Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN KEGIATAN PENYULUHAN

KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS) TENTANG EFUSI PLEURA DAN


CUCI TANGAN DI RUANG PALEM II
RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

Disusun Oleh :
Kelompok 12 :
Gali Wulan Sari 131511133025
Elma Karamy 131511133026
Fifa Nasrul Ummah 131511133056
Elly Ardianti 131511133058
Niswatus Sa’ngadah 131511133060
Farhan Ardiansyah 131511133082

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN KEGIATAN PENYULUHAN
KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS) TENTANG EFUSI PLEURA DAN
CUCI TANGAN DI RUANG PALEM II
RSUD DR. SOETOMO SURABAYA
A. Latar Belakang
Efusi pleura merupakan kondisi umum yang dijumpai pada kasus penyakit paru
dan seringkali sulit untuk didiagnosa dan ditangani. Efusi pleura adalah suatu
keadaan dimana terjadi penumpukan cairan melebihi normal di dalam cavum pleura
yaitu diantara pleura parietalis dan visceralis yang berupa transudat atau cairan
eksudat (Puspita et al., 2017).
Efusi pleura merupakan suatu keadaan umum yang terjadi pada lebih dari 3000
per satu juta orang setiap tahun. Di negara-negara barat, efusi pleura terutama
disebabkan oleh gagal jantung kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia
bakteri, sementara di negara-negara yang berkembang seperti Indonesia, efusi
pleura paling banyak disebabkan oleh infeksi tuberculosis.
Tingginya angka kejadian efusi pleura disebabkan keterlambatan penderita
untuk memeriksakan kesehatan sejak dini. Faktor resiko terjadinya efusi pleura
diakibatkan karena lingkungan yang tidak bersih,sanitasi yang kurang, lingkungan
yang padat penduduk, kondisi sosial ekonomi yang menurun, serta sarana dan
prasarana kesehatan yang kurang dan kurangnya masyarakat tentang pengetahuan
kesehatan. Gejala yang paling sering timbul adalah sesak. Nyeri bisa timbul akibat
efusi yang banyak berupa nyeri dada pleuritik atau nyeri tumpul. Diagnosis efusi
pleura dapat ditegakkan melalui anamnesis serta pemeriksaan fisik yang teliti,
diagnosis melalui pungsi percobaan, biopsi dan analisa cairan pleura.
A. Rumusan Masalah
Bagaimanakah efusi pleura? Dan bagaimana cara cuci tangan yang baik dan
benar?
B. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan selama 45 menit diharapkan pasien dan
keluarga memahami tentang efusi pleura dan langkah-langkah cuci tangan.
C. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan PKRS, keluarga pasien mampu :
1. Menjelaskan pengertian efusi pleura
2. Menyebutkan penyebab efusi pleura
3. Menyebutkan tanda dan gejala efusi pleura
4. Menjelaskan cara pencegahan efusi pleura
5. Menjelaskan pengobatan efusi pleura
6. Menyebutkan diet pada efusi pleura
7. Mempraktikkan langkah-langkah cuci tangan yang baik dan benar
LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN KEGIATAN PENYULUHAN
KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS) TENTANG EFUSI PLEURA DAN
CUCI TANGAN DI RUANG PALEM II
RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

A. Topik
Efusi pleura dan langkah-langkah cuci tangan
B. Landasan Kegiatan
Kegiatan "Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) tentang "efusi pleura
dan cuci tangan" di Ruang Tunggu Palem II RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
C. Tujuan Kegiatan
Tujuan dari kegiatan Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) dengan
topik : Efusi pleura dan langkah-langkah cuci tangan di Ruang Palem II RSUD Dr.
Soetomo Surabaya, setelah mendapatkan penyuluhan kesehatan diharapkan
keluarga pasien dapat :
1. Meningkatkan pengetahuan tentang efusi pleura
2. Dapat mendemonstrasikan dan mengaplikasikan langkah-langkah cuci tangan
yang baik dan benar
D. Tema Kegiatan
Tema kegiatan ini adalah "Waspada efusi pleura stop dengan cuci tangan"
E. Penatalaksanaan Kegiatan
1. Topik / Judul Kegiatan
Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) tentang efusi pleuran dan cuci
tangan di Ruang Palem II RSUD Dr. Soetomo Surabaya
2. Sasaran Target
Keluarga pasien di Ruang Bedah Teratai RSUD Dr. Soetomo Surabaya dengan
target sejumlah 15 Orang.
3. Metode
Ceramah, tanya jawab dan demonstrasi
4. Media dan Alat
Leaflet, flipchart, dan demonstrasi
5. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Kamis, 22 Agustus 2019
Waktu : 07.40 – 08.20 WIB
Kegiatan : Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) tentang Efusi
pleura dan langkah-langkah cuci tangan
Tempat : Ruang Tunggu Palem II RSUD Dr. Soetomo Surabaya
F. Target
Target yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan ini adalah :
1. Meningkatkan pengetahuan tentang efusi pleura
2. Dapat mendemonstrasikan dan mengaplikasikan langkah-langkah cuci tangan
yang baik dan benar
G. Strategi Pelaksanaan
Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) dengan topik “Efusi
pleura dan langkah-langkah cuci tangan" pada pasien dan keluarga di Ruang
Tunggu Palem II RSUD Dr. Soetomo Surabaya dihadiri oleh 15 orang.
H. Susunan Panitia Kegiatan
Panitia terdiri dari Kelompok 12 Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas
Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya. Susunan panitia terlampir.
I. Susunan Kegiatan
(Terlampir)
J. Perlengkapan
(Terlampir)
K. Lampiran
SAP, leaflet, daftar hadir, serta pertanyaan dan jawaban.
L. Penutup
Demikian laporan pertanggungjawaban kegiatan Penyuluhan Kesehatan
Rumah Sakit (PKRS) dengan topik “Efusi pleura dan langkah-langkah cuci tangan"
pada pasien dan keluarga di Ruang Palem II RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Harapan
kami, dapat bermanfaat dalam pelaksanaan kegiatan selanjutnya.
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Sub Pokok : Efusi Pleura dan Langkah-Langkah Cuci Tangan
Peserta : Pasien dan Keluarga Pasien Ruang Palem 2
Waktu : 40 menit
Pukul : 07.40 s/d 08.20 WIB
Tempat : Ruang Tunggu Palem 2 RSUD Dr.Soetomo Surabaya

I. Tujuan Instruksional Umum


Setelah dilakukan penyuluhan ini diharapkan pasien dan keluarga dapat
mengetahui efusi pleura dan langkah-langkah cuci tangan yang baik dan benar.
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga dapat :
1. Mengetahui pengertian dari efusi pleura.
2. Mengetahui penyebab efusi pleura.
3. Mengetahui tanda dan gejala efusi pleura.
4. Mengetahuai cara pencegahan efusi pleura.
5. Mengetahui pengobatan efusi pleura.
6. Mengetahui diet pada efusi pleura
7. Mengetahui langkah-langkah cuci tangan yang baik dan benar
III. Sasaran
Pasien dan keluarga pasien di ruang Palem 2 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
IV. Materi
1. Pengertian dari efusi pleura
2. Penyebab efusi pleura
3. Tanda dan gejala efusi pleura
4. Cara pencegahan efusi pleura
5. Pengobatan efusi pleura
6. Langkah-langkah cuci tangan yang baik dan benar.
V. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Demonstrasi
VI. Media
1. Lembar Balik (flipchart)
2. Leaflet
VII. Pengorganisasian
1. Pembimbing akademik : Ika Nur Pratiwi, S.Kep., Ns., M. Kep
2. Pembimbing klinik : Widji Lestari, S.Kep., Ns
3. Penyaji : Farhan Ardiansyah
4. Moderator : Elly Ardianti
5. Observer : Niswatus Sa’ngadah
6. Notulen : Gali Wulan Sari
7. Fasilitator dan demostrator : Fifa Nasrul Ummah dan Elma Karamy
VII. Job Description

No. Nama Sie Job Description


1. Penyaji 1. Menyampaikan materi penyuluhan
2. Menggali pengetahuan peserta tentang materi yang akan
disampaikan
3. Menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh peserta
2. Moderator 1. Memandu jalannya penyuluhan dan sesi tanya jawab
2. Membuka acara dan menyampaikan maksud serta tujuan
kegiatan penyuluhan
3. Menjelaskan kontrak waktu dan mekanisme kegiatan
4. Melakukan evaluasi hasil tentang materi yang telah
disampaikan
5. Menutup acara penyuluhan
3. Notulen 1. Mencatat pertanyaan peserta dan jawaban penyaji sebagai
dokumentasi kegiatan
2. Mencatat proses kegiatan penyuluhan disesuaikan dengan
rencana kegiatan pada SAP
3. Menyusun laporan dan menilai hasil kegiatan penyuluhan
4. Observer 1. Mengawasi dan mengevaluasi selama penyuluhan
berlangsung
2. Mencatat situasi pendukung dan penghambat proses
kegiatan penyuluhan
5. Fasilitator 1. Membantu dan mengondisikan peserta selama penyuluhan
berlangsung
2. Meminta tanda tangan peserta yang hadir (absensi)
3. Membantu moderator dalam mengajukan pertanyaan untuk
evaluasi hasil
4. Memfasilitasi peserta untuk aktif bertanya
5. Membagikan leaflet
VIII. Pelaksanaan
Kegiatan Respon peserta Alokasi
waktu
Persiapan: 5 menit
a. Mempersiapakan tempat
b. Mempersiapkan peserta
c. Mempersiapkan alat dan
keperluan penyuluhan
Pembukaan: - Menjawab salam 5 menit
a. Membuka/memulai - Menjawab pertanyaan
kegiatan dengan yang diajukan pemateri
mengucapkan salam
b. Memperkenalkan diri
c. Menyebutkan materi
penyuluhan
d. Menjelaskan tujuan dari
penyuluhan
e. Melakukan kontrak
waktu dengan peserta
f. Menggali pengetahuan
peserta
Pelaksanaan kegiatan - Memperhatikan 15 menit
penyuluhan penjelasan yang
a. Menjelaskan tentang diberikan
pengertian trauma mata - Mejawab pertanyaan
b. Menjelaskan penyebab - Mendengarkan
trauma mata - Memberi umpan balik
c. Menjelaskan tanda dan dalam memahami
gejala trauma mata penjelasan yang
d. Menjelaskan pencegahan diberikan
trauma mata
e. Menjelaskan pengobatan
trauma mata
Tanya jawab/evaluasi - Mengajukan pertanyaan 10 menit
a. Memberikan kesempatan
pada peserta untuk
bertanya mengenai materi
yang disampaikan
b. Menanyakan kembali
kepada peserta apa yang
telah disampaikan dan
membuat kesimpulan
Penutup - Menjawab salam 5 menit
a. Mengucapkan terima
kasih atas kesediaan
peserta mengikuti
kegiatan penyuluhan
b. Mengucapkan salam
penutup

IX. Evaluasi
a. Evaluasi struktural
- Kesiapan tempat penyuluhan
- Kesiapan alat dan materi penyuluhan
- Kesiapan peserta penyuluhan
- Pengorganisasian penyuluhan dilakukan sebelumnya
b. Evaluasi proses
- Antusiasme peserta penyuluhan
- Masing-masing anggota tim bekerja sesuai tugasnya
- Kejelasan materi yang disampaikan
- Peserta tidak meninggalkan tempat penyuluhan
c. Evaluasi hasil
- Pemahaman peserta tentang materi yang disampaikan
- Peserta mampu mengajukan pertanyaan tentang materi penyuluhan
VII. Setting Tempat
Ruang Tunggu Palem II RSUD Dr. Soetomo Surabaya
PINTU
MASUK
= Pembimbing klinik
RUANG PERAWATAN KELAS 1
dan akademik

RUANG PERAWATAN RPI = Audiens


NURSE STATION

= Moderator
RUANG
DOKTER = Narasumber
RUANG PERAWATAN
PASIEN KELAS 2 DAN
3
= Fasilitator
RUANG
KARU = Notulen
= Observer
TROLI

KM

Tempat
OKSIGEN

GUDANG DAPUR Ruang


Diskusi
MATERI PENYULUHAN
A. Definisi Efusi Pleura
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan cairan
melebihi normal di dalam rongga pleura diantara pleura parietalis dan
viseralis dapat berupa transudat atau cairan eksudat. merupakan penyakit
primer, secara normal ruang pleura mengandungsejumlah kecil cairan (5-
15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleura
bergerak tanpa adanya friksi (Imelda Puspita, Tri Umiana Soleha, Gabriella
Berta, 2017).
B. Etiologi Efusi Pleura
Menurut Brunner & Suddart (2015), Efusi pleura umumnya dibagi menjadi
dua, yaitu transudatif dan eksudatif. Efusi pleura transudatif disebabkan oleh
meningkatnya tekanan dalam pembuluh darah atau rendahnya kadar protein dalam
darah. Hal ini mengakibatkan cairan merembes ke lapisan pleura. Sedangkan efusi
pelura eksudatif disebabkan oleh peradangan, cedera pada paru-paru, tumor, dan
penyumbatan pembuluh darah atau pembuluh getah bening.
Menurut Wedzicha J, Johnston S (2010). Efusi pleura sering kali terjadi
sebagai komplikasi dari beberapa jenis penyakit lainnya, seperti:
a. Kanker paru-paru
b. Tuberkulosis (TBC)
c. Pneumonia.
d. Emboli paru
e. Sirosis atau penurunan fungsi hati.
f. Penyakit ginjal.
g. Gagal jantung
h. Penyakit lupus.
i. Rheumatoid arthritis.
Sejumlah faktor risiko dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita
efusi pleura. Di antaranya adalah memiliki riwayat tekanan darah tinggi
(hipertensi), merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan terkena paparan
debu asbes. Faktor resiko terjadinya efusi pleura diakibatkan karena lingkungan
yang tidak bersih,sanitasi yang kurang, lingkungan yang padat penduduk, kondisi
sosial ekonomi yang menurun, serta sarana dan prasarana kesehatan yang kurang
dan kurangnya masyarakat tentang pengetahuan kesehatan (Depkes, 2006).
C. Patogenesis Efusi Pleura
Cairan pleura memiliki konsentrasi protein yang lebih rendah dari paru-paru
dan kelenjar getah bening perifer. Cairan pleura dapat menumpuk karena hal-hal
berikut:
a. Peningkatan tekanan hidrostatik di sirkulasi mikrovaskular. Studi mengatakan
bahwa peningkatan tekanan pada pembuluh kapiler adalah pemicu penting
dalam terjadinya efusi pleura pada penderita gagal jantung.
b. Penurunan tekanan onkotik dalam sirkulasi mikrovaskular karena
hipoalbuminemia yang meningkatkan penumpukan cairan dalam rongga pleura.
c. Peningkatan tekanan negatif pada rongga pleura juga membuat meningkatnya
akumulasi cairan pada rongga pleura. Hal ini dapat terjadi pada ateletaksis
d. Peningkatan permeabilitas kapiler akibat mediator inflamasi. Hal tersebut
mengakibatkan lebih banyak protein dan cairan yang masuk dalam rongga
pleura, contohnya pada pneumonia.
e. Gangguan drainase limfatik dari permukaan pleura karena penyumbatan oleh
tumor dan fibrosis.
D. Manifestasi Klinis
Pada anamnesis, pasien dengan efusi pleura biasanya memiliki
a. Sesak
b. Batuk
c. Nyeri dada yang bersifat tajam.
d. Riwayat gagal jantung, gagal ginjal, dan penyakit hati dapat mengarahkan
kepada efusi pleura yang bersifat transudat.
e. Sedangkan riwayat kanker dapat mengarah pada efusi akibat keganasan.
Pembengkakan pada ekstermitas, atau deep vein thrombosis menunjukkan
efusi yang berhubungan dengan embolisme paru.
f. Riwayat infeksi seperti pneumonia menununjukkan efusi para pneumonik
E. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan penunjang efusi pleura biasanya ditemukan seperti berikut,
a. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan fremitus taktil yang menurun
terutama pada daerah basal. Perkusi tumpul, kemudian suara nafas vesikular
yang menurun atau tidak ada sama sekali pada paru yang terdapat efusi.
Suara pleural friction rub mungkin juga terdengar selama akhir inspirasi
(Hooper C, Lee G, Maskell N, 2013).
b. Pemeriksaan radiografi posteroanterior dan lateral menjadi standar pada
diagnosis radiologi paru. Pada posisi berdiri atau duduk tegak, cairan bebas
pada rongga pleura akan memenuhi lateral kubah diafragma yang
menyebabkan gambaran sudut kostofrenikus yang tumpul. (Rasad S, 2015)
c. Torakosintesis dengan analisis cairan dapat mempersempit diagnosis
diferensial dari efusi. Setelah cairan disedot, cairan tersebut akan dianalisis
untuk biokimia, mikrobiologi dan analisis sitologi. Dengan menggunakan
kriteria Light, maka efusi dapat dibedakan menjadi transudat dan eksudat.
Kriteria Light memiliki sensitivitas sebesar 90,1-100% dengan spesifisitas
83,3-97,2% (Terler K, Semra B, Berna K, 2012)
d. Biopsi
Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka
dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk
dianalisa. Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan
pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat
ditentukan.
F. Penatalaksanaan Medis
1. Aspirasi cairan pleura
Punksi pleura ditujukan untuk menegakkan diagnosa efusi plura yang
dilanjutkan dengan pemeriksaan mikroskopis cairan. Disamping itu punksi
ditujukan pula untuk melakukan aspirasi atas dasar gangguan fugsi restriktif
paru atau terjadinya desakan pada alat-alat mediastinal. Jumlah cairan yang
boleh diaspirasi ditentukan atas pertimbangan keadaan umum penderita, tensi
dan nadi. Makin lemah keadaan umum penderita makin sedikit jumlah cairan
pleura yang bisa diaspirasi untuk membantu pernafasan penderita.
Komplikasi yang dapat timbul dengan tindakan aspirasi :
a. Trauma
Karena aspirasi dilakukan dengan blind, kemungkinan dapat mengenai
pembuluh darah, saraf atau alat-alat lain disamping merobek pleura
parietalis yang dapat menyebabkan pneumothoraks.
b. Mediastinal Displacement
Pindahnya struktur mediastinum dapat disebabkan oleh penekaran cairan
pleura tersebut. Tetapi tekanan negatif saat punksi dapat menyebabkan
bergesernya kembali struktur mediastinal. Tekanan negatif yang
berlangsung singkat menyebabkan pergeseran struktur mediastinal kepada
struktur semula atau struktur yang retroflux dapat menimbulkan perburukan
keadaan terutama disebabkan terjadinya gangguan pada hemodinamik.
c. Gangguan keseimbangan cairan, Ph, elektroit, anemia dan hipoproteinemia.
Pada aspirasi pleura yang berulang kali dalam waktu yang lama dapat
menimbulkan tiga pengaruh pokok :
1) Menyebabkan berkurangnya berbagai komponen intra vasculer yang
dapat menyebabkan anemia, hipprotein, air dan berbagai gangguan
elektrolit dalam tubuh.
2) Aspirasi cairan pleura menimbulkan tekanan cavum pleura yang
negatif sebagai faktor yang menimbulkan pembentukan cairan pleura
yang lebih banyak.
3) Aspirasi pleura dapat menimbulkan sekunder aspirasi.
2. Water Seal Drainage
Telah dilakukan oleh berbagai penyelidik akan tetapi bila WSD ini dihentikan
maka akan terjadi kembali pembentukan cairan.
3. Penggunaan Obat-obatan
Penggunaan berbagai obat-obatan pada pleura efusi selain hasilnya yang
kontraversi juga mempunyai efek samping. Hal ini disebabkan pembentukan
cairan karena malignancy adalah karena erosi pembuluh darah. Oleh karena
itu penggunaan citostatic misalnya tryetilenthiophosporamide, nitrogen
mustard, dan penggunaan zat-zat lainnya seperi atabrine atau penggunaan talc
poudrage tidak memberikan hasil yang banyak oleh karena tidak menyentuh
pada faktor patofisiolgi dari terjadinya cairan pleura.
4. Thorakosintesis
Thorakosintesis dapat dengan melakukan apirasi yang berulang-ulang dan
dapat pula dengan WSD atau dengan suction dengan tekanan 40 mmHg. Indikasi
untuk melakukan thorasintesis adalah :
a. Menghilangkan sesak napas yang disebabkan oleh akumulasi cairan dalam
rongga pleura.
b. Bila terapi spesifik pada penyakit prmer tidak efektif atau gagal.
c. Bila terjadi reakumulasi cairan.
Pengambilan pertama cairan pleura jangan lebih dari 1000 cc karena
pengambilan cairan pleura dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang banyak
dapat menimbulkan oedema paru yang ditandai dengan batuk dan sesak. Hal
tersebut dapat menyebabkan kerugian sebagai berikut.
a) Tindakan thoraksentesis menyebabkan kehilangan protein yang berada
dalam cairan pleura.
b) Dapat menimbulkan infeksi di rongga pleura.
c) Dapat terjadi pneumothoraks.
Menurut (Marianti. 2017), Karena efusi pleura timbul sebagai komplikasi dari
penyakit-penyakit lain, maka pengobatan yang harus dilakukan pun adalah dengan
cara menyembuhkan kondisi-kondisi yang menyebabkannya. Contoh yang bisa
diambil di sini adalah pengobatan kanker dengan radioterapi dan kemoterapi, atau
pengobatan pneumonia dengan antibiotik.
Apabila cairan pada efusi pleura sudah terlalu banyak atau sudah terdapat
infeksi, maka dokter akan menggunakan sejumlah prosedur guna mengeluarkan
cairan yang menumpuk, di antaranya:
a. Prosedur thoracocentesis atau punksi pleura selain untuk mengambil sampel
cairan pleura untuk dianalisis, juga dapat untuk mengeluarkan cairan pleura
dengan volume besar.
b. Pemasangan selang plastik khusus (chest tube) selama beberapa hari ke dalam
rongga pleura melalui bedah torakotomi.
c. Pemasangan kateter secara jangka panjang lewat kulit ke dalam ruang
pleura (pleural drain), untuk efusi pleura yang terus muncul.
d. Penyuntikan zat pemicu iritasi (misalnya talk, doxycycline, atau bleomycin) ke
dalam ruang pleura melalui selang khusus guna mengikat kedua lapisan pleura,
sehingga rongga pleura tertutup. Prosedur yang dinamakan pleurodesis ini
biasanya diterapkan untuk mencegah efusi pleura yang kerap kambuh.
Selain prosedur-prosedur yang bertujuan mengeluarkan dan mencegah cairan
pleura terakumulasi kembali, prosedur untuk mengangkat jaringan-jaringan yang
tidak sehat atau telah mengalami peradangan juga bisa dilakukan apabila dampak
kerusakan efusi pleura telah mencapai tahap tersebut. Pengangkatan jaringan ini
bisa dilakukan melalui bedah torakoskopi (tanpa membuka rongga dada) atau
torakotomi (dengan membuka rongga dada).
G. Komplikasi
1. Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang
baik akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viseralis.
Keadaan ini disebut dengan fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat
menimbulkan hambatan mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang berada
dibawahnya. Pembedahan pengupasan (dekortikasi) perlu dilakukan untuk
memisahkan membran-membran pleura tersebut.
2. Pneumothoraks
Pneumotoraks (karena udara masuk melalui jarum)
3. Atalektasis
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang
disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura.
4. Fibrosis Paru
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat
paru dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara perbaikan
jaringan sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang menimbulkan
peradangan. Pada efusi pleura, atalektasis yang berkepanjangan dapat
menyebabkan penggantian jaringan paru yang terserang dengan jaringan
fibrosis.
5. Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik
pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan
mengakibatkan kolaps paru.
H. Pencegahan
1. Hindari merokok
2. Hindari alkohol dan obat-obatan terlarang
3. Diet yang sehat
4. Olahraga yang teratur semampunya
5. Memakai alat pelindung diri jika sedang melakukan aktivitas atau saat
melakukan pekerjaan tertentu (terhirupnya debu, serpihan, dan material
berbahaya lainnya)
6. Menerapkan etika batuk
7. Diskusikan dengan dokter mengenai kemungkinan efek samping dan
bagaimana mencegah dan mengatasinya bila terjadi keluhan (Morton,
2012).
I. Diet pada Efusi Pleura
1. Energi tinggi untuk mempertahankan berat badan
2. Protein tinggi 1,5 g/kgBB agar memperbaiki respon imun dan memperbaiki
jaringan yang rusak
3. Lemak tinggi, yaitu 40% dari kebutuhan energi total
4. Karbohidrat diberikan rendah, yaitu 40% dari kebutuhan energi total
5. Bahan makanan yang harus dihindari yaitu makanan tinggi sumber
karbohidrat karena metabolisme karbohidrat akan memproduksi
lebih banyak CO2
6. Bentuk makanan saring karena ada keluhan mual, muntah, gangguan
menelan dan mengunyah
7. Mudah dicerna dan tidak merangsang saluran cerna
8. Bahan makanan yang mengandung gas dihindari
9. Porsi makan diberikan dalam jumlah kecil dan sering (Budiyanto, 2010).
Perhitungan Kebutuhan Gizi
Perhitungan kebutuhan basal energi menggunakan rumus Mifflin-ST Jeor:
energi = 2375,2 kkal, protein = 90 gram, lemak = 105,6 gram dan karbohidrat
= 237,5 gram (Budiyanto, 2010).
Rekomendasi Diet
Energi Protein Lemak Karbohidrat
(kkal) (gram) (gram) (gram)
Rekomendasi 2192,9 89,185 98 253
Kebutuhan 2375,2 90 105,6 237,5
% Kebutuhan 92 % 99 % 92,8 % 106,5 %

Menu diet yang direkomendasikan dengan energi 2192,9 kkal, protein


89,185 gram, lemak 98 gram dan karbohidrat 253 gram yaitu :
Pagi Selingan
Nasi tim Bubur sumsum
Daging giling semur Teh manis
Sayur sop
Pepes tahu Malam
Buah pepaya Nasi tim
Tahu bacem
Selingan Tumis sayur
jus alpukat Telur rebus
puding buah jambu biji Buah semangka

Siang
Nasi tim
Pepes ayam
Tahu semur
Sayur bening
Buah mangga
MATERI PENYULUHAN CUCI TANGAN
1. Pengertian Cuci Tangan
Suatu tindakan membersihkan kotoran dengan sabun atau antiseptic dan
dibilas dengan air mengalir. Mencuci tangan adalah proses yang secara
mekanis melepaskan kotoran dan debris dari kulit tangan dengan
menggunakan sabun biasa dan air (DEPKES, 2008).
2. Pentingnya Cuci Tangan
a. Minimalisasi kasus infeksi yang terjadi di rumah sakit
b. Terhindar dari bakteri dan kuman yang menempel di tangan
3. Manfaat Cuci Tangan
a. Sederhana dan efektif mencegah infeksi
b. Menciptakan lingkungan yang aman
c. Pelayanan kesehatan menjadi aman
d. Membunuh kuman penyakit yang ada ditangan
e. Mencegah penularan penyakit seperti diare, cacingan, dll.
f. Tangan menjadi bersih
4. Waktu Penting Melakukan Cuci Tangan
Indikasi melakukan cuci tangan (Depkes RI, 2008) :
1. Lakukan segera setelah tiba di tempat kerja
2. Lakukan sebelum:
a. Kontak langsung dengan pasien
b. Memakai sarung tangan sebelum pemeriksaan klinis dan tindakan
invasif (pemberian suntikan intra vaskuler), menyediakan atau
mempersiapkan obat-obatan
c. Mempersiapkan makanan
d. Memberi makan pasien
e. Meninggalkan rumah sakit
3. Lakukan diantara prosedur tertentu pada pasien yang sama dimana
tangan terkontaminasi, untuk menghindari kontaminasi silang
4. Lakukan setelah
a. Kontak dengan pasien
b. Melepas sarung tangan
c. Melepas alat pelindung diri
d. Kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi, eksudat luka
dan peralatan yang diketahui atau kemungkinan terkontaminasi
dengan darah, cairan tubuh, ekskresi (bedpen, urinal) apakah
menggunakan atau tidak menggunakan sarung tangan e.
menggunakan toilet, menyentuh/melap hidung dengan tangan.
5. Cara 6 Langkah Cuci Tangan
a. Gulung lengan baju sampai atas pergelangan tangan, lepaskan benda-
benda disekitar kita seperti cincin, jam tangan, dan perhiasan gelang
b. Basahi tangan dengan air
c. Tuangkan sabun secukupnya
d. Ratakan dengan kedua telapak tangan
e. Gosok kedua punggung tangan dan masukkan jari-jari kesela-sela jari
tangan secara bergantian
f. Gosok kedua telapak dan sela-sela jari tangan
g. Jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci
h. Gosok ibu jari kanan berputar dalam genggaman tangan kiri dan lakukan
secara bergantian
i. Gosokkan dengan memutar ujung jari-jari di telapak tangan dan
sebaliknya
j. Bilas kedua tangan dengan air
k. Keringkan dengan lap tangan atau tissue

6. Prinsip dari 6 langkah cuci tangan antara lain :


a. Dilakukan dengan menggosokkan tangan menggunakan cairan
antiseptik (handrub) atau dengan air mengalir dan sabun antiseptik
(handwash). Rumah sakit akan menyediakan kedua ini di sekitar
ruangan pelayanan pasien secara merata.
b. Handrub dilakukan selama 20-30 detik sedangkan handwash 40-60
detik, hal ini dikarenakan kuman akan mati dalam waktu yang telah
ditentukan sesuai standar WHO tersebut.
DAFTAR HADIR PESERTA
PENYULUHAN KESEHATAN PADA PASIEN DAN KELUARGA
MENGENAI EFUSI PLEURA DAN CUCI TANGAN

Hari, tanggal :
Waktu :
Tempat :

Tanda
No Nama Usia Alamat Tangan
Tanda
No Nama Usia Alamat Tangan
DAFTAR HADIR PANITIA
PENYULUHAN KESEHATAN PADA PASIEN DAN KELUARGA
TENTANG EFUSI PLEURA DAN CUCI TANGAN
Hari, tanggal :
Waktu :
Tempat :

No Nama NIM Jabatan Tanda


Tangan
1. Farhan Ardiansyah 131511133082 Pemateri
2. Elly Ardianti 131511133058 Moderator
3. Fifa nasrul Ummah 131511133056 Fasilitator dan
demostrator
4. Elma Karamy 131511133026 Fasilitator dan
demostrator
5. Gali Wulan Sari 131511133025 Notulen
6. Niswatus Sa’ngadah 131511133060 Observer
DAFTAR HADIR PEMBIMBING
PENYULUHAN KESEHATAN PADA PASIEN DAN KELUARGA
TENTANG EFUSI PLEURA DAN CUCI TANGAN

Hari, tanggal :
Waktu :
Tempat :

No Nama Jabatan Tanda


Tangan
1. Ika Nur Pratiwi, S.Kep., Ns., M. Kep Pembimbing Akademik
2. Widji Lestari, S.Kep., Ns Pembimbing Klinik
3. Pembimbing Klinik
LEMBAR OBSERVASI
PENYULUHAN KESEHATAN PADA PASIEN DAN KELUARGA
TENTANG EFUSI PLEURA DAN CUCI TANGAN

Hari, tanggal :
Waktu :
Tempat :

No Indikator Hasil
Ya Tidak Keterangan
1. Struktur
a. Kesiapan materi
b. Kesipaan SAP
c. Kesiapan media
d. Kehadiran peserta
e. Pengorganisasian penyelenggaraan
penyuluhan
2. Proses
a. Kesesuaian acara dengan rencana
b. Antusiasme peserta terhadap kegiatan
penyuluhan
c. Keaktifan peserta terhadap kegiatan
penyuluhan
d. Suasana penyuluhan seperti ketertiban
keamanan kelancaran
3. Hasil
a. Peserta dapat me-review materi yang
telah disampaikan
b. Peserta dapat menerapkan materi yang
telah didapatkan
4. Pembukaan
a. Membuka kegiatan dengan salam lalu
prolog
b. Memperkenalkan diri dan tim
c. Kontrak waktu
d. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
e. Menyebutkan materi penyuluhan yang
diberikan

5. Pelaksanaan
a. Menggali informasi tentang penyakit
Efusi Pleura
b. Menjelaskan tentang definisi penyakit
Efusi Pleura
c. Menjelaskan tentang penyebab
penyakit Efusi Pleura
d. Menjelaskan tanda-tanda dan gejala
penyakit Efusi Pleura
e. Menjelaskan tentang pencegahan dan
penatalaksanaan penyakit Efusi Pleura
f. Mendemonstrasikan cuci tangan
6. Evaluasi dan Penutup
a. Menanyakan kembali kepada peserta
tentang materi yang telah disampaikan
b. Kesimpulan dari kegiatan penyuluhan
c. Membuka forum diskusi (Tanya-
jawab)
d. Menutup kegiatan penyuluhan dengan
salam
DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto. 2010. Gizi dan Kesehatan. UMM pres. Jakarta


Brunner and Suddart. 2015. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 12. Jakarta: EGC
Depkes RI. Profil Kesehatan 2006. Jakarta: Depkes RI; 2006
Halim H. Penyakit-penyakit Pleura. Dalam: Sudoyo AW, editor. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.
hlm. 12-8.
Hour CE. Diagnosis of pleural effusion ; a systematic approach. J Am. Crit. Care.
2011;20(3):199-218. 9. Hooper C, Lee G, Maskell N. Investigation of a
unilateral pleural effusiom in adults. J Internationalof Respiration Medicine.
2013;65(2): 145-54.
Imelda Puspita, Tri Umiana Soleha, Gabriella Berta. 2017. Penyebab Efusi Pleura
di Kota Metro pada tahun 2015. J AgromedUnila. Volume 4. Nomor 1
Morton G.P. 2012. Keperawatan Kritis Edisi 2. Jakarta: EGC
Depkes RI. 2009 .Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah
Sakit dan Fasilitas Kesehatan Lainnya. Jakarta
Wedzicha J, Johnston S. Pleural disease guideline 2010. J International of
Respiration Medicine. 2010;65(2):1-75.
LEMBAR NOTULEN
DAFTAR PERTANYAAN
PENYULUHAN KESEHATAN RUMAH SAKIT
DI RUANG BEDAH TERATAI RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

Hari, Tanggal : Kamis, 22 Agustus 2019


Jam : 07.40 – 08.20 WIB
Topik : Efusi Pleura dan Langkah Cuci Tangan

No Kegiatan Diskusi
1. Nama Penanya : Ny. Endang
Pertanyaan :
Apakah penyakit efusi pleura ini menular?

Jawaban :

Pusing dan mimisan yang anak ibu alami dapat terjadi karena beberapa
faktor, diantaranya faktor genetik atau keturunan. Misalnya ibu atau bapak
maupun nenek kakek memiliki riwayat mimisan yang cukup lama, hal
tersebut dapat menurunkan ke generasi berikutnya. Dan mungkin karena
anak ibu kurang beristirahat serta menerapkan pola hidup sehat dan bersih.
Mimisan yang berulang dapat menjadi salah satu pertanda penyakit. Saran
kami, sebaiknya anak ibu segera diperiksakan ke dokter terdekat, dan
melakukan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan lainnya yang
dianjurkan oleh dokter guna mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan
meminimalisir risiko.

Surabaya, 22 Agustus 2019


Notulen

(Gali Wulan Sari)


FORMAT PENILAIAN PENYULUHAN KESEHATAN RUMAH SAKIT
(PKRS)

I. Penyajian
Bobot
No. Aspek Yang Dinilai
1 2 3 4
1. Sesuai waktu yang dialokasikan
2. Menggunakan bahasa yang bisa dimengerti
3. Kelancaran dan kejelasan penyajian
4. Kemampuan mengemukakan intisari penyuluhan
5. Penampilan penyaji dalam penyuluhan
TOTAL : ……………..

II. Isi Penyuluhan ( Bobot : 4 )


Bobot
No. Aspek Yang Dinilai
1 2 3 4
1. Kesesuaian TIK denga TIU
2. Kesesuaian materi dengan TIK
3. Kesesuaian kegiatan penyuluhan
4. Kesesuian Media/ alat dan sumber
5. Kesesuian alat evaluasi
TOTAL : ……………..

III. Tanya Jawab ( Bobot : 3)


Bobot
No. Aspek yang Dinilai
1 2 3 4
1. Ketepatan Menjawab
2. Kemampuan mengemukan argumen
3. Sikap penyuluh menanggapi pertanyaan
TOTAL : ……………..

Scok Akhir = ( Penyajian + Isi + Tanya Jawab ) X 100 = ……..


52

Surabaya, 02 Mei 2019


Keterangan :
1 : Kurang
2 : Cukup
3 : Baik
4 : Sangat Baik
(________________________)
Lampiran Foto Kegiatan

PENYULUHAN KESEHATAN RUMAH SAKIT TENTANG EFUSI


PLEURA DAN CUCI TANGAN DI RUANG PALEM II RSUD DR.
SOETOMO SURABAYA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS
KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
2019

Kelompok 12

Gali Wulan Sari 131511133025


Elma Karamy 131511133026
Fifa Nasrul Ummah 131511133056
Elly Ardianti 131511133058
Niswatus Sa’ngadah 131511133060
Farhan Ardiansyah 131511133082