Anda di halaman 1dari 2

Adaptasi Pemukiman di Wilayah Pesisir

Kondisi Eksisting
Permukiman masyarakat pada kondisi eksisting ini yaitu kondisi dimana permukiman masyarakat
di wilayah pesisir yang langsung berdampingan dengan pantai tanpa adanya penghalang apapun.
Dalam proses pembangunannya tidak diperlukan banyak biayak dan tergolong mudah dan paktis,
karena dalam pembangunannya tidak memerlukan perencanaan yang detail yakni hanya
membangun sesuai keadaan di wilayah tersebut. Namun hal tersebut tentu akan sangat beresiko,
dikarenakan posisi permukiman yang langsung berdampingan dengan pantai dan tanpa penghalang
apapun dikhawatirkan pada keadaan waktu tertetu akan membahayakan keselamatan masyarakat
sekitar. Contohnya pada saat air laut dalam kondisi pasang, kemungkinan permukiman pada
kondisi eksisting terendam air laut sangat tinggi dan apabila gelombang air pasang sangat kuat
bukan tidak mungkin akan menghancurkan bangunan di wilayah permukiman tersebut.

Kondisi Adaptasi/ Penyesuaian

Permukiman masyarakat pada kondisi adaptasi/ penyesuaian ini tidak terlalu berbeda dengan
kondisi permukiman pada kondisi eksisting, hanya saja pada kondisi adapts/ penyesuaian
permukiman masyarakat lebih siap dalam menghadapi bencana. Masyarakat yang hidup di wilayah
permukiman ini membangun rumah dengan desain rumah panggung. Sehingga ketika kondisi air
laut pasang, rumah masyarakat tidak tergenang oleh air. Dalam proses pembangunannya
dibutuhkan biaya yang lebih besar karen memerlukan perancangan dan biaya lebih dalam
pembangunannya. Contohnya Rumah Panggung Nelayan Bugis di pesisir pantai Kecamatan
Maurole Ende Flores.

Kondisi Proteksi/ Perlindungan

Permukiman masyarakat pada kondisi proteksi/ perlidungan ini yaitu kondisi dimana permukiman
masyarakat di wilayah pesisir memiliki proteksi/ perlindungan dari gelombang air laut. Proteksi/
perlindungan permukiman ini dapat berupa pembangunan tanggul, pemecah ombak, penanaman
mangrove, dsb. Tingkat keamanan permukiman pada kondisi ini dapat dikatakan aman, karena
geombang air laut tertahan oleh proteksi/ perlindungan yang sudah dibuat. Sehingga sangat minim
kemungkinan permukiman masyarakat dapat terendam dan terkena oleh dampak air laut dalam
kondisi pasang. Dalam proses pembangunannya Memerlukan biaya yang besar, karena dibutuhkan
perencanaan pembangunan yang matang dan prosesnya cukup rumit. Contohnya Pemecah ombak
di Salubomba, Sulawesi Tengah.

Kondisi Reklamasi / Pengurugan

Permukiman masyarakat pada kondisi reklamasi/ pengurungan ini yaitu kondisi dimana
permukiman masyarakat di wilayah pesisir ini ditambahkan ketinggian dan luasnya dengan cara
penimbunan daratan oleh tanah. Sehingga wilayah daratan menjadi lebih tinggi dan luas dari
sebelumnya. Tingkat keamanan pada permukiman masyarakat hasil reklamasi dapat dikatakan
aman dari banjir rob, gelombang air pasang dsbnya. Hanya saja pada proses pembangunan
permukiman reklamasi/ pengurungan memerlukan perancangan dan biaya lebih dalam
pelaksanaannya. Wilayah laut di sekitar pesisir pemukiman berkurang luasnya, biota laut yang
berada di sekitar pesisir pantai akan terganggu. Contohnya Reklamasi Pantai Utara Provinsi DKI
Jakarta.

Kondisi Migrasi/ Mundur

Permukiman masyarakat pada kondisi migrasi/ mundur ini yaitu kondisi dimana permukiman
masyarakat di wilayah pesisir ini dipindahkan lebih jauh dari bibir pantai. Tingkat keamanan pada
permukiman masyarakat hasil migasi/ mundur dapat dikatakan aman dari banjir rob, gelombang
air pasang, dsbnya. Hanya saja pada proses pembangunan permukiman hasil migrasi/ mundur
membutuhkan biaya lebih besar, karena diperlukan pembebasan lahan dan pembangunan kembali
rumah- rumah di pemukiman tersebut. Dan akses menuju pesisir pantai akan lebih lama, karena
wilayah pemukiman dengan pesisir memiliki jarak yang lebih jauh dari sebelumnya.