Anda di halaman 1dari 28

TEORI PSIKOANALISA

PSIKOLOGI SOSIAL

OLEH:

KELOMPOK 4

- NAMA : Hasna Leli Harahap ( 1183351006)


Sherrindi Nakami ( 1183351009)
Sarah V Siregar ( 1183351027)
- DOSEN PEGAMPU : Yeni Marito,M.Pd,M.Psi,Psikolog
- KELAS : BK Reguler C 2018
- MATA KULIAH : Psikologi Sosial

PROGRAM STUDI S1 PRODI BIMBINGAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kita
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kita dapat menyelesaikan makalah tentang
makalah tentang “Teori Psikoanalisa”.

Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah tentang “Teori Psikoanalisa”.

Akhir kata saya berharap semoga makalah tentang “Teori Psikoanalisa “ini dapat
memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca .

Medan, 01 Oktober 2019

Penulis

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ i

DAFTAR ISI ......................................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 1

1.1.LATAR BELAKANG ....................................................................................................................... 1


1.2.RUMUSAN MASALAH ................................................................................................................. 1-2
1.3.TUJUAN ........................................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................................... 3

A. Pembahasan Akhir Masa Kanak-Kanak ...................................................................................... 27


BAB III PENUTUP .............................................................................................................................. 27

2.1.KESIMPULAN ................................................................................................................................ 27

2.2.SARAN ............................................................................................................................................ 27

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 28

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Lata Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan diantara manusia tersebut ternyata tidak


selamanya berjalan lancar. Adakalanya muncul kesalah pahaman, perselisihan, pertengkaran,
permusuhan, bahkan peperangan. Lingkup kejadiannya tidak saja terjadi dalam skala yang
kecil ditingkat keluarga dan lingkungan kelurahan tetapi juga bisa terjadi dalalm skala yang
lebih besar ditingkat nasional dan internasional. Dalam kajian psikologi sosial hal ini terjadi
karena tidak adanya kesamaan pandangan terhadap suatu pola perilaku pada suatu struktur
kelompok sosial. Masing-masing pihak merespon rangsangan sosial yang diterimanya dari
lingkungan sosial, sehingga memunculkan sikap memilih atau menghindari sesuatu.
Objek pembahasan dari Psikologi Sosial tidaklah berbeda dengan psikologi secara
umumnya. Hal ini bisa dipahami karena Psikologi Sosial adalah salah satu cabang ilmu dari
psikologi. Bila objek pembahasan psikologi adalah manusia dan kegiatannya, maka Psikologi
Sosial adalah kegiatan-kegiatan sosialnya. Masalah yang dikupas dalam psikologi umum
adalah gejala-gejala jiwa seperti perasaan, kemauan, dan berfikir yang terlepas dari alam
sekitar.
Masalah-masalah yang terjadi pada kalangan remaja menunjukkan bahwa betapa
besarnya pengaruh lingkungan terhadap perilaku individu dalam kelompok sosial. Psikologi
Sosial dalam hal ini membantu memberikan pemecahan persoalannya dengan upaya
pendidikan keagamaan.

1.2.Rumusan Masalah
1. Siapa tokoh Psikoanalisis?
2. Apa yang dimaksud dengan psikoanalisis
3. Bagaimana tingkat kehidupan mental menurut Sigmund Freud?
4. Bagaimana pembagian wilayah pikiran menurut Sigmund Freud?
5. Bagaimana dinamika kepribadian menurut Sigmund Freud?
6. Bagaimana cara bertahan menurut Sigmund Freud?
7. Apa bentuk-bentuk pertahanan yang dikemukakan oleh Sigmund Freud?
8. Apa saja tahap perkembangan menurut Sigmund Freud

1
9. Bagaimana tanggapan terhadap teori Psikoanalisis Sigmund Freud?
10. Apa saja aspek positif dari teori Sigmund Freud

1.3. Tujuan
 Untuk menjelaskan tentang tokoh Psikoanalisis.
 Untuk menjelaskan pengertian psikoanalisis
 Untuk menjelaskan tingkat kehidupan mental menurut Sigmund Freud.
 Untuk menjelaskan pembagian wilayah pikiran menurut Sigmund Freud.
 Untuk menjelaskan dinamika kehidupan menurut Sigmund Freud.
 Untuk menjelaskan tentang cara pertahanan diri menurut Freud.
 Untuk menjelaskan bentuk-bentuk pertahanan yang dikemukakan oleh Freud.
 Untuk menjelaskan tahap perkembangan menurut Freud.
 Untuk menjelaskan tanggapan terhadap teori Psikoanalisis Sigmund Freud.
 Untuk menjelaskan aspek positif dari teori Sigmund Freud

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Sigmund Freud

Sigmund Freud yang terkenal dengan Teori Psikoanalisis dilahirkan di Morovia, pada
tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Gerald
Corey dalam “Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy” menjelaskan
bahwa Sigmund Freud adalah anak sulung dari keluarga Viena yang terdiri dari tiga laki-
laki dan lima orang wanita. Dalam hidupnya ia ditempa oleh seorang ayah yang sangat
otoriter dan dengan uang yang sangat terbatas, sehingga keluarganya terpaksa hidup
berdesakan di sebuah aparterment yang sempit, namun demikian orang tuanya tetap
berusaha untuk memberikan motivasi terhadap kapasitas intelektual yang tampak jelas
dimiliki oleh anak-anaknya.
Sebagian besar hidup Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengembangkan
tentang teori psikoanalisisnya. Uniknya, saat ia sedang mengalami problema emosional
yang sangat berat adalah saat kreativitasnya muncul. Pada umur paruh pertama empat
puluhan ia banyak mengalami bermacam psikomatik, juga rasa nyeri akan datangnya
maut dan fobi-fobi lain. Dengan mengeksplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri ia
mendapat pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang.
Sigmund Freud dikenal juga sebagai tokoh yang kreatif dan produktif. Ia sering
menghabiskan waktunya 18 jam sehari untuk menulis karya-karyanya, dan karya tersebut
terkumpul sampai 24 jilid. Bahkan ia tetap produktif pada usia senja. Karena karya dan
produktifitasnya itu, Freud dikenal bukan hanya sebagai pencetus psikoanalisis yang
mencuatkan namanya sebagai intelektual, tapi juga telah meletakkan teknik baru untuk
bisa memahami perilaku manusia. Hasil usahanya itu adalah sebuah teori kepribadian dan
psikoterapi yang sangat komprehenshif dibandingkan dengan teori serupa yang pernah
dikembangkan.
Psikoanalisa dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner di bidang psikologi
yang dimulai dari satu metode penyembuhan penderita sakit mental, hingga menjelma
menjadi sebuah konsepsi baru tentang manusia. Hipotesis pokok psikoanalisa menyatakan
bahwa tingkah laku manusia sebagian besar ditentukan oleh motif-motif tak sadar,

3
sehingga Freud dijuluki sebagai bapak penjelajah dan pembuat peta ketidaksadaran
manusia.
Lima karya Freud yang sangat terkenal dari beberapa karyanya adalah:
1. The Interpretation of dreams (1900),
2. The Psichopathology of Everiday Life (1901),
3. General Introductory Lectures on Psichoanalysis (1917),
4. New Introductory Lectures on Psichoanalysis (1933) dan
5. An Outline of Psichoanalysis (1940).
Dalam dunia pendidikan pada masa itu, Sigmund Freud belum seberapa populer.
Menurut A. Supratika, nama Freud baru dikenal pertama kalinya dalam kalangan
psikologi akademis pada tahun 1909, ketika ia diundang oleh G. Stanley Hall, seorang
sarjana psikologi Amerika, untuk memberikan serangkaian kuliah di universitas Clark di
Worcester, Massachusetts. Pengaruh Freud di lingkungan psikologi baru terasa sekitar
tahun 1930-an. Akan tetapi Asosiasi Psikoanalisis Internasional sudah terbentuk tahun
1910, begitu juga dengan lembaga pendidikan psikoanalisis sudah didirikan di banyak
negara.
B. Pengertian Psikoanalisis
Psikoanalisis ditemukan di Wina, Austria, oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis
merupakan salah satu aliran di dalam disiplin ilmu psikologi yang memilik beberapa
definisi dan sebutan, Adakalanya psikoanalisis didefinisikan sebagai metode penelitian,
sebagai teknik penyembuhan dan juga sebagai pengetahuan psikologi.
Psikoanalisis menurut definisi modern yaitu:
1. Psikoanalisis adalah pengetahuan psikologi yang menekankan pada dinamika, faktor-
faktor psikis yang menentukan perilaku manusia, serta pentingnya pengalaman masa
kanak-kanak dalam membentuk kepribadian masa dewasa,
2. Psikoanalisis adalah teknik yang khusus menyelidiki aktivitas ketidaksadaran (bawah
sadar),
3. Psikoanalisis adalah metode interpretasi dan penyembuhan gangguan mental.
Psikoanalisis dalam pengertian lain (Hjelle & Ziegler, 1992) yaitu:
1. Teori mengenai kepribadian & psikopatologi,
2. Metode terapi untuk gangguan kepribadian teknik untuk menyelidiki pikiran &
perasaan individu yang tidak disadari.
Psikoanalisis memiliki sebutan-sebutan lain yaitu:
4
1. Psikologi dalam, karena menurut Freud penyebab neurosis adalah gangguan jiwa
yang tidak dapat disadari, pengaruhnya lebih besar dari apa yang terdapat dalam
kesadaran dan untuk menyelidikinya, diperlukan upaya lebih dalam,
2. Psikodinamika, karena Psikoanalisis memandang individu sebagai sistem dinamik
yang tunduk pada hukum-hukum dinamika, dapat berubah dan dapat saling bertukar
energi.
Adapun contoh dari Psikoanalisis adalah Hipnotis, analisis mimpi, mekanisme pertahanan
diri.

C. Tingkat Kehidupan Mental


Freud mengemukakan bahwa kehidupan mental terbagi menjadi dua tingkat, alam
sadar dan alam tidak sadar. Alam tidak sadar terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak
sadar dan alam bawah sadar.
1. Alam Tidak Sadar
Alam tidak sadar (unconscious) menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan,
maupun insting yang tidak kita sadari tetapi ternyata ,mendorong perkataan, perasaan, dan
tindakan kita. Sekalipun kita sadar akan perilaku kita yang nyata, sering kali kita tidak
menyadari proses mental yang ada dibalik perilaku tersebut. Misalnya, seorang pria bisa
saja mengetahui bahwa ia tertarik pada seorang wanita tapi tidak benar-benar memahami
alasan dibalik ketertarikannya, yang bisa saja bersifat tidak rasional.
Freud meyakini bahwa keberadaan alam tidak sadar ini hanya bisa dibuktikan secara
tidak langsung. Baginya alam tidak sadar merupakan penjelasan dari makna yang ada
dibalik mimpi, kesalahan ucap (slip tongue), dan berbagai jenis lupa, yang dikenal
sebagai represi (repression).
Mimpi adalah sumber yang kaya akan materi alam bawah sadar. Contohnya, Freud
meyakini bahwa pengalaman masa kanak-kanak bisa muncul dalam mimpi orang dewasa
sekalipun yang bermimpi boleh jadi tidak ingat secara sadar akan pengalaman-
pengalaman tersebut.
2. Alam Bawah Sadar
Alam bawah sadar (preconscious) ini memuat semua elemen yang tidak disadari,
tetapi bisa muncul dalam kesadaran dengan cepat atau agak sukar (Freud,1933/1964).
Isi alam bawah sadar ini datang dari dua sumber yaitu:
a. Persepsi sadar (conscious perception)
5
Persepsi dari seseorang, secara sadar dalam waktu singkat akan segera masuk ke dalam
alam bawah sadar selagi focus perhatian beralih ke pemikiran lain. Pikiran yang dapat
keluar masuk antara alam sadar dan alam bawah sadar, umumnya adalah pikiran-pikiran
yang bebas dari kecemasan. Antara gambaran sadar dan dorongan tidak sadar nyaris sama
satu dengan lainnya.
b. Gambaran-gambaran bawah sadar adalah alam tidak sadar.
Freud meyakini bahwa pikiran bisa menyelinap dari sensor yang ketat dan masuk ke
alam bawah sadar dalam bentuk yang tersembunyi. Beberapa gambaran itu tidak kita
sadari, karena ketika kita menyadari bahwa gambaran itu datang dari alam tidak sadar
maka kita akan merasa cemas, sehingga sensor akhir akan menekan gambaran itu dan
mengembalikannya ke alam tidak sadar. Sedangkan ada beberapa gambaran yang masuk
ke alam sadar karena dapat bersembunyi dengan baik dalam bentuk mimpi, salah ucap,
ataupun dalam bentuk pertahanan diri yang kuat.
3. Alam Sadar
Alam sadar (conscious) didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat
berada dalam kesadaran. Ini adalah satu-satunya tingkat kehidupan mental yang bisa
langsung kita raih. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar bias masuk kea lam
sadar.
a. Melalui system kesadaran perceptual (perceptual conscious), yaitu terbuka pada
dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang stimulus dari luar.
b. Melalui struktur mental dan mencakup gagasan-gagasan tidak mengancam yang
datang dari alam bawah sadar maupun gambaran-gambaran yang membuat cemas, tetapi
terselubung dengan rapi yang berasal dari alam tidak sadar. Ketika gagasan itu tiba di
alam sadar, maka gagasan itu sudah berubah wujud dan terselubung dalam bentuk
perilaku-perilaku yang defensif atau dalam bentuk mimpi.

D. Wilayah Pikiran (Id, Ego, dan Superego)


1. Id
Psikologi Freud bertitik tolak dari dunia nyata, dunia yang penuh dengan benda-
benda. Diantara ada objek yang sangat khusus yaitu organisme. Salah satu bagian
terpenting dari suatu organisme adalah sistem saraf yang memiliki karakter sangat peka
terhadap apa yang dibutuhkan. Ketika manusia lahir, sistem syarafnya hanya sedikit lebih
baik dari binatang lain, itulah yang dinamakan id. Id adalah istilah yang diambil dari kata
6
ganti untuk “sesuatu” atau “itu” (the it), atau komponen yang tak sepenuhnya diakui oleh
kepribadian.
Id tak punya kontak dengan dunia nyata, tetapi selalu berupaya untuk meredam
ketegangan dengan cara memuaskan hasrat-hasrat dasar. Id berfungsi untuk memperoleh
kepuasan dan sekjalan dengan prinsip kesenangan. Sistem syaraf, sebagai id, bertugas
menerjemahkan kebutuhan satu organisme menjadi daya motivasional yang disebut
sebagai insting atau nafsu. Freud juga menyebutnya dengan kebutuhan. Kebutuhan yang
menjadi keinginan disebut proses primer.
Contohnya bayi yang baru lahir akan tetap mengisap terlepas dari ada atau tidaknya
puting susu, karena ia akan memperoleh kepuasan ketika melakukannya. Karena id tidak
mempunyai kontak dengan kenyataan maka bayi itu tidak menyadari bahwa sebenarnya
dengan mengisap jempol tidak akan membantunya bertahan hidup
.
2. Ego
Ego atau saya adalah satu-satunya wilayah pikiran yang memiliki kontak dengan
realita. Kebutuhan lambat laun akan semakin kuat dan bertambah banyak, sedang
keinginan-keinginan lain akan datang silih berganti. Di seputar alam sadar ini, selama
tahun-tahun pertama kehidupan seorang bayi, sebagian id berubah menjadi ego (aku).
Ego menghubungkan organisme dengan realitas dunia melalui alam sadar yang dia
tempati, dan dia mencari objek-objek untuk memuaskan keinginan dan nafsu yang
dimunculkan id untuk merepresentasikan apa yang dibutuhkan organisme. Proses ini
disebut proses sekunder.
Tidak seperti id, ego berfungsi berdasarkan prinsip-prinsip realitas, artinya dia memenuhi
kebutuhan organisme berdasarkan objek-objek yang sesuai dan dapat ditemukan dalam
kenyataan.
Contohnya, ego seorang wanita secara sadar, memotivasinya untuk memilih
pakaian yang dijahit rapi dan sangat licin karena ia merasa nyaman berbusana seperti itu.
Pada saat yang sama ia mungkin ingat samar-samar (secara bawah sadar) bahwa
sebelumnya ia pernah dipuji karena memilih pakaian yang bagus. Selain itu, barangkali
termotivasi secara tidak sadar untuk berperilaku rapi dan teratur. Jadi keputusan untuk
mengenakan pakaian rapi nan licin bisa terjadi di tiga tingkat kehidupan mental.

7
3. Superego
Dalam psikologi Freudian, superego mewakili aspek-aspek moral dan ideal dari
kepribadian serta dikendalikan oleh prinsip-prinsip moralistis dan idealis yang berbeda
dengan prinsip kesenangan dari Id dan prinsip realistis dari ego.
Ketika ego berusaha membuat id tetap senang, di sisi lain dia juga mengalami hambatan
yang ada di dunia nyata. Segala objek dunia nyata yang menghalangi dan mendukungnya
inilah yang kemudian menjadi superego. Superego memiliki dua sisi:
1. Nurani merupakan internalisasi dari hukuman dan peringatan.
2. Ego ideal yaitu berasal dari pujian dan contoh-contoh positif yang diberikan kepada
anak-anak.
Hubungan antara Id, Ego dan Superego pada tiga individu secara hipotesis:
1. Pada individu pertama, id mendominasi ego yang lemah dan superego yang plin-plan
sehingga ego tidak mampu menyeimbangkan antara gigihnya tuntutan id. Akibatnya
individu ini terus-menerus memuaskan kesenangannya tanpa memandang apa yang
mungkin atau layak.
2. Individu kedua, memiliki rasa bersalah serta perasaan inferior dan ego yang lemah,
akan mengalami sederetan konflik karena ego tidak bias mengendalikan tuntutan antara
superego dan id yang saling bertentangan, tetapi sama kuat.
3. Individu ketiga, yang memiliki ego kuat dan mampu memenuhi tuntutan, baik dari
id,maupun superego sehingga secara psikologis mampu menenangkan kendali atas prinsip
kesenangan dan prinsip moralitas.

E. Dinamika Kepribadian
Freud mengusulkan sebuah dinamika atau prinsip motivasional untuk
menerangkan kekuatan-kekuatan yang mendorong tindakan manusia. Dorongan-dorongan
itu antara lain:
1. Seks
Libido (hasrat seksual) adalah istilah yang biasa digunakan oleh pendiri
psikoanalis, Sigmund Freud, untuk menamakan hasrat atau dorongan seksual. Ia
mengatakan bahwa dorongan ini dikarakteristikkan dengan bertumbuhnya secara bertahap
sampai puncak intensitas, diikuti dengan penurunan tiba-tiba dari rangsangan.Waktu dia
mempelajari proses ini pada pasien-pasiennya, Freud menyimpulkan bahwa berbagai
kegiatan seperti makan dan minum, dan juga kencing serta buang hajat juga memiliki
8
pola yang sama. Konsekuensinya, ia menyimpulkan bahwa tindakan ini juga memiliki
hasrat seksual juga.Freud juga tertarik pada perkembangan libido, yang ia lihat sebagai
dorongan manusia yang paling dasar dan paling kuat. Ia percaya bahwa perkembangan
libido dapat dibagi dalam beberapa tahap yang berbeda dan bisa dikenali.
Selama bayi, ia melihat bahwa hasrat seksual terfokus di mulut, dan biasanya
terwujud dalam kegiatan menyedot. Ia menyebut ini sebagai tahap oral dalam
perkembangan hasrat seksual.Dalam tahap tahun kedua dan ketiga dalam kehidupan anak,
waktu si anak belajar menggunakan kamar kecil, fokus dari kenikmatan erotis berpindah
ke fungsi rektal. Freud menamakan ini tahap anal.Kemudian, pada saat puber, fokus
berpindah pada organ seks, suatu periode perkembangan yang ia namakan tahap phallic
dalam kedewasaan hasrat seks.Dalam tahap berikut dari perkembangan, dorongan libido
berfokus pada orang tua yang berlawanan jenis dan menambahkan warna erotis bagi
pengalaman anak itu ke orang tuanya.
Ketidak-setujuan orangtua pada dorongan seks yang tidak terkendali dipercaya
oleh Freud akan berlanjut pada perkembangan jiwa manusia yang terdiri dari tiga
komponen: id, ego dan superego. Id, insting-insting dan dorongan dasar (termasuk libido
tapi juga dorongan lain seperti agresif) memberikan energi fisik yang diperlukan untuk
melakukan kegiatan.Ego, yang memiliki fungsi eksekutif, mengatur pemenuhan hasrat
seks dan hasrat lainnya setiap hari dalam cara yang diterima dan bisa dilakukan di
masyarakat. Superego adalah standar sosial dari perilaku yang telah dipahami dan
dipelajari, termasuk kesadaran akan perilaku yang dilarang atau melanggar hukum.
Dalam keadaan sadar, ada batas yang kuat memisahkan ketiga daerah ini, tapi
waktu tidur atau berfantasi, batas ini melemah, memungkinkan kebangkitan ekspresi dari
hasrat libido yang biasanya terkendali. Kesadaran akan dorongan dan fantasi yang tidak
terkendali bisa membuat seseorang merasa malu atau rasa bersalah secara seksual. Freud
percaya bahwa kepribadian seseorang terbentuk di awal kehidupan dan ditentukan
bagaimana dorongan dasarnya seperti libido dipuaskan.
Kegagalan untuk memuaskan dorongan ini berakibat pada perkembangan pribadi
dan kesehatan psikologis seseorang.Generasi berikut dari psikoanalis mempertanyakan
karya Freud tentang libido. Beberapa menekankan titik dimana Freud terlalu menekankan
perkembangan biologis dan kurang menekankan akibat dari faktor budaya dan sosial
dalam perilaku dan praktek seksual.

9
Carl Jung, seorang psikiatris dan psikoanalis dari Swiss, menolak pandangan
Freud tentang libido dengan menolak pandangan bahwa pengalaman seksual waktu bayi
adalah penentu penting dalam masalah emosi orang dewasa. Jung membuat teori lain
tentang libido yang memandang keinginan untuk hidup dan bukan libido adalah
merupakan dorongan terkuat. Jung menekankan perbedaan antara kepribadian introvert
dan ekstrovert. Ekstrovert adalah individu yang keinginannya mengarah kuat (tapi tidak
semuanya) keluar ke orang lain dan dunia sekelilingnya. Mereka merasa nyaman di
keadaan sosial dimana mereka berada dan sangat bisa berteman. Introvert adalah
karakteristik kebalikannya, termasuk mengarahkan perhatian terhadap proses diri dan
pikirannya. Mereka biasanya mengandalkan diri sendiri, introspektif, pemikir dan
biasanya tidak terlalu nyaman dalam kelompok sosial yang besar.
Jung menggunakan istilah libido untuk menunjuk pada energi mental yang
bertanggung jawab untuk membuat dan menjaga intro/ekstrovert. Ia tidak percaya
seseorang adalah introvert atau ekstrovert, tapi adalah campuran dari keduanya dalam
berbagai tingkatan.Banyak ahli psikologis kontemporer memandang libido sebagai
potensi dasar manusia yang walau berakar pada biologi manusia (misalnya, hormon)
terbentuk karena budaya dan pengalaman.
Dengan kata lain, dorongan dasar manusia untuk kegiatan reproduksi dan potensi
berdasar biologis untuk mendapatkan kenikmatan dari tindakan yang berhubungan
dengan kontak fisik (misalnya titik saraf di kulit dan membran mukosa) yang dibentuk
oleh pengalaman seseorang dalam pertumbuhannya dalam suatu keluarga dan
masyarakat. Bagaimana motivasi seksual distrukturkan, dan melalui bagaimana dorongan
seksual dipuaskan, dan apakah tindakan tertentu dinamakan atau dihindari sebagai tidak
pantas, semuanya ditentukan oleh pengaruh sosial tersebut.

2. Insting Kehidupan Dan Insting Kematian


Freud berpendapat bahwa seluruh perilaku manusia didorong oleh nafsu atau instingnya,
dimana instingnya merupakan representasi neurologis dari kebutuhan-kebutuhan fisik-
biologis. Freud mengemukakan insting kehidupan mencakup:
1. Kehidupan individual, dengan mendorong seorang individu memenuhi kebutuhan
makan dan minum.
2. Kehidupan spesies, dengan mendorongnya untuk melakukan hubungan seks.

10
Freud menyakini dibalik insting kehidupan terdapat insting kematian. Freud merujuk
pada prinsip nirwana. Prinsip ini merujuk pada ketiadaan, non-eksistensi, kekosongan
yang jadi tujuan hidup dalam filsafat orang-orang Budha. Bukti tentang adanya insting
kematian dan prinsip nirwana adalah saat kita benar-benar menginginkan kedamaian,
ketenangan, jauh dari segala bentuk dorongan dan rangsangan, yang dapat dilihat dari
tindakan kita meminum alkohol atau memakai narkoba.

3. Kecemasan
Kecemasan merupakan perasaan terjepit dan terancam. Menurut Freud ada tiga
jenis kecemasan:
1. Kecemasan realistik
Kecemasan jenis ini disebut sebagai rasa takut. Contohnya: Ketika ada seorang yang
melempar seekor ular berbisa di depan kita, maka kita akan mengalami kecemasan
realistik.
2. Kecemasan moral
Kecemasan moral ini merupakan kata lain dari rasa malu, rasa bersalah atau rasa takut
mendapat sanksi. Kecemasan ini bisa muncul karena kegagalan bersikap konsisten
dengan apa yang mereka yakini benar secara moral, misal tidak mampu mengurus orang
tua yang memasuki usia lanjut.
3. Kecemasan neurotik
Kecemasan akibat bahaya yang tidak diketahui. Misalnya kita pernah merasakan
gugup, tidak mampu mengendalikan diri, perilaku, akal, dan mikiran kita maka kita
sedang mengalami kecemasan neurotik.
F. Cara-Cara Bertahan
Ego menurut Freud memiliki suatu mekanisme pertahanan/ defense mechanisms yang
disebut repression untuk mengatasi konflik antara tuntutan realitas, hasrat id, dan
hambatan superego. Namun ketika kecemasan begitu menguasai, ego harus berusaha
mempertahankan diri. Secara tidak sadar, dia akan bertahan dengan cara memblokir
seluruh dorongan-dorongan menjadi wujud yang lebih diterima dan tidak telalu
mengancam. Cara ini disebut mekanisme pertahanan ego.
Selain penekanan/ represi, menurut Freud, mekanisme pertahanan ego yaitu :
1. Proyeksi, yaitu proses pertahanan ego dengan mengganti objek dengan objek lain
yang kurang berbahaya dengan tujuan mengurangi tekanan.
11
2. Pembentukan Reaksi, yaitu penggantian impuls/ perasaan yang menimbulkan
kecemasan dengan lawannya didalam kesadaran.
3. Fiksasi, yaitu keadaan menggantungkan kondisi untuk mengurangi ketegangan.

G. Bentuk- Bentuk Pertahanan


1. Penolakan.
Penolakan dilakukan dengan cara memblokir. Peristiwa-peristiwa yang datang dari
luar kesadaran. Jika dalam situasi tertentu peristiwa ini terlalu banyak untuk ditanggulangi,
seseorang hanya perlu menolaknya. Sebagaimana yang anda kira , cara ini adalah cara yang
paling primitif dan berbahaya,karena tidak ada orang yang selamanya mampu dari kenyataan.
Penolakan dapat kerja sendiri atau, biasanya, dikombinasikan dengan bentukmekanisme
pertahanan lain yang lebih kukuh.
Pernah suatu ketika saya melihat putri saya yang berusia 5 tahun menonton film
kartun. Seperti biasanya dia duduk agak dekat duduk dengan televisi. Ketika tak ada satu pun
diantara kami yang terlalu memperhatikan televisi pada saat iklan film horor ditayangkan,
lengkap dengan tampilan pisau berdarah, topeng menakutkan dan teriakan-teriakan orang
ketakutan, maka pada saat itu juga saya menyelamatkan putri saya dari horor yang
ditampilkan di iklan tersebut. Jadi, seorang psikolog dan sebagai seorang ayah yang baik,
saya ingin berbuat sesuatu untuk putri saya itu. Saya katakan kapdanya “sayang, itu iklan
yang menakutkan bukan?” Dia menjawab singkat “Hah?” Saya katakan lagi kepadanya , “
Iklan itu lho, bukankah itu sangat menakutkan “? Dia heran dan balik bertanya , “Iklan yang
mana”? Tampaknya dia malah tidak memperhatikannya.
Sejak saat itu, saya jadi tahu kadang-kadang anak kecil dengan enteng dapat melewati
hal-hal yang seharusnya tidak dapat mereka hadapi. Saya juga pernah melihat orang-orang
yang ngotot melakukan otopsi terhadap keluarganya yang sudah meninggal, hanya karena
ingin mengingkari kenyataan bahwa keluarganya memang sudah meninggal. Inilah bentuk
dari penolakan yang kita maksud disini.
Anna Freud juga melengkapi konsep penolakan ini dengan penolakan dalam fantasi.
Penolakan jenis ini terjadi ketika anak-anak membayangkan ayahnya yang “jahat” berubah
menjadi boneka lucu baik, atau mengubah seorang bocah yang tak berdaya menjadi ksatria
gagah.

2. Represi,
Atau disebut oleh Anna Freud dengan “ melupakan yang bermotivasi “ , adalah
ketidakmampuan untuk mengingat kembali situasi, orang atau peristiwa yangmenakutkan.
Represi juga merupakan mekanisme pertahanan ego yang berbahaya sekaligus menjadi
bentuk yang paling umumnya.
Waktu remaja dulu saya sangat takut pada laba-laba, khususnya laba-laba berkaki
panjang. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan saya menakutinya, tapi saya ingat bahwa
perasaan itu mulai menghantui saya ketika saya mulai kuliah. Semasa kuiah, seorang teman
membantu menghilangkan perasaan ini (menggunakan teknik yang disebut desentisasi
sistematiis), tapi saya tetap tidak bisa mengingat apa yang menjadi penyebabnya. Beberapa
tahun kemudian, saya bermimpi di kurung oleh sepupu saya di dalam gudang di rumah kakek

12
kami. Gudang itu sangat kecil, gelap dan lantainya sangat kotor. Coba anda tebak, lantai itu
dipenuhi laba-laba bekaki panjang.
Analisis Freudian menjelaskan fobia ini sangat sederhana. Saya merepresi peristiwa
traumatik kejadian digudang itu tapi pengalaman melihat laba-laba berkaki panjang
menimbulkan perasaan takut dan cemas berkepanjangan tanpa mampu mengingat
peristiwanya dengan jelas.
Berikut ini adalah contoh yang diberikan Anna Freud yang akan memperjelas
pengertian represi ini. Seorang wanita muda,yang merasa selalu bersalah karena memliki
hasrat seksual tinggi, cenderung berusaha melupakan nama-nama pacarnya,bahkan ketika
akan memperkenalkan pacar itu pada keluarganya. Atau seorang pecandu alkohol yang tidak
bisa mengingat beberapa kali dia berusaha bunuh diri tetapi hanya menyatakan bahwa dia
berhasil “ Selamat”. Atau seorang yang waktu kanak-kanak pernah tenggelam, namun dia
tidak mampu mengingat kapan dan di mana kejadiannya, walaupun orang lain sudah
memberitahukan padanya saat dewasa dia tidak lagi takut dengan air.
Perlu diingat bahwa mekanisme pertahanan ego ini berfungsi secara tidak sadar.
Sebagai cntoh,saudara saya sangat takut dengan anjing,tapi tidak ada mekanisme pertahanan
ego yang terlibat dalam perasaannya ini. Dia memang pernah digigit anjing . Biasanya yang
kita sebut dengan fobia adalah rasa takut yang tidak rasional dan berasal dari represi terhadap
trauma.

3. Asketisisme atau menolak segala kebutuhan.


Ini adalah mekanisme pertahanan ego yang paling jarang dikenal orang, tapi menjadi
sangat relevan seklai di zaman sekarang dengan begitu banyaknya gangguan mental yang
disebut anorexia. Anak-anak praremaja , ketia merasa “tersiksa” oleh munculnya dorongan
seksual, bisa jadi secara tidak langsung mencoba melindungi diri dengan menolak, bukan
hanya dorongan seksual, tapi seluruh bentuk dorongan napsu. Mereka menempuh gaya hidup
“Asketik”(cara hidup pendeta) guna menolak apa-apa yang dinikmati orang lain.
Remaja laki-laki zaman sekarang sangat tertarik pada disiplin diri yang diajarkan
dalam seni bela diri. Untungya, seni bela diri bukan hanya tidak akan menyakiti Anda, tapi
juga dapat menbantu Anda dalam menjaga diri. Sayangya, remaja putri dalam masyarakat
kita sekarang malah sangat tertarik memperoleh standar kecantikan tertinggi , walaupun
bersifat artifisial dan berdampak buruk. Dalam teori Freudian , penolakan remaja putri untuk
makan banyak (diet) sebenarnya adalah bentuk permukaaan dari penolakan mereka terhadap
pertumbuhan seksual yang sedang mereka alami. Parahnya lagi masyarakat sekarang turut
membantu mereka. Lihat saja, Sebagian masyarakat mematok berat badan ideal wanita 10 kg
lebih rendah dari apa yang ideal menurut kesehatan.
Anna Freud menambahkan bentuk askietisisme yang agak longgar yang dia sebut
sebagai “Pengendalian Ego”. Disini orang kehilangan minat dan ketertarikannya pada salah
satu aspek kehidupan dan memfokuskan perhatian pada aspek lain. Ini dilakukan demi
mengelak dari kenyataan. Seorang remaja yang ingin menolak hasratnya mungkin akan
berpaling kepada hal-hal feminim dan menjadi “pemikir tak bernafsu”, atau seorang remaja
pria yang takut dipermalukan dalam tim sepak bolanya akan memaksakan diri untuk
menyukai puisi.

13
4. Isolasi (disebut juga intelektualisasi).
Mekanisme ini berjalan dengan cara mengalihkan emosi deri kenangan yang
menakutkan. Contohnya adalah orang yang merasa dirinya dianggap sebagai anak kecil , atau
orang yang selalu mengedapankan aspek intelektual ketika pertama kali di kenal dengan
urusan seksual. Di sini yang terancam bukan persoalan kecil sebagaimana kelihatannya.
Dalam situasi darurat, ada orang yang tetap tenang dan mampu berkumpul bersama
sampai keadaan menjadi pulih , mereka kembali bercerai berai . Ada yang mengatakan pada
Anda bahwa dalam situasi darurat , Anda tidak bisa berpisah dari orang lain. Dengan begini
kita tidak akan sulit menjelaskan kenapa orang cenderung merasa dekat kalau sudah ada salah
satu anggota masyarakat yang meninggal. Para dokter dan perawat harus membiasakan diri
memisahkan rasa jijik,jengekl takut mereka pada darah, luka, rintihan, dan sebagainya, serta
tetap memperlakukan pasien dengan ramah, hangat seperti keluarga sendiri.
Remaja yang senang film horor akan sering tampil kehadapan orang banyak yang
tujuan sebenarnya adalah menghilangkan rasa takut mereka sendiri. Tidak ada contoh yang
paling baik selain seorang yang ketika seluruh penonton di gedung bioskop tertawa karena
filmnya lucu, dia malah diam dan merasa tidak diperhatinkan.

5. Penggantian,
Mekanisme ini berjalan dengan cara mengalihkan arah dorongan ke target
pengganti.Jika anda mersa nyaman dengan dorongan,hasrat,dan nafsuyang anda rasakan,tapi
orang lain yang akan dijadikan sasaran semua perasaan itu malah merasa terancam, maka
anda dapat mengganti dia dengan orang lain atau benda lain yang dijadikan target simbolik.
Orang yang membenci ibunya mungkin akan menekan perasaan itu, tapi juga
mengarahkannya pada yang lain, misalnya wanita secara umum.Orang yang tidak punya
kesempatan mencintai orang lain mungkin akan menggantinya dengan anjing atau kucing
kesayangannya.Orang yang tidak merasa nyaman dengan hasrat seksualnya dengan manusia
nyata mungkin akan menukarnya dengan boneka atau benda lain.Orang yang merasa putus
asa anjingnya, mencubit keras-keras anggota keluarga yang lain, atau bermenung dengan
atasannya di tempat kerja , mungkin ketika sampai di rumah akan menendang di depan
perapian.

6. Melawan Diri Sendiri,


Merupakan bentuk penggantian paling khusus, di mana seseorang menjadikannya
dirinya sendiri sebagai target pengganti.Biasanya diri sendiri dijadikan sebagai target
pengganti untuk pelampiasan rasa benci,marah, dan keberingasan, ketimbang pelampiasan
terhadap dorongan-dorongan positif.Menurut Freud, mekanisme ini dapat menjelaskan
perasaan minder, bersalah, dan depresi yang kita alami.Ide bahwa depresi sering muncul
akibat kemarahan yang di tahan dapat diterima setiap teoretikus, baik Freudian maupun non-
Freudian.
H. Tahap-Tahap Perkembangan
Dalam teori Freud menyinggung hasrat seksual, bahwa hasrat seksual merupakan
motivasi paling penting. Menurut freud hasrat seksual adalah motivasi paling dasar bukan
saja bagi orang dewasa, tapi juga bagi anak-anak dan bayi. Saat dia mempernalkan

14
gagasan tentang seksualitas bayi ke public Wina, public menanggapi lebih sebagai
seksualitas orang dewasa. Freud mencatat bahwa usia-usia tertentu, bagian-bagian kulit
kita dapat menimbulkan kenikmatan yang lebih besar disbanding bagian kulit yang lain.
misal: seorang bayi mendapat kenikmatan tertinggi ketika menghisap, khususnya ketika
menyusu pada ibunya. Di usia 3 atau 4 tahun, dia akan menemukan kenikmatan ketika
menyentuh alat kelaminnya. Barulah kemudian di saat perkembangan seksual sudah
mencapai kematangan, kita menemukan kenikmatan paling tinggi di dalam hubungan
seksual. Berdasarkan pengamatan inilah Freud membuat teori perkembangan
psikoseksual. Tahap perkembangan Psikoseksual itu adalah:
1. Tahap Oral
Berlangsung dari Usia 0 samapai 18 bulan. Titik kenikmatan terletak pada mulut, di
mana aktivitas paling utama adalah menghisap dan mengiggit.
2. Tahap Anal
Yaitu tahap yang berlangsung dari usia 3-4 tahun. Titik kenikmatan terletak pada
anus. Memegang dan melepaskan sesuatu adalah aktivitas yang paling diknikmati.
3. Tahap Phallic
Berlangsung antara usia 3-5 tahun, 6 atau 7 tahun. Titik kenikmatan di tahap ini
adalah alat kelamin, sementara aktivitas paling nikmatnya adalah masturbasi.
4. Tahap laten
Berlangsung dari usia 5,6 atau 7 sampai usia pubertas ( sekitar usia 12 tahun. Dalam
tahap ini, freud yakin bahwa rangsangan-rangsangan seksual ditekan sedemikian rupa
demi proses belajar. Pada zaman Freud adalah zaman yang meresapi wacana seksualitas
anak-anak lebih lambat dari perkembangan yang dialami anak zaman sekarang.
5. Tahap Genital
Dimulai pada saat usia pubertas, ketika dorongan seksual sangat jelas terlihat pada
diri remaja, khususnya yang tertuju pada kenikmatan hubungan seksual. Mastrubasi, seks
oral, homoseksual dan kecendrungan-kecrendungan seksual lain yang dianggap “biasa”
saat ini, tidak dianggap Freud sebagai seksualitas yang normal.

Tahap-tahap perkembangan seksual:


1. Krisis Oedipal
Setiap tahap perkembangan di atas memiiki kesulitannya masing- masing yang
kemudian menimbulkan masalah seksualitas. Dalam tahap oral, yang jadi persolan adalah
15
penyapihan (penghentian pemberian ASI), sedangkan di tahap anal adalah pelajaran
buang air di toilet. Di tahap phallic yang jadi masalah adalah Krisis Oedipal.
Cara kerja krisis Oedipal adalah sebagai berikut: objek cinta kita yang pertama adalah
ibu kita. Kita butuh perhatian, kasih sayang, dan belainnya. Namun, kita menginginkan
itu semua dalam pengertian seksual secara luas. Seorang bocah laki-laki punya saingan
dalam mendapatkan keinginannya ini, yaitu ayahnya sendiri. Dia juga akan
mengidentifikasi diri dengan penaklukannya, agar bisa menjadi seorang laki-laki jantan.
Setelah beberapa tahun berjalan, tahap laten ini jadi matang dan dia masuk ke usia
remaja, ke dunia heterokseksual orang dewasa.
Anak perempuam memulai hidupnya dengan cinta terhadap ibu. Di sini yang akan
lihat adalah bagaimana proses peralihan cinta dan kasih sayangnya dari ibu ke ayah
sebelum krisis oedipal. Proses ini dinamakan Kecemburuaan terhadap penis (penis envy).
Maka dari itu bocah perempuan mengalihkan perhatiannya dari ayahnya dengan
mengagumi bocah laki-laki atau pria dewasa.

2. Karakter
Pengalaman yang anda peroleh dimasa -masa pertumbuhan sangat mempengaruhi
kepribadian dan karakter anda setelah dewasa. Menurut freud, pengalaman-pengalaman
traumatis adalah yang paling berpengaruh. Setiap trauma pasti memiliki dampak yang
unik pada diri seseorang., yang hanya bisa dipahami berdasarkan latar belakang
individual. Namun trauma yang menyangkut tahap-tahap perkembangan memiliki
dampak yang hamper sama pada setiap orang, sebab setiap saat kita pasti melewati tahap-
tahap ini.
Fiksasi adalah di mana kendala yang ditemukan pada suatu tahap tetap bertahan
dan memepengaruhi kepribadian atau karakter anda di tahap-tahap berikutnya. Kalau usia
8 bulan pertama anda mendapat hambatan dalam mendapatkan keinginan, dalam hal ini
menyusu mungkin karena ibu anda sakit atau tidak bisa menjaga anda setiap saat, atau
menyapih terlalu cepat, maka kepribadian anda akan berkembang menjadi karakter oral-
pasif. Karakter orang ini cenderung bergantung kepada orang lain. Mereka cenderung
menginginkan hal-hal yang berhubungan dengan mulut, seperti makan, minum, merokok,
dan sebagainya.
Pada saat usia 5 sampaikan 8 bulan, pekerjaan yang paling menyenagkan pada usia ini
adalah menggigit sesuatu. Kalau tahap ini mengalami kendala dan sampai pada saat
16
disapih, kepribadian yang akan dibentuk adalah kepribadian oral-agresif.
Kepribadian orang ini memiliki hasrat utuk selalu menggit, seperti pensil, gagang kaca
mata , permen karet, atau orang lain. Mereka cenderung agresif, argumentative, sarkatis,
dan sebagainya.
Sebagian orang tua tidak terlalu ngotot mengajari anak-anak buang air sendiri ke
toilet. Mereka akan gembira sekali kalau anak berhasil melakukannya. Di usia ini, anak
adalah raja di rumah dan dia mengetahuinya. Kepribadian anak akan berkembang menjadi
kepribadian anal-agresif. Orang dengan kepribadian ini cenderung tidak rapi,sembarangan
dan ceroboh. Bahkan ada yang sampai pada tahap kejam dan destruktif. Orang tua dengan
sikap keras ini mungkin akan menggunakan hukuman atau cemooh. Anak yang di didik
dengan cara ini akan tumbuh dengan kepribadian anal-retentif. Dia cenderung menjadi
orang gila akan kebersihan, perfeksionis, keras kepala dan agak dictator. Dengan kata
lain, kepribadian anal-retentif sangat kaku dalam segala hal.
Masih ada lagi kepribadian phallic yang tidak memiliki nama khusus. Kalau
seseorang anak laki-laki merasa tidak diacuhkan ibunya dan terancam dengan
kemaskulinan ayahnya, dia tidak akan memiliki rasa percaya diri terhadap
kemampuannya sendiri, terutama dalam persoalan seksualitas. Dia mungkin akan merasa
teranam dan tersiksa ketika berinteraksi dengan lawan jenisnya, beralih jadi kutu buku,
tidak menyenangi hal-hal yang bersifat laki-laki yang bersifat laki-laki dan lebih suka
hidup seperti wanita (banci). Betu pula dengan sebaliknya seorang anak perempuan yang
tidak diacuhkan ayahnya dan merasa teracam oleh kefemininan ibunya, juga tidak akan
peka terhadap potensi dirinya sediri, sehingga kepribadiannya berkembang menjadi
kelaikan-lakian (tomboy).

3. Terapi
Terapi Freud lebih berpengaruh bila dibandingkan dengan terapi-terapi teoritikus
lainnya dan jika dibandingkan dengan aspek lain dari teori-teorinya sendiri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika sedang menjalani terapi adalah sebagai berikut:
a. Suasana Rileks
Klien yang sedang menjalani terapi harus merasa bebas dan santai untuk
mengungkapkan masalahnya. Situasi terapi sebenarnya adalah situasi sosial yang unik,
suasana dimana kita tidak perlu merasa takut dan kuatir tentang penilaian sosial terhadap
masalah kita. Dalam terapi Freudian, seorang terapis secara praktis jadi hilang. Untuk
17
menciptakan suasana santai ini bisa dilakukan dengan mengatur tata ruang, warna
dinding, pencahayaan, dan sebagainya yang mencerminkan suasana santai.
b. Pembebasan Asosiasi
Klien dibebaskan untuk bicara apa saja. Berdasarkan teori, dengan adanya kesantaian,
konflik-konflik alam bawah sadar akan muncul ke permukaan. Dalam terapi Freud ini ada
kesamaan dengan tafsir mimpi. Perbedaannya adalah dalam terapi ada ada terapis yang
berusaha memahami tanda-tanda yang menjadi masalah dan memahami cara
penyelesaiannya, sementara klien biasanya tidak mengerti dengan tanda-tanda ini.
c. Resistensi
Salah satu tanda tersebut adalah resistensi. Saat klien mencoba mengubah topik
pembicaraan, atau ngantuk, datang terlambat atau bahkan membatalkan pertemuan,
terapis berkata, “aha”. Resistensi ini menunjukkan bahwa klien sedang merasa terancam.
d. Analisis Mimpi
Ketika tidur, kita tidak terlalu mengekang alam bawah sadar dan cenderung
melepaskannya dalam bentuk-bentuk simbolik ke alam sadar. Keinginan id inilah yang
akan dijadikan tanda utama oleh terapis. Sebagian besar bentuk terapi menggunakan
mimpi-mimpi yang dialami klien, tapi tafsir mimpi Freudian memiliki kekhasan
tersendiri, yaitu kecenderungan untuk menemukan makna-makna seksual.
e. Parapraksis
Adalah keceplosan omong yang sering disebut Freudian Slip. Freud juga
memperhatikan lawakan-lawakan yang disampaikan kliennya. Begi Freud segala kejadian
memiliki makna tersendiri. Salah menekan nomor telepon, salah berucap, salah belok
adalha kejadian-kejadian yang serius dikaji oleh Freud.

4. Transferensi, Katarsis, dan Ingatan


a. Tranferensi terjadi ketika klien mengarahkan perasaannya pada terapis, padahal
perasaan ini seharusnya diarahkan pada orang selain terapis. Freud menganggap
transferensi sangat penting dalam rangka membawa perasaan-perasaan terepresi yang
dialami klien sekian lama ke permukaan. Kita tidak mungkin merasa marah tanpa ada
orang lain yang akan dimarahi. Dalam terapis freudian, hubungan antara klien dan terapis
sangat erat, berbeda dengan anggapan orang selama ini.

18
b. Katarsis
Adalah luapan emosi secara dramatis dan peristiwa traumatik yang tiba-tiba datang
kembali.
c. Ingatan
Adalah terinagtnya seseorang akan sumber emosinya, akan peristiwa traumatik yang
dialaminya. Sebagian besar terapi selesai ketika tahap katarsis dan ingatan ini dialami
oleh klien. Freud mengatakan bahwa tujuan terapi adalah membuat alam bawah sadar
dapat disadari.
I. Kritik Terhadap Teori Freud
Diantara konsep dalam teori Freud ada yang kurang diterima oleh khalayak luas
yaitu Oedipal Kompleks, Kecenderungan pengebirian dan kecemburuan terhadap penis.
Memang ada anak yang lebih dekat dengan orangtua yang berbeda jenis kelamin
dengannya, dan dia akan berkompetisi dengan orangtua yang jenis kelaminnya sama
dengannya. Juga ada anak yang heran kenapa ada perbedaan antara laki-laki dan
perempuan, atau takut penisnya akan dipotong. Begitu pula dengan anak perempuan,
memang ada diantara mereka yang ingin punya penis dan tidak ada pula yang membantah
bahwa diantara anak-anak ini ada yang tetap mempertahankan rasa takt mereka hingga
dewasa.
Hampir seluruh teoritikus kepribadian menganggap contoh-contoh tadi sebagai
pengecualian ketimbang hukum yang universal. Anak-anak yang merasakan hal-hal di
atas umunya tinggal di lingkungan keluarga yang kurang harmonis, dimana orangtua
mereka saling bertengkar dan mereka dimanfaatkan sebagai senjata atau tameng oleh
orangtua. Mungkin mereka besar di tengah keluarga yang suka menakut-nakuti anak laki-
laki dan mengatakan sksn memotong penisnya.
Kalau konsep krisis Oedipal, kecemasan pengebirian atau kecemburuan penis
diartikan secara metaforis, mungkin konsep ini akan lebih berguna. Kita mencintai ayah-
ibu kita dan pada saat yang sama juga berkompetensi dengan mereka. Anak-anak
mungkin mempelajari standar perilaku heteroseksual dengan meniru perilaku orangtua
yang berjenis kelamin sama dengannya dan mempraktikkannya kepada orangtua yang
berjenis kelamin sama dengannya dan mempraktikkannya kepada orangtua yang berjenis
kelamin berbeda darinya.

19
1. Seksualitas
Kritik paling keras terhadap Freud paling banyak ditujukan pada konsep
seksualitasnya. Dalam teori Freud, segala sesuatunya entah itu baik atau buruk,
dikembalikan pada soal ekspresi nafsu seks. Akibatnya banyak orang bertanya apakah
tidak ada kekuatan lain yang bekerja dalam diri manusia selain dorongan seksual.
Menjelang akhir hayatnya, Freud memang menambahkan konsep insting kematian, tapi
ternyata konsep ini tidak terlalu berpengaruh.
Masalah ini dapat dijelaskan dengan cara melihat sabagian besar aktivitas kita yang
memang dimotivasi oleh seks. Dalam kenyataan masyarakat modern, banyak sekali iklan-
iklan yang menggunakan citra seksual. Film dan acara televisi tidak akan laku jika tidak
dibumbui dengan seks, industri mode, pakaian, dan setiap hari kita selalu disibukkan
dengan acara”cari pasangan”. Namun begitu, kita tetap saja merasa bahwa hidup tidak
melulu berisi persoalan seks.
Dalam teori Freud terlalu menitikbertatkan pada seksualitas yang tidak didasarkan
pada fenomena seksualitas yang kasat mata dalam masyarakatnya. Teorinya didasarkan
pada intensnya usaha mengingkari seksualitas itu sendiri, khususnya di kalangan wanita
kelas atas dan menengah. Yang sering kita lupakan adalah perubahan dunia yang terjadi
semenjak dua abad ini.
Freud berjasa karena dia mampu melampaui sikap budaya seksual zamannya. Bahkan
gurunya, Breur dan charcot, tidak mampu menyadari persoalan seksual yang sedang
dihadapi klien mereka. Kesalahan Freud terjadi karena dia membuat generalisasi yang
terlalu dan tidak sempat memperhitungkan soal perubahan budaya. Ironisnya, sebagian
besar perubahan budaya seksual, bertitik tolak dari karya-karya freud sendiri.

2. Alam Bawah Sadar


Salah satu konsep Freud yang juga sering dikritik adalah alam bawah sadar. Kita
tidak akan mempermasalahkan bahwa alam bawah sadar memang dapat menjelaskan
sebagian perilaku kita, namun soalnya adalah seperti apakah dan seberapa luaskah alam
bawah sadar ini.
Kalangan behavioris, humanis dan eksistensialis percaya bahwa:
a. Dorongan-dorongan dan persoalan-persoalan yang dikaitkan dengan alam bawah
sadar ternyata lebih sedikit dari perkiraan Freud

20
b. Bahwa alam bawah sadar ternyata tidak serumit dan sekompleks yang dibayangkan
Freud.
Sebagian psikolog masa kini mengartikan alam sadar dengan apa pun yang tidak perlu
atau tidak ingin kita lihat.
Bahkan ada pula teoritikus yang tidak memakai konsep alam bawah sadar sama sekali.
Namun ada satu orang teoritikus, carl Jung yang begitu memanfaatkan alam
bawah sadar dalam teorinya, sehingga jasa Freud terlihat sangat besar dalam
pemikirannya
J. Aspek-aspek positif
Orang memang cenderung terburu-buru. Jika mereka tidak sepakat dengan
gagasan a,b, dan c, mereka dengan segera menyimpulkan bahwa x,y, dan z juga salah.
Dalam kasus Freud, kita harus mengakui bahwa dia tetap memiliki gagasan-gagasan yang
patut diterima, sehingga dapat digabungkan dengan teori lain.
1. Yang pertama, Freud telah menyadarkan kta tentang dua dorongan dan bagaimana
kuatnya pengaruh itu pada kita. Kalau selama ini orang yakin manusia adalah makhluk
rasional, ia menunjukkan pada ktita betapa banyak perilaku kita yang didasarkan pada
aspek biologis kita. Kalau orang menganggap setiap individu bertanggung jawab atas
tindakannya, Freud menunjukkan betapa besar pengaruh masyarakat terhadap diri
seseorang. Kalau orang menganggap peran pria dan wanita telah digariskan oleh alam
atau Tuhan, dia menujukkan betapa besar pengaruh keluarga dalam pembentukkan jati
diri seseorang sebagai pria atau wanita. Id, dan Super ego merupakan perwujudan psikis
kebutuhan biologis dan masyarakat akan selalu terdapat di dalam diri kita.
2. Yang kedua, teori dasar Freud, yang kembali pada Breur yaitu adanya gejala neurotik
tertentu yang disebabkan oleh trauma-trauma psikologis. Walaupun sebagian teoritikus
tidak lagi percaya bahwa setiap neurosis dapat dijelaskan dengan cara ini, atau yang
mengatakan bahwa kenangan terhadap trauma itulah yang seharusnya diperbaiki, namun
tetap saja menjadi pemahaman umum bahwa masa kecil yang penuh penderitaan,
penganiayaan, dan pelecehan menjadi penyebab ketidakstabilan jiwa di kala dewasa.
3. Yang ketiga adalah ide tentang pertahanan ego. Walaupun kita tidak sepakat dengan
ide alam bawah sadar dari Freud, kita harus menerima kenyataan bahwa manusia
memang punya cara sendiri dalam memanipulasi kanyataan dan ingatannya tentang
kenyataan itu agar sesuai dengan keinginannya, ketika keinginan itu terasa begitu kuat.

21
Untuk itulah kita perlu mengenali mekanisme pertahanan ini agar kita dapat membantu
diri kita dan orang lain keluar dari masalah.
4. Yang terakhir adalah pola terapi yang dicetuskan Freud. Dengan pengecualian
beberapa bentuk terapi behavioris, banyak terapi masih berbicara tentang “pengobatan”,
yang melibatkan kenyamanan fisik dan sosial. Kenyataan membuktikan bahwa semakin
dekat hubungan antara klien dengan terapis dalam proses terapi semakin besar pula
kemungkinan klien jadi sembuh.
Sebagian besar ide Freud terkait erat dengan kebudayaan dan era di mana ia hidup.
Diantara ide-idenya ada yang tidak dapat dibuktikan, ada juga ide yang berdasarkan
kepriadian dan pengalaman Freud sendiri. Namun bagaimanapun juga Freud adalah
peneliti kondisi kejiwaan manusia yang sangat briliiant, sehingga tidak heran sampai saat
ini dan nanti, pemikirannya tetap akan mengisi buku-buku teori kepribadian. Walaupun
banyak teoritikus baru yang menemukan ide-ide baru, namun mereka tetap
membandingkan dengan teori Freud.

22
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Psikoanalisis merupakan suatu metode penyembuhan yang bersifat psikologis dengan
cara-cara fisik. Psikoanalisis merupakan suatu pandangan baru tentang manusia, dimana
ketidaksadaran memainkan peran sentral. Psikoanalisis ditemukan dalam usaha untuk
menyembuhkan pasien-pasien histeria. Baru kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan
teoritis dari penemuannya di bidang praktis. Dari hasil penelitian yang dilakukannya
kemudian lahir asumsi-asumsi tentang perilaku manusia.
2. Pandangan Psikoanalisis Tentang Kepribadian Manusia
a. Topografi Kepribadian: Alam sadar (conscious/Cs), alam prasadar
(preconscious/Pcs), dan alam bawah sadar (unconscious/Ucs),
b. Struktur Kepribadian: Id, Ego, dan Superego
c. Perkembangan Kepribadian: Fase oral, Fase anal, Fase falik, Fase laten, dan Fase
genital.
d. Dinamika Kepribadian: Insting, kecemasan, dan mekanisme pertahanan ego.
3. Teknik konseling Psikoanalisis: asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisis
transference, dan analisis resistensi.
4. Kelebihan konseling psikoanalisis: Adanya motivasi yang tidak selamanya disadari,
Adanya teori kepribadian dan teknik psikoterapi, Pentingnya masa kanak-kanak dalam
perkembangan kepribadian, Adanya model penggunaan wawancara sebagai alat terapi,
Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapat memahami sifat manusia
untuk meredakan penderitaan manusia. Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan
melalui analisis atas mimpi-minpi, resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi.
Kelemahan psikoanalisis: Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu
merendahkan martabat kemanusiaan. Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-
kanak dan menganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Cenderung
meminimalkan rasionalitas. Perilaku yang ditentukan oleh energi psikis, adalah suatu
yang meragukan, Kurang efisien dari segi waktu dan biaya.
5. Penerapan dapat dilakukan pada saat orang yang tengah tidak sadarkan diri. Saat
pasien tidak sadar, pasien banyak yang menutup-nutupi ingatan yang menyedihkan.
Karena masalah inilah Frued melakukan pekerjaannya yaitu, memeriksa ketidaksadaran

23
serta menguak alasan resistensi pasien tersebut. Cara yang biasanya dilakukan adalah
melalui mimpi, hipnotis, dan melamun.
B. Saran
Dalam makalah ini, kami menyadari masih terdapat kelemahan-kelemahan. Untuk itu,
kami sangat mengharapkan saran dan masukan dari para pembaca demi kesempurnaan
makalah ini dikemudian hari. Atas saran dan masukannya, kami selaku penulis makalah
mengucapkan terima kasih.

24
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Jakarta: FIP UPI dan Imperial Bhakti
utama, 2007

Freud, Sigmund, Peradaban dan Kekecewaan, terj. Apri Danarto Yogyakarta: Jendela,
2002

Gerald C Davison, Psikologi Abnormal edisi 9, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006

Izzudin, Muhammad, Panduan Lengkap Psikologi Islam, Jakarta: Gema Insani, 2006

25