persediaan Rp. 7.000.000
Contoh Soal II

Berikut adalah transaksi PT. Semar Mendem selama Bulan Juli 2017.

Tanggal Keterangan Kuantitas Harga

1 Juli Persediaan awal 100 unit Rp.10.000

5 Juli Pembelian 500 unit Rp.12.000

12 Juli Pembelian 100 unit Rp.15.000

22 Juli Penjualan 300 unit Rp.25.000

27 Juli Pembelian 100 unit Rp 20.000

30 Juli Penjualan 50 unit Rp.30.000

Diminta:

Tentukan nilai persediaan akhir, harga pokok penjualan (HPP) dan laba kotor,
Bila diasumsikan perusahaan menggunakan Sistem periodik FIFO dan Sistem
Perpetual LIFO.

Jawab:

1. Sistem periodik FIFO

Persediaan barang yang siap dijual (unit) adalah :

Tanggal Keterangan Kuantitas Harga


(Rp.)

1 Juli Persediaan awal 100 unit @ Rp.10.000


1.000.000

5 Juli Pembelian 500 unit @ Rp.12.000


6.000.000
12 Juli Pembelian 100 unit @ Rp.15.000
1.500.000

27 Juli Pembelian 100 unit @ Rp 20.000


2.000.000

800 unit
10.500.000

Persediaan yang siap di jual (harga) adalah Rp. 10.500.000.

Unit persediaan akhir adalah :

= persediaan (unit) yang siap dijual – Unit yang terjual

= 800 unit – 350 unit = 450 unit

Nilai unit akhir.

= 100 unit @ Rp. 20.000 = Rp. 2.000.000

= 100 unit @ Rp. 15.000 = Rp. 1.500.000

= 250 unit @ Rp. 12.000 = Rp. 3.000.000

450 unit = Rp. 6.500.000

Harga pokok penjualan:

= Nilai persediaan (harga) yang tersedia untuk dijual – nilai persediaan


(harga) unit akhir

= 10.500.000 – Rp. 6.500.000 = 4.000.000

Laba Kotor:

= Hasil penjualan – Harga pokok penjualan

= 9.000.000 – Rp. 4.000.000 = 5.000.000


Metode LIFO Perpetual

Melalui metode perpetual LIFO kita dapat mengetahui hal-hal berikut


ini :

Nilai persediaan akhir Rp. 5.600.000

Harga Pokok penjualan Rp. 4.900.000

Laba kotor = Rp. 9.000.000 – Rp. 4.900.000 = Rp.


4.100.000

9. NILAI REALISASI NETO


Nilai realisasi neto (Net Realization/NRV) menunjukkan estimasi harga jual
dalam rangkaian bisnis yang normal, dikurang dengan estimasi biaya
perolehan penyelesaian dan estimasi biaya perolehan yang diperlukan untuk
mencapai penjualan. Nilai realisasi neto (NRV) diestimasi atas dasar bukti yang
paling handal pada waktu penilaian dan memperhitungkan tujuan dari
persediaan yang dimiliki. Nilai persediaan yang diturunkan dari biaya
perolehan yang dibalikan apabila kondisi sebelumnya menyebabkan
persediaan persediaan diturunkan dibawah biaya perolehan tidak ada lagi
atau terdapat bukti jelas dari suatau kenaikan didalam nilai realisasi neto
dikarenakan perubahan dalam kondisi ekonomi.

10. PENGUKURAN NILAI REALISASI NETO


Nilai realisasi neto (NRV) dari bahan baku dan perlengkapan lainnya yang
dimiliki untuk digunakan dalam produksi barang jadi diestimasi dengan cara
ini :
Apabila produk jadi dimana bahan baku dan perlengkapan yang digunakan
dijual pada harga perolehan atau diatas harga perolehan, kemudian estimasi
nilai realisasi bahan baku dan perlengkapan dianggap menjadi lebih besar
dibandingkan harga perolehannya.
Apabila bahan baku dan perlengkapan yang digunakan dijual dibawah harga
perolehan, kemudian harga pengganti (replacement price) bahan baku atau
perlengkapan mungkin menjadi ukuran terbaik yang ada mengenai nilai
realisasi neto.

11. PENGAKUAN BEBAN


Nilai tercatat persediaan harus diakui sebagai beban (expense) didalam suatu
periode dimana persediaan dijual dan pendapatan yang terkait diakui.
Bilamana biaya perolehan persediaan pada tanggal perolehan lebih rendah
daripada nilai realisasi, atau suatu kerugian persediaan terjadi, jumlah
penurunan atau kerugian persediaan harus diakui sebagai suatu beban
(expense) di dalam periode yang sama sebaimana penurunan penurunan atau
kerugian yang terjadi. Demikian pula, bilamana nilai realisasi neto persediaan
yang diturunkan lebih awal,meningkatkan atau melibihi nilai yang dinyatakan,
jumlah pemulihan dari penurunan harus diakui sebagai suatu pengurangan
didalam jumlah persediaan yang dianggap beban didalam periode dimaa
pemulihan tersebut terjadi.

12. PENGUNGKAPAN
Menurut standard akuntansi keuangan IAS 2, dalam hal penyajian persediaan
pada laporan keuangan perlu diungkapkan beberapa hal berikut ini :
a. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk
rumus biaya yang digunakan;
b. Total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi
yang sesuai bagi entitas
c. Jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nilai wajar dikurangi biaya
untuk menjual;
d. Jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode berjalan;
e. Jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah
persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan sebagaimana
dijelaskan pada paragraf 32;
f. Jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai
pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam
periode berjalan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 32;
g. Kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang
diturunkan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 32; dan
h. Nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban.

IAS 2 mengakui bahwa beberapa perusahaan mengklasifikasikan biaya


laporan laba rugi oleh alam (bahan, tenaga kerja, dan sebagainya) bukan oleh
fungsi (harga pokok penjualan, beban penjualan, dan sebagainya. Dengan
demikian, sebagai alternatif untuk mengungkapkan beban pokok penjualan,
IAS 2 memungkinkan entitas untuk mengungkapkan biaya operasi diakui
selama periode oleh alam dari biaya (bahan baku dan bahan habis pakai, biaya
tenaga kerja, biaya operasi lainnya) dan jumlah bersih mengubah
persediaan untuk periode.

Informasi tentang jumlah tercatat yang disajikan dalam berbagai klasifikasi


persediaan dan tingkat perubahannya masing-masing berguna bagi pemakai
laporan keuangan. Klasifikasi persediaan yang biasa digunakan adalah barang
dagangan, perlengkapan produksi, bahan, barang dalam penyelesaian, dan
barang jadi. Persediaan dalam pemberi jasa biasanya disebut pekerjaan dalam
penyelesaian.

Biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode, seringkali


disebut sebagai beban pokok penjualan, meliputi biaya-biaya yang
sebelumnya diperhitungkan dalam pengukuran persediaan yang saat ini telah
dijual, overhead produksi yang tidak teralokasi, dan jumlah biaya produksi
persediaan yang tidak normal. Kondisi tertentu dari entitas juga
memungkinkan untuk memasukkan biaya lainnya, seperti biaya distribusi.

Beberapa entitas mengadopsi suatu format laporan laba rugi yang


mengakibatkan jumlah yang diungkapkan adalah selain biaya persediaan
yang diakui sebagai beban selama periode yang bersangkutan. Dalam format
ini, entitas menyajikan analisa beban menggunakan klasifikasi berdasarkan
sifat dari beban.
Dalam kasus ini, entitas mengungkapkan biaya yang diakui sebagai beban
untuk bahan baku dan bahan habis pakai, biaya tenaga kerja, dan biaya
lainnya bersama-sama dengan jumlah perubahan neto persediaan pada
periode tersebut
PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ENTITAS ANAK
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN
31 MARET 2018 dan 31 Desember 2017
(Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

Catatan 31 Maret 2018 31 Desember 2017

ASET

ASET LANCAR

Kas dan setara kas 2h,2i,4, 23.993.904.232 22.853.543.946


31a,32
Piutang usaha 2h,5,31a 211.250.846.703 211.442.312.219
32
Piutang lain-lain 2h,6,31a, 23.244.035.835 23.292.447.213
32
Pajak dibayar di muka 2t,16a 528.717.389 528.717.389
Persediaan 2j,7 109.661.990.394 109.760.005.307
Biaya dibayar di muka 2k,8 15.287.728.703 11.216.061.148
Uang muka pemasok dan lainnya 2k,9 6.123.822.072 5.169.819.316

TOTAL ASET LANCAR 390.091.045.328 384.262.906.538

ASET TIDAK LANCAR

Aset tetap 2i,10 62.707.415.672 62.835.680.941


Properti investasi 2n,11 25.707.340.772 25.707.340.772
Aset pajak tangguhan neto 2t,16f 13.116.817.839 12.584.814.380
Uang jaminan
Pihak ketiga - -
Pihak berelasi 2h,2g,18 1.971.202.775 1.968.555.664
31a,32
Tagihan pajak penghasilan 2t,16d 9.985.120.794 9.985.120.794
Aset tidak lancar lainnya 10.000.000 10.000.000

TOTAL ASET TIDAK LANCAR 113.497.897.852 113.091.512.551

TOTAL ASET 503.588.943.180 497.354.419.089

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir merupakan


bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

1
PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ENTITAS ANAK
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN (Lanjutan)
31 Maret 2018 dan 31 Desember 2017
(Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

Catatan 31 Maret 2018 31 Desember 2017

LIABILITAS DAN EKUITAS

LIABILITAS JANGKA PENDEK

Utang bank
jangka pendek 2h,12,32 52.488.325.319 53.415.327.801
Utang usaha 2h,13,31c, 34.257.177.642 31.237.164.909
32
Utang lain-lain 2h,14,31c 5.738.942.105 4.235.631.953
32
Pinjaman pihak berelasi 2f,18 14.102.226.758 14.102.226.758
Utang pajak 2t,16b 2.120.502.940 2.377.210.571
Biaya yang masih harus dibayar 15 2.573.931.753 906.282.037
Utang dividen 2h,2u,31c 283.056.366 283.056.366
32
Uang muka 136.000.028 163.000.028
Utang bank jangka panjang -
jatuh tempo dalam
satu tahun 2h,12,31c 65.071.664 94.021.901
32

TOTAL LIABILITAS
JANGKA PENDEK 111.765.234.575 106.813.922.324

LIABILITAS JANGKA PANJANG


Utang bank jangka panjang
setelah dikurangi bagian
jatuh tempo dalam
waktu satu tahun 2h,12,31c 49.192.657 49.192.657
32
Liabilitas imbalan kerja
Jangka panjang 2q,17 22.750.948.901 23.759.890.104

TOTAL LIABILITAS
JANGKA PANJANG 22.800.141.558 23.809.082.761

TOTAL LIABILITAS 134.565.376.133 130.623.005.085

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir merupakan


bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

2
PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ENTITAS ANAK
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN (Lanjutan)
31 Maret 2018 dan 31 Desember 2017
(Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

Catatan 31 Maret 2018 31 Desember 2017

EKUITAS

Modal saham - nilai nominal


Rp 125 per saham
Modal dasar - 800.000.000 saham
Modal ditempatkan dan disetor
penuh - 428.000.000 saham 19 53.500.000.000 53.500.000.000
Tambahan modal disetor 20 56.710.000.000 56.710.000.000
Saldo laba
Telah ditentukan penggunaannya 13.748.488.606 13.748.488.606
Belum ditentukan penggunaannya 221.171.919.301 220.487.659.512
Komponen ekuitas lainnya
Selisih kurs karena penjabaran
laporan keuangan 2f 31.826.822.357 30.218.929.103
Komponen ekuitas lainnya (7.982.193.765) (7.982.193.765)

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada


Pemilik Entitas Induk 368.975.036.499 366.682.883.456
Kepentingan non pengendali 48.530.548 48.530.548

TOTAL EKUITAS 369.023.567.047 366.731.414.004

TOTAL LIABILITAS DAN


EKUITAS 503.588.943.180 497.354.419.089

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir merupakan


bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

3
PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ENTITAS ANAK
LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF KONSOLIDASIAN
Untuk Periode Tiga Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal-Tanggal
31 Maret 2018 dan 2017
(Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

Catatan 2018 2017

PENJUALAN BERSIH 2r,23,30 82.630.145.750 82.302.250.364


BEBAN POKOK PENJUALAN 2r,24,30 (35.684.250.212) (35.084.214.741)

LABA BRUTO 46.945.895.538 47.218.035.623

Beban usaha
Penjualan 2r,25,30 (33.352.060.067) (35.242.250.271 )
Umum dan administrasi 2r,26,30 (10.803.866.456) (10.038.941.129 )
Laba selisih kurs - neto 2f 153.412.544 (345.004.520 )
Beban lain-lain - neto 2r,27 (433.656.233) 119.936.345

LABA USAHA 2.509.725.326 1.711.776.048

Biaya keuangan 2r,28,30 (1.522.670.590) (1.044.200.515)


Penghasilan keuangan 2r 99.127.695 163.550.982

LABA SEBELUM MANFAAT


(BEBAN) PAJAK PENGHASILAN 1.086.182.431 831.126.515

MANFAAT (BEBAN) PAJAK


PENGHASILAN 2t,16d
Kini 2t,16e (451.563.604) (439.737.252 )
Tangguhan 49.640.962 48.573.542

Neto (401.922.642) (391.163.710)

LABA NETO 684.259.789 439.962.805


.

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir merupakan


bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

4
PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ENTITAS ANAK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN
Untuk Periode Tiga Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal-Tanggal
31 Maret 2018 dan 2017
(Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN PENTING (lanjutan)

h. Instrumen keuangan (lanjutan)

8. Reklasifikasi instrumen keuangan (lanjutan)

- Terjadi setelah Grup telah memperoleh secara substansial seluruh jumlah pokok
aset keuangan tersebut sesuai jadwal pembayaran atau pelunasan dipercepat;
atau

- Terkait dengan kejadian tertentu yang berada di luar kendali Grup, tidak berulang
dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh Grup.

Reklasifikasi aset keuangan dari kelompok HTM ke kelompok AFS dicatat sebesar nilai
wajarnya. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi diakui dalam komponen ekuitas
sampai aset keuangan tersebut dihentikan pengakuannya, dan pada keuntungan atau
kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi
dan penghasilan komprehensif lain konsolidasian.

i. Kas dan setara kas

Kas dan setara kas mencakup kas, bank, dan deposito berjangka yang jatuh tempo dalam
jangka waktu 3 (tiga) bulan atau kurang sejak tanggal penempatan dan tidak digunakan
sebagai jaminan atau tidak dibatasi penggunaannya.

Kas dan setara kas diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang. Lihat
catatan 2h untuk kebijakan akuntansi atas pinjaman yang diberikan dan piutang.

j. Persediaan

Persediaan dinyatakan sebesar nilai terendah antara harga perolehan dengan nilai realisasi
bersih. Nilai perolehan ditetapkan berdasarkan metode biaya yang meliputi biaya-biaya yang
terjadi untuk memperoleh persediaan tersebut serta membawanya ke lokasi dan kondisinya
yang sekarang. Nilai bersih yang dapat direalisasikan adalah taksiran harga jual yang wajar
setelah dikurangi dengan taksiran biaya untuk memperoleh dan menjual persediaan barang
jadi.

Harga perolehan dinyatakan berdasarkan metode First-in First-out (FIFO) untuk seluruh
persediaan.
Penyisihan barang usang dilakukan berdasarkan identifikasi kondisi persediaan pada setiap
tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian.

k. Biaya dibayar dimuka dan uang muka

Biaya dibayar dimuka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan
menggunakan metode garis lurus.

Uang muka merupakan pembayaran atas pengadaan barang dan/atau jasa yang akan
diperhitungkan demikian dengan harga barang dan atau jasa yang diterima.

26
PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ENTITAS ANAK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN
Untuk Periode Tiga Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal-Tanggal
31 Maret 2018 dan 2017
(Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

6. PIUTANG LAIN-LAIN

Rincian dari piutang lain-lain adalah sebagai berikut :

31 Maret 2018 31 Desember 2017

Yayasan Puteri Indonesia 7.523.684.975 7.523.684.975


PT Jalur Sutramas 3.878.648.590 3.878.648.590
PT Rajawali Nusindo 3.078.556.486 3.070.258.477
CV Cakra Nusantara 1.040.291.381 1.040.291.381
CV Mitra Sejati Distribusi 735.357.879 735.357.879
PT Batu Rusa 593.662.288 593.662.288
PT Bintang Central Imada 534.381.502 534.381.502
PT Mitra Rejeki lestari 499.085.273 499.085.273
CV Tiara Mas 496.076.342 496.076.342
PT Petama Mustika Utama 461.893.036 461.893.036
PT Matakar Pantam 377.773.439 353.668.938
PT Delta Pusaka Pratama 289.311.359 289.311.359
PT Murah Jaya 253.998.945 253.998.945
UD Mitra Makasar 176.014.048 -
PT Antar Mitra Sembada 119.991.330
PT Anugerah Niaga Jaya 115.744.420 115.744.420
Lain-lain (masing-masing
di bawah Rp 100.000.000) 3.069.564.542 3.446.383.808

Jumlah 23.244.035.835 23.292.447.213

Pada tahun 31 maret 2018 dan 31 Desember 2017, berdasarkan evaluasi manajemen terhadap
kolektibilitas saldo masing-masing piutang lain-lain pihak ketiga, manajemen berpendapat bahwa
cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang lain-lain telah memadai untuk mengantisipasi
kemungkinan kerugian dari tidak tertagihnya piutang lain-lain tersebut. Manajemen juga
berpendapat bahwa tidak terdapat risiko terkonsentrasi secara signifikan atas piutang lain-lain.

7. PERSEDIAAN
Akun ini terdiri dari:
31 Maret 2018 31 Desember 2017

Barang jadi 52.947.747.587 54.670.499.133


Bahan baku 44.288.050.041 41.723.139.688
Barang dalam proses 12.426.192.766 13.366.366.486

Jumlah 109.661.990.394 109.760.005.307

Bersih 109.661.990.394 109.760.005.307

43
PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ENTITAS ANAK
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN
Untuk Periode Tiga Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal-Tanggal
31 Maret 2018 dan 2017
(Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

7. PERSEDIAAN (lanjutan)

Berdasarkan hasil penelaahan terhadap harga pasar dan kondisi fisik dari persediaan pada
tanggal pelaporan, manajemen berkeyakinan bahwa penyisihan tersebut diatas cukup untuk
menutup kemungkinan kerugian dari keusangan dan penurunan nilai persediaan.

Pada tanggal 31 Maret 2018 dan 31 Desember 2017, nilai persediaan maing-masing sebesar
Rp 30.000.000.000, milik Perusahaan digunakan sebagai jaminan atas utang yang diperoleh dari
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Catatan 12).

Pada tanggal 31 Maret 2018 dan 31 Desember 2017, persediaan telah diasuransikan terhadap
risiko kebakaran dan pencurian dengan nilai pertanggungan sebesar Rp 36.727.114.000.

Manajemen berkeyakinan bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup


kemungkinan kerugian dari risiko tersebut.

8. BIAYA DIBAYAR DI MUKA

Akun ini terdiri dari :


31 Maret 2018 31 Desember 2017

Asuransi 815.146.344 393.216.875


Pelatihan 114.290.000 114.290.000
Kontrak model 73.750.000 25.000.000
Sewa bangunan 7.114.580 6.670.620
Lain-lain (masing-masing
di bawah Rp 100.000.000) 14.277.427.779 10.676.883.653

Jumlah 15.287.728.703 11.216.061.148

9. UANG MUKA PEMASOK DAN LAINNYA

Akun ini terdiri dari :


31 Maret 2018 31 Desember 2017

Pemasok 3.282.903.050 2.671.260.696


Kontraktor 1.448.228.668 1.143.307.017
Daerah 477.817.616 643.106.450
Lain-lain (masing-masing
di bawah Rp 100.000.000) 914.872.738 712.145.153

Jumlah 6.123.822.072 5.169.819.316

44

Anda mungkin juga menyukai