Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH MATA KULIAH

ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT

KELOMPOK 8

NADIA ALIMA FADHILLA 18304241032


GILANG SINATA ERA YUDHA 18304241037
KHUSNUL MUTOHHAROH 18304241049

KELAS : PENDIDIKAN BIOLOGI C

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2018
A. Pengertian Pendidikan Sepanjang Hayat

Dalam arti luas pendidikan sepanjang hayat (Life long Education) adalah bahwa pendidikan
tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidupnya.
Pendidikan sepanjang hayat menjadi lebih tinggi urgensinya saat ini karena manusia perlu terus-
menerus menyesuaikan diri supaya dapat tetap hidup secara wajar dalam lingkungan
masyarakatnya yang berubah.
Pendidikan sepanjang hayat adalah suatu konsep, suatu ide (gagasan pokok) bahwa
pendidikan tidak saja berlangsung selama seseorang belajar di lembaga-lembaga pendidikan
formal, tetapi bahwa seseorang masih dapat memeproleh pendidikan kalau ia mau sekolah setelah
ia selesai menjalani pendidikan formal.
Pendidikan adalah suatu proses yang terus menerus (kontinu) dari bayi sampai meninggal
dunia (Hasan, 2003:4).
Pengertian pendidikan sepanjang hayat menurut beberapa pakar pendidikan antara lain :

1. Delker (1974) mengemukakan bahwa pendidikan sepanjang hayat adalah perbuatan


manusia secara wajar dan alamiah yang prosesnya tidak selalu memrlukan kehadiran
guru, pamong, atau pendidik. Proses belajar tersebut mungkin tidak disadari oleh
seseorang atau kelompok bahwa ia atau mereka sedang terlibat di dalamnya. Kegiatan
belajar sepanjang hayat terwujud apabila terdapat dorongan pada diri seseorang atau
kelompok untuk memenuhi kebutuhan belajar dan kepuasan, serta apabiala ada kesadaran
dan semangat untuk belajar selama hayat masih dikandung badan.
2. Gestrelius (1977) mengemukakan bahwa pendidikan sepanjang hayat mencakup interaksi
belajar (pembelajaran),penentuan bahan belajar dan metode belajar, lembaga
penyelenggara, fasilitas, administrasi, dan kondisi lingkungan yang mendukung kegiatan
belajar berkelanjutan. Termasuk pula peranan pendidik dan peserta didik yang harus dan
saling belajar, dan factor-faktor lainnya yang mendukung terjadinya proses belajar. Disisi
lain dari pendidikan sepanjang hayat adalah peluang yang luas bagi seseorang untuk terus
belajar agar dapat meraih keadaan kehidupan yang lebih baik.
B. Asal Mula Pendidikan Sepanjang Hayat

Pendidikan sepanjang hayat mulai menjadi aktual saat topik itu dilontarkan oleh UNESCO
sebagai pandangan tentang pendidikan yang mengantisipasi perubahan-perubahanyang ada di
masyarakat seluruh dunia dan negara berkembang pada khususnya. UNESCO dan lembaga
internasional lainnya mulai melihat problem-problem tertinggalan, kemiskinan hanya dapat
diatasi dengan pendidikan dalam format yang menyesuaikan kebutuhan dan dikenakan pada
berbagai kelompok umur termasuk orang dewasa.
Saat negara-negara berkembang mulai menerapkan pendidikan dasar yang perwujudannya
adalah wajib belajar, maka mulai terasa bahwa untuk kelompok masyarakat yang kurang
beruntung perlu dibantu dengan format pendidikan sepanjang hayat. Hal ini penting dilakukan
karena sampai saat ini masih banyak kelompok usia diatas 15 tahun yang buta aksara. Hal ini
terjadi karena dalam fikiran kelompok masyarakat tersebut pendidikan kalah penting dengan
mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Dengan demikian anak
lebih penting mencari nafkah daripada bersekolah.
Permasalahan tidak berhenti pada buta aksara saja. Kemajuan teknologi juga menantang
mereka yang secara ekonomis tidak bermasalah. Kemampuan menggunakan komputer yang
perangkat lunaknya selalu berkembang dengan hadirnya perangkat lunak yang baru,
makapengguna komputer harus selalu menyesuaikan agar kemudahan-kemudahan yang
ditawarkan software baru dapat dimanfaatkan.
Para ilmuan ilmu pendidikan yang semula mengatakan bahwa pendidikan berakhir pada
saat individu medewasaan kemudian memerlukan peninjauan kembali terhadap konsep-
konsepnya dengan pemikiran tentang pendidikan sepanjang hayat ini.

C. Dasar Pikiran Pendidikan Sepanjang Hayat

Ada beberapa cara untuk meninjau dasar pikiran mengenai pendidikan sepanjang hayat.
Diantaranya yaitu:

1. Tinjauan Ideologis
Semua manusia dilahirkan sama dan mempunyai hak yang sama, khususnya hak untuk
memperoleh pendidikan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.
2. Tinjauan Ekonomis
Salah satu cara keluar dari lingkaran setan antara kebodohan dan kemelaratan ialah dengan
pendidikan seumur hidup.
3. Tinjauan Sosiologis
Salah satu masalah pendidikan di negara berkembang adalah pemborosan pendidikan yang
disebabkan oleh sebagian orang tua kurang menyadari pentingnya pendidikan, putus sekolah
bahkan tidak sekolah sama sekali. Oleh karena pemborosan itu dapat berakibat tambahnya
jumlah buta huruf, orang tua merupakan pemecahannya.
4. Tinjauan Politis
Negara kita adalah negara demokrasi di mana seluruh warga negara wajib menyadari hak
dan kewajibannya di samping memahami fungsi pemerintah.
5. Tinjauan Teknologis
Dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi para pemimpin, teknisi, guru dan sarjana
dari berbagai disiplin ilmu harus senantiasa menyusaikan perkembangan ilmu dan teknologi
terus menerus untuk menambah cakrawala pngetahuan di samping keterampilan.
6. Tinjauan Psikologis dan Pedagogis
Tidak ayal lagi bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berpengaruh besar
terhadap pendidikan khususnya konsep dan teknik penyampaiannya. Oleh karena
perkembangan ilmu dan teknologi makin luas dan komplek maka tidak mungkin segalanya itu
dapat diajarkan kepada anak di sekolah.
D. Karakteristik Pendidikan Seumur Hidup

Adapun karakteristik pendidikan seumur hidup diantaranya :

1. Hidup, seumur hidup dan pendidikan merupakan tiga istilah pokok yang menentukan
lingkup dan makna pendidikan seumur hidup.
2. Pendidikan tidaklah selesai setelah masa berakhirnya masa sekolah, tetapi merupakan
sebuah proses yang berlangsung seumur hidup.
3. Pendidikan seumur hidup tidak diartikan sebagai pendidikan orang dewasa, tetapi
pendidikan seumur hidup mencakup dan memadukan semua tahap pendidikan (pendidikan
dasar, pendidikan menengah dan sebagainya).
4. Pendidikan seumur hidup mencakup pola-pola pendidikan formal maupun pendidikan
nonformal, baik kegiatan-kegiatan belajar terencana maupun kegiatan belajar yang
insidental.
5. Rumah memainkan peranan pertama, peranan yang paling halus dan sangat penting dalam
memulai proses belajar seumur hidup.
6. Masyarakat juga memainkan suatu peranan yang penting dalam pendidikan seumur hidup.
Mulai dari sejak anak berinteraksi dengan masyarakat dan terus berlanjut fungsi edukatifnya
dalam keseluruhan hidup baik dalam bidang profesional maupun umum.
7. Lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, universitas dan pusat-pusat latihan tentu
mempunyai peranan penting, tetapi semuanya itu hanya sebagai salah satu bentuk lembaga
pendidikan seumur hidup.
8. Pendidikan seumur hidup menghendaki keberlanjutan dan kebersambungannya dimensi-
dimensi vertikal atau longitudinal dari pendidikan.
9. Pendidikan seumur hidup juga menghendaki keterpaduan dimensi-dimensi horisontal dan
kedalaman dari pendidikan pada setiap tahap hidup.
10. Bertentangan dengan bentuk pendidikan yang bersifat elitis, pendidikan seumur hidup
adalah bersifat universal.
11. Pendidikan seumur hidup ditandai oleh adanya keteraturan dan peragaman dalam isi bahan
belajar, alat-alat, dan teknik-teknik belajar, serta waktu belajar.
12. Pendidikan seumur hidup adalah sebuah pendekatan yang dinamis tentang pendidikan yang
membolehkan penyesuaian bahan-bahan dan media belajar karena dan apabila
perkembangan-perkembangan baru terjadi.
13. Pendidikan seumur hidup membolehkan adanya pola-pola dan bentuk-bentuk alternatif
dalam memperoleh pendidikan.
14. Pendidikan seumur hidup mempunyai dua macam komponen besar yaitu pendidikan umum
dan pendidikan profesional. Komponen tersebut tidaklah terpisah sama sekali antara yang
satu dengan yang lainnya, tetapi saling berhubungan dan dengan sendirinya bersifat
interaktif.
15. Pendidikan seumur hidup mengandung fungsi-fungsi adaptif dan inovatif dari individu dan
masyarakat.
16. Pendidikan seumur hidup mengandung fungsi perbaikan terhadap kelemahan-kelemahan
sistem pendidikan yang ada.
17. Tujuan akhir pendidikan seumur hidup adalah mempertahankan dan meningkatkan mutu
hidup.
18. Ada tiga prasyarat utama bagi pendidikan seumur hidup yaitu kesempatan, motivasi dan
edukabilitas.
19. Pendidikan seumur hidup adalah sebuah prinsip pengorganisasian semua pendidikan.
20. Pada tingkat operasional, pendidikan seumur hidup membentuk sebuah sistem keseluruhan
dari semua pendidikan.

E. Tujuan Pendidikan Sepanjang Hayat

1. Mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni
seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin. Dengan demikian, secara potensial
keseluruhan potensi manusia diisi kebutuhannya agar berkembang secara wajar.
2. Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat
hidup dan dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung selama manusia hidup.
3. Mengembangkan kecakapan intelektual.
4. Mengembangkan pola fikir yang lebih konkrit dan praktis.
5. Peningkatan kualitas spiritual dan moral kehidupan seluruh umat manusia dan masyarakat.
6. Untuk membina kepribadian.
F. Empat Pilar Pendidikan Menurut UNESCO

Pendidikan menurut Unesco meliputi empat pilar, yaitu;

1. Learning to know (belajar mengetahui)


2. Learning to do (belajar melakukan sesuatu)
3. Learning to be (belajar menjadi sesuatu)
4. Learning to live together (belajar hidup bersama)

A) Learning to know (belajar mengetahui)

Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha untuk mencari agar mengetahui informasi
yang dibutuhkan dan berguna bagi kehidupan. Belajar untuk mengetahui (learning to know)
dalam prosesnya tidak sekedar mengetahui apa yang bermakna tetapi juga sekaligus
mengetahui apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupannya.
Untuk mengimplementasikan “learning to know” (belajar untuk mengetahui), Guru harus
mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat
berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam rangka mengembangkan
penguasaan pengetahuan siswa.

B) Learning to be (belajar melakukan sesuatu)

Pendidikan juga merupakan proses belajar untuk bisa melakukan sesuatu (learning to do).
Proses belajar menghasilkan perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi, serta
pemilihan dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap, penghargaan, perasaan, serta
kemauan untuk berbuat atau merespon suatu stimulus. Pendidikan membekali manusia tidak
sekedar untuk mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil berbuat atau mengerjakan sesuatu
sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar seyogjanya memfasilitasi siswanya untuk
mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki, serta bakat dan minatnya agar “Learning to
do” (belajar untuk melakukan sesuatu) dapat terrealisasi. Walau sesungguhnya bakat dan minat
anak dipengaruhi faktor keturunan namun tumbuh dan berkembangnya bakat dan minat juga
bergantung pada lingkungan. Seperti kita ketahui bersama bahwa keterampilan merupakan
sarana untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada
penguasaan pengetahuan semata.
C) Learning to be (belajar menjadi sesuatu)

Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri
sendiri (learning to be). Hal ini erat sekali kaitannya dengan bakat, minat, perkembangan fisik,
kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Misal : bagi siswa yang agresif,
akan menemukan jati dirinya bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Dan
sebaliknya bagi siswa yang pasif, peran guru sebagai kompas penunjuk arah sekaligus menjadi
fasilitator sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan potensi diri siswa secara utuh dan
maksimal.
Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri.
Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar
menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri.

D) Learning to live together (belajar hidup bersama)

Pada pilar keempat ini, kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi
dan menerima perlu dikembangkan disekolah. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan
tumbuhnya sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama. Dengan kemampuan yang
dimiliki, sebagai hasil dari proses pendidikan, dapat dijadikan sebagai bekal untuk mampu
berperan dalam lingkungan di mana individu tersebut berada, dan sekaligus mampu
menempatkan diri sesuai dengan perannya. Pemahaman tentang peran diri dan orang lain dalam
kelompok belajar merupakan bekal dalam bersosialisasi di masyarakat (learning to live
together).

G. Peranan Pendidikan Sepanjang Hayat

Pendidikan sepanjang hayat atau life long education memungkinkan seseorang


mengembangkan potensi-potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya, sebab pada dasarnya
semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak sama, khususnya untuk mendapatkan
pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan keterampilannya (skill). Dengan potensi,
pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tersebut kemudian dikembangkan seiring berjalannya
kehidupan. Dan dengan potensi tersebut dapat mendorong manusia untuk lebih bekerja keras
dalam menjalani hidup, dengan pengetahuan tersebut manusia tidak mudah dibohongi dengan
mudah, dengan ketrampilan tersebut manusia dapat membuat hal yang baru dan berguna.
Melalui pendidikan sepanjang hayat, merupakan cara paling efektif untuk keluar dari suatu
lingkaran kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan sepanjang hayat memungkinkan seseorang
untuk :
1. Meningkatkan produktifitas yang dimilikinya sehingga mampu memaksimalkan
kemampuan yang dimiliki.
2. Memelihara dan mengembangkan sumber-sumber daya yang dimilikinya untuk
pengembangan dirinya sendiri maupun orang lain yang berada disekitarnya.
3. Memungkinkan hidup dalam lingkungan yang lebih sehat dan menyenangkan karena
pendidikan yang telah diajarkan kepada kita semasa muda.
4. Memiliki motivasi dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya secara tepat, sehingga
pendidikan keluarga menjadi sangat penting dan besar artinya.
Pada umumnya di negara-negara sedang berkembang ditemukan masih banyaknya para
orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya. Oleh
karena itu, banyak anak-anak mereka yang kurang mendapatkan pendidikan formal, putus sekolah
atau tidak bersekolah sama sekali. Dengan demikian pendidikan sepanjang hayat merupakan solusi
dari masalah orang tua karena mengubah pandangan mereka yang semula bersikap acuh tak acuh
kepada pendidikan menjadi berpikiran positif yaitu dengan pendidikan mampu mengubah sikap,
lebih terampil dan lebih berguna bagi keluarga.
Di era globalisasi seperti sekarang ini, tampaknya dunia dilanda oleh eksplosi ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan berbagai produk yang dihasilkannya. Semua orang,
tak terkecuali para pendidik, sarjana, pemimpin dan sebagainya dituntut selalu memperbaharui
pengetahuan dan keterampilannya seperti apa yang terjadi di negara maju. Maka dari itu
pendidikan sepanjang hayat memberikan pengetahuan yang belum dimiliki maupun yang belum
diketahui.
Perkembangan IPTEK sangat pesat mempunyai dampak dan pengaruh besar terhadap
berbagai konsep, teknik dan metode pendidikan. Disamping itu, perkembangan tersebut juga
makin luas, dalam dan kompleks, yang menyebabkan ilmu pengetahuan tidak mungkin lagi
diajarkan seluruhnya kepada anak didik di sekolah.Oleh karena itu, tugas pendidikan jalur sekolah
yang utama sekarang ialah mengajarkan bagaimana cara belajar, menanamkan motivasi yang kuat
dalam diri anak untuk belajar terus sepanjang hidupnya, memberikan skill kepada anak didik
secara efektif agar dia mampu beradaptasi dalam masyarakat yang cenderung berubah secara
cepat. Berkenaan dengan itulah, perlu diciptakan suatu kondisi yang merupakan aplikasi asas
pendidikan seumur hidup atau life long education.

H. Tahap Proses Belajar Pendidikan Sepanjang Hayat

Tahapan belajar manusia pada dasarnya terdiri dari dua bagian. Bagian yang pertama ialah
proses belajar yang tidak dapat dilihat oleh panca indera, karena proses belajar terjadi dalam
pikiran seseorang yang sedang melakukan kegiatan belajar. Proses ini sering disebut dengan proses
intern. Bagian yang kedua disebut proses belajar ekstern, proses ini dapat menunjukkan apakah
dalam diri seseorang telah terjadi proses belajar yang ditandai dengan adanya perubahan ke arah
yang lebih baik.
Menurut Suprijanto (2007 : 12) proses belajar yang terjadi dalam diri seseorang yang sedang
belajar berlangsung melalui enam tahapan yaitu :

a. Motivasi
Yang dimaksud motivasi di sini adalah keinginan untuk mencapai suatu hal. Apabila
dalam diri peserta didik tidak ada minat untuk belajar, tentu saja proses belajar tidak akan
berjalan dengan baik. Jika demikian halnya, pendidik harus menumbuhkan minat belajar
tersebut dengan berbagai cara, antara lain dengan menjelaskan pentingnya pelajaran dan
mengapa materi itu perlu dipelajari.
b. Perhatian pada Pelajaran

Peserta didik harus dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran. Apabila hal itu tidak
terjadi maka proses belajar akan mengalami hambatan. Perhatian peserta ini sangat
tergantung pada pembimbing.

c. Menerima dan Mengingat

Setelah memperhatikan pelajaran, seorang peserta didik akan mengerti dan menerima
serta menyimpan dalam pikirannya. Tahap menerima dan mengingat ini harus terjadi pada
diri orang yang sedang belajar. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penerimaan
dan pengingatan ini, seperti struktur, makna, pengulangan pelajaran , dan interverensi.

d. Reproduksi

Dalam proses belajar, seseorang tidak hanya harus menerima dan mengingat informasi
baru saja, tetapi ia juga harus dapat menemukan kembali apa-apa yang pernah dia terima.
Agar peserta didik mampu melakukan reproduksi, pendidik perlu menyajikan pengajarannya
dengan cara yang mengesankan.

e. Generalisasi

Pada tahap generalisasi ini, peserta didik harus mampu menerapkan hal yang telah
dipelajari di tempat lain dan dalam ruang lingkup yang lebih luas. Generalisasi juga dapat
diartikan penerapan hal yang telah dipelajari dari situasi yang satu ke situasi yang lain.

f. Menerapkan Apa yang Telah Diajarkan serta Umpan Balik

Dalam tahap ini, peserta didik harus sudah memahami dan dapat menerapkan apa yang
telah diajarkan. Untuk meyakinkan bahwa peserta didik telah benar-benar memahami, maka
pembimbing dapat memberikan tugas atau tes yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Tes
yang diberikan pun dapat berupa tes tertulis maupun lisan. Selanjutnya, pendidik
berkewajiban memberikan umpan balik berupa penjelasan mana yang benar dan mana yang
salah. Dengan umpan balik seperti itu, peserta didik dapat mengetahui seberapa ia
memahami apa yang diajarkan dan dapat mengoreksi dirinya sendiri.

I. Implikasi Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat pada Program – program Pendidikan

Menurut Hasbullah (1997 : 70) Implikasi diartikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi
dari suatu keputusan. Maksudnya adalah sesuatu yang merupakan tindak lanjut atau follow up
suatu kebijakan atau keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup.
Penerapan asas pendidikan sepanjang hayat pada program pendidikan dan sasaran
pendidikan di masyarakat mengandung kemungkinan yang luas dan bervariasi. Implikasi
pendidikan sepanjang hayat, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ananda W. P. Guruge dalam
bukunya Toward Better Educational Management, dapat dikelompokkan menjadi beberapa
kategori berikut.

1. Pendidikan Baca Tulis Fungsional


Program ini tidak hanya penting bagi pendidikan sepanjang hayat karena relevansinya
dengan kondisi yang ada pada negara – negara berkembang dengan alasan masih banyaknya
penduduk buta huruf, melainkan juga sangat penting ditinjau dari implementasinya.
Membaca memang merupakan cara yang paling murah dan praktis untuk mendapatkan dan
menyebarkan pengetahuan.
Meskipun cukup sulit untuk membuktikan peranan melek huruf fungsional terhadap
pembangunan sosial ekonomi masyarakat, namun pengaruh IPTEK terhadap kehidupan
masyarakat misalnya petani, justru disebabkan oleh pengetahuan – pengetahuan baru dalam
diri mereka. Pengetahuan baru ini dapat diperoleh melalui bahan bacaan utamanya.
Oleh karena itu, realisasi baca tulis harus memuat dua hal, yaitu :
1) Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung atau yang biasa disebut
Calistung yang fungsional bagi anak didik.
2) Menyediakan bahan – bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih
lanjut kecakapan yang telah dimilikinya tersebut.

2. Pendidikan Vokasional
Pendidikan Vokasional merupakan program pendidikan di luar sekolah bagi anak di luar
batas usia sekolah, atau sebagai program pendidikan formal dan non formal dalam rangka
apprentince ship training yang merupakan salah satu program penting dalam rangka
pendidikan sepanjang hayat.
Para lulusan dari sekolah ini diharapkan dapat menjadi tenaga kerja yang produktif.
Namun, yang lebih penting adalah bahwa pendidikan vokasional ini tidak dapat dipandang
sekali jadi lantas selesai. Terus berkembang dan majunya IPTEK serta makin meluasnya
industrialisasi, menuntut pendidikan vokasional itu tetap dilaksanakan secara kontinu.

3. Pendidikan Profesional
Sebagai realisasi dari pendidikan sepanjang hayat, dalam tiap – tiap profesi hendaknya
tercipta built in mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti
berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, terminologi, dan
sikap profesionalnya. Sebab bagaimanapun apa yang berlaku bagi pekerja dan buruh,
berlaku pula bagi profesional, bahkan tantangan yang mereka hadapi lebih besar.

4. Pendidikan ke Arah Perubahan dan Pembangunan


Pada era globalisasi seperti ini tidak dapat dipungkiri bahwa IPTEK berkembang dengan
pesatnya dan telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan masyarakat seperti dari cara
memasak yang serba menggunakan mekanik dan elektronik, sampai cara menjelajah luar
angkasa. Kenyataan ini tentu saja pada perkembangannya membutuhkan pendidikan yang
berlangsung secara kontinu (life long education). Pendidikan diperlukan bagi anggota
masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial
dan pembangunan. Hal ini juga merupakan konsekuensi penting dari asas pendidikan
sepanjang hayat.

5. Pendidikan Kewarganegaraan dan Kedewasaan Politik


Pada zaman seperti ini, pola pikir manusia semakin dituntut untuk dapat kritis dan
semakin maju, baik rakyat biasa maupun pemimpin pemerintahan. Maka dari itu, diperlukan
pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga negara agar dapat
mengikuti lika – liku perkembangan zaman dengan tetap memperhatikan norma – norma
susila yang ada.

6. Pendidikan Kultural dan Pengisian Waktu Senggang


Spesialisasi yang berlebihan dalam masyarakat, bahkan dimulai pada usia muda di
pendidikan formal membuat manusia berpnadangann sempit terhadap bidangnya sendiri,
buta akan nilai kultural yang terkandung dalam budaya warisan masyarakatnya sendiri.
Bagaimanapun, orang – orang yang terpelajar diharapkan mampu memahami dan
menghargai nilai – nilai agama, sejarah , kesusastraan, filsafat hidup, seni, dan musik
bangsanya sendiri. Pengetahuan tersebut dapat memperkaya hidupnya, terutama dari segi
pengalaman yang memungkinkannya untuk mengisi waktu senggangnya dengan
menyenangkan. Oleh karena itu, pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang secara
konstruktif merupakan bagian penting dari life long education.

J. Pentingnya Pendidikan Sepanjang Hayat


1. Dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup
2. Menunjung keadilan pada pemerataan pendidikan
3. Dapat mengambil alih tugas keluarga dalam memberi pendidikan
4. Dapat membuat manusia lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan peranan sosial
yang ada
5. Dapat membuat manusia lebih mudah beradaptasi dengan kemajuan IPTEK
6. Sebagai kebutuhan orang dewasa pada zaman yang berkembang ini
7. Dapat membantu meletakkan dasar arah perkembangan anak – anak
Selain itu masih banyak lagi alasan mengapa konsep pendidikan sepanjang hayat sangat
penting untuk diterapkan dan memiliki banyak manfaat bagi yang menerapkannya.

K. Kesimpulan
Pendidikan sepanjang hayat merupakan sebuah konsep pendidikan yang dilakukan secara
kontinu. Bermula dari sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia. Proses pendidikan ini
mencakup bentuk – bentuk belajar secara informal maupun formal yang baik berlangsung dalam
keluarga, di sekolah, dalam pekerjaan, dan dalam kehidupan masyarakat. Konsep pendidikan
sepanjang hayat sendiri memiliki banyak manfaat jika diterapkan dan didukung dengan tepat agar
berguna bagi masyarakat.
L. Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu. Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan. Cet-1. Jakarta: Rineka Cipta. 1991.

http://dayanmaulana.blogspot.com/2010/06/empat-pilar-pendidikan-menurut-unesco.html

Hasbullah. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers. 2009.

Sutisna, Nia. 2011. Peran Pendidikan Sepanjang Hayat. Jurnal: JASSN_Anakku Volume 10
Nomor 2 Tahun 2011