Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KASUS GERIATRI

Disusun Oleh :

- Annisa Aulia (2018-16-019)


- Annisa Mazaya (2018-16-020)
- Atika Putri N. (2018-16-021)
- Atika Sari (2018-16-022)
- Billy Aristo U. (2018-16-023)
- Bryan Elbert J. (2018-16-024)

Dosen Pembimbing :

UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)


JAKARTA
2019
BAB I
Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UUD No. 13 Tahun 1998 tentang Kesehatan

menyebutkan bahwa lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih

dari 60 tahun.1 Menurut PERMENKES RI tahun 2014 pasien geriatri adalah

pasien Lanjut Usia dengan multi penyakit dan/ atau gangguan akibat

penurunan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi dan lingkungan yang

membutuhkan pelayanan kesehatan secara terpadu dengan pendekatan

Multidisiplin yang bekerja secara Interdisiplin.2

Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 menyatakan bahwa populasi usia

lanjut di Indonesia telah mencapai 52.094.585 jiwa dari 237.641.326 jiwa total

populasi (22%). World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa di

kawasan Asia Tenggara populasi lansia sebesar 8% atau sekitar 142 juta jiwa

pada tahun 2013 dan pada tahun 2050 diperkirakan populasi lansia meningkat

tiga kali lipat dari tahun 2013. Populasi lansia yang terus meningkat setiap

tahunnya mengakibatkan semakin banyak masalah yang sering timbul,

terutama masalah kesehatan, karena kondisi fisik yang mengalami penurunan

setiap tahunnya. 3,4 Selain penurunan kondisi fisik dari lansia, berdasarkan data

Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 disebutkan bahwa lansia di Indonesia yang

memiliki kelainan pada gigi dan mulut sebesar 80% dan lansia yang dapat

melakukan sikat gigi dengan benar hanya 39%.5

Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa pada pasien usia lanjut

terjadi penurunan fungsi tubuh secara menyeluruh, hal tersebut menyebabkan

keterbatasan pada lansia untuk dapat melaksanakan aktifitas termasuk dalam


memperhatikan dan merawat kesehatan gigi dan mulutnya. Hal tersebut

menjadi latar belakang diselenggarakannya perawatan terpadu pada pasien

lanjut usia dengan lebih dari satu penyatkit sistemik (pasien geriatri) di RSGM

FKG UPDM (B).

1.2. Rumusan Masalah


Pasien geriatri adalah pasien usia lanjut yang memiliki karakteristik
khusus yang membedakannya dari pasien usia lanjut pada umumnya.
Karakteristik pasien geriatri adalah multipatologi, daya cadangan faal
menurun, gejala dan tanda penyakit yang tidak khas, penurunan status
fungsional, dan malnutrisi.6 Selain karakteristik yang khas pada pasien
geriatri dijumpai pula adanya perubahan morfologi dan patologi pada rongga
mulutnya. Berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang pada pasien lansia
yang datang untuk melakukan perawatan gigi di RSGM FKG UPDM (B)
dijumpai adanya penyakit sistemik yang diderita pasien lansia tersebut.
Namun belum diketahui apakah terdapat manifestasi antara penyakit sistemik
yang diderita oleh pasien dengan kondisi rongga mulutnya. Untuk itu dalam
laporan ini akan dibahas lebih lanjut mengenai hal tersebut.

1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan mengenai pemerikasaan pada pasien
geriatri di RSGM FKG UPDM (B) adalah untuk memberikan informasi
tentang bagaimana keadaan rongga mulut pada pasien geriatri serta
mengetahui bagaimana perawatan yang tepat dalam menangani pasien
geriatri. Selain tujuan tersebut, laporan ini dibuat untuk memenuhi
persyaratan kelulusan di bidang profesi kedokteran gigi FKG UPDM (B).
BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1. Definisi Geriatri


Menurut PERMENKES RI tahun 2014 pasien geriatri adalah pasien
Lanjut Usia dengan multi penyakit dan/ atau gangguan akibat penurunan
fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi dan lingkungan yang membutuhkan
pelayanan kesehatan secara terpadu dengan pendekatan Multidisiplin yang
bekerja secara Interdisiplin.2
Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Siti Setiati dijelaskan bahwa
Pasien geriatri adalah pasien usia lanjut yang memiliki karakteristik khusus
yang membedakannya dari pasien usia lanjut pada umumnya. Karakteristik
pasien geriatri adalah multipatologi, daya cadangan faal menurun, gejala dan
tanda penyakit yang tidak khas, penurunan status fungsional, dan malnutrisi.6

2.2. Karakteristik dan Sindrom Geriatri


2.2.1. Karakteristik Geriatri :6
1. Multipatologi, yaitu adanya lebih dari satu penyakit kronis
degeneratif.
2. Karakteristik kedua adalah daya cadangan faali menurun karena
menurunnya fungsi organ akibat proses menua.
3. Karakteristik yang ketiga adalah gejala dan tanda penyakit yang
tidak khas. Tampilan gejala yang tidak khas seringkali
mengaburkan penyakit yang diderita pasien.
4. Karakteristik berikutnya adalah penurunan status fungsional yang
merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas
sehari-hari. Penurunan status fungsional menyebabkan pasien
geriatri berada pada kondisi imobilisasi yang berakibat
ketergantungan pada orang lain.
5. Karakteristik khusus pasien geriatri yang sering
6. dijumpai di Indonesia ialah malnutrisi. Setiati dkk, melaporkan
malnutrisi merupakan sindrom geriatri terbanyak pada pasien usia
lanjut yang dirawat (42,6%) di rumah sakit.
2.2.2. Sindrom Geriatri :6
Masalah yang sering dijumpai pada pasien geriatric adalah sindrom
geriatri yang meliputi: imobilisasi, instabilitas, inkontinensia, insomnia,
depresi, infeksi, defisiensi imun, gangguan pendengaran dan penglihatan,
gangguan intelektual, kolon irritable,impecunity, dan impotensi.
1. Imobilisasi
Imobilisasi adalah keadaan tidak bergerak/ tirah baring selama 3 hari
atau lebih, diiringi gerak anatomis tubuh yang menghilang akibat
perubahan fungsi fisiologis. Imobilisasi menyebabkan komplikasi lain
yang lebih besar pada pasien usia lanjut bila tidak ditangani dengan baik.
2. Instabilitas (Gangguan Keseimbangan)
Gangguan keseimbangan akan memudahkan pasien geriatri terjatuh dan
dapat menyebabkan terjadinya patah tulang.
3. Inkontinensia Urin
Didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak terkendali pada waktu
yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya,
sehingga mengakibatkan masalah sosial dan higienis. Inkontinensia urin
seringkali tidak dilaporkan oleh pasien atau keluarganya karena malu
atau tabu untuk diceritakan, ketidaktahuan dan menganggapnya sebagai
sesuatu yang wajar pada orang usia lanjut serta tidak perlu diobati.
Prevalensi inkontinensia urin di Indonesia pada pasien geriatri yang
dirawat mencapai 28,3%. Biaya yang dikeluarkan terkait masalah
inkontinensia urin di poli rawat jalan Rp 2.850.000,- per tahun per
pasien.13 Masalah inkontinensia urin umumnya dapat diatasi dengan
baik jika dipahami pendekatan klinis dan pengelolaannya
4. Insomnia
Insomnia merupakan gangguan tidur yang sering dijumpai pada pasien
geriatri. Umumnya mereka mengeluh bahwa tidurnya tidak memuaskan
dan sulit memertahankan kondisi tidur. Sekitar 57% orang usia lanjut di
komunitas mengalami insomnia kronis, 30% pasien usia lanjut mengeluh
tetap terjaga sepanjang malam, 19% mengeluh bangun terlalu pagi, dan
19% mengalami kesulitan untuk tertidur.
5. Gangguan depresi
Pada usia lanjut kurang dipahami sehingga banyak kasus tidak dikenali.
Gejala depresi pada usia lanjut seringkali dianggap sebagai bagian dari
proses menua. Prevalensi depresi pada pasien geriatri yang dirawat
mencapai 17,5%.12 Deteksi dini depresi dan penanganan segera sangat
penting untuk mencegah disabilitas yang dapat menyebabkan komplikasi
lain yang lebih berat.
6. Infeksi dan Penurunan Fungsi Sistem Imun
Timbulnya infeksi sangat erat kaitannya dengan penurunan fungsi sistem
imun pada usia lanjut. Infeksi yang sering dijumpai adalah infeksi
saluran kemih, pneumonia, sepsis, dan meningitis. Kondisi lain seperti
kurang gizi, multipatologi, dan faktor lingkungan memudahkan usia
lanjut terkena infeksi.
7. Gangguan Pengelihatan dan Pendengaran
Gangguan penglihatan dan pendengaran juga sering dianggap sebagai
hal yang biasa akibat proses menua. Prevalensi gangguan penglihatan
pada pasien geriatri yang dirawat di Indonesia mencapai 24,8%.12
Gangguan penglihatan berhubungan dengan penurunan kegiatan waktu
senggang, status fungsional, fungsi sosial, dan mobilitas. Gangguan
penglihatan dan pendengaran berhubungan dengan kualitas hidup,
meningkatkan disabilitas fisik, ketidakseimbangan, jatuh, fraktur
panggul, dan mortalitas.
8. Penyakit Kronis Degeneratif
Pasien geriatri sering disertai penyakit kronis degeneratif. Masalah yang
muncul sering tumpang tindih dengan gejala yang sudah lama diderita
sehingga tampilan gejala menjadi tidak jelas. Penyakit degeneratif yang
banyak dijumpai pada pasien geriatri adalah hipertensi, diabetes
melitus, dislipidemia, osteoartritis, dan penyakit kardiovaskular.
Penelitian multisenter di Indonesia terhadap 544 pasien geriatri yang
dirawat inap mendapatkan prevalensi hipertensi dan diabetes melitus
sebesar 50,2% dan 27,2%.
9. Polifarmasi
Kondisi multipatologi mengakibatkan seorang usia lanjut mendapatkan
berbagai jenis obat dalam jumlah banyak. Terapi non-farmakologi dapat
menjadi pilihan untuk mengatasi masalah pada pasien usia lanjut, namun
obat tetap menjadi pilihan utama sehingga polifarmasi sangat sulit
dihindari. Prinsip penggunaan obat yang benar dan tepat pada usia lanjut
harus menjadi kajian multi/ interdisiplin yang mengedepankan
pendekatan secara holistic.

2.3. Kondisi Rongga Mulut pada Usia Lanjut / Geriatri


2.3.1. Perubahan Morfologis7
A. Jaringan Keras
a. Tulang:
Setelah melawati umur 35-40 tahun, kurang lebih mengalami kehilang
massa tulang sekitar 1% setiap tahun pada wanita maupun pria. Resorbsi
melebihi depisisi, mengakibatkan hilangnya jaringan tulang. Pada usia
lanjut, atrofi diakibatkan oleh resorbsi yang terjadi terus-menerus.
Tulang alveolar merupakan tulang yang paling awal mengalami
kehilangan massanya. Periosteal dan permukaan periodontal dari tulang
alveolar mengalami penurunan resistensi terhadap luka trauma oral,
inflamasi, atau penyakit. Resorbsi tulang alveolar atau residual ridge
disebabkan oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, dan status
kesehatan pasien saat gigi diekstraksi; teknik estraksi; diet yang
dilakukan pasien; adanya faktor lokal; dan pemakaian gigitiruan.
b. Gigi
Gigi berbeda dengan bagian tubuh lainnya tentang
kapasitas reparatif atau regenerasi dari jaringan sangat terbatas. Juga
pembuluh darah dan saraf menjadi kurang aktif seiring bertambahnya
usia yang menyebabkan batas rata-rata vitalitas pulpa adalah 70 tahun.
Adapun perubahan anatomi dari struktur gigi seperti email tidak dapat
beregenerasi/ memperbaiki diri sendiri dan menurunnya
permeabilitasnya, dentin mengalami penurunan permeabiliti,
sensitivitas, dan konduksi nyeri, foramen apikalmengecil, gigi menjadi
rapuh (brittle), gigi terlihat lebih gelap, dan naiknya sensitifitas nyare
dan termal, berkurangnya translusensi.
c. Temporomandibular Joint (TMJ)
Perubahan fungsi pada TMJ terjadi pada individual usia lanjut. Tanda
dari perubahan TMJ seperti clicking, keterbatasan membuka rahang, dan
deviasi dari mandibula saat berfungsi,
dengan gejala utama nyeri.
B. Jaringan Lunak
a. Membran mukosa
Perubahan mukosa oral yang biasa terjadi pada usia lanjut adalah
perubahan atropik. Secara klinis, perubahan permukaan epithelium
menjadi lebih tipis, lebih kering, kurang elastis, kurang vaskularisasi,
kurang melekat pada dasar jaringan ikat dan tulang. Beberapa gejala dapat
dihubungkan dengan perubahan, termasuk xerostomia (mouth dryness)
dan sensasi dari nyeri atau rasa terbakar pada lidah, palatal, atau mukosa
oral
b. Periodontium
1. Gingiva
Jaringan gusi pada individu usia lanjut biasanya mengalami penurunan
pada gigi, yang kemudian mengakibatkan terbukanya permukaan gigi
dan akar. Tingkat progres resesi gingiva berhubungan dengan usia,
pergerakan gigi, inflamasi yang diakibatkan dari penyakit, kebiasaan
pemeliharaan oral, dan keturunan.
2. Ligamentum Periodontal
Ligamentum periodontal tidak terdiri dari hanya satu ligamen saja tapi
terdiri dari banyak ligamen, ligamentum yan tebal menghubungkan
sementum dari akar gigi dengan tulang alveolar. Dikarenakan
ligamentum terbentuk dari jaringan ikat, penuaan memengaruhi hal
tersebut sama dengan jaringan ikat pada bagian tubuh lainnya. Hasil
dari kehilangan yang progresif dari ikatan jaringan lunak,
menyebabkan terbukanya akar dan longgar/ goyangnya gigi pada soket
tulangnya.
3. Lidah
Perubahan vaskularisasi lidah terjadi sangat sedikit dibandingkan
dengan organ lainnya. Terdapat kontroversi dimana penuaan
memengaruhi atrofi pada papila, meningkatnya pembentukan fissur,
dan menurunnya sensitivitas perasa pada lidah.

2.3.2. Perubahan Patologis7


A. Karies gigi
Merupakan proses kerusakan gigi sedikit demi sedikit dan disebabkan oleh
kombinasi dari bakteri (plak dental) dan gula (diet). Pada pasien lajut usia
proses tersebut dapat tidak dirasakan oleh mereka. Kerusakan bisa terdapat
pada enamel, sekitar dan dibawah tambalan dan (khususnya pada usia
lanjut) pada akar yang terbuka akibat resesi gingiva.
B. Gingivitis
Merupakan penyakit gingiva yang biasanya tidak terdeteksi dan tidak
menimbulkan rasa sakit. Gingivitis dapat diobati namun apa bila dibiarkan
dapat berkembang menjadi periodontitis (kerusakan bentuk dari penyakit
gingiva), yang dapat menyebabkan kehilangan gigi.
C. Periodontitis
Penyakit gingiva yang parah. Merupakan gingivitis yang tidak dirawat
dalam waktu yang lama, plak menyebar dan tumbuh dibawah garis gingiva.
Toksin yang dihasilkan oleh bakteri plak menyebabkan respon inflamasi
yang merusak serat periodontal dan tulang pendukung gigi. Lama-kelamaan
jaringan gusi dan tulang akan rusak. Kemungkinan terjadi kegoyangan gigi
dan gigi harus diekstraksi.
D. Xerostomia/ Dry mouth
Merupakan kondisi mulut yang menjadi kering karena aliran saliva yang
berkurang. Hal ini disebabkan oleh kondisi medik dan juga merupakan efek
samping diri penggunaan obat. Pasien yang menderita xerostomia lebih
rentan terkena karies, penyakit gingiva dan halitosis.
E. Oral cancer
Termasuk kanker bibir, lidah, pipi dan bagian lain di mulut. Biasanya ulcer
tidak sembuh selama lebih dari 2 minggu. Kanker oral dapat diidentifikasi
sebagai luka atau bengkak pada mulut yang tidak sembuh.
F. Oral candidiasis
Merupakan infeksi jamur pada mulut. Terlihat bintik putih atau merah yang
dapat sakit. Hal ini juga merupakan tanda defisiensi vitamin B12, folat atau
besi.
G. Denture stomatitis
Merupakan infeksi jamur atau bakteri yang diakibatkan penggunaan
gigitiruan yang sudah terlalu lama. Ditandai dengan daerah kemerahan pada
mukosa yang berkontak dengan gigi tiruan. Penyebab utamanya adalah
candida albicans sedang factor predisposisinya adalah daya tahan jaringan
yang menurun misalnya karena iritasi setempat yang kronis karena gigi
tiruan yang tidak stabil, permukaan gigi tiruan yang porus kasar dan
kebersihan mulut yang kurang.
H. Angular cheilitis
Merupakan celah sudut mulut, sakit, dan pada usia lanjut disebabkan karena
tinggi gigitan yang kurang, defisiensi vitamin B kompleks, defisiensi zat
besi dan infeksi kandida. Infeksi bakteri atau jamur yang terlihat luka
inflamasi yang merah dan celah yang terdapat pada sudut mulut.

2.4. Pentingnya Kesehatan Rongga Mulut bagi Pasien Usia Lanjut / Geriatri
Hubungan kesehatan rongga mulut dengan kualitas hidup manula dapat
dikaitkan dengan pencernaan makanan. Dalam proses pencernaan gigi
mempunyai peranan penting dalam proses penghalusan makanan sehingga
dapat dengan mudah diserap oleh tubuh. Terganggunya kesehatan rongga
mulut seperti kehilangan gigi akan berdampak pada proses penghancuran dan
pengolahan makanan di dalam tubuh sehingga, proses penyerapan nutrisi
dapat ikut terganggu. Selain itu, kehilangan gigi yang banyak dapat juga
mempengaruhi jenis makanan yang dipilih. Makanan dengan tekstur yang
kasar dan sulit dikunyah seperti sayuran akan lebih dihindari manula. Estetik
dan komunikasi, kehilangan gigi geligi yang banyak atau keadaan gigi yang
tidak beraturan dan bercelah dapat mempengaruhi penampilan seseorang
sehingga dapat membuat penderita menjadi tidak percaya diri dalam
kehidupan sosial. Bentuk mulut, jumlah gigi serta susunan gigi mempengarhi
komunikasi verbal. Kehilangan banyak gigi dapat membuat pengucapan kata-
kata menjadi tidak jelas dan dapat terdengar seperti suara mendesis.8
Semua masalah kesehatan gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan
umum tergantung pada tingkat keseriusan masalahnya, durasi, dan banyaknya
gigi yang bermasalah. Kesehatan rongga mulut memegang peranan penting
dalam menciptakan pola hidup sehat, jika kebersihan mulut tidak dipelihara
dengan baik, maka akan menimbulkan berbagai penyakit di dalam rongga
mulut.9
Penyakit gigi tidak dapat diremehkan karena dapat mempengaruhi seluruh
tubuh. Jika dibiarkan, dapat berkontribusi terhadap penyakit lain yang lebih
berbahaya sehingga mempengaruhi kualitas hidup dan memperpendek usia
harapan hidup. Ini berarti bahwa tenaga kesehatan harus berperan lebih aktif
dalam mendidik masyarakat agar dapat mengembalikan ke keadaan sehat dan
fungsional.9
Daftar Pustaka

1. Departemen Kesehatan RI. Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Usia


Lanjut. Undang-Undang Negara Republik Indonesia. 1998
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 79 tahun 2014
tentang
Penyelenggaraan Pelayanan Geriatri di Rumah Sakit. Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia. 2014
3. Badan Pusat Statistik. Penduduk Menurut Kelompok Umur, Daerah Perkotaan /
Pedesaan, dan Jenis Kelamin [Internet]. Data sensus Penduduk 2010. 2010: 1.
Tersedia di: sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabelprint.
4. Suzman R, Beard J. Global Health and Aging. NIH Publ no 117737 [internet].
World Health Organization. 2011;1(4): 273-277. Available from:
http://links.jstor.org/
5. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Populasi Lansia Diperkirakan Terus
Meningkat Hingga Tahun 2020 [Internet]. Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia. 2013: 1. Tersedia di : http://www.depkes.go.id/pdf
6. Setiati, siti. Geriatric Medicine, Sarkopenia, Frailty dan Kualitas Hidup Pasien
Usia Lanjut: Tantangan Masa Depan Pendidikan, Penelitian dan Pelayanan
Kedokteran di Indonesia. eJKI. 2013; 1 (3): 234-242
7. Zakirah, SA. Gambaran Tingkat Kebersihan Rongga Mulut Pasien Usia Lanjut
Penderita Demensia. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. 2017:
10-16
8. Ni Ketut Ratmini dan Arifin. Hubungan Kesehatan Mulut dan Kualitas Hidup
Lansia. Jurnal Ilmu Gizi. 2012. 2(2): 139-147.
9. 12. Larasati R. Hubungan kebersihan mulut dengan penyakit sistemik dan usia
harapan hidup. Jurnal skala husada 2012; 9(1): 97-104.
BAB III
Laporan Kasus