Anda di halaman 1dari 34

GAYA KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN DALAM FILM (STUDI ANALISIS ISI GAYA KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN SOEKARNO DALAM FILM SOEKARNO INDONESIA MERDEKA)

KEPEMIMPINAN SOEKARNO DALAM FILM SOEKARNO INDONESIA MERDEKA) Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Informatika

Oleh:

ATIKA AMURWA HAMBARWATI L 100 140 056

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2018

i

i

ii

ii

iii

iii

GAYA KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN DALAM FILM (STUDI ANALISIS ISI GAYA KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN SOEKARNO DALAM FILM SOEKARNO INDONESIA MERDEKA)

Abstrak Film merupakan salah satu bentuk komunikasi massa yang efektif dalam mempengaruhi para penonton, dengan adanya beberapa genre yang di suguhkan dan salah satunya adalah film dengan tema biografi. Salah satu film biografi yang cukup menarik adalah film “Soekarno Indonesia Merdeka” yang disutradarai Hanung Bramantyo yang rilis pada tahun 2013 lalu. Film ini menceritakan perjuangan Soekarno untuk memperoleh kemerdekaan bagi Indonesia saat melawan Dai Nippon. Film ini menjadi menarik untuk diteliti karena film tersebut mengisahkan tentang Soekarno. Seperti yang sudah diketahui Soekarno merupakan pionir penting dalam bangsa ini, sang orator ulung yang selalu bisa menggugah semangat melalui pidato-pidatonya. Dari apa yang sudah ditampilkan dalam film tersebut Soekarno yang belum resmi menjadi presiden, tetapi sudah mendapat simpati rakyat dan dipercaya sebagai pemimpin. Masalah kepemimpinan adalah sebuah topik yang menarik untuk dibicarakan terlebih film ini rilis menjelang pemilihan calon pemimpin bagi Indonesia. Menggunakan teori gaya kepemimpinan Lippit dan White serta gaya komunikasi dari Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, sehingga penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana gaya kepemimpinan dan gaya komunikasi yang dilakukan oleh sosok Soekarno yang ditampilkan dalam film Soekarno Indonesia Merdeka” dilihat dari unit analisis adegan dan dialog. Dengan menggunakan metode analisis isi peneliti ingin melihat bagaimana penggambaran gaya kepemimpinan sosok Soekarno dalam film tersebut serta bagaimana Soekarno dapat mengkomunikasikan ide yang bisa mempengaruhi, memandu, mengarahkan, atau mengontrol sebuah organisasi sehingga nantinya dapat menjadi contoh bagi khalayak yang ingin meniru atau mempelajari gaya kepemimpinan Soekarno. Hasil dari penelitian ini menunjukan dari apa yang ditampilkan dalam film Soekarno memiliki gaya kepemimpinan demokratis. Serta menggunakan beberapa gaya komunikasi yang beliau sesuaikan dengan komunikan saat proses komunikasi berlangsung gaya komunikasi tersebut diantaranya yakni gaya equalitarian, gaya relingushing, gaya controlling, dan gaya dynamic.

Kata Kunci : gaya kepemimpinan, gaya komunikasi, film, soekarno, analisis isi

Abstract Film is a form of mass communication which is effective in influencing the audiences, with several genres served, one of them is biography. One of the interesting biographical film was the film "Soekarno Indonesia Merdeka" directed by Hanung Bramantyo and was released in December 2013. The film is about how Soekarno fought to make Indonesia gains independence against Dai Nippon. This film is being an interesting one to be examined as this movie is about Soekarno. As already known, Soekarno is the pioneer of this nation, the eminent orator who can always arouse passion through his speeches. From what has been shown in the movie, Soekarno was not yet formally a President, but already got sympathy from the people and trusted as a leader. The issue of leadership is so interesting to be talked about, moreover this movie was released ahead of the presidential election in Indonesia. Using the theory of leadership style by Lippit and White as well as the theory communication style by Stewart l. Tubbs and Sylvia Moss, this research aims to see how the leadership and communication styles are carried out by Soekarno's character featured in the film "Soekarno Indonesia Merdeka", which being viewed in unit analysis by scenes and dialogue. By using content analysis method, researchers want to see how the film depicts Soekarno's leadership style also how Soekarno communicates his ideas which could affect, guide, direct, or control

1

an organization so that it can eventually become an example for audiences who like to imitate

or learn the leadership style of Soekarno. The results of this research indicate from what is shown in the film that Soekarno has a democratic leadership style. As well as using some of

the style of communication that he is fit to the person when the communication process takes

place the communication style of them i.e. equalitarian style, relingushing style, controlling

style, and dynamic style.

Keywords: leadership style, communication style, movies, soekarno, content analysis

1. PENDAHULUAN

Media massa memiliki beberapa jenis seperti cetak , elektronik dan media baru. Film hadir

sebagai bagian dari kebudayaan massa, yang muncul seiring dengan perkembangan

masyarakat perkotaan dan industri. Film menurut Effendy (Sholihah, 2017) merupakan salah

satu bentuk hasil karya yang ditayangkan kepada khalayak melalui saluran media yang ada.

Di balik pesan yang disampaikan dalam film, terdapat tanda-tanda yang tersembunyi yang

memiliki makna tertentu yang dapat ditafsirkan. Film sendiri memiliki berbagai tema seperti

fantasi, romantik, komedi, horor, religius, drama dan biografi.

Saat masa Orde lama, film-film karya anak bangsa lebih bertemakan perjuangan.

Para pembuat film masih terbawa nuansa kemerdekaan Indonesia. melalui Surat

Keputusan Menteri Penerangan No.59/KEP/MENPEN/1969 pemerintah Orde baru

membentuk Dewan Film Nasional yang mengatur perfilman Indonesia. Industri film pada

awal-awal masa itu ditandai oleh semangat revolusioner. Hal itu terlihat dari sejumlah film

tentang perjuangan bangsa Indonesia saat melawan pemerintah kolonial Belanda. Menurut

pengamatan Mannus Franken (Irawanto, 1999) pada tahun 1950, setelah perang dunia kedua,

permintaan cerita film tetap tinggi dibandingkan masa sebelumnya, hal ini telihat karena

bangkitnya perasaan nasionalisme. Masuk ke dalam era reformasi, mulai tema film tidak

lagi disesuaikan dengan kehendak pemerintah, namun disesuaikan dengan keinginan

pasar.

Film sendiri merupakan medium komunikasi massa yang ampuh. Bukan saja

untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan serta pendidikan (Effendy dalam Valerina,

2013). Dengan kata lain, film merupakan media komunikasi massa yang mampu

menimbulkan dampak pada masyarakat, karena film selalu mempengaruhi dan

membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) dibaliknya (Sobur, 2004).

Film merupakan salah satu media massa yang berkembang pada akhir abad 19.

Seperti halnya media komunikasi massa yang lain, film pun memiliki beberapa fungsi,

2

di antaranya sebagai media hiburan, sebagai media komunikasi, sebagai transformasi kebudayaan, dan sebagai media pendidikan (Sadiman dalam Valerina, 2013). Film sebagai salah satu bentuk media, berperan dalam mengkontruksikan makna. Sebuah film merupakan kumpulan image dari berbagai referensi. Film sebagai penggambaran realitas tersebut yang merupakan gabungan antara dialog dan gambar, mampu mengangkat dan mengungkapkan kembali berbagai permasalahan hidup tersebut. Setelah melewati penghayatan yang intens, seleksi subyektif, dan diolah dengan daya imajinatif kreatif oleh produser dan sutradara ke dalam bentuk dunia rekaan (Nurgiantoro dalam Valerina, 2013). Sama seperti jenis media massa cetak, audio dan audio visual, film adalah medium yang tidak sekedar merefleksikan media, melainkan ia juga mendefinisikan realita. Makna atau citra yang muncul di dalam sebuah film bukanlah sesuatu yang terberikan begitu saja, tetapi hasil dari suatu cara tertentu dalam mengkonstruksi realita. Definisi tentang realita ini diproduksi melalui semua praktek linguistik dan visual, dimana dalam praktek-praktek tersebut, definisi tentang realita selektif direpresentasikan. Makna film sebagai representasi dari realitas khalayak, bagi Turner (Irawanto, 1999) berbeda dengan film sekedar sebagai refleksi dari realitas. Sebagai refleksi dari realitas, film sekedar “memindah” realitas ke layar tanpa mengubah realitas itu. Sementara itu, sebagai representasi dari realitas, film membentuk dan “menghadirkan kembali” realitas berdasarkan kode-kode, konvensi-konvensi, dan ideologi dari kebudayaannya. Melalui visual yang ditampilkan dalam film, bisa diliat penggambaran makna melalui tanda-tanda untuk dapat menyampaikan pesan yang dimuat dalam film tersebut. Seperti dikemukakan oleh Van Zoest (Irawanto, 1999) film dibangun dengan tanda-tanda semata- mata. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diinginkan. Yang paling penting adalah gambar dan suara, kata yang diucapkan (ditambah dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar) dan musik dalam film. Tanda atau simbol itu bisa berupa tata letak posisi berdiri / duduk dari setiap karakter yang muncul, pakaian yang dipakai oleh karakter utama maupun pendukung atau alat (properti) yang digunakan untuk membangun suasana. Sehingga dari yang ditampilkan akan membentuk visual yang lebih menarik dan tanda atau simbol yang diberikan memang sudah secara matang difikirkan pembuat film agar penyampaian pesan mengenak langsung kepada khalayak. Selain visual yang ditampilkan, tentu adanya suara juga akan mendukung dalam film. Seperti yang dijelaskan oleh David Bordwell dan Kristin Thompson dalam bukunya, suara yang muncul dalam film dapat memberikan bayangan yang aktual dalam

3

menginterpresatisan gambar.jadi antara gambar dan suara memiliki nilai penting dalam film yang ditampilkan. Irawanto (1999) menyatakan, film merupakan salah satu media yang dapat merepresentasikan peristiwa yang terjadi di masa lalu kepada generasi di masa selanjutnya dan memberikan pemahaman atas peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh sejarah, serta mampu menjadi sarana untuk mendokumentasikan sekaligus mengabadikan sejarah. Meski pada awalnya film adalah hiburan bagi kelas bawah di perkotaan, namun dengan cepat film mampu menembus batas-batas kelas dan menjangkau kelas yang lebih luas. Kemampuan film mampu menjangkau segala segmen sosial ini, lalu menyadarkan para ahli bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya. Film juga menjadi medium penyampaian pesan dan representasi kejadian yang ditampilkan dalam film. Dalam hal memproduksi wacana, hegemoni, dan nilai-nilai sosial. Film sebagai refleksi dari khalayaknya, tampaknya menjadi perspektif yang secara umum lebih mudah disepakati. Pada tahun 2013 untuk mengingatkan kembali tema film seperti pada masa Orde lama dan untuk dapat melihat peristiwa dari tokoh sejarah, dibuatlah film dengan tema perjuangan. Film “Soekarno Indonesia Merdeka” yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini merupakan film sejarah yang menampilkan kisah perjuangan Soekarno dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Jauh sebelum itu juga pernah dibuat film dengan tema serupa yakni film Janur Kuning, yang mana merupkan film pertama sejak Orde baru berkuasa, yang mengangkat tokoh Soeharto. Film ini dibuat pada 1979 dan diedarkan setahun setelahnya. Film Janur Kuning disutradai oleh Alam Rangga Surawidjaja. Film ini berlatar perebutan kota Yogyakarta dari Republik oleh tentara Belanda pada desembe 1948, dan berpusat pada serangan umum 1 maret 1949 dan befokus pejuangan Letkol Soeharto. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Schott Graham, Michael Sincoff, Bud Baker dan Cooper Ackermann, Kayu (2001) menunjukan film dapat membuat cara yang berguna untuk melihat organisasi modern. Dalam hal ini film “Soekarno Indonesia Merdeka” memperlihatkan sosok Soekarno sebagai orang yang cerdas dan berwibawa mampu membuat dia disegani dan jadi sosok pemimpin. Masalah kepemimpinan di Indonesia adalah sebuah topik yang menarik untuk dibicarakan. terlebih kalau dilihat dari cikal bakal terbentuknya bangsa Indonesia yang dipenuhi dengan perjuangan dan pengorbanan dari para founding fathers Indonesia. Kepemimpinan utama sebuah bangsa, ada di tangan presiden. Sebagai presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno mengawali kepemimpinannya melalui berbagai organisasi sebagai wadah perjuangan untuk memperjuangkan nasib Indonesia. Hal yang penting dari

4

seorang pemimpin adalah kepemimpinan. Sehingga menjadi sangat penting untuk membahas lebih lanjut tentang kepemimpinan bangsa, khususnya tokoh Soekarno, untuk memahami lebih dalam gaya komunikasi dan gaya kepemimpinannya sebagai tokoh utama pendiri bangsa Indonesia yang mana nantinya dapat dijadikan salah satu referensi berharga dalam mengurai permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia di masa kini maupun di masa yang akan datang. Kepemimpinan sendiri didefinisikan oleh Stephen Robbins (2008: 49) sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok guna mencapai serangkaian visi atau tujuan yang telah ditetapkan. Sebuah organisasi pastilah membutuhkan sebuah kepemimpinan yang kuat dan solid agar efektivitas dan kinerjanya optimal. Dalam memimpin sebuah organisasi, setiap pemimpin pastilah perlu menjalin hubungan baik dengan para anggotanya melalui komunikasi yang dilakukan. Selain itu tentunya setiap pemimpin mempunyai gayanya sendiri dalam memimpin dan mengkomunikasikan maksud serta tujuannya kepada khalayak. Gaya Kepemimpinan sendiri menurut Kartini Kartono (2006 : 27) sebagai suatu pola perilaku manajemen profesional yang dirancang untuk memadukan minat dan usaha pribadi serta organisasi untuk mencapai tujuan (Dwi dan Chandranegara, 2010). Sehingga Untuk itu, selain diperlukan gaya kepemimpinan, juga dibutuhkan gaya komunikasi.Gaya kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang berkaitan dengan kebijakan yang dikeluarkan, pembagian tugas yang dilakukan, serta alur komunikasi yang diterapkan, sementara gaya komunikasi berhubungan dengan karakter komunikator, maksud dan tujuan komunikasi yang dilakukannya. Dengan adanyanya gaya komunikasi yang baik tentu akan membuat pemimpin lebih mudah berkoordinasi dengan anggotanya namun komunikasi tidak secara mutlak menyelesaikan konflik tapi setidaknya dapat meredakan konflik antar kepentingan yang terjadi diantara anggota organisasi. Komunikasi dan proses memimpin merupakan satu paket yang integral satu sama lain. Melalui pola-pola komunikasi, seorang pemimpin dapat diketahui bagaimana gaya kepemimpinannya, dapat diketahui apakah ia mewakili sifat-sifat kepemimpinan atau tidak. Begitu juga secara formal, seorang pemimpin membutuhkan ‘alat’ agar bisa memberikan instruksi, mengatur, koordinasi, memengaruhi, mentransformasikan ide, atau melakukan perubahan dalam organisasi yang dipimpinnya. Menurut Yukl (2010), sikap kepemimpinan melibatkan proses dimana “memengaruhi” sengaja diberikan pada orang lain untuk membimbing, membentuk struktur, dan memfasilitasi kegiatan serta hubungan dalam kelompok atau organisasi (Hendriwinaya, 2016).

5

West dan Turner memberikan definisi komunikasi berdasarkan model komunikasi sebagai berikut : Pertama komunikasi sebagai satu arah, dapat diartikan bahwa komunikasi merupakan pengiriman pesan dari satu orang kepada orang lain. Dalam komunikasi satu arah, kepemimpinan dilakukan berdasarkan sifat-sifat otoritarian dari pemimpin. Pemimpin otoriter menganggap dirinya serba tahu dan bawahan tidak lebih tahu daridirinya, sehingga pola komunikasi yang dilakukan lebih bersifat memerintah dan instruksi. Sehingga pola komunikasi yang terbentuk diibaratkan hanya berasal dari satu arah, yaitu pemimpin komunikan tidak diberikan kesempatan untuk memberikan responnya dalam arti melakukan hal yang sama dengan komunikator. Kedua, konsep komunikasi dua arah. Dalam konsep ini komunikasi berlangsung dengan melibatkan feedback atau umpan balik. Dalam konteks kepemimpinan, seorang pemimpin memposisikan sejajar kepentingannya. Sehingga pesan-pesan komunikasi bergantian membentuk pola dialog. Maka pola komunikasi yang terjadi saling bergantian ibarat dua orang yang sedang bermain pingpong. Oleh karena itu konsep ini disebut sebagai konsep interaksi. Ketiga, konsep komunikasi transaksi. Komunikasi yang terjadi dalam suatu konteks tertentu maknanya tidak tetap atau final. Komunikator dan komunikan saling memberikan makna pada saat sedang atau setelah pesan-pesan yang sifatnya disengaja itu muncul. Oleh karena itu, konsep ini lebih menekankan pada proses (Rustandi, 2015). Sedangkan kepemimpinan merupakan sebuah proses bagaimana seseorang menciptakan keterpengaruhannya terhadap orang-orang di sekitarnya. Untuk memengaruhi seseorang, seorang pemimpin memerlukan komunikasi. Bagaimana cara ia menyampaikan, latar belakangnya, isi pesan, media yang digunakan serta siapa yang menjadi komunikannya akan memengaruhi proses kepemimpinannya. Sashkin dan Sashkin mendefinisikan kepemimpinan melalui kepemimpinan bermakna dan berharga, yakni yang mampu membuat perubahan dalam kehidupan manusia. Tindakan-tindakan kepemimpinan seseorang dapat dicermati dari gaya kepemimpinan yang dilakukannya (Rustandi, 2015). Dalam penelitian yang dilakukan Marian dan Oana Mara (2016), Preda (2006, pp. 98-99) menyatakan gaya kepemimpinan merupakan cara-cara yang digunakan dikehidupan nyata dalam berorganisasi. Sehingga dalam hal ini, gaya kepemimpinan seseorang salah satunya direalisasikan dalam praktik pemimpin dalam berkomunikasi dengan publik atau konstituennya. Miftah Thoha menyatakan bahwa gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Sujadi menyatakan pemimpin yang efektif dengan sendirinya

6

mampu membantu menentukan tujuan menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas dengan tepat waktu (Prihandayani, 2017). Seorang pemimpin mempunyai cara berkomunikasi dan karakter gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Gaya kepemimpinan berhubungan dengan perilaku komunikatif yang digunakan untuk membantu orang lain mencapai hasil yang diinginkan (Pace dan Faules, 2000: 277). Terdapat tiga gaya kepemimpinan, berdasarkan teori gaya permulaan Early Style Theory yang dikembangkan Lippitt dan White (1960, dalam Papa, et,al, 2008:263-264), yaitu: Otoriter, Demokratis, dan Laissez Faire. Tubbs dan Moss mengemukakan 6 gaya komunikasi seperti dikutip Riswandi (2014), yaitu: The Controlling Style, ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa, dan mengatur perilaku, pikiran, dan tanggapan orang lain. The Equalitarian Style, di sini peserta Komunikasi dapat mengungkapkan gagasannya atau pendapatnya dalam suasana yang rileks, santai, dan informal. The Structuring Style, gaya komunikasi yang berstruktur ini memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi. The Dinamic Style, gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan. Tujuan utama gaya komunikasi ini adalah menyetimulasi atau merangsang pekerja untuk bekerja lebih cepat dan lebih baik. The Relingushing Style, gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat, ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim pesan memunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain. The Withdrawal Style, akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut (Rustandi, 2015). Melalui gaya komunikasi Stewart L.Tubbs dan Sylvia Moss (Tubbs, dalam Sendjaja, 2008:4.15-4.20) dan gaya kepemimpinan Early Style Theory (Lippitt dan White, dalam Papa, Daniels & Spiker, 2008: 263-264), dimana kecenderungan gaya komunikasi dan kepemimpinan seseorang dapat memberikan warna dalam penanganan krisis. Berikut tabel kategori penjelasannya (Handayani, 2016).

7

Tabel 1 Gaya Komunikasi

No.

Gaya

Komunikator

Maksud

Tujuan

1.

Controlling

- Memberi perintah

Mempersuasi

Menggunakan

- Butuh

perhatian

orang lain

kekuasaan

dan

orang lain

wewenang

2.

Equalitarian

- Akrab

Menstimuli

Menekankan

- Hangat

orang lain

pengertian

bersama

3.

Structuring

- Objektif

Mensistemisasi

Menegaskan

- Tidak

memihak

lingkungan dan

ukuran,

kubu manapun

memantapkan

prosedur,

dan

struktur

aturan

yang

dipakai

4.

Dynamic

- Mengendalikan

Menumbuhkan

Ringkas

dan

- Agresif

sikap

untuk

singkat

bertindak

5.

Relingushing

- Bersedia menerima gagasan orang lain

Mengalihkan

Mendukung

tanggung jawab

pandangan

kepada

orang

orang lain

 

lain

6.

Withdrawal

- Independen

Menghindari

Mengalihkan

(berdiri sendiri)

komunikasi

persoalan

Sumber : Koehler, et.al (1978: 48)

Tabel 2 Perbandingan Gaya Kepemimpinan Otokratis, Demokratis, dan Laissez-Faire

Aspek

Otokratis

Demokratis

 

Laissez-Faire

Kebijakan

Ditentukan

oleh

Terjadi

dalam

Bebas

pemimpin

kelompok diskusi

 

Pembagian tugas

Dilakukan

oleh

Bebas

memilih

dan

Tidak ada partisipasi dari pemimpin

pemimpin

ditentukan

oleh

kelompok

 

Komunikasi

Satu arah ke bawah

Dua arah

 

Satu arah ke bwah

Kepribadian

Memberikan

pujian

Objektif

 

Hanya

menentukan

dan kecaman

 

tujuan umum

Sumber: Papa, et,al ( 2008:263-264)

Cohen dan Bailey & Yukl (Hilby, Stephens, dan Stripling, 2016) memberikan

pedoman bagi pemimpin adalah (a) mengartikulasikan visi yang jelas dan menarik, dan

menjelaskan bagaimana visi dapat dicapai; (b) bertindak percaya diri dan optimis; (c)

8

mengungkapkan keyakinan pengikut; (d) menggunakan dramatis, tindakan simbolis untuk menekankan nilai-nilai kunci; dan (e) memimpin dengan contoh (Yukl, 2013). Menurut Dhakidae, kehidupan politik Soekarno dapat dibagi menjadi lima bagian, antara lain: Pertama, masa ketika Soekano mulai masuk ke dunia politik melalui manifesto Soekarno saat ia menulis “Islam, Marxisme dan Nasionalisme”; Kedua saat masa pembuangan ke Ende dan Bengkulu; Ketiga, masa pendudukan dan penjajahan Jepang; Keempat, masa kemerdekaan sejak Soekarno-Hatta menjadi pemimpin Indonesia hingga Pemilihan Umum tahun 1955; Kelima, saat Soekarno mengumumkan pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dan presiden seumur hidup hingga kejatuhannya pada 1965. Dalam film “Soekarno Indonesia Merdeka” yang diperankan oleh aktor Ario Bayu ini yang menjadi fokusan lebih ke bagian ketiga yakni saat penjajahan dari Jepang dan upaya Soekarno dalam memperjungankan kemerdekaan bagi rakyat Indonesia (Triastika, 2016). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Septizar Triastika (2016) “Konstruksi Kepemimpinan Tokoh Bangsa Dalam Film Ketika Bung di Ende” yang mana film tersebut juga meneliti sosok Soekarno yang dikisahkan dalam film pada saat sedang diasingkan di Ende, Flores. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan analisis framing ini menyimpulkan bahwa film mampu memberikan konstruksi atas kepemimpinan Soekarno yang bisa merangkul semua kalangan dan berideologi religius. Sehingga dari penelitian tersebut film memang mampu menjadi sarana mengkonstruki pesan dan nilai-nilai sosial. Sudah banyak judul yang menunjukan tokoh Soekarno terhitung ada 11 judul yang menampilkan Soekarno yakni; Pertama dalam film “The Year of Living Dangerously” pada tahun 1982 film tersebut menceritakan tentang wartawan Australia yang ditugaskan di Jakarta ketika terjadi gejolak politik di Indonesia tahun 1965. Dalam film tersebut Soekarno yang diperankan oleh Mike Emperio hanya muncul sebentar dalam 2 adegan tanpa dialog. Kedua dalam film “Penumpasan Pengkhiatan G30SPKI” pada tahun 1984 sosok Soekarno diperankan oleh Almh Umar Kayam. Ketiga dalam film “Soekarno Blues” tokoh Soekarno dalam film ini diperankan oleh aktor Belanda keturunan Indonesia Martin Schwab. Film ini diproduksi pada tahun 1999. Keempat ada film “Gie” pada tahun 2005 dalam film ini Soekarno diperankan oleh Sultan Saladin. Dalam film yang bercerita tentang kisah hidup aktivis mahasiswa Soe Hok Gie tokoh Soekarno hanya muncul sebentar sebagai pendukung latar cerita. Kelima dalam film “Ruma Maida” (2009).Keenam “Soegija” (2012). Ketujuh “Sang Kiai” (2013). Dalam ketiga film tesebut diperankan oleh penyiar dan presenter Imam Wibowo tak hanya satu, Imam bahkan sudah muncul sebagai Soekarno di tiga film berbeda, meskipun porsinya masih sekadar figuran.Kedelapan dalam film “Ketika Bung di Ende”

9

produksi tahun 2013 film dari prakarsa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang digarap oleh sutradara dan penulis Viva Westi. Film ini menceritakan masa pembuangan Soekarno bersama istrinya Inggit Ganarsih yang dibuang di Ende, Flores oleh pemerintahan kolonial Belanda sebelum kemerdekaan. Dalam film ini, Soekarno diperankan oleh aktor Baim Wong. Ketika Bung di Ende memang tidak ditayangkan di bioskop umum karena ditujukan sebagai media pembelajaran sejarah. Kesembilan dalam serial drama dokumenter “Pustaka Tokoh Bangsa : Soekarno” yang diperankan oleh Anjasmara pada tahun 2003 lalu dan ditayangkan oleh Trans TV. Kesepuluh pada film televisi (FTV) yang berjudul “Tjinta Fatma” tayang di Trans 7 diperankanoleh Dony Damara tahun 2007 lalu. Dari beberapa sosok yang ditampilkan sebelumnya sosok Soekarno hanya dijadikan pemeran pendukung serta tempo produksi sudah terlalu lama dan hanya film “Soekarno Indonesia Merdeka” yang mengisahkan tokoh Soekarno sebagai orang yang dominan dalam film tersebut dan ditayangkan dibioskop Indonesia serentak pada tanggal 11 Desember 2013 lalu dengan jumlah penonton 970.000 orang. Film “Soekarno Indonesia Merdeka” sebagai salah satu film biografi yang merupakan pengembangan dari genre epik sejarah, yang diangkat dari biografi tokoh Soekarno. Film biografi umumnya bersetting pada periode massa lampau (sejarah) dan melibatkan ratusan figuran serta sering menyajikan aksi pertempuran menggunakan perlengkapan perang dengan skala besar (Pratista dalam Meria, 2015). Selain itu dalam film-film biografi, tata rias wajah digunakan untuk menyamakan wajah pemain dengan wajah tokoh asli yang sedang diperankan (Aisyah dan Nugroho, 2017). Sehingga Film “Soekarno Indonesia Medeka” menarik diteliti karena film tersebut mengisahkan bagaimana perjuangan Soekarno untuk meraih kemerdekaan. Seperti yang sudah diketahui Soekarno merupakan pionir penting dalam bangsa ini, sang proklamator yang gaya kepemimpinanannya bisa menjadi contoh khalayak umum. Selain itu film ini diproduksi disaat menjelang tahun pencarian pemimpin baru bagi Indonesia sehingga film ini dapat dijadikan referensi untuk mengenal gaya kepemimpinan melalui gaya komunikasi yang dilakukannya. Dalam buku biografi yang menceritakan sosok Soekarno yang ditulis oleh Johar Situmorang (2015), sosok Soekarno merupakan sosok yang aktif dan kreatif hal itu telah nampak sedari beliau masih muda. Terbukti Soekarno sering terlibat dalam bidang organisasi dan politik, khususnya kegiatan organisasi Serikat Islam (S.I) yang dipimpin oleh Tjokroaminoto. Setelah aktif dalam organisasi tersebut, ia pun juga mulai aktif menuliskan ide-ide segarnya di harian Oetoesan Hindia yang juga dipimpin oleh Tjokroaminoto. Dari beberapa tulisan yang pernah dibuatnya akhirnya dihimpun dan dijadikan sebuah buku dan

10

yang paling dikenal dari tulisannya adalah “Dibawah Bendera Revolusi”. Selain itu pada pertengahan tahun 1926, Soekarno ikut mendirikan Klub Studi Umum, di Bandung klub yang awalnya digunakan untuk ajang saling berdiskusi lalu berubah menjadi gerakan politik radikal. Dari apa yang sudah ditulis Soekarno, terbitlah artikel yang terkenal “Nasionalisme, Islamisme, dan Maxisme”. Soekarno menyatakan “Bukannya kita mengharap, yang nasionalis itu supaya berubah paham jadi islamis dan maxistis. Bukannya maksud kita menyuruh marxis dan islamis itu berbalik menjadi nasionalis, akan tetapi impin kita ialah kerukunan, persatuan antar tiga golongan”. Dari hal di atas, peneliti ingin melihat bagaimana gaya kepemimpian dan gaya komunikasi sosok Soekarno yang ditampilan dalam film “Soekarno Indonesia Merdeka” dilihat dari unit analisis adegan dan dialog yang dijadikan bahan untuk menampilkan hal tersebut dengan menggunakan analisis isi. Dalam penelitian yng dilakukan oleh Pratyush Banerjee dan Shantanu Shankar Bagchi (2017), Insch menyatakan bahwa analisis isi dapat menjadi alat yang efektif untuk melakukan studi kepemimpinan. Penelitian ini menjadi penting untuk diteliti karena untuk melihat bagaimana gaya kepemimpinan sosok Soekarno dalam film tersebut serta bagaimana Soekarno dapat mengkomunikasikan ide yang bisa mempengaruhi, memandu, mengarahkan, atau mengontrol sebuah organisasi, sehingga nantinya dapat menjadi contoh bagi khalayak yang ingin mempelajari atau meniru gaya kepemimpinan Soekarno. Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya adalah objek yang akan diteliti dan metode yang akan digunakan.

2. METODE Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang dipakai ialah deskriptif kualitatif. Moleong (2007) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai suatu penelitian ilmiah yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks sosial secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti. Sifat dari penelitian ini ialah subjektif, karena peneliti ikut aktif dalam menentukan jenis data yang diinginkan. Peneliti harus terjun langsung ke lapangan untuk memperoleh data yang diharapkan. Objek penelitian ini ialah film “Soekarno Indonesia Merdeka” film hasil rumah produksi Multivision Plus Picture (MVP) dengn durasi 02:22:44 dari awal sampai creadid title. Penelitian dilakukan dengan menganalisis penggambaran kepemimpinan dalam film tersebut. Populasi penelitian ialah keseluran adegan yang ditampilkan dalam film “Soekarno

11

Indonesia Merdeka” Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampling purposif. Penelitian ini akan meneliti unit adegan yang menampilkan kepemimpinan. Metode pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti ialah dokumentasi dengan mengumpulkan adegan-adegan yang dinilai merepresentasikan kepemimpinan Soekarno. Selain itu untuk mendukung analisis data, peneliti juga dibantu dengan literatur data dari sumber lain berupa buku-buku dan juga jurnal penelitian terdahulu. Teknik Analisis data yang digunakan ialah analisis isi kualitatif. Analisis isi kualitatif didefinisikan sebagai pendekatan analisis teks empiris, metodologis yang dikendalikan dalam konteks komunikasi, mengikuti peraturan analisis konten dan model langkah demi langkah, tanpa pengurangan kuantisasi (Mayring, 2000). Periset dapat menggunakan analisis isi untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan sikap, pandangan, dan kepentingan individu, kelompok kecil, atau budaya yang besar dan beragam kelompok, dengan melakukan batasan peneliti yakni hanya melihat konten yang ditampilkan dalam film yang terkaitan dengan gaya kepemimpinan dan gaya komunikasi. Periset dapat menggunakan analisis isi dalam pekerjaan evaluasi membandingkan konten komunikasi dengan objek yang telah didokumentasikan sebelumnya (Berelson dalam Mayring, 2000). Penelitian ini menggunakan pendekatan induktif guna mengkategorikan objek yang diteliti. Krippendorff menjelaskan penataan secara induktif artinya, data yang diperoleh dan dianalisa kemudian dikelompokkan ke dalam kategori-kategori yang ditetapkan sebelumnya. Aspek-aspek interpretasi teks mengikuti pertanyaan penelitian dimasukan ke dalam kategorisasi. Kategori-kategori tersebut dapat direvisi dan diverivikasi bersamaan dengan jalannya proses analisis (Andini, 2014). Pada sebuah penelitian perlu adanya suatu uji validitas agar teruji kebenarannya. Validitas penelitian merupakan kesesuaian alat ukur yang digunakan dalam penelitian. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik validitas intercoder. Peneliti menguji keabsahan data dengan memanfaatkan orang lain untuk ikut menganalisis sampel penelitian. Kemudian mengechek apakah hasil analisis peneliti dan orang kedua sama atau berbeda. Dengan menggunakan corder kedua yakni dosen pembimbing, peneliti melakukan pemilihan corder dengan mempunyai alasan bahwa selain pengcorder telah menonton film tersebut, pengcorder juga merupakan sesorang yang sudah berkompeten dalam bidang ini.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap film “Soekarno Indonesia Merdeka” antara lain

sebagai berikut :

12

3.1 Memotivasi Orang Lain Salah satu hal yang tentunya harus dimiliki seorang pemimpin adalah dapat memdorong

bawahannya untuk dapat berbuat sebagaimana mestinya untuk melancaran tujuan bersama.

Menurut Prof. Kimball Young (Kartono, 2006) kepemimpinan harus didasari kemampuan

pribadi yang sanggung mendorong atau menggerakan orang lain untuk berbuat sesuatu

berdasarkan akseptansi/penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang

tepat bagi situasi khusus. Jadi dalam hal ini pemimpin bisa memotivasi/mendorong

bawahannya. Berelson Steiner mendefinisikan motivasi sebagai “A motive is an inner state

that energizes activities or moves (hence motivation) and that directs or channels behaviour

towards a goal” (satu motif adalah satu keadaan batiniah yang memberikan energi kepada

aktifitas-aktifitas atau menggerakannya karena itu menjadi motivasi mengarahkan atau

menyalurkan tingkah laku pada satu tujuan) (Kartono, 2006). Hal tersebut juga terlihat dalam

beberapa adegan film “Soekarno Indonesia Merdeka” dalam memberikan motivasi Soekarno

melakukannya melalui orasi yang dia sampaikan kepada para pendikung dan rakyatnya.

Terlihat dari beberapa adegan yang terlihat dibawah ini :

3.1.1 Motivasi yang diberikan didepan para pendukung

Gambar 1. Soekarno berorasi didepan pendukungnya.
Gambar 1. Soekarno berorasi didepan pendukungnya.

Soekarno

: “Apakah saudara-saudara biarkan?”

Rakyat

: “Tidakk ”

Soekarno

:“Ini saatnya kita tunjukan siapa diri kita. Berteriaklah dual implerialis. Kita akan tuntut tuan atas kelakuan tuan pada tanah kami.”

Rakyat : “Lawan lawan lawan lawan.”

Pada gambar 1 terlihat Soekarno mengajak seluruh orang-orang yang datang untuk berani,

untuk bersatu dan menjadi kuat guna melawan penjajah. Nawawi, menyatakan bahwa

kepemimpinan untuk dapat mengefektifkan organisasi memerlukan strategi dalam

13

mempengaruhi orang lain atau anggota organisasi agar dapat memberikan kontribusi secara optimal guna tercapainya tujuan bersama (Setiawan dan Mardalis, 2015). Motivasi disini disampaikan dengan tegas, jelas dan penuh gelora. Gaya kepemimpinan yang baik adalah gaya kepemimpinan yang dapat memberikan motivasi kerja pada anggota atau bawahannya. Widyatmini dan Hakim mengatakan seorang pemimpin harus melalukan berbagai keahlian, pengalaman, kepribadian dan motivasi setiap individu yang dipimpinya (Makky, 2017). Menurut Bass (Yukl, 2011), pemimpin mengubah dan memotivasi para pengikutnya dengan cara membuat mereka lebih menyadari pentingnya hasil tugas, membujuk mereka untuk mementingkan kepentingan tim atau organisasi mereka dibandingkan dengan kepentingan pribadi, dan mengaktifkan kebutuhan mereka yang lebih tinggi (Sidharta dan Lusyana, 2015) . Dari apa yang ditampilkan dalam adegan diatas terlihat bahwa orang-orang yang datang membawa sebuah spanduk yang bertuliskan PNI. Dijelaskan oleh Situmorang (2015) PNI adalah partai yang didirikan Soekarno bersama rekannya yakni Mr. Sartono, Dr. Samsi, Ir. Anwari, J.Tillar, Mr. Iskaq Tjokroadisuryo, Sudjadi, Mr. Budiarto dan Mr. Sunario pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung. Soekarno sebagai ketua partai menganggap bahwa PNI merupakan partai pelopor didalam massa aksi. Dalam buku “Indonesia Merdeka”, Soekarno menulis “Partailah yang memegang obor, partailah yang berjalan dibuka, partailah yang menyuluhi jalan yang gelap dan penuh dengan ranjau-ranjau itu sehingga menjadi jalan yang terang. Partailah yang memimpin massa itu didalam perjuangannya merebahkan musuh, partailah yang memegang komando daripada barisan massa”. Tujuan utama PNI adalah kemerdekaan sepenuhnya untuk Indonesia maka dari itu didepan para pendukungnya Soekarno memberikan orasi dengan lantangnya. Dengan adanya spanduk PNI ini jadi memperlihatkan adanya tanda tersirat bahwa mereka yang datang dengan spanduk PNI merupakan pendukung dari Soekarno. Seperti dikemukakan oleh Van Zoest (Irawanto, 1999) film mampu membangun melalui tanda semata-mata. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan. Sehingga seluruh elemen dari makna (yang terdiri dari tanda-tanda, simbol, indeks, ikon) senantiasa akan dikonstruksikan ke dalam konvensi yang khusus. Melalui orasi-orasi yang diberikan Soekarno, para pendukungnya digugah semangat nasionalismenya untuk bisa bersatu menuntut keadilan bangsa Indonesia. Pendukungnya disini ialah para anggota PNI (Partai Nasional Indonesia). Dari apa yang ditampilkan dalam adegan diatas, gaya komunikasi yang dilakukan oleh Soekarno ialah Controlling Style yakni dengan memberikan perintah kepada rakyat, beliau

14

menggunakan kekuasaan yang dipunyai untuk dapat mengatur perilaku, pemikiran dan

tanggapan rakyat (Rustandi, 2015). Maksud dari yang disampaikan Soekarno untuk

mempersuasi rakyat agar mereka mau dan mampu membantunya mencapai tujuan

kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Melalui orasi yang beliau berikan untuk dapat mengajak

rakyat berjuang bersamanya.

3.1.2 Motivasi yang diberikan didepan para rakyat

3.1.2 Motivasi yang diberikan didepan para rakyat Gambar 2. Soekarno yang tengah melakukan orasi ditengan

Gambar 2. Soekarno yang tengah melakukan orasi ditengan persawahan rakyat

Soekarno :“Bapak-bapak / ibu-ibu sebagai putera Indonesia saya berkewajiban untuk memikirkan kesulitan-kesulitan rakyat semua.”

Rakyat

:“Hidup Bung Karno

Hidup

Bung Karno

Hidup

Bung Karno !!!.”

Terlihat melalui gambar 2 bahwa saat itu Soekarno tengah melakukan orasi didepan

rakyatnya yang tengah berada disawah, Soekarno meyakinkan para rakyat bahwa sebagai

bangsa Indonesia kita harus bisa mengambil hak yang sudah di rampas oleh penjajah. Dari

apa yang disampaikan Soekarno melalui dialog “Bapak-bapak / ibu-ibu sebagai putera

Indonesia saya berkewajiban untuk memikirkan kesulitan-kesulitan rakyat semua.”

terlihat adanya rasa tanggung jawab yang besar dalam dirinya, sehingga hal tersebut diharap

juga akan bisa membuat rakyat termotivasi dan merasa lebih bersemangat untuk dapat ikut

berjuang meraih kemerdekaan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dirk Van Dierendonk

(2011), menyatakan sebuah hasil bahwa pemimpin yang menggabungkan motivasi mereka

untuk memimpin dengan kebutuhan untuk melayani maka pemimpin tersebut akan bisa

dengan baik melayani para pengikutnya, dalam hal ini berarti pemimpin dapat

memberdayakan serta mengembangan potensi para pengikut, dengan mengungkapkan

kerendahan hati, keaslian, pengawasan dan memberikan arahan.

15

Gambar 3. Soekarno yang disambut rakyat setibanya di wilayah Surabaya Selain itu dalam gambar 3

Gambar 3. Soekarno yang disambut rakyat setibanya di wilayah Surabaya

Selain itu dalam gambar 3 kedatangan Soekarno ke Surabaya juga disambut antusiasme rakyat. Rasa tanggung jawab, kobaran semangat dan kerja keras yang ditunjukan Soekarno membuat rakyat termotivasi dan mau ikut berjuang dan percaya bahwa kemerdekaan akan diperoleh. Bayang-bayang penjajah yang selama ini menghantui mereka akan segera sirna dengan perjuangan yang dilakukan bersama-sama. Dalam penelitian yang dilakuka oleh Lusila Parida dan Wiwik Wijayanti (2018), Blanchard menjelaskan bahwa individu dengan tingkat kematangan tinggi memiliki pengetahuan, pengalaman dan motivasi untuk melakukan pekerjaan. Ia memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi. Hal ini menekankan bahwa ketika individu atau kelompok mencapai tingkat kematangan tinggi akan menunjukkan perilaku kepemimpinannya dengan baik. Dari dua hal yang ditampilkan diatas dalam memberikan ulusannya untuk mendorong rakyat, Soekarno sama-sama melakukannya dengan penuh semangat. Soekarno adalah sosok yang flamboyan, penuh gelora, orator ulung pemikat massa, mendidik massa dalam pidato publik dan mengenalkan politik kultural kebanggan bersama sebagai bangsa lewat saling perduli dalam “solidarity making a nation and character building” (Situmorang, 2015). Tetapi ada sedikit perbedaan dari apa yang ditampilkan dalam film ini, jika didepan pendukungnya Soekarno dalam menyampaikan pesannya lebih berapi-api dan ada penekanan-penekannya sedangkan jika didepan rakyat Soekarno tetap penuh gelola tapi hanya saja beliau lebih memperlihatkan keakraban dan rasa tanggung jawanya supaya rakyat lebih bisa mempercayainya. Nasution mengemukakan bahwa seorang pemimpin harus mengembangkan suatu gaya dalam memimpin bawahannya. Suatu gaya kepemimpinan dalam berkomunikasi dapat dirumuskan sebagai suatu pola perilaku yang dibentuk untuk diselaraskan dengan kepentingan-kepentingan organisasi dan bawahan untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Riyadi, 2011) . Dalam penelitian yang dilakukan oleh Arif Rahman Hakim dan

16

M. Yahya (2014), Handoko mengemukakan jika gaya kepemimpin yang baik adalah gaya yang secara aktif melibatkan bawahan dalam penetapan tujuan dengan menggunakan teknik-teknik manajemen partisipatif seperti memotivasi bawahan agar dapat bekerja dengan baik dan memusatkan perhatian baik terhadap bawahan maupun tugas. Sehingga dari potongan-potongan yang sudah ditampilkan dalam adegan film “Soekarno Indonesia Merdeka” dapat ditarik kesimpulan bahwa dari apa yang dilakukan Soekarno untuk dapat memimpin rakyatnya beliau menggunakan gaya komunikasi Equalitarian. Gaya komunikasi equalitarian style (Handayani, 2016) merupakan gaya komunikasi yang digunakan oleh seseorang yang memiliki karakter tenang dan akomodatif. Dalam memberikan pesan gaya komunikasi ini disampaikan dengan pemikiran terbuka sehingga lebih menekankan pengertian dari maksud pesan tersebut. Dalam Gaya komunikasi yang dilakukan Soekarno dalam film ini, beliau menyampaikan maksud dan tujuannya dengan tenang agar apa yang dia inginkan dapat dengan baik diterima oleh rakyatnya. Dengan cara pendekatan yang akrab dan hangat kepada para rakyat diharapkan nantinya dalam menjalankan tugas akan terjalin lebih harmonis. Selain itu melalui gaya komunikasi Equalitarian Soekarno bermaksud untuk dapat menstimuli rakyat agar semuanya dapat membantu, bersatu dan bekerjasama menjalankan tugas untuk mengusir penjajah. 3.2 Dekat Dengan Rakyat Kepemimpinan terutama mempunyai fungsi sebagai penggerak/dinamisator dan koordinator dari sumber daya manusia, sumber daya alam, semua dana, dan sarana yang disiapkan oleh sekumpulan manusia yang berorganisasi (Kartono, 2006). Begitupula untuk menjadi pemimpin yang baik tentu kita perlu tahu karakteristik bagaimana bawahan atau orang-orang yang akan menjadi rekan kerja kita. Erwin dan Douglas menyatakan seorang pemimpin memiliki peran menentukan program kegiatan yang didasarkan pada asumsi dasar organisasi, atau konsep manajemen yang digunakan (Thoyib, 2005). Dalam film “Soekarno Indonesia Merdeka” juga nampak terlihat kedekatan antara Soekarno dengan rakyat. Seperti yang terlihat dalam adegan berikut :

17

Gambar 4. Soekarno tengah melakukan siaran radio “ Dalam rangka upaya meraih kemerdekaan Indonesia kami

Gambar 4. Soekarno tengah melakukan siaran radio

Dalam rangka upaya meraih kemerdekaan Indonesia kami mengharap keikutsertaan saudara-saudara semua dalam organisasi pembela tanah air dan organisasi serdadu pekerja, Peran serta saudara-saudara semua akan membantu Dai Nippon dalam upaya kemerdekaan Indonesia.”

Dari potongan adegan diatas yakni yang terlihat dalam gambar 4. Sosok Soekarno

yang tengah melakukan siaran radio, Soekarno melakukan persuasi agar rakyat bisa ikut

terlibat untuk membantunya dalam perang melawan penjajah. Dalam penelitian yang

dilakukan oleh Anthony G. Vito dan Gennaro F. Vito (2015), William menyatakan bahwa

persuasi merupakan kekuatan kepemimpinan yang utama. Dengan adanya keterlibatkan

rakyat, bisa dilihat hubungan yang terjalin diantara Soekarno dan rakyat memang seperti

tidak ada pembatas. Soekarno menginginkan kerjasama tim yang baik dengan melibatkan

semua elemen termasuk rakyat guna membantu kemerdekaan yang diinginkan Indonesia.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia rakyat (masyarakat) berarti orang yang menempati

wilayah tertentu dalam artian ini yang dimaksud Indonesia. Robert M. Mclver (Budiardjo,

2008) mendefinisikan masyarakat sebagai suatu sistem hubungan-hubungan yang ditata

(society means a system of ordered relations). Sehingga dalam hal ini hubungan yang terjalin

antara pemimpin dan bawahan harus selaras. Hal itu dibuktikan Soekarno dengan melibatkan

rakyat (masyarakat) dalam menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi. Karena pada saat

itu pada saat penjajahan oleh Dai Nippon yakni sejak 1942, pemerintah Dai Nippon melarang

semua perusahaan film swasta mengintroduksi pemanfaatan film secara terus-menerus

sebagai alat propaganda, yang mana hal tersebut membuat merosotnya produksi film di

Indonesia. Sehingga dengan ajakan atau pesuasi yang dilakukuan oleh Soekarno diharap

rakyat mau dan mampu untuk ikut andil untuk memperoleh kemerdekaan.

18

Dari potongan adegan diatas, bisa dilihat gaya komunikasi yang dilakukan Soekarno menggunakan gaya dynamic. Dengan mengajak rakyat berpartisipasi aktif dalam melawan penjajah. Soekarno berusaha untuk menumbuhkan sikap untuk bertindak kepada rakyatnya dengan mengendalikan mereka melalui persuasi yang beliau berikan. Gaya komunikasi ini bertujuan utama untuk dapat merangsang atau menstimuli pekerja untuk dapat bekerja lebih cepat dan lebih baik (Rustandi, 2015). Selain adegan diatas kedekatan Soekarno juga terlihat dalam adegan :

diatas kedekatan Soekarno juga terlihat dalam adegan : Gambar 5. Soekarno tengah berkunjung ke desa-desa Pada

Gambar 5. Soekarno tengah berkunjung ke desa-desa Pada adegan tersebut yakni seperti yang terlihat dalam gambar 5, Soekarno yang tengah melakukan perjalanan ke desa-desa (blusukan), yang mana banyak masyarakat menghampiri dirinya dengan tidak sungkan Soekarno menyapa dan kontak fisik langsung dengan mereka. Selain itu, dari apa yang terlihat dalam gambar diatas bisa menunjukan bahwa ada hubungan yang dekat antara Soekarno dan rakyatnya. Hubungan yang terjalin baik ini tentu juga sangat berpengaruh dalam hal mengkomunikasikan perintah dari Soekarno kepada rakyatnya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Paul E. Madlock (2008), yang mana hasilnya menunjukan bahwa hubungan yang kuat antara kompetensi komunikator, tugas dan gaya kepemimpinan mereka dapat menjadi prediktor kuat bagi kerja bawahan dan kepuasan dalam berkomunikasi. Holladay dan Coombs, menyatakan bahwa komunikasi dapat membentuk persepsi seorang pemimpin (Madlock, 2008). Demikian pula, pesan yang dikirim oleh para pemimpin dianggap menggandung strategi afektif dan kognitif (Hall & Load dalam Madlock, 2008). Dan ketika para pemimpin efektif mengkomunikasikan visi mereka, mereka dapat memenangkan kepercayaan dari pengikut, yang pada nantinya dapat membantu dalam kepuasan komunikasi antara pemimpin dan pengikut (Pavitt dalam Madlock, 2008). Selain dua adegan diatas, kedekatan yang terjalin dari sosok Soekarno dan rakyatnya terlihat dalam adegan berikut :

19

Gambar 6. Kedatangan warga ke rumah Soekarno Ko Acu (pedagang) : “untuk bung dari para

Gambar 6. Kedatangan warga ke rumah Soekarno

Ko Acu (pedagang) : “untuk bung dari para pedagang dipasar bengkulu, dan ini untuk Ibu”

Soekarno

: “Ini untuk apa?”

Ko Acu

: “kita orang percaya, bahwa bung pemimpin yang

baik bung bawa keberuntungan disini.”

Kedekatan lain juga terlihat dalam gambar 6, saat itu Soekarno tengah mengadakan

acara di rumahnya lantas banyak dari masyarakat yang datang. Hal itu membuktikan bahwa

memang para rakyat segan akan keberadaan Soekarno, salah satunya ada masyarakat yang

datang dan memberikan beberapa bahan dagangan mereka kepada Soekarno dan keluarga.

Kedekatan yang yang terjalin baik antara Soekarno dan rakyat, menumbulkan kepercayaan

yang kuat dari rakyat bahwa Soekarno mampu memimpin bangsa ini dan memberikan rakyat

kemerdekaan seperti yang sudah mereka impikan selama ini. Waring (Tubbs, 2000)

mengemukakan bahwa kedekatan (keakraban) bisa dilihat melalui pemikiran, keyakinan,

fantasi, minat, cita-cita dan latar belakang yang sama. Dan kualiatas hubungan antara dua

orang atau lebih juga bisa diukur oleh derajat keakraban mereka. Sehingga apa yang

dilakukakan Soekarno dan rakyatnya yang mempunyai cita-cita sama yakni kemerdekaan

membuat hubungan mereka menjadi dekat dan akrab dengan melakukan kegiatan bersama.

3.3 Diskusi Membahas Masalah

Sebagai pusat kekuatan dan dinamisator bagi organisasi pemimpin harus selalu

berkomunikasi dengan semua pihak, baik melalui hubungan formal maupun informal.

Suksesnya pelaksanaan tugas pemimpin itu sebagian besar ditentukan oleh kemahirannya

menjalin komunikasi yang tepat dengan semua pihak, secara horisontal maupun vertikal

(Kartono , 2006). Untuk melakukan hal tersebut tentu lebih baik pemimpin menggukan pola

komuniasi dua arah. Komunikasi berlangsung dengan melibatkan feedback atau umpan

balik. Dalam konteks kepemimpinan, seorang pemimpin memposisikan sejajar

20

kepentingannya, Sehingga pesan-pesan komunikasi bergantian membentuk pola dialog (West dan Turner dalam Rustandi, 2015).

3.3.1 Diskusi Dengan Teman Sejawat

Dalam memberikan gagasannya Soekarno tidak serta merta bertindak egois tapi beliau juga

mempertimbangkan pendapat dari teman-temannya yang lain sehingga dalam pengambilan kebijakan atau pemberian wewenang Soekarno mendiskusikan terlebih dahulu dengan rekannya, rekannya disini yakni Moh.Hatta dan Sutan Sjahrir.

rekannya, rekannya disini yakni Moh.Hatta dan Sutan Sjahrir. Gambar 7. Soekarno, Moh Hatta dan Sutan Sjajrir

Gambar 7. Soekarno, Moh Hatta dan Sutan Sjajrir tengah berdiskusi dirumah Hatta

Dari apa yang terlihat dalam gambar 7 yakni Soekarno, Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir tengah berdiskusi untuk membahas cara melawan Jepang. Soekarno mengusulkan, untuk bekerjasama saja dengan Nippon guna mendapatkan kemerdekaan bagi Indonesia. namun dari apa yang sudah diusulkan oleh Soekarno tidak disetujui oleh Sutan Sjahrir dan Moh Hatta. Dalam hal ini terutama Sjahrir merasa tidak percaya kepada Nippon, beliau khuatir kalau dengan bekerjasama justru akan membawa Indonesia menuju kehancuran. Soekarno tetap menghargai usulan Sjahrir dan tidak serta merta menolaknya. Soekarno menjelaskan alasan usulannya tersebut dengan mengemukakan gagasannya dan meyakinkan Sjahrir bahwa kita bisa memastikan agar kerjasama ini tidak akan melukai rakyat dan melalui kerjasama dengan Nippon kita justru bisa memanfaatkan mereka untuk memperoleh kemerdekaan bagi Indonesia, selain itu Soekarno juga memperkuat usulannya karena pada sebelumnya, Soekarno telah melakukan kerjasama saat di Sumatra sehingga beliau berani menjamin dan bisa bertanggung jawab atas apa yang beliau utarakan. Sehingga hal itu cukup menjelaskan bahwa Soekarno ketika berpendapat juga sudah mempertimbangkan dahulu resiko ataupun keuntungan yang bisa didapat. Sementara itu Moh. Hatta yang juga sependapat dengan Sjahrir, tetapi beliau juga mempercayai Soekarno bahwa keputusan untuk bekerjasama dengan Nippon adalah yang terbaik untuk kemerdekaan Indonesia. Walau Soekarno pada akhirnya tetap melakukan kerjasama dengan Nippon, tetapi beliau tetap mengutarakan

21

terlebih dahulu pendapatnya. Beliau tetap mengajak temannya untuk berdiskusi dan tidak langsung mengambil tindakan sendiri. Dengan melakukan diskusi dengan teman sejawat juga merupakan hal yang penting karena teman sejawat mempunyai pengetahuan yang tidak jauh beda sehingga nantinya hasil yang diperoleh bisa lebih berimbang. Selain itu ketika

berdiskusi dengan teman sendiri posisi atau kedudukannya setara dalam arti kata tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Dari gambar 7 juga terlihat kesetaraan itu pada posisi duduk dan meja bundar yang digunakan. Jadi baik Soekarno, Hatta atau Sjahrir terlihat mempunyai posisi yang sama dan hubungan yang dekat sebagai teman. Perbedatan di antara mereka tidak berarti serius karena hubungan ketiga nya memang sudah dekat, terutama hubungan antara Soekarno dan Hatta. Ditulis oleh Johar Situmorang (2015) dalam buku biografi Soekarno, walaupun mereka mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda namun keduanya sama-sama mengadakan gerakan perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Jika Soekarno adalah sosok yang flamboyan, penuh gelora, orator ulung pemikat massa, mendidik massa dalam pidato publik dan mengenalkan politik kultural kebanggan bersama sebagai bangsa lewat saling perduli dalam “solidarity making a nation and character building”. Sementara Hatta adalah sosok dengan rasionalitas, disiplin, berkarakter kuat dan administrasi dalam mendidik karakter moral dan budi pekerti yang tangguh untuk mengurus kemajemukan bangsa hingga bangsa ini bisa mencontoh hidupnya yang disiplin, asketis religius dan bersahaja. Walaupun terdapat perbedaan yang rasanya sulit untuk disatukan, tetapi Bung Karno dan Bung Hatta saling melengkapi dalam pergerakan nasional. Hal itu terlihat ketika pada saat pembacaan detik-detik proklamasi, Bung Karno tetap menunggu kedatangan Bung Hatta. “Saya tidak akan membacakan proklamasi kemerdekaan jika Bung Hatta tidak ada. Jika Mas Mawardi tidak mau menunggu Bung Hatta, silahkan baca sendiri”. Kata Soekarno kepada dr. Mawardi, salah satu tokoh pemuda yang pada saat itu mendesak agar segera membacakan teks proklamasi. Begitu percaya Soekarno kepada Moh. Hatta juga tampak ketika pada tahun 1949 dia meminta agar Hatta menjadi Wakil Presiden dan Perdana Menteri (Susilo dalam Situmorang, 2015).

3.3.2 Diskusi Dengan Rakyat

Selain dalam adegan tersebut, ada juga terlihat dalam adegan saat Soekarno tengah melakukan diskusi dengan rakyat yang juga dihadiri oleh para pemuka agama islam terkait permasalahan wanita yang diambil paksa oleh Jepang.

22

Gambar 8. Soekarno tengah berdiskusi dengan beberapa rakyat dan ulama Soekarno : “Bagaimana kalau saya

Gambar 8. Soekarno tengah berdiskusi dengan beberapa rakyat dan ulama

Soekarno

: “Bagaimana kalau saya mendatangkan

Beberapa orang

pelacur disini?”. : “Astagfirullah tidak bisa”.

Kyai

: “Sama saja Bung Karno, sama saja kita membiarkan perzinahan itu ada, itu haram”.

Beberapa orang

: “Iya Iya Iya

”.

Dari potongan adegan yang terlihat dalam gambar 8 yakni saat Soekarno berusaha

mencarikan jalan keluar yang terbaik untuk dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi

oleh rakyat, terkait anak gadis mereka yang diambil paksa oleh Jepang untuk dijadikan

pemuas nafsu seksual mereka. Soekarno yang mengusulkan kalau untuk mendatangkan

pelacur saja supaya anak gadis para masyarakat tidak diambil oleh Jepang. tetapi usulan

tersebut tidak diterima oleh beberapa masyarakat dan ulama yang menghadiri pertemuan

tersebut, ulama disini menyatakan ketidaksetujuannya karena itu juga sama saja kita

membiarkan perzinaan di tempat itu sebagai hal yang diperbolehkan. Karena usulan yang

Soekarno berikan menurut para ulama dan masyarakat tidak bagus, maka Soekarno

mendengarkan saran mereka dan tidak jadi mendatangkan pelacur. Dalam organisasi

hubungan yang baik dengan bawahan itu sangat diperlukan. Ketika pemimpin mengikut

sertakan bawahan dalam mendiskusikan masalah berarti pemimpin tidak bersikap secara

otoriter dan memberikan ruang bagi bawahan untuk dapat menyalurkan pendapat mereka

terkait pernasalahan yang tengah dihadapi. Seperti dalam potongan adegan diatas, hal

tersebut menunjukan ketika Soekarno mempunyai sudut pandang sendiri dalam

menyelesaikan suatu masalah, akan tetapi beliau masih mau mendengar dan

mempertimbangkan pendapat dari para rakyat dan mendiskusikan hal tersebut. Dan dari apa

yang sudah diusulkan Soekarno ternyata tidak sesuai karena dirasa kurang bijaksana,

23

akhirnya Soekarno menerima pendapat dari rakyat dan ulama yang menghadiri pertemuan itu

dengan tidak jadi mendatangkan pelacur. Dalam penelitian yang di lakukan oleh James R.

Larson Jr, Pennie G. Foster Fishman, Timothy M. Franz (2014) Larson, Christensen, Abbott,

& Franz menyatakan bahwa dengan adanya diskusi kelompok akan dapat bisa menbagikan

informasi yang ada. Sehingga dengan begitu anggota bisa ikut menyampaikan pendapatnya

terkait masalah yang tengah di hadapi.

3.3.3 Diskusi Dengan Tentara Dai Nippon

Setelah kekuasaan Jepang mulai runtuh, Soekarno dan Hatta yang mewakili Indonesia sering

melakukan diskusi untuk bernegosasi guna menjalankan apa yang sudah direncanakannya

agar bisa segera memperoleh kemerdekaan. Hal tersebut terlihat dalam adegan dirumah dinas

Laksamana Maeda. Soekarno dan Hatta datang untuk membicarakaan bentuk negara yang

akan dijadikan pedoman bagi Indonesia.

bentuk negara yang akan dijadikan pedoman bagi Indonesia. Gambar 9. Soekarno dan Hatta yang terngah berdiskusi

Gambar 9. Soekarno dan Hatta yang terngah berdiskusi dengan tentara Dai Nippon.

Laksama Maeda

: “Sebelum tondhoika resmi memberikan

Soekarno

kemerdekaan pada Indonesia, sebaiknya anda memikirkan bentuk negara, saya menyarankan bentuk negara anda adalah kerajaan. Dengan bentuk kerajaan akan lebih mudah bekerjasama dengan Dai Nippon”. (dengan logat orang Jepang) : “Siapa yang akan jadi rajanya?”.

Laksama Maeda

: “Anda jadi rajanya dan Hatta anda jadi Perdana Menteri”.

Soekarno

: “Boleh saya bicarakan dulu dengan Hatta?”.

Pada potongan adegan seperti yang terlihat dalam gambar 9 diatas, Soekarno dan Hatta

yang telah bernegosiasi dengan salah seorang tentara Dai Nippon mengenai bentuk

pemerintahan yang akan digunakan Indonesia saat sudah mendapat kemerdekaannya nanti,

disini Laksana Maeda yang mengusulkan bentuk negara kerajaan tidak diterima usulannya.

Soekarno menginginkan adanya keterlibatan rakyat dalam negara ini sehingga beliau merasa

bentuk kerajaan tidak cocok untuk Indonesia. Menurut Soekarno bentuk kerajaan akan

24

mengingkari spirit nasionalisme yang sudah beliau bangun semenjak awal perdirinya PNI dan Partindo. selain itu karena mereka merasa tidak bisa diselesaikan begitu saja hanya berdua oleh Soekarno dan Hatta, mereka memutuskan untuk membahas hal tersebut secara lebih lanjut dengan meminta pendapat rekannya yang lain. Dari apa yang sudah terjadi dalam potongan adegan tersebut Soekarno tidak langsung mengambil keputusan atas apa yang ditawaran oleh pemerintah Jepang tapi Soekarno memilih untuk berdiskusi terlebih dahulu dengan Moh.Hatta dan rekannya yang lain. mempunyai hubungan kerja dengan kolega atau instansi lain memang penting dalam setiap kepemimpinan, akan terapi pemimpin harus bisa dengan bijak dalam setiap pengambilan keputusan. Dari contoh adegan diatas terlihat sosok Soekarno dalam meneyelesaikan persoalan yang tengah dihadapi menggunakan cara berdiskusi. Kemampuan berdiskusi yang baik salah satu persyaratan yang mutlak bagi setiap pemimpin. Sebab, diskusi merupakan cara berkomunikasi dengan semua unsur yang ada didalam organisasi. Diskusi sendiri berasal dari bahasa latin “discussio”, “discutere”, “discussum” memecahkan dalam berbagai potongan. Memperbincangkan keuntungan dan kerugiannya, bertukar pikiran, atau berdebat. Jadi diskusi bisa diartikan semacam pembicaraan bebas (free talk) yang diarahkan pada pemecahan masalah. Seperti yang diungkapan Ordway Tead dalam bukunya, salah satu metode kepemimpinan yang bisa dilakukan yakni peka terhadap saran-saran. Pemimpin harus bisa menghargai pendapat-pendapat orang lain, untuk kemudian mengkombinasikannya dengan ide yang ia miliki sendiri. Dengan begitu dia bisa membangkitkan inisiatif kelompok untuk memberikan saran yang baik dalam menghadapi setiap persoalan yang ada (Kartono,

2006)

Dari apa yang sudah dilakukan Soekarno yang ditampilkan dari beberapa adegan diatas, Soekarno juga menggunakan gaya komunikasi relingushing style (Handayani, 2016) gaya komunikasi ini memperlihatkan komunikator yang bersedia menerima saran, pendapat dan gagasan orang lain. Walaupun Soekarno memiliki hak untuk memberi perintah dan mengontrol rakyatnya namun beliau tetap mau mendengarkan pandangan mereka dan mendukung pandangan tersebut dalam menyikapi pemasalahan yang tengah dihadapi. Serta beliau mempunyai gaya kepemimpinan demokratis, artinya beliau tidak secara semena-mena menyuruh atau memutuskan masalah akan tetapi beliau melibatkan orang lain. Dalam hal ini beliau menggunakan komunikasi dua arah dan objektif tanpa memihak unsur manapun sehingga dalam mencapian tujuan dilakukan bersama, di diskusikan dengan kelompok dan tidak secara otoritas dilakukan Soekarno sendiri. Kartono (2006) mengemukakan bahwa kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang

25

efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. Kepemimpinan demokratis menghargai setiap individu mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan, juga bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing- masing mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saa-saat dan kondisi yang tepat. Kekuatan tipe ini terletak pada partisipasi aktif dari setiap anggota. Melalui gaya kepemimpinan yang sudah mulai terlihat dari sosok Soekarno ini, membuat dirinya dipercaya oleh orang-orang sebagai sosok yang mampu memimpin bangsa Indonesia ini untuk menegakkan kemerdekaan.

4. PENUTUP Peneliti ini mengkategorikan adegan-adegan yang ditampilkan dalam film “Soekarno Indonesia Merdeka” menjadi beberapa hal yang dirasa merepresentasikan bagaimana gaya komunikasi dan gaya kepemimpinanan yang dilakukan oleh Soekarno. Dari semua adegan yang ditampilkan dalam film hanya diambil sampel yang tampak memperlihatkan bagaimana Soekarno melakukan tindakan untuk dapat memimpin negara ini. Hasil dari apa yang sudah peneliti lakukan memperlihatkan bahwa sosok Soekarno yang ditampilkan dalam film tersebut menggunakan gaya komunikasi yang beliau sesuaikan dengan komunikan, suasana komunikasi yang berlangsung serta konteks komunikasi yang dilakukan. Dalam beberapa adegan saat Soekarno menggunakan gaya komunikasi controlling style, beliau berkomunikasi dengan rakyatnya yakni saat beliau tengah berorasi. Beliau menggunakan kekuasaan yang dimiliki untuk dapat mempersuasi rakyat agar bisa ikut melawan penjajah. Selain itu dalam beberapa adegan selanjutnya terlihat Soekarno menggunakan gaya komunikasi equalitarian style dimana pada adegan tersebut Soekarno dalam melakukan proses komunikasi dilakukan dengan pendekatan yang hangat dan akrab serta sosok Soekarno memperbolehkan peserta komunikasi untuk dapat mengungkapkan gagasannya atau pendapatnya dalam suasana yang rileks, santai, dan informal. Dalam beberapa adegan lain Soekarno menggunakan gaya komunikasi relingushing style yakni saat berkomunikasi dengan tentara Dai Nippon. Soekarno mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat, ataupun gagasan dari orang lain, walaupun Soekarno mempunyai hak memberi perintah atau mengontrol mereka. Tidak hanya itu dalam adegan Soekarno yang tengah mengajak rakyatnya melalui siaran radio, Soekarno dalam penyampaian pesannya menggunakan gaya komunikasi dynamic style yakni dengan menumbuhkan sikap untuk bertindak kepada para rakyat melalui ajakan dan persuasi yang beliau berikan. Gaya

26

komunikasi yang dilakukan Soekarno memang tidak hanya satu beliau menggunakan gaya komunikasi yang sesuai dengan konteks saat proses komunikasi berlangsung. Tetapi dari apa yang ditampilkan dalam film tersebut Soekarno hanya menganut satu gaya kepemimpinan yakni gaya kepemimpinan demokratis. Soekarno tidak konfrontatif, dalam pengambilan keputusan menggunakan pendekatan lobby dengan banyak pihak dan tidak gegabah. Memiliki hubungan kerja yang baik dengan rekan-rekan sejawat maupun pihak lain, memiliki pengalaman, instuisi dan dukungan dari orang-orang disekitarnya. Terlepas dari representasi media mengenai bentuk kepemimpinan yang kompleks dan berubah-ubah, dalam menggambarkan kepemimpinan mempunyai banyak caranya tersendiri namun dalam film “Soekarno Indonesia Merdeka” sosok pemimpin yang ditonjolkan tidak jauh dari keinginan rakyat yang mana pemimpin harus memiliki sikap setidaknya yang optimis, bertanggung jawab, mempunyai visi yang jelas dan dapat mempengaruhi rakyatnya dalam hal yang positif. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan bagi penelitian yang akan datang untuk meneliti lebih jauh terkait pengambaran kepemimpinan difilm yang lain dengan menggunakan metode resepsi atau dengan menggunakan critical discourse analysis yang mana akan bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda dan bisa lebih mendalam.

PERSANTUNAN Jurnal publikasi ini tidak dapat terselesaikan tanpa dukungan orang-orang yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Akan tetapi penulis mengucapkan terimakasih dan mempersembahkan penelitian ini kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penelitian ini, diantaranya yaitu Ibu Rina Sari Kusuma, selaku dosen pembimbing yang telah mengarahkan dan membantu membagikan ilmunya selama proses penelitian. Ibu Yanti Haryanti, selaku pembimbing akademik yang sudah meluangkan waktu, tenaga, dan fikirannya selama masa perkulihan penulis. kedua orang tua penulis yang tidak pernah lelah mendoakan, memberi semangat dan memberikan dukungan finansial maupun spiritual. Teman-teman Ilmu Komunikasi angkatan 2014, Teman-teman pejuang S.I.Kom, Teman- teman strong women, Teman-teman calon emak empat anak, Teman-teman idgaf squad dan Teman kepala batu. Atas segala bantuannya penulis ucapkan banyak terima kasih dan semoga Allah menghitungnya sebagai amalan yang akan memberatkan kita untuk masuk surganya.

27

DAFTAR PUSTAKA

Agustiana, Meria. 2015. Analisis Struktur Naratif Dalam Membangun Biografi Soekarno Pada Film Soekarno Karya Hanung Bramantyo. Prodi Televisi Dan Film. Fakultas Sastra. Universitas Jember

Alyssa C. Hilby, Carrie A. Stephens, dan Christopher T. Stripling. 2016. Utilizing Film to Teach Leadership: An Analysis of Miracle, Rocky IV, and Lincoln. Vol. 4 No. 3. University of Tennessee.

Andini, I. 2014. Ketaksaan Tindak Tutur dalam Wacana Humor pada Acara Sentilan Sentilun di Metro TV. Vol. 13 No. 1. Pendidikan Bahasa. Universitas Negeri Jakarta.

Banerjee, P., & Bagchi, S. S. 2017. A content analysis of the leadership styles of steve waugh and sourav ganguly: Leadership lesson from the game of cricket. Vol. 22 No. 5. IFHE University. Hyderabad. India.

Bordwell, David., & Thompson, K. 1990. Film Art an Introduction. McGraw-Hill,Inc.

Brilio. (2015,10 November). 9 Artis Yang Pernah Perankan Tokoh Soekarono. Diperoleh 20 Februari 2018, dari https://www.brilio.net/life/9-artis-ini-pernah-perankan-tokoh-

soekarno-siapa-yang-paling-mirip-151110l.html.

Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.

Dierendonck, Van Dirk. 2011. Servant Leadership: A Review and Synthesis. Vol. 37 No. 4. Erasmus University.

Dwi , Laksmi Sito dan Chandranegara Kokoh. 2010. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Manajer, Pola Komunikasi Dalam Organisasi, Dan Jenis Penghargaan Terhadap Loyalitas Karyawan. Vol. 11 No. 2. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Bina Nusantara

Graham, Scott., Sincoff, Michael., Baker, Bud., & Ackermann, Cooper. 2003. Reel Leadership: Hollywood Takes the Leadership Challenge. Vol. 2. Wright State University.

Hakim, AR., Yahya, M. 2014. Analisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi Kerja,Dan Kompensasi Terhadap Kinerja Guru (Studi Kasus di SMA PPMI ASSALAM Surakarta). Vol. 24 No. 1. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Handayani, Rikha. 2016. Gaya Komunikasi dan Kepemimpinan dalam Menangani Krisis Organisasi: Studi pada Kepemimpinan Badan Pemeriksa Keuangan Periode 2004- 2009 dan 2009-2014. Vol. 5 No. 1. Universitas Indonesia.

Hendriwinaya, Vigor Wirayodha. 2016. Analisis Tipe Kepemimpinan dalam Film “The Last Samurai”. Vol. 24 No. 1. Fakultas Psikologi. Universitas Gadjah Mada.

Irawanto, B.

Militer Dalam Sinema

1999. Film,

Ideologi, dan Militer: Hegemoni

Indonesia. Yogyakarta: Media Pressindo.

28

Jr, James R. L., Fishman, Pennie G. F., Franz, Timothy M. 2014. Leadership Style And The Discussion Of Shared And Unshared Information In Desicion Making Groups. Vol.

24 No. 5. The University of Illinois at Chicago.

Kartono, Kartini. 2006. Pemimpin dan Kepemimpinan; Apakah kepemimpinan Abnormal itu? Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kusumastuti, AN., Nugroho, C. 2017. Representasi Pemikiran Marxisme Dalam Film Biografi Studi Semiotika John Fiske Mengenai Pertentangan Kelas Sosial Karl Marx Pada Film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Ilmu Komunikasi. Fakultas Komunikasi Dan Bisnis. Universitas Telkom

Madlock, E. Paul. 2008. The Link Between Leadership Style, Communicator Competence, And Employee Satisfaction. Vol. 45 No. 1. West Virginia University.

Makky, BM. 2017. Gaya Kepemimpinan Dalam Film (Analisis Isi Dalam Film “Merah Putih” Karya Yadi Sugandi). Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Universitas Muhammadiyah Malang.

Marian, dan Mara Oana. 2016. Leadership Styles During Crisis : Were All In This Together The Crisis As New Normality. Departement of Sociology. Faculty of Sociology and Social Assistance. University of Bucharest Romania.

Mayring, P. 2000. Qualitative Content Analysis. Forum Qualitative Sozialforschung .

Moleong, L.J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Papa, M.J., Daniels, T.D. & Spiker, B.K. 2008. Organizational Communication: Perspective and Trends. Fourth Edition. Baston, MA. McGraw-Hill.

Parida, Lusila dan Wijayanti Wiwik. 2018. Kepemimpinan Kepala Taman Kanak-Kanak Di Persekolahan Kanisius Yogyayakarta. Vol 6 No. 1. Universitas Negeri Yogyakarta.

Prihandayani, Hetty. 2017. Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi, Budaya Organisasi Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Riyadi, Slamet. 2011. Pengaruh Kompensasi Finansial, Gaya Kepemimpinan, dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada Perusahaan Manufaktur di Jawa Timur. Vol

13 No. 1. Fakultas Ekonomi. Universitas 17 Agustus 1945

Robbins, S.P. 2008. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT salemba empat.

Rustandi, Dudi. 2015. Komunikasi Kepemimpinan Prabowo Subianto Pada Fanpage Facebook. Vol. 18 No. 1. Program Studi Hubungan Masyarakat. Politeknik LP3I Bandung.

Setiawan, Edi., & Mardalis. 2015. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Komitmen Organisasi Terhadap Disiplin Kerja Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening. Vol.

17 No. 2. Manajemen Program Pascasarjana. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sholihah, Zamratush. 2017. Etnis Tionghoa Dalam Film Indonesia Analisis Isi Kualitatif Penggambaran Etnis Tionghoa Paska Dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2014. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.

29

Sidharta, Iwan dan Dina Lusyana. 2015. Pengaruh Orientasi Hubungan Dan Orientasi Tugas Dalam Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pelaku Usaha. Vol. 9 No. 1. STMIK Mardira Indonesia.

Situmorang, Johar T.H. 2015. Bung Karno Biografi Putra Sang Fajar. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Sobur, Alex. 2010. Analisis Teks Media.Bandung: Remaja Rosdakarya.

Thoyib,

Armanu.

2005.

Hubungan

Kepemimpinan,

Budaya,

Strategi,

dan

Kinerja:

Pendekatan Konsep. Vol 7 No.1. Fakultas Ekonomi. Universitas Brawijaya. Malang

Triastika, Septizar. 2016. Konstruksi Kepemimpinan Tokoh Bangsa Dalam Film Ketika Bung Di Ende. Vol. 19 No. 1. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia

Tubbs, S. L. & Moss, S. 2000. Human Communication : Konteks-Konteks Komunikasi. Penerjemah Daddy Mulyana. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Valerina, Westi. 2013. Representasi Kekerasan Seksual Pada Perempuan Studi Semiotika Dalam Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita. Vol. 2 No. 1. Universitas Sahid Solo.

Vito, G. Anthony., & Vito, F. Gennaro. 2015. What police leaders learned from “Lincoln on leadership. Vol. 38 No. 4. Criminology Department. West Georgia University. Carrollton. Georgia. USA.

30