Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara teori, sebuah negara dibentuk oleh masyarakat di suatu wilayah
yang tidak lain bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama setiap
anggotanya dalam koridor kebersamaan. Dalam angan setiap anggota
masyarakat, negara yang dibentuk oleh mereka ini akan melaksanakan
fungsinya menyediakan kebutuhan hidup anggota berkaitan dengan konstelasi
hidup berdampingan dengan orang lain di sekelilingnya. Di kehidupan sehari-
hari, kebutuhan bersama itu sering kita artikan sebagai “kebutuhan publik”.
Salah satu contoh kebutuhan publik yang mendasar adalah kesehatan.
Kesehatan adalah pelayanan publik yang bersifat mutlak dan erat
kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat. Untuk semua pelayanan yang
bersifat mutlak, negara dan aparaturnya berkewajiban untuk menyediakan
layanan yang bermutu dan mudah didapatkan setiap saat. Salah satu wujud
nyata penyediaan layanan publik di bidang kesehatan adalah adanya
Puskesmas. Tujuan utama dari adanya Puskesmas adalah menyediakan
layanan kesehatan yang bermutu namun dengan biaya yanng relatif
terjangkau untuk masyarakat, terutama masyarakat dengan kelas ekonomi
menengah ke bawah.
Dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai “Pelayanan
Puskesmas” karena Puskesmas sebagai bentuk nyata peran birokrasi dalam
memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, khususnya dalam bidang
kesehatan sdan karena Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan
kesehatan masyarakat.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengetahui konsep Perilaku kekerasan dan
penganiayaan dalam keluarga.

1
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memahami Pengertian Kekerasan, PK, dan
Penganiayaan.
b. Mahasiswa mampu memahami Etiologi PK dan penganiayaan
c. Mahasiswa mampu memahami Manisfestasi klinis PK
d. Mahasiswa mampu memahami Discharge Planning pk
e. Mahasiswa mampu memahami Jenis-Jenis Penganiayaan pada anak,
lansia, dan pasangan
f. Mahasiswa mampu memahami Siklus kekerasan dalam keluarga
g. Mahasiswa mampu memahami Teori dalam perilaku kekerasan
h. Mahasiswa mampu memahami Ciri-ciri perilaku kekerasan
i. Mahasiswa mampu memahami Dampak perilaku kekerasan
j. Mahasiswa mampu memahami Tanda-tanda penganiayaan
k. Mahasiswa mampu memahami Pencegahan PK

2
BAB II

PEMBAHASAN

Skenario

“MALAM-MALAM YANG MENCEKAM”

Putri dan 3 orang temannya, mahasiswa semester V Fakultas Keperawatan


sejak ± 2 bulan ini bertetangga dengan keluarga muda pak raja (27 tahun) yang
tinggal serumah denga istri (26 tahun) dan seorang anak (3,5 tahun). malam ini
untuk yang ketiga kalinya Putri dan teman-temannya mendengar suara teriakan
dan tangisan istri pak Raja : “tolong...tolong....ampun...ampun...” dan tangisan
anaknya saat berteriak “jangan pa...jangan pa...”. setelah kejadian ini biasanya
keesokan harinya Putri dan teman-temannya akan melihat istri pak Raja dalam
kondisi terdapat luka memar disekitar pelipis, mata, bibir, dan tangan.

Pak raja tidak memiliki pekerjaan tetap dan keluarga ini tidak pernah
mengikti kegiatan kemasyarakatan. Pak raja selalu memaksa meminta uang
pensiun almarhum ayahnya yang masih diterima ibunya tiap bulan. Ayah pak raja
sudah meninggal dunia sejak 13 tahun yang lalu. Wslaupun pak raja ketika kecil
membenci ayahnya karena sering dimarah, dibentak, dipukul, dan dusulut api
rokok karena kenakalannya, namun kepergian ayahnya cukup membuat pak Raja
tergoncang hingga akhirnya salah bergaul dan pernah mengenal serta
mengkonsumsi NAPZA.

Ketika ada masalah pak Raja selalu emosional, berbicara kasar,


menganiaya, dan memukul istrinya. Setiap kali selesai marah atau menganiaya
istri, pak Raja selalu menyatakan penyesalan, meminta maaf, dan berjaji tidak
akan mengulanginya lagi. Namun hal ini selalu terulang lagi dan lagi.

Step I: Terminologi

1. Pensiun : berhenti secara terhormat dari pekerjaannya atau orang


Yang berhenti bekerja karena pensiun.

2. Emosional : perasaan marah yang dikeluarkan dalam bentuk emosi

3
Baik emosi positif dan negatif.

3. NAPZA : Narkotika, Psikotropika, Zat adiktif, atau suau obat yang


Jika memakai menggangu sistem pikiran pemakainya.

4. Keluarga muda : orang-orang muda yang memasuki pernikahan atau


Pasangan muda yang baru berumah tangga.

Step II: Identifikasi Masalah

1. Apa penyebab istri pak raja meminta tolong?


2. Perilaku apa yang muncul dari kalimat skenario?
3. Dampak dari kondisi tersebut?
4. Faktor apa yang menyebabkan keluarga pak raja tidak mau bersosialisasi?
5. Dalam sifat apa jika keluarga tidak mau bersosialisasi?
6. Apa manfaat dari kegiatan bermasyarakat?
7. Faktor apakah yang menyebabkan mengkonsumsi NAPZA?
8. Apa dampak mengkonsumsi NAPZA?
9. Apakah ada pengaruh masalalunya terhadap perilakunya sekarang?
10. Apa dan bagaimana edukasi dan peran perawat dalam mengatasinya?
11. Apakah ada faktor keturunan dengan perilakunya sekarang?

Step III: Curah Pendapat/Brainstorming

1. Karena terjadinya perilaku kekerasan akibat suami memiliki masalah


ekonomi yaitu pak raja meminta uang pensiunan ayahnya yang sudah
meninggal. Sehingga sang istri mendapatkan perilaku yang tidak baik dari
suaminya seta ancaman.
2. Karena terjadinya perilaku kekerasan akibat suami memiliki masalah
ekonomi yaitu pak raja meminta uang pensiunan ayahnya yang sudah
meninggal. Sehingga sang istri mendapatkan perilaku yang tidak baik dari
suaminya seta ancaman.
3. Tidak ada rasa kenyamanan, jiwa tertekan, depresi, trauma, rasa ingin
bunuh diri dan dendam.

4
4. Efek napza mengakibatkan pak raja tidak mau bersosialisasi serta
kurangnya perhatian pak raja dengan keluarga dapat berdampak kepada
lingkungannya
5. Sifat apatis tidak mau bersosialisasi dengan dunia luar
6. Mengurangi sifat bodo amat, meningkatkan rasa silaturahmi, terjalinnya
sikap tolong- menlong, menghindari hal-hal negatif, dan menambah awet
muda.
7. Pak raja salah bergaul, faktor ekonomi, dan pengaruh teman, faktor
didikan dari kecil mengakibatkan pak raja mengalami perilaku seperti
sekarang serta kurang ketaatan kepada tuhan.
8. Kejang, halusinasi, gangguan peredaran darah, alergi, serta berdampak
negatif untuk dirinya, dan lingkungan sekitarnya.
9. Faktor psikologis dari masa lalu bisa menimbulkan dampak dari masa
sekarang.
10. BHSP (keluarga dan perawat), askep secara langsung, serta mengedukasi
keluarga
11. Faktor biologi mengakibatkan perilaku pak raja sekarang, faktor perilaku
dari kecil dan adanya masalah dalam keluarga mengakibatkan pak raja
melakukan perilaku kekerasan kepada keluarganya.

5
Step IV: Mapping

Kel.muda

Dahulu sering mengalami kekerasan

Salah bergaul (NAPZA)

Selalu emosional, kasar, dll

KDRT

Penyesalan

Berulang

Perilaku kekersan & penganiayaan


dalam keluarga

Step V: Learning Objektif

1. Pengertian Kekerasan, PK, Penganiayaan


2. Etiologi PK dan penganiayaan
3. Manisfestasi klinis PK
4. Discharge Planning pk
5. Jenis-Jenis Penganiayaan pada anak, lansia, dan pasangan
6. Siklus kekerasan dalam keluarga
7. Teori dalam perilaku kekerasan
8. Ciri-ciri perilaku kekerasan
9. Dampak perilaku kekerasan

6
10. Tanda-tanda penganiayaan
11. Pencegahan PK

Step VI: Mandiri

Step VII: Pemaparan Hasil

1. Aspek Legal dan Pendokumentasian Dalam keperawatan


A. Definisi
Puskesmas adalah Suatu unit organisasi yang bergerak dalam
bidang pelayanan kesehatan yang berada di garda terdepan dan
mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan,
yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat di suatu wilayah kerja
tertentu yang telah ditentukan secara mandiri dalam menentukan
kegiatan pelayanan namun tidak mencakup aspek pembiayaan. (Ilham
Akhsanu Ridlo, 2008)
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) dinas kesehatan
kabupaten atau kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan
pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.

B. Sejarah Puskesmas
Sejarah Puskesmas Perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia
dimulai sejak pemerintahan Belanda pada abad ke-16 yaitu adanya
upaya pemberantasan penyakit cacar dan cholera yang sangat ditakuti
oleh masyarakat. Pada tahun 1968 diterapkan konsep puskesmas yang
dilangsungkan dalam Rapat Kerja Nasional di Jakarta, yang
membicarakan tentang upaya mengorganisasi sistem pelayanan
kesehatan di tanah air, karena pelayanan kesehatan pada saat itu
dirasakan kurang menguntungkan dan dari kegiatan-kegiatan seperti
Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA), Balai Pengobatan (BP),
Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) dan sebagainya masih
berjalan sendiri-sendiri dan tidak saling berhubungan. Melalui rakernas
tersebut timbul gagasan untuk menyatukan semua pelayanan kesehatan

7
tingkat pertama ke dalam suatu organisasi yang dipercaya dan diberi
nama Pusat Kesehatan Masyarakat. Puskesmas dibedakan menjadi 4
macam yaitu:
1) puskesmas tingkat desa
2) puskesmas tingkat kecamatan
3) puskesmas kewedanan
4) puskesmas tingkat kabupaten
Pada tahun 1979 mulai dirintis pembangunan di daerah-daerah tingkat
kelurahan atau desa, untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang
berada di suatu kecamatan maka selanjutnya disebut sebagai
puskesmas induk sedangkan yang lain disebut puskesmas pembantu,
dua kategori ini dikenal sampai sekarang.

C. Visi dan Misi Puskesmas


1. Visi Puskesmas
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh
Puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju
terwujudnya Indonesia Sehat .
Indikator Kecamatan Sehat:
a. lingkungan sehat
b. perilaku sehat
c. cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu
d. derajat kesehatan penduduk kecamatan

2. Misi Puskesmas

a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah


kerjanya
b. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat
di wilayah kerjanya
c. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan

8
d. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan
masyarakat beserta lingkungannya.

D. Tujuan Puskesmas

Pembangunan kesehatan yang diselenggarkan oleh puskesmas adalah


untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional
yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat
bagi orang yang bertempat tinggal diwilayah kerja pukesmas agar
terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka
mewujudkan indonesia sehat.

E. Fungsi dan wewenang Puskesmas


a. Fungsi
1) Sebagai Pusat Pembangunan Kesehatan Masyarakat di wilayah
kerjanya.
2) Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam
rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.
3) Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan
terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya.
proses dalam melaksanakan fungsinya, dilaksanakan dengan
cara:
1) Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk
melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya
sendiri.
2) Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang
bagaimana menggali dan menggunakan sumberdaya yang
ada secara efektif dan efisien.
3) Memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi
dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada
masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak
menimbulkan ketergantungan.
4) Memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada
masyarakat.

9
5) Bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan
dalam melaksanakan program
b. Wewenang Puskesmas
Wewenang puskesmas dibahas pada pasal 6, 7 dan 8 yaitu sebagai
berikut:

1. melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah


kesehatan masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang
diperlukan;

2. melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;

3. melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan


pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan;

4. menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan


menyelesaikan masalah kesehatan pada setiap tingkat
perkembangan masyarakat yang bekerjasama dengan sektor
lain terkait;

5. melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan


dan upaya kesehatan berbasis masyarakat;

6. melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia


Puskesmas;

7. memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan


kesehatan;

8. melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap


akses, mutu, dan cakupan Pelayanan Kesehatan; dan

9. memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan


masyarakat, termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan
dini dan respon penanggulangan penyakit.

Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 5 huruf b, Puskesmas berwenang untuk:

10
1. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dasar secara
komprehensif, berkesinambungan dan bermutu

2. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan


upaya promotif dan preventif;

3. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang berorientasi


pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat;

4. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan


keamanan dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung;

5. menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan prinsip


koordinatif dan kerja sama inter dan antar profesi;

6. melaksanakan rekam medis

7. melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap


mutu dan akses Pelayanan Kesehatan

8. melaksanakan peningkatan kompetensi Tenaga Kesehatan;

9. mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas


pelayanan kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan

10. melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi


medis dan Sistem Rujukan.

Selain menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 5, Puskesmas dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan
Tenaga Kesehatan. Ketentuan mengenai wahana pendidikan
Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

F. Sistem pengorganisasian Puskesmas


Struktur organisasi puskesmas dalam permenkes 75 tahun 2014 dibagi
menjadi 3 (tiga) macam sesuai dengan kategori puskesmas. Walaupun
secara umum memiliki kesamaan, namun terdapat beberapa bagian
yang berbeda dari masing-masing kategori puskesmas.

11
a. Struktur Organisasi Puskesmas Perkotaan
Adapun struktur organisasi puskesmas perkotaan adalah sebagai
berikut:
1) Kepala Puskesmas
Kriteria Kepala Puskesmas yaitu tenaga kesehatan dengan
tingkat pendidikan paling rendah sarjana, memiliki
kompetensi manajemen kesehatan masyarakat, masa kerja di
Puskesmas minimal 2 (dua) tahun, dan telah mengikuti
pelatihan manajemen Puskesmas.
2) Kasubag Tata Usaha
Membawahi beberapa kegiatan diantaranya Sistem Informasi
Puskesmas, kepegawaian, rumah tangga, dan keuangan.
Penanggung jawab UKM esensial dan keperawatan kesehatan
masyarakat Membawahi:
1) pelayanan promosi kesehatan termasuk UKS
2) pelayanan kesehatan lingkungan
3) pelayanan KIA-KB yang bersifat UKM
4) pelayanan gizi yang bersifat UKM
5) pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit
6) pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat
Penanggungjawab UKM Pengembangan Membawahi upaya
pengembangan yang dilakukan Puskesmas, antara lain:
1) pelayanan kesehatan jiwa
2) pelayanan kesehatan gigi masyarakat
3) pelayanan kesehatan tradisional komplementer
4) pelayanan kesehatan olahraga
5) pelayanan kesehatan indera
6) pelayanan kesehatan lansia
7) pelayanan kesehatan kerja
8) pelayanan kesehatan lainnya
Penanggung jawab UKP, kefarmasian, dan laboratorium
Membawahi beberapa kegiatan, yaitu :

12
1) pelayanan pemeriksaan umum
2) pelayanan kesehatan gigi dan mulut
3) pelayanan KIA-KB yang bersifat UKP
4) pelayanan gawat darurat
5) pelayanan gizi yang bersifat UKP
6) pelayanan persalinan
7) pelayanan rawat inap untuk Puskesmas yang menyediakan
pelayanan rawat inap
8) pelayanan kefarmasian
9) pelayanan laboratorium

Penanggung jawab jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring


fasilitas pelayanan kesehatan Membawahi:

1) Puskesmas Pembantu

2) Puskesmas Keliling

3) Bidan Desa

4) Jejaring fasilitas pelayanan kesehatan

G. Upaya program Puskesmas


Kegiatan pokok Puskesmas dilaksanakan sesuai kemampuan tenaga
maupun fasilitasnya, karenanya kegiatan pokok di setiap Puskesmas
dapat berbeda-beda. Namun demikian kegiatan pokok Puskesmas yang
lazim dan seharusnya dilaksanakan adalah sebagai berikut :
a. Kesejahteraan ibu dan Anak ( KIA )
b. Keluarga Berencana
c. Usaha Peningkatan Gizi
d. Kesehatan Lingkungan
e. Pemberantasan Penyakit Menular
f. Upaya Pengobatan termasuk Pelayanan Darurat Kecelakaan
g. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
h. Usaha Kesehatan Sekolah
i. Kesehatan Olah Raga

13
j. Perawatan Kesehatan Masyarakat
k. Usaha Kesehatan Kerja
l. Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut
m. Usaha Kesehatan Jiwa
n. Kesehatan Mata
o. Laboratorium ( diupayakan tidak lagi sederhana )
p. Pencatatan dan Pelaporan Sistem Informasi Kesehatan
q. Kesehatan Usia Lanjut
r. Pembinaan Pengobatan Tradisional
Pelaksanaan kegiatan pokok Puskesmas diarahkan kepada keluarga
sebagai satuan masyarakat terkecil. Karenanya, kegiatan pokok
Puskesmas ditujukan untuk kepentingan kesehatan keluarga sebagai
bagian dari masyarakat di wilayah kerjanya. Setiap kegiatan pokok
Puskesmas dilaksanakan dengan pendekatan Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Desa ( PKMD ).

Disamping penyelenggaraan usaha-usaha kegiatan pokok Puskesmas


seperti tersebut di atas, Puskesmas sewaktu-waktu dapat diminta untuk
melaksanakan program kesehatan tertentu oleh Pemerintah Pusat
( contoh: Pekan Imunisasi Nasional ). Dalam hal demikian, baik
petunjuk pelaksanaan maupun perbekalan akan diberikan oleh
Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah. Keadaan darurat
mengenai kesehatan dapat terjadi, misalnya karena timbulnya wabah
penyakit menular atau bencana alam. Untuk mengatasi kejadian
darurat seperti di atas bisa mengurangi atau menunda kegiatan lain.

H. Kategori puskesmas
Dalam rangka pemenuhan Pelayanan Kesehatan yang didasarkan pada
kebutuhan dan kondisi masyarakat, Puskesmas dapat dikategorikan
berdasarkan :
b. karakteristik wilayah kerja

14
Pengelompokan puskesmas berdasarkan karakteristik wilayah
kerjanya terdiri dari 3, yaitu :
1. Puskesmas kawasan perkotaan
Puskesmas kawasan perkotaan adalah Puskesmas yang
wilayah kerjanya meliputi kawasan yang memenuhi paling
sedikit 3 (tiga) dari 4 (empat) kriteria kawasan perkotaan
sebagai berikut:
1) Aktivitas lebih dari 50% (lima puluh persen)
penduduknya pada sektor non agraris, terutama industri,
perdagangan dan jasa;
2) Memiliki fasilitas perkotaan antara lain sekolah radius 2,5
km, pasar radius 2 km, memiliki rumah sakit radius
kurang dari 5 km, bioskop, atau hotel;
3) Lebih dari 90% (sembilan puluh persen) rumah tangga
memiliki listrik; dan/atau
4) Terdapat akses jalan raya dan transportasi menuju
fasilitas perkotaan sebagaimana dimaksud pada poin
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan oleh Puskesmas
kawasan perkotaan memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Memprioritaskan pelayanan UKM;
2) Pelayanan UKM dilaksanakan dengan melibatkan
partisipasi masyarakat;
3) Pelayanan UKP dilaksanakan oleh Puskesmas dan
fasilitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh
pemerintah atau masyarakat;
4) Optimalisasi dan peningkatan kemampuan jaringan
pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas pelayanan
kesehatan dan
5) Pendekatan pelayanan yang diberikan berdasarkan
kebutuhan dan permasalahan yang sesuai dengan pola
kehidupan masyarakat perkotaan.
2. Puskesmas kawasan pedesaan

15
Puskesmas kawasan pedesaan merupakan Puskesmas yang
wilayah kerjanya meliputi kawasan yang memenuhi paling
sedikit 3 (tiga) dari 4 (empat) kriteria kawasan pedesaan
sebagai berikut:
1) Aktivitas lebih dari 50% (lima puluh persen) penduduk
pada sektor agraris
2) Memiliki fasilitas antara lain sekolah radius lebih dari 2,5
km, pasar dan perkotaan radius lebih dari 2 km, rumah
sakit radius lebih dari 5 km, tidak memiliki fasilitas
berupa bioskop atau hotel;
3) Rumah tangga dengan listrik kurang dari 90% (Sembilan
puluh persen; dan
4) Terdapat akses jalan dan transportasi menuju fasilitas
sebagaimana dimaksud pada poin 2.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan oleh Puskesmas
kawasan pedesaan memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Pelayanan UKM dilaksanakan dengan melibatkan
partisipasi masyarakat;
2) Pelayanan UKP dilaksanakan oleh Puskesmas dan
fasilitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh
masyarakat;
3) Optimalisasi dan peningkatan kemampuan jaringan
pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas pelayanan
kesehatan dan
4) Pendekatan pelayanan yang diberikan menyesuaikan
dengan pola kehidupan masyarakat perdesaan.
3. Puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil.
Puskesmas kawasan terpencil dan sangat
terpencil merupakan Puskesmas yang wilayah kerjanya
meliputi kawasan dengan karakteristik sebagai berikut:
1) Berada di wilayah yang sulit dijangkau atau rawan
bencana, pulau kecil, gugus pulau, atau pesisir

16
2) Akses transportasi umum rutin 1 kali dalam 1 minggu,
jarak tempuh pulang pergi dari ibu kota kabupaten
memerlukan waktu lebih dari 6 jam, dan transportasi yang
ada sewaktu-waktu dapat terhalang iklim atau cuaca dan
3) Kesulitan pemenuhan bahan pokok dan kondisi keamanan
yang tidak stabil.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan oleh Puskesmas
kawasan terpencil dan sangat terpencil memiliki karakteristik
sebagai berikut:
1) Memberikan pelayanan UKM dan UKP dengan
penambahan kompetensi tenaga kesehatan;
2) Dalam pelayanan UKP dapat dilakukan penambahan
kompetensi dan kewenangan tertentu bagi dokter,
perawat, dan bidan;
3) Pelayanan UKM diselenggarakan dengan memperhatikan
kearifan lokal;
4) Pendekatan pelayanan yang diberikan menyesuaikan
dengan pola kehidupan masyarakat di kawasan terpencil
dan sangat terpencil;
5) Optimalisasi dan peningkatan kemampuan jaringan
pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas pelayanan
kesehatan; dan
6) Pelayanan UKM dan UKP dapat dilaksanakan dengan
pola gugus pulau/cluster dan/atau pelayanan kesehatan
bergerak untuk meningkatkan aksesibilitas.
4. kemampuan penyelenggaraan.
Berdasarkan kemampuan penyelenggaraan, Puskesmas
dikategorikan menjadi:
1) Puskesmas non rawat inap; dan
Puskesmas non rawat inap adalah Puskesmas yang tidak
menyelenggarakan pelayanan rawat inap, kecuali
pertolongan persalinan normal.

17
2) Puskesmas rawat inap.
Puskesmas rawat inap adalah Puskesmas yang diberi
tambahan sumber daya untuk meenyelenggarakan
pelayanan rawat inap, sesuai pertimbangan kebutuhan
pelayanan kesehatan.

I. Azaz penyelenggaraan puskesmas


Azas Penyelenggaraan Puskesmas Menurut Kepmenkes No 128 Tahun
2004 :

a. Azas pertanggungjawaban wilayah


1) Puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah
kerjanya.
2) Dilakukan kegiatan dalam gedung dan luar gedung
3) Ditunjang dengan puskesmas pembantu, Bidan di desa,
puskesmas keliling
b. Azas pemberdayaan masyarakat
1) Puskesmas harusmemberdayakan perorangan, keluarga dan
masyarakat agar berperan aktif dalam menyelenggarakan
setiap upaya Puskesmas
2) Potensi masyarakat perlu dihimpun
c. Azas keterpaduan
Setiap upaya diselenggarakan secara terpadu
a) Keterpaduan lintas program
1. UKS : keterpaduan Promkes, Pengobatan, Kesehatan Gigi,
Kespro, Remaja, Kesehatan Jiwa
b) Keterpaduan lintassektoral
1. Upaya Perbaikan Gizi : keterpaduan sektor kesehatan dengan
camat, lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama, dunia usaha,
koperasi, PKK
2. Upaya Promosi Kesehatan : keterpaduan sektor kesehatan dengan
camat, lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama

18
d. Azas rujukan
a. Rujukan medis/upaya kesehatan perorangan
1) rujukan kasus
2) bahan pemeriksaan
3) ilmu pengetahuan
b. Rujukan upaya kesehatan masyarakat
1) rujukan sarana dan logistik
2) rujukan tenaga
3) rujukan operasional

J. Ruang Lingkup PERKESMAS

Lingkup pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat


meliputi upaya kesehatan perorangan (UKP) maupun upaya kesehatan
masyarakat (UKM). Pelayanan kesehatan yang diberikan lebih
difokuskan pada promotif dan preventif tanpa mengabaikan kuratif dan
rehabilitatif. Upaya preventif meliputi pencegahan tingkat pertama
(primary prevention), pencegahan tingkat kedua (secondary
prevention) maupun pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention).

K. Sasaran Perkesmas
Sasaran keperawatan kesehatan masyarakat adalah seluruh masyarakat
termasuk individu, keluarga, kelompok beresiko tinggi termasuk
kelompok/ masyarakat penduduk di daerah kumuh, terisolasi,
berkonflik, dan daerah yang tidak terjangkau pelayanan kesehatan.
Sasaran keperawatan kesehatan masyarakat adalah individu, keluarga,
kelompok, masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan akibat
factor ketidak tahuan, ketidak mauan maupun ketidakmampuan dalam
menyelesaikan masalah kesehatannya. Prioritas sasaran adalah yang
mempunyai masalah kesehatan terkait dengan masalah kesehatan
prioritas daerah, terutama :

19
a. Belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas
serta jaringannya)
b. Sudah memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan tetapi
memerlukan tindak lanjut keperawatan di rumah.
Sasaran terdiri dari :
1. Sasaran individu
Sasaran priotitas individu adalah balita gizi buruk, ibu hamil
risiko tinggi, usia lanjut, penderita penyakit menular (a.l TB
Paru, Kusta, Malaria, Demam Berdarah, Diare,
ISPA/Pneumonia), penderita penyakit degeneratif.
2. Sasaran keluarga
Sasaran keluarga adalah keluarga yang termasuk rentan
terhadap masalah kesehatan (vulnerable group) atau risiko
tinggi (high risk group), dengan prioritas :
a. Keluarga miskin belum kontak dengan sarana pelayanan
kesehatan (Puskesmas dan jaringannya) dan belum
mempunyai kartu sehat.
b. Keluarga miskin sudah memanfaatkan sarana pelayanan
kesehatan mempunyai masalah kesehatan terkait dengan
pertumbuhan dan perkembangan balita, kesehatan
reproduksi, penyakit menular.
c. Keluarga tidak termasuk miskin yang mempunyai
masalah kesehatan prioritas serta belum memanfaatkan
sarana pelayanan kesehatan
3. Sasaran kelompok
Sasaran kelompok adalah kelompok masyarakat khusus yang
rentan terhadap timbulnya masalah kesehatan baik yang
terikat maupun tidak terikat dalam suatu institusi.
a. Kelompok masyarakat khusus tidak terikat dalam
suatu institusi antara lain Posyandu, Kelompok Balita,
Kelompok ibu hamil, Kelompok Usia Lanjut,

20
Kelompok penderita penyakit tertentu, kelompok
pekerja informal.
b. Kelompok masyarakat khusus terikat dalam suatu
institusi, antara lain sekolah, pesantren, panti asuhan,
panti usia lanjut, rumah tahanan (rutan), lembaga
pemasyarakatan (lapas).
4. Sasaran masyarakat
Sasaran masyarakat adalah masyarakat yang rentan atau
mempunyai risiko tinggi terhadap timbulnya masalah
kesehatan, diprioritaskan pada
a. Masyarakat di suatu wilayah (RT, RW,
Kelurahan/Desa) yang mempunyai :
1) Jumlah bayi meninggal lebih tinggi di bandingkan
daerah lain
2) Jumlah penderita penyakit tertentu lebih tinggi
dibandingkan daerah lain
3) Cakupan pelayanan kesehatan lebih rendah dari
daerah lain
b. Masyarakat di daerah endemis penyakit menular
(malaria, diare, demam berdarah, dll)
c. Masyarakat di lokasi/barak pengungsian, akibat
bencana atau akibat lainnya
d. Masyarakat di daerah dengan kondisi geografi sulit
antara lain daerah terpencil, daerah perbatasan
e. Masyarakat di daerah pemukiman baru dengan
transportasi sulit seperti daerah transmigrasi.

L. Indikator Keberhasilan Perkesmas


Untuk mengukur keberhasilan upaya Keperawatan Kesehatan
Masyarakat di Puskesmas, digunakan indicator yang meliputi indikator
masukan (input), indikator proses, indikator luaran (output) dan
indikator dampak.

21
1. Indikator Masukan (Input)
Indikator masukan, meliputi :
1) Jumlah perawat Puskesmas sudah mendapat pelatihan teknis
Perkesmas serta penatalaksanaan program prioritas.
2) Jumlah Kit untuk pelaksanaan Perkesmas ( PHN Kit) minimal
1 kit untuk setiap desa.
3) Tersedia sarana transporasi (R-2) untuk kunjungan ke
keluarga/ kelompok/masyarakat,
4) Tersedia dana operasional untuk pembinaan/asuhan
keperawatan
5) Tersedia Standar/Pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan
Perkesmas
6) Tersedia dukungan administrasi (Buku Register, Family
Folder, Formulir Askep, Formulir Laporan, dll)
7) Tersedianya ruangan khusus untuk asuhan keperawatan di
Puskesmas
2. Indikator Proses

Indikator proses, meliputi :

1) Ada Rencana Usulan Kegiatan Perkesmas terintegrasi


dengan Rencana Kegiatan Puskesmas.
2) Ada Rencana Pelaksanaan Kegiatan Perkesmas (POA).
3) Ada Rencana Asuhan Keperawatan setiap klien (individu,
keluarga, kelompok, masyarakat).
4) Adanya dukungan dan ada kegiatan bimbingan yang
dilakukan Kepala Puskesmas.
5) Ada kegiatan bimbingan teknis Perkesmas oleh Perawat
Penyelia Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Puskesmas.
6) Ada kegiatan koordinasi dengan lintas program terkait
petugas kesehatan lain.
7) Ada laporan tertulis hasil pemantauan dan penilaian dan
rencana tindak lanjut.
8) Ada rencana peningkatan pendidikan/pelatihan perawat secara

22
berkelanjutan.

3. Indikator luaran (output)


Indikator luaran, meliputi :
1) % suspek/kasus perioritas puskesmas (contoh.TB paru)
yangditemukan secara dini.
2) % pasien kasus yang mendapat pelayanan tindak lanjut
keperawatan di rumah.
3) % keluarga miskin dengan masalah kesehatan yang dibina.
4) % kelompok khusus dibina (panti, rutan lapas/rumah tahanan
dan lembaga pemasyarakatan, dll).
5) % pasien rawat inap Puskesmas di lakukan asuhan
keperawatan.
6) % desa/daerah yang dibina. Besarnya % setiap Puskesmas
ditetapkan oleh masing-masing Kabupaten/Kota. Indikator
luaran ini merupakan indikator antara, untuk mendukung
tercapainya Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Kabupaten/Kota.
4. Indikator dampak
Indikator dampak yaitu ”keluarga mandiri dalam memenuhi
kebutuhan kesehatannya”, yang dinilai dengan tingkat
kemandirian keluarga. Kemandirian keluarga berorientasi pada
lima fungsi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya yaitu
1) mampu mengenal masalah kesehatannya.
2) mampu mengambil keputusan tepat untuk mengatasi
kesehatannya.
3) mampu melakukan tindakan keperawatan untuk anggota
keluarga yang memerlukan bantuan keperawatan.
4) mampu memodifikasi lingkungan sehingga menunjang upaya
peningkatan kesehatan.
5) mampu memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan yang ada.

23
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat
ternyata masih menyimpan berbagai permasalahan yang kini banyak
dikeluhkan oleh masyarakat. Tidak hanya dilihat dari segi sarana dan
prasarana yang kurang memadai, tetapi juga dari segi tenaga medis yang
demikian pula adanya. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus dari
pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat serta
komitmen untuk merubah sistem pelayanan Puskesmas yang dinilai buruk
oleh masyarakat. Selain itu, Puskesmas juga harus memiliki standar
pelayanan yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat untuk
mencapai kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

B. Saran
1. Puskesmas harus lebih memfokuskan pada peningkatan pelayanan
kesehatan dan pengelolaan sistem kesehatan yang menyeluruh
2. Melakukan perbaikan terhadap sarana dan prasarana Puskesmas demi
terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan
3. Merestrukturisasikan peran Puskesmas
4. Pemerintah harus memberikan otonomi kepada Puskesmas dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
5. Mensosialisasikan program-program Puskesmas kepada masyarakat untuk
mengubah citra Puskesmas yang sudah dinilai buruk oleh masyarakat

24
DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito, Wiku. 2007. Sistem Kesehatan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Depkes. 2008. Petunjuk Tehnis Program Jaminan Kesehatan Masyarakat di


Puskesmas dan Jaringannya. Jakarta: Dirjen Binkesmas.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia nomor 128/MENKES/SK/II/2004 Tentang Kebijakan
Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Depkes RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Keputusan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia Nomor 279/MENKES/SK/IV/2006
Tentang Pedoman Penyelenggaraan Upaya Keperawatan Kesehatan
Masyarakat Dipuskesmas. Jakarta: Depkes RI

Ferry dan Makhfudli. 2009. Keperawatan kesehatan komunitas: teori dan


Praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Hatmoko. 2006. Sistem Pelayanan Kesehatan Dasar Puskesmas. Samarinda :


Universitas Mulawarman

Soekidjo Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Tafwidhan, Y dkk. 2012. Kompetensi perawat puskesmas dan tingkat


keterlaksanaan kegiatan perkesmas. Jurnal keperawatan Indonesia vol. 15
hal 21-28

25