Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ginjal adalah sepasang organ retroperitoneal yang integral dengan

homeostasis tubuh dalam mempertahankan keseimbangan, termasuk

keseimbangan fisika dan kimia, ginjal membuang sisa metabolisme dan

menyesuaikan ekskresi air dan pelarut, ginjal mengatur volume cairan tubuh,

asisitas, dan elektrolit sehingga mempertahankan cairan yang normal

(Baradero, 2008). Ginjal adalah bagian tubuh yang paling penting. Fungsi

ginjal sebagai penyaring darah dari sisa metabolisme menjadi keberadaannya

tidak bisa tergantikan oleh organ tubuh lainnya, jika ginjal rusak maka akan

menimbulkan masalah pada tubuh (Colvy, 2010).

Gagal ginjal adalah sebuah penyakit dimana fungsi organ ginjal

mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali

dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan

cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium dalam darah atau

produksi urine (Colvy, 2010). Permulaan gagal ginjal mungkin akut, yaitu

berkermbang sangat cepat dalam beberapa jam atau dalam beberapa hari,

gagal ginjal juga dapat kronik, yaitu terjadi perlahan dan berkembang

perlahan mungkin dalam beberapa tahun (Baradero, 2008).

Fungsi cairan dalam tubuh manusia antara lain sebagai alat transportasi

nutrien, elektrolit, dan sisa metabolisme, sebagai komponen pembentuk sel,

plasma, darah dan komponen tubuh lainnya,serta sebagai media pengatur

1
2

suhu tubuh dan lingkungan seluler (Tamsuri, 2008). Ketidakseimbangan

cairan meliputi dua kelompok dasar yaitu gangguan keseimbangan isotonis

dan osmolar. Menurut Tamsuri (2008) ketidakseimbangan isotonis terjadi jika

sejumlah cairan dan elektrolit hilang secara bersamaan dalam proporsi

seimbang, sedangkan ketidakseimbangan osmolar terjadi ketika kehilangan

cairan tidak diimbangi dengan perubahan elektrolitdalam proporsi yang

seimbang. Elektrolit dalam tubuh harus dipertahankan dalam keadaan

seimbang yaitu Natrium 125-145 mEg/L, Kalium 3,0-6,0 mEg/L, Bikarbonat

lebih dari 14 mEq/L (Baradero, 2008).

Hasil systematic review dan meta analysis yang dilakukan oleh Hill et al,

2016, mendapatkan prevalensi global gagal ginjal kronik sebesar 13,4%.

Menurut hasil Global Burden of Disease 2010, penyakit gagal ginjal kronik

merupakan penyebab kematian terbanyak dan masuk peringkat ke 27 di dunia

tahun 1990 dan meningkat menjadi peringkat ke 18 pada tahun 2010. Di

Indonesia, perawatan gagal ginjal merupakan peringkat kedua dengan

pembiayaan terbesar dari BPJS kesehatan setelah penyakit jantung

(KEMENKES RI, 2017)

Berdasarkan data RISKESDAS 2013 prevalensi gagal ginjal kronik di

Indonesia yang pernah di diagnosis dokter sebesar 0,2%. Di Jawa Timur

prevalensi gagal ginjal kronik mencapai 0,3%. Prevalensi gagal ginjal kronik

berdasarkan wawancara yang di diagnosis dokter meningkat seiring dengan

peningkatan umur. Peningkatan tajam pada kelompok umur 35-44 tahun

(0,3%,) diikuti 45-54 tahun (0,4%), dan umur 55-74 tahun (0,5%), tertinggi

pada kelompok umur ≥75 tahun (0,6%). Prevalensi pada laki-laki (0,3%)
3

lebih tinggi dari perempuan (0,2%), prevalensi lebih tinggi pada masyarakat

pedesaan (0,3%), tidak bersekolah (0,4%), pekerja wiraswasta,

petani/nelayan/buruh (0,3%) (RISKESDAS, 2013).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di RSUD Ngudi Waluyo

Wlingi didapatkan data pada tahun 2017 terdapat 278 kunjungan orang

dengan gagal ginjal atau rata-rata sekitar 23 kunjungan tiap bulannya. Data

tersebut merupakan data pasien yang menjalani terapi hemodialisa karena

gagal ginjal dan pasien yang menjalani rawat inap karena masalah gagal

ginjal.

Fungsi ginjal yang berkurang menyebabkan retensi cairan dalam tubuh

yang mengakibatkan edema dan kelebihan cairan. Pada pasien gagal ginjal

juga terjadi masalah pada elektrolit dalam tubuh (Baradero, 2008). Pasien

dengan gagal ginjal kronik biasanya sedikit banyak mengalami kelebihan Na+

dan air, yang mencerminkan kurangnya ekskresi garam dan air oleh ginjal

(McPhee & Ganong, 2010). Pada pasien dengan gagal ginjal yang sel

tubularnya sudah banyak rusak dan tidak berfungsi, tidak ada lagi mekanisme

yang mampu mengekskresikan kalium dari tubuh. Fungsi ginjal yang

berkurang mengubah kemampuan tubuh untuk membuang sisa metabolisme ,

hal ini dapat menyebabkan tanda dan gejala uremia (Baradero, 2008).

Berkurangnya kemampuan pasien gagal ginjal kronik dalam

mengekskresikan asam dan membentuk penyangga menyebabkan asidosis

metabolik (McPhee & Ganong, 2010).

Pada pasien gagal ginjal masalah utama yang muncul yaitu

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Masalah tersebut terjadi karena


4

adanya penurunan fungsi ginjal. Mempertahankan keseimbangan cairan dan

elektrolit penting untuk dilakukan karena fungsi cairan dan elektrolit penting

bagi tubuh, dan jika tidak seimbang akan menyebabkan terganggunya sistem

metabolisme pada tubuh. Berdasarkan fenomena diatas, maka penulis tertarik

untuk mengambil judul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gagal Ginjal

Dengan Masalah Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit Di RSUD Ngudi

Waluyo Wlingi”

1.2 Masalah Studi kasus

Bagaimana Asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal dengan masalah

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit ?

1.3 Tujuan Studi Kasus

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari karya tulis ini adalah untuk menggambarkan asuhan

keperawatan pada pasien gagal ginjal dengan masalah ketidakseimbangan cairan

dan elektrolit di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.

1.3.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus penulisan karya tulis ini yaitu penulis mampu :

1. Mampu melakukan pengkajian pada pasien gagal ginjal dengan

masalah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit di RSUD Ngudi

Waluyo Wlingi
5

2. Mampu dan menetapkan diagnosis keperawatan pada pasien gagal

ginjal dengan masalah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit di

RSUD Ngudi Waluyo Wlingi

3. Mampu dan menyusun perencanaan pada pasien gagal ginjal dengan

masalah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit di RSUD Ngudi

Waluyo Wlingi

4. Mampu dan menerapkan implementasi pada pasien gagal ginjal

dengan masalah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit di RSUD

Ngudi Waluyo Wlingi

5. Mampu dan melakukan evaluasi keperawatan pada pasien gagal ginjal

dengan masalah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit di RSUD

Ngudi Waluyo Wlingi

1.4 Manfaat Studi Kasus

Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberi manfaat pada berbagai

pihak, antara lain :

1.4.1 Teoritis

Meningkatkan pengetahuan bagi pembaca dan sebagai bahan referensi

pada penelitian selanjutnya tentang pemberian asuhan keperawatan pada pasien

gagal ginjal dengan masalah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.

1.4.2 Praktis

1.4.2.1 Bagi Perawat

Dapat melaksanakan asuhan keperawatan yang tepat pada pada pasien

gagal ginjal dengan masalah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.


6

1.4.2.2 Bagi Rumah Sakit

Sebagai bahan masukan yang bermanfaat dalam rangka meningkatkan

kualitas pelayanan kesehatan.

1.4.2.3 Bagi Institusi Pendidikan

Dijadikan bahan masukan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar

mengajar khususnya asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal dengan masalah

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.

1.4.2.4 Bagi Pasien

Pasien dapat mengetahui gambaran umum tentang gagal ginjal beserta

perawatan yang benar agar mendapat perawatan yang tepat.