Anda di halaman 1dari 25

REFERAT ORAL MEDICINE

MANAJEMEN PERAWATAN KEDOKTERAN GIGI PADA PASIEN

DENGAN ALERGI NATURAL RUBBER LATEX (NRL)

DAN AKRILIK

Disusun Oleh:

Atika Putri Novianti 2018-16-021


Atika Sari 2018-16-022
Billy Ursia Aristo 2018-16-023
Bryan Elbert J. 2018-16-024
Chintia Hererra 2018-16-025

Dosen Pembimbing:

Manuel Dwiyanto Hardjo Lugito, drg., Sp.PM

UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)


JAKARTA
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN ..................................................................................

1.1 Latar Belakang .................................................................................

1.2 Tujuan ...............................................................................................

1.3 Manfaat .............................................................................................

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................

2.1 Alergi Natural Rubber Latex (NRL) .............................................

2.1.1 Definisi Natural Rubber Latex .......................................................

2.2.2Penyebab Alergi Natural Rubber Latex (NRL)...............................

2.2.3 Manifestasi Klinis Alergi Natural Rubber Latex (NRL) ................

2.2.4 Perawatan Alergi Natural Rubber Latex (NRL) ............................

2.2 Alergi Resin Akrilik ........................................................................

2.2.1 Definisi Alergi Resin Akrilik .........................................................

2.2.2 Penyebab Alergi Resin Akrilik ......................................................

2.2.3 Manifestasi Klinis Alergi Resin Akrilik.........................................

2.2.4 Perawatan Alergi Resin Akrilik .....................................................

BAB III : LAPORAN KASUS .............................................................................

BAB IV : KESIMPULAN ....................................................................................

4.1 Kesimpulan........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Reaksi alergi merupakan suatu yang lazim terjadi pada masyarakat secara
umum. Material penambalan dalam kedokteran gigi, instrument ortodonti, dan
material lainnya pun harus dapat memenuhi standar biokompatibilitas sejak material
atau instrument tersebut diindikasikan untuk digunakan dalam rongga mulut.1 Hal ini
dikarenakan rongga mulut adalah bagian dari organ tubuh yang mudah terpapar oleh
berbagai substansi atau bahan iritan yang berpotensi menyebabkan alergi.l Reaksi
alergi dapat didefinisikan sebagai gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang
dimediasi oleh respon hipersensitivitas terhadap substansi tertentu. Alergi kontak yang
terjadi di dalam rongga mulut merupakan reaksi hipersensitivitas yang dimediasi oleh
sel T (delayed hypersensitivity).1,2
Manifestasi klinisnya bervariasi, mulai dari rasa terbakar, rasa sakit dan
kekeringan mukosa oral sampai stomatitis dan cheilitis non spesifik.1 Gejala yang
dapat ditimbulkan dari reaksi alergi oleh karena hipersensitivitas tidak hanya muncul
pada rongga mulut, tetapi dapat pula dijumpai pada bagian tubuh lainnya seperti
tangan, kaki dan bahkan seluruh tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Torii Pharmaceutical Corporation pada bulan Juli tahun 2000 hingga bulan Juni tahun
2005 menunjukkan bahwa logam seperti Nickel (25%), Palladium (24,4%), dan
Chromiun (16,7%) perlu diperhatikan khususnya oleh dokter gigi dan para peneliti di
bidang kedokteran gigi karna berpotensi memicu reaksi alergi.2
Adapun material lainnya dalam kedokteran gigi yang diduga belum memenuhi
standar biokompatibilitas adalah resin komposit, anastetikum lokal, material
endodotik, material berbahan logam, bahan cetak dan bahan lateks.1 Penggunaan
bahan lateks ditemukan dalam 40.000 produk dalam bidang kesehatan serta pada
peralatan rumah tangga. Prevalensi terjadinya kasus alergi oleh karena lateks belum
dapat dipastikan secara akurat dan diyakini tidak terlalu banyak kasusnya. Namun
berdasarkan pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh American Dental Association
(ADA) diketahui bahwa sebanyak 62% subjek yang terdiri dari dokter gigi, dental
hygienist, dan dental assistants positif memiliki reaksi hipersensitivitas tipe 1
terhadap protein lateks. Reaksi alergi terhadap lateks dapat hanya berupa stomatitis
yang terlokalisasi hingga gannguan jalan nafas yang dapat mengancam jiwa.3
Selain material dan instrument yang telah disebutkan di atas, dalam suatu
literatur disebutkan bahwa terdapat efek yang tidak menguntungkan dari penggunaan
basis gigi tiruan akrilik. Yang paling umum dan seringkali dikeluhkan adalah
munculnya reaksi alergi berupa rasa sakit dan rasa terbakar di dalam rongga mulut.
Daerah yang seringkali mengalami sensasi terbakar adalah palatal, lidah, mukosa oral
dan daerah orofaring.4 Namun demikian, resin akrilik masih secara luas dipergunakan
dalam praktik kedokteran gigi karena murah, mudah digunakan dan dapat
diaplikasikan untuk berbagai alat dalam kedokteran gigi. Umumnya reaksi alergi pada
bahan akrilik terjadi secara terlokalisir, namun secara klinis pada kasus tertentu dapat
berbeda. Ruiz-Genao, dkk melaporkan adanya reaksi alergi bahan akrilik berupa
pembengkakan bibir, selain itu Lunder dan Rogl Butina melaporkan adanya
keterlibatan keadaan sistemik yakni urtikaria kronis sebagai reaksi alergi terhadap
akrilik.5
Dikarenakan kontak yang terjadi secara terus menerus dengan material dalam
kedokteran gigi maka reaksi alergi seringkali muncul pada staff gigi. Syed, Chopra
dan Sachdev dalam literatur nya pun menyebutkan bahwa reaksi alergi yang umum
dijumpai pada staff gigi adalah alergi terhadap bahan lateks, akrilat dan
formaldehida.1,2 Oleh karena berbagai reaksi alergi yang dapat ditimbulkan dari bahan
lateks dan akrilik yang secara meluas masih dipergunakan dalam bidang kedokteran
gigi, maka penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai reaksi alergi apa
saja yang dapat ditimbulkan serta membahas lebih lanjut mengenai penatalaksanaan
yang dapat dilakukan untuk mengatasi keadaan tersebut pada praktik kedokteran gigi.
1.2. Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas referat dalam mata kuliah Oral Medicine
2. Untuk meningkatkan pemahaman mengenai gejala dan gambaran klinis dari
reaksi alergi yang ditimbulkan dari bahan lateks dan akrilik dalam praktik
kedokteran gigi.
3. Untuk dapat memahami dan membedakan reaksi alergi dalam rongga mulut
dengan keadaan patologis lainnya dalam rongga mulut
4. Menambah pemahaman untuk membantu dalam menegakkan diagnosis dan
menentukan penatalaksanaan kasus alergi terhadap bahan lateks dan akrilik.
5. Untuk menigkatkan kewaspadaan operator terhadap insidensi terjadinya alergi,
sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan.

1.3. Manfaat Penulisan Referat


Manfaat yang diharapkan dari penulisan referat ini adalah agar dapat menambah
wawasan dan pengetahuan mengenai keadaan klinis dari reaksi alergi yang dapat
ditimbulkan dari penggunaan bahan lateks dan akrilik. Diharapkan pula agar pembaca
khususnya mahasiswa FKG UPDM (B) dapat menjadikan referat ini sebagai referensi
dalam membantu menegakkan diagnosis dan menentukan tatalaksana jika dikemudian
hari menghadapi kasus berupa reaksi alergi yang berasal dari bahan lateks dan akrilik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Alergi Natural Rubber Latex (NRL)

2.1.1 Definisi Alergi Natural Rubber Latex (NRL)


Rubber adalah bahan organik yang diperoleh dari karet alami (natural rubber =
NR) dan karet sintesis (synthetic rubber). Natural latex adalah getah susu yang
dihasilkan oleh berbagai tanaman, namun lateks yang digunaan oleh industri hampir
secara keseluruhan berasal dari pohon karet Havea Braziliensis. Komponen utamanya
merupakan senyawa hidrokarbon dengan rantai cis-1,4-polyisoprene (35%), juga
mengandung air (69%), protein (1%-1,5%) dan bahan inrganik (0,4%-0,6%).
Pengelolaan hasil natural latex dalam produk disebut natural rubber latex.6
Natural rubber latex pada saat ini banyak digunakan sebagai bahan utama
dalam pembuatan produk peralatan medis atau produk rumah tangga yang digunakan
konsumen. Hal ini disebabkan oleh karea natural rubber latex merupakan bahan yang
bersifat kuat, fleksibel dan elastik.6

2.1.2 Penyebab Alergi Natural Rubber Latex (NRL)


Total protein yang terkandung dalam produk jadi lateks alam kurang lebih
1.7% dan hanya sebagian kecil yang dapat terekstraksi dengan air atau bufer fosfat
salin (PBS). Walaupun jumlahnya sangat sedikit, protein tersebut dapat menyebabkan
reaksi alergi bagi pengguna yang sensitif. Protein tersebut memiliki jenis dan bobot
molekul yang beragam. Protein alergen lateks alam termasuk jenis protein yang tahan
terhadap suhu tinggi, sehingga tidak hilang pada saat proses vulkanisasi (100–130 ºC)
dan terbawa pada produk jadinya.7
Bagi pengguna yang sensitif, protein dalam barang jadi lateks alam akan
dianggap sebagai benda asing dalam tubuh yang disebut sebagai antigen. Antigen
merupakan suatu molekul yang memacu respons imun, dan respons imun tubuh
terhadap protein antigen yang bersifat alergi (reaksi alergi) termasuk reaksi
hipersensitivitas tipe I atau reaksi cepat. Respons imun tipe I terjadi dengan segera,
biasanya 5-30 menit sesudah kontak pertama melalui mediator antibodi imunoglobuin
E (IgE) dengan gejala yang terjadi adalah tempat terdedah menjadi bengkak dan
merah, gatal serta rasa panas.7
Paparan terhadap rubber latex natural dapat menimbulkan tiga sindroma klinis
yang berbeda yaitu dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak alergi, danreaksi
hipersensitivitas tipe I. Dermatitis kontak iritan merupakan efek sitotoksik lokal
langsung dari bahan iritan, baik secara fisik maupun kimia, bersifat tidak spesifik
pada sel-sel epidermis dengan respon peradangan dalam waktu dan konsentrasi yang
cukup. Dermatitis kontak alergi adalah dermatitis yang disebabkan oleh reaksi
hipersensitivitas tipe lambat terhadap bahan-bahan kimia yang kontak dengan kulit
dan dapat mengaktivasi reaksi alergi. Reaksi hipersensitivitas tipe I biasanya
disebabkan kontak langsung dengan produk lateks dan inhalasi partikel powder
sarung tangan lateks.8

2.1.3 Manifestasi Klinis Alergi Natural Rubber Latex (NRL)


Hipersensitivitas tipe IV bersifat imunologis, terlambat dan reaksi
terlokalisasi. Reaksi ini timbul antara 48 dan 96 jam setelah kontak. Adapun
gejalanya antara lain eritema dan gatal. Gejala-gejala tersebut dapat berlanjut selama
berminggu-minggu atau berbulan-bulan, yang mengarah ke kontaminasi bakteri.
Untuk membedakan IV hipersensitivitas dari dermatitis iritasi diagnosis harus
dilakukan melalui tes kontak alergi. Sedangkan pada reaksi hipersensitivitas tipe I,
gejalanya berkisar dari tanda-tanda alergi lokal, pusing, pembengkakan laring,
palpitasi, bronchoespasm, tekanan darah rendah, anafilaksis hingga mati dalam kasus
yang ekstrem.9

2.1.4 Perawatan Alergi Natural Rubber Latex (NRL)


Perawatan gigi membutuhkan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk
pertimbangan keamanan, namun kadang-kadang terabaikan oleh dokter gigi. Riwayat
medis yang tepat dan dapat dipercaya merupakan langkah awal untuk mendiagnosa
pasien yang alergi terhadap NRL. Apabila seseorang dicurigai alergi terhadap NRL
perlu ditanyakan apakah ada gejala eritema, pruritus, urtikaria, angiodema setelah
kontak dengan produk NRL, sehingga tindakan pencegahan dan perawatan dapat
segera dilakukan.6,9
Pencegahan utama dari alergi NRL adalah dengan menghindari paparan NRL,
pasien yang beresiko terhadap NRL harus diidentifikasi dan dirujuk untuk melakukan
test alergi lateks. Pasien yang sensitif terhadap NRL harus menerima perlakuan
khusus untuk menjamin perawatan gigi yang aman, maka bahan sarung tangan yang
digunakan dalam perawatan adalah dari bahan non lateks. Huber dan Terezhalmy
menyatakan bahwa pasien yang sedang dalam perawatan, operator harus
menggunakan sarung tangan vynil.9
Perawatan lain yang aman dan efektif pada pasien alergi NRL dapat juga
dilakukan dengan teknik desentisasi. Desensitisasi merupakan suatu bentuk terapi
dimana alergen diberikan pada pasien dengan tujuan mengurangi atau menghilangkan
respon alergi. Metode ini didasarkan dengan menghilangkan kontak terhadap semua
bahan-bahan yang mengandung lateks dan makanan yang sering menyebabkan reaksi
alergi, untuk mencapai kontrol terhadap kontak dimulai pada 10 detik pertama,
kemudian dinaikkan setiap satu jam selama satu tahun. Saat melakukan perawatan
terhadap pasien dengan alergi lateks, dokter gigi harus memastikan beberapa tindakan
yang relatif hati-hati untuk mencegah masalah selama perewatan. Hal yang perlu
diperhatikan pada perawatan NRL adalah upaya pencegahan terulangnya kontak
kembali dengan alergen penyebab, dan menekan kelainan kulit yang timbul. Beberapa
penulis menyarankan pemberian profilaksis seperti diphenhydramin, atau
kortikosteroid seperti prednison, sebelum perawatan gigi pada pasien yang diketahui
berisiko terhadap NRL. Namun, tindakan yang diambil adalah untuk meminimalkan
paparan lateks selama perawatan.9

2.2 Alergi Resin Akrilik


2.2.1 Definisi Alergi Resin Akrilik
Penggunaan resin akrilik dalam kedokteran gigi telah menjadi sangat sering,
resin akrilik menawarkan sifat dan karakteristik yang dapat digunakan untuk berbagai
tujuan. Penggunaan resin akrilik umumnya untuk pembuatan basis gigi tiruan, peranti
ortodonti lepasan, mahkota sementara, dan relining gigi tiruan.10 Polimer akrilik
terutama digunakan untuk konstruksi basis gigi tiruan sebagian maupun gigi tiruan
penuh. Basis akrilik adalah bagian dari gigi tiruan yang terletak di atas jaringan lunak
di rongga mulut. McCabe dan Walls mengklasifikasikan polimer basis akrilik menjadi
lima jenis. Tabel 1 menguraikan klasifikasi polimer dasar gigi tiruan. Tabel 2
menguraikan konstituen utama bubuk dan cairan polimer basis gigitiruan di mana
aktivator (NN-dimethyl-p-toluidine) hanya hadir dalam resin basis gigitiruan yang
dipolimerisasi secara otomatis.11

Secara umum, PMMA sangat biokompatibel. Namun PMMA dapat


menghasilkan reaksi alergi pada beberapa pasien. Ini kemungkinan besar terkait
dengan berbagai komponen yang dapat larut dalam basis gigi tiruan, seperti sisa
monomer atau asam benzoat. Reaksi alergi cenderung langsung terjadi, dan lebih
sering terjadi pada gigi tiruan cold-cured resin karena kandungan monomer residu
yang lebih tinggi. Ketika pasien mengalami reaksi hipersensitivitas yang disebabkan
oleh resin metakrilat, maka bahan lain seperti polikarbonat atau nilon mungkin harus
dipertimbangkan untuk pembuatan basis.12
2.2.2 Penyebab Alergi Resin Akrilik
Efek sitotoksik yang disebabkan oleh basis gigi tiruan akrilik disebabkan oleh
adanya zat yang keluar dari resin. Zat utama yang larut dengan proses difusi dari
bahan-bahan ini adalah monomer residu yang tidak bereaksi. Secara teoritis reaksi
tersebut dapat terjadi setelah kontak dengan polimer, monomer residu, benzoil-
peroksida, hidroquinon, pigmen, atau suatu produk reaksi antar beberapa komponen
basis protesa.13 Kontak berulang atau berkepanjangan dengan monomer juga dapat
menimbulkan dermatitis kontak. Keadaan ini paling sering dialami oleh dokter gigi
dan teknisi laboratorium gigi yang terlibat langsung dalam manipulasi resin protesa.10
Sebuah studi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Universitas Malmio, Swedia,
memilih 1.632 staf gigi dan pasien yang telah melakukan patch test terhadap alergi
resin akrilik; 48 dari mereka memiliki hasil positif ke satu atau lebih resin akrilik.
Yang paling sering menyebabkan reaksi alergi adalah 2-hidroksietilmetakrilat diikuti
oleh etilena glikol dimetakrilat, trietilen glikol dimetakrilat, dan MMA. Anthony
Goon juga menyebutkan bahwa ketika kita menyimpannya di suhu yang lebih tinggi,
kapasitas alergennya lebih sedikit.11
Reaksi alergi ini terutama disebabkan oleh kehadiran monomer dalam resin
akrilik heat cure konvensional. Antigen muncul dalam kontak dengan sel epitel ke
kelenjar getah bening dan hadir ke antigen ke limfosit-T dan dengan demikian proses
peradangan berlangsung. Dengan demikian, setiap kali pemakai gigi tiruan
menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang diuraikan di atas, reaksi alergi harus selalu
dipertimbangkan, dan pemeriksaan menyeluruh dibutuhkan untuk mendapatkan
diagnosis yang akurat. Untuk jenis reaksi hipersensitivitas langsung dan tertunda
patch test, tes darah, atau tes alergen IgE spesifik dapat dilakukan.

2.2.3 Manifestasi Klinis Alergi Resin Akrilik


Masalah yang paling umum dan sering dilaporkan oleh pasien yang
mengalami reaksi alergi terhadap resin akrilik berbasis gigi tiruan adalah rasa sakit
pada mulut dan sensasi terbakar. Area yang mengalami alergi kontak merasakan
sensasi terbakar biasanya pada langit-langit mulut, lidah, mukosa mulut, dan
orofaring.10
2.2.3.1 Dermatitis kontak
Pada tangan dimulai dengan vesikel sementara, kemudian pecah dan
membentuk erosi dan ulserasi yang sangat menyakitkan. Manifestasi klinis pada
pasien yang sensitif meliputi: dermatitis kontak pada area kontak dan pada lokasi
yang jauh dari kontak; Distrofi kuku parsial dan transien atau permanen. Dermatitis
kelopak mata dan wajah dapat disebabkan oleh debu di udara dari resin yang
sepenuhnya dipolimerisasi yang telah terdepolimerisasi oleh proses pengarsipan atau
oleh paparan uap organik dan debu polimetakrilat.11

2.2.3.2 Stomatitis Kontak Alergika


Stomatitis kontak alergika adalah reaksi alergi akut atau kronis yang jarang
terjadi. Lesi ini disebabkan oleh bahan gigi tiruan, bahan tambal gigi, dan lain – lain.
Dalam bentuk akut, mukosa yang terlibat tampak sebagai eritema difus dan edema,
kadang disertai vesikel dan erosi kecil. Sensasi terbakar merupakan gejala yang
umumnya dapat terjadi. Dalam bentuk kronis, dapat ditemukan lesi putih
hiperkeratotik selain eritema.15

2.2.3.3 Eritema,
Eritema multiforme adalah penyakit peradangan akut dari berbagai kulit
dan/atau membrane mukosa yang ditandai dengan macula berbentuk target, berwarna
merah dan ulser yang disebabkan oleh hipersensivitas terhadap obat, mikroba, atau
alergen lain. 15,14

2.2.4 Perawatan Alergi Resin Akrilik


 Gunakan bahan dasar gigi tiruan alternatif, seperti polikarbonat atau nilon
dapat dipertimbangkan.
 Konsumsi obat anti-histamin
 Pada reaksi yang merugikan dari rongga mulut, bisa terjadi penyumbatan jalan
nafas akibat adanya edema pada lidah, dapat dilakukan tahap dibawah ini:
1. Lepaskan gigitiruan segera
2. Buat pasien duduk tegak untuk mencegah obstruksi jalan napas
3. Berikan levocetirizine 0.5mg
4. Deksametason intramuskular 5 mg
5. 2 jam berikutnya berikan amoxcicilin 500 mg disetiap 8 jam
6. Lanjutkan intramuscular dexametason 5 mg selama 3 hari
7. Pemantauan rutin pasien dan alternative
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Kasus 1
Seorang wanita berusia 77 tahun datang ke klinik ingin dilakukan penambalan
sederhana dan gigi tiruan sebagian atas. Pasien memiliki riwayat alergi plester
perekat dan krim setrimid. Dia memberikan respons negatif terhadap pertanyaan
spesifik mengenai alergi lateks di bidang medis daftar pertanyaan.
Prosedur restoratif sederhana dimulai pada daerah maksila dengan
menggunakan Dam berbahan latex dan anestesi lokal dan selesai dalam 50 menit.
Segera setelah Pelepasan dam pasien melaporkan sensasi yang tidak biasa di pipi kiri
atas. Pada sekitar waktu yang sama pembengkakan mukosa bukal dan pipi kiri
posterior kiri menjadi jelas dan menjadi pembengkakan tebal berindurasi.
Diagnosis menjadi angioedema, penyebabnya tidak diketahui, Carpule
anestesi lokal dipertahankan untuk dianalisis. Selama 45 menit berikutnya
pembengkakan mulai melibatkan bibir bawah dan pasien mengeluhkan sensasi mati
rasa yang melibatkan pipi.Dia tidak memiliki masalah dengan pernapasan dan tidak
merasa pusing. Setelah 20 menit, pembengkakan mereda sedikit dan pasien
dipulangkan kedokter yang biasa merawatnya yang memberinya kortikosteroid
injeksi dan antihistamin selama tiga hari.
Terdapat area yang memerah ,gatal dan meluas pada bagian belakang telinga,
Keesokan harinya pasien melaporkan bahwa masih terdapat pembengkakan namun
terus mengecil, juga terdapat area kemerahan dan gatal pada wajah bagian kiri,karena
pembengkakan terletak pada daerah injeksi anestesi , diduga bahwa pasien mengalami
reaksi alergi dari komponen anestesi lokal ( prilocaine HCL dengan felypressin) ,
karpul anestesi lokal dikirim ke lab untuk analisis dan hasilnya tidak terkontaminasi.
Anestesi lokal alternatif ( lignocaine HCL dengan adrenaline ) direncanakan untuk
digunakan untuk dua pertemuan kedepan , prosedur restorasi minor dilakukan dengan
dam berbahan latex untuk mengisolasi gigi bagian kiri rahang bawah, setelah dam
yang menutupi pipi dan kulit pipi kiri dilepas, terjadi pembengkakan pada pipi bagian
kanan kemudian setelah 10 menit meluas pada bibir dan pipi bagian kiri.
Pembengkakan berindurasi dan meluas ke arah posterior sehingga pasien tidak dapat
menyatukan bibirnya, walaupun pasien berada pada posisi supine, pasien
mengeluhkan merasa kepala berat dan pusing, sehingga pasien dirujuk ke bagian
ruangan pemulihan paska operasi. Dam berbahan latex sekarang dicurigai dan setelah
menanyakan pasien , pasien mengkonfirmasi bahwa dia tidak lagi memakai peralatan
rumah tangga berbahan latex lagi karena reaksi pada tangannya.
Dibawah supervisi, pasien diberikan Phenergan 25mg intravena , 100mg
hydrocortisone dan 0,5mg adrenaline untuk meningkatkan tekanan darah . Pasien
dirujuk ke Rumah sakit royal melbourne karena pasien mengeluhkan adanya
pembengkakan pada lidah yang reksikonya dapat menyebabkan terhalangnya jalan
nafas.Namun pasien dipulangkan dari rumah sakit pada malam hari setelah
pembengkakan mengecil , pasien dilakukan pemeriksaan terhadap alergi latex dan
hasilnya positif seperti pada tabel 1.

Tabel 1. Hasil tes RAST


Latex 4.85 kUA/L
(rr.<0.35)~
Latex score 3~
Latex recombinant 39.80 kUA/L
(rr<0.35)~
Latex recombinant score 4

RAST ‘East Test’ Scores


Negative
<1 – Borderline
1 – Low positive
2 – Moderate positive
3 – High positive
4 – Very high positive

Pasien tidak mengaitkan intoleransi terhadap sarung tangan karet rumah tangga
dengan kemungkinan alergi lateks dan oleh karena itu memberikan respons negatif
terhadap pertanyaan pada kuesioner riwayat kesehatan.
3.2 Kasus II
Pasien B.C.B., perempuan, berusia lima tahun melaporkan rasa sakit pada gigi
saat mengunyah. Selama anamnesis, kulit meletus dan urtikaria dilaporkan ketika
anak tersebut melakukan kontak dengan balon yang menunjukkan kemungkinan
alergi NRL. Namun,setelah pemeriksaan laboratorium, hasilnya negatif.Meskipun
hasil alergi negatif, tetapi diperhitungkan mempertimbangkan reaksi yang
diperhatikan dan dilaporkan oleh ibu, pilihan profesional adalah menggunakan sarung
tangan vinil untuk perawatan.

Sarung tangan Vinyl Dam menggunakan vinyl

Metal Saliva ejector

pasien tidak memiliki diagnosis medis alergi lateks, tetapi ibu melaporkan kontak
dengan bahan apa pun yang mengandung NRL menyebabkan pembengkakan wajah.
Sampai diagnosis akhir ditentukan oleh tes alergi , dokter gigi harus menghindari
penggunaan lateks yang mengandung bahan, karena bahkan jika hipersensitivitas
sebelumnya berefek ringan, misalnya iritasi Dermatitis, diketahui bahwa paparan
berulang dapat meningkat sensitivitas .
3.3 Kasus III:
Seorang pasien wanita berusia 61 tahun dilaporkan ke Departemen Radiologi
Mulut dan Maksilofasial, Institut Sains Gigi AB Shetty Memorial, Universitas Nitte,
Deralakatte, Mangalore, Karnataka, India dengan keluhan ulserasi di bibir bawah
sejak empat hari yang lalu. Pasien mengunjungi dokter gigi setempat enam hari yang
lalu untuk prostesis gigi. Dokter gigi melakukan prosedur impresi dan memanggilnya
kembali setelah dua hari. Dua hari setelah prosedur impresi, pasien melihat erosi dan
ulserasi multipel pada bibir atas dan bawah. Erosi dikaitkan dengan perdarahan dan
sensasi terbakar yang parah. Pasien juga menyatakan bahwa ada gatal parah dan
kemerahan ringan pada kulit yang berkurang dalam beberapa jam. Tidak ada riwayat
erupsi oral atau reaksi alergi terhadap obat, makanan atau produk kosmetik di masa
lalu. Riwayat medis pasien mengungkapkan bahwa dia menderita diabetes sejak 20
tahun dan sedang menjalani pengobatan rutin (suntikan insulin - 12 unit / hari secara
subkutan). Pasien tinggal di daerah pedesaan tetapi tidak mempraktikkan kebiasaan
buruk apa pun. Tidak ada faktor medis komorbid lainnya yang dilaporkan.

A = Erosi dan area berkerak di bibir bawah. B = Erosi di bibir atas. C =


Kalkulus supragingiva dan noda pada gigi anterior bawah.

Pemeriksaan intraoral mengungkapkan daerah yang mengalami ulserasi dan


erosi pada bibir bawah (Gambar 1A). Lesi memanjang dari sudut kanan mulut ke sisi
kiri, superior dari batas vermilion bibir hingga 2 mm dari batas kulit bibir (Gambar
1B). Permukaan lesi merupakan campuran dari daerah yang terkikis dan berkerak,
bibir membengkak. Gigi anterior bawah memiliki resesi gingiva dan deposit kalkulus
(Gambar 1C), yang mendekati dengan lesi. Daerah lain dari mukosa mulut adalah
normal. Diagnosis alergi chelitis dinyatakan dengan pertimbangan sarung tangan atau
bahan cetak yang digunakan sebagai penyebab alergen. Bahan impresi akan
menyebabkan lesi intraoral daripada lesi bibir, sehingga sarung tangan dianggap
sebagai penyebab reaksi alergi. Erythema multiforme, chelitis eksfoliatif, dan actinic
chelitis adalah diagnosis banding lain yang mungkin dapat dikesampingkan
berdasarkan fakta bahwa lesi bersifat akut dan tidak adanya riwayat reaksi kulit
terhadap sinar matahari. Erupsi virus dapat dikesampingkan karena kurangnya gejala
lainnya. Pada penyelidikan lebih lanjut, dokter gigi setempat mengungkapkan bahwa
sarung tangan lateks yang mengandung bubuk lateks alami dengan tepung jagung bio-
absorbable dan bahan pengaturan alginate cepat digunakan selama prosedur impresi.

A = Tes alergen dilakukan menggunakan ujung jari sarung tangan pada lengan pasien.
B = Area eritematosa yang terlihat di situs aplikasi.

A = Penyembuhan lesi pada saat keluar. B = Penyembuhan total lesi setelah 8 bulan.
3.4 Kasus 4
Seoran pasien perempuan Prostodontik di Glasgow Dental Rumah Sakit dan
Sekolah NHS Trust pada tahun 1984, ketika dia berusia 70 tahun. Sebelumnya itu
Pasien telah berhasil mengenakan gigi tiruan penuh atas dan bawah untuk sekitar 50
tahun.Saat dirujuk, dia melaporkan sejarah satu bulan dari ruam yang meningkat
secara bertahap wajah dan lehernya,bengkak dan kesulitan bernapas.
Saat itu waktu itu dianggap bahwa gejalanya telah muncul setelah pencabutan
gigi bawah, pada bulan Desember 1983, ketika suatu daerah akrilik autopolymerising
baru telah digunakan dalam penambahan langsung gigi tiruan sebagian akrilik bagian
bawah pada enam gigi anterior bawah yang berusia 14 tahun. gigi tiruan lengkap atas
memiliki langit-langit logam dan juga telah dilepaskan padatahap ini. Namun dia
melaporkan sekitar 18 bulan terdapat suatu ruam intermiten yang mempengaruhi kulit
wajah dan leher saat mengenakan prostesis baru ini, meskipun dia telah memakai
selama hampir 14 tahun.
Dia diresepkan antihistamin, meskipun pasien melaporkan setelah timbulnya
gejala di atas, dia berhenti memakai gigi palsu itu dan gejalanya hilang. Dia dibuatkan
prostesis akrilik pengganti pada Desember 1984. Dia mengalami beberapa gejala
berikut ini, mengeluh merasa 'mabuk' dan ketidaknyamanan oral, pembengkakan
wajah dan gatal. Dia dirujuk ke Dermatitis Kontak Unit Investigasi di Glasgow
Rumah Sakit Royal pada saat ini dan terbukti bereaksi terhadap gigi tiruan resin yang
digunakan.
Meskipun tidak ada hipersensitivitas yang pasti untuk akrilik yang telah
diidentifikasi pada saat ini, diputuskan untuk memberinya gigi tiruan vulcanite, gigi
tiruan ini menjadi longgar pada tahun 1988, gigi palsu pengganti dibangun dengan
nilon (vulcanite tidak lagi tersedia), dan dia muncul lagi untuk menunjukkan tidak
signifikan reaksi terhadap bahan ini. Gigi palsu ini diganti pada tahun 1993 dengan
gigi palsu berbahan nilon dan pasien umumnya beradaptasi baik dengan ini, tanpa
reaksi yang merugikan. Namun, dia miliki beberapa gejala lokal minor yang persisten
terkait dengan adaptasi basis, gigi tiruan bawah dibuat kembali dalam nilon
menggunakan teknik salinan pada bulan Desember 1994, di mana pasien berusia 80
tahun, dia melaporkan gejala sistemik yang signifikan, termasuk yang umum malaise,
ketidaknyamanan mulut, pembengkakan tenggorokan,penglihatan kabur dan pusing.
Gejala-gejala ini rupanya muncul dalam waktu sekitar 90 menit dari gigi palsu
ditempatkan. Mengingat sejarah sebelumnya dalam hubungannya untuk memakai
gigitiruan, pasien dihentikan mengenakan gigi palsu dan gejalanya secara bertahap
surut.
Dalam upaya menemukan hubungan antara gejala dan keausan gigi tiruan, dia
diminta untuk kembali ke Rumah Sakit Gigi setelah memakai gigi palsu beberapa
jam. Pada saat datang dia melaporkan bahwa dia sudah merasa enak , tapi sejak
dimasukkan gigi palsu terasa semakin tidak sehat. Dia menunjukkan getaran yang
nyata, terasa Goyah pada kakinya, pucat dan denyut nadi meningkat. Mulutnya kering
dan tidak nyaman. Tidak ada lesi oral yang jelas dicatat namun, ini menjadi kasus
sepanjang periode yang dilaporkan, selain yang bisa dikaitkan dengan trauma yang
disebabkan oleh gigi tiruan.Dia dirujuk ke Departemen Kesehatan Obat Oral,
pemeriksaan darah rutin tidak menunjukkan kelainan yang signifikan, meskipun
glukosa darah acak sedikit lebih tinggi dari jarak biasanya. Setelah episode ini, pasien
melepaskan gigi tiruannya dan gejalanya hilang dalam beberapa hari. Pasien dirujuk
kembali ke Kontak Unit Investigasi Dermatitis di Glasgow Rumah Sakit Kerajaan.
Pasien sebelumnya melaporkan intoleransi terhadap apa pun berwarna merah,
sehingga bahkan pandangan merah terang bisa mengarah ke gejala fisik termasuk
muntah. Dia melaporkan masalah dengan warna makanan dan tablet merah (Brufen)
semuanya mungkin mengandung pewarna erythrosine. pertanyaan apakah dia
mungkin memiliki reaksi terhadap zat warna dalam resin gigi tiruan, seperti warna
yang umum sebagai faktor dalam bahan gigi tiruan yang digunakan, Pasien juga
melaporkan reaksi terhadap penggunaan gigi tiruan Poli-grip Ultra perekat (Stafford
Miller), yang juga mengandung zat pewarna merah. Menariknya, pasien juga
melaporkan bahwa keponakan yang tinggal di Selandia Baru dan sudah bertahun-
tahun tidak melihat baru-baru ini melaporkan intoleransi terhadap apa pun berwarna
merah.
Sampel berbagai bahan pewarna yang digunakan dalam resin gigi tiruan akrilik
(Trevalon: De Trey) yang digunakan di departemen, bersama dengan sampel pewarna
dalam Poli-grip Ultra diperoleh dari produsen. tidak mungkin untuk mendapatkan
sampel atau bahkan informasi tentang zat warna yang digunakan dalam bahan nilon
pabrikan Jerman dari bahan khusus yang digunakan dan (Flexiplast) tidak siap
memberikan ini dengan alasan kerahasiaan komersial. Bahan pewarna diselidiki
tercantum dalam Tabel 1. Sambil menunggu komunikasi dari pemasok, pasien
menyatakan keprihatinan karena tidak memiliki gigi palsu yang dipakai dan karena itu
diputuskan untuk memberikan penggantian lengkap gigi palsu buatan Trevalon C
(DeTrey), dan untuk digunakan gigi akrilik standar (Senator: Wright Dental). Ini
disediakan pada bulan November 1995 (gbr. 1) dan sampai saat ini ia telah tidak ada
gejala sistemik, hanya mengeluh masalah lokal sesekali terkait dengan trauma
mekanik yang disebabkan gigi tiruan. Setelah menerima sampel zat warna, pasien
menjalani patch, pasien melaporkan gejala sistemik yang signifikan seperti
sebelumnya dijelaskan, dengan mual, pusing,pembengkakan dan malaise umum.
gejala bertahan sampai bahan uji telah dihilangkan.

3.5 Kasus 5:
Seorang wanita 70 tahun menderita eritema oral, edema lidah, bibir dan
kelopak mata, yang terjadi ketika dia menggunakan gigi palsu baru atas dan
bawahnya (Gbr. 1). Dia telah memiliki prostesis gigi akrilik selama 10 tahun.Gigi
palsu baru dibuat karena pencabutan beberapa gigi dilakukan. Sekitar 10 jam setelah
penempatan gigi palsu baru dia merasakan kesulitan bernafas. Hari berikutnya
gejalanya memburuk dan dia meminta perawatan mendesak di Rumah Sakit Militer,
Sofia. Setelah injeksi Methylprednisolon intramuskular dia dirujuk ke Departemen
kami dengan dugaan alergi reaksi terhadap gigi palsu. Dia tidak memiliki riwayat
alergi pribadi dan tidak pernah terpapar akrilik. Setelah informasi dari personel gigi ,
gigi palsu yang baru dan sebelumnya terbuat dari Superacryl - produk SpofaDental.
Menurut produsen, komponen bubuk dan cairan akrilik Bahan dasar gigi tiruan yang
digunakan oleh pasien adalah: bubuk mengandung polimetil metakrilat dan
mengandung cairan MMA, dan agen cross-linking seperti EGDMA. kami melakukan
patch test.Patch test menggunakan (Chemotechnique Diagnostics®, Vellinge,Swedia)
termasuk MMA, EGDMA, TEGDMA, UDMA, 2- HEMA, BISGMA, BP dan N, N-
Dimethyl-4-toluidine (Tabel 1) dan dengan IQ Chambers® (Chemotechnique
Diagnostics®, Vellinge, Swedia). Patch dilepaskan setelah 2 hari dan dibaca pada hari
3. Hasil patch test ditunjukkan pada Tabel 1.
Gambar 1. Stomatitis kontak allergica

Gambar 2. Hasil dari Patch test

Tabel1.Hasil dari Patch test


BAB IV
KESIMPULAN

Resin akrilik dan natural ruber latex (NRL) merupakan bahan yang sering
digunakan dalam kedokteran gigi. Penggunaan resin umumnya untuk pembuatan
basis gigi tiruan, peranti ortodonti lepasan, mahkota sementara dan relaining gigi
tiruan. Penggunaan bahan NRL digunakan pada peralatan medis yaitu sarung tangan.
Kontak langsung resin akrilik dan NRL terhadap pasien dapat menimbulkan reaksi
alergi. Alergi yang dapat ditimbulkan oleh resin akrilik dan NRL adalah dermatitis
kontak iritan, dermatitis kontak alergi, dan reaksi hipersensitivitas tipe 1.
Untuk menghindari terjadinya alergi dan menjamin perawatan gigi yang aman,
sebelum melakukan perawatan gigi dapat dilakukan anamnesa terhadap pasien
tentang riwayat penyakit alergi yang dimilikinya terutama pada bahan yang
mengandung resin akrilik maupun natural ruber latex (NRL). Pada pasien yang
memiliki riwayat alergi resin akrilik, reaksi alergi lebih sering terjadi pada basis gigi
tiruan cold-cured resin karena kandungan monomer residu yang lebih tinggi.
Manifestasi klinis dari alergi pada resin akrilik dapat berupa dermatitis kontak,
stomatitis kontak alergika, dan eritema.
Ketika pasien mengalami reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh resin
metakrilat, maka bahan lain seperti nilon polikarbonatatau nilon dapat
dipertimbangkan untuk pembuatan basis. Sedangkan pada pasien yang sensitif
terhadap NRL, saat perawatan gigi dilakukan dapat menggunakan sarung tangan
berbahan non lateks, seperti sarung tangan vynil. Selain itu, perawatan lain yang
efektif dapat dilakukan dengan teknik desentisasi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Syed M., Chopra R., Sachdev V. Allergic Reaction to Dental Materials-A


Systematic Review. Journal of Clinical and Diagnostic Research. 2015; 9 (10): 4-
9
2. Sriram K., R. Abilasha. Awareness of Allergic reactions to Dental drugs and
materials among Patients, Dentists and Dental personnel - A Cross sectional Study.
Journal of Pharmaceutical Sciences and Research. 2016; 8 (9): 1050-57
3. Shetty S.R., Rangare A., Babu S., Rao P. Contact Allergic Cheilitis Secondary to
Latex Gloves: a Case Report. Journal of Oral&Maxillofacial Research. 2011; 2
(1): 1-6
4. Rashid H., Sheikh Z., Vohra F. Allergic Effects of The Residual Monomer Used in
Denture Base Acrylic Resins. European Journal of Dentistry. 2015; 9 (4): 614-19
5. Mesquita A.M.M., H.M. Silva J., N. Kojima A., Moura R.V., Giovani E.M.,
Ozcan M. Allergic Reaction to Acrylic Resin in A Patient With A Provisional
Crown: Case Report. Brazilian Dental Sciences. 2017; 20 (1): 115-18
6. Dumasari Ramona. 2008. Dermatitis kontak oleh karena rubber. Available
from:http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/3426/08E00887.pdf?s
equence=1. Accesed January 20, 2019.
7. Anggraeni, Rani. Elektroforesis SDS-PAGE, Immunoblotting, dan PenentuanAsam
Amino Antigen dari Sarung Tangan Lateks Karet Alam. [Skripsi].Bogor: Fakultas
Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor; 2007.
8. Chantiora Yua. Alergi Penggunaan Natural Rubber Latex (NRL) Pada Kedokteran
Gigi Anak. [Skripsi]. Sumatera Utara: FKG USU; 2012.
9. Raggio DP, dkk. Latex allergy in dentistry: clinical cases report. J Clin Exp Dent.
2010;2(1):e55-9.
10. Haroon R, Zeeshan S, Fahim V. Allergic effects of the residual monomer used in
denture base acrylic resins. Eur J Dent. 2015 Oct-Dec; 9(4): 614–619.
11. Ashish C, Ashwin S D, Praful B, Ekta C, Jay V. Contact Allergy to Denture Resins
and Its Alternative Options. IJOICR 2016; 40 – 44
12. Richard V N. Introduction To Dental Materias. 3th Edition. Mosby Elsevier. 2007:
222
13. Kenneth J A. Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2003: 67-68.
14. Alfredo M M M, Juliano H M S, Alberto N K, Renata V M, Elcio M G Mutlu Ö.
Allergic reaction to acrylic resin in a patient with a provisional crown: case report.
Brazil Dental Science. 2017 vol 2.
15. George L. Atlas Saku Penyakit Mulut. Edisi 2. Jakarta: EGC, 2013: 62.